HUKUM PERORANGAN Mochammad Agus Rachmatulloh
A. Pengertian
Hukum Perorangan biasa disebut dengan personenrecht, diartikan dengan beberapa istilah:
Prof. Subekti, SH.
Hukum tentang diri seseorang = peraturan-peraturan tentang manusia sebagai subjek dalam hukum, peraturan-peraturan perihal kecakapan untuk memiliki hak-hak dan kecakapan untuk bertindak sendiri melaksanakan hak-haknya itu serta hal-hal yang mempengaruhi kecakapan-kecakapan itu.
Prof. Soediman Kartohadiprojo, SH.
Hukum pibadi = semua kaidah hukum yang mengatur siapa-siapa yang dapat membawa hak, yang menjadi pembawa hak dan kedudukannya dalam hukum.
Prof. Dr. L.J. van Apeldoorn
Hukum purusa = seluruh peraturan tentang purusa atau subjek-subjek hukum, yang memuat peraturan kewenangan hukum dan kewenangan bertindak.
B. Perihal Orang
1. Manusia sebagai Subjek Hukum
Dalam hukum, istilah “orang (persoon)” berarti pembawa hak, yaitu segala sesuatu yang mempunyai hak dan kewajiban, atau biasa disebut dengan “subjek hukum”.
Berlakunya seseorang sebagai pembawa hak (subjek hukum) dimulai pada saat ia dilahirkan dan berakhir pada saat ia meninggal dunia. Akan tetapi terdapat pengecualian, terhadap anak yang ada dalam kandungan seorang perempuan dianggap telah dilahirkan apabila kepentingan si anak menghendakinya [pasal 2 ayat (1) KUHPer]. Ketentuan tersebut mempunyai arti penting apabila dalam hal:
Perwalian oleh bapak atau ibu [pasal 348 KUHPer];
Mewarisi harta peninggalan [pasal 836 KUHPer];
Menerima wasiat dari pewaris [pasal 899 KUHPer];
Menerima hibah [pasal 1679 KUHPer].
Pasal 2 ayat (2) KUHPer, apabila ia mati sewaktu dilahirkan, maka dianggap tidka pernah ada. Dimaksudkan bahwa setiap anak sewaktu dilahirkan harus hidup walaupun hanay sebentar.
2. Kecakapan Bertindak dalam Hukum
Orang yang tidak cakap bertindak dalam hukum
Menurut hukum, setiap orang tanpa kecuali dapat memiliki hak-haknya, akan tetapi tidak semua orang dapat diperbolehkan bertindak sendiri dalam melaksanakannya.
Golongan orang yang oleh hukum telah dinyatakan tidak cakap atau kurang cakap untuk bertindak sendiri dalam melakukan perbuatan-perbuatan hukum, sehingga mereka haris diwakili atau dibantu oleh orang lain, terdapat pada pasal 1330 KUHPer:
Orang yang belum dewasa;
Orang yang ditaruh di bawah pengampuan;
Orang perempuan dalam pernikahan.
Orang yang belum dewasa
Orang yang belum dewasa hanya dapat menjalankan hak dan kewajiban dengan perantaraan orang lain, atau sama sekali dilarang. Kecakapan untuk bertindak hukum bagi orang yang belum dewasa:
Pasal 330 KUHPer, orang dikatakan belum dewasa apabila belum mencapai usia 21 tahun, dan tidak lebih dahulu telah kawin.
Untuk melangsungkan perkawinan: menurut pasal 29 KUHPer, usia minimal menikah bagi laki-laki 18 tahun dan perempuan 15 tahun, sedangkan menurut pasal 7 ayat (1) UU 16 Tahun 2019, usia minimal menikah bagi laki-laki dan perempuan adalah sama 19 tahun.
Dalam hal waris, menurut pasal 897 KUHPer, seseorang belum mencapai umur 18 tahun tidak dapat membuat wasiat.
Menurut pasal 19 UU No. 8 Tahun 2012, untuk dapat memlih dalam pemilihan umum harus sudah berumur 17 tahun.
Orang yang ditaruh di bawah pengampuan
Menurut pasal 433 KUHPer, orang yang ditaruh di bawah pengampuan adalah orang yang dungu, sakit ingatan atau mata gelap, dan orang boros. Terkait hal tersebut diatur sebagai berikut:
Seseorang yang karena ketidaksempurnaan akal ditaruh di bawah pengampuan, telah mengikatkan dirinya dalam suatu perkawinan, dapat diminta pembatalan perkawinan [pasal 88 ayat (1) KUHPer];
Untuk dapat membuat atau mencabut surat wasiat, seorang harus mempunyai akal budinya [pasal 895 KUHPer];
Mereka yang ditaruh di bawah pengampuan dianggap tidak cakap untuk membuat suatu perjanjian [pasal 110 KUHPer].
Kedudukan Wanita dalam hukum
Khusus untuk orang perempuan yang dinyatakan tidak cakap dalam perbuatan hukum dalam hal:
Membuat perjanjian, memerlukan bantuan atau izin dari suami [pasal 108 KUHPer];
Menghadap di muka hakim harus dengan bantuan suami [pasal 110 KUHPer].
Akan tetapi, untuk saat ini, pasal tersebut dinyatakan tidka berlaku dengan dikeluarlkannya SEMA Nomor 3 Tahun 1963 tanggal 4 Agustus 1963, yang pada intinya menyatakan tidak ada lagi perbedaan di antara semua warga negara Indonesia (termasuk suami dan istri) dalam melakukan perbuatan hukum dan untuk menghadap di muka pengadilan.
Hal ini juga senada dan ditegaskan dalam pasal 31 UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, di mana hak dan kedudukan istri adalah seimbang dengan hak dan kedudukan suami dalam kehidupan rumah tangga dan pergaulan hidup bersama dalam Masyarakat, dan masing-masing pihak berhak untuk melakukan perbuatan hukum.
3. Pendewasaan Pengertian
Pendewasaan atau perlunakan (handlichting) adalah suatu daya Upaya hukum untuk menempatkan seorang yang belum dewasa menjadi sama dengan orang yang telah dewasa, baik Tindakan tertentu maupun untuk semua tindakan. Menutu pasal 424 KUHPer, anak yang dinyatakan dewasa, dalam segala hal mempunyai kedudukan yang sama dengan orang dewasa.
Macam-macam bentuk pendewasaan Terdapat 2 macam pendewasaan:
Pendewasaan terbatas, maka anak di bawah umur (yang belum dewasa) dinyatakan dewasa untuk melakukan tindakan hukum tertentu. Syarat untuk mengajukan pendewasaan terbatas adalah harus sudah berusia 18 tahun dan permohonan diajukan ke Pengadilan Negeri [pasal 426 KUHPer].
Pendewasaan penuh, maka anak di bawah umur (yang belum dewasa) dinyatakan
pendewasaan penuh adalah sudah berusia 20 tahun dan permohonan diajukan ke Presiden/Menteri Kehakiman [pasal 420-421 KUHPer].
Pencabutan hak pendewasaan
Pendewasaan dapat dicabut atau ditarik kembali oleh Pengadilan Negeri apabila anak yang belum dewasa menyalahgunakan kewenangan yang diberikan kepadanya atau karena suatu alasan tertentu [pasal 431 KUHPer]. Selanjutnya pasal 432 KUHPer, segala bentuk pendewasaan dan pencabutan atasnya harus diumumkan dalam berita negara agar berlaku bagi umum.
Untuk saat ini, Lembaga pendewasaan ini sudah tidak mempunyai arti lagi, karena batas usia dewasa menurut UU Perkawinan adalah 19 tahun.
4. Pengampuan Pengertian
Pengampuan (curatele) adalah suatu daya upaya hukum untuk menempatkan seorang yang telah dewasa menjadi sama seperti orang yang belum dewasa. Orang yang ditaruh di bawah pengampuan disebut curandus, pengampunya disebut curator, dan pengampuannya disebut curatele.
Menurut pasal 433 KUHPer, setiap orang dewasa yang menderita sakit ingatan, boros, dungu dan mata gelap harus ditaruh di bawah pengampuan. Sedangkan menurut pasal 462 KUHPer, setiap anak yang belum dewasa yang berada dalam keadaan dungu, sakit ingatan atau mata gelap, maka tidak boleh ditaruh di bawha pengampuan, melainkan tetap di bawah pengawasan bapak dna ibu atau walinya.
Pengajuan permohonan pengampuan
Pengampuan terjadi karena adanya keputusan hakim yang didasarkan dengan adnaya permohonan pengampuan. Yang dapat mengajukan:
Keluarga sedarah terhadap keluarga sedarah, dalam hal dungu, sakit ingatan atau mata gela [pasal 434 ayat (1) KUHPer];
Keluarga sedarah dalam garis lurus dan oleh keluarga semenda dalam garis menyimpang sampai derajat keempat, dalam hal karena keborosannya [pasal 434 ayat (2) KUHPer];
Suami atau istri boleh meminta pengampuan akan istri atau suaminya [pasal 434 ayat (3) KUHPer];
Diri sendiri, dalam hal ia tidak cakap mengurus kepentingannya sendiri [pasal 434 ayat (4) KUHPer];
Kejaksaan, dalam hal mata gelap, keadaan dungu atau sakit ingatan [pasal 435 KUHPer].
Akibat hukum pengampuan
Akibat hukum dari orang yang ditaruh di bawah pengampuan:
Sama dengan orang yang belum dewasa [pasal 452 ayat (1) KUHPer];
Segala perbuatan yang dilakukan oleh orang yang ditaru di bawah pengampuan, batal demi hukum [pasal 446 ayat (2) KUHPer].
Terdapat pengecualian selain di atas:
Orang yang ditaruh di bawah pengampuan karena boros, masih boleh membuat surat wasiat [pasal 446 ayat (3) KUHPer];
Orang yang ditaruh di bawah pengampuan karena boros, masih bisa melangsungkan perkawinan dan membuat perjanjian kawin yang dibantu pengampunya [pasal 452 ayat (2) KUHPer];
Berakhirnya pengampuan
Pengampuan berakhir apabila sebab-sebab yang mengakibatkannya telah hilang [pasal 460 KUHPer]. Selain itu, pengampuan juga berakhir apabila si curandus meninggal dunia.
C. Perihal Badan Hukum 1. Pengertian
Di samping manusia sebagai pembawa hak (subjek hukum), juga terdapat badan- badan atau perkumpulan-perkumpulan yang dapat juga memiliki hak-hak dan melakukan perbuatan-perbuatan hukum layaknya manusia. Badan dan perkumpulan tersebut mempunyai kekayaan sendiri, ikut serta dalam lalu lintas hukum dengan perantaraan pengurusnya, dapat digugat dan juga menggugat di muka hakim. Dinamakan badan hukum atau rechtspersoon, orang yang diciptakan oleh hukum.
Prof. Wirjono Prodjodikoro
Suatu badan yang di samping manusia perorangan juga dianggap dapat bertindak dalam hukum dan yang mempunyai hak-hak, kewajiban-kewajiban dan perhubungan hukum terhadap orang lain atau badan lain.
Prof. Sri Soedewi Masjchoen Sofwan
Kumpulan dari orang-orang yang bersama-sama mendirikan suatu badan (perhimpunan) dan kumpulan harta kekayaan, yang ditersendirikan untuk tujuan tertentu (yayasan). Baik perhimpunan maupun yayasan, keduanya berstatus sebagai badan hukum, merupakan persoon, pendukung hak dan kewajiban.
2. Syarat berdirinya suatu badan hukum
Badan atau perkumpulan dapat disebut sebagai badan hukum jika telah memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
Adanya harta kekayaan yang terpisah dari kekayaan orang perseorangan yang bertindak;
Adanya suatu tujuan tertentu;
Adanya suatu kepentingan sendiri dari sekelompok orang;
Adanya suatu organisasi yang teratur.
Badan hukum mulai berlaku sebagai subjek hukum sejak badan hukum itu disahkan oleh UU dan berakhir saat dinyatakan bubar (dinyatakan pailit) oleh pengadilan.
Perkumpulan dapat dimintakan pengesahan sebagai badan hukum melalui cara:
Didirikan dengan akta notaris;
Didaftarkan di kantor pengadilan negeri setempat;
Dimintakan pengesahan anggaran dasarnya kepada Kementerian kehakiman;
Diumumkan dalam berita negara.
Syarat berdirinya badan hukum diatur dalam berbagai peraturan perundang-undangan, antara lain:
Perseroan Terbatas, Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007;
Koperasi, Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992;
Bank, Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998;
Yayasan, Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2004.
3. Teori mengenai badan hukum
Beberapa pendapat dan teori mengenai badan hukum, yaitu:
Teori fiksi Teori organ
Teori harta kekayaan bertujuan Teori harta karena jabatan Teori kekayaan Bersama Teori kenyataan yuridis
4. Pembagian badan hukum
Pada dasarnya badan hukum terbagi menjadi 2 bagian:
Badan hukum publik
Badan hukum yang didirikan oleh negara untuk kepentingan publik atau negara. Badan hukum ini merupakan badan hukum negara dan diatur dengan peraturan perundang- undangan. Antara lain:
NKRI, diatur dengan UUD 1945 beserta amandemennya;
Pemda Tk. I dan II, diatur dengan UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah dan UU lainnya;
Bank Indonesia, diatur dengan UU No. 3 Tahun 2004 tentang Perubahan atas UU No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia;
Perusahaan milik negara, yang diatur dalam undnag-undangnya masing-masing.
Badan hukum privat
Biasa disebut juga dengan badan hukum keperdataan, merupakan badan hukum yang didirikan untuk kepentinagn individu. Badan hukum ini merupakan milik swasta yang didirikan oleh individu-individu untuk tujuan tertentu dan menurut hukum yang berlaku secara sah. Antara lain:
Perseroan Terbatas, diatur dalam KUHD dan UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas;
Firma, diatur dalam KUHD;
Persekutuan Komanditer (Commanditaire Vennotschaap/CV), diatur dalam KUHD;
Perbankan, diatur dalam UU No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan;
Koperasi, diatur dalam UU No. 17 Tahun 2012 tentang Perkoperasian;
Partai Politik, diatur dalam UU No. 2 Tahun 2011 tentang Perubahan atas UU No. 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik;
Organisasi Kemasyarakatan, diatur dalam UU No. 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan;
Yayasan, diatur dalam UU No. 28 Tahun 2004 tentang Perubahan atas UU No. 16 Tahun 2001 tentang Yayasan.
D. Perihal Domisili 1. Pengertian
Pada dasarnya setiap orang harus mempunyai tempat tinggal yang dapat dicari.
Tempat tinggal atau tempat kediaman itu disebut domisili. Domisili adalah tempat di mana seseorang dianggap selalu hadir mengenai hal melakukan haknya dan memenuhi kewajibannya, meskipun sesungguhnya ia bertempat tinggal di tempat lain. Domisili dapat berarti tempat tinggal seseorang atau tempat kedudukan badan hukum.
2. Pentingnya Domisili
Domisili mempunyai arti yang sangat penting untuk diketahui karena untuk menentukan atau menunjukkan suatu tempat di mana berbagai perbuatan hukum harus atau dapat dilakukan. Antara lain:
Untuk mengetahui di mana seseorang harus menikah [pasal 76 dan 77 ayat (1) KUHPer];
Untuk mengetahu di mana ia harus mengajukan gugatan perceraian [pasal 207 KUHPer];
Untuk mengetahui pengadilan mana yang berwenang untuk mengadili suatu perkara perdata seseorang;
Untuk mengetahui di mana harus mengikuti Pemilu;
Untuk mengetahu tempat pembayaran suatu barang [pasal 1393 ayat (2) KUHPer];
3. Macam-macam Domisili
Tempat tinggal dapat dibedakan menjadi 2 macam:
Tempat tinggal yang sesungguhnya
Tempat tinggal di mana seseorang itu sesungguhnya berada. Dapat dibedakan lagi menjadi 2 macam:
Tempat tinggal bebas
Tidak terikat atau tidak tergantung pada orang lain, bebas untuk menentukan tempat tinggalnya sendiri.
Tempat tinggal yang tidak bebas
Tempat tinggal yang terikat atau tergantung atau mengikuti tempat tinggalk ornag lain. Antara lain [pasal 21-22 KUHPer]:
Seorang istri yang mengikuti domisili suaminya;
Anak-anak yang belum dewasa mengikuti domisili orang tua/wali mereka;
Orang dewasa yang ditaruh di bawah pengampuan mengikuti domisili pengampunya;
Para pekerja (buruh) mengikuti domisili majikannya jika mereka ikut tinggal dalam rumah majikannya.
Tempat tinggal pilihan
Terdapat domisili yang dapat dipilih, berhubungan dengan hal-hal dalam melakukan perbuatan hukum tertentu. Dalam suatu sengketa perdata di persidangan, para pihak berperkara atau salah satu berhak bebas denagn suatu akta memilih domisili lain dari tempat tinggal mereka [pasal 24 ayat (1) KUHPer].
Selain itu menurut pasal 23 KUHPer, rumah kematian seseorang yang telah meninggal dunia, dianggap terletak di mana si meninggal mempunyai tempat tinggalnya terakhir.
Biasa juga disebut dengan “domisili penghabisan” dari seseorang yang meninggal. Hal ini penting untuk menentukan hukum mana yang berlaku soal warisan dan hakim mana yang berkuasa mengadili perkara waris tersebut.
- Terimakasih -
“Semoga Manfaat dan Barokah”