• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hubungan Hewan dengan Lingkungannya dan Faktor Pembatas

N/A
N/A
Susanti

Academic year: 2024

Membagikan "Hubungan Hewan dengan Lingkungannya dan Faktor Pembatas"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

EKOLOGI HEWAN

HUBUNGAN HEWAN DENGAN LINGKUNGANNYA DAN FAKTOR PEMBATAS

OLEH KELOMPOK 4

MUTIARA D.R. YUSVIRA (2130106036)

RAHMA SARITA (2130106046)

SUSANTI (2130106055)

DOSEN PENGAMPU:

DWI RINI KURNIA FITRI M.Si

PROGRAM STUDI TADRIS BIOLOGI FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAHMUD YUNUS BATUSANGKAR BATUSANGKAR

2023/1445H

(2)

i

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik, hidayah serta inayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah Ekologi Hewan ini dengan baik. Adapun maksud penyusunan makalah ini untuk memenuhi tugas mata Fisiologi Tumbuhan tentang materi “Hubungan Hewan dengan Lingkungannya dan Faktor Pembatas”. Penyusun menyadari bahwa makalah ini tidak akan terselesaikan tanpa dukungan dari beberapa pihak. Oleh karena itu kami mengucapkan terimakasih kepada ibu Dr. Dwi Rini Kurnia Fitri, M.Si selaku pembimbing kami dalam mengerjakan makalah ini.

Segala kritik dan saran sangat kami harapkan demi kesempurnaan penyusunan makalah ini, agar menjadi terbaik bagi penyusun. Akhir kata kami berharap dengan adanya penyusunan makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca maupun penyusun sendiri dan bagi semua yang berkepentingan.

Batusangkar, 27 Februari 2024

Penulis

(3)

ii DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ... ii

DAFTAR GAMBAR ... iii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 1

C. Tujuan ... 1

BAB II PEMBAHASAN ... 3

A. Pemodelan dalam Ekologi Hewan ... 3

B. Perkembangan dan Pemilihan dalam bidang ekologi, aspek-aspek terapan dalam ekologi hewan ... 3

C. Konsep Faktor Pembatas ... 6

D. Hukum Liebig dan Hukum Toleransi Shelford ... 8

E. Indikator-Indikator Ekologi ... 10

F. Ayat atau Hadist yang berkaitan dengan materi ... 11

BAB III PENUTUP ... 13

A. Kesimpulan ... 13

DAFTAR PUSTAKA ... 14

(4)

iii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2 1 Spektrum Perkembangan Ekologi ... 4 Gambar 2 2 Pemilahan Ekologi ... 5

(5)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Hewan, sebagaimana makhluk hidup lainnya, menempati lokasi bersama dengan makhluk hidup lainnya dan makhluk tak hidup yang bersama-sama membentuk lingkungan hidup hewan. Antara makhluk hidup dan lingkungannya saling berinteraksi satu sama lain dalam suatu sistem yang kompleks. Sistem yang terbentuk karena interaksi makhluk hidup dengan lingkungnya disebut ekosistem, sedangkan ilmu yang mempelajari ekosistem disebut ekologi. Makhluk hidup dalam ekosistem membentuk hierarki dari yang terkecil, yaitu individu, populasi, sampai dengan komunitas (Sumarto

& Koneri, 2016, p. 2).

Ekologi sebagai ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Lingkungan di sini memiliki arti luas, mencakup semua hal yang ada di luar organisme yang bersangkutan, misalnya cahaya atau radiasi sinar matahari, suhu, air dan curah hujan, kelembaban, topografi, parasit, predator, dan kompetitor. Faktor-faktor ekologi itu sangat banyak dan beranekaragam dan sering kali bercampur secara rumit dan saling ketergantungan (Lumowa & Purwati, 2023:4).

Berdasarkan latar belakang diatas maka disusunlah makalah tentang Hubungan Hewan dengan Lingkungannya dan Faktor Pembatas.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat ditarik rumusan masalah dalam pembuatan makalah tentang Hubungan Hewan dengan Lingkungannya dan Faktor Pembatas yaitu sebagai berikut.

1. Bagaimana pemodelan dalam Ekologi Hewan

2. Bagaimana perkembangan dan pemilahan dalam bidang ekologi, aspek-aspek terapan dalam Ekologi Hewan

3. Apa konsep faktor pembatas

4. Apa Hukum minimum Liebig dan Hukum toleransi Shelford 5. Apa indikator-indikator ekologi

6. Apa ayat Al-Qur’an atau Hadist yang menunjukkan keterkaitan dengan materi C. Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah diatas maka dapat dijelaskan bahwa tujuan penulisan makalah ini yaitu sebagai berikut.

1. Menjelaskan pemodelan dalam Ekologi Hewan

(6)

2

2. Menjelaskan perkembangan dan pemilahan dalam bidang ekologi, aspek-aspek terapan dalam Ekologi Hewan

3. Menjelaskan konsep faktor pembatas

4. Menjelaskan Hukum minimum Liebig dan Hukum toleransi Shelford 5. Menjelaskan indikator-indikator ekologi

6. Menunjukkan ayat Al-Qur’an atau Hadist terkait materi

(7)

3 BAB II PEMBAHASAN A. Pemodelan dalam Ekologi Hewan

Permodelan ekologi disusun dalam menghadapi berbagai kondisi alam atau lingkungan yang terus menerus berubah atau dinamis. Dalam hal ini manusia dituntut dapat membuat penjelasan terhadap fenomena-fenomena alam untuk memperoleh manfaat bagi kepentingan hidupnya maupun meramalkan kejadian yang mungkin akan terjadi guna menghindari efek buruknya bagi manusia.Untuk dapat memenuhi tuntutan tersebut diperlukan acuan dan peramalan yang lebih baik dan tepat. Hasil studi tersebut dibuat dalam bentuk permodelan ekologi. Penyusunannya didukung oleh hasil-hasil penelitian ekologi yang memberikan informasi kuantitatif dan pengelolaan datanya banyak dibantu oleh teknik-teknik computer.

Model Ekologi pada dasarnya adalah suatu formulasi matematik sebagai bentuk penerjemahan fenomena ekologi yang sebenarnya dan telah disederhanakan. Jumlah variable dalam suatu model lebih rendah dari yang sebenarnya, karena yang ditampilkan hanya faktor-faktor dan proses kuncinya saja, yaitu yang paling penting serta paling menentukan. Informasi ini didapatkan dari hasil sejumlah penelitian kuantitatif yang bersifat deskriptif maupun eksperimental di lapangan maupun di laboratorium. Permodelan ekologi pada dasarnya adalah suatu formulasi matematik sebagai bentuk penerjemahan fenomena ekologi yang sebenarnya dan telah disempurnakan (Maknun, 2017:3).

B. Perkembangan dan Pemilihan dalam bidang ekologi, aspek-aspek terapan dalam ekologi hewan

1. Perkembangan Ekologi

Ekologi berkembang seiring dengan perkembangan ilmu dan teknologi.

Perkembangan ekologi tak lepas dari perkembangan ilmu yang lain. Misalnya, berkembangnya ilmu komputer sangat membantu perkembangan ekologi.

Penggunaan model-model matematika dalam ekologi misalnya, tidak lepas dari perkembangan matematika dan ilmu komputer. Populasi ialah organisme satu spesies yang mendiami suatutempat. Komunitas adalah kumpulan spesies organisme yang mendiami suatu tempat. Komunitas beserta lingkungan abiotik membentuk sistem ekologi yang disebut ekosistem. Komunitas pada acuan dari Eropa dan Rusia disebut biocoenosis, sedangkan ekosistem dikenal dengan sebutan biogeocoenosis. Biosfir atau ekosfir mencakup semua organisme di bumi yang

(8)

4

berinteraksi dengan lingkungan fisik. Ditinjau dari tingkat spektrum organisasi, bidang ekologi, makin kearah kanan makin rumit, tetapi dalam beberapa hal kurang rumit dan kurang beragam karena adanya homeostatik. Ada pendapat bahwa tidak ada gunanya mempelajari tingkat populasi atau komunitas apabila tingkat yang kecil (sel-jaringan-organ-organisme-spesies-dst) belum dikuasai. Tetapi dalam kenyataannya tidak semua sifat pada tingkat yang lebih tinggi dapat diduga apabila diketahui sifat tingkat bawah. Contoh : sifat air (H2O) tidak dapat diduga dari sifat H2 danO2. Juga sifat ekosistem tidak dapat diduga hanya dari sifat populasi secara terpisah-pisah. Fieblemanm (1954) menamakan penyamarataan ini dengan teori tingkat-tingkat integratif (Maknun, 2017:45).

Gambar 2 1 Spektrum Perkembangan Ekologi

Ekologi hewan merupakan cabang ekologi dengan fokus kajian pada hewan, sehingga didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari hubungan interaksi antara hewan dengan lingkungannya. Studi tentang distribusi hewan dimulai pada abad ke-19, tetapi secara formal perkembangan ekologi hewan baru dimulai pada tahun 1920-an.

Ahli zoologi Inggris Charles Elton, yang menekankan pada studi populasi di alam liar, barang kali merupakan sosok yang paling berpengaruh. Elton bekerja lebih sering dengan hewan bernilai komersial, menyusun sejumlah konsep terminologi ahli alam, yang meliputi relung ekologi (niche), rantai makanan, piramida jumlah. Piramida jumlah menunjukkan pengurangan jumlah individu organisme, atau total kuantitas (berat) organisme pada setiap tahap suksesif dalam rantai makanan, dari tumbuhan dan hewan pemakan tumbuhan (herbivora) pada level bawah ke level yang lebih atas (karnivora besar) pada puncaknya. Seperti ekologi tumbuhan, beberapa aliran ekologi

(9)

5

hewan muncul di Eropa dan Amerika Serikat pada awal pertengahan abad ke-20.

(Sumarto & Koneri, 2016:89).

2. Pemilahan Ekologi

Secara umum asas integratif fungsional yang meluputi pertumbuhan sifat-sifat dengan naiknya kompleksitas struktur merupakan suatu hal yang sangat penting dalam ekologi.

a. Berdasarkan keilmuan:

1) Sinekologi : mempelajari hubungan satu spesiesorganisme dengan alam sekitarny

2) Outekologi : mempelajari hubungan sekelompok spesies organisme dengan alam sekitarnya

b. Berdasarkan taksonomi:

1) Ekologi manusia 2) Ekologi tumbuhan 3) Ekologi hewan 4) Ekologi mikrobia

c. Berdasarkan keperluan praktis:

1) Ekologi air tawar 2) Ekologi laut 3) Ekologi daratan

Gambar 2 2 Pemilahan Ekologi

Aspek terapan terdapat banyak aplikasi praktis ekologi dalam bidang biologi konservasi, manajemen sumber daya alam (pertanian, kehutanan, perikanan),

(10)

6

perencanaan kota (ekologi urban), kesehatan masyarakat, ekonomi, ilmu dasar dan terapan, dan menyediakan kerangka konseptual untuk memahami dan meneliti interaksi sosial manusia (ekologi manusia) (Sumarto & Koneri, 2016:101).

C. Konsep Faktor Pembatas

Beberapa faktor lingkungan dan biologis memiliki pengaruh yang berbeda terhadap populasi bergantung pada kepadatannya (densitas). Jika densitas populasi tinggi, faktor- faktor tersebut menjadi pembatas untuk keberhasilan populasi. Sebagai contoh, jika individu terkumpul dalam area yang kecil, penyakit dapat lebih mudah menyebar daripada populasi yang jarang atau densitasnya rendah. Faktor-faktor yang dipengaruhi oleh densitas populasi disebut faktor yang bergantung pada densitas (density dependent factors). Terdapat beberapa faktor yang tidak bergantung pada densitas (density independent factors) antara lain perubahan suhu panas ke dingin saat musim dingin dan salinitas air. Faktor pembatas populasi lainnya ialah kompetisi intraspesies yang terjadi pada saat individu-individu di dalam satu populasi berkompetisi untuk mendapatkan sumber daya yang sama (Lumowa & Purwati, 2023:68).

Konsep faktor pembatas (limiting factor) merujuk pada faktor tertentu yang membatasi atau mempengaruhi pertumbuhan atau produktivitas suatu organisme, populasi, atau sistem biologis lainnya di lingkungan tertentu. Ketika suatu organisme atau sistem biologis berada dalam lingkungan yang memungkinkan untuk pertumbuhan atau reproduksi, faktor pembatas adalah elemen atau kondisi tertentu yang hadir dalam jumlah atau tingkat yang membatasi kemampuan organisme tersebut untuk berkembang biak atau tumbuh.

Dalam ekologi populasi, faktor pembatas bisa berupa ketersediaan sumber daya seperti makanan, tempat bertelur, atau ruang hidup. Misalnya, populasi tikus di suatu daerah mungkin terbatas oleh ketersediaan makanan, sehingga walaupun ada banyak tempat tinggal yang tersedia, pertumbuhan populasi akan tetap terbatas oleh ketersediaan makanan. Pemahaman tentang faktor pembatas penting dalam manajemen sumber daya alam, pertanian, ekologi, dan bidang lainnya karena membantu dalam merencanakan strategi yang lebih efektif untuk mengoptimalkan pertumbuhan atau produktivitas organisme atau sistem biologis yang terlibat (Qori Swadarma, 2018:45).

Secara konseptual, asas faktor pembatas ekologi berbunyi: "Setiap organisme atau makhluk hidup mempunyai suatu minimum dan maksimum ekologis, di mana hal

(11)

7

ini merupakan batas bawah dan batas atas dari kisaran toleransi organisme itu terhadap kondisi faktor lingkungan". Berkaitan dengan asas faktor pembatas ini adalah:

1. Proses kehidupan dan kegiatan makhluk hidup termasuk manusia, pada dasarnya dipengaruhi dan mempengaruhi faktor-faktor lingkungan, seperti cahaya, suhu atau nutrien dalam jumlah minimum dan maksimum.

2. Pada semua makhluk hidup, agar bisa hidup dengan optimal maka ia membutuhkan sejumlah nutrien tertentu dalam jumlah minimum. Jika hal tersebut tidak terpenuhi maka pertumbuhan dan perkembangannya akan terganggu. Dalam hal ini unsur- unsur tersebut sebagai faktor ekologi berperan sebagai faktor pembatas.

3. Faktor-faktor lingkungan sebagai faktor pembatas tidak saja berperan sebagai faktor pembatas minimum, tetapi terdapat pula faktor pembatas maksimum. Kondisi optimum diasumsikan berada pada kisaran antara ambang batas minimum dan maksimum.

4. Faktor-faktor lingkungan tersebut dinyatakan penting jika dalam keadaan minimum, dan maksimum atau optimum sangat berpengaruh terhadap proses kehidupan makhluk hidup pada batas-batas toleransi yang dimilikinya secara genetika.

5. Terjadinya proses adaptasi berhubungan dengan faktor- faktor lingkungan sebagai faktor pembatas ini (Danhas, 2024:518).

Faktor pembatas ekologi adalah unsur-unsur dalam lingkungan yang membatasi pertumbuhan, kelangsungan hidup, dan distribusi suatu populasi hewan. Terdapat dua jenis faktor pembatas utama: faktor pembatas biotik dan abiotik.

1. Faktor Pembatas Biotik

a. Persaingan: Persaingan untuk sumber daya seperti makanan, air, tempat bertelur, atau tempat tinggal.

b. Predasi: Aktivitas pemangsa yang membatasi populasi mangsanya.

c. Parasitisme: Organisme parasit yang menginfeksi dan memanfaatkan inangnya.

d. Penyakit: Penyakit yang menyerang populasi hewan dan dapat mempengaruhi kelangsungan hidupnya.

2. Faktor Pembatas Abiotik

a. Suhu: Suhu ekstrem dapat mempengaruhi metabolisme dan ketersediaan sumber daya.

b. Kelembaban: Ketersediaan air sangat penting bagi hewan darat maupun air.

(12)

8

c. Cahaya: Beberapa hewan memerlukan cahaya untuk kegiatan tertentu seperti fotosintesis pada organisme autotrof.

d. Ketersediaan Nutrien: Ketersediaan nutrien dalam lingkungan mempengaruhi pertumbuhan dan reproduksi hewan.

e. Tekanan Atmosfer: Misalnya, tekanan udara yang rendah di ketinggian tertentu dapat membatasi hewan yang dapat hidup di sana.

3. Faktor Pembatas Sosial

a. Hirarki sosial: Struktur sosial dalam populasi hewan yang dapat mempengaruhi akses terhadap sumber daya dan kesempatan reproduksi.

b. Kompetisi dalam kawanan: Dalam kawanan hewan, ada kompetisi untuk status sosial, pasangan kawin, dan sumber daya.

Faktor-faktor ini tidak selalu bekerja secara terpisah; seringkali, mereka saling terkait dan dapat berinteraksi dengan cara yang kompleks. Dalam ekologi hewan, pemahaman tentang faktor-faktor pembatas ini membantu dalam merencanakan konservasi spesies, manajemen populasi, dan pemahaman tentang perubahan lingkungan terhadap keberlanjutan populasi hewan (Karyanto & Hadisusanto, 2005:25).

D. Hukum Liebig dan Hukum Toleransi Shelford

Distribusi atau sebaran spesies sangat ditentukan oleh faktor pembatas (limiting factor) dalam lingkungan. Faktor pembatas adalah sumber daya atau kondisi lingkungan yang membatasi pertumbuhan, distribusi, atau kelimpahan organisme atau populasi dalam suatu ekosistem. Faktor ini dapat berupa faktor fisik atau biologis yang dapat diidentifikasi melalui respons peningkatan atau penurunan pertumbuhan, kelimpahan, atau distribusi suatu populasi. Konsep faktor pembatas bermula pada 2 gagasan yang dikemukakan oleh Liebig dan Shelford yang masing-masing dikenal dengan hukum Liebig dan hukum Shelford.

1. Hukum Minimum Liebig

Hukum minimum pertama kali disampaikan oleh Justus Van Liebig pada tahun 1840 sehingga dikenal dengan sebutan "Hukum Minimum Liebig". Hukum Liebig menyebutkan bahwa "suatu organisme tidak lebih kuat daripada rangkaian terlemah dari rantai kebutuhan ekologinya”. Hukum Liebig menyatakan "Pertumbuhan tanaman tergantung kepada zat atau senyawa yang berada dalam keadaan minimum". Taylor pada tahun 1934 mengembangkan pernyataan Liebig dengan menambahkan faktor temperatur dan faktor waktu. Kenyataan di lapangan

(13)

9

menunjukkan bahwa penerapan Hukum Liebig baru dapat berlaku bila sistem dalam keadaan mantap (stabil), yaitu bila arus energi dan materi yang masuk ke dalam ekosistem seimbang dengan arus keluarnya. Misalnya adalah pada suatu perairan danau tersedia unsur-unsur esensial (faktor pembatas) yang cukup bagi organisme tanaman air seperti cahaya, nitrogen, air dengan kadar CO, terlarut maka produktivitas tanaman air tersebut sebanding dengan kadar CO, yang tersedia yang berasal dari hasil proses penguraian bahan organik. Apabila pada suatu waktu terjadi tekanan akibat aktivitas naturogenik maupun antropogenik sehingga terjadi ketidakstabilan ekologi maka kadar CO, akan berubah demikian pula dengan keberadaan unsur-unsur lain sehingga dalam keadaan ini tingkat produktivitas tidak hanya tergantung oleh kadar CO, tetapi juga disebabkan oleh unsur-unsur lain yang keseimbangannya juga berubah. Studi kasus, pada keadaan terjadinya eutrofikasi menyebabkan keadaan yang tidak stabil akibat perkembangan populasi organisme tertentu, misalnya blooming alga maka akan menyebabkan oksigen terlarut pada malam hari sangat terbatas akibat persaingan pemanfaatan oleh alga dan fauna lainnya sehingga menyebabkan penurunan oksigen terlarut. Dengan demikian, yang menjadi faktor pembatas adalah oksigen terlarut (Yusuf Hidayat et al., 2021:14)

Justus Liebig, seorang ahli biokimia Jerman, pada tahun 1840 menyatakan bahwa laju pertumbuhan suatu tumbuhan tergantung pada jumlah unsur hara dalam jumlah minimal. Hukum Liebig dianggap kurang sesuai untuk diterapkan dalam kondisi sementara karena tidak dipungkiri bahwa ada banyak pengaruh dari unsur hara yang mengalami (Akmalia & Pranatami, 2021:145).

Hukum minimum Liebig tampaknya dapat menjadi salah satu komponen penting dalam ekologi indikator karena mungkin mengindikasikan adanya faktor tertentu yang terbatas dalam lingkungan, yang lebih terbatas kepada ekosistem yang telah diketahui dengan baik. Hal ini tidak dapat berlaku pada ekosistem yang kurang diketahui seperti hutan hujan tropis. Meskipun demikian, konsep ini merupakan komponen penting yang menjelaskan kelimpahan suatu spesies yang dapat diturunkan ke dalam indeks diversitas. Indeks inilah yang berperan secara langsung sebagai indikator ekologis (Mustaqim, 2018:30).

2. Hukum Toleransi Shelford

Di samping hukum minimum yang dikemukakan Liebig, selanjutnya ada pula hukum toleransi yang dikemukakan oleh Shelford. Di mana menurutnya kehadiran dan keberhasilan organisme tergantung pada lengkap atau tidaknya kebutuhan yang

(14)

10

diperlukan oleh makhluk hidup tersebut. Ketiadaan dan atau kegagalan suatu organisme dapat dikendalikan oleh kekurangan atau kelebihan secara kualitas dan kuantitatif daripada salah satu atau beberapa faktor yang mungkin mendekati batas- batas toleransi organisme itu (Syah & Danhas, 2021:75).

Kehadiran dan keberhasilan organisme dalam hidupnya tergantung pada lengkapnya kebutuhan yang diperlukan, termasuk unsur-unsur lingkungan yang kompleks di mana organisme tersebut berada. Ketiadaan atau kegagalan suatu organisme dapat dikendalikan oleh kekurangan atau kelebihan secara kualitas atau kuantitas dari salah satu atau beberapa faktor yang mungkin mendekati batas-batas toleransi organisme tersebut. Pernyataan ini berbeda dengan Hukum Minimum Liebig, di mana jumlah komponen yang terlalu sedikit dapat merupakan faktor pembatas bagi kehidupan tetapi dalam keadaan yang terlalu banyak maka faktor tersebut juga dapat bersifat membatasi, misalnya faktor panas, sinar matahari, air, dan lain sebagainya. Suatu faktor atau beberapa faktor dikatakan penting apabila pada suatu waktu tertentu faktor-faktor tersebut sangat menentukan hidup dan berkem- bangnya suatu organisme karena terdapat dalam batas maksimum, minimum, dan optimum sehingga setiap organisme menghadapi kondisi maksimum dan minimum secara ekologi, di mana kisaran yang berada di antara dua titik (maksimum dan minimum) dikenal dengan "batas-batas toleransi" (Roziaty et al., 2017:83).

Secara umum Hukum Minimum Liebig menyatakan bahwa faktor penting yang tersedia dalam jumlah mendekati minimum merupakan faktor yang menjadi faktor pembatas. Sedangkan Hukum Toleransi Shelford menyatakan kelebihan maupun kekurangan sutu faktor apabila masih dalam garis toleransi maksimum pada suatu organisme, dianggap tidak memiliki berpengaruh yang signifikan pada kelangsungan hidup organisme tersebut (Putra et al., 2018:241)

E. Indikator-Indikator Ekologi

Bioindikator atau indikator ekologis merupakan suatu kelompok organisme yang hidup dan rentan terhadap perubahan lingkungan sebagai akibat dari aktivitas manusia dan kerusakan secara alami (Rizky Nangin et al., 2015:45).

Bioindikator atau indikator ekologis merupakan taksa atau kelompok organisme yang sensitif dan dapat dijadikan petunjuk bahwa mereka dipengaruhi oleh tekanan lingkungan akibat dari kegiatan manusia dan destruksi sistem biotik (Zulkifli et al, 2009:587) .

(15)

11

Oleh karena suatu faktor lingkungan sering menentukan organisme yang akan ditemukan pada suatu daerah maka sebaliknya kita dapat menentukan keadaan lingkungan fisik dari organisme yang ditemukan pada suatu daerah yang disebut indikator ekologi atau indikator biologi. Beberapa hal penting yang perlu diketahui untuk memakai indikator ekologi (indikator biologi) adalah sebagai berikut:

1. Umumnya organisme steno menjadi indikator yang lebih baik daripada organisme eury. Jenis organisme indikator sering bukan merupakan organisme terbanyak dalam suatu komunitas.

2. Spesies yang besar umumnya merupakan indikator yang lebih baik daripada spesies yang kecil karena spesies dengan anggota organisme yang besar mempunyai biomassa yang besar umumnya lebih labil.

3. Banyak hubungan antarspesies, populasi, atau komunitas sering kali menjadi indikator yang lebih baik daripada satu spesies. Hal ini disebabkan karena lebih menggambarkan keadaan yang terintegrasi dan adanya stabilitas komunitas karena adanya keragaman spesies.

Sebagai contoh adalah keberadaan beberapa spesies ikan dari famili Chaetodontidae sebagai indikator kondisi kesehatan terumbu karang (Latuconsina, 2019:44–45).

F. Ayat atau Hadist yang berkaitan dengan materi

Allah SWT membedakan manusia dengan makhluk hidup lain, khususnya hewan dalam rangka mengemban tugas selaku khalifah di muka bumi, seperti pada firmanNya, Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang Kami ciptakan (QS.Al-Isra/17:70).

ْمُهاَنْلَّضَف َو ِتاَبِ يَّطلا َنِم ْمُهاَنْق َز َر َو ِرْحَبْلا َو ِ رَبْلا يِف ْمُهاَنْلَمَح َو َمَدآ يِنَب اَنْم َّرَك ْدَقَل َو ٰىَلَع

ًلي ِضْفَت اَنْقَلَخ ْنَّمِم ٍريِثَك

Artinya:

”Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan”

Para ahli tafsir menafsirkan kelebihan daripada makhluk lainnya ialah kelebihan akal pada manusia sehingga ia disebut hewan berakal (hayawan annathiq). Anugrah akal dan keindahan fisik dalam rangka untuk meningkatkan harkat dan martabat

(16)

12

manusia dipersiapkan untuk menerima amanat mejadi khalifah dan sekaligus sebagai mukallaf (Penerima agama, nilai dan beban hukum).

Semua binatang yang Allah ciptakan itu, Tercipta dari Air dan ada yang berjalan dengan dua kaki, empat kaki dan juga ada dengan perutnya hingga dapat merayap. Ada juga dengan sayapnya sehingga dapat terbang di udara dengan bebas. Sebagaimana Allah menyatakan dalam firman-nya QS. An-Nur [24]: 45:

ِنْيَلْج ِر ٰىَلَع يِشْمَي ْنَم ْمُهْنِم َو ِهِنْطَب ٰىَلَع يِشْمَي ْنَم ْمُهْنِمَف ۖ ٍءاَم ْنِم ٍةَّباَد َّلُك َقَلَخ ُ َّاللَّ َو

ريِدَق ٍءْيَش ِ لُك ٰىَلَع َ َّاللَّ َّنِإ ۚ ُءاَشَي اَم ُ َّاللَّ ُقُلْخَي ۚ ٍعَب ْرَأ ٰىَلَع يِشْمَي ْنَم ْمُهْنِم َو

Artinya:

“Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.

Binatang yang Allah jadikan itu, terdapat pelajaran yang sangat berharga bagi manusia yang berakal sehat dan yang memiliki keyakinan sehingga dapat memahami dan merenungi ciptaan Allah itu, maka semakin yakin dan percaya atas keagungan dan keunikan, keindahan dan kemanfatan bagi kehidupan manusia (Mansur,2015:35-36).

Bahkan dengan berbagai jenis binatang itu, akan menambahkan keimanan dan keyakinan kepada Allah Maha pencipta. Allah menyatakan dalam firman-Nya QS. Al- Mu’minun [23]: 21- 22 :

اَهْنِم َو ة َريِثَك ُعِفاَنَم اَهيِف ْمُكَل َو اَهِنوُطُب يِف اَّمِم ْمُكيِقْسُن ۖ ًة َرْبِعَل ِماَعْنَ ْلْا يِف ْمُكَل َّنِإ َو َنوُلُكْأَت

ِكْلُفْلا ىَلَع َو اَهْيَلَع َو َنوُلَمْحُت

Artinya:

“Dan sesungguhnya pada binatang-binatang ternak, benar-benar terdapat pelajaran yang penting bagi kamu, kami memberi minum kamu dari air susu yang ada dalam perutnya, dan (juga) pada binatang-binatang ternak itu terdapat faedah yang banyak untuk kamu, dan sebagian daripadanya kamu makan. Dan di atas punggung binatang- binatang ternak itu dan (juga) di atas perahu-perahu kamu diangkut” .

(17)

13 BAB III PENUTUP A. Kesimpulan

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa hal penting yaitu sebagai berikut.

1. Permodelan ekologi pada dasarnya adalah suatu formulasi matematik sebagai bentuk penerjemahan fenomena ekologi yang sebenarnya dan telah disempurnakan

2. Ekologi hewan merupakan cabang ekologi dengan fokus kajian pada hewan, sehingga didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari hubungan interaksi antara hewan dengan lingkungannya. Studi tentang distribusi hewan dimulai pada abad ke- 19, tetapi secara formal perkembangan ekologi hewan baru dimulai pada tahun 1920-an.

3. Beberapa faktor lingkungan dan biologis memiliki pengaruh yang berbeda terhadap populasi bergantung pada kepadatannya (densitas). Jika densitas populasi tinggi, faktor- faktor tersebut menjadi pembatas untuk keberhasilan populasi.

4. Faktor ini dapat berupa faktor fisik atau biologis yang dapat diidentifikasi melalui respons peningkatan atau penurunan pertumbuhan, kelimpahan, atau distribusi suatu populasi. Konsep faktor pembatas bermula pada 2 gagasan yang dikemukakan oleh Liebig dan Shelford yang masing-masing dikenal dengan hukum Liebig dan hukum Shelford.

5. Bioindikator atau indikator ekologis merupakan suatu kelompok organisme yang hidup dan rentan terhadap perubahan lingkungan sebagai akibat dari aktivitas manusia dan kerusakan secara alami

6. Seperti pada firmanNya, Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang Kami ciptakan (QS.Al-Isra/17:70) dan bahkan dengan berbagai jenis binatang itu, akan menambahkan keimanan dan keyakinan kepada Allah Maha pencipta. Allah menyatakan dalam firman-Nya QS. Al- Mu’minun [23]: 21- 22.

(18)

14

DAFTAR PUSTAKA

Akmalia, H. A., & Pranatami, D. A. (2021). Biologi Umum Untuk Mahasiswa. Semarang:CV.

Alinea Media Dipantara.

Danhas, B. Y. (2024). Kitab Induk Ilmu Lingkungan (Environtment Science) Fiqh Al Bi’ah.

Yogyakarta: CV. Budi Utama.

Karyanto, P., & Hadisusanto, S. (2005). Materi Pembelajaran Ekologi Hewan: Pola Diversitas Komunitas Gastropoda Ekosistem Mangrove Cilacap. Bioedukasi, 2(1), 23–28.

Latuconsina, H. (2019). Ekologi Perairan Tropis Prinsip Dasar Pengelolaan Sumber Daya Hayati Perairan (Kedua). Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

Lumowa, S. V. T., & Purwati, S. (2023). Ekologi Hewan. Yogyakarta: Media Nusa Creative.

Maknun, D. (2017). Ekologi:Populasi, Komunitas, Ekosistem. Cirebon: Nurjati Press.

Mansur, S. (2015). Menyingkap Fenomena Kehidupan Binatang Dalam Al-Qur’an. Banten: A- Empat

Mustaqim, W. A. (2018). Hukum Minimum Liebig - Sebuah Ulasan dan Aplikasi Dalam Biologi Kontemporer. Bumi Lestari Journal of Environment, 18(1), 28–32.

https://doi.org/10.24843/blje.2018.v18.i01.p04

Putra, R. T., Ramadanti, P., Thoifur, M., & et al. (2018). Ecomparism, sebuah konsep perencanaan wisata Pantai Teloek Dalam-Bintan, Provinsi Kepulauan Riau. Jurnal Arsitektur Lansekap, 4(2). http://ojs.unud.ac.id/index.php/lanskap

Qori Swadarma. (2018). Karakteristik Habitat Peneluran Penyu di Kawasan Stasiun Pembinaan d an Pelestarian Penyu Rantau Sialang Kabupaten Aceh Selatan Sebagai Referensi Matakuliah Ekologi Hewan.

Rizky Nangin, S., Langoy, M. L., & Katili, D. Y. (2015). Makrozoobentos Sebagai Indikator Biologis dalam Menentukan Kualitas Air Sungai Suhuyon Sulawesi Utara. Jurnal Mipa Unsrat Online, 4(2), 165–168. http://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/jmuo

Roziaty, E., Kusumadani, A. I., & Aryani, I. (2017). Biologi Lingkungan. Surakarta:

Muhammadiyah University Press.

Sumarto, S., & Koneri, R. (2016). Ekologi Hewan. Bandung: CV. Patra Media Grafindo.

Syah, N., & Danhas, Y. H. (2021). Ekologi Industri. Yogyakarta: Deepublisher.

Yusuf Hidayat, M., Fauzi, R., & Anwar Siregar, C. (2021). Kesesuaian Lahan Beberapa Jenis Tanaman untuk Perbaikan Kualitas Lahan di Hutan Lindung Sekaroh. Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam, 18(1), 13–27. https://doi.org/10.20886/jphka.2021.18.1.13- 27

(19)

15

Zulkifli, H., Hanafiah, Z., & Puspitawati, D. A. (2009). Struktur dan Fungsi Komunitas Makrozoobenthos di Perairan Sungai Musi Kota Palembang: Telaah Indikator Pencemaran Air.

Referensi

Dokumen terkait

Dalam keadaan mantap bahan yang penting yang tersedia dalam jumlah paling dekat mendekati minimum yang genting yang diperlukan akan cenderung merupakan pembatas.... Hukum

Mengapa ciri khusus yang dimiliki hewan dan tumbuhan tergantung pada lingkungannya..

Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa faktor dan variabel penentu kepuasan konsumen dalam pemasaran hewan qurban adalah faktor kualitas layanan dan faktor

HUKUM TOLERANSI SHELFORD Hubungan antar Faktor Lingkungan Komponen Lingkungan Konsep Faktor Pembatas Hukum Toleransi Shelford Hukum Minimum Liebig Kehadiran dan

Habitat yang merupakan tempat tinggal makhluk hidup dalam hal ini. adalah hewan yang terdiri atas habitat darat, habitat air, dan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kendala penyakit jamur upas ( Corticium salmonicolor ) pada budidaya tanaman karet yang ditanam dengan faktor pembatas

Makalah ini membahas tentang hubungan sosiologi dengan

Makalah ini membahas tentang hubungan antara sumber daya ekonomi dengan siklus