• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambaran Umum Wilayah Kota Medan

N/A
N/A
Gabriel Julessio Tambunan

Academic year: 2024

Membagikan "Gambaran Umum Wilayah Kota Medan"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

GAMBARAN WILAYAH STUDI

3.1 Gambaran Umum Wilayah Kota Medan

Gambaran umum wilayah Kota Medan pada penelitian ini mendeskripsikan tentang letak administratif wilayah, serta kondisi fisik (penggunaan lahan, ketinggian, kelerengan, curah hujan) pada Kota Medan.

3.1.1 Letak Administratif Wilayah Kota Medan

Penelitian ini dilakukan pada salah satu kecamatan di Kota Medan. Kota Medan terletak antara 3º.27’ - 3º.47’ Lintang Utara dan 98º.35’ - 98º.44’ Bujur Timur dengan ketinggian 2,5 – 37,5 meter di atas permukaan laut, sebagian besar wilayah Kota Medan merupakan dataran rendah yang merupakan tempat pertemuan dua sungai penting, yaitu Sungai Babura dan Sungai Deli (BPS Kota Medan, 2022:3). Kota ini merupakan Ibu Kota Provinsi Sumatera Utara dengan luas daerah sekitar 265,10 km² yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Deli Serdang di sebelah utara, selatan, barat dan timur.

Kota Medan memiliki 21 kecamatan dengan 151 kelurahan dan terbagi menjadi 2.001 lingkungan dengan kepadatan penduduknya mencapai 9.186 jiwa/km², Kecamatan Medan Labuhan dengan luas wilayah sebesar 36,67 km² atau setara 13,83% dari total luas wilayah Kota Medan merupakan kecamatan terbesar di kota ini, sedangkan Kecamatan Medan Belawan dengan luas wilayah sebesar 31,63 km² atau setara 11,93% dari total luas wilayah Kota Medan (BPS Kota Medan, 2022:7).

(2)

49

Sumber : Hasil Olahan ArcGIS, 2023

Gambar 3. 1

PETA ADMINISTRASI KOTA MEDAN

3.1.2 Kondisi Fisik Kota Medan

Kondisi fisik Kota Medan yang akan dibahas pada penelitian ini, mencakup gambar spasial berupa peta serta penjabarannya berdasarkan kondisi fisik penggunaan lahan, ketinggian, kelerengan, serta curah hujan yang ada di Kota Medan

1. Penggunaan Lahan

Penggunaan lahan merupakan pemanfaatan lahan yang dilakukan sesuai dengan kondisi nyata alam. Sebagian besar dari penggunaan tanah di kota Medan diperuntukan sebagai permukiman dengan presentase senilai 51,3% dari luas total.

Penggunaan lainnya adalah kawasan hijau dengan presentase senilai 30,9%

selebihnya digunakan untuk komersil perumahan dan perguruan tinggi, serta kawasan industri.

(3)

Sedangkan Kecamatan Belawan guna lahannya diperuntukkan sebagai Permukiman Sedang, Permukiman Padat, Industri, Kawasan Hijau, dan Mangrove.

Sumber : Hasil Analiasis Peneliti, 2023

Gambar 3. 2

PETA GUNA LAHAN KOTA MEDAN

2. Ketinggian

Kota Medan terletak pada ketinggian antara 0-37 mdpl memiliki ketinggian yang bervariasi namun tergolong pada morfologi kota yang relatif datar. Lokasi dengan titik tertinggi mencapai 37 mdpl berada di bagian Selatan yaitu pada Kecamatan Medan Selayang.

Sementara titik terendah mencapai 0-10 mdpl di bagian Utara pada Kecamatan Medan Belawan yang merupakan lokasi penelitian, hal ini sesuai dengan kondisi ketinggian atau topografi yang dimiliki sehingga lokasi pada penelitian terbilang rawan terhadap terjadinya banjir rob karena lokasi yang rendah dan berdekatan dengan laut.

(4)

51

Sumber : Hasil Olahan ArcGIS, 2023

Gambar 3. 3

PETA KETINGGIAN LAHAN KOTA MEDAN

3. Kelerengan

Kota Medan memiliki beragam klasifikasi tingkat kemiringan lereng.

Namun didominasi oleh kelas lereng datar (0-2%) dimana klasifiksi kelas ini sesuai untuk dilakukan pengembangan pembangunan kota. Kawasan dengan kemiringan (2-8%) terletak pada bagian selatan menuju daerah pusat Kota Medan yang mayoritas pengembangan kota terjadi pada daerah tersebut.

Pada bagian selatan yaitu pada Kecamatan Medan Tuntungan memiliki kelas lereng yang bervariasi, yaitu dengan kemiringan (8-15%) seluas 2,05 km², kemiringan (15-25%) seluas 0,27 km², serta kemiringan (25-35%) seluas 0,0008 km². Sedangkan kelerengan pada Kecamatan Belawan sendiri, termasuk pada kelas lereng datar (0-2%) hal ini dikarenakan ketinggian lahan yang dimiliki oleh Kecamatan Belawan merupakan titik terendah yaitu 0-10 mdpl.

(5)

Sumber : Hasil Olahan ArcGIS, 2023

Gambar 3. 4

PETA KELERENGAN KOTA MEDAN

4. Curah Hujan

Curah hujan adalah volume air hujan yang terkumpul dalam alat pengukur hujan pada permukaan datar, di mana air tersebut tidak diserap, tidak meresap, dan tidak mengalir ke tempat lain (BMKG, 2023). Kota Medan memiliki iklim tropis dengan suhu minimum berkisar antara 22,49°C hingga 23,97°C dan suhu maksimum berkisar antara 32,15°C hingga 34,21°C. Wilayah Kota Medan juga memiliki tingkat kelembaban udara rata-rata antara 78% hingga 82% dan kecepatan angin rata-rata sekitar 0,42m/sec. Jumlah hari hujan per bulan di Kota Medan adalah sekitar 21,50 hari dengan curah hujan per bulan berkisar antara 1.500 hingga 3.000 mm (BPS Kota Medan, 2022:16).

(6)

53

Sumber : Hasil Olahan ArcGIS, 2023

Gambar 3. 5

PETA CURAH HUJAN KOTA MEDAN

3.2 Gambaran Umum Kecamatan Medan Belawan

Gambaran umum Kecamatan Medan Belawan pada penelitian ini mendeskripsikan tentang letak administratif wilayah, persebaran bahaya terhadap bencana banjir di Kecamatan Belawan, kondisi lapangan di Kecamatan Belawan, serta jalur dan lokasi evakuasi bencana.

3.2.1 Administrasi Wilayah Kecamatan Medan Belawan

Secara geografis, kecamatan ini berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang di sebelah barat dan timur, Kecamatan Medan Marelan dan Medan Labuhan di sebelah selatan, serta Selat Malaka di sebelah utara. Kecamatan ini memiliki 6 kelurahan dan 143 lingkungan. Kelurahan-kelurahan tersebut meliputi Kelurahan Belawan I, Kelurahan Belawan II, Kelurahan Belawan Bahagia, Kelurahan Belawan Bahari, Kelurahan Belawan Sicanang, dan Kelurahan Bagan Deli (BPS Kota Medan, 2022:26).

(7)

Sumber : Hasil Olahan ArcGIS, 2023

Gambar 3. 6

PETA ADMINISTRASI KECAMATAN BELAWAN

3.2.2 Persebaran Bahaya terhadap Bencana Banjir di Kecamatan Belawan Kecamatan Belawan memiliki peran strategis sebagai pusat pelayanan transportasi laut yang melibatkan aktivitas bongkar muat dan ekspor-impor barang. Selain itu, kecamatan ini juga merupakan pusat kegiatan pertahanan dan keamanan, pusat perikanan, serta pusat kegiatan industri (Peraturan Daerah Kota Medan No 2 Tentang Rencana Detail Tata Ruang dan Peraturan Zonasi Kota Medan Tahun 2015-2035, 2015:9).

Melalui jenis kegiatan tersebut, dapat diketahui bahwa letak Kecamatan Belawan berdekatan dengan laut dan tidak menutup kemungkinan bahwa kecamatan ini rentan terhadap bencana banjir rob. Perencanaan tata ruang di Kota Medan mencakup pengidentifikasian zona rawan bencana gelombang pasang.

Zona ini dirancang untuk memberikan perlindungan terhadap potensi gelombang pasang atau kenaikan permukaan air. Untuk memvisualisasikan persebaran bahaya terhadap bencana banjir, terdapat gambar yang menggambarkan informasi tersebut.

(8)

55

Sumber : Badan Penanggulamgan Bencana Daerah Kota Medan, 2022

Gambar 3. 7

PETA BAHAYA TERHADAP BENCANA BANJIR KOTA MEDAN

(9)

Melalui peta bahaya terhadap bencana banjir Kota Medan, dapat diketahui bahwa Kota Medan rentan terhadap terjadinya bencana banjir, hal ini sesuai dengan (Peraturan Daerah Kota Medan No 2 Tentang Rencana Detail Tata Ruang dan Peraturan Zonasi Kota Medan Tahun 2015-2035, 2015:45) dimana zona rawan bencana banjir berada pada seluruh kecamatan di Kota Medan. Bila ditinjau lebih mendalam pada Kecamatan Belawan, keseluruhan kelurahan memiliki rentan bahaya terhadap bencana banjir yang beragam namun rata-rata kelurahan memiliki indeks sedang mendekati tinggi.

Hampir seluruh wilayah Kelurahan Belawan Sicanang memiliki indeks bahaya terhadap bencana banjir sedang mendekati tinggi, hal ini dikarenakan kelurahan tersebut merupakan kelurahan yang paling luas diantara kelurahan lainnya dan belum banyak bangunan yang terbangun sebab pada kelurahan ini direncanakan sebagai kawasan mangrove. Sedangkan kelurahan lainnya memiliki indeks sedang, hal ini disebabkan oleh banyaknya bangunan yang terbangun pada keluran ini terlebih terdapat Pelabuhan pada Kelurahan Belawan I sebagai pusat pelayanan transportasi laut.

Dengan nilai indeks bahaya terhadap bencana banjir mendekati tinggi, dapat disimpulkan bahwa Kecamatan Belawan memiliki potensi bencana banjir rob, sehingga pada penelitian ini dilakukan analisis kerentanan terhadap bencana banjir rob untuk mengetahui tingkat kerentanan masing-masing kelurahan melalui aspek sosial, aspek fisik, aspek ekonomi, serta aspek lingkungan. Apabila hasil analisis kerentanan telah didapatkan, dapat dilakukan pengembangan pembangunan berkelanjutan guna menimalisirkan nilai kerentanan yang diprioritaskan pada kelurahan yang memiliki kerentanan yang tinggi pada masing- masing aspek.

3.2.3 Kondisi Lapangan di Kecamatan Belawan

Kondisi lapangan di Kecamatan Belawan cukup menjadikan kendala apabila terjadinya banjir rob terhadap penanggulangan bencana. Terlebih pula dengan adanya Pelabuhan pada Kecamatan ini memberi kendala tambahan akibat kegiatan reklamasi yang dilakukan. Serta banyak jenis kegiatan yang berubah dan tidak sesuai lagi dengan rencana pemanfaatan ruangnya, hal ini menyebabkan

(10)

57

terjadinya degradasi pada lahan karena peruntukan lahan pada kondisi lapangan tidak sesuai lagi dengan pemanfaatan yang telah direncanakan. Permukiman di Kecamatan Belawan cukup padat dengan keberadaan rumah yang sangat berdekatan, bangunan yang terbangun juga tidak tergolong tinggi (high rise building) sehingga menjadi hambatan apabila terjadi bencana banjir rob sebab kurangnya area resapan air terlebih permukiman padat ini terletak pada kelurahan yang berdekatan dengan Pelabuhan dan laut akan menciptakan peluang terbentuknya permukiman yang kumuh.

Sumber : Dokumentasi Penulis, 2023

Gambar 3. 8

KONDISI PERMUKIMAN DI KECAMATAN BELAWAN

Dikutip dari website PT. KAI, Kecamatan Belawan memiliki stasiun dengan nama Stasiun Belawan (BLW), stasiun ini terletak di Kelurahan Belawan II tergolong Divisi Regional 1 Sumatera Utara dan NAD, stasiun ini dulunya merupakan stasiun yang digunakan sebagai stasiun akhir dari perjalanan kereta api dengan jenis angkutan peti kemas, atau angkutan ketel/CPO (minyak sawit) dari daerah luar kota. Stasiun ini sudah tidak difungsikan lagi sebagai tempat untuk menaikturunkan penumpang, karena angkutan yang melayani trayek Medan- Belawan semakin banyak dan tidak hanya kereta saja. Namun, apabila dilihat dari kondisi lapangan rel kereta yang dimiliki oleh stasiun tersebut tergolong tidak layak, rel tersebut mengalami pengkaratan yang parah juga tergenang oleh air, penurunan kondisi rel kereta ini disebabkan oleh peristiwa banjir rob.

(11)

Sumber : Dokumentasi Penulis, 2023

Gambar 3. 9

KONDISI REL KERETA YANG SUDAH TIDAK AKTIF

Drainase memiliki peran yang sangat penting pada kawasan permukiman, sistem drainase yang baik dapat menimalisirkan kerugian yang timbul dari banjir rob, dengan adanya drainase yang baik maka air tidak akan tergenang dan akan mengalir menuju topografi yang lebih rendah. Namun, hampir keseluruhan kelurahan di Kecamatan Belawan memiliki drainase yang kurang baik, drainase tidak mampu untuk mengalirkan genangan air karena banyak tumbuhan liar yang hidup didalam drainase, serta bentuk drainase yang sudah harus dibangun kembali. Dikarenakan kondisi drainase yang kurang baik, rata-rata lahan kosong di Kecamatan Belawan dipenuhi oleh genangan air, bahkan hampir terbentuk seperti sebuah kolam. Kondisi ini juga menjadi hambatan apabila terjadi banjir rob, air tidak dapat dialirkan dengan baik namun semakin memperparahkan bentuk drainasenya.

Sumber : Dokumentasi Penulis, 2023

Gambar 3. 10 KONDISI DRAINASE

(12)

59

3.2.4 Jalur dan Lokasi Evakuasi Bencana

Mitigasi bencana dalam bentuk penentuan lokasi evakuasi dapat direncakan melalui arah arus aliran banjir rob, adapun jalur dan lokasi evakuasi bencana dapat dilihat pada gambar dibawah ini:

Sumber : Dinas Permukiman dan Penataan Tata Ruang Kota Medan, 2022

Gambar 3. 11

PETA RENCANA JARINGAN MITIGASI BENCANA

Peta rencana jaringan mitigasi bencana ini didapatkan dari Dinas Permukiman dan Penataan Tata Ruang Kota Medan, adapun pembuatan peta ini dibuat untuk bagian dokumen rencana detail tata ruang (RDTR) Kota Medan Tahun 2015-2035. Berdasarkan peta rencana jaringan mitigasi bencana tersebut, peletakan titik evakuasi bencana direncanakan akan dibangun pada dua kelurahan yaitu Kelurahan Belawan II, dan Kelurahan Belawan Sicanang. Adapun jalur evakuasi disesuaikan dengan jalan arteri primer dan arteri sekunder agar pada saat masyarakat mengevakuasi dirinya tidak terhambat oleh jalanan kecil yang kemungkinan tergenang oleh banjir rob.

(13)

Sumber : Hasil Olahan ArcGIS, 2023

Gambar 3. 12

PETA JALUR DAN LOKASI EVAKUASI BANJIR ROB KECAMATAN BELAWAN

Melalui peta diatas, jalur evakuasi telah sesuai dengan peta rencana jaringan mitigasi bencana dimana dalam penentuan jalur evakuasi disesuaikan dengan jalan arteri primer dan arteri sekunder. Kemudian, terdapat satu lokasi evakuasi bencana yang telah dibangun di Belawan II, namun belum terbangun di Belawan Sicanang bila mengacu pada peta rencana jaringan mitigasi bencana.

3.3 Kependudukan Kota Medan

Jumlah penduduk di Kota Medan mencapai 2.435.252 jiwa, dengan luas wilayah 265,10 km2 dan berkepadatan penduduk sebesar 9.186 jiwa/km2 (BPS Kota Medan, 2022:53). Kecamatan yang memiliki jumlah penduduk terbanyak berada di daerah pusat seperti Kecamatan Medan Sunggal, Kecamatan Medan Tembung, Kecamatan Medan Timur, dan Kecamatan Medan Perjuangan.

(14)

61

Banyaknya jumlah penduduk ini juga disebabkan oleh faktor jenis kegiatan yang ada pada daerah tersebut. Sedangkan Kecamatan Belawan memiliki jumlah penduduk sebesar 112.660 jiwa. Berikut merupakan jumlah kepadatan penduduk di Kecamatan Belawan:

Tabel III. 1

TABEL KEPADATAN PENDUDUK KECAMATAN BELAWAN

Kepadatan Penduduk Kelurahan Jumlah Penduduk

(jiwa)

Luas Wilayah (km2)

Kepadatan Penduduk (jiwa/km2)

Belawan Sicanang 17943 18,15 1011

Belawan Bahagia 13843 0,73 19775

Belawan I 23728 2,66 8820

Belawan II 25005 1,83 14883

Belawan Bahari 13346 2,44 4210

Bagan Deli 18795 5,83 5250

Sumber: Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Medan, 2023

Sumber : Hasil Analiasis Peneliti, 2022

Gambar 3. 13

PETA KEPADATAN PENDUDUK KOTA MEDAN

Referensi

Dokumen terkait

Indikator iklim yang digunakan adalah curah hujan tahunan, curah hujan musim hujan, dan curah hujan maksimum musim hujan, sedangkan indikator fisik yang digunakan

Dari variabel yang digunakan, yaitu curah hujan, jenis tanah, kelerengan, dan penggunaan lahan dapat dilakukan perhitungan berdasarkan rumus RUSLE sehingga menghasilkan

Berdasarkan data dari 6 stasiun pengukur yang ada di kabupaten Karanganyar, banyaknya hari hujan selama tahun 2010 adalah 97 hari dengan rata-rata curah hujan 2.601 mm, dimana

Bab ini menguraikan gambaran umum Kabupaten Penajam Paser Utara, mengenai kondisi fisik wilayah, letak geografi, topografi dan kondisi geohidrologi dengan

Bab ini menguraikan gambaran umum Kabupaten Penajam Paser Utara, mengenai kondisi fisik wilayah, letak geografi, topografi dan kondisi geohidrologi dengan

Berdasarkan rata-rata curah hujan mengindikasikan bahwa bulan basah Kota Bandar Lampung pada tahun 2015 terjadi pada bulan November – Maret dengan rerata curah hujan

Hasil pengujian statistik faktor lingkungan fisik (suhu, kelembaban, curah hujan, pH air, penggunaan lahan, dan kondisi fisik rumah) di wilayah Danau Sentani

Profil Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur terdiri dari gambaran kondisi geografis.. dan administratif wilayah, gambaran mengenai demografi, gambaran