FILSAFAT PENDIDIKAN
HAKEKAT PENDIDIKAN SEUMUR HIDUP
Created By :
Rizki Trisnani ( 2211121033)
Iin Sagita Manullang (2213121051) Cut Alya Sarah (2213121050) Desi Natalia (2213321027)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN OKTOBER 2021
REKAYASA IDE MK. FILSAFAT
PENDIDIKAN PRODI S1 PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS - FBS
Skor Nilai :
ABSTRAK
Pendidikan Seumur Hidup adalah makna yang seharusnya benar-benar terkonsepsikan secara jelas serta komprehensif dan dibuktikan dalam pengertian, dalam sikap, perilaku dan dalam penerapan terutama bagi para pendidik di negeri kita. Pendidikan seumur hidup atau belajar seumur hidup bukan berarti kita harus terus sekolah sepanjang hidup kita. Sekolah banyak diartikan oleh masyarakat sebagai tugas belajar yang terperangkap dalam sebuah
“ruang” yang bernama kelas. Paradigma belajar seperti ini harus segera kita rubah. Belajar merupakan tugas semua manusia dari yang muda sampai yang tua, yang kaya ataupun miskin semua mempunyai tugas tersebut. Belajar memberi, belajar menerima, belajar bersabar, belajar menghargai, belajar menghormati dan belajarsemua hal merupakan kenyataan kehidupan sehari - hari dari dahulu sudah dapat dilihat bahwa pada hakikatnya orang belajar sepanjang hidup, meskipun dengan cara yang berbeda dan melalui proses yang tidak sama.
Jelasnya tidak ada batas usia yang menunjukan tidak mungkinnya dan tidak dapatnya orang belajar.Tujuan pendidikan seumur hidup adalah untuk mengembangkan potensi kepribadian manusia sesuai dengan kodrat dan hakekatnya, yakni seluruh aspek pembawaannya seoptimal mungkin. Dengan demikian secara potensial keseluruhan potensi manusia diisi kebutuhannya supaya berkembang secara wajar.
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa , karena rahmat dan hidayah-Nya saya dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Hakekat Pendidikan Seumur Hidup”. Makalah ini saya ajukan guna memenuhi tugas mata kuliah Filsafat Pendidikan.
Saya menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak. Oleh karena itu dalam kesempatan kali ini saya mengucapkan terimakasih kepada Ibu Prof.Dr.Naeklan selaku dosen pembimbing yang telah memberikan tugas ini.
Terlepas dari itu, saya menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan, baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya, oleh karena itu saya menerima segala saran dan kritik dari pembaca. Akhir kata saya berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca dan terimakasih atas perhatiannya.
Tanjung Morawa, November 2021
Penulis
DAFTAR ISI
ABSTRAK ... i
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... iv
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Rasionalisasi Permasalahan Isu ... 1
B. Tujuan ... 1
C. Manfaat ... 1
BAB II IDENTIFIKASI PERMASALAHAN FILSAFAT ... 2
A. Permasalahan Umum Hakekat Pendidikan Seumur Hidup ... 2
B. Identifikasi Permasalahan Hakekat Pendidikan Seumur Hidup ... 3
BAB III SOLUSI DAN PEMBAHASAN ... 10
BAB IV PENUTUP ... 16
DAFTAR PUSTAKA ... 17
BAB I PENDAHULUAN
A. Rasionalisasi Permasalahan Isu
Tugas rekayasa ide adalah tugas-tugas penyusunan karya ilmiah atau artikel ilmiah yang berfungsi sebagai tempat mahasiswa untuk berlatih dalam menuliskan ide kreatif sebagai respon terhadap masalah aktual yang dihadapi masyarakat.
Seringkali tanpa kita sadari, masalah filsafat pendidikan mucul dalam kehidupan kita sehari-hari. Misalnya, masalah hakikat pendidikan seumur hidup. Oleh karena itu, penulis membuat tugas Rekayasa Ide ini untuk mempermudah pembaca dalam memilih dan memilah tentang permasalahan dan cara yang dilakukan untuk menghadapi permasalahan tersebut.
B. Tujuan Tugas Rekayasa Ide Tujuan dari rekayasa ide adalah:
1. Menumbuh kembangkan karya tulis mahasiswa dalam bentuk penuangan gagasan atau ide kreatif.
2. Untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Filsafat Pendidikan.
3. Mengetahui bagaimana penerapan rekayasa ide ini dalam kehidupan sehari-hari.
C. Manfaat Tugas Rekayasa Ide
1. Manfaat bagi penulis, rekayasa ide ini diharapkan dapat melatih penulis dalam mengeluarkan ide kreatifnya sehingga manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan khususnya mengenai bagaimana menjadi manusia yang berhakekat untuk pendidikan seumur hidup.
2. Manfaat bagi pembaca, rekayasa ide ini diharapkan dapat memberikan sebuah informasi dan masukan bagi masyarakat pada umumnya serta dapat menumbuh kembangkan karya tulis mahasiswa dalam bentuk penuangan ide kreatif.
BAB II
IDENTIFIKASI PERMASALAHAN
A. PERMASALAHAN UMUM HAKEKAT PENDIDIKAN SEUMUR HIDUP
Manusia adalah makhluk sosial yang berkeinginan untuk hidup berkelompok dalam sebuah masyarakat. Secara inheren, manusia memiliki hasrat atau keiginan, walaupun dalam tatanan yang berbeda. Hasrat atau keinginan adalah tuntutan pemenuhan kebututuhan sandang, pangan, papan dan kesehatan rohani, serta kebutuhan aktualisasi diri, yaitu kebutuhan pengakuan akan eksistensi diri di hadapan orang lain. Kehidupan bermasyarakat dengan berbagai perbedaan keinginan dan kepentingan laksana sebuah permainan yang di dalamnya dapat menimbulkan persaingan untuk mencari kemenangan. Kemenangan yang sebenarnya hanya akan dapat dicapai berdasarkan pada tingkat kecerdasan, ketangkasan dan kesabaran seseorang. Perbedaan sosial dalam masyarakat antara yang kaya dan yang miskin mengakibatkan timbulnya berbagai kelompok atau status sosial dalam masyarakat. Status adalah rangking sosial yag didasarkan pada prestise seperti gengsi, martabat dan wibawa. Status pada umumya didasarkan pada perbedaan pekerjaan, sosiologi dan keturunan.
Dalam era globalisasi sekarang ini, pendidikan bermutu dipandang sebagai kegiatan pembekalan pada manusia untuk menyongsong perubahan dan perkembangan. Peradaban dunia saat ini, secara keseluruhan berada dalam tatanan global yang ditopang oleh perkembangan teknologi komonikasi, transformasi dan informasi. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membawa pengaruh yang positif, karena dapat dengan mudah menyelesaikan berbagai permasalahan, namun sekaligus juga membawa pengaruh yang negatif, karena dapat menciptakan kesenjangan yang tajam dalam kehidupan masyarakat sampai pada pranata sosial. Masyarakat modern saat ini termasuk masyarakat Indonesia menghadapi perkembangan yang sangat cepat dari segi ilmu pengetahuan dan teknologi yang mampu mempengaruhi masalah-masalah substansi kehidupan. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang masyarakatnya sangat mejemuk, karena bangsa Indonesia merupakan negara kepulauan dengan jumlah pulau terbesar di
dunia dengan berbagai ragam suku, bahasa, adat dan budaya yang menempatinya. Usman Pelly menyatakan Meskipun setiap warga Indonesia berbicara dalam satu bahasa nasional, namun kenyataaannya terdapat kurang lebih 350 kelompok etnis, adat istiadat, dan cara-cara sesuai dengan kondisi lingkungan tertentu. Dan kecenderungan yang muncul dalam masyarakat majemuk adalah timbulnya persaingan dan semakin sulit diatasi ketika melibatkan berbagai komponen bangsa. Kesenjangan dalam berbagai bidang dapat menjadi pemicu timbulnya situasi konflik, dan agama sering digunakan sebagai argumentasi kesadaran dalam menggerakan konflik. Pernyataan ini menunjukan bahwa kemajemukan merupakan ciri khas masyarakat Indonesia dapat dilihat dari perbedaan etnis, agama, bahasa daerah, pakaian, makanan, budaya, tingkat pendidikan, ekonomi, pemukiman, pekerjaan dan tingkat sosial budaya.
Bangsa yang multi majemuk sangat rentan terhadap terjadinya konflik antar kelompok masyarakat. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi akan menampilkan suasana industrialitas yang akan membentuk budayabudaya baru dalam masyarakat, dan menimbulkan perbedaan- perbedaan sikap serta pandangan hidup yang cenderung pada kehidupan materialitas, individualistis dan pragmatis. Bagi masyarakat yang tidak mampu memahami dan mensosialisasikan human Relation, akan berakibat pada kesenjangan dalam bidang politik, ekonomi, sosial dan budaya.
B. IDENTIFIKASI PERMASALAHAN HAKEKAT PENDIDIKAN SEUMUR HIDUP 1. MENGAPA PENDIDIKAN SEUMUR HIDUP DIPERLUKAN?
Pendidikan seumur hidup adalah sebuah konsep pendidikan yang menerangkan tentang keseluruhan peristiwa kegiatan belajar mengajar dalam proses pembinaan kepribadian yang berlangsung secara kontinyu dalam keseluruhan hidup manusia. Proses pembinaan kepribadian memerlukan rentang waktu yang relatif panjang, bahkan berlangsung seumur hidup. Pendidikan seumur hidup, yang disebut dengan Life Long Education adalah pendidikan yang menekankan bahwa proses pendidikan berlangsung terus menerus sejak seseorang dilahirkan hingga meninggal dunia, baik dilaksanakan di jalur pendidikan formal, non formal maupun
informal. Konsep pendidikan seumur hidup sebenarnya sudah sejak lama dipikirkan para tokoh pendidikan dan Islam sudah mengenal pendidikan seumur hidup, jauh sebelum orang-orang barat mempopolerkannya. Umat Islam juga menekankan pentingnya pendidikan seumur hidup dengan tuntutlah ilmu dari buaian sampai meninggal dunia. Lahirnya manusia yang beriman dan berpengetahuan merupakan salah satu langkah pokok yang dapat menumbuhkan keseimbangan dalam kehidupan bermasyarakat.
Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan membawa misi suci, secara horisontal manusia sebagai khalifah yang bertugas sebagai tauladan bagi sesama dan sebagai menata seluruh kehidupan alam semesta, secara vertikal manusia sebagai hamba yang harus beribadah dan mengabdi kepada Tuhannya.
Tujuan pendidikan manusia seutuhnya dan dilaksanakan seumur hidup adalah untuk mengembangkan potensi kepribadian manusia sesuai dengan kodrat dan hakekatnya, dan untuk menumbuhkan kesadaran bahwa proses pertumbuhan dan perkembangan kepribadian manusia bersifat hidup dan dinamis serta untuk mempertahankan dan meningkatkan mutu kehidupan.
Dasar pemikiran yang menyatakan bahwa pendidikan seumur hidup sangat penting, dan dapat ditinjau dari beberapa aspek/tinjauan:
1. Tinjauan Ideologis, yaitu pendidikan seumur hidup akan memungkinkan seseorang mengembangkan potensinya dengan terus menerus sepanjang hidupnya, memberikan skill agar mampu beradaptasi dengan masyarakat, karena pada dasarnya manusia dilahirkan ke dunia mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan serta peningkatan pengetahuan dan keterampilan
2. Tinjauan ekonomis, yaitu pendidikan seumur hidup adalah cara paling efektif untuk keluar dari kebodohan yang menyebabkan kemelaratan, karena pendidikan seumur hidup dapat meningkatkan produktifitas, memelihara dan mengembangkan sumber-sumber yang dimiliki, memungkinkan hidup dalam suasana menyenangkan dan sehat, memiliki motivasi dalam mengasuh dan mendidik anak secara tepat.
3. Tinjauan sosiologis, yaitu pada umumnya negara-negara berkembang masih banyak orang tua yang kurang menyadari pentingnya pendidikan
formal bagi anak-anaknya. Pendidikan seumur hidup merupakan solusi bagi anak-anak yang kurang mendapatkan pendidikan formal, atau tidak bersekolah sama sekali.
4. Tinjauan Politis, yaitu negara menghendaki seluruh rakyat menyadari pentingnya hak milik pribadi dan memahami fungsi pemerintah.
5. Tinjauan Teknologis, yaitu dunia saat ini dilanda oleh eksplotasi ilmu pengetahuan dan teknologi dengan berbagai produk yang dihasilkannya, yang menuntut untuk selalu mengembangkan dan memperbaharui pengetahuan dan keterampilannya agar seperti yang terjadi pada negara- negara maju agar mampu tidak hanya menjadi penonton di tengah pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
6. Tinjauan filosofis, yaitu kodrat martabat manusia merupakan kesatuan integral potensi yang meliputi manusia sebagai makhluk pribadi, makhluk sosial dan makhluk susila.
7. Tinjauan Psikologis adalah dasar kejiwaan dan jasmani yaitu manusia merupakan kesatuan kesadaran rohani, baik dari pikir, rasa, karsa, cipta dan budi. Kesadaran jasmani ( panca indera.)
8. Paedagogis, yaitu perkembangan IPTEK yang pesat mempunyai pengaruh yang besar terhadap konsep, teknik dan metode pendidikan
2. BAGAIMANA IMPLIKASI PENDIDIKAN SEUMUR HIDUP?
Implikasi merupakan akibat langsung atau konsekuensi dari suatu keputusan. Dengan demikian maksudnya adalah sesuatu yang merupakan tindak lanjut atau follow up dari suatu kebijakan atau keputusan tentang pelaksanaan pendidikan seumur hidup. Penerapan azas pendidikan seumur hidup pada isi program pendidikan dan sasaran pendidikan di masyarakat mengandung kemungkinan yang luas.
Implikasi pendidikan seumur hidup pada program pendidikan dapat dikelompokkan menjadi beberapa kategori yaitu:
1. Pendidikan baca tulis fungsional Program ini tidak saja penting bagi pendidikan seumur hidup dikarenakan relevansinya yang ada pada negara- negara berkembang dengan sebab masih banyaknya penduduk yang buta huruf, mereka lebih senang menonton TV, mendengarkan Radio, mengakses
internet dari pada membaca. Meskipun cukup sulit untuk membuktikan peranan melek huruf fungsional terhadap pembangunan sosial ekonomi masyarakat, namun pengaruh IPTEK terhadap kehidupan masyarakat misalnya petani, justru disebabkan oleh karena pengetahuanpengetahuan baru pada mereka. Pengetahuan baru ini dapat diperoleh melalui bahan bacaan utamanya. Realisasi baca tulis fungsional, minimal memuat dua hal, yaitu: Memberikan kecakapan membaca, menulis, menghitung yang fungsional bagi anak didik dan Menyediakan bahan-bahan bacaan yang diperlukan untuk mengembangkan lebih lanjut kecakapan yang telah dimilikinya.
2. Pendidikan vokasional. Pendidikan vokasional adalah sebagai program pendidikan di luar sekolah bagi anak di luar batas usia sekolah, ataupun sebagai pendidikan formal dan non formal, sebab itu program pendidikan yang bersifat remedial agar para lulusan sekolah tersebut menjadi tenaga yang produktif menjadi sangat penting. Namun yang lebih penting ialah bahwa pendidikan vokasional ini tidak boleh dipandang sekali jadi lantas selesai.dengan terus berkembang dan majunya ilmu pengetahuan dan teknologi serta makin meluasnya industrialisasi, menuntut pendidikan vokasiaonal itu tetap dilaksanakan secara kontinyu.
3. Pendidikan profesional. Realisasi pendidikan seumur hidup,dalam kiat- kiat profesi telah tercipta Built in Mechanism yang memungkinkan golongan profesional terus mengikuti berbagai kemajuan dan perubahan menyangkut metodologi, perlengkapan, terminologi dan sikap profesionalnya. Sebab bagaimanapun apa yang berlaku bagi pekerja dan buruh, berlaku pula bagi profesional, bahkan tantangan buat mereka lebih besar.
4. Pendidikan ke arah perubahan dan pembangunan. Era globalisasi dan informasi yang ditandai dengan pesatnya perkembangan IPTEK, telah mempengaruhi berbagai dimensi kehidupan masyarakat, dengan cara masak yang serba menggunakan mekanik, sampai dengan cara menerobos angkasa luar. Kenyataan ini tentu saja konsekuensinya menurut pendidikan yang berlangsung secara kontinyu (lifelong education). Pendidikan bagi anggota masyarakat dari berbagai golongan usia agar mereka mampu mengikuti
perubahan sosial dan pembangunan juga merupakan konsekuensi penting dari azas pendidikan seumur hidup.
5. Pendidikan kewarganegaraan dan kedewasaan politik Selain tuntutan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), dalam kondisi sekarang dimana pola pikir masyarakat. yang semakin maju dan kritis, baik rakyat biasa, maupun pemimpin pemerintahan di negara yang demokratis, diperlukan pendidikan kewarganegaraan dan kedewasaan politik bagi setiap warga negara. Pendidikan seumur hidup yang bersifat kontinyu dalam konteks ini merupakan konsekuensinya.
3. SEBERAPA PENTINGNYA PERAN MASYARAKAT DALAM PROGRAM PENDIDIKAN SEUMUR HIDUP?
Pendidikan diupayakan dengan berawal dari manusia apa adanya (aktualisasi) dengan mempertimbangkan berbagai kemungkinan yang apa adanya (potensialitas), dan diarahkan menuju terwujudnya manusia yang seharusnya atau manusia yang dicita-citakan (idealitas). Tujuan pendidikan itu tiada lain adalah manusia yang beriman dan bertaqwa kapada Tuhan, berakhlak mulia, sehat, cerdas, berperasaan, berkemauan, dan mampu berkarya; mampu memenuhi berbagai kebutuhan secara wajar, mampu mngendalikan hawa nafsunya; berkepribadian, bermasyarakat dan berbudaya. Implikasinya, pendidikan harus berfungsi untuk mewujudkan (mengembangkan) berbagai potensi yang ada pada manusia dalam konteks dimensi keberagaman, moralitas, moralitas, individualitas/personalitas, sosialitas dan keberbudayaan secara menyeluruh dan terintegrasi. Dengan kata lain, pendidikan berfungsi untuk memanusiakan manusia.
Meningkatkan peran serta masyarakat memang sangat erat berkait dengan pengubahan cara pandang masyarakat terhadap pendidikan. Ini tentu saja bukan hal yang mudah untuk dilakukan.Akan tetapi, bila tidak sekarang dilakukan dan dimulai, kapan rasa memiliki, kepedulian, keterlibatan, dan peran serta aktif masyarakat dengan tingkatan maksimal dapat diperoleh dunia pendidikan. Ada 7 tingkatan peran serta masyarakat (dirinci dari tingkat partisipasi terendah ke tinggi), yaitu:
1. Peran serta dengan menggunakan jasa pelayanan yang tersedia. Jenis ini adalah jenis yang paling umum Pada tingkatan ini masyarakat hanya memanfaatkan jasa sekolah untuk mendidik anak-anak mereka.
2. Peran serta dengan memberikan kontribusi dana, bahan, dan tenaga.
Pada jenis ini masyarakat berpartisipasi dalam perawatan dan pembangunan fisik sekolah dengan menyumbangkan dana, barang, atau tenaga.
3. Peran serta secara pasif. Masyarakat dalam tingkatan ini menyetujui dan menerima apa yang diputuskan pihak sekolah (komite sekolah), misalnya komite sekolah memutuskan agar orang tua membayar iuran bagi anaknya yang bersekolah dan orang tua menerima keputusan itu dengan mematuhinya.
4. Peran serta melalui adanya konsultasi. Pada tingkatan ini, orang tua datang ke sekolah untuk berkonsultasi tentang masalah pembelajaran yang dialami anaknya.
5. Peran serta dalam pelayanan. Orang tua/masyakarat terlibat dalam kegiatan sekolah, misalnya orang tua ikut membantu sekolah ketika ada studi tur, pramuka, kegiatan keagamaan, dan sebagainya.
6. Peran serta sebagai pelaksana kegiatan. Misalnya sekolah meminta orang tua/masyarakat untuk memberikan penyuluhan pentingnya pendidikan, masalah jender, gizi, dsb. Dapat pula misalnya, berpartisipasi dalam mencatat anak usia sekolah di lingkungannya agar sekolah dapat menampungnya, menjadi nara sumber, guru bantu, dan sebagainya.
7. Peran serta dalam pengambilan keputusan. Orang tua/masyarakat terlibat dalam pembahasan masalah pendidikan baik akademis maupun non akademis, dan ikut dalam proses pengambilan keputusan dalam Rencana Pengembangan Sekolah.
Dari sini, keluarga mempunyai peranan besar juga dalam pembangunan masyarakat. Karena keluarga merupakan batu pondasi bangunan masyarakat dan tempat pembinaan pertama untuk mencetak dan mempersiapkan personil - personilnya. Karena itulah, peran keluarga dalam
hal ini begitu berarti. Bahkan bisa dikatakan bahwa tanpa keluarga, nilai- nilai pengetahuan yang didapatkan di bangku meja formal tidak akan ada artinya sama sekali. Sekilas memang tampak bahwa peran keluarga tidak begitu ada artinya, namun jika direnungkan lebih dalam, siapa saja akan bisa merasakan betapa berat peran yang disandang keluarga. Problem yang dialami oleh ‘anak jalanan’ untuk memperoleh pendidikan salah satunya adalah minimnya, bahkan tak adanya peran keluarga. Kalaupun akhirnya mereka bersekolah, mereka hanya mendapatkan pengetahuan formal saja.
Sementara kasih sayang, sopan santun, moralitas, cinta dan berbagai nilai afektif lainnya sulit mereka dapatkan. Mereka merasa tidak ada tempat yang baik untuk berlindung dan mengungkapkan seluruh perasaan secara utuh dan bebas. Umumnya mereka tidak memiliki keluarga yang mengemban peran tersebut. Kalaupun mereka memiliki keluarga, tidak ada situasi yang kondusif untuk saling berbagi perasaan antar anggota dalam sebuah keluarga. Ini merupakan salah satu kesulitan yang dihadapi oleh lembaga-lembaga swadaya masyarakat yang mencoba memberdayakan
‘anak jalanan’. Mungkin persoalan sulitnya bagaimana dia mendapatkan pendidikan secara formal, tidak sesulit bagaimana dia memperoleh kasih sayang sejati. Dari paparan itu dapat dimengerti betapa peran penting keluarga dalam rangka mengemban misi-misi pendidikan tidak bisa diabaikan.
BAB III
SOLUSI DAN PEMBAHASAN
A. Solusi dan Pembahasan “Mengapa Pendidikan Seumur Hidup di Perlukan”
Manusia pada hakikatnya selalu tumbuh dan berkembang. Mereka selalu ingin meningkatkan kualitas hidupnya. Untuk mewujudkannya, secara tidak langsung mereka dituntut untuk belajar. Dengan belajar berarti mereka telah melakukan proses pendidikan. Pendidikan memiliki peran yang sangat penting bagi kehidupan manusia untuk menggapai masa depan yang lebih baik.
Makna pendidikan secara sederhana diartikan sebagai usaha manusia untuk membina kepribadian sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan kebudayaan. Maka, asas pendidikan yang paling cocok bagi orang-orang yang hidup di dunia transformasi ini adalah “pendidikan seumur hidup”
karena pendidikan pada hakekatnya merupakan usaha manusia untuk melestarikan hidupnya. Tanpa belajar manusia akan mengalami kesulitan dalam memenuhi tuntutan hidupnya yang selalu berubah seperti diera global saat ini.
Keharusan belajar seumur hidup sudah disepakati oleh para pakar pendidikan dan telah berlangsung sejak lama. Muhammad Munir Mursa mengatakan bahwa pendidikan tidak sebatas pada satu periode atau jenjang waktu tertentu, tapi berlangsung sepanjang hayat. Ia merupakan pendidikan dari buain sampai liang lahad, selalu memperbarui diri, serta terus menerus mengembangkan kepribadian dan kemanusian. Dengan perkataan lain pendidikan membimbing manusia untuk maju.
Implementasi pendidikan seumur hidup dapat berlangsung di dalam lingkungan rumah tangga, sekolah dan masyarakat. Karena itu, pendidikan sepanjang hayat merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, sekolah, dan pemerintah.Konsep Pendidikan Seumur Hidup
Konsep pendidikan seumur hidup telah sejak lama dipikirkan dan diperkenalkan oleh pakar pendidikan, begitu juga dikalangan umat Islam yang jauh sebelum orang-orang barat mengangkatnya, mereka telah
mengenal terlebih dahulu pendidikan seumur hidup.
Asas pendidikan seumur hidup itu sendiri terus berlanjut dan berlangsung seumur hidup, sehingga peranan manusia untuk mendidik dan mengembangkan diri sendiri secara wajar merupakan kewajiban kodrati manusia. Pendidikan tidak hanya pada bangku sekolah saja, namun berlanjut hingga akhir hayat. Proses pendidikan itu sendiri dimulai dari keluarga, sekolah dan masyarakat. Media dalam belajar pun tidak hanya duduk dan mendengarkan penjelasandari guru/pengajar, namun saat ini banyak media untuk belajar. Teknologi pada zaman sekarang sudah semakin maju dan berkembang sangat cepat, sehingga konsep pendidikan seumur hidup sangat cocok diterapkan pada manusia di era sekarang ini yang memerlukan penyesuaian sehingga tidak dianggap tertinggal.
Pendidikan diartikan sama dengan pertumbuhan manusia. Selama diri manusia terjadi pertumbuhan, maka selama itu pula terjadi peristiwa pendidikan. Ini berarti, pendidikan tidak berhenti pada pembelajaran di sekolah namun terus berlanjut hingga akhir hayat. Sehingga tidak ada kata terlambat untuk belajar. Belajar atau mendidik diri sendiri adalah proses alamiah sebagai bagian integral atau merupakan totalitas kehidupan. Jadi, manusia belajar atau mendidik ini bukanlah sebagai persiapan (bekal) bagi kehidupan (yang akan datang), melainkan pendidikan adalah kehidupan itu sendiri.
Dalam konsep pendidikan seumur hidup, pendidikan merupakan proses yang berlangsung terus menerus sejak manusia lahir sampai meniggal dunia.
Konsep ini mengharapkan agar manusia selain berkembang seumur hidupnya, di sisi lain juga mengharapkan agar masyarakat dan pemerintah dapat menciptakan situasi yang merangsang aktivitas belajar. Atas dasar ini maka sekolah bukanlah satu-satunya masa untuk belajar melainkan sebagian kecil dari proses belajar yang akan berlangsung sepanjang hayat.
Meskipun demikian pendidikan juga merupakan segi peningkatan terus menerus yang bertujuan, dipertimbangkan secara masak serta diperlengkapi secara baik.
B. Solusi dan Pembahasan “bagaimana implikasi pendidikan seumur hidup”
Implikasi merupakan akibat langsung atau konsekuensi dari suatu
keputusan. Dengan demikian maksudnya adalah sesuatu yang merupakan tindak lanjut dari suatu kebijakan atau keputusan tentang pelaksanaan pendidikan seumur hidup. Implikasi pendidikan seumur hidup pada program pendidikan dapat dikelompokkan menjadi beberapa kategori yaitu:
1. Pendidikan baca tulis fungsional
Program ini tidak saja penting bagi pendidikan seumur hidup
dikarenakan relevansinya yang ada pada negara-negara berkembang dengan sebab masih banyaknya penduduk yang buta huruf, mereka lebih senang menonton TV, mendengarkan Radio, mengakses internet dari pada membaca.
Realisasi baca tulis fungsional, minimal memuat dua hal, yaitu: Memberikan kecakapan membaca, menulis, menghitung yang fungsional
bagi anak didik dan Menyediakan bahan-bahan bacaan yang diperlukan untuk mengembangkan kemampuannya.
2. Pendidikan vokasional.
Pendidikan vokasional adalah sebagai program pendidikan di luar
sekolah bagi anak di luar batas usia sekolah, ataupun sebagai pendidikan formal dan non formal, sebab itu program pendidikan yang bersifat remedial agar para lulusan sekolah tersebut menjadi tenaga yang produktif menjadi sangat penting. Namun yang lebih penting ialah bahwa pendidikan vokasional ini tidak boleh dipandang sekali jadi lantas selesai.dengan terus berkembang dan majunya ilmu pengetahuan dan
teknologi serta makin meluasnya industrialisasi, menuntut pendidikan vokasiaonal itu tetap dilaksanakan secara kontiniu.
2. Pendidikan profesional.
Realisasi pendidikan seumur hidup,dalam kiat-kiat profesi telah tercipta Built in Mechanism yang memungkinkan golongan profesional terus mengikuti berbagai kemajuan dan perubahan menyangkut
metodologi, perlengkapan, terminologi dan sikap profesionalnya. Sebab bagaimanapun apa yang berlaku bagi pekerja dan buruh, berlaku pula bagi profesional, bahkan tantangan buat mereka lebih besar.
3. Pendidikan kewarganegaraan dan kedewasaan politik Selain tuntutan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi
(IPTEK), dalam kondisi sekarang dimana pola pikir masyarakat. yang semakin maju dan kritis, baik rakyat biasa, maupun pemimpin pemerintahan di negara yang demokratis, diperlukan pendidikan kewarganegaraan dan kedewasaan politik bagi setiap warga negara.
Pendidikan seumur hidup yang bersifat kontinyu dalam konteks ini merupakan konsekuensinya.
C. Solusi dan Pembahasan “Seberapa Pentingnya Peran Masyarakat Dalam Program Pendidikan Seumur Hidup”
Meningkatkan peran serta masyarakat memang sangat erat berkait dengan pengubahan cara pandang masyarakat terhadap pendidikan. Ini tentu saja bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Akan tetapi, bila tidak sekarang dilakukan dan dimulai, kapan rasa memiliki, kepedulian, keterlibatan, dan peran serta aktif masyarakat dengan tingkatan maksimal dapat diperoleh dunia pendidikan. Peran serta masyarakat harus lebih dimaknai sebagai hak daripada sekadar kewajiban. Kontrol rakyat terhadap isi dan prioritas agenda pengambilan keputusan pembangunan harus dimaknai sebagai hak masyarakat untuk ikut mengontrol agenda dan urutan prioritas pembangunan untuk dirinya atau kelompoknya. Oleh karena itu, tidak akan dapat diterima jika satu golongan mendikte keinginan dan kepentingannya dalam isi dan prioritas agenda pengambilan keputusan pembangunan, apakah itu golongan di dalam negeri seperti pejabat pemerintah atau usahawan, dan eksternal seperti kekuatan besar misalnya lembaga (keuangan) internasional (Karsidi, 2002). Tanggung jawab pengembangan pendidikan sebagai proses sosialisasi adalah berada pada orang tua dan kelompok-kelompok masyarakat yang berkepentingan. Tanggung jawab tersebut tidak pernah lepas tetapi pernah mengendor, sejalan dengan dominannya paradigma pembangunan sentralistik.Oleh karena paradigma tersebut telah bergeser menuju kepada peluang yang lebar bagi teraktualisasikannya kembali partisipasi masyarakat, maka perlu segera dilakukan upaya pemulihan dan pengembalian tanggung jawab masyarakat terhadap pengembangan pendidikan baik dalam skala mikro maupun skala makro.Inilah yang saya sebut sebagai reaktualisasi partisipasi masyarakat, karena sebenarnya yang bertanggung jawab dalam hal ini adalah justru masyarakat itu sendiri.
Cara untuk penyaluran partisipasi dapat diciptakan dengan berbagai variasi cara sesuai dengan kondisi masing-masing wilayah atau komunitas tempat masyarakat dan lembaga pendidikan itu berada. Sebagai contoh adalah tanggung jawab untuk menghasilkan output yang baik sesuai dengan rumusan harapan bersama.
A. Kesimpulan
BAB IV PENUTUP
Pendidikan seumur hidup adalah pendidikan yang menekankan bahwa proses pendidikan berlangsung terus menerus sejak seseorang dilahirkan hingga meninggal dunia, baik dilaksanakan di jalur pendidikan formal, non formal maupun informal.
Tujuan pendidikan manusia seutuhnya dan dilaksanakan seumur hidup adalah untuk mengembangkan potensi kepribadian manusia sesuai dengan kodrat dan hakekatnya, dan untuk menumbuhkan kesadaran bahwa proses pertumbuhan dan perkembangan kepribadian manusia bersifat hidup dan dinamis serta untuk mempertahankan dan meningkatkan mutu kehidupan.
B. Saran
Peran serta masyarakat dalam pengembangan pendidikan sebaiknya ditandai sebagai hak masyarakat untuk ikut mengontrol agenda dan urutan prioritas pembangunan untuk dirinya atau kelompoknya. Para pemegang kebijakan dan manajer pendidikan meamerlukan kesigapan untuk mendistribusi peran dan kekuasaannya agar bisa menampung sumbangan partisipasi masyarakat. Sebaliknya, dari pihak masyarakat juga harus belajar untuk kemudian bisa memiliki kemauan dan kemampuan berpartisipasi dalam pengembangan pendidikan.
DAFTAR PUSTAKA
Astawa, I. N. (2017). Memahami Peran Masyarakat dan Pemerintah Dalam Kemajuan Mutu Pendidikan Di Indonesia. Jurnal Penjaminan Mutu .
Azis, N. A. (2013). Pendidikan Seumur Hidup. Jurnal Pilar .
Haryanto Al-Fandi, M. (2014). Konsep Pendidikan Seumur Hidup. Filsafat Pendidikan .
Jannah, F. (2013). Pendidikan Seumur Hidup dan Impilkasinya. Dinamika Ilmu .
Subianto, J. (2013). Peran Keluarga, Sekolah, dan masyarakat Dalam Program Pendidikan. Lembaga Peningkatan Profesi Guru .