• Tidak ada hasil yang ditemukan

Fee Based Income to profitability at PT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Fee Based Income to profitability at PT"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH TINGKAT PENGGUNAAN KARTU ATM DAN FEE BASED INCOME TERHADAP PROFITABILITAS PT BANK NEGARA INDONESIA ( PERSERO )

Tbk. KANTOR WILAYAH MAKASSAR

Untung Karyadi1, Ibrahim H. Ahmad2, Taufik Thahir3

1,2,3Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YPUP Makassar

1[email protected], 2[email protected], 3[email protected]

ABSTRACT

This research aims to (1) Know and analyze the effect of ATM card usage rates on profitability (2). Fee Based Income to profitability at PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Makassar Regional Office.

The sample in this study is a report on the sustainability period 2015 to 2019. The data uses multiple linear regression statistical analysis with the help of statistical package for the social sciences (SPSS) version 25 software. The results of research that showed that variable ATM card usage rate (X1) has a positive and insignificant effect on Profitability (Y), variable Fee Based Income (X2) has a positive and significant effect on profitability (Y).

Keywords: ATM Card usage rate, Fee based income and profitability.

PENDAHULUAN

Kemajuan tekhnologi dari zaman ke zaman ini tentunya teradaptasi juga oleh bisnis perbankan. Industri perbankan yang dulunya dikenal dengan melakukan transaksi wajib mendatangi kantor bank, saat ini sudah tidak lagi, berkat perkembangan tekhnologi aktivitas transaksi perbankan tidak lagi wajib mendatangi kantor bank, tetapi telah tergantikan oleh kecanggihan layanan melalui komputer pribadi atau smartphone.

Layanan perbankan berbasis tekhnologi ini adalah Authomtaic Teller Machine (ATM), SMS Banking, Internet Banking dan Mobile Banking, serta berbagai layanan perbankan lainnya yang telah terintergrasi dengan kecanggihan tekhnologi. Boleh dibilang bahwa mesin ATM adalah kecanggihan pertama yang dipamerkan oleh industri perbankan, mesin ini mewakili petugas teller untuk melakukan transaksi penarikan dengan layanan 24 jam selama 7 hari dalam sepekan. Umumnya orang menyebut ATM pertama dibuat Luther George Simjian, ilmuwan kelahiran Turki dan besar di Amerika Serikat. Mesin itu, bernama Bankograph, dapat menerima uang tunai atau memeriksa setoran kapan saja. Mulanya banyak orang meragukan temuannya. Tapi, pada 1960, dia berhasil membujuk City Bank of New York

kini Citibank untuk mencoba mesin pintarnya selama enam bulan.

Gagasan membuat mesin ATM lalu datang dari John Shepherd-Barron, direktur percetakan dokumen-dokumen keuangan De La Rue di Inggris. Gagasan ini muncul karena pengalaman buruknya dengan bank tahun 1965.

Barclays Bank suka dengan gagasan Shepherd- Barron. Mesin ATM pertama buatan Shepherd- Barron kemudian dipasang di Anfield, sebuah kawasan di utara London, Inggris.

Di Indonesia, bank-bank terkemuka masih berpikir seribu kali untuk memasang ATM. Investasi untuk ATM dianggap sebagai pemborosan. Menariknya, yang memperkenalkan ATM bukan bank-bank besar di ibukota tapi justru bank kecil di Denpasar, yakni Bank Dagang Bali (BDB), pada 1984/1985. BDB menjalin kerjasama dengan Chase Manhattan Bank. Untuk bisa mendapatkan layanan ATM ini, nasabah BDB harus memiliki kartu khusus yang disebut cash point card.

ATM adalah komputer canggih yang dapat melakukan hampir semua hal yang dapat dilakukan oleh Teller Bank. ATM tipikal terdiri dari perangkat-perangkat seperti komputer, pembaca kartu magnetik / chip, keypad, layar tampilan, printer, dan brankas.

Pada tahun 1967, seorang penemu dari Skotlandia bernama John Shepherd-Barron

(2)

memiliki ide yang cerdik saat mandi: mesin penjual otomatis untuk permen ada, jadi mengapa tidak untuk uang tunai? Kemudian mesin ATM yang mengeluarkan uang otomatis dibuat. Ini menggunakan voucher kertas dengan tinta radioaktif untuk menarik uang tunai sebagai pengganti kartu kredit atau kartu debit. Paling banyak yang bisa ditarik pengguna saat itu adalah £ 10.

Akhirnya pada tahun 1969, mesin perbankan otomatis pertama di AS dirancang oleh seorang insinyur Dallas dan mantan pemain baseball profesional bernama Donald Wetzel. Desain mesin ini menggunakan kartu plastik yang mirip dengan yang kita gunakan saat ini. Cabang perbankan di Long Island adalah yang pertama menginstal salah satu mesin ini.

Kemunculan awal ATM seiring dengan perkembangan supermarket, penjualan tiket transportasi publik dan pom bensin dengan system self service di Amerika dan Eropa.

Selain itu, munculnya ATM juga sebagai respons atas peningkatan upah pekerja serta tingginya frekuensi transaksi di teller Bank, sehingga mengakibatkan sering terjadinya antrian. Uniknya, pada awal kemunculan ATM, mesin ini hanya bisa dinikmati oleh nasabah tertentu yang sebelumnya telah melalui proses seleksi.

Jika melihat dari sisi inovasi teknologi, ATM lahir dari pemikiran para bankir dan ahli IT. Para bankir ingin memecahkan masalah distribusi secara cepat, praktis dan terintegrasi, sementara para ahli IT berfokus pada system teknis peralatannya. Contohnya dari sisi hardware, seperti layar video, perangkat baja, plastik dan pita magnetik maupun yang bersifat software seperti sistem operasinya. Pada era 1960-an, teknologi ATM belum berjalan sebaik saat ini, dikarenakan kendala hardware, software mengakibatkan banyak kasus seperti mesin yang macet, ATM yang mengeluarkan struk berkali-kali hingga ATM yang hanya bisa mendeteksi nasabah/bank tertentu saja. Cukup merepotkan ketika dunia masih menerapkan sistem ekonomi tunai.

Pada era digitalisasi dan e-commerce, perekonomian mulai berintegrasi menggunakan sistem online atau populer dengan sebutan e- money, e-cash dan lain sebagainya. Sistem perbankan, perekonomian dan perdagangan menggunakan kemudahan mobile banking atau e-banking dan digitalisasi, memutar roda perekonomian dunia secara makro. Walaupun

begitu, mesin ATM memegang peranan penting dalam perekonomian, terlebih ekonomi mikro di Indonesia yang membutuhkan uang tunai dalam transaksinya. ATM menjadi alat bantu kegiatan ekonomi di masyarakat, mulai dari penyediaan uang tunai, pembayaran telepon, listrik hingga pembelian pulsa.

Penelitian ini akan mengkaji pengaruh Tingkat penggunaan kartu ATM dan Fee based income terhadap profitabilitas. Secara lebih rinci rumusan masalah tersebut akan dijabarkan sebagai berikut 1) apakah tingkat penggunaan kartu ATM berpengaruh terhadap profitabilitas PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.

Kantor Wilayah Makassar? 2) apakah feebased income berpengaruh terhadap profitabilitas PT.

Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Kantor Wilayah Makassar? 3) apakah tingkat penggunaan kartu ATM dan feebased income secara simultan berpengaruh terhadap profitabilitas PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Kantor Wilayah Makassar?

Berdasarkan dengan masalah tersebut, penelitian ini bertujuan untuk: 1) Untuk Menguji dan menganalisis pengaruh tingkat penggunaan kartu ATM terhadap profitabilitas PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.

Kantor Wilayah Makassar. 2) Untuk Menguji dan menganalisis pengaruh feebased income terhadap profitabilitas PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Kantor Wilayah Makassar. 3) Untuk Menguji dan menganalisis pengaruh tingkat penggunaan kartu ATM dan feebased income secara simultan terhadap profitabilitas PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Kantor Wilayah Makassar.

TINJAUAN LITERATUR

Menurut Undang-undang RI nomor 10 Tahun 1998 tanggal 10 November 1998 tentang Perbankan (pasal 1 ayat 2), definisi Bank adalah sebuah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lain dengan tujuan untuk meningkatkan taraf hidup orang banyak.

Ikatan Bankir Indonesia (2013) mendefinisikan bahwa bank sebagai suatu badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat kembalidalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.

(3)

Fungsi pokok bank sebagai berikut 1) Menerima penyimpanan dana masyarakat dalam berbagai bentuk. 2) Menyalurkan dana tersebut dalam bentuk kredit kepada masyarakat untuk mengembangkan usaha. 3) Melaksanakan berbagai jasa dalam kegiatan perdagangan dan pembayaran dalam negeri maupun luar negeri, serta berbagai jasa lainnya dibidang keuangan, di antaranya inkaso transfer, traveler’s check, credit card, safe deposit box, jual beli surat berharga, dan sebagainya.

Tugas bank adalah menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter, mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran.

Ada 2 sifat khusus industri perbankan, yaitu Salah satu sub-sistem industri jasa keuangan yang berfungsi sebagai jantung atau motor penggerak roda perekonomian suatu negara yang mencerminkan indikator kestabilan tingkat perekonomian suatu Negara, Suatu industri yang sangat bertumpu pada kepercyaan masyarakat sebagai salah satu modal utama.

Bank Indonesia (BI) menilai fasilitas digital terutama dalam bertransaksi melalui digital banking semakin diminati dimasa Covid-19. Itu disebabkan karena terbatasnya mobilitas manusia di masa pandemi ini.

Berdasarkan data BI, tercatat volume transaksi digital banking naik signifikan sebesar 37,8% secara tahunan (yoy). Selain itu, uang elektronik pun menguat 24,42% yoy.

Sementara penggunaan kartu debet malah menurun 18,9% yoy.

Perkembangan tren digitalisasi yang sangat cepat di sektor keuangan, menyadarkan akan tingginya kebutuhan transformasi terhadap perbankan ke arah digital dan open banking. Karena itu, pada Mei 2019, BI meluncurkan blueprint sistem pembayaran 2025 dalam upaya menyiapkan suatu kerangka untuk mengintegrasikan sistem keuangan di Indonesia melalui transformasi digital.

Sebagai lembaga pemerintah yang dibentuk melalui UU dan memiliki tugas mengatur dan mengawasi industri jasa keuangan, OJK atau Otoritas Jasa Keuangan baru saja merilis Buku Bijak Ber-E-Banking yang berisi informasi lengkap seputar dunia E- Banking. Buku Bijak Ber-E-Banking ini bermanfaat untuk masyarakat yang ingin mengetahui lebih jelas seputar produk serta layanan E-Banking. Hal ini dilakukan sekaligus untuk mendukung program literasi keuangan

yang selama ini dilakukan agar bisa berjalan dengan baik.

Dengan diluncurkannya Buku Bijak Ber- E-Banking, diharapkan nasabah bisa lebih paham dan memaksimalkan fitur E-banking yang mereka miliki. Perkembangan pesat bidang teknologi juga berdampak pada perkembangan transaksi perbankan, seperti adanya fitur ATM, Internet Banking, Mobile Banking, Phone Banking, SMS banking, EDC, E-Commerce, hingga Video Banking yang memberikan kemudahan bagi nasabah dalam mengakses transaksi banking.

ATM atau yang lebih dikenal dengan nama Anjungan Tunai Mandiri merupakan suatu terminal/mesin komputer yang terhubung dengan jaringan komunikasi bank, yang memungkinkan nasabah melakukan transaksi keuangan secara mandiri tanpa bantuan dari teller ataupun petugas bank lainnya.

Sesuai dengan perkembangan teknologi, saat ini bank juga telah menyediakan 3 tipe mesin ATM lainnya, yaitu: mesin ATM yang hanya melayani transaksi non tunai, mesin ATM yang melayani transaksi penyetoran uang tunai Cash Deposit Machine atau CDM, dan mesin ATM yang dapat melayani semua transaksi yang telah disebutkan di atas.

Automatic Teller Machine yang disingkat dengan ATM merupakan salah satu teknologi sistem informasi yang digunakan oleh bank. Bank Indonesia sendiri lebih sering menggunakan istilah Teknologi Sistem Informasi (TSI) Perbankan untuk semua terapan teknologi informasi dan komunikasi dalam layanan perbankan.

Pengertian ATM menurut Allen H. Lipis (1992) adalah Alat kasir otomatis tanpa orang, ditempatkan di dalam atau di luar pekarangan bank, yang sanggup untuk mengeluarkan uang tunai dan menangani transaksi-transaksi perbankan yang rutin. Automatic Teller Machine di Indonesia juga dikenal dengan Anjungan Tunai Mandiri.

Pada awalnya, penggunaan teknologi ATM dilakukan untuk membantu nasabah dalam melakukan penarikan uang tunai baik dilokasi kantor bank maupun diluar loksi kantor bank. Dengan kemajuan teknologi informasi industri perbankan ATM telah bertransformasi tidak hanya melayani penarikan uang tunai saja, namun telah menjadi mesin transaksi yang melayani berbagai jenis jasa perbankan seperti:

informasi saldo, berbagai jenis pembayaran (listrik, telepon, air, biaya pendidikan dan lain-

(4)

lain), pembelian (tiket transportasi, isi ulang pulsa dan lain-lain), pengiriman uang, perubahan pin, serta berbagai aktivitas perbankan lainnya.

Menurut Kasmir (2012) mendefinisikan fee based income adalah keuntungan yang didapat dari transaksi yang diberikan dalam jasa-jasa bank lainnya.

Secara definitif pengertian untuk istilah fee based operating (fee based activity) adalah pemberian jasa pelayanan bank dengan imbalan yang diperoleh bank. Dari penjelasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa fee based income adalah pendapatan operasional non bunga yang diperoleh bank sebagai imbalan atau komisi atau jasa-jasa keuangan yang telah diberikan kepada nasabah.

Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu (Munawir, 2007). Profitabilitas juga mempunyai arti penting dalam usaha mempertahankan kelangsungan hidupnya dalam jangka panjang, karena Profitabilitas menunjukkan apakah badan usaha tersebut mempunyai prospek yang baik dimasa yang akan datang.

Profitabilitas dapat diartikan sebagai salah satu indikator untuk mengukur kinerja suatu perusahaan (Harahap, 2009).

Profitabilitas memiliki informasi untuk mengetahui besarnya tingkat laba yang diperoleh perusahaan dalam periode waktu tertentudan produktivitas penggunaan dana perusahaan yang digunakan baik modal pinjaman maupun modal sendiri yang dapat digunakan oleh investor maupun calon investor sebagai dasar pengambilan keputusan dalam melakukan investasi.

Profitabilitas tidak hanya penting bagi investor maupun calon investor saja tetapi juga penting bagi manajemen untuk menyusun target dan melakukan evaluasi atas efektivitas pengelolaan perusahaan tersebut serta menjadipenilaian masyarakat terhadap perusahaan. Profitabilitas juga digunakan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam melakukan penilaian tingkat kesehatan bank sebagai sarana otoritas pengawas dalam menetapkan strategi dan fokus pengawasan OJK terhadap bank.

Profitabilitas yaitu hasil akhir yang dicapai manajemen dari setiap kebijakasanaan dan keputusan. Rasio Profitabilitas digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan didalam usahanya memperoleh keuntungan

dengan menggunakan aktiva yang dimiliki (Iskandar, 2008). Rasio ini terdiri dari Return on Investment (ROI), Return on Equity (ROE),dan Profit Margin (Iskandar, 2008).

Dalam penelitian ini, rasio yang digunakan adalah Return on Equity (ROE) yang merupakan perbandingan dari laba bersih setelah pajak dengan modal yang dimiliki.

Makin besar rasionya maka makin baik, karena menunjukkankemampuan untuk menghasilkan laba dari modal sendiri yang baik.

Athanasoglou (2008) dalam Haholongan (2017), menyatakan bahwa profitabiltas bank merupakan fungsi dari faktor internal dan eksternal. Para peneliti sepakat bahwa faktor internal yang mempengaruhi profitabilitas bank seperti ukuran, modal, manajemen risiko dan manajemen biaya, sedangkan faktor eksternal yang perlu diperhatikan adalah inflasi, suku bunga dan siklus output, serta variabel yang mempresentasikan karakteristik pasar. Dalam penelitian ini lebih menekankan pada faktor eksternal seperti inflasi, suku bunga, dan nilai tukar mata uang.

Putu Ayuni Kartika Putri Suardana, Ketut Tanti Kustina, 2017, Hasil penelitian menunjukkan bahwa : 1) fee based income berpengaruh positif dan signifikan terhadap perubahan laba pada PT. Bank Pembangunan Daerah Bali, 2) transaksi e- banking berpengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap perubahan laba pada PT. Bank Pembangunan Daerah Bali.

Rumusan hipotesis dalam penelitian ini adalah:

1. Tingkat penggunaan kartu ATM berpengaruh positif dan signifikan terhadap Profitabilitas.

2. Fee based income berpengaruh positif dan signifikan terhadap profitabilitas

3. Tingkat penggunaan kartu ATM dan Fee based income secara simultan berpengaruh positif dan signifikan terhadap profitabilitas

Gambar 1. Model Penelitian

Sumber: Karyadi (2020).

(5)

METODE PENELITIAN

Dalam pelaksanaannya dilakukan dalam bentuk penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif untuk memperoleh informasi tentang faktor-faktor yang berpengaruh terhadap profitabilitas perbankan yang diwakili oleh peningkatan penggunaan kartu ATM dan fee Based income yang menggunakan data historis time series berupa laporan keuangan publikasi PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk periode 2015 sampai dengan periode 2019.

Penelitian ini Dilaksanakan di Kota Makassar tempatnya di Kantor Bank BNI Wilayah Makassar pada Bulan Januari 2020 selama kurang lebih satu bulan lamanya.

Data penelitian ini adalah data sekunder.

Data tersebut adalah data yang berasal dari laporan keuangan yang tercatat pada Data sekunder berupa laporan keuangan publikasi perbankan PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Kantor Wilayah Makassar periode tahun 2015-2019.

Sampel dalam penelitian ini adalah laporan keuangan publikasi PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk Kantor Wilayah Makassar periode 2015 sampai dengan periode 2019.

Teknik pengumpulan data dalam peneitian ini adalah studi dokumenter yaitu pengumpulan dokumen sekunder laporan keuangan pada PT. Bank Negara Indonesia (Persero)Tbk.

Definisi operasional variabel penelitian merupakan penjelasaan dari masing-masing variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Variabel Independen (X) Variabel independen dalam penelitian ini antara lain:

a. Fee based income (X2). Fee Based Income pendapatan bank dalam bentuk komisiatau keuntungan yang didapat dari transaksi yang diberikan dalam jasa-jasa bank lainnya atau spread based (selisih antara bunga simpanan dengan bunga pinjaman).

b. Tingkat penggunaan kartu ATM (X1) Tingkat penggunaan ATM dugunakan penarikan uang secara tunai, cek informasi saldo, pembayaran tagihan telepon, kartu kredit, pembelian tiket perbankan, isi ulang pulsa dll.

c. Profitabilitas (Y)

Return on Assets (Y2) rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen Bank dalam memperoleh keuntungan secara keseluruhan dalam mengelolah asset.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Statistik deskriptif memberikan gambaran atau deskripsi suatu data yang dilihat dari nilai rata-rata (mean), standar deviasi, varian, maksimum, minimum dari masing- masing variabel, (Ghozali,2011). Variabel yang digunakan meliputi variabel independen yaitu Fee Based In Come (X1) dan Transaksi ATM sertasatu variabel dependen yaitu profitabilitas diujilah pengujian statistik deskriptif, maka diperoleh hasil sesuai tabel berikut ini:

Tabel 1. Hasil Deskriptif Statistik

Sumber: data diolah (2020).

Berdasarkan tabel 1 diatas menunjukkan hasil uji statisitk deskriptif dapat di interpretasikan bahwa N atau jumlah data pada setiap variabel yaitu 5 tahun data yang berasal dari sampel PT.Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk Kantor Wilayah Makassart mulai tahun 2015 sampai dengan 2019. Yaitu variabelIndependen Fee Based Income dan Transaksi ATM serta satu variabel Dependen yaitu Profitabilitas, dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Fee Based Income memiliki nilai mean sebesar Rp 17.0678 dengan standar deviasi (std devition) sebesar 5.40217. artinya nilai mean lebih kecil dari pada standar deviasi, sehingga mengidentifikasikan bahwa hasil yang baik. Hal tersebut dikarenakan standar deviasi adalah pencerminan penyimpangan yang sangat rendah, sehingga penyebaran data menunjukkan hasil yang normal dan menyebabkan bias sangat rendah. Nilai minimalnya sebesar 8.45 dan nilai maksimum sebesar 21.21

2. Transaksi ATM memiliki nilai mean sebesar Rp 61.6608 dengan standar deviasi (std deviation) sebesar 1.731559, artinya nilai mean lebih kecil dari pada standar deviasi, sehingga mengidentifikasikan bahwa hasil

(6)

yang baik. Hal tersebut dikarenakan standar deviasi adalah pencerminan penyimpangan yang sangat rendah, sehingga penyebaran data menunjukkan hasil yang normal dan menyebabkan bias sangat rendah. Nilai minimalnya sebesar Rp 60.24 dan nilai maksimum sebesar Rp. 64.33

3. Profitabilitas memiliki nilai mean sebesar Rp 68.8000 dengan standar deviasi (std devition) sebesar 0.44721.artinya nilai mean lebih kecil dari pada standar deviasi, sehingga mengidentifikasikan bahwa hasil yang baik. Hal tersebut dikarenakan standar deviasi adalah pencerminan penyimpangan yang sangat rendah, sehingga penyebaran data menunjukkan hasil yang normal dan menyebabkan bias sangat rendah. Nilai minimalnya sebesar 68% dan nilai maksimum sebesar 69%.

Uji Normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah model jalur memenuhi asumsi normalitas yang dilakukan dengan melihat penyebaran data atau titik sumbu diagonal dari grafik pengujian normalitas (Normal Probability Plot). Apabila data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal maka model jalur memenuhi asumsi normalitas dapat dilihat pada gambar berikut ini :

Gambar tersebut diatas semua titik mengikuti garis diagonal sehingga dapat disimpulkan bahwa data dalam penelitian ini berdistribusi normal.

Tujuan dari uji ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat korelasi antar variabel bebas.Jika terjadi korelasi yang signifikan antar variabel bebas maka terjadi problem multikolinearitas.

Tabel 2. Hasil Uji Multikolinearitas

Sumber: data diolah (2020).

Dari hasil uji tersebut, ditemukan bahwa nilai Varian Inflation Factor (VIF) dari 2 variabel yaitu Kualitas aktiva produktif dan likuiditas, lebih kecil dari 5 dan nilai Tolérance tidak kurang dari 1. maka dapat dikatakan bahwa model regresi terbebas dari problem multikolinearitas.

Uji heteroskedastisitas digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya penyimpangan asumsi klasik heteroskedastisitas yaitu adanya ketidaksamaan varian dari residual untuk semua pengamatan pada model regresi.Prasyarat yang harus terpenuhi dalam model regresi adalah tidak adanya gejala heteroskedastisitas, metode pengujian yang digunakan Scatterplots seperti dibawah ini:

Berdasarkan output Scatterplots di atas diketahui bahwa:

1. Titik–titik data penyebar di atas dan di bahwa atau di sekitar angka 0

2. Titik-titik tidak mengumpul hanya di atas atau di bawah saja

3. Penyebaran titik-titik data tidak membentuk pola bergelombang melebar kemudian penyempit dan kembali melebar kembali 4. Penyebaran titik titk data tidak berpolah

Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa tidak terjadi masalah heteroskedastisitas, hingga model regresi yang baik dan ideal dapat terpenuhi.

Analisis regresi linier berganda digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel fee basse income dan variabel Tansaksi ATM dengan variabel Profitabilitas.untuk lebih jelasnya dapat dilihat hasil analisis regresi berganda dengan nilai Standardized Coefficient pada table berikut:

Tabel 3. Hasil Uji Analisis Regresi Berganda

Sumber: data diolah (2020).

(7)

Dari tabel di atas merupakan hasil uji regresi berganda diperoleh persamaan regresi

Y = βo + β1 X1 + β1 X2 + e Y = 5.646 + 1.174 X1 + 0.485X2

1. Konstanta sebesar 5.646; artinya jika fee based income dan Transaksi ATM nilainya konstan, maka profitabilitas (Y’) nilainya yaitu sebesar 5.65%

2. Koefisien regresi variabel fee based income sebesar 0.912.; artinya jika Fee Based Incomemengalami kenaikan 1%, maka profitabilitas (Y) akan mengalami kenaikan sebesar 91.2%. Koefisien bernilai positif artinya terjadi hubungan positif antara Fee Based Income dengan profitabilitas.

3. Koefisien regresi variabel tansaksi ATM sebesar 0.756; artinya jika transaksi ATM mengalami kenaikan 1%, maka profitabilitas (Y) akan mengalami kenaikan sebesar 75.6%. Koefisien bernilai positif artinya terjadi hubungan positif antara likuiditas dengan Rentabilitas.

Tabel 4 di bawah menunjukkan nilai Koefisien determinasi (R2) = 0,977, yang menunjukkan bahwa variasi dari profitabilitas pada PT. Bank Negara Indonesia (Persero)Tbk.

Kantor Wilayah Makassar dapat dijelaskan oleh Fee Based Income dan Transaksi ATM , sebesar 0.977 %, sedangkan sisanya sebesar 2.3%, dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak termasuk dalam penelitian ini.

Tabel 4. Hasil Uji Koefisien Determinasi

Sumber: data diolah (2020).

Berdasarkan hasil uji Anova atau F test terlihat bahwa nilai F sebesar 42.349, dengan nilai signifikansi sebesar 0.023. Nilai signifikansi lebih kecil dari 0,050, maka dapat dikatakan bahwa Fee Based Income dan Transaksi ATM secara simultan berpengaruh positif dan signifikan terhadap profitabilitas . Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada table berikut:

Tabel 5. Hasil Uji Secara Simultan

Sumber: data diolah (2020).

Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah kualitas aktiva produktif dan likuiditas berpengaruh secara signifikan terhadap rentabilitas, dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 6. Hasil Uji Secara Parsial

Sumber: data diolah (2020).

Tabel 6 di atas merupakan hasil uji parsial dapat di jelaskan sebagai berikut:

1) Tingkat Penggunaan Kartu ATM terhadap Profitabilitas

Berdasarkan hasil penelitian yang menguji pengaruh Tingkat penggunaan Kartu ATM terhadap profitabilitas pada tabel 4 diatas nilai t hitung = 8.075 > t tabel 2.570, dengan tingkat signifikansi sebesar 0.015, lebih kecil jika dibandingkan dengan tingkat α = 5%. Hasil ini menunjukkan bahwa secara perhitungan statistik Tingkat penggunaan kartu ATM berpengaruh positif dan signifikan terhadap rentabilitas pada PT.

Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.

Kantor Wilayah Makassar artinya apabila tingkat penggunaan Kartu ATM meningkat akan di ikuti peningkatan profitabilitas.

Hipotesis 1 terbukti diterima.

2) Fee Based Income terhadap Profitabilitas Berdasarkan hasil penelitian yang menguji pengaruh Fee Based Income terhadap profitabilitas pada tabel 4 diatas nilai t hitung

= 6.693> t tabel 2.570, dengan tingkat signifikansi sebesar 0.022, lebih kecil jika dibandingkan dengan tingkat α = 5%. Hasil ini menunjukkan bahwa secara perhitungan statistik Fee Based Income berpengaruh positif dan signifikan terhadap rentabilitas pada PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.Kantor Wilayah Makassar , artinya apabila Fee Based Income meningkat akan di ikuti peningkatan profitabilitas. Hipotesis 1 terbukti di terima.

Hasil penelitian telah membuktikan bahwa variabel Tingkat penggunaan kartu ATM telah berpengaruh positif dan signifikan terhadap profitabilitas. Hal ini memberikan implikasi bahwa salah satu fitur dari transaksi

(8)

perbankan seperti adanya kartu ATM yang memberikan kemudahan bagi nasabah dalam mengakses transaksi banking.

Penggunaan kartu pembayaran (kartu ATM ) yang sudah dilindungi oleh 'smart' chip dan PIN telah berkembang dengan pesat di dunia selama beberapa dekade terakhir.Namun, pengadopsian yang terus berkembang ini tentu saja menarik perhatian hacker. Para ahli Kaspersky Lab yang memantau kejahatan siber keuangan di Amerika Latin menemukan bahwa malware Prilex telah berevolusi untuk menargetkan teknologi jenis ini.

"Teknologi Chip dan PIN masih relatif baru di beberapa bagian dunia, seperti AS, dan orang-orang mungkin kurang menyadari risiko kloning dan penyalahgunaan kartu pembayaran," ungkap Thiago Marques, Analis Keamanan di Kaspersky Lab melalui keterangan resminya, Minggu (25/3/2018). Di Brasil, Marques melanjutkan, malware Prilex telah berevolusi dan mengambil keuntungan dari penerapan standar industri yang salah hal ini menyoroti pentingnya mengembangkan standar bukti keamanan yang aman di masa mendatang untuk teknologi pembayaran.

Dikatakannya, malware Prilex telah aktif sejak tahun 2014. Para ahli yang memantau perkembangannya melihat adanya upaya migrasi dari serangan pada ATM ke serangan terhadap sistem POS yang dikembangkan oleh vendor dari Brasil dengan cara menduplikasi informasi kartu pembayaran curian ke dalam kartu plastik kosong yang fungsional.

Secara teoritis, Menurut Ellen Florian (2004) ATM adalah alat telekomunikasi berbasis komputer yang menyediakan tempat bagi nasabah dalam melakukan transaksi keuangan tanpa membutuhkan seorang teller bank. Hal tersebut di atas sejalan dengan penelitian ini dimana ATM BNI adalah merupakan salah satu indikator untuk meningkatkan profitabilitas PT.Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Kantor Wilayah Makassar.

Nasabah pada umumnya akan memilih salah satu bank yang memiliki tingkat pelayanan yang baik dan memuaskan.

Pelayanan yang diberikan oleh pihak bank kepada nasabah tidak hanya dari sisi pelayanan teller dan customer service saja tetapi harus dilihat dari segi penganekaragaman produk bank dalam peningkatan pelayanan ATM. Oleh karena itu maraknya pengguna ATM di Indonesia pada umumnya di Bank Indonesia

telah mengeluarkan surat edaran terkait pergantian kartu ATM berbasis magnetic stripes menjadi kartu ATM berbasis chip. Hal ini tertuang dalam Surat Edaran BI No.17/52/DKSP tentang Implementasi Standar Nasional Teknologi Chip dan Penggunaan Personal Identification Number Online 6 (Enam) Digit untuk Kartu ATM dan/atau Kartu Debet yang Diterbitkan di Indonesia.

Menindaklanjuti edaran tersebut, bank-bank di Indonesia pun berlomba-lomba mengajak para nasabahnya untuk mengganti kartu ATM berbasis magnetic stripes menjadi kartu ATM berbasis chip. Hingga Januari 2021, implementasi kartu debit menggunakan chip di BNI baru mencapai 10 juta atau mendekati 80 persen. Artinya, masih ada sekitar 20 persen lebih ATM yang dimiliki nasabah perseroan masih berbasis magnetic stripe. Saat ini pergantian kartu debit magnetic stripe ini dapat dilakukan dengan mengunjungi seluruh Kantor Cabang BNI terdekat. Selain itu bisa juga melalui BNI SONIC (Self Service Opening Account). “Yaitu layanan cepat BNI, yang di antaranya untuk melakukan pembukaan rekening dan ganti kartu secara self service selama 24 jam tanpa dikenakan biaya,". BNI akan memberikan waktu kepada nasabahnya yang masih memakai Kartu ATM magnetic stripe untuk ditukar dengan kartu chip hingga 30 April 2021. Jika sampai dengan batas waktu tersebut belum dikonversi ke kartu chip, maka BNI dapat melakukan pemblokiran atau penonaktifan kartu debit tersebut. Ini berarti seluruh kartu ATM BNI magnetic stripe yang dimiliki nasabah mulai non-aktif pada 1 Mei 2021.

Berdasarkan hasil penelitian yang menguji pengaruh Fee Based Income terhadap profitabilitas, Menunjukkan bahwa bukti empiris berpengaruh positif dan signifikan terhadap profitabilitas, Artinya apabila PT.

Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Kantor Wilayah Makassar meningkatkan Fee Based Income maka akan di ikuti peningkatan profitabiltas.

Secara teoritis yang dikemukakan oleh Lapoliwa (2007) menjelaskan bahwa fee based income adalah tujuan dari pemberian jasa-jasa ini selain untuk mengembangkan pangsa pasar bank juga untuk meningkatkan pendapatan bank dalam bentuk komisi.

Sementara menurut Kasmir (2004) berpendapat bahwa fee based income adalah keuntungan yang didapat dari transaksi yang

(9)

diberikan dalam jasa-jasa bank lainnya atau spread based (selisih antara bunga simpanan dengan bunga pinjaman).

Berdasarkan data yang di peroleh tahun 2015–2019 berfluktuasi, sehingga memberikan kontribusi fee based income dalam pendapatan bank pada saat ini belum cukup berarti, akan tetapi perlu dikembangkan mengingat fee based income mempunyai karakter yang berbeda dengan pendapatan bunga. Selain itu fee based income dapat dipertimbangkan sebagai salah satu bentuk diversifikasi usaha bank dalam memperoleh laba (profit) dan akan membuat bank menjadi tergolong sehat.

Berkaitan dengan hal tersebut diatas PT.

Bank Negara Indonesia (Persero) TbkKantor Wilayah Makassar dalam rangka meningkatkan fee-based income ditengah ketatnya persaingan dengan bank bank di Indonesia, melakukan upaya peningkatan Fee Based Income melalui penggunaan kartu ATM secara sungguh sungguh dan masif. Strategi yang cocok harus memperhatikan kondisi interen dan eksteren PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Kantor Wilayah Makassar. Karena itu, pemahaman yang lebih baik atas kekuatan utama yang mempengaruhi persaingan, akan sangat membantu dalam perumusan strategi yang tepat. Untuk saat ini walaupun sebagian besar masih merupakan basic service fee, laju pertumbuhan fee based income PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Kantor Wilayah Makassar dari penggunaan kartu ATM meningkat terus, Walaupun sumbangannya terhadap laba kotor dan marjin kontribusinya belum maksimal dibanding marjin kontribusi pendapatan bunga kredit , tetapi sudah merupakan suatu sinyal prospek yang baik. Karena itu, upaya peningkatan feebased income yang antara lain melalui peningkatan penggunaan kartu ATM Bank BNI selalu mendapat perhatian dari seluruh jajaran PT. Bank Negara Indonesia (Persero ) Tbk. Kantor Wilayah Makassar.

Transaksi layanan digital perbankan akan semakin semarak seiring Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat. Hal tersebut terjadi karena masyarakat menggunakan layanan digital banking untuk mencegah penularan Covid-19. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk Kantor Wilayah Makassar pun optimistis transaksi layanan digital seperti BNI Mobile Banking akan meningkat. karena PPKM Darurat akan

membatasi aktivitas masyarakat termasuk ke kantor cabang bank.

PENUTUP

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dikemukakan dalam bab sebelumnya, kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah 1) tingkat penggunaan kartu ATM Bank BNI berpengaruh positif dan signifikan terhadap profitabilitas.

Artinya apabila tingkat penggunaan ATM PT.

Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk Kantor Wilayah Makassar di tingkatkan akan di ikuti peningkatan Profitabilitas. 2) hal ini memberikan implikasi bahwa salah satu fitur dari transaksi perbankan seperti adanya kartu ATM yang memberikan kemudahan bagi nasabah dalam mengakses transaksi perbankan.

Fee based income terhadap profitabilitas, Menunjukkan bahwa bukti empiris berpengaruh positif dan signifikan terhadap profitabilitas, Artinya apabila PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Kantor Wilayah Makassar meningkatkan Fee based income maka akan di ikuti peningkatan profitabiltas.

Berdasarkan simpulan tersebut di atas maka PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Kantor Wilayah Makassar harus mempertahan peningkatan penggunaan kartu ATM Bank BNI melalui berbagai cara untuk menarik nasabah bertransaksi di ATM Bank BNI untuk memperoleh peningkatan Fee Based Income dari transaksi penggunaan kartu ATM Bank BNI Khususnya di PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Kantor Wilayah Makassar.

Saran untuk fee based income, pihak manajemen PT. Bank Negara Indonesia (PERSERO) Tbk Kantor Wilayah Makassar perlu dipertahankan dan perluasan digitalisasi.

upaya melalui program selama pandemi ini mampu meningkatkan jumlah pengguna ATM dan transaksi kartu ATM Bank BNI.

DAFTAR PUSTAKA

Adrianto, Didin Fatihuddin, Anang Firmansyah. (2019). ”Manajemen Bank”.

Jakarta. CV. Penerbit Qiara Media

Allen H. Lipis, Thomas R. Marschall, Jan H.

Linken. (1992). ”Perbankan Elektronik (electronic banking)”. Jakarta. Rineka Cipta.

(10)

Athanasoglou, P. P.; Delis, M. D. & Staikouras, C.K. (2008). Determinants of bank profitability in the South Eastern European region, MPRA Paper, 10274: 1-32. 2008 Cermati.com. (2015). ”7 Layanan E Banking

yang Perlu Anda Ketahui”.

https://www.cermati.com/artikel/7-layanan- e-banking-yang-perlu-anda-ketahui . (diakses pada: 21/12/2020)

Haholongan, Rutinaias. (2017). ”Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Profitabilitas Perbankkan Go Public di Bursa Efek Indonesia.

https://media.neliti.com/media/publications /77769-ID-faktor-faktor-yang-

mempengaruhi-profitab.pdf (diakses pada (06/01/2021)

Harahap, Sofyan Syafri. (2009). ”Analisis Kritis Atas Laporan Keuangan”. Jakarta:

Raja Grafindo Persada.

Ikatan Bankir Indonesia. (2013). “Memahami Bisnis Bank, Modul Sertifikasi Tingkat I General Banking”. Jakarta: Gramedia

Pustaka Utama.

https://books.google.co.id/books?hl=id&lr=

&id=LKBLDwAAQBAJ&oi=fnd&pg=PA 5&dq=definisi+bank&ots=mQRGLwS5zR

&sig=ZfP0uiNV6fXCa2S2uXYDut_PRhE

&redir_esc=y#v=onepage&q=definisi%20b ank&f=false. (diakses pada: 19/12/2020) Kasmir. (2012). ”Dasar-dasar Perbankan”.

Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Kasmir. (2014). “Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya”. Jakarta: Rajawali Pers.

Lapoliwa. (2007). ”Akuntansi Perbankan Jilid 1”. Jakarta. Institut Bankir Indonesia.

S. Munawir. (2007). ”Analisa Laporan Keuangan”. Yogyakarta. Liberty.

Undang-Undang Republik Indonesia.Nomor 10

Taun 1998. “Tentang

Perbankan”.https://jdih.kemenkeu.go.id/ful ltext/1998/10Tahun~1998UU.htm. (diakses pada: 19/12/2020)

Referensi

Dokumen terkait

Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dikemukakan sebelumnya maka dapat diambil kesimpulan dari penelitian mengenai Pengaruh Current Ratio, Debt to Equity