Ghenghis Khan Sang Penakluk Dunia dari Mongol Jilid : I.
Seseorang yang dianggap terhormat oleh satu kelompok orang, bisa saja dipandang sebagai musuh bebuyutan oleh kelompok lain
“GENGHIS KHAN : BADAI DI TENGAH PADANG Buku II”
“BAGIAN PERTAMA”
Oleh : Sam Djang Penterjemah : Reni Indardini
Penerbit : Penerbit Bentang (PT. Bentang Pustaka Tahun : 2011.
Di distribusikan oleh : Mizan Media Utama Penyadur : Pujo Prayitno
DAFTAR - ISI
1. Jamuka terpilih sebagai Guru Khan
2. Pertempuran di Koyiten
3. Jebe, anak buah Baru Temujin
4. Akhir Riwayat
5. Temujin Bertemu Yesui
6. Musuh Baru Temujin : Altan dan Quchar
7. Wang-Khan Menolak Pinangan Temujin
8. Jamuka Balas Melawan
9. Saran Munglik
10. Nadai di Kishlik. Dua Gembala Domba
11. Jurchedai dan Quyilda, Dua Kesatria
12. Pesan Temujin Untuk Wang-Khan
13. Orang-Orang Baljuntu
14. Kejatuhan Kaum Kerait
15. Akhir Riwayat Wang-Khan
16. Kibarkan Panji-Panji Hitam
17. Perang Dengan Kaum Naiman
18. Qulan, Perempuan Penuh Pesona
19. Akhir Riwayat Jamuka
20. Lahirnya Imperium Mongol
21. Konsolidasi Imperium
22. Siasat Kelam Tab Tenggri
23. Takluknya Kaum Uighur
24. Tentara Yang Tak Terkalahkan
25. Perpecahan Dengan Chin
PRAKATA
Sejarah manusia dapat diselewengkan. Penyimpangan sejarah, baik sengaja mau pun tidak sengaja, pernah terjadi pada masa lalu, masa kini, dan barangkali akan terjadi selama-lamanya pada masa mendatang.
Alasan tepatnya beraneka ragam, tetapi satu penjelasan penting untuk hal ini adalah karena orang cenderung berusaha memahami sejarah dari sudut pandang sendiri. Seseorang yang dianggap terhormat oleh satu kelompok orang, bisa saja dipandang sebagai musuh bebuyutan oleh
kelompok lain; Tokoh sejarah yang teramat berpengaruh bagi sebagian orang bisa saja dianggap tak berarti oleh yang lain. Seseorang yang diidentifikasi sebgai pahlawan pada masa tertentu, bisa saja dinilai berbeda pada masa selanjutnya. Begitu kita menerima bahwa memang benar pelestarian diri dan keogoisan merupakan bagian dasar dari fitrah manusia, akan kita sadari betapa sulit menrima fakta historis yang dapat merusak pemahaman kita akan diri sendiri, masyarkat, dan budaya kita.
Sulit juga membuat penilaian yang adil terhadap fakta sejarah yang tidak kita saksikan dengan mata kepala kita sendiri.
Pada suatu tahun, di periode 1990-an, saya berkesempatan melihat pamern Genghis Khan di Musium Sejarah Nasional di Los Angeles. Dalam pameran tersebut saya berkesempatan melihat relik sejarah, barang peninggalan, foto, dan arsip yang berkaitan dengan Genghis Khan. Kala mengmati Artefak dan informasi historis tersebut, saya terilhami untuk menjadi penulis. Seketika sesudah menjalani pengalaman itu, saya mulai meneliti Genghis Khan secara menyeluruh. Untuk merampungkan penelitian mengenai riwayat dan garis keturunannya, saya butuh delapan tahun. Dalam periode penelitian tersebut, saya bepergian berkali-kali ke Mongolia, Rusia, Cin, dan negara-negara terkait. Penelitian saya di negara- negara itu mengarahkan saya untuk membaca ratusan artikel, buku terkait, dan mewawancarai banyak orang di Mongolia, termasuk cendekiawan serta dosen. Setelah emncurahkan semua waktu dan upaya tersebut, saya akhirnya berkesimpulan sama seperti sejarawan Amerika, Owen Lattimore. Bertahun-tahun lalu dia telah menyatakan bahwa,
“Penakluk terhebat dalam sejarah adalah Genghis Khan.”
Menurut saya, riwayat Genghis Khan telah diselewengkan, diremehkan, serta dikecilkan artinya dengan banyak cara. Dalam sebagian tuduhan tak berdasar, dia dinyatakan sebagai “Sang Pemusnah”,
“Penghancur peradaban”, atau “Biang Perang”. Siapa saja yang meninjau riwayat Genghis Khan secara seksama, niscaya akan menemukan bahwa tak satu pun paparan tersebut akurat. Bagaimana mungkin pria ini dinilai secara negatif oleh banyak orang? Salah satu penjelasan adalah karena sebagaian besar riwayatnya yang tercatat ditulis oleh musuh-musuhnya.
Di banyak bagian dunia, menyebut namanya sekali pun masih dianggap tabu karena berbagai alasan palsu. Ketika kita bandingkan semua penakluk hebat berikut imperium mereka pada masa lalu, Genghis Khan dam Imperium Mongolnya sungguh menonjol> Dia merupakan salah seorang Kaisar yang paling agung dan tak ada bangsa lain, kecuali Imperium Mongolnya, yang berpengaruh sedemikian besar di dunia. Dia lah satu-satunya pemenang sejati yang berhasil pada akhirnya.
Ukuran wilayah yang dia taklukkan sepanjang masa hidupnya 2,2 kali lebih besar daripada wilayah Taklukan Alexander Agung; 6,7 kali lebih besar daripada wilayah taklukan Napoleon Bonaparte; dan 4 kali lebih besar daripada Kekaisaran Romawi. Selain itu Imperium Mongol, yang belakangan terus diperluas oleh penerusnya, merupakan Imperium terbesar dalam sejarah hingga 35.624.550 kilometer persegi (Luas wilayah taklukan potensial adalah 37.538.315 kilometer persegi), sedangkan Imperium Britani pada abad ke 19 menempati posisi kedua dari segi ukuran, dengan luas 33.122.532 kilometer persegi.
Kerajaan Alexander Agung dicabik-cabik oleh para panglimanya setelah kematiannya, Napoleon diasingkan ke Pulau St. Helena setelah kalah dalam pertempuran di Waterloo, dan kejayaan Hitler tidak bertahan lebih dari tiga tahun. Imperium Mongol terus tumbuh sesudah amsa kekuasaan Genghis Khan karena kuatnya imperium yang dia bangun.
Kehebatan Imperium Mongol direpresentasikan oleh keberhasilan mereka membuka perdagangan antara Timur dan Barat. Barang-barang paling berarti dan paling berpengaruh dalam peradaban manusia misalnya kertas, bubuk mesiu, dan kompas dialihkan dari Timur ke Barat.
Konsep-konsep penting yang ditransfer dari Barat ke Timur, antaralaina dalah angka Arab, konsep matematika, astronomi, serta teknik manufaktur kaca. Kunjugnan Marco Polo ke Kota Dadu (Beijing) yang menandai titik balik dalam sejarah Barat, dilangsungkan apda masa Kubilai Khan, masa keemasan imperium Mongol. Biar bagaimana pun, palayaran Christopher Colombus yang memperkenalkan eksistensi Benua Amerika kepada orang –orang Eropa, berhubungan secara langsung atau tidak langsung dengan perjalanan Marco Polo.
Sebelum Imperium Mongol lahir, sangatlah tidak aman bepergian daari Semenanjung Italia ke Kota Dadu (Beijing) di Cina dalam kelompok kecil. Sebagaimana yang acap kali dilakukan oleh Marco Polo, ayah dan pamannya.
Buku ini ditulis dalam bentuk Novel sejarah. Akan tetapi, sembilan puluh persen isinya berdasarkan kisah nyata yang masuk akal. Satu- satunya elemen fiktif adalah pada bagian yang tidak diceritakan sejarah, terutama daam amsa awal kehidupan Genghis Khan. Saya tulus berharap semoga para pembaca buku ini tidak menilai atau mengukur Genghis Khan berdasarkan standar modern kita. Jika demikian, dia bisa saja semakin salah dipahami. Terima kasih banyak karena sudah membaca.
1. JEMUKA TERPILIH SEBAGAI GURU KHAN
Iklim Politik di Dataran Mognolia sederhana saja. Jika salah satu suku atau kelompok menjadi semakin besar dan luar biasa kuat, semua kelompok lain akan bergabung untuk melawan dan akhirnya memecah belah mereka. Semua suku dan klan di Dataran Mongolia sudah pernha bersekutu sebagai kawan dan, pada saat lain, berhadap-hadapan sebagai musuh. Suku-suku- tersebut senantiasa menata ualng komposisi mereka.
Banyak motif yang mendasari hal ini, tetapi yang utama karena kepala suku yang picik, atau pemimpin masing-masing suku serta klan, tidak menghendaki persatuan di Dataran Moongolia. Mereka menikmati kemandirian mereka. Yang paling mereka takutkan adalah munculnya seseorang yang kuat, yang mungkin saja menaklukkan mereka semua.
Jika mereka membangun hubungan persahabatan, hubungan tersebut hanya akan bertahan selama menguntungkan bagi kedua belah pihak. Jika pandangan politik mereka menjadi antagonistik, putus pulalah persahabatan meraka pada saat bersamaan. Hal ini diterima secara luas sebagai sesuatu yan wajar dan lumrah. Oleh karena itu lah, konflik di antara mereka tidak pernah usai dan jelas takkan berkesduahan, kecuali seseorang berkuasa tak terkira mengambil alih dan mendirikan peresekutuan atau koalisi besar dan memilih khan para khan, tetapi kekuasaannya terbatas pada persekutuan atau koalisi tersebut bisa runtuh dalam semalam laksana istana pasir.
Jemuka, dari kaum Jadarat, buknlah satu-satunya yang meresahkan meunculnya kekuatan gabungan Temujin dan Wang-Khan, yang menghancurkan setengah kaum Tartar, menaklukan klan Jurkin, dam meluluh lantakan kaum Taichut yang hebat serta serta Buyiruk sang kepala suku Naiman. Pencapai Temujin – kemenangan beruntun dan pertempuran destruktif, yang tidak pernah mereka saksikan sebelumnya – menyebabkan kehebohan di sepenjuru dataran rendah tersebut.
Mereka berkumpull di sekitar Jamuka sambil berkata, “Jamuka-lah satu-satunya yang bisa mmengekang Temujin.”\Wajar saja semua orang berpaling kepada Jamuka, yang diyakini sebagai ahli strategi terhebat pada generasinya, dan satu-satuya yang pernah mengalahkan Temujin sert menjerumusksannya ke dalam derita tak terperi.
Beberapa waktu berselang, Jamuka mengizinkan Achu Bagatur dan Qodun Orchang dari kaum Taichut menemuinya. Mereka memohon agar diterima. Keduanya mendatangi Jamukka, hanya disertai segelintir prajurit. Ketika mendengar bahwa Temujin telah meluluhlantakkan kaumTaichut, Jamuka amat menyesal karena tidak mengejar pria itu sampai ke ujung dalan Baljut.
Sambil memandangi kedua pria yang berlutut dan memohon agar diterima, Jamuka merenungkan apakah dia akan menerima mereka ata memenggal kepada mereka dan mengirimnya kepada Temujin dalam rangka rekonsilidasi. Jamuka mengenal baik Temujin, sama seperti Temujin mengenal Jamuka. Tujuan akhir mereka adalah mempersatukan dataran Mongolia. Kecuali salah satu dari merekamelepaskan cita-citanya, perselisihan mereka takkan terelakkan. Mereka mungkin takkan bisa hdip bersama di bawah satu langit. Sesudah mencapai kesimpulan ini, Jamukamemutuskan untuk menerima Achu Bagatur dan Qodun Orchang.
Dia tahu mereka adalah pendekar yang luar baisa.
“Mulai sat ini, lakukan yang terbaik untuk mencari dan mengumpulkan orang-orang Taichut yang terpencar-pencar beserta mantan kaum bawahan mereka.”
Belakangan, Achu dan Qodun Orchang mengumpulkan sekitar empat ribu orang Taichut dan orang-orang yang menyertai mereka seeblumnya.
Jamukka memasukkan mereka ke pasukan regulernya.
Jamuka amemutuskan untuk mengenyahkan Tmujin sebelum terlambat. Langkah pertamanya adalah mengumpulkan emua kekuatan atau kelompok anti-Temujin dan membuat persekutuan baru. Manuver tersebut merupakan bagian dari rencana awalnya. Baik Temujin maupun Jamuka menyadari bahwa mereka membutuhkan kekuatan untuk bersatu, tetapi mereka masing-masing berbeda pendapat mengenai sumber kekuatan ini. Menurut Temujin, kekuatan tersebut terutama bersumber dari para karachu, rakyat jelata Mongol. Yang merupakan mayoritas warga dan orang bebas, meskipun mereka tidak diperkenankan turut serta dalam pengambilan keputusan.
Di sisi lain, Jamuka meyakini bahwa sumber kekuatan berasal dari kelompok elite dan para aristokrat. Dia acap kali berkata, “Para karachu ibarat ternak. Kuda dipakai untuk kendaraan dan domba dimanfaatkan woolnya. Mereka bisa dibentuk sesuka kita. Mereka sudah puas jikalau hanya idberi daging dan wanita. Mreka tidak menginginkan apa-apa lagi
dan merka semata-mata ingin dipimpin seseorang. Mereka bukan pembuat sejarah. Bergitulah kehendak Tuhan..”
Pertama-tama jamuamengirim kurir kesemua kepala suku dan pemimpin kelompok yang kemungkinan besar bergabung dengannya dan persekutuannya. Mereka, yaitu Baqu Chorogi dari kaum Qadagin, Chigidai dari kaum Saljiud, Qajiun Beki dari kaum Dorben, Jalin Buka dari kaum Tartar Alchi, Tuge Maka dari kaum Ikires, Chanak dan Chakaan dari kaum Merkid. Quduka Beki dari kaum Oyorad, orang-orang Naiman, dan bahkan kaum Onggirad, yang merupakan suku asal istri Temujin.
Setelah mereima kurur Jamuka, orang-orag Onggirad berangkat dengn nada tinggi. Kepaal suku Olqunuud, subklan kaum Onggirad, yang juga amerupakan mertua Temujin, Dey Sechen, dan putranya Alchi, menentang persekutuan dengan Jamuka.
Namun, mayoritas kepala klan lain takut akan kekuatan Jamuka. Ala Qus, pembuat keputusan akhir di antara orang-orang Onggirad, berkomentar setelah mendengarkan semua opini yang dipaparkan.
“Temujin takkan pernah mengalahkan Jamuka. Di masa lalu, dia sudah sekali dikalahkan oleh Jamuka. Kita sebaiknya tidak menyinggung Jamuka, yang akan menjadi pria terkuat di dataran ini. Sebaliknya kita pilih jalan yang lebih aman.
Kaum Onggirad memutuskan untuk bergabung dengan Jamuka dan memberitahukannya.
# <> Musim semi berikutnya, semua kepala suku dan pemimpin kelompok yang bersedia ikut serta dalam rencana Jamuka berkumpul bersama pasukan masing-masing di tepi Kali Hijau Ake Nuke, sebuah cabang dari Sungai Ergune, yang terletak di kawasan timur laut Dataran Mongolia. Ini adalah pertemuan terbesar yang pernah disaksikan di Dataran Mongolia. Pada padang di dekat Kali Hijau Ake Nuke, telah di dirikan tenda militer yangtak terhitunjumlahnya, dan terdapat pula kerumunan besar prajurit dan kuda. Jamukaduduk beserta perwakilan semua suku dan kelompok dalam tenda besar yang telah didirikan sebagai markas besar sementara, di dekat kali kecil yang mengalir dari lembah di gunung berhutan pinus lebat dekat sana. Ini merupakan rapat umum pertama persekutuan tersebut, yang dihadiri hampir semua suku dan kelompok, sebuah pertemuan yang sudah di impi-impikan oleh Jamuka.
Setelah menginformasi kehadiran semua perwakilan, yang totalnya kira-kira dua ratus orang, Jamuka berdiri dan mulai berbicara.
“Kuucapkan selamat datang kepada kalian semua, sebagai salah sastu partisipan. Terima kasih banyak atas kedatngan kalian. Kita berada di sini dengan satu pikiran dan satu hati. Kini, kita tengah menalami dan menghadapi kehancuran. Tatanan stabil negeri ini dan koeksistensi damai kita telah terusik dan terancam akibat munculnnya pengacau baru.
Mereka telah menunjukkan kepada kita, betapa ekstrimnya sifat destruktif dan kebrutalan mereka. Hal semacam itu tak pernah kita alami sebelumnya. Mereka yang dimaksud adalah kekuatan gabungan Wang Khan dan Temujin. Kita harus menghentikan mereka. Kita harus smelindungi diri, juga tradisi kita. Ada banyak saksi mata di sini yan telah melihat dan mengalami hal tersebut. Mari kita luangkan waktu untuk mendengar pengalaman mereka.”
Setelah Jamuka, Jalin Bukadari kaum Tartar berdiri dan berbicara.
“Toghrul dan Temujin menyerang saudara-saudaraku. Berdasarkan adar istiadat kita, kaum nomaden tabu hukumnya membawa-bawa kekuatan asing. Mereka telah melanggar hukum tersebut. Mreka membunuh Megujin yang sudah seperti saudara kandungku. Sebagai imbalannya, Toghrul dengan senang hati menerima gelar Wang, yang diberikan oleh orang-orang Juchid. Aku tidak sudai menyebutnya Wang Khan. Mereka berkhianat terhadap seluruh kaum nomaden.”
Setelah jalin buka berkomentar, kali ini Achu Bagatur dari Kaum Taichut bangkit dan berbicara, “Kekejaman dan kejahatan Temujin sungguh tak terkatakan. Diamenghabisi kaumku, orang-orang Taichut. Dia bahkan membunuh anak lak-laki berusia enam dan tujuh tahun. Memang benar bahwa di antara sesama kita terdapat konflik tak berkesudahan, tetapi kita tak pernah menyaksikan genosida seperti ini sebelumnya.
Kitaharus menyingkirkan mereka.”
Setelah Achu berkomentar, Jamuka berdiri sambil menyunggingkan senyum puas di wajahnya da berkata, “Menurutku paparan tadi sudah cukup. Kita tidak punya waktu seharian untuk membicarakan kejahatan mereka. Sekarang kita harus membicarakan agenda terpenting hari ini.
Kita berkumpul di sini dengan ide muluk. Kita membutuhakn pemimpin, layaknya kita memerlukan matahari di langit atau kepala keluarga di setiap rumah tangga. Kupersilahkan kalian untuk secara jujur merekomendasikan siap pun yang menurut kalian paling tepat untuk tugas tersebut.”
Saat Jamuka duduk setelah mengakhiri kata-kata tersebut, Qodun Orchang, yang telah menjadi salah satu antek Jamuka, berdiri dan berujar,
“Kurekomendasikan Jamuka Sechen sebagai pemimpin kita, yang kupercaya merupakan ahi strategi terbaik pada genersi kita dan pelindung tradisi kit.”
Semuanya direncanakan, diselenggarakan, dan diatur oleh Jamuka, jadi tidak ada lagi orang lain yang dapat direkomendasikan. Mereka memilih Jamuka sebagai pemimpin mereka dengan suara bulat. Jamuka berdiri lagi sambil menyunggingkan senyum lebar di wajahnya.
“Terima kasih banyak karena sudah memilihku. Aku tahu betapapentingnya posisi ini. Aku akan berbuat yang terbaik. Tugas pertama yang harus kita laksanakan adalah menghnacncurkan kekuatan Wang Khan – Temujin, sesegera mungkin. Akan kita susun rencana terperinci dalam waktu beberapa hari kedepan.”
Keesokan paginya, saat fajar, mereka semua berkumpul di cekungan sungai berbentuk segi tiga, berupa sebuah pulau yang dibentuk oleh dua sungai, Ergune dan Ken, pada titik pertemuannya. Selagi berada di sana, mereka menyelenggarakan upacara pelantikan Jamuka sebagai pemimpin.
Mereka memberinya gelar “Guru Khan” yang berati Khan dari para Khan.
Pada saat itu, terkabullah cita-cita yang sudah di dambakan Jamuka seumur hidup.
Altar seremonial diletakkan di ujung utara cekungan sungai segitiga itu dan, di bawahnya semua kepala Suku serta pemimpin kelompok, beserta prajurit pilihan yang memegangi panji-panji mereka, berbaris teratur. Quduka Beki, kepala suku Oyirad sekaligus seorang dukun, menjadi pemimpin upacara. Setelah berdoa kepada langit dan bumi,
Quduka Beki memberkati Jamuka. Seekor kuda jantan putih dan seekor betina putih di tuntun ke depan altar oleh sejumlah pembawa kapak dan penjagal. Para pembawa kapak dan penjagal memotong kepala kedua kuda itu, sesuai dengan perintah Quduka Beki. Jamuka dan semua Kepala suku serta pemimpin kelompok lantas bersumpah setia kepada langit dan bumi :
Wahai Dewa-Dewa Langit dan bumi.
Dengarkanlah sumpah setia kami Jika kami melanggar sumpah
Sehingga membahayakan persekutuan ini Biarkanlah kami menderita dan berdarah Layaknya hewan-hewan ini.
Jamuka, kini bergelar Guru Khan, mulai mengambil langkah guna menyerang Wang-Khan dan Temujin.
2. PERTEMPURAN DI KOYITEN
Temujin menempatkan diri di dataran rendah di bawah gunung Kurelku, yang merupakan markasnya. Pada suatu siang seorang pria berkuda ke Ordu Temujin laksana angin. Para prajurit Temujin yang bertugas jaga amelihat pria berkuda yang tengah mendekat itu. Sambil menunggangi kuda mereka, dipersenjatai tombak dan pedang sabit, para prajurit berangkat untuk menghentikan pria tersebut.
Si orang asing mulai berteriak, sementara kudanya terus berlari,
“Pesan urgen untuk Temujin Khan.”
Pria itu, yang berhenti di hadapan para prajurit jaga, bersimbah keringat dan berlumur debu. Dia sepertinya berasal dari tempat yang jauh. Sebenarnya, dia sudah melajukan kudanya sejauh kira-kira delapan ratus kilometer. Manusia serta kuda sama-sama terengah-engah dan kudanya bergerak-gerak terus, seolah-olah tidak bisa diam karena bergairah.
Si orang asing terus berteriak, kehabisan nafas, “Aku Qoridai dari kaum Gorolas, Bawa aku ke hdadapan Temujin Khan.
Para Prajurit jaga membawanya ke tenda Khan, mengawalnya di depan dan dibelakang. Saat menerima laporan tersebut, Temujin mempersilahkan pria itu masuk. Qoridai pun menghaturkan laporannya di depan Temujin.
“Jamuka telah terpilih sebagai Guru Khan. Jamuka dan pasukan sekutunya sudah memulai mars untuk menyerang Anda.”
Qoridai adalah orang Temujin, seorang mata-mata dalam suku Gorolas. Temujin saar sepenuhnya akan arti penting spionase dan pengumpulan informasi, dan dia memnafaatkan hal tersebut semaksimal mungkin. Kaum Gorolas adalah sekutu Jamuka. Masyarakat adalah entitas yang rumit dan terjalin berkelindan dengan banya elemen yang berlainan.
Oleh sebab itu, ada saja orang yang tidak senang dengan masyarakatnya sendiri, sekalipun masyarakat tersebut hampir sempurna. Mata-mata Temujin ditempatkan dalam hampir semua suku di Dataran Mongolia.
“Dalam amsyarakat feodal yang ekstrem, sekeping informasi bisa menyelamtkan nya satu orang dan seisi suku.”
Temujin acap kali mengucapkan hal ini.
Temujin tahu benar akan pergerakan Jamuka, berkat jaringan mata- matanya. Temujin mempersilahkan Qoridai duduk dan memerintahkan pelayannya di dekat sana agar membawakan secangkir susu segar.
Temujin bertanya, “Sebesar apa apsukannya dan dari mana mereka datang?”
Sambil menyesap susu, Qoridai menjawab pelan, “Saya tidak tahu jumlah persisinya. Menurut perkiraan saya, jumlahnya kurang lebih 50.000. Mereka bergerak ke sisi utara Danau Quelen.
Temujin mengangguk. Temujin memerintahkan pelayannya agar memeberi Qoridai makanan dan minuman, air untuk membasuh tubuh, serta tempat menginap.
Dia berkata kepada Qoriadi, “Hari ini, istirahatlah yang cukup. Setelah operasi militer ini, kau akan jadi pria berjasa nomor satu.”
Teemujin tidak pernah setengah-setengah dalam mengejar musuhnya sampai ke ujung dunia dan mencerabutnya. Analog dengan hal itu, dia juga tidak pernah setengah-setengah dalam memberikan imbalan bagi seseorang yang dianggap berjasa besar.
ooOOoo
Bunyi sangkakala besar, mengabarkan situasi mendesak yang akan datang, berkumandang di Ordu Temujin.
Pada saat bersamaan, Temujin mengutus pembawa pesan ke ordu Wang-Khan di Hutan Hitam, Saat menerima pesan urgen Temujin, Wang- khan memobilisasi pasukannya secepatnya dan bergabung dengan Temujin. Temujin mendiskusikan taktik dan strategi dengan Wang-Khan sambil menelaah peta.
Wang-Khan bertanya kepada Temujin dengan raut muka khawatir,
“Cara apa yang terbaik untuk mengalahkan mereka?”
Temujin menjawabnya seperti ini :
“Dua poin kunci dalam operasi ini adalah waktu dan perbekalan. Kita harus mengulur-ulur waktu. Taktik mengulur-ulur waktu pasti berhasil dalam operasi ini.”
Temujin menjelaskan sambil menunjuk peta, “Pasukan aliansi Jamuka bergerak dari sungai Ergune. Mereka berupa pasukan gabungan yang berasa dari berbagai macam daerah. Banyak di antara mereka yang jauh dari kampung halamannya. Perbekalan akan jadi titik terlemah atau masalah terbesar mereka. Kita harus menunda pertempuran penentuan sampai persediaan makanan mereka menipis. Lokasi terbaik untuk taktik mengulur watku adalah di sini.”
Sambil mengucapkan ini, Temujin menunjuk ke tiga lahan tinggi yang terletak kira-kira 130 km di sebelah barat – barat laut Danau Quelen.
Ketiganya, yaitu Gunung Chiqurqu, Gunung Chekcher, dan bukit Enegen.
“Mereka akan melintasi tiga lahan tinggi ini. Kita harus mengugasai ketiganya sebelum mereka melintas. Jika tidak, akan sulit.”
Wang-Khan mengangguk. Temujin mengutus Altan, Quchar, dan pamannya Daritai, amsing-masing dengan 2.000 prajurit berkuda, sebagai pasukan baris depan, untuk merebut ketiga lahan tinggi tersebut. Wang- Khan juga mengirim pasukan baris depannya, yang dipimpin Nilka Sanggum, Jagambu, dan Bilge Beki, untuk menyokong pasukan Temujin.
Temujin menjelaskan kepada pasukan baris depannya, dengan nada luar dan tinggi, betapa pentingnya misi mereka.
“Poin kunci untuk kemenangan dalam operasi ini adalah ketiga lahan tinggi tersebut. Kemenangan bergantung pada siapakah yang lebih dulu merebut ketiga lahan tinggi itu. Jangan lupakan kata-kataku! Bergegaslah ke tempat itu dengan kecepatan maksimum. Kuasai ketiganya sebelum mereka! Ketika kalian bertemu musuh, cobalah untuk tidak bertarung melawan mereka sampai pasukan utama kita tiba.”
Baris depan Temujin sukse mengabil alih ketiga lahan tinggi itu.
Mereka berderap dengan kecepatan penuh tanpa berhenti barang satu kali pun dan tiba di sana sebelum baris depan Jamuka. Beberapa saat kemudian, bars depan Wang-Khan sampai dan mereka pun berusaha menemukan tempat berkemah. Pada saat ini, bunyi peringatan berupa tiupan sangkakala terdengar dan para prajurit yang diposisikan di puncak Gunung Chiqurqu. Altan, Quchar. Jagambu, dan Nilka Senggum membahas cara untuk menangani situasi tersebut.
Jagambu berkata, “Temujin Khan mengatakan bahwa kita tidka boleh bertempur sampai pasukan utama tiba.”
Mereka lantas membiarkan para prajurit berteriak kepada musuh.
“Sesudah hampir gelap! Mari bertempur besok!”
Musuh yang mendekat adalah baris depan Jamuka, yang dikomandani oleh empat orang, yaitu Achu, Qodun Orchang, dan putra Toktoa Beki, Qutu serta Quduka Beki. Mereka terkejut karena tidak menduga-duga pasukan Wang-Khan dan Temujin akan ada di sana. Mereka juga memutuskan untuk menunggu sampai pasukan utama Jamuka tiba.
Tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa ini adalah moment penentuan dalam pertempuran yang akan menentukan siapakah yang terkuat di Fataran Mongolia.
Temujin girang saat mendengar kabar tersebut ketika dia sampai larut malam itu bersma Wang-Khan dan pasukan utamanya. Di sisi lain, Jamuka patah arang. Dia tak pernah menduga bahwa pasukan Tamujin dan Wang-Khan akan bergerak secepat itu.
Selama kira-kira sebulan sejak saat itu, pertempuran sengit terus berlanjut di lahan tinggi tersebut. Siapa pun yang menguasai lahan tinggi memperoleh keuntungan luar biasa atas pihak yang berada di bawah kaki mereka, sebab mereka dapat melihat setiap pergerakan musuh di bawah.
Sebaliknya, pihak di bawah tidak bisa melihat apa yang terjadi di atas bukit. Panah yang ditembakkan dari lahan tinggi lebih deskruktif daripada panah yang ditembakkan dari dataran rendah ke atas bukit tinggi.
Pasukan aliansi Jamuka beranggotakan sekitar 50.000 orang, sedangkan Temujin dan Wang-Khan berjumah kira-kira 40.000. Jumlah makanan yang dikonsumsi ke 50.000 anak buah Jamuka sangatlah banyak. Kaum Nomaden baisanya bergerak bersama anggota keluarga dan ternak mereka ketika pergi berperang.
Namun, ada juga pengecualian, misalnya saat mereka harus bergerak cepat, atau ketika pergerakan besar-besaran berpotensi menimbulkan resiko keamanan yang tidak perlu. Pasukan Temujin dan Wang-Khan tidak kesulitan mengatur jalur distribusi perbekalan mereka, berbeda halnya dengan kaum Oyirad dan Kerkid di apsukan aliansi.
Kampung halaman mereka terletak di utara dan selatan Danau Baikal, yang letaknya terlalu jauh dari medan tempur. Selain itu, terlalu banyak
pegunungan tinggi terjal di antara akedua tempat tersebut. Maka dari itu, mustahil mendapatkan perbekalan tambahan.
Disharmoni mulai melanda mereka. Keluhan terbesar berasal dari orang-orang Oyirad dan Merkid. Mereka sama sekali tidak senang dengan rencana awal mengenai suplai makanan. Yang membuat keadaan semakin buruk, suku-suku lain yang punya cukup makanan menolak berbagi dengan mereka. Jamuka mengeluarkan perbekalan makanan darurat, tetapi itu ada batasnya.
Quduka Beki, kepala suku Oyirad, mengusulkan jada. Jada, artinya semacam sihir untuk mendatangkan hujan, angin ribut, atau badai yang menguntung mereka di medan tempur, dipanggil lewat mantra atau dengan cara menata batu-batu yang dipercaya amemiliki kekuatan magis.
Quduka Beki adalah seorang dukun. Samuka, Quduka Beki melakukan hal yang ingin diperbuatnya.
Karena tidak ada yang terjadi, dia berpaling kepada pasukannya dan berteriak, “Langit tidak memihak pasukan aliansi! Kita kembali saja!”
Lantaran murka, Jamuka menghunus pedangnya untuk memenggal kepala Quduka Beki. Pada saat ini, Jalin Buka, yang berdiri di sebelah Jamuka, memegangi tangannya dan menghentikannya, “Jangan! Jika kita berkelahi sendiri di sini, kita semua akan mati!”.
Waktunya tepat bagi Temujin. Setelah melihat ketidak harmonisan mereka, Temujin meluncurkan serangan besar-besaran.
Pasukan aliansi, yang dilanda disharmoni antar suku dan tidak jelas alur komandonya, hancur binasa. Pretempuran tejadi di Koyiten, di dekat Gunung Chiqurqu. Mayat prajurit aliansi bertebaran di padang luas. Para kepala suku yang kalah, beserta prajurit mereka yang tersisa, berpencar ke segala arah. Itulah akhir dari masa kekuasaan Jamuka yang pendek dan momone ketika impiannya hancur berantakan. Saat itu 1201 M, Tahun Ayam.
3. JEBE, ANAK BUAH BARU TEMUJIN
Para prajuri dari kelompok aliansi yang takluk berlarian ke kampung halaman masing-masing, dipimpin oleh kepala suku atau pemimpin mereka. Wang-Khan mengejar Jamuka. Setelah kehilangan lebih dari setengah pasukannya, Jamuka menyusuri Sungai Ergune untuk mencoba melarikan diri. Saat para prajurit Wang-Khan semakin dekat, Jamuka dan prajuritnya kabur ke hutan di gunung dekat sana. Ke 25.000 prajurit Wang-Khan mengepung gunung itu. Setelah melawan selama lima hari, Jamuka akhirnya tunduk, turun gunung dan menyerahkan diri.
Sementara itu, Temujin melacak jejak kedua orang Taichut, Achu Bagatur dan Qodun Orchang. Mereka menempuh rute sepanjang sungai Onon. Akhirnya pasukan Temujin berhasil menyusul mereka dan mendaratkan pukulan terakhir. Kepala Achu dipenggal oleh pedang sabit Bogorchu dan pinggal Qodun Orchang ditombak oleh Mukali. Prajurit Temujin lantas memenggal Qodun Orchang yang terjatuh. Dengan cara inilah, sisa-sisa kaum Taichut dibinasakan. Mayat orang-orang Taichut terhampar di bantaran sungai Onon dan pada padang di dekat sana.
Ribuan gagak, terpikat oleh bau darah manusia, menutupi langit sembari menghasilkan suara yang memekakan. Saat itu sudah petang dan senja hampir tiba.
Pagi-pagi sekali keesokan harinya, Temujin membariskan para serdadunya. Mereka telah mendirikan perkemahan tidak jauh dari medan tempur. Temujin sedang menginspeksi pasukan, yang dibariskan secara teratur dengan panji-panji di depan mereka. Kasar, Bogorchu, dan Jelme mengikutinya. Matahari terbit memancarkan cahaya paginya yang kuat ke sekujur tubuh mereka. Pada saat ini, tiba-tiba saja, bunyi panah yang berdesing tertangkap oleh gendang telinga Temujin. Secara reflek, dia pun menundukkan kepala. Berikutnya, disertai bunyi berdebum, sebuah anak panah tertancap dalam-dalam di sebelah kiri tengah leher kduanya.
Setelah diserang, kudanya mendompak, meringkik, kemudia jatuh ke samping. Temujin ikut jatuh bersama kudanya. Hal tersebut menimbulkan kegemparan di antara para prajuritnya.
Kasar, Bogorchum dan Jelme, yang ikut serta dalam inspeksi, turun dari kuda mereka dan menutupi Temujin dengan tubuh mereka untuk melindunginya, Kalau-kalau terjadi serangan kedua.
Beberapa lama kemudian, Bogorchu dan Jelme membantu Temujin bangun dan bertanya, “Tuan, apa Anda baik-baik saja?”
Temujin menjawab sambil mengebuti dirinya, “Kurasa aku baik-baik saja.”
Kasar dan beberapa lusin prajurit berkuda melesat ke hutan pinus di bukit dekat sana. Dari tempat itulah, anak panah berasal.
Temujin berteriak kepada mereka, “Aku menginginkan dia hidup- hidup!”
Kuda Temujin terus meringkik karena kesakitan, dan lukanya terus mengucurkan darah. Anehnya, hewan itu tidak bisa menggerakkan kaki belakangnya sama sekali, atau pun bagian tubuhnya yang lain.
Kuda itu bernama Qula, dan ia adalah kuda tunggangan yang bagus.
Badannya diselimuti bulu mulus keemasan yang berkilau, sedangkan moncongnya putih dan surai serta ekornya hitam legam. Qula luar biasa cepat dan gigih. Jarak dan kecapatan yang bisa ditempuhnya dua kali lipat dibandingkan dengan kuda lain. Ia adalah kuda yang paling disayang Temujin. Dengannya pulalah, Temujin menghabiskan paling banyak waktu di medan tempur.
Temujin memanggil dokter hewan militer spesialis kuda. Qaraldai, dokter hewan militer sekaligus pembiak kuda, memeriksa luka dan menggelengkan kepala.
“Tuan, kabar buruk! Lehernya patah. Ia tak bisa menggerakkan anggota badannya di bawah leher.”
Temujin memejamkan mata dan menarik nafas dalam-dalam. Dia bertumpu pada satu lutut dan berkata sambil mengelus kepada si kuda,
“Terima kasih banyak Qula. Kau sudah banyak membantuku.”
Binatang itu terus menjerit kesakitan. Sambil berdiri eplan-pelan, Temujin berkata kepada anak buahnya dengan ekspresi sedih, “Bebaskan dia dari rasa sakit.”
Pada saat ini, si tersangka penembak gelap, dengan tangan terikat di belakang punggung diseret ke hadapan Temujin oleh Kasar dan ara Prajuritnya. Temujin memperhatikannya baik-baik. Meskipun tubuhnya tinggi, dia kelihatannya masih muda, kira-kira empatbelas atau lima belas tahun.
Temujin berkata kepada Kasar, “Akan kutanyai dia sendiri. Bawa di ke hadapanku.”
Temujin menanyai pemuda itu di bawah awning, yaitu tenda terbuka yang semua sisinya digulung ke atas,. Temujin memandang pemuda itu lekat-lekat selagi dia berlutut dengan kedua tangan terikat di belakangnya.
“apa alasannya membunuhku, sementara semua rekanmu sesama prajurit sudah meninggal di medan tempur layaknya lelaki sejati?”
Si penembak gelap mengangkat kepala dan menjawab dengan suara jernih, sambil menatap lurus ke arah Temujin, “Aku ingin menuntaskan misiku!”
Temuji menanyai pemuda itu sambil memandang matanya, “Apa misimu?”
Dia menjawab tanpa keraguan, “Membunuh Temujin Khan.”
Para sta di sekitar kursi Temujin nampaknya frustasi dan terusik oleh jawaban lugas si pemuda. Mereka slaing pandang, Pemuda itu sepertinya tak kenal takut, walau pun dia akan kehilangan kepalanya beberapa saat lagi.
Temujin mengamatinya abeberapa lama, kemudian menanyainya dengan suara pelan dan lembut, “Berapa usiamu?”
“Empat belas.”
“Tidakkah kau takut akan kematian?”
Si Pemuda menjawab dengan suara jernih, :Aku takut pada kematian, sama seperti orang lain. Namun, ada sesuatu yang lebih ku takuti daripada kematian.”pa yajikanku dibunuh oleh prajurit Temujin. Jadi, menurutku membunuh Temujin adalah tanggun jawabku.”
Lagi-lagi terjadi kegemparan di antara staf Temujin. Temujin bertanya dengan suara lembut, “Siapa majikanmu?”
“Majikanku Todogen Girte.”
“Apa kau orang Taichu?”
“Bukan, orang tuaku kaum Besut.”
Kaum besut adalah orang-orang bawahan kaum Taichut. Dahulu, kaum Taichut mengalahkan orang-orang Besut dan memperbudak mereka. Anggota suku yang diperbudak kemudian mengurus ternak majikan mereka dan menyingsingkan lengan baju untuk melakukan pekerjaan rumah tangga serta semua pekerjaan kotor dan kasar lainya.
Selain itu, pada masa perang, kaum yang diperbudak harus bertarung untuk mereka sebagai bagian dari pasukan mereka. Pada saat itu, di Dataran Mongolia, para budak merupakan kelompok orang terendah dalam struktur sosial. Para budak tersebut tidak memiliki kebebasan.
Temujin menanyainya sambil menatap tepat ke matanya, “Apa kau tahu bahwa orang tuamu adalah budak kaum Taichut?”
Si pemuda menjawab sambil menghindari pandangan mata Temujin.
“Aku tahu tapi, Todogen Girte adalah majikanku.”
Temujin terkesan akan kesetiaannya. Kesetian adalah sifat terpenting yang dipertimbangkan Temujin ketika dia mengevaluasi anak buahnya.
Temujin berbisik kepadanya, “Di antara kami tidak ada budak. Kenapa kau tidak bergabung dengan kami?”
Si pemuda berpikir-pikir sebentar dan menjawab, “Maaf. Aku tidak siap untuk itu. Aku tidak siap menerima majikan baru.”
Temujin berdiri dan mendadak berkata, “Kau akan dipenggal. Apa ada hal lain yang ingin kau katakan?”
Si pemuda menjawab dengan tekad bulat sambil menatap tepat ke arah Temujin, :”Kau bisa mengambil nyawa ku, tapi tidak pikiranku.”
Temujin mengeluarkan tawa terkekeh-kekeh nyaring. Swsaar kemudian, Temujin menanyai pemuda itu, sambil menunjukkan ekspresi serius, “Siapa namamu?”
“Jirkodai.”
Temujin memerintahkan anak buahnya agar membebaskan pemuda tiu serta memberinya seekor kuda, makanan untuk tiga hari, dan sekantong susu domba. Temujin berkata kepadanya saat perpisahan.
“Pergilah! Kau sekarang bebas! Kesetiaanmu pada majikanmu patut dihargai dan dipuji. Carilah majikan baru dan janganlah berubah pikiran.”
Temujin memperhatikannya menghilang ke cakrawala yang jauh.
Tiga hari kemudian, si pemuda kembali. Saat Bogorchu melaporkan kembalinya si pemuda, Temujin memperbolehkannya masuk.
“Kenapa kau kembali?”
Pemuda menjawab sembari berlutut dan menundukkan kepala. “Saya di sini untuk menyerahkan pikiran dan raga saya kepada Anda.”
Temujin senang. Seorang berpikiran lurus senantiasa mengundang orang lain yang juga berpikiran lurus. Temujin pun menerimanya, “Mulai saat ini, namamu Jebe. Kau membutuhkan nama baru karena kau telah terlahir kembali.”
“Jebe” berarti mata panah dalam bahasa Mongol. Irasat dan mata tajam Temujin membuatnya tak pernah keliru dalam mengevaluasi dan menilai anak buahnya. Belakangan, Jebe mengepalai 10, lalu 100, dan akhirnya 10.000 anak buah, sebab dalam pasukan dan masyarakat pimpinan Temujin, hanya kemampuan dan kompetensilah yang diperhitungkan. Pada akhirnya, dia menjadi salah seorang pemimpin, beserta Subedai, dalam penaklukan Rusia.
4. AKHIR RIWAYAT KAUM TARTAR
Sememnjak awal masa, kaum Tartar sepertinya telah menguasai kawasan Timur Dataran Mongolia. Pada satu saat, mereka adalah suku terkuat dan terkaya di dataran tersebut. Populasi mereka berjumlah kira- kira 350.000 hinggal 400.000 orang, atau 70.000 keluarga. Kampung halaman mereka berlokasi di sekitar Danau Kulen dan Danau Buyr, yang terletak di antara Gunung Khingan dan Sungai Kerulen. Terdapat sumber daya alam berlimpah berupa perak di area mereka sehingga mereka membuat segalanya, perkakas, perangkat dapur, dan bahkan buaian bayi, dari perak. Mereka sudah dikenal oleh dunia luar sejak abad ke delapan, al hasil “Tartar” menjadi nama yang mewakili semua orang di dataran rendah tersebut dan bahkan orang-orang Asia Tengah juga. Mereka adalah singan kuat bagi orang-orang Mongol dan sudah lama bersaing demi kendali atas wilayah tersebut. Perselisihan di antara mereka telah memburuk secara kian dramatis sejak orang-orang Tartar menangkap Ambakai, Khan kedua bangsa Mongol primirif, karena kesepakatan rahasia dengan orang-orang Juchid dari Kekaisaran Chin, dan menyerahkan sag khan kepada orang-orang Juchid. Mereka kuta, kaya, dan berpembawaan agresif, tetapi karena mereka terpecah belah ke dalam banyak klana kecil
dan kurang harmonis di antara sesama mereka sendiri, kekuatan mereka jadi melemah.
Temujin telah berjaya. Sekarang, dia menutuskan bergerak ke tahap berikutnya dalam rencananya untuk mempersatukan Dataran Mongolia, yaitu mengenyahkan kaum Tartar. Temujin tahu bahwa selama mereka masih ada, pergerakkannya takkan mudah. Bertahun-tahun lalu, Temujin telah mengurangi sebagian kekuatan mereka dengan cara membunuh Megujin Seultu, bersama Wang-Khan dan Wanyen Xiang dari Chin, Tapi kekuatan inti mereka masih kokoh. Temujin tahu hal tersebut akan menjadi pekerjaan berat. Dia juga tahu dirinya memerlukan persiapan menyeluruh. Setelah kembali dari Koyiten. Temujin menghabiskan musim dingin dengan cara beruru di seputar Pegunungan Kurelku. Ketika musim semi tiba, Temujin mulai beraksi. Emujin memperkirakan bahwa butuh enam bulan untuk persiapan. Hal pertama yang harus dia lakukan adalah meyakinkan rakyatnya bahwa mereka bisa menang.
Langit menganugerahiku kekuatan Untuk menguasai negeri ini;
Berkat kehendak langit, Dan dengan kekuatan langit, Musuh akan kukalahkan.
Pasukanku tak terkalahkan,
Dan mereka yang berkumpul di bawah Panji-panjiku, akan abadi,
Baju Zirah mereka’kan kebal terhadap tombak, Dan panah takkan mengenai mereka.
Di hdapan pengikutku,
Hanya ada kemenangan dan kejayaan, Dan anak-anak merka akan menikmati, Kemakmuran tak berkesudahan,
Dari generasi ke generasi.
Peraturan Temujin untuk para serdadunya amatlah ketat. Desertir dipenggal. Seseorang yang menolak mamatuhi perintah dari atasan mereka di medan tempur dipenggal. Ketika sebuah unit yang terdiri dari sepuluh prajurit menyerang musuh, dan jika lebih dari ddua orang di antara mereka jauh di depan yang lainnya, sisanya harus mengikuti untuk membantunya. Jika atidak, yang tertinggal akan dipenggal. Keika pasukan tengah bergerak maju, jika eseorang menjatuhkan senjata atau barangnya, orang berikut di belakangnya harus memungut benda tersebut dan menyerahkannya kembali kepada si pemilik. Jika dia mengabaikan benda itu atau tidak mengembalikannya, dia akan dipenggal. Komandan unit, kecil atau pun besar, yang secara sengaja membuat laporan palsu atau menyembunyikan kesalahannya, akan dipenggal. Semua aturan ini dipertegas dan diperinci seiring dengan semakin besarnya pasukan Temujin. Temujin merancang sistem kenaikan pangkat yang akurat dalam pasukannya, berdasarkan kemampuan, kompetensi, dan kapasitas setiap rpajurit. Prajurit yang dianggap berjasa paling besar memperoleh posisi pemimpin. Posisi mereka dapat digantikan kapan saja oleh seseorang yang lebih layak.
Setiap prajurit Temujin mendapatkan dua busur, satu wadah berisi anak panah, satu tombak, satu laso, satu pedang sabit, satu belati, satu
kapak perang, satu gada, satu tameng bundar, dua kantong kulit domba untuk minuman, satu jarum tisik untuk memperbaiki barang dari kulit, dan satu pisau genggam kecil. Semua benda ini disimpan dan diraat bagaikan tubuh sang prajurit sendiri dan siap dipakai kapan saja. Inspeksi acap- acap kali dilakukan oleh Temujinatau panglima berpangakt tinggi, dan apabila ditemukan masalah, bukan Cuma si pemilik yang dihukum, melainkan juga Komandannya.
Bekal untuk pertempuran terutama berupa dendeng, yang bisa tahan beberapa tahun tanpa menjadi basi. Mereka bisa langsung memakannya atau merebusnya. Temujin memerintahkan penggunaan sanggurdi pendek bagi para prajuritnya, yang memungkinkan tubuh mereka bergerak lebih bebas ketika mereka terlibat dalam pertarungan satu lawan satu di medan tempur. Semua prajuritnya diperbekali pakaian dalam sutra, yang menghambat penyebaran racun ketika mreka ditembak panah beracun, dan pada saat bersamaam membuat mata panah mudah dilepaskan, dengan hanya meninggalkan luka kecil. Ini disebabkan, dalam banyak kasus, kain sutra ikut masuk, beserta mata panah, ke tubuh prajurit sehingga memperlambat penyerapan racun.
Pada musim gugur, Temujin berderap untuk menyerang kaum Tartar.
Para penabuh genderang Temujin menandakan dimulaiknya perang, menggebuk nacara, atau genderang timah, bersama-sama. Pasukan Temujin terdiri dari 7.000 anak buahnya sendiri, 5.000 anak buah Altan, 4.000 anak buah Quchar, 3.000 anak buah Daritai, 2.000 orang uruud bawahan Julchedai, 2.000 orang Mangkud bawahan Quyilda, menjadikannya berjumlah totoal 23.000 orang. Kaun Tartar mempunyai 30.000 orang dari lima klan yang berlainan. Yaitu klan Tartar Alchi, Tartar Chagaan, Tartar Tutaut, Tartar Aluqay, dan Tartar Tete.
Temujin mengdakan rapat dengan pemimpin setiap kelompok dan para panglima tingginya. Setelah raapt, Temujin memberikan instruksi penting.
“Perang ini mungkin saja apelik. Kita harus bergerak di bawah satu alur komando langsung. Dengan cara itulah, kita bisa menjadikan diri kita tetap kuat. Pergerakan individual tak diperbolehkan. Sampai musuh sudah hancur binasa, tidak ada satu kelompok pun yang boleh keluar dari bari pertahanan karena alasan apa pun. Seusai perang, distribusi akan dilakukan secara adil.”
Hingga masa itu, ketika banyak suku berpartisipasi dalam perang yang sama, tiap suku atau kelompok cenderung keluar dari baris pertahanan dalam rangka mengejar keuntungan mereka sendiri. Target utama mereka adalah pampasan perang. Temujin melanjutkan.
“Kalau-kalau tak-tik kita tidak terlalu berhasil, kita harus kembali ke titik awal. Dengan cara itulah, kita dapat berkonsolidasi dan mencoba ulang. Siapa pun yang berusaha kabur akan dipenggal.”
Temuji dan pasukannya berderap lebih dari 800 kilometer ke arah timur, kemudian menyeberangi Sungai Khalkha di dekat Danau Buyr.
Mereka berjumpa pasukan Tartar di bantaran Dalan Nemulges, yang merupakan cabang sungai Khalkha. Pasukan Tartar memang kuat, tetapi mereka tidak dapat menandingi pasukan Temujin yang terorganisasi dengan baik. Mereka ditaklukkan dan mundur ke bantaran Ulqui Selugejid, markas mereka, sembari meninggalkan mayat rekan mereka sesama
prajurit yang tak terhitung jumlahnya. Temujin mengejar dan menghancurkan pasukan utama mereka, tetapi belakangan mendapati bahwa jumlah Prajurut Tartar yang kabur setelah kalah terlalu banyak.
Dia tidak dapat mengabaikan hal ini. Temujin pun berusaha untuk terus mengejar mereka, tetapi Altan, Quchar, dan Dariati tidak mengikutinya.
Karena target utama mereka adalah pampasan dan rampasan perang, mereka menyibukkan diri dengan car mengambil ternak dan harta benda yang ditinggalkan kaum Tartar, mengabaikan peringatan Temujin. Temujin tdaik bisa terus bergerak. Temujin yang murka mengutus Jebe dan Qubilai untuk merampas semua pampasan yang telah mereka ambil.
“Perintah Khan! Kami harus merampas semua pampasan yang telah kalian ambil dari kaum Tartar. Kami akan menyimpan semuanya sampai Khan memberikan instruksi selnajutnya.”
Jebe dan Qubilai dengan patuh melaksanakan perintah Khan. Altan dan Quchar mulai sebal karena telah mendukung Temujin sebagai khan mereka. Mereka mulai meyakini bahwa Temujin sedang berusaha mematahkan tradisi lama serta menginterveensi klan atau keompok individual, yang merupakan entitas independen. Hanya Daritai yang datang untuk minta maaf karena tidak menepati janjinya. Permintaan maafnya diterima, tetapi belakangan dia harus membayar atas sikapnya yang tidak setia.
Temujin mengadakan pertemuan rahasia dengan segelintir orang untuk mendiskusikan rencana mendatang terkait orang-orang Tartar yang tersisa. Temujin menanyakan kepada mereka.
“Kita harus bicara tentang orang-orang Tartar yang tersisa. Harus kita apakan mereka? Jika kalian punya pendapat, silahkan beritahu aku.”
Daritai mengutarakan .opininya.
“Kaum Tartar sudah menjadi musuh bebuyutan kita selama bergenerasi-generasi. Meraka tidak layak menerima belas kasih kita. Kita harus memperlakukan mereka sama seperti kita memperlakukan kaum Taichut. Orang-orang yang lebih tinggi dari roda gerobak harus dienyahkan.”
Tak seorang pun menentang Daritai. Mereka semua sepakat untuk tak menerima penyerahan diri orang-orang Tartar. Artinya mreeka akan membinasaan kaun Tartar, membunuh semua laki-laki Tartar yang lebih tinggi daripada roda gerobak.
Kira-kira sepuluh hari kemudian, setelah mengonsolidasikan para prajuritnya, Temujin melakukan mars ke tempat berkumpulnya puluhan ribu orang Tartar. Kaum Tartar sudah membangun benteng kuat di sebuah bukit tinggi, kira-kira 130 kilometer dari titik awal mars Temujin. Setelah melihat benteng tersebut, Temujin mengetahui secara intuitif bahwa mereka akan melakukan perlawanan jangka pendek, sama saja dengan bunuh diri, sebab mereka membangun markas di puncak bukit, yang ketersediaan airnya langka. Temujin mencoba menyerang dari segala arah, tetapi perlawanan mereka sangatlah sengit. Banyak korban yang jatuh di pihak Temujin. Jumlah korban lebih besar daripada yang mereka derita pada dua pertempuran sebelumnya. Temujin memutuskan untuk mencoba taktik tipu daya. Prajurit Temujin mulai berteriak ke benten di puncak bukit.
“Menyerahlah! Kalian akan diselematkan!”
Yeke Cheren, kepala suku Tartar yang terakhir, mendengus ketika dia mendengar itu. Dia menyuruh anak buahnya baas berteriak kepada par aprajurit Temujin di kaki bukit, “Jangan buat kami tertawa! Kami tahu Khan mu memutuskan takkan menerima penyerahan diri kami! Kami akan bertarung hingga pria terakhir!”
Temujin terperanjat mendengar hal itu. Bagaimana caranaya sampai mereka mengetahui keputusan rahasia kai? Siapa yang membocorkannya? Siapakah si Penghianat? Hanya delapan rpia yang menghadiri rapat rahasia itu, termasuk Temujin. Mereka adalah Temujin sendiri, Altan, Quchar, adiknya Kasar, saudara tirinya Belgutei, pamannya Daritai, adiknya Kachun, dan adiknya Temuge Ochigin. Walau demikian, Temujin tidak serta merta mulai mencari si penghianat.
Temujin semata-mata menunggu sampai orang-orang Tartar kehabisan air. Beberapa hari kemudian, saat pagi, mereka amembuka gerbang beneteng dan melakukan serangan habis-habisan. Setelah pertempuran sengit, benteng tersebut jatuh ke tanagn Temujin. Akan tetapi, banyak korban jiwa di pihak Temujin. Banyak prajurit musuh yang bersembunyi di antara mayat rekan mereka sesama prajurit, lalu menyerang dengan belati yang disembunyikan di dalam lengan baju mereka, ketika prajurit Temujin melangkah masuk ke beneteng. Temujin kehilangan satu panglima berpangkat tinggi dan banyak sekali prajurit.
Seua laki-laki Tartar yang lebih tinggi daripada roda gerobak dibunuh.
Itulah akhir riwayat kaum Tartar.
5. TEMUJIN BERTEMU YESUI
Temujin menerima laporan mengenai hasil perang dari Kasar.
Perkiraan jumlah musuh yang meninggal, 50.000; perempuan dan bayi Tartar yang ditangkap, kira-kira 90.000; jumlah orang Tartar yang melarikan diri, tidak diketahui; kuda yag diarampas sekitar 20.000, unta, sekitar 7.000; sapi 5.000; domba, kira-kira 200.000,- kambil 10.000.
Senjata, perhiasan, barang emas dan perak, bulu binatang, kulit, dan perlengkapan berkuda ditumpuk laksana gunung mustahil dihitung.
Korban jiwa di pihak Temujin terdiri dari 1.200 anak buah Temujin, 600 anak buah Altan, 400 anak buah Quchar, dan 350 anak buah Daritai, sehingga jumlah totalnya 2.550.
Temujin menanyai Kasar, “Bagaimana dengan kepala suku Tartar, Yeke Cheren?”
Kasae menjawab dengan ekspresi malu, “Keberadaannya tidak dikeetahui. Kami tidak bisa menemukan jenazahnya. Tampaknya dia telah melarikan diri bersama istri dan seorang putranya. Namun, kedua putrinya berada dalam tahanan kita.”
Temujin berpikir sesaat, kemudian berkata kepada Kasar, “Bawa kedua putrinya ke hadapanku.”
Sesaat kemudian, kedua putri Yeke Cheren dihaturkan ke hadapan Temujin. Mereka kelihatan masih muda, kira-kira delapan belas atau duapuluh tahun, cerdas, dan cantik luar biasa. Temujin memperhatikan kedu perempuan itu baik-baik. Walau pun mereka terlihat letih karena lamanya perang, mereka masih memiliki keanggunan dan martabat layaknya perempuan bangsawan. Temujin mempersilahkan mereka duduk dan memerintahkan pelayan di dekatnya untuk membawakan mereka teh.
Saat Jelme hendak menggeledah mereka untuk mencari senjata yang
mungkin disembunyikan, Temujin menghentikannya, “Tidak apa-apa, Tinggalkan kami sendiri.”
Temujin menawari mereka teh yang baru saja diantarkan pelayan.
Temujin memandangi para prajurit dan kuda-kuda yang melintas di depannya dan menyesap teh, di bawah awning dari tenda yang keempat sisinya digulung ke atas, Cahaya matahari pagi yang cerah tumpah ruah ke sekujur tubuh para prajurit, kuda, dan ke seluruh kamp.
Temujin menyesap tehnya laig, yang terbuat dari melati tambah sedikit susu segar, kemudian menanya kedua aperempaun itu, “Apa yang terjadi pada orang tua kalian?”
Perempuan yang tampaknya merupakan sang kakak menjawab,
“Kami tidak tahu persis. Kami mencoba mencari mereka sendiri, tapi tidak bisa.”
Temujin bertanya, “Bagaimana dengan keluarga kaian sendiri?”
Apakah kalian berdua sudah menikah?”
Kali ini, si adik yang gmenjawab, “Kami berdua belum menikah. Akan tetapi, kakak perempuan saya mempunyai tunangan.”
Setelah menyesap teh lagi, Temujin bertanya, “Di mana dia?”
Si kakak menjawab, “Saya bahkan tidak tahu apakah dia masih hidup. Dia bersama saya sampai beberapa waktu lalu.”
Temujin diam saja selama beberapa waktu, lalu bertanya, “Siapa nama kalian?”
Si adik menjawab, “Namanya Yesui dan nama saya Yesugen.”
Temujin memberi tahu mereka bahwa dia akan mengembalikan mereka, “Kembali dan tunggulah, Aku akan memanggil kalian lagi.”
Temujin memerintahkan Jelme untuk menyediakan Yurt yang terpisah bagi mereka, empat pelayan perempuan, dan makanan istimewa, juga sepuluh prajurit penjaga untuk melindungi mereka.
Bau bacin mayat yang membusuk memenuhi udara, membuat Temujin dan para prajuritnya sulit bernafas selagi berada di medan tempur. Prajurit Temujin mengkremasi sebagian, dan menggali lubang besar serta menguburkan sisanya. Temujin mengadakan pemakaman masaal untuk para prajuritnya yang tewas. Di atas bukit yang menghadap ke padang tak berujung, yang tadinya adalah medan tempur, didirikan sebuah altar yang dilengkapi pedupaan perunggu besar. Kokochu, pendeta resmi dalam pasukan Temujin, berdoa dan membakar seekor domba untuk sesaji, membubungkan asapnya ke langit. Setelaelm serta sabuknya dan berdoa :
Sejarah umat manusia adalah serajah peperangan ..
Tab Tenggri, pemilik segalanya,
Berada di tempat yang terlalu jauh di atas sana, Dan ibu bumi teruus diam membisu.
Kendati manusia fana teah diberi jatah usia,
Hanya mereka yang mati dengan pedang di tangan, Yang merampungkan hidupnya.
Mereka yang menaati dan membangkang kehendak langit, Akan senantiasa hadir,
Sehingga menjadikan dunia ini medan tempur tak berkesudahan.
Mereka gemetar ketakutan, Karena takdir mereka sendiri,
Yang takkan pernah bisa mereka hindari.
Wahai Tab Tenggri yang maha agung.
Apakah kiranya kebenaranmu?
Seuasi ritual, semua kesatria berjalan di antara dua api unggun besar yang menyala-nyala, untuk penyucian dan perlindungan dari roh jahat.
Api dikeramatkan oleh orang-orang Mongol.
Temujin dan para prajuritnya meninggalkan medan tempur dan, setelah melakukan perjalanan hampir seharian, mereka memilih lokasi perkemahan sekitar 160 kilometer dari titik awal mereka. Mereka merayakan kemenangan di sana. Mereka membuat api unggun, memanggang daging, minum-minum, dan menari. Adu gulat digelar di sana-sini. Temujin mengatur agar sebuah meja diletakkan di luar dan menonton adu gulat sembari minum bersama Yesui dan Yesugen di kaan kirinya. Banyak penonton yang berkerumun dan menikmati tontonan berupa pertandingan gulat berteriak-teriak dan mengepalkan tinju ke udara, menyemangati pihak yang mereka dukung.
Pada saat ini, Temujin memperhatikan bahwa Yesui menjadi gugup dan kesal, entah arena alasan apa. Sesekali dia bahkan mendesah dalam- dalam. Temujin menoleh ke sana ke mari dengan hati-hati. Temujin menemukan seorang pria, tidak jauh dari mejanya, tengah melirik Yesui alih-alih menonton pertandingan. Dia tampaknya sedang berusaha mengirimkan semacam pesan kepada Yesui. Dia tampak masih muda, tampan, dan anggun. Temujin memanggil Bogorchu dan Mukali serta memberi perintah,
“Suruh mereka berbaris per suku.”
Adu gulat sementara ditunda. Sesuai dengan perintah Temujin, Bogorchu dan Mukali menyuruh orang-orang di sekitar meja. Temujin berbaris berdasarkan suku masing-masing. Ada barisan yang hanya diisi satu orang. Pria itulah orangnya. Temujin memerintahkan mereka untuk menari tahu siapa dia.
Pria itu memberitahu Bogorchu dan Mukali, yang mendatanginya,
“Aku seroang Tartar. Aku bertunangan dengan Yesui, Putri Yeke Cheren.
Karena sekarang perang sudah usai, aku datang untuk menjemputnya.”
Pria yang cuek ini telah kabur dari medan tempur dan kembali tanpa menyadari bahwa semua rekan sesukunya telah dihabisi. Terlebih lagi, dia meminta tunangannya dikembalikan. Ketika Temujin mendengar ini, dia tercengang. Dia tak mempercayai pendengarannya. Temujin bangkit perlahan-lahan dan berjalanmenghampirinya. Sambil menatap matanya, Temujin berkata kepadanya, “Tidakkah kau tahu bahwa sukumu telah dibinasakan? Semua laki-laki sesukumu yang lebih tingi dari roda gerobak telah dibunuh. Ke mana saja kau dan ke mana kau kabur? Semau rekan sesukumu bertarung sampai pria yang terakhir. Kau bahkan bukan orang Tartar! Kau Cuma belatung!”
Temujin berteriak kepada Bogorchu dan Mukali, “Singkirkan dia dari hadapanku!”.
Pria itu diseret pergi dari tempat itu oleh Bogorchu dan Mukali, kemudian dipenggal. Tidak sanggup menyembunyikan perasaannya yang tidak senang, Temujin berdiri, mengosongkan isi gelas anggurnya dalam satu tegukkandan berkata kepada Yesui, “Maafkan aku!”
Temujin pergi dari sana dan kembali ke tendanya. Malam itu, Temujin tidak bisa tidur. Terakdang orang tidak bisa memahami dirinya sendiri sekali pun. Sementara Temujin berbolak-balik di tempat tidurnya, suara teriakan pelan seorang prajurit penjaga sampai ke telinganya. Prajurit penjaga sekali pun tidak boleh melangkah masuk ke tenda Khan. Mreeka justru harus berteriak dari luar untuk melapor. Ketika aturan itu dilanggar, mereka didpenggal.
“Seorang perempuan ingin menemui Anda, Tuan! Saya harus berbuat apa?”
Temujin balas berteriak ke pintu, “Siapa namanya?”
“Dia bilang namanya Yesui.”
Temujin mengijinkannya masuk. Yesui berlutut di depan tempat tidur Temujin dan berkata dengan suara pelan, “Saya di sini untuk menyerahkan pikiran dan raga saya kepada Anda, Tuan. Saya tak pernah menyadari bahwa mantan tunangan saya demikian pengecut dan tidak jantan. Seandainya Anda menerima saya sebagai pelayan terendah Anda sekali pun, saya akan sangat bersyukur.”
Temujin memperhatikan Yesui sambil duduk di tempat tidurnya.
Sosoknya di bawah sorotan lampu Arab merupakan perwujudan kecantikan itu sendiri. Mata gelapnya yang berkilau di bawah alisnya, menciptakan kesan layaknya camar yang sedang terbang, menunjukkan bahwa dia mengatakan yang sesungguhnya. Temujin berdiri dan mengulurkan tangan. Sambil menggandeng tangan Yesui, Temujin membantunya berdiri. Temujin memeluknya sambil berkata, “Oh! Yesui.”
Temujin tidur dengan Yesui malam itu. Malam itu pun terasa panjang.
Belakangan, Temujin menjadikan Yesui istri keduanya, setelah Borte.
Seorang laki-laki bisa mencintai lebih dari satu perempuan.
6. MUSUH BARU TEMUJIN : ALTAN DAN QUCHAR
Sesudah Temujin kembali ke markas besarnya di dataran rendah dekat Gunung Kurelku, hal pertama yang dia lakukan adalah mendistribusikan pampasan perang, menghadiahi dan menghukum berdasarkan jasa dan kesalahan. Dalam sistem Temujin, jika seseorang berjasa, dia diberi imbalan dan, sebaliknya, seseorang yang melakukan kesalahan harus bersiap-siap untuk hukuman yang pasti akan datang. Dia telah menyempurnakan sistem ini.
Temujin memulai investigasi diam-diam untuk mencari tahu siapakah si penghianat yang membongkar rahasia. Pertama-tama, Temujin mempertimbangkan Altan, Quchar, dan Daritai, yang pernah bertindak tak sesuai dengan janji mereka sendiri dan melanggar perintahnya. Walau demikian, Temujin tidak bisa menemukan motif gamblang sehingga mereka berbuat begitu. Merekalah yang sejak awal, berfokus untuk memusnahkan kaun Tartar. Berikutnya, Temujin memikirkan siapa saja yang punya hubungan dengan orang-orang Tartar. Dari sudut itu, Belguteilah yang pertama-tama mengemuka. Istri Belgutei adalah orang Tartar. Orang lain mungkin mengira Belgutei bisa saja melakukannya, tetapi indera ke enam Temujin memberitahuinya bahwa Belgutei tidak berbuat demikian. Kalau begitu, siapa yang melakukannya dan apa sebabnya?
Temujin menemui Belgutei secara langsung alih-alih menyuruh Kasar, kepala mata-mata, untuk menemuinya. Temujin dudk berhadapan dengan
Belgutei. Temujin menanyai Belgutei sambil menatap tepat ke matanya,
“Kaukah yang membocorkan rahasia itu?”
Belgutei menunduk beberapa lama tanpa berkata apa-apa. Dia kemudian mengangkat kepala pelan-pelan dan berkata dengan suara lembut, sembari menatap tepat ke arah Temujin, “Temujin, kalau aku beriat menghianati dan melukaimu, aku pasti sudah lama melakukannya.
Terutama ketika kau membunuh kakakku Bektor, aku bisa saja menganggapmu sebagai musuhku. Kalau kau mencurigaiku sekarang, aku tidak punya bukti untuk menyangkalnya. Aku semata-mata merasa sedih.”
Temujin memegang tangannya dan berkata, “Belgutei! Menurutku bukan kau pelakunya. Tapi, aku butuh bantuanmu. Pura-pura sajalah kau melakukannya. Hukumannya sangat ringan. Dan jangan tanya aku alasannya. Dengan cara itulah, kau dapat membantuku.
Mereka saling pandang. Akhirnya, Belgutei mengangguk, seolh-olah dia telah membaca pikiran Temujin.
Keesokan harinya, Temujin menyelenggarakan rapat resmi bersama sekitar seratus kepala suku, pemimpin kelompok, dan kesatria berpangkat tinggi untuk pelaporan hasil perang, epncapaian, imbalan, hukuman, dan garis besar penditribusianpampasan perang. Kasar melaporkan semua statistik korban perang per kelompok dan suku.
Temujin mengeluarkan maklumat berikut atas nama khan “
Pampasan perang akan didistribusikan kepada prajurit secara setara, tanpa memperdulikan suku, klan, atau kelomok asal mereka.
Keluarga prajurit yang tewas akan memperoleh tiga kali lipat bagian jumlah yang diberikan kepada kepala suku, atau pemimpin kelompok, akan dialokasikan berdasarkan jumlah prajurit yang turut serta dalam pertempuran dan banyaknya anak buah yang meninggal di medan tempur.
Altan, Quchar, dan Deritei telah memisahkan diri demi rencana egois mereka sendiri dan membangkan perintah khan. Oleh sebab itu, setengah jatah mereka akan disita.
Barang-barang yang disita akan disimpan sebagai harta bersama.
Seusai rapat resmi, Temujin mengadakana rapat dean kerabat yang terpisah untuk menghukum belgutei, yang didpercaya telah membongkar keputusan rahasia.
“Belgutei tak sengaja membocorkan keputusan rahasia sehingga akhirnya sampai ke telinga musuh. Sebagai hukuman, dia tidak diperbolehkan menghadiri rapat Dewan kerabat selama setahun dan juga tidak diperbolehkan minum otok selama setahun mulai hari ini.”
Otok adalah minuman beralkohol yang digunakan orang-orang Mongol dalam upacara mengenang leluhur. Mereka acapkali meminumnya setelah upacara, sesuai dengan urutan arti penting atau keududukan dalam garis keturunan, untuk menegaskan bahwa diri mereka adalah bagian dari keluarga besar. Belgueti menerima keputusan ini tanpa berkeberatan.
Altan dan Quchar mengdakan pertemuan rahasi. Mereka menggerutu kepada satu sama lain tentang kebijakan Temujin dan cara mereka didperlakukan olehnya. Altan berujar, “Temujin mencoba menjadidkan dirinya raja yang menguasai kita. Sungguh konyol! Siapa yang
mendukungnya menjadi Khan? Kita orangnya! Bisa-bisanya dia memperlakukan kita seperti ini? Seandainya kita meninggalkannya, dia sama seperti elang tak bersayap atau harimau tak bercakar. Kuharap dia tau itu.”
Altan menggerutu dan Quchar bersimpati dengannya.
“Dia mencoba mencoba merebut kemerdekan kita. Itulah persoalannya. Menurutku sudah waktunya kita tinggalkan dia.”
Pada saat itu di dataran Mognolia, posisi khan bermakna tak lebih dari sekedar konduktor operasi di medan tempur. Ketika mereka menghadapi musuh bersama atau mengejar tujuan yang sama, mereka memilih pemimpin dan menamainya khan. Khan yang terpilih akan diserahi kekuasaan tertentu atas gabungan suku tersebut, tetapi kekuasaannya terbatas dan setiap kepala suku masih memegang kuasa penuh atas rakyatnya sendiri.
Altan berkata kepada Quchar, “Jika kita meninggalkan Temujin, kita harus kemana?”
Quchar merenungkan hal ini, kemudian menjawab, “Menurutku kita sebaiknya bergabung dengan Wang-Khan.”
“Wang-Khan tidak ada bedanya dengan Temujin. Bukankah mereka sekelompok?” Altan balas bertanya sambil melemparkan ekspresi ragu.
Quchar menjelaskan, “Sebenarnya, kita akan bergabung dengan Jamuka, yang masih berada di bawah komando Wang-Khan. Kudengar ia masih baik-baik saja, meskipun kekuatan militernya telah dilucuti oleh Wang-Khan. Apabila kita bergabung dengannya, aku cukup yakin kita akan diterima. Dia adalah orang yang mengakui kemerdekaan tiap-tiap suku.”
Mereka pun sepakat untuk bergabung dengan Jamuka.
Jamuka menyambut Altan dan Quchar. Dia menerima mereka dengan riang, mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi dan memeluk mereka.
“Selamat datang kepada kalian berdua! Aku sungguh menghargai kedatangan kalian dan juga karena kalian tidak melupakanku.”
Jamuka menempelkan pipinya dengan pipi mereka, bergantian, tiga kali. Ini merupakan salam yang hanya mungkin dilakukan antara dua pihak yang saling mempercayai sepenuhnya. Musuh kemarin menjadi kawan hari ini. Jamuka mempersilahkan mereka duduk dan juga menawarkan teh hijau campur sedikit susu segar, yang baru saja diantarkan pelayan. Setelah menyesap teh, Jamuka berkata kepada Altan dan Quchar, sambil menyunggingkan senyum lebar did wajahnya, “Aku tahu kalian berdua pasti akan bergabung denganku. Temujin bukanlah orang yang tepat bagi kalian. Aku kenal baik dengannya. Dia berusaha menguasai semua kepala suku dalam gengamannya dan memperbudak mereka. Kita harus menghnetikannya.”
Quchar membuka mulut dan berkata, “Karena kami telah meninggalkannya, kekuatannya pastilah melemah. Namun dia terlalu dekat dengan Wang-Khan, itu bisa jadi masalah.”
Setelah lagi-lagi menyesap teh, Jamuka berkata, “Itu benar! Untuk mengenyahkan Temujin, kita harus memisahkan mereka terlebih dahulu.
Selama mereka masih bersama, tak seorang pun dapat melawan mereka.
Terlebih lagi, kita harus membuat mereka bertentangan. Sesudah mereka melawan satu sama lain sampai akhir dan keletihan setengah mati,
mengenyahkan mereka akan jadi lebih mudah daripada memungut kotoran sapi kering.”
Mendengar komentar Jamuka, ketiganya tertawa bersama-sama.
Sesaat kemudian, Altan menanyai Jamuka, dengan raut muka serius, “Apa kau punya gagasan bagaimana caranya memisahkan mereka?”
Setelah mengambil poci cina dan mengisi cangkirnya yang kosong perlahan-perlahan, Jamuka menyesap teh lagi dan berkata, “Serahkan itu kepadaku. Aku punya segala macam gagasan dan rencana di dalam sini.”
Saat mengucapkan ini, Jamuka menyipitkan mata dan mengetuk kepalanya dua kali dengan telunjuk kanannya. Ketiganya lagi-lagi mengeluarkan tawa terkekeh-kekeh nyaring.
Malam itu, Jamuka mengadakan Jamuan makan selamt datang untuk Altan dan Quchar. Para tamu memasuki tenda Jamuka satu demi satu, sesuai dengan urutan kedatangan mereka, Jamuka memperkenalkan semua tamu yan berdatangan kepada kepada Altan dan Quchar. Yang pertama adalah Qachiun Beki dar kaum Qadagin. Kaum Qadagin adalah musuh Temujin dan mereka sebelumnya telah mendukung Jamuka sebagai guru khan. Mereka bertukar salam dengan cara menyentuhkan pipi bergantian. Tamu berikutnya adalah Ebugejin dari kaum Noyakin. Dia berbuat serupa dengan Altan dan Quchar. Tamu-tamu berikutnya, yaitu Sugeetei, salah seorang kepercayaan Jamuka, dan Tooril, yang dahulu adalah anak buah Temujin, tetapi belakangan menghianatinya dan bergabung dengan Jamuka. Terakhir seorang gpria setengah baya, dengan janggut tebal dan kumis di wajahnya, melangkah masuk bersama seorang pemuda berusia dua puluh tahun. Jamuka dengan hati-hati memperkenalkan mereka kepada Altan dan Quchar. Mereka dalah Yake Cheren, mantan panglima tertinggi kaum Tartar, dan putranya Narin Keen.
Setelah kalah dalam pertempuran, Yeke Cheren berhasil melarikan diri hanya dengan istri dan seorang putranya. Dia lantas sbergabung dengan Jamuka. Ketika dia berhadapan dengan Altan dan Quchar, alih-alih mengucapkan salam, dia berusaha mencekik mereka dan berteriak, Jamuka sudah bersiap-siap unuk hal semacam ini dengan cara menahan semua senjata mereka sebelum mereka masuk ke tendanya.
“Bajingan kalian! Bisa-bisanya kalian bertarung melawanku!”
Yeke Cheren terus menerus meneriaki mereka, wajahnya merona karena marah. Jamuka dan yang lain menengahi mereka dan berusaha menghentikan Yeke Cheren.
“Tenang! Kita sekarang kawan! Kita tidak lagi bermusuhan. Apa kau lua bahwa musuh dari musuh adalah kawanmu? Yang lalu sudah berlalu.
Maka kini jauh lebih penting daripada masa lalu. Kita semestinya bekerja sama untuk menyingkirkan musuh kita bersama, Temujin. Semua ini terjadi gara-gara Temujin.”
Jamuka menenangkan mereka dan mempersilahkan mereka duduk.
Jamuka memerintahkan pelayannya membawakan anggur dan makanan secepatnya, untuk berusaha mengubah suasana yang tidak enak.
Setelah memastikan bahwa semuanya sudah mendapatkan gelas anggur sendiri, Jamuka mengangkat gelas pialanya dan berkata,
“Mengenyahkan Tamujin bukan pekerjaan enteng. Akan tetapi, itu juga tidak mustahil. Jika kita bekerja bersama-sama. Kita pasti akan