• Tidak ada hasil yang ditemukan

Fragmentasi Habitat dalam Ekologi Umum

N/A
N/A
adorelaze

Academic year: 2025

Membagikan "Fragmentasi Habitat dalam Ekologi Umum"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PRAKTIKUM IV EKOLOGI UMUM ACARA VIII, IX & X

DISUSUN OLEH:

NAMA : CECILIANA CHARSYAH

NIM : M0821017

KELOMPOK : 2

ASISTEN : DESTA EKA FAHRUROZI

PROGRAM STUDI ILMU LINGKUNGAN

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA 2022

(2)

2 ACARA VIII: FRAGMENTASI HABITAT

I. TUJUAN

1. Mengidentifikasi patch, matrix, dan corridor.

2. Mengidentifikasi kondisi dan pola fragmentasi dari foto udara.

3. Mengetahui proses dan laju fragmentasi, penyebab, dampak, serta penerapannya di bidang konservasi.

II. KAJIAN PUSTAKA

Alam semesta selalu mengalami perubahan baik secara ekologi dan biologi, pada hewan maupun pada alam tentu mengalami proses terus-menerus. Hal tersebut dapat dikatakan sebagai fragmentasi habitat, fragmentasi sendiri merupakan proses terpecahnya habitat organisme menjadi beberapa bagian yang akan membentuk habitat baru lagi. Fragmentasi habitat mencakup proses perubahan lanskap dan kemungkinan beberapa variasi baru yang bekaitan (Withaningsih dkk, 2017).

Fragmen tersebut akan terpecah menjadi beberapa bagian yang nanti akan membentu suatu bentuk atau lingkungan baru di tempat lain, adapun beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya fragmentasi habitat yakni aktivitas manusia seperti pembukaan lahan, urbanisasi dan agrikultur. Salah satu nya yaitu deforestasi yang merupakan hilangnya hutan akibat penembangan hutan secara terus-menerus sehingga menimbulkan terpecahnya beberapa fragmen besar menjadi beberapa fragmen lain. Umumnya fragmentasi habitat akan menyebabkan variasi genetik hilang akibat berpisah dan kawin sedarah (Lino et al, 2019).

Menurut Sumarto (2012), fragmentasi habitat secara ilmiah merupakan proses yang menghasilkan perubahan suatu habitat besar dan homogen menjadi bagian atau mozaik kecil yang akan terisolasi antara satu dengan yang lain. Ada beberapa paramenter untuk mengetahui bentuk dari fragmentasi habitat dapat dikategorikan yakni ukuran, tingkatan isolasi, bagan dan tingkat kualitas keberadaan heterogen yang menjadi bagian fragmen dan pengaruh tepian pinggiran. Pada perancangan kawasan konservasi, fragmentasi habitat merupakan kondisi yang merugikan bagi banyak spesies karena bagian wilayah yang terbagi belum tentu menjadi habitat yang tepat bagi mereka dan belum teridentifikasi maupun terlindungi, sehingga kelangsungan hidup spesies menjadi sangat terancam (Arista dkk, 2015).

Keberhasilan spesies untuk memilih dan menciptakan habitat baru sesuai kebutuhannya menjadi sangat berpengaruh terhadap kelangsungan hidupnya

(3)

3

(Widyasari dkk, 2013). Penilaian dampak fragmentasi habitat diperlukan guna mendukung pengembangan alat dan strategi konservasi populasi liar (Rivera‐Ortíz et al, 2015).

III. PEMBAHASAN

Pada praktikum “Fragmentasi Habitat” dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 4 Juni 2022 di Monumen 45 Banjarsari, Solo. Cara kerja dalam praktikum ini adalah dengan mengidentifikasi keadaan taman secara keseluruhan, kerapatan, pola fragmentasi yang ditemukan, dan keragaman vegetasi yang ada pada wilayah tersebut.

Secara umum fragmentasi habitat juga merupakan proses perubahan secara cepat dan signifikan bentuk lingkungan, memecahkan konfigurasi spasial habitat menjadi bagian lain karena adanya ketidaksesuaian antara tipe habitat lain dengan spesies yang ada. Konsep dari fragmentasi habitat merupakan turunan teori biogeografi dari ahli MacArthur & Wilson, dimana terjadi peningkatan spesies apabila ukuran suatu pulau juga meningkat. Maksudnya apabila suatu wilayah mengalami perluasan wilayah maka habitat atau spesies yang terdapat didalamnya akan mengalami peningkatan jumlah, namun sebaliknya jika suatu wilayah justru mengalami penyusutan atau perpecahan wilayah maka jumlah habitat akan menurun karena tidak ada tempat bagi spesies untuk berkembang biak. Adapun beberapa ekosistem yang dapat terpengaruh karena adanya fragmentasi habitat yakni seperti hutan dan laut, contohnya apabila di suatu hutan terdapat pembangunan jalan yang membelah wilayah hutan menjadi beberapa bagian maka hal tersebut dapat disebut fragmentasi habitat. Fragmentasi habitat perlu diperhatikan karena akan berpengaruh terhadap keberlangsungan ekosistem dan keanekaragaman hayati yang dapat menyebabkan kepunahan, sehingga upaya manusia selain memanfaatkan lingkungan untuk kepentingan tertentu juga harus diimbangi dengan pelestarian yang setara agar mencegah kerusakan yang semakin parah. Pada fragmentasi terdapat suatu lanskap yang kemudian dapat terbagi menjadi bagian yang lebih kecil meliputi patch (fragmen), matrix (matriks), dan corridor (koridor). Patch (fragmen) merupakan area homogen pada lanskap yang berbeda dari sekelilingnya. Matrix (matriks) merupakan area yang banyak ditemukan pada lanskap. Corridor (koridor) merupakan bentuk memanjang dari patch yang berfungsi menjadi jalur penghubung antar patch tersebut.

(4)

4

Fragmentasi habitat dapat menyebabkan dampak negatif berupa berkurangnya total luas habitat alami dan terciptanya efek tepi (edge area). Namun efek tepi juga tidak selalu berdampak buruk, adanya efek tepi dapat tercipta habitat baru bagi spesies yang mampu bertahan hidup pada are terbuka maupun tertutup. Selain itu, dampak lainya adalah berbagai spesies dapat keluar dari habitat terlindungi, terganggunya hubungan ekologis, dan terciptanya populasi yang lebih kecil dan terisolasi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa fragmentasi habitat perlu diperhatikan karena akan berpengaruh terhadap keberlangsungan ekosistem dan keanekaragaman hayati yang dapat menyebabkan kepunahan hingga menyebabkan biodiversitas juga semakin berkurang, maka upaya manusia selain memanfaatkan lingkungan untuk kepentingan tertentu juga harus diimbangi dengan pelestarian yang setara agar mencegah kerusakan yang semakin parah.

Gambar 1. Pola Fragmentasi Monumen 45 Banjarsari Solo

Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan praktikan di lokasi Monumen 45 Banjarsari Solo, dapat diketahui keadaan, kerapatan, pola fragmentasi, dan keberagaman vegetasi pada Monumen 45 Banjarsari Solo. Keadaan taman secara keseluruhannya antara lain yaitu memiliki kondisi taman yang tertata rapi, pengelolaan taman yang baik, fasilitas yang tersedia sudah memadai, rerumputannya dirapikan secara berkala, berbagai tumbuhan mampu tumbuh dengan subur, terdapat sampah-sampah pada saluran air dan kolam, serta kolam air yang berlumut hingga warna air pada kolam tersebut juga berwarna hijau.

Kerapatan yang ditemui antara lain yaitu jarak antar pohon dan tiang di pinggiran

(5)

5

taman kurang lebih 1,8 m, jarak antar pohon dan tiang dibagian tengah taman kurang lebih 4 m, dan jarak pohon pada daerah pinggir dibuat seragam. Pola fragmentasi yang ditemukan yaitu terdapat patch berupa kumpulan pohon dan lapangan rumput serta corridor berupa koridor pepohonan dan jalan aspal, seperti yang terlampir pada Gambar 1. Selain itu, keberagaman vegetasi yang ada di Monumen 45 Banjarsari cukup beragam seperti terdapat asam kandis (garcinia xanthochymus), pithecellobium dulce, nangka, dan lain sebagainya. Perkembangan vegetasi Monumen 45 Banjarsari bermula sebagai pasar Pedagang Kaki Lima (PKL) yang kemudian sendi perekonomian formalnya mulai menurun sehingga kawasan Monumen 45 Banjarsari mulai terjadi degradasi kualitas maupun kuantitas. Sampai pada tahun 2006, Pemerintah Kota Solo menata kembali kawasan Monumen 45 Banjarsari sebagai taman kota dengan memindahkan PKL tersebut ke lokasi yang lain yaitu Pasar Klithikan Notoharjo Semanggi. Berdasarkan pemantauan melalui aplikasi Google Earth, vegetasi Monumen 45 Banjarsari lama kelamaan semakin berkurang. Kemajuan pembangunan di daerah sekitar Monumen 45 Banjarsari kian berkembang pesat. Bangunan disekitar wilayah tersebut kini banyak didominasi oleh bangunan hunian atau rumah penduduk, namun juga terdapat bangunan sekolah, perkantoran, dan bahkan bangunan yang sudah tidak ditempati lagi. Dampak kemajuan pembangunan tersebut terhadap vegetasi yaitu berpotensi untuk dapat menurunkan kualitas dan kuantitas dari vegetasi itu sendiri, karena dengan pembangunan yang meningkat pesat dan pertambahan penduduk disekitarnya akan meningkatkan pula kadar polusi udara dan suhu udara dari berbagai macam aktivitas yang dilakukan manusia. Perencanaan pembangunan di wilayah Monumen 45 yaitu dengan pengimplementasikan konsep Ruang Terbuka Hijau, dengan penanaman tanaman hijau disertai budidaya tanaman untuk dapat membangkitkan keseimbangan ekosistem pembangunan dan vegetasi. Dengan mengutamakan penggunaan tanaman atau tumbuhan yang mampu hidup kuat dan membutuhkan biaya perawatan yang tidak besar serta dapat secara tegas mengatasi pelaku-pelaku pelanggaran yang merusak keseimbangan vegetasi tesebut.

IV. KESIMPULAN

Fragmentasi habitat merupakan proses perubahan lanskap dan kemungkinan beberapa variasi baru yang bekaitan, meliputi patch (fragmen) yaitu area homogen pada lanskap yang berbeda dari sekelilingnya, matrix (matriks) yaitu area yang

(6)

6

banyak ditemukan pada lanskap, dan corridor (koridor) merupakan bentuk memanjang dari patch yang berfungsi menjadi jalur penghubung antar patch tersebut. Kondisi dan pola fragmentasi dari foto udara dapat diidentifikasi menggunakan aplikasi Google Earth. Pola fragmentasi yang ditemukan pada Monumen 45 Banjarsari melalui Google Earth berupa patch (kumpulan pohon dan lapangan rumput) dan corridor (koridor pepohonan dan jalan aspal). Fragmentasi habitat menyebabkan berkurangnya total luas habitat alami dan terciptanya efek tepi (edge area), kemudian berdampak pada hilangnya dan punahnya keanekaragaman hayati maupun habitat. Upaya yang dapat dilakukan yaitu memanfaatkan lingkungan untuk kepentingan tertentu juga harus diimbangi dengan pelestarian yang setara agar mencegah kerusakan yang semakin parah.

(7)

7

ACARA IX: PERKIRAAN BESARNYA POPULASI GASTROPODA DENGAN METODE JARAK PADA AREA YANG LUAS DI EKOSISTEM SUNGAI

I. TUJUAN

1. Memahami metode jarak atau plotless sampling methods dengan asumsi pada persebaran random.

2. Memahami cara memperkirakan besarnya populasi gastropoda pada ekosistem sungai.

3. Mengkaji hubungan antara densitas populasi gastropoda dengan parameter lingkungan serta kaitannya dengan kerusakan atau gangguan ekologis.

II. KAJIAN PUSTAKA

Ekosistem air tawar di daratan dapat terbagi menjadi dua jenis yaitu perairan diam atau tenang (lentik) seperti kolam, danau, telaga dan waduk, serta perairan mengalir (lotik) seperti sungai, kanal dan sebagainya. Indonesia memiliki banyak sungai (perairan lotik), baik sungai besar ataupun kecil. Sumber perairan seperti sungai memiliki fungsi penting bagi kehidupan masyarakat dan lingkungannya (Maryono, 2020). Perairan lentik maupun lotik memiliki tingkat potensi ekologis dan keanekaragaman hayati yang tinggi berdasarkan karakteristik perairannya (Ulrich et al, 2018). Parameter fisika kimia suatu perairan berguna untuk menjadi indikator dan penunjang tingkat kehidupan berbagai organisme dalam perairan tersebut (Romero et al, 2017). Organisme pada perairan lentik beranekaragam, salah satunya yaitu gastropoda. Gastropoda merupakan moluska penyusun komunitas bentik yang hidup di perairan dengan bercirikan memiliki cangkang kerucut terpilin, terdapat otot perut yang digunakan untuk bergerak, dan mengalami torsi (Rahmasari dkk, 2015). Kelimpahan dan penyebarannya dipengaruhi oleh lingkungan abiotik, biotik, dan toleransi dari gastropoda itu sendiri pada berbagai faktor lingkungan seperti tipe substrat, fisika kimia perairan, ketersediaan sumber daya, pola siklus hidup, hubungan biotik, dan penyebarannya (Mardatila dkk, 2016). Menurut Supratman dkk (2018), umumnya gastropoda sering ditemukan di substrat berbatu, berpasir, dan berlumpur. Perkembangbiakannya itu sendiri dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti suhu, pH, kekeruhan, kecerahan, dan cahaya. Gastropoda menjadi salah satu penyusun penting dalam ekosistem perairan, dimana fauna ini berperan penting dalam jaring makanan yaitu sebagai organisme kunci. Selain itu, gastropoda berguna sebagai indikator pencemaran yang dapat

(8)

8

dilihat berdasarkan tingkat keanekaragaman gastropoda pada ekosistem perairannya.

III. PEMBAHASAN

Pada praktikum “Perkiraan Besarnya Populasi Gastropoda Dengan Metode Jarak Pada Area yang Luas di Ekosistem Sungai” dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 11 Juni 2022 di KHDTK Alas Bromo, Karanganyar. Cara kerja dalam praktikum ini adalah dengan menentukan lokasi, stasiun dan titik sampling penelitian terlebih dahulu, kemudian melakukan perkiraan densitas komunitas gastropoda pada sungai dan pengukuran kualitas air sungai.

Ekosistem sungai merupakan habitat berbagai spesies organisme akuatik.

Komunitas biologi yang terdapat pada ekosistem sungai ditentukan oleh kecepatan arus sungai, komposisi substrat dasar sungai, dan faktor lingkungan lain disekitarnya. Berdasarkan alirannya, ekosistem sungai dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu hulu sungai, badan sungai, dan hilir sungai. Hulu sungai merupakan daerah aliran sungai yang menjadi sumber erosi berupa batuan dan pasir dan memiliki kecepatan arus tinggi dari pegunungan atau perbukitan yang tinggi yang memiliki substrat berupa pasir ataupun lumpur. Badan sungai merupakan daerah peralihan hulu dan hilir sungai. Hilir sungai merupakan daerah akhir aliran sungai yang memiliki substrat berupa endapan pasir halus, pasir kasar, lumpur dan lain sebagainya yang akan bermuara ke laut ataupun sungai lain. Aliran air sungai terbagi menjadi dua zona, yaitu zona air deras dan zona air tenang. Zona air deras (rapid zone) merupakan wilayah yang cenderung dangkal dan memiliki kecepatan aliran arus yang cukup tinggi, sehingga dasar sungainya padat. Hal ini dikarenakan kecepatan arus yang tinggi atau deras tersebut berdampak pada dasar sungai yang menjadi relatif bersih atas endapan dan materi lainnya, karena berbagai endapan maupun materi lain tersebut mengendap di dasar sungai. Dengan begitu, zona air deras dapat ditempati oleh bentos ataupun organisme ferifitik. Umumnya zona air deras berada di hulu sungai di sekitar pegunungan. Sedangkan zona air tenang (pool zone) merupakan wilayah yang relatif dalam dan memiliki kecepatan aliran arus yang tidak terlalu tinggi atau deras, sehingga dasar sungainya lunak. Hal ini dikarenakan kecepatan arus yang tidak deras menyebabkan lumpur dan materi lainnya dapat mengendap di dasar sungai, sehingga tidak cocok untuk ditempati

(9)

9

bentos permukaan namun sesuai untuk ditempati penggali nekton dan plankton.

Zona air tenang banyak berada di wilayah yang landai.

Gastropoda merupakan hewan bercangkang yang hidup di dasar sungai.

Gastropoda berasal dari bahasa yunani kuno yaitu gastro berarti perut dan podos berarti kaki, sehingga dapat disimpulkan bahwa fauna ini bergerak dengan menggunakan perut sebagai kakinya. Gastropoda termasuk pada hewan invertebrata yaitu Filum Mollusca. Pada umumnya gastropoda memiliki cangkang tunggal spiral terpilin sejak embrio dengan beragam warna, namun juga terdapat spesies gastropoda yang tidak memiliki cangkang dan disebut dengan siput telanjang. Karakteristik unik gastropoda yaitu mengalami tahap perkembangan torsi, dimana saat embrio pada abalone dan limpet memiliki bentuk pipih. Selain itu, dalam memperoleh makanannya gastropoda menggunakan radula atau lidah parut dengan gigi mikroskopis yang berfungsi untuk mengikis makanan. Makanan gastropoda itu sendiri dapat berupa alga atau tumbuhan, namun beberapa jenis gastropoda juga terdapat yang karnivora.

Metode jarak (plotless sampling methods) merupakan metode guna memperkirakan kepadatan ataupun penyebaran suatu populasi dengan garis dan titik menjadi dasar perhitungan atau pengukurannya. Metode jarak dapat digunakan dalam perkiraan populasi gastropoda. Metode jarak melibatkan serangkaian titik atau garis secara acak pada tiap substasiun dan kemudian dilakukan pengukuran jarak antar individu yang dijumpai pada garis atau titik tersebut. Pengukuran gastropoda dalam metode jarak dapat melalui dua cara yaitu dengan pengukuran jarak secara acak antara titik (pasak) dengan gastropoda terdekat dan pengukuran jarak secara acak antara satu gastropoda dengan gastropoda terdekat lainnya. Hasil pola acak tersebut dapat dilakukan perhitungan dengan menggunakan Indeks Hopkins yang rumusnya: ℎ = Σ(𝑥𝑖2)

Σ(𝑟𝑖2) dan 𝐼𝐻 =

1+ℎ Dengan keterangan meliputi tes statistik Hopkins terhadap pola acak (), jarak titik ke-i terhadap gastropoda terdekat (𝑥𝑖), dan jarak gastropoda ke-i terhadap gastropoda lain terdekat (𝑟𝑖). Bila hasil Indeks Hopkins yang didapat sebesar 0,0 – 0,39 maka terindentifikasi sebagai pola seragam, 0,4 - 0,69 maka terindentifikasi sebagai pola acak, dan 0,7 – 1,0maka terindentifikasi sebagai pola berkelompok. Perhitungan perkiraan populasi gastropoda dapat dilakukan dengan menggunakan rumus:

𝐷𝑡 = 𝑛

Σ(𝑥𝑖2) 𝑎𝑡𝑎𝑢 𝐷𝑔 = 𝑛 Σ(𝑟𝑖2)

(10)

10

Dengan keterangan meliputi perkiraan densitas populasi berdasarkan titik (𝐷𝑡), perkiraan densitas populasi berdasarkan jarak antar sesama yang terdekat (𝐷𝑔), ukuran sampel (𝑛), jarak titik terhadap gastropoda terdekat (𝑥𝑖), dan jarak antar sesama gastropoda terdekat (𝑟𝑖).

Densitas gastropoda merupakan kerapatan populasi gastropoda pada tiap satuan meter. Jumlah dan kerapatan dari gastropoda dipengaruhi oleh kondisi lingkungan sekitarnya, sehingga kondisi air ekologis selaras dengan densitas gastropoda dna hal ini dapat menjadi bioindikator. Gangguan ekologis perairan seperti pada kualitas fisika kimia perairan secara lansung berpengaruh terhadap kehidupan gastropoda seperti pada parameter lingkungannya yaitu suhu, pH, oksigen terlarut, dan sebagainya. Dengan begitu, densitas gastropoda berbanding lurus dengan kualitas ekologi, bila terjadi peningkatan gangguan ekologis seperti pencemaran yang berpotensi mengubah kadar perairan akan semakin sedikit jumlah gastropoda hidup di perairan tersebut.

Gambar 1. Pola Jarak Gastropoda Stasiun 1 Sungai KHDTK UNS

Berdasarkan hasil pengamatan dan pengukuran parameter perairan yang telah dilakukan dengan menggunakan horiba meliputi suhu, pH, DO (Dissolved Oxygen atau oksigen terlarut), TDS (Total Dissolved Solid), dan kekeruhan (turbiditas).

Dari hasil yang didapat dalam pengukuran seperti yang terlampir pada Tabel 3, dapat diketahui bahwa keseluruhan substasiun memiliki suhu air antara 25-26 ºC, pH air sekitar 4, DO berkisar 8-10 mg/L, kekeruhan berkisar 51-54 NTU, dan TDS

(11)

11

yang berkisar 0,1-0,2 g/L. Selain pengukuran menggunakan alat horiba, juga terdapat pengukuran menggunakan alat Environmental Meter, yang hasil pengukurannya meliputi suhu, kecepatan angin, dan kelembaban. Berdasarkan hasil pengukuran seperti yang telampir pada Tabel 4, dapat disimpulkan bahwa rata-rata parameter keseluruhan substasiun yaitu suhu sebesar 30,83 ºC, kecepatan angin sebesar 0,2 m/s, dan kelembaban sebesar 75 %rh. Pola yang terlampir pada Gambar 1, dapat dikatakan telah mewakili jarak gastropoda pada stasiun 1 di sungai KHDTK. Dalam perkiraan densitas komunitas gastropoda diperoleh hasil jarak gastropoda seperti yang terlampir pada Tabel 1 dan Tabel 2. Dari perolehan tersebut, dengan menggunakan Indeks Hopkins maka perhitungan yang didapat yaitu nilai IH masuk ke dalam range 0,4-0,69 yang artinya pola distribusinya acak.

Selain itu, dengan rumus 𝐷𝑡 = 𝑛

𝜋 𝑥 Σ(𝑥2) didapat bahwa densitas komunitas gastropoda sebesar 8,69/𝑚2, dengan rumus 𝑉𝑎𝑟𝑖𝑎𝑛𝑠𝑖 = (

1 𝐷𝑑)2

𝑛 didapat nilai variansi-nya sebesar 0,004, dan dengan menggunakan rumus 𝑆𝐸 = √𝑉𝑎𝑟𝑖𝑎𝑛𝑠𝑖

𝑛

didapat nilai standar error adalah sebesar 0,036.

IV. KESIMPULAN

Metode jarak (plotless sampling methods) merupakan metode guna memperkirakan kepadatan ataupun penyebaran suatu populasi dengan garis dan titik menjadi dasar perhitungan atau pengukurannya. Pola pemencaran random dapat diidentifikasi dengan menggunakan Indeks Hopkins. Pengukuran perkiraan populasi gastropada dapat melalui dua cara yaitu dengan pengukuran jarak secara acak antara titik (pasak) dengan gastropoda terdekat dan pengukuran jarak secara acak antara satu gastropoda dengan gastropoda terdekat lainnya. Kemudian diuji dengan Indeks Hopkins, hasil sebesar 0,0 – 0,39 terindentifikasi sebagai pola seragam, 0,4 - 0,69 terindentifikasi sebagai pola acak, dan 0,7 – 1,0 terindentifikasi sebagai pola berkelompok. Densitas gastropoda berbanding lurus dengan kualitas ekologi, bila terjadi peningkatan gangguan ekologis seperti pencemaran yang berpotensi mengubah kadar perairan maka akan berdampak pada jumlah gastropoda hidup di perairan tersebut.

(12)

12

ACARA X: KAJIAN EKOLOGIS EKOSISTEM AKUATIK I. TUJUAN

1. Memahami cara evaluasi kondisi ekosistem akuatik tergenang.

2. Memahami metode sampling plankton ekosistem akuatik tergenang.

II. KAJIAN PUSTAKA

Pada dasarnya, ekosistem terbagi menjadi dua macam yaitu ekosistem akuatik (air) dan ekosistem terestrial (darat atau tanah). Sekitar 71% permukaan bumi tertutup oleh air. Umumnya dalam sisi ekosistem perairan atau akuatik ini terbagi menjadi ekosistem air laut, barus dan air payau. Sekitar 97% dari permukaan bumi tertutupi oleh air laut asin yang kurang layak untuk diminum dan 3% oleh air yang tidak mengandung garam serta dapat dimanfaatkan sumber dayanya secara maksimal. Air merupakan sumber daya alam dan komponen lingkungan yang penting bagi kehidupan di muka bumi dan juga bagi seluruh makhluk hidup.

Air merupakan elemen fondasi yang tidak tergantikan dan fundamental terhadap kehidupan (Aznar-Sánchez et al, 2019). Air menjadi kebutuhan utama dalam berbagai proses kehidupan di muka bumi, namun dapat pula menjadi berbahaya bila kualitas dan kuantitasnya tidak dalam kondisi ideal. Dari sisi fisika dan kimia-nya, karakteristik suatu perairan dipengaruhi oleh beragam faktor, berupa faktor eksternal maupun faktor internal (Mainassy, 2017). Aktivitas manusia seperti pola dan aktivitas penggunaan lahan disekitar perairan berpengaruh terhadap karakteristik polusi dan kualitas dari perairan tersebut (Wang et al, 2021). Baik atau buruknya parameter kualitas perairan nantinya berpengaruh terhadap keanekaragaman dan struktur komunitas (Desmawati dkk, 2020). Pada perairan darat dapat terbagi menjadi dua jenis yaitu perairan diam atau tenang (lentik) seperti kolam, danau, telaga dan waduk, serta perairan mengalir (lotik) seperti sungai, kanal dan sebagainya. Menurut Barus (2020), bahwa perbedaan utama perairan lentik dengan perairan lotik terletak pada kecepatan arus airnya. Dimana kecepatan arus perairan lentik lambat dan akumulasi massa airnya terjadi dalam waktu yang lama, sedangkan kecepatan arus perairan lotik tinggi serta perpindahan massa airnya berlangsung cepat.

Kekayaan alam seperti di Indonesia sangat berlimpah. Ekosistem alam menyediakan berbagai macam sumber daya dan proses yang berguna untuk manusia. Manfaat tersebut dapat disebut dengan jasa lingkungan. Jasa lingkungan

(13)

13

ini dapat menjadi dasar penilaian suatu ekosistem. Dimana berdasarkan Peraturan Kementerian Lingkungan Hidup Nomor 09 Tahun 2011 mengenai Pedoman Umum Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS), jasa lingkungan memiliki kualitas dan kuantitas yang berpengaruh dan mempengaruhi panduan perencanaan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yaitu daya dukung dan daya tampungnya lingkungan (Setyawan dkk, 2018).

III. PEMBAHASAN

Pada praktikum “Kajian Ekologis Ekosistem Akuatik” dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 11 Juni 2022 di KHDTK Alas Bromo, Karanganyar. Cara kerja dalam praktikum ini adalah dengan melakukan monitoring kondisi abiotik dan pengambilan sampel plankton, kemudian melakukan pengamatan sampel plankton dengan metode SRCC, dan dilanjutkan dengan analisis data perhitungan cacah plankton.

Ekosistem akuatik (perairan) merupakan ekosistem dengan sebagian besar lingkungan fisiknya didominasi oleh air. Ekosistem akuatik dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu perairan menggenang (lentik) dan perairan mengalir (lotik).

Perairan lentik adalah kumpulan masa air atau perairan yang diam, tenang ataupun menggenang. Contohnya seperti danau, waduk, telaga, rawa, situ dan kolam.

Perairan lotik adalah kumpulan masa air atau perairan yang mengalir atau memiliki arus deras. Contohnya seperti sungai, parit, kanal dan kali. Ciri-ciri perairan lentik yaitu adanya aliran air yang jelas terdapat di dalamnya seperti adanya aliran masuk dan aliran ke luar, arusnya yang stagnan (hampir tidak ada arus), arus dipengaruhi oleh kekuatan angin yang dimana bila semakin kuat tiupan anginnya maka semakin kuat arusnya, kecepatan arus lambat serta akumulasi massa air berlangsung lama.

Ciri-ciri perairan lotik yaitu alirannya tidak mempunyai batas yang jelas, arusnya bersifat tubulen yaitu arut air bergerak ke segala arah sehingga air terdistribusi ke semua bagian perairan, kecepatan arus tinggi, perpindahan massa air berlangsung cepat, serta aliran air bergantung pada topografi seperti besar sungai dan debit air yang mengalir. Selain dari arus yang menjadi faktor pembatas utama antara lotik dan lentik yang dapat mempengaruhi jenis biotanya, perbedaan lain antara keduanya yaitu kadar oksigen pada lotik lebih tinggi, gas terlarut, dan proses dari pertukaran bahan organik tanah dan air di sekitar perairannya. Pengambilan sampel akuatik di Indonesia berpedoman pada SNI 6989.57:2008 Tentang Air dan Air

(14)

14

Limbah Bagian 57: Metode Pengambilan Contoh Air Permukaan. Metode pengambilan sampel akuatik yang lebih sederhana dapat memanfaatkan media wadah seperti ember plastik Polyethylene atau berbahan beling yang tidak akan berpengaruh terhadap sifat air. Alat lain yang dapat digunakan Water Sampler Horizontal maupun Vertical. Metode pengambilan ini dilakukan dengan asumsi bahwa dapat mewakili keseluruhan kondisi perairan dan pengambilannya juga dilakukan secara menyebar. Pelaksanaan antara pengambilan dan analisi dengan jangka waktu yang semakin pendek akan membuat hasil menjadi lebih baik.

Perairan memiliki sifat fisik, kimia, dan biologi. Sifat fisik perairan meliputi suhu dan kecerahan air. Berdasarkan suhunya, lapisan air terbagi menjadi epilimnion dan hipolimnion. Wilayah peralihan tipis yang terdapat diantara kedua lapisan ini disebut termoklin. Epilimnion merupakan air yang berada diatas termoklin dan lapisan air bagian atas yang mendapatkan sinar cahaya matahari sehingga bagian tersebut lebih panas dan ringan, sedangkan hipolimnion merupakan air yang berada dibawah termoklin dan lapisan air bagian bawah yang tidak terkena atau mendapat sinar cahaya matahari. Dengan perbedaan suhu perairan di setiap kedalamannya, maka pengukuran suhu dilakukan pada berbagai kedalaman yang berbeda juga untuk menentukan keberadaan termoklin.

Pengukuran suhu air dapat dilakukan menggunakan termometer air raksa atau alkohol, dimana termometer melalui seutas tali ditenggelamkan dan di diamkan hingga air raksa atau alkohol tidak bergerak kurang lebih selama 5 menit. Alat lain yang juga dapat mengukur suhu air adalah termometer digital, dimana probe (elektrode) dimasukkan kedalam perairan secara langsung dan kemudian nilai hasil akan tertera pada layar termometer digital. Kecerahan air merupakan parameter kejernihan suatu perairan, bila kecerahan perairan semakin tinggi maka dapat dinyatakan bahwa tingkat cahaya matahari menembus kedalam air juga semakin tinggi. Dengan berkurangnya kecerahan air dapat berpengaruh terhadap kemampuan fotosintesis tumbuhan air hingga mengalami penurunan serta kegiatan fisiologi biota air juga terpengaruh dikarenakan partikel terlarut dan bahan-bahan yang tersuspensi. Pengukuran kecerahan air dapat dilakukan dengan menggunakan alat Secchi Disc atau cakram. Cara kerjanya yaitu dengan memasukkan alat kedalam perairan melalui seutas tali hingga warna hitam-putih alat tidak terlihat, kemudian hasil kecerahan dapat dilihat dari jarak jari pada tali yang berada di permukaan air dengan alat Secchi Disc ketika warna hitam-putih alat tidak terlihat.

(15)

15

Hasil pengukuran kecerahan perairan dapat dikelompokkan menjadi kecerahan baik bila hasil lebih dari 60 cm, kecerahan sedang bila kurang dari 30 cm, dan kecerahan buruk bila kurang dari 10 cm. Sifat kimia perairan meliputi terdapatnya derajat keasaman (pH) dan oksigen terlarut (Dissolved Oxygen/DO). Derajat keasaman (pH), merupakan salah satu parameter yang berfungsi untuk menentukan produktivitas perairan. Nilai pH menyatakan nilai konsentrasi ion Hidrogen dalam larutan. Organisme perairan memiliki nilai pH netral kisaran toleransi antara asam lemah hingga basah lemah. Nilai pH yang baik untuk kehidupan organisme perairan umumnya yaitu 7 sampai 8,5. Apabila nilai pH yang didapat kurang dari 7 maka sifatnya asam, bila pH perairan sebesar 7 maka sifatnya netral, dan pH perairan lebih dari 7 maka sifatnya basa. Derajat keasaman (pH) pada perairan dapat diukur dengan menggunakan alat pH meter. Oksigen terlarut (Dissolved Oxygen) merupakan jumlah dari oksigen terlarut air yang berasal dari fontosintesis dan absorbsi atmosfer. Semakin banyak jumlah DO dalam air maka secara otomatis kualitas air semakin baik. Jumlah kadar DO yang dapat menampilkan bahwa suatu perairan memiliki tingkat pencemaran yang rendah adalah sebesar lebih dari 5 ppm dan kadar oksigen biokimianya 0-10 ppm. Jumlah O2 yang terkandung dalam air bergantung pada struktur komunitas, suhu, konsentrasi garam terlarut, dan intensitas cahaya matahari. Sifat biologis perairan meliputi terdapatnya kehidupan flora dan fauna, selalu berada dalam tubuh organisme akuatik, dan sebagai komunikasi bioindikator kualitas perairan. Organisme hidup yang berada di ekosistem perairan dapat dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu plankton, nekton, dan bentos. Plakton merupakan organisme perairan indikator pada kualitas biologi perairan yang berperan penting dalam mempengaruhi produktivitas primer perairan. Plankton itu sendiri merupakan organisme dengan ukuran sangat kecil (mikroskopis) yang tidak bergerak aktif dan bergantung pada arus, gelombang maupun gerakan air. Plankton terbagi menjadi dua kelompok besar yaitu fitoplankton dan zooplankton. Fitoplankton merupakan organisme mikroskopis yang hidup melayang dekat permukaan air serta berperan sebagai produsen primer perairan, memiliki siklus hidup pendek dan rata-rata spesiesnya sensitif terhadap perubahan lingkungan. Fitoplankton juga disebut dengan plankton tumbuhan dikarenakan memiliki sifat autotrof, yaitu mampu mengubah zat anorganik menjadi organik sebab memiliki pigmen fotosintesis berupa klorofil. Keberadaan fitoplankton dapat sebagai bioindikator terhadap adanya perubahan lingkungan

(16)

16

perairan yang dikarenakan ketidakseimbangan dari pencemaran. Tiga faktor utama yang mempengaruhi pertumbuhan plankton adalah suhu, cahaya dan nutrien.

Zooplankton merupakan konsumen pertama dalam memanfaatkan hasil produksi primer milik fitoplankton. Komposisi plankton berbeda pada antar habitat perairan, baik secara vertikal ataupun horizontal dan tiap musimnya. Variasinya bergantung pada faktor-faktor seperti suhu, pH, kedalaman, transparansi, kekeruhan dan ketersediaan sumber nutrisi. Zooplankton juga disebut dengan plakton hewan karena memiliki sifat-sifat seperti hewan berupa sifat heterotrof, hidup sebagai herbivora ataupun karnivora. Selain plankton, juga terdapat nekton. Nekton merupakan organisme hidup perairan dengan ukuran besar dan dapat berenang atau bergerak bebas di dalam air. Organisme nekton terdiri dari berbagai macam jenis organisme seperti ikan, amfibi, dan serangga air yang hidupnya dapat tersebar dari zona epipelagic hingga zona dekat dasar laut. Zona epipelagic itu sendiri merupakan daerah tempat organisme dapat hidup di kedalaman 0 – 200 m.

Berikutnya terdapat bentos, merupakan organisme hidup pada dasar perairan baik yang sesil (terikat atau melekat), merayap ataupun menggali lubang. Bentos banyak ditemukan hidup di pasir, lumpur, batuan atau karang mati. Terdapat tiga klasifikasi bentos berdasarkan ukurannya yaitu mikrofauna, meiofauna dan makrofauna.

Mikrofauna yaitu hewan dengan ukuran lebih kecil dari 0,1 mm, seperti bakteri, cilliata, amoeba, diatom dan flagellata. Meiofauna yaitu bentos dengan ukuran antara 0,1 mm hingga 1 mm, seperti nematoda, foraminifera, dan cepapoda.

Makrofauna yaitu bentos dengan ukuran lebih dari 1 mm, seperti cacing, sponge, dan crustacea.

Monitoring kondisi abiotik dan biotik air (pengambilan sampel plankton) dapat dilakukan dengan penentuan lokasi dan perencanaan mekanisme pengambilan sampel pada ekosistem akuatik lentik yang mencakup kawasan di dekat pemanfaatan sektor budidaya perikanan tawar, sektor pertanian (sawah atau perkebunan), sektor pariwisata, dan sektor domestik. Kemudian dilanjut dengan pengambilan sampel air dengan ember kapasitas 10 liter sesuai tingkat kekeruhan perairan dan dilanjut dengan evaluasi kondisi abiotiknya menggunakan peralatan yang ada. Setelah itu, air dituang ke dalam jarring plankton tanpa adanya error dan air dibawa ke dalam flakon pada ujung jaring plankton. Bila jarak waktu pengambilan sampel dengan pengamatan melebihi 24 jam, air yang dimasukkan ke dalam flakon tidak boleh terlalu penuh karena perlu adanya penambahan 1 cc

(17)

17

formalin pekat. Sebaliknya, bila jarak waktu pengambilan sampel dengan pengamatan tidak melebihi 24 jam, fiksatifnya menggunakan lugol. Flakon tersebut kemudian diberi label yang berisikan data penting untuk penelitian ilmiah.

Berdasarkan pengukuran parameter perairan yang telah dilakukan dengan menggunakan horiba meliputi suhu, pH, DO (Dissolved Oxygen atau oksigen terlarut), TDS (Total Dissolved Solid), dan kekeruhan (turbiditas). Dari hasil yang didapat dalam pengukuran seperti yang terlampir pada Tabel 5, dapat diketahui bahwa keseluruhan titik memiliki suhu air sekitar 28ºC, pH air sekitar 4, DO berkisar 2-8 mg/L, kekeruhan berkisar 65-98 NTU, dan TDS yang berkisar 0,2-0,3 g/L.

Pengamatan sampel plankton dapat dilakukan dengan metode SRCC (Sedgewick Rafter Counting Chamber). Metode ini dimulai dengan pengukuran volume flakon terlebih dahulu. Kemudian ambil air sampel dari suatu flakon dan aduk terlebih dahulu sebelum dituang ke SRCC dengan secara perlahan beberapa kali membalikkan botol flakon supaya distribusi homogen dapat terjadi pada kandungan organisme dalam botol flakon. Pengamatan mikroskopis dilakukan dengan memanfaatkan pipet tetes air sampel yang telah diawetkan untuk kemudian diteteskan air dengan volume tepat 1 cc atau 1 cm3 ke dalam ruang SRCC. Supaya tidak terjadi peluapan air dan mengkontaminasi air, maka SRCC ditutup menggunakan gelas obyek. Perhitungan setiap individu spesiesnya dilakukan dengan total strip counting, yaitu seluruh pandangan dieksplorasi dengan lensa objektif dan semua spesies yang dijumpai dihitung. Selanjutnya dapat mengidentifikasi setiap jenis planton yang dijumpai dan melakukan perhitungan sesuai dengan kelompok gambar yang sekiranya mirip dengan yang dijumpai.

1. Seorang praktikan telah mengamati spesies plankton A pada 1 cc Sedgwick Rafter Counting Cell sebanyak 9 kali dengan hasil perhitungan yaitu 43, 55, 28, 40, 51, 61, 43, 41, 39. Jika dia menggunakan botol flakon berukuran 18 cc yang merupakan sampel dari air tersaring sejumlah 15 Liter, berapakah densitas planktonnya?

Jawaban:

𝑎 =43+ 55+ 28+ 40+ 51+ 61+ 43+ 41+ 39

9 = 44,56

𝑁 =𝑎 × 𝑐

𝐿 = 44,56 × 18

15 =802,08

15 = 53,472 Densitasnya = 53,472 × 1000 (1 cc) = 53.472

(18)

18

Dapat disimpulkan bahwa densitas plankton A adalah 53.472.

2. Seorang praktikan telah mengamati spesies plankton B pada 1,5 cc Sedgwick Rafter Counting Cell sebanyak 8 kali dengan hasil perhitungan yaitu 39, 51, 47, 47, 60, 29, 33, 40. Jika dia menggunakan botol flakon berukuran 18 cc yang merupakan sampel dari air tersaring sejumlah 10 Liter, berapakah densitas planktonnya?

Jawaban:

𝑎 =39 + 51 + 47 + 47 + 60 + 29 + 33 + 40

10 = 40,75

𝑁 =𝑎 × 𝑐

𝐿 = 40,75 × 18

10 =733,5

10 = 73,35 Densitasnya = 73,35 × 1500 (1,5 cc) = 110.025

Dapat disimpulkan bahwa densitas plankton B adalah 110.025.

3. Seorang praktikan telah mengamati spesies plankton E pada 2 cc Sedgwick Rafter Counting Cell sebanyak 15 kali dengan hasil perhitungan yaitu 48, 31, 15, 25, 23, 43, 55, 28, 40, 51, 61, 43, 32, 41, 39. Jika dia menggunakan botol flakon berukuran 15 cc yang merupakan sampel dari air tersaring sejumlah 20 Liter, berapakah densitas planktonnya?

Jawaban:

𝑎 =48+31+ 15+ 25+ 23+ 43+ 55+ 28+ 40+51+ 61+ 43+32+ 41+ 39

20 = 38,33

𝑁 =𝑎 × 𝑐

𝐿 = 38,33 × 15

20 =574,95

20 = 28,474 Densitasnya = 28,474 × 2000 (2 cc) = 56.948

Dapat disimpulkan bahwa densitas plankton E adalah 56.948.

Perhitungan densitas plankton dapat dilakukan dengan melakukan perhitungan cacah plankton per liter yang menggunakan rumus: 𝑁 =𝑎 ×𝑐

𝐿 , atau 𝑁 =(𝑎 ×1000) 𝑐 𝐿

apabila cacah plankton per m3 air. Dengan keterangan berupa cacah plankton per liter air (𝑁), rata-rata cacah plankton dari semua hitungan pada Sedgwick Rafter Counting Cell kapasitas 1 cc (𝑎), volume botol flakon (𝑐), dan volume air penyaringan ke botol flakon dalam liter (𝐿).

Jasa lingkungan dalam ekosistem akuatik berkaitan erat dengan ragam komponen biotik dan abiotik yang saling berinteraksi didalamnya. Pemanfaatan jasa lingkungan dapat terlaksana apabila komponen ekosistemnya dipandang sebagai satu kesatuan, dimana terdapat hubungan yang saling ketergantungan pada

(19)

19

komponen didalamnya. Seperti pada ekosistem akuatik yang menjadi penyedia tempat untuk kelangsungan rantai makanan dan ruang bagi spesies. Selain itu juga mempengaruhi dan menunjang kesejahteraan serta memiliki manfaat tersendiri bagi manusia. Jasa lingkungan yang dihasilkan ekosistem akuatik berupa sumber daya air, keanekaragaman hayati flora dan fauna, penambat karbon, rekreasi wisata, dan penelitian untuk pengembangan ilmu pengetahuan.

IV. KESIMPULAN

Ekosistem akuatik terbagi menjadi 2 macam perairan yaitu perairan lotik (mengalir) dan perairan lentik (menggenang). Dalam perairan akuatik tergenang (lentik), dapat dilakukan evaluasi dengan menganalisis sesuai sifat fisika, kimia, dan biologisnya. Selanjutnya dapat melakukan metode sampling plankton dengan metode SRCC (Sedgewick Rafter Counting Chamber) yang dapat diambil dari ekosistem akuatik tergenang dengan teknik pengambilan sampel air yang sesuai dengan SNI 6989.57:2008 tentang air dan air limbah bagian 57: Metode Pengambilan Contoh Air Permukaan ataupun dengan metode yang lebih sederhana.

(20)

20 V. DAFTAR PUSTAKA

Arista, K., A. Wahid, dan M. Ihsan. 2015. Faktor Penyebab Penurunan Populasi Maleo Senkawor di Desa Sausu Piore Kabupaten Parigi Moutong Sulawesi Tengah. Jurnal Warta Rimba. 3(2): 1-8.

Aznar-Sánchez, J.A., J.F. Velasco-Muñoz, L.J. Belmonte-Ureña, dan F. Manzano- Agugliaro. 2019. The Worldwide Research Trends on Water Ecosystem

Services. Ecological Indicators. 99: 310-323.

https://doi.org/10.1016/j.ecolind.2018.12.045

Barus, T.A. 2020. Limnologi. Makassar: Nas Media Pustaka.

Desmawati, I., A. Ameivia, dan L.B. Ardanyanti. 2020. Studi Pendahuluan Kelimpahan Plankton di Perairan Darat Surabaya dan Malang. Rekayasa. 13(1):

61-66. https://doi.org/10.21107/rekayasa.v13i1.5918

Lino, A., C. Fonseca, D. Rojas, E. Fischer, and M.J.R. Pereira. 2019. A Meta- Analysis of The Effects of Habitat Loss and Fragmentation on Genetic Diversity

in Mammals. Mammalian Biology. 94: 69-76.

https://doi.org/10.1016/j.mambio.2018.09.006

Mainassy, M.C. 2017. Pengaruh Parameter Fisika dan Kimia Terhadap Kehadiran Ikan Lompa (Thryssa baelama Forsskål) di Perairan Pantai Apui Kabupaten Maluku Tengah. Jurnal Perikanan UGM. 19(2): 61-66.

Mardatila, S., Izmiarti, dan J. Nurdin. 2016. Kepadatan, Keanekaragaman dan Pola Distribusi Gastropoda di Danau Diatas, Kabupaten Solok, Provinsi Sumatera Barat. Biocelebes. 10(2): 25-31.

Maryono, A. 2020. Pengelolaan kawasan sempadan sungai. Yogyakarta: Ugm Press.

Rahmasari, T., T. Purnomo, dan R. Ambarwati. 2015. Keanekaragaman dan Kelimpahan Gastropoda di Pantai Selatan Kabupaten Pamekasan, Madura.

Biosaintifika: Journal of Biology & Biology Education. 7(1): 48-54.

https://doi.org/10.15294/biosaintifika.v7i1.3535

Rivera‐Ortíz, F.A., R. Aguilar, M.D.C. Arizmendi, M. Quesada, and K. Oyama.

2015. Habitat Fragmentation and Genetic Variability of Tetrapod Populations.

Animal Conservation. 18(3): 249-258. https://doi.org/10.1111/acv.12165 Romero, K.C., J.P.D. Río, K.C. Villarreal, J.C.C. Anillo, Z.P. Zarate, L.C.

Gutierrez, O.L. Franco, and J.W.A. Valencia. 2017. Lentic Water Quality Characterization Using Macroinvertebrates as Bioindicators: An adapted

(21)

21

BMWP Index. Ecological Indicators. 72: 53-66.

http://dx.doi.org/10.1016/j.ecolind.2016.07.023

Setyawan, A., T. Gunawan, S. Dibyosaputro, dan S.R. Giyarsih. 2018. Jasa dan Etika Lingkungan Untuk Pengendalian Air dan Banjir Sebagai Dasar Pengelolaan DAS Serang. Jurnal Pembangunan Wilayah dan Kota. 14(4): 241- 251. https://doi.org/10.14710/pwk.v14i4.21096

Sumarto, S. 2012. Biologi Konservasi. Bandung: CV Patra Media Grafindo.

Supratman, O., A.M. Farhaby, dan J. Ferizal. 2018. Kelimpahan dan Keanekaragaman Gastropoda Pada Zona Intertidal di Pulau Bangka Bagian Timur. Jurnal Enggano. 3(1): 10-21.

Ulrich, U., G. Hörmann, M. Unger, M. Pfannerstill, F. Steinmann, and N. Fohrer.

2018. Lentic Small Water Bodies: Variability of Pesticide Transport and Transformation Patterns. Science of The Total Environment. 618: 26-38.

https://doi.org/10.1016/j.scitotenv.2017.11.032

Wang, C., G. Mao, K. Liao, W. Ben, M. Qiao, Y. Bai, and J. Qu. 2021. Machine Learning Approach Identifies Water Sample Source Based on Microbial

Abundance. Water Research. 199: 1-10.

https://doi.org/10.1016/j.watres.2021.117185

Widyasari, K., L. Hakim, dan B. Yanuwiadi. 2013. Kajian Jenis-Jenis Burung di Desa Ngadas Sebagai Dasar Perencanaan Jalur Pengamatan Burung (Birdwatching). Journal of Indonesian Tourism and Development Studies. 1(3):

108-114.

Withaningsih, S., Parikesit, J. Iskandar, dan F. Hadi. 2017. Studi Ekologi Lanskap Di Sekitar Sarang Burung Pemangsa Di KawasanTelaga Warna. Jurnal Pro- Life. 4(2): 347-363. https://doi.org/10.33541/jpvol6Iss2pp102

(22)

22 VI. LAMPIRAN

ACARA VIII: FRAGMENTASI HABITAT

Gambar 1. Pola Fragmentasi Monumen 45 Banjarsari Solo

Dokumentasi Praktikum

(23)

23

(24)

24

ACARA IX: PERKIRAAN BESARNYA POPULASI GASTROPODA DENGAN METODE JARAK PADA AREA YANG LUAS DI EKOSISTEM SUNGAI

Gambar 1. Pola Jarak Gastropoda Stasiun 1 Sungai KHDTK

Tabel 1. Jarak Gatropoda Terhadap Gastropoda Lain Terdekat

r1 (cm) r2 (cm) r3 (cm)

U1 U2 U3 U4 U5 U1 U2 U3 U4 U5 U1 U2 U3 U4 U5 10 17 15 12 14 3 1 3 2 3 4 3 5 5 18

13,6 2,4 7

Tabel 2. Jarak Titik (Pasak) Terhadap Gastropoda Terdekat

x1 (cm) x2 (cm) x3 (cm)

U1 U2 U3 U4 U5 U1 U2 U3 U4 U5 U1 U2 U3 U4 U5 15 20 8 17 6 2 1 2 2 4 5 7 13 7 15

13,2 2,2 9,4

(25)

25

Perhitungan Indeks Hopkins ℎ = Σ(𝑥2)

Σ(𝑟2)

ℎ =((13,2)2+ (2,2)2+ (9,4)2)

((13,6)2+ (2,4)2+ (7)2) =174,24 + 4,84 + 88,36

184,96 + 5,76 + 49 = 267,44

239,72= 1,11 𝐼𝐻 = ℎ

1 + ℎ 𝐼𝐻 = 1,11

1 + 1,11= 1,11

2,11= 0,52

Nilai IH masuk ke dalam range 0,4 – 0,69 yang artinya pola distribusi acak

Perkiraan Densitas Gastropoda 𝐷𝑡 = 𝑛

𝜋 𝑥 Σ(𝑥2)

𝐷𝑡 = 3

𝜋 𝑥 267,44 x 10−4= 35,72 𝐷𝑡 = 𝑛

𝜋 𝑥 Σ(𝑟2)

𝐷𝑡 = 3

𝜋 𝑥 239,72 x 10−4= 39,85 𝐷𝑑 = √𝐷𝑡 + 𝐷𝑔

𝐷𝑑 = √35,72 + 39,85 = 8,69

Densitas komunitas gastropoda adalah 8,69/m2 𝑉𝑎𝑟𝑖𝑎𝑛𝑠𝑖 = ( 1

𝐷𝑑)

2

𝑛

𝑉𝑎𝑟𝑖𝑎𝑛𝑠𝑖 = ( 1

8,69)

2

3 = 0,004 Variansi sebesar 0,004

𝑆𝐸 = √𝑉𝑎𝑟𝑖𝑎𝑛𝑠𝑖 𝑛

𝑆𝐸 = √0,004

3 = 0,036 Standar Error sebesar 0,036

(26)

26

Tabel 3. Hasil Pengukuran Parameter Perairan Horiba

Substasiun Suhu pH DO Kekeruhan TDS 1 26,41 ºC 4,43 10,14 mg/L 54,2 NTU 0,226 g/L 2 26,00 ºC 4,54 8,44 mg/L 53,3 NTU 0,174 g/L 3 25,93 ºC 4,71 8,27 mg/L 51,8 NTU 0,171 g/L

Tabel 4. Hasil Pengukuran Environmental Meter

Substasiun Suhu Kecepatan Angin Kelembaban

1 31,39 ºC 0,5 m/s 73,8 %rh

2 31,2 ºC 0 m/s 75,0 %rh

3 29,9 ºC 0,1 m/s 76,2 %rh

Rata-rata 30,83 ºC 0,2 m/s 75 %rh

Dokumentasi Praktikum

(27)

27

ACARA X: KAJIAN EKOLOGIS EKOSISTEM AKUATIK Tabel 5. Hasil Pengukuran Parameter Perairan Horiba

Titik Suhu pH DO Kekeruhan TDS 1 28,76 ºC 4,12 2,89 mg/L 66,2 NTU 0,364 g/L 2 28,77 ºC 4,20 2,83 mg/L 65,0 NTU 0,363 g/L 3 28,65 ºC 4,43 8,03 mg/L 98,1 NTU 0,216 g/L

Dokumentasi Praktikum

Gambar

Gambar 1. Pola Fragmentasi Monumen 45 Banjarsari Solo
Gambar 1. Pola Jarak Gastropoda Stasiun 1 Sungai KHDTK UNS
Gambar 1. Pola Fragmentasi Monumen 45 Banjarsari Solo
Gambar 1. Pola Jarak Gastropoda Stasiun 1 Sungai KHDTK
+4

Referensi

Dokumen terkait

Ekologi merak hijau jawa ( Pavo muticus muticus ) Linnaeus 1758, pada beberapa tipe habitat di ujung Timur penyebarannya, di taman nasional Alas Purwo dan Baluran merupakan

Ekologi merak hijau jawa ( Pavo muticus muticus ) Linnaeus 1758, pada beberapa tipe habitat di ujung Timur penyebarannya, di taman nasional Alas Purwo dan Baluran merupakan

Istilah kualitas habitat menunjukkan kemampuan lingkungan untuk memberikan kondisi khusus tepat untuk individu dan populasi secara terus menerus. Kualitas

- Menjelaskan kisaran toleransi dan faktor pembatas, ektotermi dan endotermi, indikator ekologi/bioindikator) - Mendeskrisikan konsep habitat, mikrohabitat, dan relung ekologi

Kesimpulan penelitian ini adalah preferensi habitat kepodang didominasi oleh pohon dengan struktur kanopi terbuka dan kepodang dapat menjadi sumber pembelajaran ekologi dalam aspek

tugas laporan praktikum ekologi

Makalah ini membahas tentang studi kasus dan aplikasi ekologi

Laporan ini membahas survei sanitasi tempat-tempat umum sebagai bagian dari praktikum mata kuliah Sanitasi Pemukiman di Poltekkes Kemenkes