• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kurva Spesies dan Faktor Pembatas Lingkungan

N/A
N/A
adorelaze

Academic year: 2025

Membagikan " Kurva Spesies dan Faktor Pembatas Lingkungan"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PRAKTIKUM III EKOLOGI UMUM ACARA VI & VII

DISUSUN OLEH:

NAMA : CECILIANA CHARSYAH

NIM : M0821017

KELOMPOK : 2

ASISTEN : DESTA EKA FAHRUROZI

PROGRAM STUDI ILMU LINGKUNGAN

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA 2022

(2)

2

ACARA VI: KURVA SPESIES DAN FAKTOR PEMBATAS LINGKUNGAN I. TUJUAN

1. Menentukan ukuran dan jumlah plot analisis vegetasi menggunakan pendekatan ilmiah, menyusun kurva spesies, dan melakukan analisis sederhana antara hubungan faktor lingkungan terhadap spesies.

II. KAJIAN PUSTAKA

Ekosistem merupakan kesatuan utuh komponen lingkungan hidup yang saling mempengaruhi satu sama lain atau terdapat interaksi timbal balik. Ekosistem dicirikan sebagai rangkaian dinamis dalam fungsi dan proses mempertahankan keseimbangan wilayah. Fungsi dari ekosistem sendiri yaitu untuk menopang produktivitas dan layanan penyediaan utama bagi manusia (Tebbett et al, 2021).

Pada dasarnya, ekosistem terbagi menjadi dua macam yaitu ekosistem akuatik (air) dan ekosistem terestrial (darat atau tanah). Ekosistem terestrial merupakan ekosistem dengan sebagian besar lingkungan fisiknya berupa daratan, baik di atas permukaan tanah maupun di dalam tanah. Ekosistem terestrial ini dapat terbagi menjadi beberapa macam berdasarkan karakteristiknya, seperti ekosistem taiga, savana, padang rumput, tundra, hutan gugur, hutan hujan tropis, dan gurun (Widodo dkk, 2021). Dalam suatu ekosistem tentunya terdapat keanekaragaman yang dimiliki, seperti organisme-organisme biotiknya, baik hewan maupun tumbuhan.

Keanekaragaman jenis tumbuhan pada suatu ekosistem dapat menjadi suatu keunikan ekosistemnya. Selain itu, jenis tumbuhan yang telah diidentifikasi juga dapat dimanfaatkan seperti sebagai sumber energi alternatif, bahan pangan, tumbuhan obat, dan lain sebagainya (Sajria dkk, 2019).

Komunitas tumbuhan atau vegetasi merupakan kumpulan kelompok tumbuhan yang berinteraksi antar sesama ataupun dengan disekitarnya. Dalam analisis vegetasi dengan petak contoh atau sampel, terdapat tahap awal yang disebut dengan kurva spesies area. Kurva spesies area berguna untuk mendapat luas minimal petak contoh yang sekiranya representatif spesies vegetasi habitat tertentu (Anaputra dkk, 2015). Sehingga dapat menunjukkan tingkat keanekaragaman tumbuhan pada suatu kawasan atau ekosistem yang dianalisis (Sutomo, 2015). Menganalisis dan mempelajari vegetasi berguna menjadi dasar rencana pengelolaan konservasi dan pemaanfaatan berkelanjutan (Dibaba et al, 2014).

(3)

3 III. PEMBAHASAN

Ekosistem terestrial merupakan ekosistem dengan sebagian besar lingkungan fisiknya berupa daratan, baik di atas permukaan tanah maupun di dalam tanah.

Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi ekosistem terestrial, yaitu faktor klimat, geografis, dan edafik. Faktor klimat merupakan faktor iklim yang dapat mempengaruhi pola penyebaran flora dan fauna yang meliputi cahaya matahari, temperatur atau suhu, kelembapan udara, dan arah serta kecepatan angin.

Cahaya matahari berpengaruh terhadap sistem-sistem di dunia. Bagi tumbuhan, cahaya matahari merupakan produsen fotosintesis, penyedia energi, serta sebagai pembatas distribusi spesies dalam fotosintesis. Aspek cahaya atau sinar matahari yang penting adalah intensitas cahaya, kualitas cahaya, dan lama penyinaran.

Intensitas cahaya matahari (lux, watt) memberi pengaruh tehadap kelembapan udara dan peningkatan suhu udara. Perbedaan tekanan udara disebabkan oleh adanya perbedaan pada suhu, sehingga udara mengalir menciptakan angin. Lama penyinaran memberi pengaruh terhadap aktivitas makhluk hidup, baik terhadap manusia, hewan, dan tumbuhan. Lama penyinaran matahari memberikan peluang terhadap tumbuhan untuk dapat memanfaatkannya dalam pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan tersebut. Pengukuran intensitas cahaya dapat dilakukan menggunakan luxmeter, sedangkan untuk lama penyinaran dapat menggunakan alat campble stroke. Temperatur atau suhu merupakan derajat dingin atau panasnya suatu zat dan umumnya dinyatakan dalam Celcius. Suhu berpengaruh terhadap proses biologis dan kemampuan sebagian besar organisme mengatur suhu tubuh secara tepat dan benar. Selain itu juga berpengaruh pada kehidupan makhluk hidup, baik hewan dan tumbuhan, dikarenakan setiap spesies tentunya terdapat syarat suhu lingkungan hidup sekitarnya yang ideal dan tingkat tolenansi kondisi suhu yang beragam antara satu dengan yang lainnya. Pada tumbuhan, suhu berpengaruh terhadap seluruh proses pertumbuhannya, seperti pada fotosintesus, respirasi, transpirasi, perkecambahan, sintesis protein, dan translokasi. Pengukuran suhu dapat dilakukan dengan menggunakan alat termometer (C, F, K). Kelembapan udara merupakan kandungan jumlah uap air dalam massa udara. Jumlah uap air ini dipengaruhi oleh tingkat ketersedian air dan sumber uap, tekanan udara, suhu, dan pergerakan angin. Kelembapan udara berpengaruh terhadap produktifitas, perkembangan, dan penentu adaptasi makhluk hidup dengan lingkungannya. Selain

(4)

4

itu, juga berpengaruh terhadap pola distribusi tumbuhan, adaptasi setiap spesies tumbuhan berbeda-beda, ada yang dapat bertahan hidup di wilayah kering dan ada yang dapat bertahan hidup di wilayah dengan kadar uap air tinggi. Pengukuran kelembapan udara dapat dilakukan dengan menggunakan alat hygrometer. Arah dan keceparan angin berpengaruh terhadap keseimbangan panas organisme dan lingkungannya. Angin merupakan media pemindahan uap air, sehingga terjadi penyebaran uap air di atmosfer ke berbagai wilayah dan secara alami kebutuhan air oleh organisme dapat terpenuhi. Kecepatan angin sendiri dipengaruhi oleh ketinggian wilayah, letak geografis, dan gradien tekanan horizontal. Penentuan arah angin dapat dilakukan dengan menggunakan kerucut ringat, sedangkan kecepatan angin dengan menggunakan alat anemometer (m/s atau km/jam). Faktor geografis meliputi ketinggian dan kemiringan lahan atau tempat. Variasi ketinggian berpengaruh terhadap perubahan struktur dan penyebaran tumbuhan dan hewan.

Pengukuran ketinggian dapat dilakukan dengan menggunakan altimeter (mdpl) ataupun GPS (Global Positioning System). Kemiringan dapat dibagi menjadi beberapa tingkatan, yaitu datar (0-1), landai (2-3º), agak miring (3-7º), miring (8- 11º), agak curam (12-15º), curam (16-25º), sangat miring (26-35º), dan tebing (>36º). Kemiringan lahan berpengaruh terhadap tingkat erosi dan kecepatan aliran permukaan. Pengukuran kemiringan tanah dapat dilakukan dengan menggunakan alat hagameter, busur derajat atau klinometer. Faktor edafik merupakan faktor dari kondisi tanah, kandungan air dan udara di dalam tanah meliputi temperatur atau suhu dan keasaman tanah. Kondisi tanah menjadi pengaruh penyebaran makhluk hidup terutama tumbuhan, karena kadar unsur-unsur kimia ataupun unsur hara serta kesuburannya yang dibutuhkan pada pertumbuhan flora. Temperatur atau suhu tanah berperan sebagai penentu kelajuan penguraian serasah (humifikasi dan mineralisasi), aktivitas flora dan fauna, dan penyerapan nutrisi. Keasaman atau pH tanah berpengaruh terhadap aktivitas organisme pengurai dalam tanah dan penyerapan zat hara tanah oleh tumbuhan.

Kurva spesies area merupakan tahap awal dalam analisis vegetasi dengan petak contoh. Kurva ini dimanfaatkan untuk mengetahui dan mendapat luas minimal dari petak contoh yang sekiranya mewakili suatu spesies vegetasi pada suatu habitat.

Luas minimal atau minimum itu sendiri merupakan luas tertentu daerah vegetasi yang menampilkan karakteristik atau keunikan dari keseluruhan vegetasi.

Keanekaragaman spesies yang terdapat pada suatu habitat vegetasinya

(5)

5

mempengaruhi luas dari petak contoh yang digunakan, bila keanekaragaman spesiesnya tinggi maka dapat semakin luas kurva spesies areanya. Bentuk dari luas minimum ini sendiri dapat berupa empat persegi panjang, bujur sangkar, dan lingkaran. Luas petak contoh kemudian dapat menjadi tolak ukur dalam analisis vegetasi dengan metode kuadrat. Keanekaragaman spesies digambarkan dalam bentuk grafik, berupa hubungan jumlah spesies dan ukuran kuadrat. Umumnya pola peningkatan jumlah spesies relatif tajam pada ukuran kuadrat kecil dan kemudian mendatar sesuai dengan peningkatan ukuran kuadratnya (lebih besar). Dengan kata lain, pola kurva spesies area dipengaruhi oleh distribusi individu-individu semua spesies pada ekosistem.

IV. KESIMPULAN

Penyusunan kurva spesies area berguna untuk mengetahui dan mendapatkan luas minimum dari petak contoh yang sekiranya mewakili dan menampilkan karakteristik atau keunikan dari keseluruhan suatu vegetasi pada ekosistem. Luas plot yang digunakan dalam analisis vegetasi dipengaruhi oleh keanekaragaman spesies yang terdapat pada suatu habitat vegetasinya, bila keanekaragaman spesiesnya tinggi maka semakin luas pula kurva spesies areanya. Hubungan antara organisme hidup dengan faktor lingkungan disekitarnya dapat membentuk faktor pembatas. Pada ekosistem terestrial, faktor tersebut berupa faktor klimat, geografis, dan edafik. Setiap organisme memiliki faktor pembatas yang berbeda-beda dan bervariasi antara satu dan yang lainnya.

(6)

6 ACARA VII: METODE KUADRAT

I. TUJUAN

1. Menerapkan teknik sampling metode kuadrat dalam menganalisis komunitas tumbuhan (vegetasi) yang meliputi struktur dan komposisi pada spesies kelompok semai, pancang, tiang, dan pohon berdasarkan kondisi lingkungan.

II. KAJIAN PUSTAKA

Vegetasi merupakan kumpulan berbagai jenis tumbuhan yang berada dan hidup berinteraksi di suatu tempat. Keberadaan vegetasi dalam ekosistem menjadi peran penting demi menjaga kelestarian ekosistem itu sendiri. Selain itu, dengan keberadaan vegetasi pada suatu kawasan lingkungan dapat membentuk karakteristik dari lingkungan dalam mewujudkan fungsi yang positif dan lingkungan yang lebih baik (Taradipha dkk, 2018). Sebagai salah satu komponen dalam ekosistem, vegetasi memiliki peran penting dalam perubahan iklim, kondisi permukaan tanah, dan siklus air terestrialnya (Li et al, 2017). Vegetasi daratan juga memiliki peran penting dalam interaksi antara darat dengan atmosfer, sehingga berpengaruh terhadap sistem iklim bumi. Namun, aktivitas vegetasi tersebut dapat dipengaruhi oleh faktor alam seperti adanya perubahan iklim dan meningkatnya 𝐶𝑂2 atmosfer serta kegiatan dari manusia itu sendiri (Pei et al, 2018).

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi, meliputi hewan dan tumbuhan. Keanekaragaman spesies tumbuhan dapat terlihat dan tergambar pada hutan-hutan yang ada di seluruh Indonesia. Salah satu cara untuk dapat mengetahui komposisi spesies, dominansi, distribusi, dan asosiasi antar spesies penyusun vegetasi adalah dengan melakukan analisis vegetasi (Tiurmasari dkk, 2016). Selain itu, struktur dan komposisi spesies suatu komunitas juga dapat diketahui secara kuantitatif, dimana hubungan antar spesies maupun jumlah individu tiap spesies dapat mempengaruhi struktur suatu komunitas (Madjid dkk, 2013). Analisis kelimpahan suatu vegetasi membutuhkan parameter vegetasi secara kuantitatif berupa densitas atau kepadatan (K), frekuensi (F), dominansi, dan Indeks Nilai Penting (INP) (Ponisri dkk, 2021).

III. PEMBAHASAN

(7)

7

Metode kuadrat merupakan salah satu metode analisis vegetasi dengan luasan petak contoh dan pencuplikan serta ukuran luas yang digunakan adalah satuan kuadrat seperti 𝑚2, 𝑐𝑚2, dan lain sebagainya. Prinsip dasar dari metode kuadrat adalah dilakukannya pembuatan suatu area luasan tertentu pada suatu ekosistem vegetasi yang kemudian dilakukan pengukuran, perhitungan, dan pengenalan atau identifikasi individu-individu dalam area tersebut. Langkah awal dalam metode kuadrat adalah kurva spesies area yang kemudian memperoleh luas minimum area dari petak contoh yang diamati dan mencerminkan keadaan yang sesuai dengan komposisi tumbuhan yang sebenarnya, sehingga analisis vegetasinya efisien. Maka kemudian dapat menarik contoh tersebut. Terdapat empat sifat atau hal yang menjadi pertimbangan dan perhatian dalam pengambilan contoh kuadrat yaitu ukuran, bentuk, jumlah, dan cara meletakkan petak di lapangan. Pada dasarnya, bentuk petak contoh yang dapat digunakan berupa bentuk empat persegi panjang, lingkaran, dan bujur sangkar. Bila analisis yang dilakukan tertuju pada vegetasi herba berkelompok (clumped), maka penggunaan bentuk lingkaran dapat lebih efisien sebab dapat cepat dalam memperluas ukuran dan pada titik pusat lingkarannya terdapat kaitan seutas tali. Sedangkan bila analisis tertuju pada vegetasi herba rendah, penggunaan bentuk empat persegi panjang dapat lebih efisien dibandingkan bentuk bujur sangkar dengan ukuran sama, karena kelompok tumbuhan rata-rata tumbuh menjadi bentuk lingkaran, sehingga jumlah spesies yang diamati dapat lebih banyak. Namun, kekurangan yang dimiliki adalah perbandingan panjang tepi bentuk empat persegi panjang pada luasnya lebih besar daripada bentuk bujur sangkar. Bentuk lingkaran memiliki keuntungan lebih daripada bentuk geometris lainnya dan lebih efisien pada vegerasi berkelompok (clumped). Selain pembagian berdasarkan bentuk, metode kuadrat dapat terbagi menjadi liat quadrat, count/list count quadrat, cover quadrat, dan chart quadrat.

Berdasarkan tingkat pertumbuhannya dan perkembangannya, vegetasi dapat dikelompokkan menjadi semai (seedling), pancang (sapling), tiang (poles), dan pohon (tree). Semai (seedling) merupakan permudaan yang mulai dari kecambah hingga anakan yang memiliki tinggi kurang dari 1,5 m. Pancang (sapling) merupakan permudaan yang memiliki tinggi lebih dari 1,5 m hingga anakan atau pohon muda dengan diameter kurang dari 10 cm. Tiang (poles) merupakan permudaan pohon muda yang memiliki diameter antara kurang dari 10 cm hingga

(8)

8

kurang dari 20 cm. Pohon (tree) merupakan pohon yang memiliki diameter lebih dari 20 cm.

Dalam ekosistem, keseluruhan vegetasi umumnya berperan dalam mengaja keseimbangan lingkungan berupa keseimbangan oksigen dan karbon dioksida pada udara, perbaikan sifat fisik, kimia maupun biologis keadaan tanah. Vegetasi daratan juga berperan penting dalam interaksi antara darat dengan atmosfer, sehingga berpengaruh terhadap sistem iklim bumi. Selain itu, vegetasi juga ikut serta dalam membantu meminimalisir tingkat pencemaran udara.

Dalam analisis vegetasi tumbuhan juga dilakukan perhitungan dengan menggunakan beberapa rumus, antara lain rumus Frekuensi Mutlak (FM), Frekuensi Relatif (FR), Luas Area Penutupan Spesies, Dominansi Mutlak (DM), dan Dominansi Relatif (DF). Dari hasil perhitungan data pengamatan 5 plot seperti yang terlampir pada Tabel 2, menunjukkan bahwa dengan menggunakan rumus Frekuensi Mutlak (FM) = 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑙𝑜𝑡 𝑎𝑑𝑎𝑛𝑦𝑎 𝑠𝑝𝑒𝑠𝑖𝑒𝑠

𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑘𝑒𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ 𝑝𝑙𝑜𝑡 dan hasil tiap spesiesnya dijumlahkan akan mendapat total Frekuensi Mutlak keseluruhan spesies sebesar 4,2. Begitu pula dengan penggunaan rumus Frekuensi Relatif (FR) =

𝐹𝑟𝑒𝑘𝑢𝑒𝑛𝑠𝑖 𝑚𝑢𝑡𝑙𝑎𝑘 𝑠𝑝𝑒𝑠𝑖𝑒𝑠 𝑖

𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑓𝑟𝑒𝑘𝑢𝑒𝑛𝑠𝑖 𝑘𝑒𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑗𝑒𝑛𝑖𝑠× 100% dan hasil tiap spesiesnya dijumlahkan akan mendapat total Frekuensi Relatif keseluruhan spesies sebesar 100%. Penggunaan rumus Luas Area Penutupan Spesies = Persentase Penutup × Luas Minimum Petak mendapat total Luas Area Penutupan keseluruhan spesies sebesar 1101,25% 𝑚2. Penggunaan rumus Dominansi Mutlak (DM) =𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑙𝑢𝑎𝑠𝑎𝑛 𝑏𝑎𝑠𝑎𝑙 𝑎𝑟𝑒𝑎 𝑠𝑝𝑒𝑠𝑖𝑒𝑠 𝑖

𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑘𝑒𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ 𝑝𝑙𝑜𝑡

mendapatkan total Dominansi Mutlak keseluruhan spesies sebesar 2,2025. Dan penggunaan rumus Dominansi Relatif (DR) = 𝐷𝑜𝑚𝑖𝑛𝑎𝑠𝑖 𝑚𝑢𝑡𝑙𝑎𝑘 𝑠𝑝𝑒𝑠𝑖𝑒𝑠 𝑖

𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑑𝑜𝑚𝑖𝑛𝑎𝑠𝑖 𝑘𝑒𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ 𝑝𝑙𝑜𝑡× 100%

Mendapatkan total Dominansi Relatif keseluruhan spesies sebesar 100%.

IV. KESIMPULAN

Komunitas tumbuhan atau vegetasi merupakan kumpulan kelompok tumbuhan yang berinteraksi antar sesama ataupun dengan disekitarnya. Metode kuadrat merupakan salah satu metode analisis vegetasi dengan luasan petak contoh dan teknik sampling. Dalam pengambilan contoh kuadrat, terdapat empat sifat atau hal yang menjadi pertimbangan dan perhatian yaitu ukuran petak, bentuk petak, jumlah petak, dan cara meletakkan petak di lapangan. Vegetasi sendiri dapat

(9)

9

diklasifikasikan menjadi kelompok semai (seedling), pancang (sapling), tiang (poles), dan pohon (tree). Perbedaan diantara klasifikasi vegetasi tersebut terletak pada struktur tegakan dan komposisi berupa susunan dan jenisnya. Analisis kelimpahan suatu vegetasis sendiri membutuhkan parameter vegetasi secara kuantitatif berupa densitas atau kepadatan (K), frekuensi (F), dominansi, dan Indeks Nilai Penting (INP).

(10)

10 V. DAFTAR PUSTAKA

Anaputra, D., M.Miswan, dan R. Ramadhanil. 2015. Komposisi Jenis Tumbuhan Herba Di Areal Kampus Universitas Tadulako Palu. Biocelebes. 9(2): 26-34.

Dibaba, A., T. Soromessa, E. Keolbessa, and A. Tilahun. 2014. Diversity, Structure and Regeneration Status of the Woodland and Riverine Vegetation of Sire Beggo in Gololcha District, Eastern Ethiopia. Momona Ethiopian Journal of Science (MEJS). 6(1):70-96. https://doi.org/10.4314/mejs.v6i1.102416

Li, J., S. Peng, and Z. Li. 2017. Detecting and Attributing Vegetation Changes on China’s Loess Plateau. Agricultural and Forest Meteorology. 247 : 260-270.

http://dx.doi.org/10.1016/j.agrformet.2017.08.005

Madjid, N., Suaib, dan D. Boer. 2013. Analisis Vegetasi Tumbuhan Berkhasiat Obat di Sepanjang Aliran Sungai Wataro Desa Wabintingi Kecamatan Lohia Kabupaten Muna. Berkala Penelitian Agronomi. 2(2): 163-170.

Pei, F., C. Wu, X. Liu, X. Li, K. Yang, Y. Zhou, K. Wang, L. Xu, and G. Xia. 2018.

Monitoring The Vegetation Activity in China Using Vegetation Health Indices.

Agricultural and Forest Meteorology. 248: 215-227.

http://dx.doi.org/10.1016/j.agrformet.2017.10.001

Ponisri, F. Saeni, dan L.H. Nanlohy. 2021. Komposisi dan Pola Penyebaran Vegetasi Pada Tingkat Pohon di Areal Hutan Taman Wisata Alam Sorong.

AGROLOGIA. 10(2): 54-62.

Sajria, B. Toknok, dan Rukmi. 2019. Keanekaragaman Jenis Tumbuhan Obat Pada Kawasan Hutan Produksi Desa Malonas Kecamatan Dampelas Kabupaten Donggala. Jurnal Warta Rimba. 7(1): 17-22.

Sutomo. 2015. Komposisi Komunitas Tumbuhan Bawah di Alam Plot Permanen 1 Ha Gunung Pohon Cagar Alam Batukahu Bali. Jurnal Metamorfosa. 2(1): 41- 49.

Taradipha, M.R.R., S.B. Rushayati, dan N.F. Haneda. Karakteristik Lingkungan Terhadap Komunitas Serangga. Journal of Natural Resources and

Environmental Management. 9(2): 394-404.

http://dx.doi.org/10.29244/jpsl.9.2.394-404

Tebbett, S.B., R.A. Morais, C.H.R. Goatley, and D.R. Bellwood. 2021. Collapsing Ecosystem Functions on an Inshore Coral Reef. Journal of Environmental Management. 289: 1-11. https://doi.org/10.1016/j.jenvman.2021.112471

(11)

11

Tiurmasari, S., R. Hilmanto, dan S. Herwanti. 2016. Analisis Vegetasi dan Tingkat Kesejahteraan Masyarakat Pengelola Agroforestri di Desa Sumber Agung Kecamatan Kemiling Kota Bandar Lampung. Jurnal Sylva Lestari. 4(3): 71-82.

http://dx.doi.org/10.23960/jsl3471-82

Widodo, D., S. Kristianto, A. Susilawaty, R. Armus, M. Sari, M. Chaerul, S.N.A.D.

Damanik, E. Sitorus, I.M.E. Mohamad, A.S. Junaedi, dan F. Mastutie. 2021.

Ekologi dan Ilmu Lingkungan. Medan: Yayasan Kita Menulis.

(12)

12 VI. LAMPIRAN

Gambar 1. Kurva Spesies Area Acara VI dengan Microsoft Excel

Gambar 2. Perhitungan Acara VII dengan Microsoft Excel

(13)

13 Tabel 1. Data Kurva Kuadrat

Luas Kuadrat Jumlah Jenis Kumulatif

0 0

0,25 3

0,5 4

1 5

2 6

4 6

Gambar 3. Kurva Spesies Area

(14)

14

Tabel 2. Perhitungan Acara VII dengan Microsoft Excel

No Nama Spesies

Jumlah Plot Adanya

Spesies

Frekuensi Mutlak

(FM)

Frekuensi Relatif (FR)

%

Total Luasan

Area Penutupan

Spesies (%𝒎𝟐)

Dominansi Mutlak

(DM)

Dominansi Relatif (DF)

%

1 Spesies A 5 1 23,80952381 343,75 0,6875 31,21452894

2 Spesies B 2 0,4 9,523809524 18,75 0,0375 1,70261067

3 Spesies C 5 1 23,80952381 297,5 0,595 27,01475596

4 Spesies D 1 0,2 4,761904762 6,25 0,0125 0,56753689

5 Spesies E 4 0,8 19,04761905 306,25 0,6125 27,8093076

6 Spesies F 4 0,8 19,04761905 128,75 0,2575 11,69125993

TOTAL 4,2 100 1101,25 2,2025 100

• Frekuensi Mutlak (FM)

Frekuensi Mutlak (FM) = 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑙𝑜𝑡 𝑎𝑑𝑎𝑛𝑦𝑎 𝑠𝑝𝑒𝑠𝑖𝑒𝑠 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑘𝑒𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ 𝑝𝑙𝑜𝑡

FM Spesies A = 5

5 = 1 FM Spesies B = 2

5 = 0,4 FM Spesies C = 5

5 = 1 FM Spesies D = 1

5 = 0,2 FM Spesies E = 4

5 = 0,8 FM Spesies F = 4

5 = 0,8

• Frekuensi Relatif (FR)

Frekuensi Relatif (FR) = 𝐹𝑟𝑒𝑘𝑢𝑒𝑛𝑠𝑖 𝑚𝑢𝑡𝑙𝑎𝑘 𝑠𝑝𝑒𝑠𝑖𝑒𝑠 𝑖

𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑓𝑟𝑒𝑘𝑢𝑒𝑛𝑠𝑖 𝑘𝑒𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑗𝑒𝑛𝑖𝑠× 100%

FR Spesies A = 1

4,2× 100% = 23,80952381%

FR Spesies B = 0,4

4,2× 100% = 9,523809524%

(15)

15 FR Spesies C = 1

4,2× 100% = 23,80952381%

FR Spesies D = 0,2

4,2× 100% = 4,761904762%

FR Spesies E = 0,8

4,2× 100% = 19,04761905%

FR Spesies F = 0,8

4,2× 100% = 19,04761905%

• Total Luasan Area Penutupan Spesies

Total Luasan Area Penutupan Spesies = Persentase Penutup × Luas Minimum Petak Contoh

Luas Minimum Petak Contoh = 1𝑚2

Spesies A = (100% + 100% + 100% + 31,25% + 12,5%) × 1𝑚2

= 343,75% 𝑚2 = 3,4375 𝑚2

Spesies B = (0% + 6,25% + 0% + 12,5% + 0%) × 1𝑚2

= 18,75% 𝑚2 = 0,1875 𝑚2

Spesies C = (100% + 60% + 12,5% + 25% + 100%) × 1𝑚2

= 297,5% 𝑚2 = 2,975 𝑚2

Spesies D = (0% + 0% + 6,25% + 0% + 0%) × 1𝑚2

= 6,25% 𝑚2 = 0,0625 𝑚2

Spesies E = (0% + 75% + 87,5% + 81,25% + 62,5%) × 1𝑚2

= 306,25% 𝑚2 = 3,0625 𝑚2

Spesies F = (12,5% + 25% + 60% + 31,25% + 0%) × 1𝑚2

= 128,75% 𝑚2 = 1,2875 𝑚2

• Dominansi Mutlak (DM)

Dominansi Mutlak (DM) =𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑙𝑢𝑎𝑠𝑎𝑛 𝑏𝑎𝑠𝑎𝑙 𝑎𝑟𝑒𝑎 𝑠𝑝𝑒𝑠𝑖𝑒𝑠 𝑖 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑘𝑒𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ 𝑝𝑙𝑜𝑡

DM Spesies A = 343,75%

500% = 0,6875 DM Spesies B = 18,75%

500% = 0,0375 DM Spesies C = 297,5%

500% = 0,595 DM Spesies D = 6,25%

500%= 0,0125 DM Spesies E = 306,25%

500% = 0,6125

(16)

16 DM Spesies F = 128,75%

500% = 0,2575

• Dominansi Relatif (DR)

Dominansi Relatif (DR) = 𝐷𝑜𝑚𝑖𝑛𝑎𝑠𝑖 𝑚𝑢𝑡𝑙𝑎𝑘 𝑠𝑝𝑒𝑠𝑖𝑒𝑠 𝑖

𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑑𝑜𝑚𝑖𝑛𝑎𝑠𝑖 𝑘𝑒𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ 𝑝𝑙𝑜𝑡× 100%

DR Spesies A = 0,6875

2,2025× 100% = 31,21452894%

DR Spesies B = 0,0375

2,2025× 100% = 1,70261067%

DR Spesies C = 0,595

2,2025× 100% = 27,01475596%

DR Spesies D = 0,0125

2,2025× 100% = 0,56753689%

DR Spesies E = 0,6125

2,2025× 100% = 27,8093076%

DR Spesies F = 0,2575

2,2025× 100% = 11,69125993%

(17)

17

Tabel 3. Kurva Spesies Halaman Benteng Vastenburg Kelompok 1 Lapangan Nomor plot

pantau

Luas plot kuadrat (m2)

Jumlah jenis tumbuhan semai

Frekuensi tiap jenis

Pertambahan jenis (%)

1 0,5 x 0,5

Cinderella 3 100%

Chacruna 4 100%

Geonoma 1 100%

2 1 x 1

Cinderella 15 500%

Rumput israel 1 100%

Kucing galak 1 100%

Kelor 2 100%

Nona 3 100%

Tumpangan 2 100%

3 2 x 2

Axonopus

compressus 1 100%

Bidara 8 100%

Kyllinga bulbosa 11 100%

Kencana ungu 5 100%

Calea ternifolia 54 100%

Takokak 1 100%

Nona 1 33%

4 4 x 4

Rumput 166 100%

Bayam malabar 286 100%

Sisik betok 34 100%

Cendesela 27 100%

Tabel 4. Monitoring Faktor Abiotik Halaman Benteng Vastenburg Kelompok 1 Lapangan

Angin (m/s) Kelembaban (%) Suhu (℉) Cahaya (lux)

0,7 58,1 92,4 7900

1,4 58,7 92,8 7190

1,1 58,2 93,8 6835

(18)

18

Gambar 4. Dokumentasi Tumbuhan

(19)

19

Gambar 5. Dokumentasi Pengukuran dan Pengamatan Lapangan

Referensi

Dokumen terkait

HUKUM TOLERANSI SHELFORD Hubungan antar Faktor Lingkungan Komponen Lingkungan Konsep Faktor Pembatas Hukum Toleransi Shelford Hukum Minimum Liebig Kehadiran dan

Dalam penyebaran penyakit tersebut tentunya faktor host, agent dan lingkungan memiliki peran yang penting oleh karena itu dalam makalah ini penulis membahas mengenai peranan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kendala penyakit jamur upas ( Corticium salmonicolor ) pada budidaya tanaman karet yang ditanam dengan faktor pembatas

Kondisi ini akan menjadi pembatas utama yang sulit diperbaiki (Maftu’ah dan Susilawati, 2018). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan faktor-faktor pembatas

Laporan praktikum pengaruh lingkungan terhadap pertumbuhan

Laporan praktikum penangkaran dan restoking spesies yang terancam

Laporan ini membahas tentang sensitivitas parameter reservoir pada kurva IPR dan IPR tak

Laporan praktikum biokimia ini membahas faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas enzim amilase, dilengkapi dengan metodologi percobaan, hasil interpretasi, dan ketentuan penulisan