Pengembangan modul berbasis etnosains di MI Pembelajaran IPA tentang keanekaragaman sumber daya alam tumbuhan di Suku Mandailing Kabupaten Pasaman Barat. Pengetahuan tentang keefektifan modul etnosains berbasis keanekaragaman sumber daya alam tumbuhan di MIM Ujung Gading.
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Langkah-langkah manajemen kelas adalah langkah-langkah yang diterapkan oleh pendidik dalam rangka memastikan kondisi optimal untuk proses belajar mengajar yang efektif. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tindakan pengelolaan kelas merupakan salah satu penunjang dalam mendorong proses pembelajaran, agar kegiatan belajar mengajar berlangsung secara efektif.
Identifikasi Masalah
Batasan Masalah
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Modul adalah paket perangkat lunak yang telah disusun dan dirancang untuk memberi manfaat bagi pembelajaran siswa. Berdasarkan pendapat di atas, ada hal penting dalam mendefinisikan modul yaitu materi pembelajaran mandiri, membantu siswa menguasai tujuan pembelajarannya dan paket program yang disusun dan dirancang sedemikian rupa untuk kepentingan pembelajaran siswa.
Etnosains
Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam 1. Definisi IPA
Ilmu pengetahuan alam (IPA) adalah kumpulan pengetahuan yang tertata secara sistematis, dan pada umumnya penggunaannya terbatas pada fenomena alam. Ilmu pengetahuan alam (IPA) adalah bagian dari ilmu pengetahuan atau science yang asalnya berasal dari bahasa Inggris “science” yang artinya saya tahu.
Materi Pembelajaran IPA
Pendekatan ini tidak mencerminkan gambaran sebenarnya tentang hakikat sains. Selanjutnya, konsep adalah gagasan yang menghubungkan banyak fakta. Untuk memahami suatu konsep, anak-anak harus bekerja dengan benda-benda konkret, memperoleh fakta, mengeksplorasi secara langsung, dan memanipulasi ide. , bukan hanya mengingat. Oleh karena itu, pendekatan konseptual memberikan gambaran IPA yang lebih jelas dibandingkan dengan pendekatan faktual.25 Selanjutnya, pendekatan proses dalam pembelajaran IPA yang didasarkan pada pengamatan dikenal dengan istilah keterampilan proses ilmiah.26.
Materi Modul
Ini akan menghasilkan lebih banyak cabai rawit (lasiak bolhe) daripada cabai rawit (lasiak bolhe) yang tidak rawan. Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri individu dan dapat mempengaruhi hasil belajar individu; faktor internal ini meliputi faktor fisiologis dan psikologis.
Penelitian yang Relevan
Tujuan penelitian ini adalah menghasilkan produk berupa modul tematik berbasis etnosains Kabupaten Jember dengan topik budidaya tembakau untuk pembelajaran IPA di sekolah menengah. 42 Rima Mailati AS (2019) Jurnal berjudul “Pengembangan Modul Fisika Berbasis Etnosains Dalam Proses Belajar Mengajar”.
Kerangka Berpikir
2020) Pengembangan Modul Berbasis Etnosains untuk Pembelajaran IPA SD tentang Keanekaragaman Hayati di Suku Rejang Bengkulu Utara. Ini adalah proses yang digunakan untuk mengembangkan dan memvalidasi produk dalam bentuk modul berbasis etnosains untuk pendidikan.” 46.
Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian
Populasi dan Sampel Penelitian
Prosedur Penelitian
Untuk melihat potensi modul, kuesioner validasi dengan pertanyaan digunakan dalam penelitian ini. Data dari hasil lembar angket akan dianalisis untuk melihat desain modul yang dibuat oleh peneliti.
Teknik Analisis Data Validasi Modul
Revisi modul berdasarkan hasil uji keterbacaan, kekurangan modul dan saran dari mahasiswa akan menjadi dasar revisi produk. Setelah diperoleh persentase skor uji validitas oleh para ahli dengan menggunakan rumus di atas, maka hasil persentase tersebut akan diinterpretasikan dengan menggunakan panduan tabel kriteria interpretasi skor. Dasar-dasar Statistika, Bandung: Alfabet, 2013), h. 𝛴𝑃𝑅𝑆=Jumlah nilai persentase respon siswa/𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ𝑠𝑖𝑠𝑤𝑎. 2013. Prosedur Penelitian: Pendekatan Praktis.
Hasil Penelitian
- Hasil Tahap Penelitian dan Pengumpulan Informasi
- Hasil Analisis KebutuhanModul Pembelajaran IPA Berbasis Etnosains Materi Keanekaragaman Sumber Daya Alam Nabati
- Hasil Tahap Perencanaan
- Hasil Tahap Pengembangan Produk
- Hasil Uji Coba Awal
- Hasil Tahap Uji Coba II
- Hasil Produk Akhir
Hampir seluruh responden memiliki buku pedoman lain untuk bahan ajar tentang keanekaragaman sumber daya alam asal tumbuhan. Sebagian besar responden mengalami kesulitan dalam mempelajari materi tentang keanekaragaman sumber daya alam asal tumbuhan dari buku pelajaran. Selain itu, seluruh responden menyatakan tidak mendapatkan modul untuk mempelajari materi keanekaragaman sumber daya alam nabati.
Sebagian besar responden menyatakan bahwa mereka hanya menggunakan buku teks untuk mengajarkan materi tentang keanekaragaman sumber daya alam tumbuhan. Sementara itu, beberapa responden menyatakan bahwa guru IPA mereka menggunakan bahan ajar khusus (charta) untuk mengajarkan materi tentang keanekaragaman sumber daya alam tumbuhan. Kompetensi dasar yang digunakan adalah mengidentifikasi keanekaragaman sumber daya alam tumbuhan di lingkungan sekitar.
Tahap akhir merupakan tahap akhir dalam proses penulisan modul pembelajaran saintifik berbasis etnosains pada keanekaragaman sumber daya alam tumbuhan. Selama proses pembelajaran keanekaragaman sumber daya alam tumbuhan nilai rata-rata mengalami peningkatan seperti terlihat pada Gambar 3.4. Dari peningkatan skor rata-rata tersebut dapat disimpulkan bahwa modul berbasis etnosains dapat meningkatkan hasil belajar psikomotorik siswa terkait materi keanekaragaman sumber daya tumbuhan.
Pembahasan Hasil Penelitian Dan Pengembangan 1. Pembahasan Hasil Tahap Studi Pendahuluan
Dengan memberikan gambaran yang baik dan mampu menghubungkan konsep dengan praktik dalam kehidupan sehari-hari siswa, serta nilai-nilai etnosains dalam IPA, belajar tentang keanekaragaman sumber daya alam tumbuhan. Tahap perencanaan ini meliputi penentuan komponen modul, seperti tujuan pembelajaran, kompetensi inti dan indikator kinerja materi, serta media yang digunakan dalam modul pembelajaran IPA yang akan dikembangkan dalam gambaran umum isi modul. Modul pembelajaran IPA yang direncanakan memiliki spesifikasi isi yang tercantum dalam peta isi modul.
Penulisan modul pembelajaran saintifik mengacu pada garis besar isi modul dan garis besar yang selalu diawasi oleh dosen pembimbing agar tercipta produk awal yang baik. Komponen isi, komponen bahasa, dan komponen desain/media yang menjadi bahan penilaian validator Modul Pembelajaran Etnosains. Hasil tahap produk akhir berupa modul pembelajaran saintifik berbasis etnosains yang valid dan efektif. Penggunaan etnosains sebagai dasar pengembangan pada modul ini menghasilkan peningkatan literasi sains siswa. Jika dilihat secara luas, modul pembelajaran saintifik yang dikembangkan memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan.
Modul pembelajaran IPA berbasis etnosains dikembangkan dengan pengaturan tata letak yang baik, untuk memberikan kemudahan dan kenyamanan kepada siswa. Modul pembelajaran IPA berbasis etnosains dilengkapi dengan ilustrasi dan gambar pada setiap materi untuk memudahkan siswa dalam memahami materi. Harus menggunakan instrumen atau sumber daya berupa komputer/laptop dan koneksi internet sehingga dapat memaksimalkan penggunaan modul pembelajaran IPA berbasis Etnosains.
Kelayakan Modul Berbasis Etnosains Pembelajaran IPA MI Materi keanekaragaman sumber daya alam nabatiSuku MandailingPasaman
Dari hasil penelitian lain yang dilakukan oleh Wiwin Eka Rahayu mengatakan bahwa pengembangan modul berbasis ilmu etnik pada materi ekosistem, data penelitian yang diperoleh dianalisis oleh ahli secara deskriptif persentase. Hasil uji kelayakan modul IPA Terpadu adalah positif, skor validasi ahli desain 85, validasi ahli materi 82,5 dan validasi ahli bahasa 90,00. tanaman obat diperoleh hasil kelayakan Pengembangan Modul Etnosains Terpadu untuk merangsang minat berwirausaha, sangat layak digunakan menurut rata-rata persentase ahli, validasi ahli bahasa 94,3, validasi ahli materi 86, validasi ahli desain 90,30,61 Dan juga diperkuat dengan hasil penelitian Nur Intan dan kawan-kawan menyatakan hasil kelayakan Modul Sains Berbasis Etnosains pada materi lingkungan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa oleh tiga ahli yaitu validasi ahli materi 89,20, sertifikasi linguistik 92,15 dan sertifikasi ahli media 93.00. 60Wiwin Eka, LKS Berbasis Etnosains Materi Ekosistem untuk Melatih Literasi Siswa.
Nilai respon siswa terhadap Modul juga termasuk dalam kategori “Sangat Baik” dimana rata-rata persentase skornya adalah 90,6%. Terdapat 13 aspek dalam angket respon siswa, dari 13 aspek terdapat dua aspek yang memperoleh persentase skor rendah namun masih dalam kategori baik. Aspek ini yaitu penggunaan bahasa yang digunakan dalam modul mendapat skor 79,2% dan aspek kedua yaitu soal-soal yang dimasukkan dalam modul mendapat skor 66,75%.
Namun, survei respons siswa tidak menunjukkan bagian mana dari bahasa dan pertanyaan yang sulit dipahami. Rendahnya skor pada aspek ini bisa jadi karena perbedaan tingkat pemahaman siswa itu sendiri. Sedangkan untuk penggunaan bahasa dan soal, meskipun mendapat nilai rendah, namun masih dalam kategori baik dimana jumlah siswa yang memahami penggunaan bahasa dan juga soal dalam modul masih lebih tinggi dari modul ini yang mendapat nilai respon sangat baik dengan persentase rata-rata 93,7%, meskipun ada dua aspek yang mendapat skor rendah. Keefektifan Modul Berbasis IPA Pada Materi Keanekaragaman Sumber Daya Alam Tumbuhan MI Kelas III.
Keefektivan Modul Berbasis Etnosains Pembelajaran IPA pada Materi Keanekaragaman Sumber Daya Alam Nabati untuk MI Kelas III
Keefektifan modul pembelajaran IPA berbasis etnosains yang dikembangkan dalam penelitian ini sangat erat kaitannya dengan karakteristik modul pembelajaran IPA berbasis etnosains. Sintaks modul berbasis etnosains (merumuskan masalah, mengumpulkan data, mengolah data, memverifikasi dan menggeneralisasi) mendorong siswa untuk menemukan sendiri konsepnya. Hal lain yang sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Azalia mengatakan bahwa pengembangan modul pembelajaran IPA berbasis etnosains pada makhluk hidup terbukti dapat meningkatkan prestasi belajar siswa di SMP N 1 Konawe.
Langkah-langkah dalam modul etnosains (sintaks untuk perumusan masalah, pengumpulan data, pengolahan data, verifikasi dan generalisasi) mengarahkan siswa untuk mencari konsep sendiri terkait materi keanekaragaman sumber daya alam asal tumbuhan. Hal ini diperkuat dengan hasil penelitian bahwa pembelajaran etnosains berpengaruh signifikan terhadap prestasi belajar siswa di kelas IPA. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa siswa mencapai prestasi (hasil belajar) yang lebih baik ketika diajarkan dengan modul berbasis etnosains dibandingkan dengan model pembelajaran yang menggunakan buku cetak yang tersedia di sekolah.
66 Nas Haryati Setyaningsih, Pengembangan Modul Berbasis Etnosains Efektivitas Lembar Kerja Siswa Berisi Materi Hidrolisis Garam Etnosains untuk Meningkatkan Literasi Sains Siswa SMA (Journal Of Innovative Science Education hlm. 123. Pembelajaran dengan menggunakan modul berbasis etnosains menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam hasil belajar siswa baik penilaian kognitif, afektif dan psikomotor Dengan menggunakan modul IPA berbasis Etnosains, modul tersebut akan memperoleh manfaat lebih sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Temuan Lapangan
Dengan prinsip modul berbasis etnosains yaitu guru memfasilitasi siswa dengan memberikan wacana untuk merumuskan hipotesis sehingga selama proses pembelajaran diharapkan siswa mampu memikirkan sendiri pengetahuan dan menemukan konsep berdasarkan pengalaman langsung. Pada pembelajaran ini, siswa mengamati objek dan permasalahan keanekaragaman sumber daya alam nabati yang ada di lingkungannya. Siswa dapat menemukan informasi baru dan mengaitkannya dengan konsep-konsep yang relevan dengan struktur kognitifnya, sehingga pembelajaran yang dilakukan siswa dengan modul ini akan lebih mendalam dan memperoleh pengetahuan yang bermakna.
Siswa membangun sendiri pengetahuannya agar pengetahuan yang diperolehnya lebih bermakna dan membentuk karakter diri yang positif, yang menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara kelompok siswa tersebut dibandingkan dengan kelompok siswa lainnya dalam hal rata-rata prestasi belajar, skor retensi belajar. dan persepsi siswa tentang skor keterampilan penelitian, baik secara kognitif maupun emosional.
PENUTUP
Saran
Bagi peneliti lain, sebaiknya penelitian pengembangan ini juga dilakukan dengan menggali nilai-nilai etnosains/sains di Kabupaten Ujung Gading untuk mendapatkan berbagai modul pembelajaran sains berbasis etnosains.