• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hubungan Mekanisme Coping dengan Kualitas Hidup Pasien Gagal Ginjal Kronik di RSUD M.TH.DJaman

N/A
N/A
Devi Triyanti

Academic year: 2024

Membagikan "Hubungan Mekanisme Coping dengan Kualitas Hidup Pasien Gagal Ginjal Kronik di RSUD M.TH.DJaman"

Copied!
48
0
0

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN MEKANISME KOPING DENGAN KUALITAS HIDUP PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK SAAT MENJALANI HEMODIALISA DI RSUD M.TH.DJAMAN

KABUPATEN SANGGAU

Disusun Oleh FITRISIA AGNI Nim 1420123103

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN INSTITUT KESEHATAN IMMANUEL

2023

(2)

HUBUNGAN MEKANISME KOPING DENGAN KUALITAS HIDUP PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK SAAT MENJALANI HEMODIALISA RSUD M.TH.DJAMAN KABUPATEN SANGGAU

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Syarat Dalam Mendapat Gelar Sarjana Strata satu(S1)pada program Study Ners Tahap Akademi Pada Institut Kesehatan Immanuel Bandung

Disusun Oleh FITRISIA AGNI

1420123103

PROGRAM STUDI S1 KERERAWATAN I NSTITUT KESEHATAN IMMANUEL

(3)

2003

(4)

LEMBAR PENGESAHAN

Proposal ini telah diperiksa dan disetujui untuk diseminarkan di hadapan TIM Penguji Program S1 Keperawatan Institut Kesehatan Immanuel Bandung

Bandung,... 2024

Menyetujui,

Pembimbing Utama Pembimbing Pendamping

Mengetahui,

Ka UP Program Studi S1 Keperawatan Institut Kesehatan Immanuel Bandung

(Srihesty Manan, S.Kep.,Ners.,M.KM) (Dr.Antonius Ngadiran, S.Kep.,Ners.,M.Kep.,M.Pd)

(5)

(Lidya Maryani, S.Kep.,Ners.,MM.,M.Kep)

(6)

LEMBAR PENGESAHAN PENGUJI SIDANG PROPOSAL

Judul Proposal : Hubungan mekanisme koping dengan kualitas hidup pada pasien gagal ginjal kronik saat menjalani hemodialisa di RSUD M.Th DJAMAN KABUPATEN SANGGAU

Nama : Fitrisia Agni NIM :1420123103

Proposal ini telah di setujui dan diketahui oleh Tim Penguji Sidang proposal

Penguji i (____________)

Penguji ii (____________)

(Tanggal Ujian) :

(Tanggal pelaksanaan seminar proposal)

(7)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala karunia-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan proposal ini dengan judul “Hubungan mekanisme koping dengan kualitas hidup pada pasien gagagl ginjal kronik saat menjalani hemodialisa di RSUD M.Th DJAMAN KABUAPTEN SANGGAU” Terima kasih penulis ucapkan kepada :

1. Dr. Wintari Hariningsih, SKp.,SH.,MH.Kes selaku Rektor Institut Kesehatan Immanuel.

2. dr. Harson SPOG,selaku Direktur RSUD M.Th.Djaman kabupaten sanggau.

3. Dr.Antonius Ngadiran, S.Kep.,Ners., M.Kep..M.pd..selaku pembimbing pertama 4. Srihesty Manan,S.Kep.,Ners,.M.KM selaku Pembimbing kedua

Semoga proposal penelitian ini dapat bermanfaat.

Sanggau, ……,....….2024

Fitrisia Agni

(8)

Bab 1 Pendahuluan 1.1 Latar belakang

Gagal ginjal kronik (GGK) merupakan suatu kondisi di mana fungsi ginjal secara progresif menurun dan tidak dapat pulih sepenuhnya. Hal ini menyebabkan gangguan dalam pemeliharaan metabolisme tubuh serta keseimbangan cairan dan elektrolit. Salah satu indikator yang umumnya meningkat pada GGK adalah kadar ureum dalam darah.

Pasien dengan GGK membutuhkan perawatan medis yang intensif untuk mengelola kondisi mereka. Hal ini meliputi pengendalian tekanan darah, pengaturan asupan nutrisi, pengelolaan cairan dan elektrolit, serta pemberian obat-obatan untuk mengurangi gejala dan memperlambat progresivitas penyakit. Studi yang dilakukan oleh (Oktarina et al., 2021) membahas tentang pentingnya pendekatan medis yang terarah dan terkoordinasi dalam pengelolaan GGK untuk memperbaiki kualitas hidup pasien serta memperlambat kemajuan penyakit.

Data Centers For Disease Control And Prevention, (2019) menemukan fakta bahwa 37 juta orang atau sekitar 15% orang dewasa di Amerika Serikat menderita Gagal Ginjal Kronik. Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2018 melaporkan bahwa kejadian Gagal Ginjal di Indonesia sebesar 19,3%, dengan prevalensi tertinggi terdapat di Kalimantan Utara, yaitu 0,68% dan tertinggi kedua di Maluku Utara, yaitu 0,56%, sedangkan di kalimantan barat mencapai 0,42 %, dan data di RSUD M.Th DJAMAN KABUPATEN SANGGAU berdasarkan hasil rekam medis menunjukan pada tahun 2023 dari Januari sampai Desember ada 110 pasien dengan Gagal Ginjal Kronik dan harus melakukan hemodialisa sebanyak 2 kali dalam seminggu

Penatalaksanaan pasien gagal ginjal kronik (GGK) meliputi beberapa aspek utama, seperti pengendalian cairan, pengendalian elektrolit, penanganan anemia, serta

(9)

terapi farmakologis dan non-farmakologis. Pengendalian cairan merupakan salah satu aspek penting dalam manajemen GGK. Pasien perlu membatasi asupan cairan sesuai dengan kebutuhan tubuh dan jumlah urine yang dihasilkan dalam 24 jam, ditambah dengan volume kehilangan cairan melalui proses dialisis. Hal ini bertujuan untuk mencegah terjadinya edema dan komplikasi kardiovaskular yang dapat terjadi akibat penumpukan cairan yang berlebihan dalam tubuh. Selain itu, pengendalian elektrolit juga penting dalam penatalaksanaan GGK. Beberapa masalah elektrolit yang umum terjadi pada pasien GGK adalah hiperkalemia, asidosis metabolic, dan gangguan metabolisme kalsium dan fosfor. Pengaturan diet serta terapi medis seperti hemodialisis diperlukan untuk mengendalikan kadar elektrolit dalam tubuh agar tetap dalam batas normal.

Penanganan anemia juga menjadi fokus dalam manajemen GGK. Pemberian epoetin alfa (EPO) dapat membantu meningkatkan hematokrit dan meningkatkan energi serta kualitas hidup pasien. Selain itu, pasien juga membutuhkan suplementasi zat besi untuk mendukung proses eritropoiesis. Terapi farmakologis seperti pengendalian tekanan darah dan penanganan komplikasi lainnya juga diperlukan dalam manajemen GGK.

Pemilihan obat antihipertensi, statin, antiplatelet, dan terapi lainnya harus disesuaikan dengan kondisi klinis dan kebutuhan individual pasien. Selain terapi farmakologis, terapi pengganti ginjal seperti hemodialisis juga sangat penting dalam penatalaksanaan GGK.

Hemodialisis bertujuan untuk mengeluarkan sisa metabolisme dan racun dari peredaran darah melalui proses filtrasi dan osmosis melalui membran semi-permeabel. Hal ini membantu memperpanjang kelangsungan hidup dan memperbaiki kualitas hidup pasien dengan GGK (Indriani et al., n.d., 2023).

Pasien yang menjalani hemodialisis menggunakan sejumlah mekanisme koping dalam menghadapi stressor tersebut..Penelitian oleh (Sitepu et al.,2021) menemukan bahwa mayoritas pasien GGK yang menjalani hemodialisis mengalami tingkat kecemasan yang sedang. Dalam penelitian tersebut, sebagian besar dari mereka cenderung menggunakan mekanisme koping yang maladaptif dalam menghadapi

(10)

kecemasan tersebut. Mekanisme koping adalah cara individu mengatur stres dan ketidaksesuaian antara yang diinginkan dengan yang diterima jika koping dilakukan secara maladaptif, ini dapat memperburuk kecemasan. Misalnya, dengan menghindari masalah atau menggunakan cara-cara yang tidak sehat untuk mengatasinya. Penelitian yang dilakukan oleh (Yonlafado Simanjuntak & Anggraini, 2020) tentang hubungan kecemasan dengan kualitas hidup pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis di Rumah Sakit Ginjal Rasida Medan dapat didapatkan bahwa mayoritas pasien mengalami kecemasan kategori sedang dan mayoritas pasien memiliki kualitas hidup kategori buruk.

Hemodialisa juga dapat mempengaruhi keadaan psikologis pasien seperti gangguang berfikir dan konsentrasi serta hubungan sosial pasien dengan orang lain dan lingkungan, hal tersebut menyebabkan menurunnya kualitas hidup pasien. Menurut (Anggraini & Fadila, 2023) kualitas hidup adalah persepsi individu tentang posisi mereka dalam kehidupan dalam konteks budaya dalam sistem nilai dimana mereka tinggal dan dalam hubungan mereka dengan tujuan, harapan, standar hidup dan masalah. Penilaian kualitas hidup dilakukan denganm onitoring status fungsional dan pernyataan subyektif terkait kondisi pasien. Kualitas hidup dapat diukur dengan instrument World Health Organization Quality of Life (WHQOL) Pada SF-36 yang terdiri dari 36 pertanyaan meliputi beberapa domain yaitukesehatan fisik, kesehatan psikologis, tingkat independen, hubungan sosial lingkungan dan spiritual. Penelitian ini sejalan dengan (Imron Rosyidi & Wakhid, 2017) yang mengatakan bahwa gambaran kualitas hidup pasien gagal ginjal kronik dilihat dari dimensi kesehatan fisik memiliki kualitas hidup buruk.

Faktor-faktor seperti dukungan sosial, akses terhadap perawatan medis yang adekuat, serta kemampuan individu dalam mengatasi stres dan mengelola kondisi kesehatan mereka juga memiliki peran penting dalam menentukan kualitas hidup seseorang yang menderita gagal ginjal kronik.

(11)

Berdasarkan latar belakang permasalahan yang terjadi maka peneliti tertarik untuk meneliti tentang Hubungan Mekanisme Koping Dengan Kualitas Hidup Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik Dalam Menjalani Hemodialisa Di RSUD M.Th.DJAMAN KABUPATEN SANGGAU, Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana pasien GGK di RSUD M.Th.DJAMAN Kabupaten Sanggau mengelola stres dan ketidaknyamanan yang terkait dengan kondisi mereka, serta bagaimana cara manajemen tersebut memengaruhi kualitas hidup mereka.

1.2 Rumusan Masalah

Adakah ada Hubungan Mekanisme Koping Individu dengan Kualitas Hidup pada Pasien Gagal Ginjal Kronik yang Menjalani hemodialisa di Ruang Hemodialisa RSUD M.Th.DJAMAN KABUPATEN SANGGAU?

1.3 Tujuan

1.3.1 Tujuan Umum

Menganalisis Hubungan Mekanisme Koping dengan kualitas hidup pada Pasien Gagal Ginjal Kronik yang menjalani Hemodialisa di RSUD MTh.DJAMAN KABUPATEN SANGGAU

1.3.2 Tujuan Khusus

a. Mengidentifikasi Mekanisme Koping pada Pasien Gagal ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisa di Ruang hemodialisa RSUD MTH.DJAMAN KABUPATEN SANGGAU

b. Mengidentifikasi Kualitas Hidup pada Pasien Gagal ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisa di Ruang hemodialisa RSUD MTH.DJAMAN SANGGAU.

c. Menganalisis Hubungan Mekanisme Koping dengan Kualitas Hidup pada Pasien Gagal Ginjal Kronik yang menjalani Hemodialisa di Ruang Hemodialisa RSUD MTh.DJAMAN KABUPATEN SANGGAU.

(12)

1.4 Manfaat

1.4.1 Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat menambah khasanah keilmuan dan memberikan informasi serta pengembangan dibidang psikologi klinis, psikologi keluarga, dan psikologi kesehatan tentang dampak penyakit yang membuat seseorang terkena stress atau tekanan mental. Dibidang kedokteran dapat menyembuhkan secara fisik maupun psikologis dari pasien penderita gagal ginjal atau penyakit lainnya.

1.4.2 Manfaat Praktis

a. Bagi profesi keperawatan, hasil penelitian dapat dijadikan sebagai sumber informasi dalam memberikan asuhan keperawatan yang komperehensif dalam hal penanganan masalah psikologis yang timbul akibat penyakit kronik.

b. Bagi dosen, hasil penelitian dapat dijadikan sumber pustaka yang berkaitan dengan penelitian penyakit kronik dan status psikologis khususnya masalah mekanisme koping dan kualitas hidup. Sedangkan bagi peneliti selanjutnya, hasil penelitian ini dapat memotivasi peneliti lain untuk meneliti tentang GGK serta sebagai sumber referensi bagi peneliti lain yang akan meneliti tentang penyakit GGK.

(13)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kajian Teori

2.1.1 Gagal Ginjal Kronik

2.1.1.1Definisi Gagal Ginjal Kronik

Ginjal merupakan organ tubuh manusia yang berfungsi dalam sistem ekskresi atau pembuangan. Ginjal merupakan salah satu organ yang harus selalu dijaga agar tetap berfungsi dengan normal. Mengalami gangguan ginjal berarti berpotensi untuk terkena penyakit lainnya. Penyakit ginjal dapat terjadi karena adanya gangguan pada sistem penyaringan organ ginjal, di mana ginjal sudah tidak berfungsi sebagian organ penyaring racun sehingga terjadi penumpukan racun pada glomerulus. Penumpukan inilah yang akhirnya mengakibatkan kerusakan pada ginjal.

2.1.1.2Etiologi Gagal Ginjal Kronik

Penyakit gagal ginjal disebabkan oleh tekanan darah tinggi atau hipertensi dan diabetes yaitu sebagai berikut (Ariani, 2016) :

a. Gangguan ginjal pada diabetes Diabetes merupakan salah satu penyebab utama terjadinya penyakit gagal ginjal. Jika glukosa dalam darah terlalu tinggi, ini dapat mempengaruhi kemampuan ginjal untuk menyaring kotoran dalam darah dengan merusak system penyaringan ginjal. Maka dari itu sangat penting bagi penderita diabetes untuk menjaga tingkat glukosa mereka melalui pola makan yang sehat dan mengkonsumsi obat-obat anti diabetes sesuai aturan dokter.

(14)

b. Gangguan ginjal pada hipertensi Tekanan darah adalah ukuran tekanan saat jantung memompa darah ke pembuluh arteri dalam setiap denyut nadi. Tekanan darah kerap diasosiasikan dengan penyakit ginjal, karena tekanan darah yang berlebihan dapat merusak organ tubuh. Hipertensi menghambat proses penyaringan dalam ginjal. Kondisi ini mreusak ginjal dengan menekan pembuluh darah kecil dalam organ tersebut. Meski Sembilan dari sepuluh penyebab kasus tekanan darah tinggi tidak diketahui, namun ada kaitan antara kondisi tersebut dengan kesehatan tubuh seseorang secara menyeluruh, termasuk pola makan dan gaya hidup. Orang yang memiliki kebiasaan tertentu seperti kurang berolahraga, kebiasaan merokok, stress, obesitas, mengonsumsi minuman keras berlebihan, terlalu banyak garam dan lemak dalam makanan yang dikonsumsi, serta kurang potassium dan vitamin D, maka orang tersebut akan memiliki risiko mengidap penyakit hipertensi lebih tinggi.

2.1.1.3Patofisiologi Gagal Ginjal Kronik

Terdapat dua pendekatan teoretis yang umumnya diajukan untuk menjelaskan gangguan fungsi ginjal pada gagal ginjal kronik.

Sudut pandangan tradisional mengatakan bahwa semua unit nefron telah terserang penyakit namun dalam stadium yang berbeda- beda, dan bagian-bagian spesifik dari nefron yang berkaitan dengan fungsi tertentu dapat saja benar-benar rusak atau berubah strukturnya. Misalnya, lesi organik pada medula akan merusak susunan anatomik pada lengkung Henle dan vasa rekta, atau pompa klorida pada pars asendens lengkung Henle yang akan mengganggu proses aliran balik pemekat dan aliran balik penukar.

(15)

Pendekatan kedua dikenal dengan nama hipotesis Bricker atau hipotesis nefron yang utuh, yang berpendapat bahwa bila nefron terserang penyakit, maka seluruh unitnya akan hancur, namun sisa nefron yang masih utuh tetap bekerja normal. Uremia akan terjadi bila jumlah nefron sudah sangat berkurang sehingga keseimbangan cairan dan elektrolit tidak dapat dipertahankan lagi.

Hipotesis nefron yang utuh ini sangat berguna untuk menjelaskan pola adaptasi fungsional pada penyakit ginjal progresif, yaitu kemampuan untuk mempertahankan keseimbangan air dan elektrolit tubuh kendati GFR sangat menurun.

Urutan peristiwa dalam patofisiologi gagal ginjal progresif dapat diuraikan dari segi hipotesis nefron yang utuh.Meskipun penyakit ginjal kronik terus berlanjut, namun jumlah zat terlarut yang harus diekskresi oleh ginjal untuk mempertahankan homeostasis tidaklah berubah, kendati jumlah nefron yang bertugas melakukan fungsi tersebut sudah menurun secara progresif.Dua adaptasi penting dilakukan oleh ginjal sebagai respons terhadap ancaman ketidak seimbangan cairan dan elektrolit. Sisa nefron yang ada mengalami hipertrofi dalam usahanya untuk melaksanakan seluruh beban kerja ginjal. Terjadi peningkatan filtrasi beban zat terlarut dan reabsorpsi tubulus dalam setiap nefron meskipun GFR untuk seluruh massa nefron yang terdapat dalam ginjal turun di bawah nilai normal. Mekanisme adaptasi ini cukup berhasil dalam mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh hingga tingkat fungsi ginjal yang sangat rendah. Namun akhirnya, kalau sekitar 75% massa nefron sudah hancur, maka kecepatan filtrasi dan beban zat terlarut bagi setiap

(16)

nefron demikian tinggi sehingga keseimbangan glomerulus-tubulus (keseimbangan antara peningkatan filtrasi dan peningkatan reabsorpsi oleh tubulus) tidak dapat lagi dipertahankan, bahwa 6 dari 8 buah nefron telah hancur).

Fleksibilitas baik pada proses ekskresi maupun proses konservasi zat terlarut dan air meniadi berkurang. Sedikit perubahan pada makanan dapat mengubah keseimbangan yang rawan tersebut, karena makin rendah GFR (yang berarti makin sedikit nefron yang ada) semakin besar perubahan kecepatan ekskresi per nefron. Hilangnya kemampuan memekatkan atau mengencerkan urine menyebabkan berat jenis urine tetap pada nilai 1,010 atau 285 mOsm (yaitu sama dengan konsentrasi plasma) dan merupakan penyebab gejala poliuria dan nokturia.

Sebagai contoh, seseorang dengan makanan normal mengekskresi zat terlarut sekitar 600 mOsm per hari. Kalau orang itu tidak dapat lagi memekatkan urinenya dari osmolalitas plasma normal sebesar 285 mOsm, maka tanpa memandang banyaknya asupan air akan terdapat kehilangan obligatorik 2 liter air untuk ekskresi zat terlarut 600 mOsm (285 mOsm/ liter). Sebagai respons terhadap beban zat terlarut yang sama dan keadaan kekurangan cairan, orang normal dapat memekatkan urine sampai 4 kali lipat konsentrasi plasma dan dengan demikian hanya akan mengekskresi sedikit urine yang pekat. Bila GFR terus turun sampai akhirnya mencapai nol, maka semakin perlu mengatur asupan cairan dan zat terlarut secara tepat untuk mampu mengakomodasikan penurunan fleksibilitas fungsi ginjal.

(17)

Hipotesis nefron yang utuh ini didukung beberapa pengamatan eksperimental. Bricker dan Fine (1969) memperlihatkan bahwa pada pasien pielonefritis dan anjing-anjing yang ginjalnya dirusak pada percobaan, nefron yang masih bertahan akan mengalami hipertrofi dan menjadi lebih aktif dari keadaan normal. Juga diketahui bahwa bila satu ginjal seorang yang normal dibuang, maka ginjal yang tersisa akan mengalami hipertrofi dan fungsi ginjal ini mendekati kemampuan yang sebelumnya dimiliki oleh kedua ginjal itu secara bersama-sama. Juga terbukti bahwa ginjal normal dengan beban zat terlarut meningkat akan bertindak sama seperti ginjal yang mengalami gagal ginjal progresif. Hal ini mendukung hipotesis nefron yang utuh. Data eksperimental memperlihatkan bahwa dengan meningkatnya jumlah beban zat terlarut secara progresif, maka kemampuan pemekatan urine dalam keadaan kekurangan air (kurva atas) atau kemampuan pengenceran urine dalam keadaan asupan yang banyak (kurva bawah) akan menghilang secara progresif. Kedua kurva mendekati berat jenis 1,010 sampai urine menjadi isoosmotik dengan plasma pada 285 mOsm sehingga terjadi berat jenis yang tetap.Keadaan percobaan tersebut di atas dapat ditimbulkan pada seorang normal dengan memberikan manitol (suatu diuretik osmotik).

Angka 10 pada sumbu x sengaja dipilih untuk memperlihatkan bahwa ginjal mengekskresi beban zat terlarut sebanyak 10 kali lipat. Dalam keadaan ini setiap nefron yang normal mengalami diuresis osmotik disertai kehilangan air obligatorik. Ginjal kehilangan fleksibilitasnya untuk memekatkan maupun mengencerkan urine dari osmolalitas plasma sebesar 285 mOsm.

(18)

Kejadian yang serupa mungkin terjadi pada pasien gagal ginjal progresif. Pasien dengan 90% massa nefron yang pada grafik tersebut seperti orang normal dengan beban zat terlarut 10 kali keadaan normal. Sepuluh persen sisa nefron dipaksa untuk mengekskresi 10 kali lipat beban zat terlarut normal, dan dengan demikian kebilangan fleksibilitasnya Nefron- nefron tersebut tidak dapat mengkompensasi secara tepat dengan perubahan yang terjadi melalui reabsorpsi tubulus terhadap kelebihan atau kekurangan natrium atau air.

Tercatat beberapa kali bahwa gagal ginjal kronik sering bersifat progresif, bahkan bila faktor pencetus cedera telah disingkirkan. Sebagai contoh, pada anakanak dengan pielonefritis kronik yang disebabkan oleh refluks vesikouretral dan infeksi traktus urinarius (UTI) yang berulang akan timbul jaringan parut pielonefritis yang menyerang tubulus dan interstisium namun, bila refluks tersebut dikoreksi secara bedah dan infeksi ginjal dihentikan dengan antibiotik, gagal ginjal progresif tetap akan berlanjut.

Observasi ini telah memulai upava penelitian utama baru-baru ini untuk mempelajari alasan perkembangan penyakit ginjal dan cara untuk menghentikan atau memperlambat perkembangan tersebut.

Penjelasan terbaru yang paling populer untuk gagal ginjal progresif tanpa penyakit ginjal primer yang aktif adalah hipotesis hiperfiltrasi.

2.1.1.4Penatalaksanaan Gagal Ginjal Kronik

Menurut Baradero (2008) penatalaksanaan pasien gagal ginjal kronik meliputi :

a. Pengendalian cairan

(19)

Perubahan kemampuan untuk mengatur air dan mengekskresi natrium merupakan tanda awal gagal ginjal.

Biasanya, pasien CRF mengalami hipervolemia akibat ginjal yang tidak mampu mengekskresikan natrium dan air. Namun, ada juga beberapa pasien dengan CRF yang tidak mampu menahan natrium dan air sehingga mengalami hipovolemia.

Tujuan pengendalian cairan adalah mempertahankan status normotensif (tekanan darah dalam batas normal) dan status normovolemik (volume cairan dalam batas normal).

Pembatasan asupan cairan pada pasien gagal ginjal kronik, sangat perlu dilakukan.Hal ini bertujuan untuk mencegah terjadinya edema dan komplikasi kardiovaskular.Air yang masuk ke dalam tubuh dibuat seimbang dengan air yang keluar, baik melalui urin maupun IWL. Dalam melakukan pembatasan asupan cairan, bergantung dengan haluaran urin dalam 24 jam dan ditambahkan dengan IWL, ini merupakan jumlah yang diperbolehkan untuk pasien dengan gagal ginjal kronik yang mendapat dialysis. Misalnya: jika jumlah urin yang dikeluarkan dalam waktu 24 jam adalah 400 ml, maka asupan cairan total dalam sehari adalah 400 + 500 ml = 900 ml Makanan-makanan cair dalam suhu ruang (agar-agar, soup dan es krim) dianggap cairan yang masuk.

Pasien GGK yang mendapatkan terapi hemodialisis harus mengatur asupan cairan, sehingga berat badan yang diperoleh tidak lebih dari 1,5 kilogram diantara waktu dialysis.

Mengontrol asupan cairan merupakan salah satu masalah bagi pasien yang mendapatkan terapi dialysis, karena dalam kondisi normal manusia tidak dapat bertahan lebih lama tanpa

(20)

asupan cairan dibandingkan dengan makanan. Namun bagi penderitaa penyakit gagal ginjal kronik harus melakukan pembatasan asupan cairan untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Ginjal sehat melakukan tugasnya menyaring dan menabung limbah dan racun ditubuh kita dalam bentuj urin 24 jam, apabila fungsi ginjal terganggu maka terapi HD yang menggantikan tugas tersebut.

Mayoritas pasien yang mendapatkan terapi HD di Indonesia dilakukan dialysis dalam 2 kali perminggu, dan 4-5 jam perkali dialysis, itu artinya tubuh harus menanggung kelebihan cairan diantara dua waktu terapi. Apabila pasien tidak membatassi jumlah asupan cairan yang terdapat dalam minuman maupun makanan, maka cairan akan menumpuk di dalam tubuh dan akan menimbulkan edema di sekitar tubuh.

Kondisi ini akan membuat tekanan darah meningkat dan memperberat kerja jantung.

Penumpukan cairan juga akan masuk ke paru-paru sehingga membuat pasien mengalami sesak nafas, karena itu pasien perlu mengontrol dan membatasi jumlah asupan cairan yang masuk dalam tubuh. Pembatasan tersebut penting agar pasien tetap merasa nyaman pada saat sebelum, selama dan sesudah terapi hemodialisis. Penambahan berat badan antara dua waktu dialysis merupakan salah satu indicator kualitas bagi pasien HD yang perlu dikaji, sehingga dapat digunakan untuk meningkatkan perawatan berkelanjutan diantara dua waktu dialysis dan meningkatkan kepatuhan terhadap pembatasan cairan.

(21)

Kelebihan cairan yang terjadi dapat dilihat dari terjadinya penambahan berat badan secara cepat.

Penambahan berat badan 2% dari berat badan normal merupakan kelebihan cairan ringan, penambahan berat badan 4% merupakan kelebihan cairan sedang, penambahan 6%

merupakan kelebihan cairan berat. Asupan cairan membutuhkan regulasi yang hati-hati dalam gagal ginjal lanjut, karena rasa haus pasien merupakan panduan yang tidak dapat diyakini mengenai keadaan hidrasi pasien.

Berat badan harian merupakan parameter penting yang dipantau, selain catatan yang akurat mengenai asupan dan keluaran. Asupan yang terlalu bebas dapat menyebabkan kelebihan beban sirkulasi, edema, dan intoksikasi cairan.Asupan yang kurang dari optimal dapat menyebabkan dehidrasi, hipotensi, dan pemburukan fungsi ginjal.

b. Pengendalian Elektrolit 1. Hiperkalemia

Kadar kalium plasma pada hiperkalemia adalah lebih dari 5,5 mEq/L. Pada pasien dengan CRF, retensi kalium terjadi karena nefron kurang mampu melakukan ekskresi.

Hiperkalemia dapat dikendalikan dengan mengurangi asupan makanan yang kaya dengan kalium (pisang, jeruk, kentang, kismis, dan sayuran berdaun hijau) atau hemodialisis dengan dialisat tanpa mengandung kalium plasma yang dapat segera mengambil kalium dalam tubulus pasien.

2. Asidosis metabolic

(22)

Asidosis metabolik terjadi karena nefron yang rusak tidak dapat mengekskresikan asam yang dihasilkna dari metabolism tubuh. Apabila laju filtrasi glomerulus menurun sampai 30-40%, asidosis metabolik mulai berkembang karena kemampuan tubulus distal untuk mereabsorpsi bikarbonta menurun. Walaupun terjadi retensi ion hydrogen dan hilangnya bikarbonat, pH plasma masih dapat dipertahankan karena tubuh mempunyai mekanisme pendaparan (buffering).

3. Hipokalsemia/ Hipofosfatemia

Pada gagal ginjal, kemampuan ginjal untuk mengekskresi fosfor berkurang. Siklus hipokalsemia/

hiperfosfatemia mengakibatkan demineralisasi tulang.

Kalsium dan fosfor dikeluarkan dalam darah. Berkurangnya laju filtrasi glomerulus mengakibatkan peningkatan fosfat plasma, sekaligus penurunan kalsium serum. Penurunan kadar kalsium serum akan menstimulasi sekresi hormone paratoid dengan akibat kalsium di resorpsi dari tulang.

Ginjal tidak mampu mengekskresikan sintesis vitamin D ke bentuk yang aktif, yaitu 1,25- dihidroksikolekalsifero.

Vitamin D yang aktif ini diperlukan untuk mengabsospsi kalsium dari traktus gastrointestinal dan menyimpan kalsium dalam tulang. Gangguan ini mengakibatkan lambatnya pertumbuhan (pada anak-anak), nyeri tulang, dan osteodistrofi ginjal pada orang dewasa. Tujuan terapi adalah menurunkan fosfor serum ke batas normal.

c. Penanganan Anemia

(23)

Anemia menyertai CRF. Pengobatan dengan epoitin alfa (EPO), (bentuk rekombinan dari eritropoietin) berhasil meningkatkan hematokrit, mengurangi kebutuhan transfuse darah, dan menambah tenaga pasien. Peningkatan hematokrit ini dapat membuat pasien mampu melakukan aktivitas hidup sehari-hari. EPO diberikan subkutan 50U/kg berat badan 3 kali seminggu. EPO dapat diberikan sewaktu dialysis dilakukan zat besi merupakan komponen penting eritropoiesis karena pasien perlu tambahan zat besi. Zat besi mempunyai efek samping pada gastrointestinal misalnya mual dan konstipasi.

Efek samping ini dapat diatasi dengan mengkonsumsi zat besi setelah makan dan pasien diberi obat laksatif untuk membuat feses menjadi lunak. Berdasarkan terapi non farmakologis gagal ginjal kronik adalah:

1. Pengaturan asupan protein

2. Pengaturan asupan kalori yaitu 35 kal/kgBB ideal/hari.

3. Pengaturan asupan lemak yaitu 30-40% dari kalori total dan mengandung jumlah yang sama abtara asam lemak bebas jenuh dan tidak jenuh

4. Pengaturan asupan karbohidrat yaitu 50-60% dari kalori total.

5. Asupan garam (NaCl) yaitu 2-3 gram/hari f.

Asupan kalium yaitu 40-70 mEq/kgBB/hari

6. Asupan fosfor 5-10mg/kgBB/hari, untuk pasien hemodialisa 17 mg/hari h. Asupan kalsium 1400- 1600 mg/hari i. Asupan besi 10-18 mg/hari

7. Asupan magnesium 200-300 mg/hari

(24)

8. Asupan asam folat pada pasien hemodialisa 5mg l 9. Asupan air jumlah urin 24 jam + 500ml 25

Berdasarkan terapi farmakologis gagal ginjal kronik adlaah:

a) Kontrol tekanan darah

b) Pemilihan agen anti hipertensi c) Pemilihan statins dan antiplatelet d) Komplikasi lainnya

e) Anemia 2.1.2 Hemodialisa

2.1.2.1 Definisi

Hemodialisa adalah prosedur pembersihan darah dari limbah-limbah hasil metabolisme tubuh dengan menggunakan alat yang disebut dengan hemodialyzer. Secara singkat pengertian hemodialisa yaitu cuci darah.Proses hemodialisis memerlukan akses ke sirkulasi darah dalam tubuh pasien, suatu mekanisme yang membawa darah pasien ke dan dari dializen atau tempat terjadinya pertukaran cairan, elektrolit dan zat sisa tubuh.

2.1.2.2 Tujuan hemodialisa

Hemodialisis merupakan suatu upaya untuk memperbaiki kelainan biokimiawi pada darah yang timbul akibat gangguan fungsi ginjal. Hemodialisis adalah salah satu terapi pengganti ginjal (renal replacement therapy) dimana hanya dapat menggantikan sebagian dari fungsi ekskresi ginjal. Terapi hemodialisis dilakukan pada penderita GGK dengan stadium V dan juga pada penderita

(25)

AKI (Acute Kidney Injury) yang membutuhkan terapi pengganti ginjal. Menurut prosedur, HD dibedakan menjadi 3 yaitu : HD darurat (emergency), HD persiapan atau preparative, dan HD kronik atau regular.

2.1.2.3 Komplikasi

Selama menjalani hemodialisa pasien sering kali mengalami komplikasi yang berbeda salah satunya yaitu hipertensi. Beberapa komplikasi yang bisa terjadi selama menjalani proses hemodialisa :

a. Intradialytic hypotension b. Kram otot

c. Mual dan muntah d. Sakit kepala e. Emboli udara f. Hipertensi 2.2.1 Dampak Psikologis

Frustasi,rasa bersalah,stress, khawatir, sedih, takut akan kematian, penyesuain gaya hidup,kurangnya kegembiraan karena keterbatasan dan perasan terisolasihanyalah beberapa maslaah psikologis yang akan di hadapi saat menjalani hemodialisis. Namun dampak psikologis yang sering terjadi yaitu kecemasan dan depresi.

2.2.2 Definisi Mekanisme Koping

mekanisme koping di definisikan sebagai metode pemikiran dan Tindakan untuk meredakan ketegangan mental dan emosional dari situasi yang penuh tekanan.

(26)

Definisi lain menyebutkan bahwa mekanisme koping yaitu metode penyelesaian masalah yang telah di sesuaikan dengan berbagai kemungkinan perubahan serta respon Ketika mendapat situasi yang mengancam.

2.2.1.1 Klasifikasi Mekanisme Koping

Stuart (2012) menyebut, ada 2 klasifikasi, yaitu sebagai berikut :

a. Adaptif

Memberikan dukungan berbagai fungsi integrasi, pertumbuhan, belajar, layaknya bisa melaksanakan kontrol emosi melalui bicara dengan lawan bicaranya, melakukan pemecahan masalah efektif, tehnik relaksasi, dapat menerima berbagai dukungan individu lain, serta berbagai aktivitas yang bersifat konstruktif.

b. Maladaptive

Bisa menghambat berbagai fungsi integrasi, pertumbuhan, bahkan menurunkan otonomi serta bisa menghalangi kemampuan menguasai situasi di lingkungan, layaknya makan berlebih, kerja berlebih, mudah marah dan tersinggung, timbul berbagai perilaku yang menyimpang, kemampuan berpikir menurun, tindakan menarik diri dari lingkungan, serta kehilangan kemampuan pemecahan masalah. Maladaptive mempunyai dampak negative, yaitu membuatseseorang mengisolasi dirinya. (Kusyati, 2018)

2.2.1.2 Faktor Yang Mempengaruhi Mekanisme Koping a. Harapan mengenai self-efficacy

(27)

Kemampuan yang bergantung pada pendapat orang lain. Berikut ini Factor yang memberi pengaruh self-efficacy :

1) Pencapaian Kerja 2) Persuasi verbal 3) Dorongan emosional

4) Keadaan dan reaksi fisiologis 5) Dukungan sosial

6) Optimisme 7) Pendidikan 8) Pengetahuan 9) Jenis kelamin

Alat ukur

2.1.1.3Aspek penilaian pada skala koping

Koping dinilai dengan menggunakan kuesioner Brief cope scale yang terdiri dari item pertanyaan yang mencakup subskala. Subskala dalam penilaian koping yakni: aspek gangguan diri (self distraction), koping aktif (Active coping) yakni proses pengambilan langkah aktif yang ditujukan untuk mengurangi stres tahap demi tahap; penolakan atau pengingkaran / penolakan (denial), penggunaan zat/obat- obatan (substance use), penggunaan dukungan emosional (use of emotional support) misalnya moral, simpati dan pengertian; penggunaan dukungan instrumental (use of instrumental support) berupa informasi yang membantu dalam penyelesaian masalah; pelepasan perilaku/ menyerah (behavioral disengagement), pelepasan emosi (venting), positive reframing (mampu melihat nilai positif dari penyakit yan diderita; perencanaan (planning), humor, penerimaan terhadap situasi yang menimbulkan stres (Acceptance);

agama (religion) dan menyalahkan diri sendiri (self blame). Kuesioner tersebut

(28)

telah divalidasi dan diuji reliabilitas oleh peneliti yang terdahulu dan dinyatakan valid dan reliabel.

Jenis Koping Sub Skala Nomo

r Item Fokus Masalah Koping aktif

Penggunaan instrument dukungan

Pelepasan perilaku Positif reframing Perencanaan

2,7 10,23 6,16 12,17 14,25

Focus emosi Pelepasan emosi Aspek gangguan diri Penolakan

Penggunaan obat-obatan Dukungan emosional Humor

Penerimaan Keaagamaan

Menyalahkan diri sendiri

9,21 1,19 3,8 4,11 5,15 18.28 20,24 22,27 13,26

2.2.3 Kualitas Hidup

2.2.3.1 Definisi

Kualitas hidup merupakan persepsi individual terhadap posisinya dalam kehidupan, dalam konteks budaya, sistem nilai dimana mereka berada dan hubungannya terhadap tujuan hidup, harapan, standar, dan lainnya yang terkait. Masalah yang mencakup kualitas hidup sangat luas dan kompleks termasuk masalah kesehatan fisik, status psikologi, tingkat kebebasan,

(29)

hubungan sosial dan lingkungan dimana mereka berada (Wahyudi et al., 2019).

2.2.3.2 Dimensi Kualitas Hidup

Dimensi Kualitas Hidup Kualitas hidup terdiri dari 4 dimensi (Butar & Siregar, 2015) :

1. Kesehatan Fisik berhubungan dengan kesakitan dan kegelisahan, ketrgantungan pada perawatan medis, energi dan kelelahan, mobiilitas, tidur dan istirahat, aktivitas kehidupan sehari-hari, dan kapasitas kerja.

2. Kesehatan Psikologis berhubungan dengan pengaruh positif dan negative spiritual, pemikiran pembelajaran, daya ingat dan konsentrasi, gambaran tubuh dan penampilan, serta penghargaan terhadap diri sendiri

3. Hubungan Sosial terdiri dari hubungan personal, aktivitas seksual, dan hubungan sosial.

4. Lingkungan terdiri dari keamanan dan kenyamanan fisik, lingkungan fisik, sumber penghasilan, kesempatan memperoleh informasi, keterampilan baru, partisipasi dan kesempatan untuk rekresi atau aktivitas pada waktu luang

2.2.3.3 Faktor yang mempengaruhi kualitas hidup 1. Faktor Demografi

a. Jenis kelamin b. Usia

c. Pendidikan d. Pekerjaan

e. Status perkawinan

(30)

2. Faktor Medik

a. Lama Menjalani Hemodialisa

Semakin lama pasien menjalani hemodialisis adaptasi pasien semakin baik karena pasien telah mendapat pendidikan kesehatan atau informasi yang diperlukan semakin banyak dari petugas kesehatan.Hal ini di dukung oleh pernyataan bahwa semakin lama pasien menjalani hemodialisis, semakin patuh dan pasien yang tidak patuh cenderung merupakan pasien yang belum lama menjalani hemodialisis, karena pasien sudah mencapai tahap menerima dengan adanya pendidikan kesehatan dari petugas kesehatan.Tahap menerima memungkinkan sesorang menjalani program hemodialisis dengan penuh pemahaman pentingnya pembatasan cairan dan dampak dari peningkatan berat badan diantara dua hemodialisa terhadap kesehatan dan kualitas hidupnya.

b. Stadium penyakit

Pada penderita gagal ginjal stadium 2 dan stadium 3 yang tanpa disertai dengan berbagai komplikasi yang memperburuk fungsi ginjal sehingga jatuh dalam kondisi gagal ginjal terminal tentu saja memiliki angka keberhasilan atau kualitas hidup dan dan harapan hidup lebih baik dibandingkan yang sudah gagal ginjal terminal dengan komplikasi yang berat.

2.2.4 Pengukuran Kualitas Hidup

2.2.4.1 Kualitas hidup Menurut WHOQOL

Instrumen kualitas hidup (WHOQOL-BREF) ini merupakan rangkuman dari World Healt Organization Quality Of Life (WHOQOL)- 100 yang terdiri

(31)

dari 26 pertanyaan. WHOQOL-BREF terdiri dari dua bagian yang berasal dari kualitas hidup secara menyeluruh dan kesehatan secara umum, dan satu bagian yang terdiri dari 24 pertanyaan yang berasal dari WHOQOL- 100. Untuk menilai WHOQOL-BREF maka ada empat domain yang digabungkan yaitu domain fisik, psikologis, hubungan sosial dan lingkungan. Semua pertanyaan berdasarkan pada skala likert lima poin (1- 5) yang fokus pada intensitas, kapasotas, frekuensi dan evaluasi. Skala respon intensitas mengacu kepada tingkatan dimana status atau stiuasi yang dialami individu. Skala respon kapasitas mengacu pada kapasitas perasaan, situasi atau tingkah laku. Skala respon frekuensi mengacu pada angka frekuensi, atau kecepatan dari suituasi atau tingkah laku. Skala respon evaluasi mengacu pada taksiran situasi dari situasi, kapasitas atau tingkah laku. Pertanyaan nomor 1 dan 2 pada kuesioner mengkaji tentang kualitas hidup secara menyeluruh dan kesehatan secara umum. Domain 1 fisik terdapat pada pertanyaan nomor 3,4,10,15,16,17, dan 18. Domain 2 psikologis ada pada prtanyaan nomor 5,6,7,11,19,dan 26. Domain 3 hubungan sosial ada pada pertanyaan nomor 20,21 dan 22. Domain 4 lingkungan ada pada pertanyaan nomor 8,9,12,13,14,23,24, dan 25.

Instrumen ini juga terdiri atas pertanyaan positif, kecuali pada tiga pertanyaan yaitu nomor, 3,4 dan 26 yang bernilai negatif. Pada penelitian ini skor tiap domain (raw score) ditransformasikan dalam skala 0-100 dengan menggunakan rumus baku yang sudah ditetapkan oleh WHO.

Rumus yang dipakai untuk menghitung adalah rumus baku yang sudah ditetapkan WHO, sebagai berikut:

Tabel 2.1 Perhitungan Kualitas Hidup Menurut WHOQOL

DOMAIN PERHITUNGAN SKOR

ROW

TRANSFER MEDSCORE

(32)

(0-100) Fisik (6-Q3)+(6-Q4)+

(Q10+Q15+Q16+Q17+Q18 Psikologis Q5+Q6+Q7+Q19+(6-Q26) Hubungan

Sosial

Q20+Q21+Q22

Lingkungan Q8+Q9+Q12+Q13+Q14+Q23+Q24+Q25

Cara pemberian skor dan diinterpretasikan dengan menggunakan kriteria sebagi berikut:

0-20 = sangat buruk 21-40 = buruk 41-60 = sedang 61-80 = baik

81-100 = sangat baik

Tabel 2.3 Kelebihan dan Kekurangan Instrumen WHOQOL

ALAT UKUR KELEBIHAN KELEMAHAN

WHOQOL (World Health Organization Quality of Life)

1. Mampu menjelaskan variasi dari data yang dikumpulkan sebesar 52,9% sampai 61,4%

2. Memiliki tingakt sensitifitas 74%, spesifitas 96%, dan akurasi 78%.

3. Alat pengukuran kualitas hidup yang digunakan dalam pola tes hidup seseorang yang menderita penyakit kronis, sa;ah satunya gagal ginjal kronis

1. Kuesioner kualitas hidup yang tidak secara khusus digunakan untuk pasien gagal ginjal kronik.

(33)

4. Mengukur kualtas hidup yang mencakup kesehatan fisik, psikologis, tingkat kebebasan, hubungan sosial, dan hubungan dengann lingkungan mereka.

5. Instrumen yang sudah

dijelaskan dalam

terjemahan kedalam berbagai bahasa termasuk bahasa indonesia.

6. Memiliki 26 pertanyaan yang mewakili keempat domain.

2.2.4.2 Kualitas Hidup Menurut (KDQOL-SF)

Kualitas hidup Kidney Desease Quality of LifeShort From (KDQOL- SF) adalah instrumen yang dipakai untuk mengukur laporan pribadi pasien dengan gagal ginjal yang menjalani dialisis. Kuesioner ini terdiri dari 36 pertanyaan yang terbagi dalam 8 dimensi yaitu dimensi fisik, peranan fisik, rasa nyeri, kesehatan umum, fungsi sosial, peranan emosi, vitalis, dan kesehatan mental. Cara menghitung hasil kuesioner tersebut adalah:

Jumlah Pertanyaan : 36 soal Nilai Maksimal : 36 x 100 = 3.600 Nilai Minimal : 36 x 0 = 0

(34)

Jumlah nilai akhir seluruh pertanyaan + jumlah pertanyaan = nilai kualitas hidup.

Interpretasi skor

Kualitas hidup pasien buruk : 0-24 Kualitas hidup pasien sedang : 25-60 Kualitas hidup baik : 61-83

Kualitas hidup pasien sangat baik : 84-99 Kualitas hidup pasien luar biasa : 100

ALAT UKUR KELEBIHAN KELEMAHAN

KDQOL (Kidney Desease Quality of Life – Short From)

1. Alat ukur kualitias pasien gagal ginjal secara menyeluruh baik fisik, mental dan sosial.

2. Pertanyaan di dalam instrumen memiliki lebih dari 26 pertanyaan.

1. Tidak bisa digunakan untuk mengukur kualitas hidup seseorang yang memiliki penyakit kronis lainnya.

2. Belum teruji tingkat

validitas dan

rehabilitasnya

(35)

2.4Kerangka teori

: tidak di teliti : di teliti

: berhubungan

Gagal Ginjal Kronik

hemodialisa

Mekanisme Koping Faktor- faktor yang

mempengaruhi mekanisme koping dan kualitas hidup:

1.Jenis kelamin 2.Usia

3.Pendidikan 4.Pekerjaan

5. Status perkawinan 6.Dukungan Sosial

Kualitas Hidup

(36)

2.3 Hipotesis Ha :

1. Ada Hubungan Mekanisme Koping dengan Kualitas Hidup pasien Penyakit Ginjal Kronik (PGK) Yang Menjalani Hemodialisa Di RSUD M.Th DJAMAN KABUPATEN SANGGAU.

Ho:

1. Tidak ada hubungan Mekanisme Koping Dengan Kualitas Hidup Pasien Penyakit Ginjal Kronik (PGK) Yang Menjalani Hemodialisa Di RSUD M.Th DJAMAN KABAUPATEN SANGGAU.

(37)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Kerangka Konsep

Nursalam (2020) mengungkapkan, tahap terpenting pada penelitian merupakan Menyusun kerangka konsep maksud tersebut mengacu pada penyederhanaan realitas yang kompleks demi komunikasi dan pengembangan teori yang dapat menjelaskan saling ketergantungan bagian penyusunnya. Kerangka dapat membantu untuk menghubungkan hasil temuan dengan teori (Zamrodah, 2021).

Gambar 3.1. Kerangka Konsep Keterangan :

: Variabel yang diteliti : Ada hubungan 3.2 Jenis dan Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross- sectional desain korelasi analitik. Hal Ini karena berguna untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor-faktor yang berpotensi berpengaruh terhadap status kesehatan dan menjelaskan hubungan antar variabel. (Sumantri, 2011; Dahlan, 2014) dalam (Huda Al Husna et al., 2021) .

Variable dependen:

1. Kualitas Hidup Pasien Variabel independent:

Mekanisme koping

(38)

3.3 Variabel Penelitian

Variable penelitian yaitu segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang di tetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga memperoleh informasi tentang hal tersebut sehingga dapat ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2016). Variable pada penelitian dapat dibagi menjadi 2 yaitu :

3.3.1 Variable Independent (Variabel Bebas)

Yaitu variable yang memengaruhi atau menjadi sebab timbulnya variable dependen atau terikat (Sugiyono, 2016). Variabel independent pada penelitian ini yaitu mekanisme koping.

3.3.2 Variable Dependent (Variable Terikat)

Adalah variabel variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat karena adanya variabel bebas atau independent (Sugiyono, 2016). Variable dependen pada penelitian ini yaitu kualitas hidup

(39)

3.3.3 Definisi Operasional

seperangkat petunjuk yang lengkap tentang apa yang harus diamati dan mengukur suatu variabel atau konsep untuk menguji kesempurnaan.

Definisi operasional variabel ditemukan item-item yang dituangkan dalam (Sugiyono, 2016).

Variable Definisi oeperasional

Parameter Alat Ukur Skala Kategor i

Variable independen t

Mekanisme Koping

Pemahaman atau persepsi penderita gagal ginjal kronik untuk mengatasi atau

menanggulan gi stresor atau tekanan yang dihadapinya.

1. Tingkat pengetahua n

2. Tingkat kecemasan

Kuesione r

Ordina l

Sangat buruk = 0-20 kode 1 2. Buruk

= 21-40 kode 2 3.

Sedang

= 41-60 kode 3 4. Baik

= 61-80 kode 4 5.

Sangat Baik = 81-100 kode 5

(40)

Variable dependen Kualitas Hidup Pasien

Pemahaman atau persepsi penderita gagal ginjal kronik dalam perannya kehidupan sehari-hari

1. Kesehatan fisik

2. Kesehatan mental 3. Masalah

penyakit ginjal 4. Kepuasan

pasien

Kuesione r

Ordina l

Sangat buruk = 0-20 kode 1 2. Buruk

= 21-40 kode 2 3.

Sedang

= 41-60 kode 3 4. Baik

= 61-80 kode 4 5.

Sangat Baik = 81-100 kode 5

3.4 Populasi Dan Sampel 3.4.1 Populasi

Populasi adalah total ruang yang ditempati oleh barang dan orang (atau apa pun) yang dipilih peneliti untuk dipelajari untuk membuat kesimpulan apa pun yang dia anggap cocok dari data dan interpretasi yang dikumpulkan (Sugiyono, 2016).

Populasi pada penelitian ini yaitu Pasien Penyakit Ginjal Kronik (PGK) yang

(41)

melaksanakan hemodialisa di RSUD M.Th DJAMAN KABUPATEN SANGGAU.

Jumlah populasi sebanyak 110 orang dari bulan Januari – Desember tahun 2023.

3.4.2 Sampel

Unsur dari keseluruhan tertentu itulah yang membentuk sampel, seperti yang dikemukakan oleh Arikunto (2010). Dalam penelitian, sampel adalah sebagian dari seluruh populasi yang dipilih secara acak untuk diteliti (Nursalam, 2013).

Individu yang berpartisipasi dalam perawatan hemodialisis di RSUD M.Th.Djaman KABUPATEN SANGGAU menyediakan sampel untuk analisis ini. Pengambilan sampel total digunakan, dengan 110 pasien hemodialisis sebagai sampel perwakilan penelitian dari masyarakat umum. Menurut Notoadmojo (2012), untuk memastikan bahwa ciri-ciri sampel mewakili populasi secara keseluruhan, penting untuk menetapkan kriteria inklusi dan eksklusi sebelum proses pengambilan sampel. Setiap anggota populasi dari siapa sampel diambil harus memenuhi kriteria eksklusi, yang merupakan kondisi atau sifat tertentu. Ekslusi merupakan populasi yang memiliki ciri-ciri tidak dapat dijadikan sampel (Makrufah, 2019).

3.5 Instrumen Penelitian

Notoatmodjo (2014) mendefinisikan instrumen penelitian sebagai alat untuk mengumpulkan data (Wisnusakti, 2021). Kuesioner adalah metode pengumpulan data dalam penelitian ini. Metode kuesioner pengumpulan data melibatkan mengajukan serangkaian pertanyaan kepada responden dan meminta mereka mengisi formulir tertulis dengan jawaban mereka (Sugiyono, 2016). Dalam survei ini, peneliti memecahnya menjadi tiga bagian:

3.5.1 Kuesioner Mekanisme Koping

Instrumen yang peneliti gunakan yaitu menggunakan kuesioner WAYS milik Susan dan Richard (University of California, San Francsisco). Carver et al (1989)

(42)

yang telah dimodifikasi, hasil modifikasinya terdapat 20 pertanyaan. Tujuan kuisioner ini untuk mencari pengetahuan kemampuan koping pasien hemodialisa.

Suwaryanti (2014) juga pernah memodifikasi kuisioner tersebut. Kuisioner tersebut berupa pertanyaan fauvorable (1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16) serta pertanyaan unfavourable (17,18,19,20). Peserta diminta untuk menunjukkan pada kotak centang (V) opsi mana yang paling menggambarkan kondisi kesehatan mereka saat ini. Pada survei ini, jawaban 1 (tidak pernah), 2 (kadang-kadang), 3 (sering), dan 4 (selalu). Skala penilaian untuk mekanisme koping dimulai dari 0 hingga 40 (Konadila, 2020).

3.5.2 Kuesioner Kualitas Hidup

1. Instrumen kualitas hidup (WHOQOL-BREF) ini merupakan rangkuman dari World Healt Organization Quality Of Life (WHOQOL)- 100 yang terdiri dari 26

pertanyaan.

3.6 Teknik Pengumpulan Data

Prosedur untuk mengumpulkan data terdiri dari langkah-langkah berikut:

3.6.1 Tahap persiapan penelitian

a. Peneliti meminta surat ijin survey studi pendahuluan dari Fakultas Ilmu Keperawatan Institut Kesehatan Immanuel untuk melakukan survey di RSUD M.Th.DJAMAN KABUPATEN SANGGAU.

b. Peneliti mendapatkan surat ijin survey pendahuluan dari Fakultas Ilmu Keperawatan Institut Kesehatan Immanuel.

c. Peneliti memberikan surat ijin survey studi pendahuluan ke petugas pihak litbang diruang di RSUD M.Th.DJAMAN KABUPATEN SANGGAU.

(43)

d. Peneliti menunggu surat ijin survey studi pendahuluan turun Setelah surat ijin pendahuluan sudah turun selanjutnya peneliti melakukan survey ke ruang rekam medis untuk meminta populasi pasien HD selama 1 tahun terakhir

e. Peneliti melakukan ijin survey dan wawancara singkat dengan pasien yang saat itu menjalani hemodialisa.

3.6.2 Tahap penelitian

a. Peneliti meminta surat ijin penelitian dari Fakultas Ilmu Keperawatan Institut Kesehatan Immanuel

b. Peneliti mengajukan surat ijin penelitian kepada pihak RSUD M.Th.DJAMAN KABUPATEN SANGGAU

c. Peneliti mendapatkan surat ijin dari pihak Fakultas Ilmu Keperawatan Institut Kesehatan Immanuel

d. Peneliti menemui dan menjelaskan prosedur penelitian kepada responden e. Peneliti meyakinkan kepada responden penelitian yang akan dilakukan

bersifat secara sukarela dan kerahasiaan akan dijaga f. Peneliti meminta persetujuan kepada responden

g. Peneliti membagikan kuesioner yang sudah dibuat untuk diisi oleh responden.

h. Setelah responden mengisi semua kuesioner kemudian responden diminta untuk mengumpulkan kuesioner ke peneliti.

i. Peneliti mengecek apakah kuesioner yang telah diisi responden

j. Setelah semua responden sudah mengisi kuesioner kemudian data yang diperoleh akan diolah menggunakan computer dengan SPSS

(44)

3.7 Teknik Pengolahan dan Analisa Data 3.7.1 Analisa Data

Notoadmodjo (2012) langkah pertama dalam memproses data adalah mengubahnya menjadi informasi yang dapat digunakan. Pengolahan data terdiri dari langkah-langkah berikut:

a. Penyuntingan (editing) yaitu pengecekan data yang sudah terkumpul seperti kuesioner mekanisme koping, tingkat kecemasan, tingkat stress dan identitas pasien.

b. Pengkodean (coding) yaitu proses pemberian kode untuk mempermudah saat pengolahan data.

c. Memasukan data (entry data) adalah memasukan data ke SPSS.

d. Pembersihan data (cleaning) adalah mengecek kembali data yang sudah dimasukan apakah terdapat kesalahan atau tidak

3.7.2 Jenis Analisis Data

Analisa pada penelitian ini adalah alat bantu computer melalui program atau aplikasi SPSS 25 version for windows. Untuk data yang diperoleh selanjutnya dianalisa menggunakan Analisa univariat serta bivariat.

a. Analisis univariat

Notoadmojo (2012), tujuan dari analisis deskriptif/ univariat adalah untuk memberikan semacam penjelasan, deskripsi, karakteristik dari masing-masing variabel penelitian. Dalam penelitian ini data demografi pasien hemodialisis termasuk usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan, lama HD dan cara mereka mengatasi kekhawatiran atau cemas dan stres.

(45)

b. Analisa bivariat

Menurut Notodmodjo (2010), Analisa bivariat atau inferesial dilakukan pada dua variable yang diduga memiliki hubungan dan korelasi menggunakan data berskala. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggunakan analisis bivariat atau inferensial untuk lebih melihat pengaruh variabel independen strategi koping dengan variabel dependen tingkat kecemasan dan tingkat. Uji yang digunakan menggunakan Chisquare. Pengujian Chi-Square dilakukan karena setiap variabel diukur dalam skala nominal dan ordinal. Terdapat hubungan apabila nilai p value < 0,05. Dari hasil penelitian didapatkan hasil bahwa terdapat hubungan mekanisme koping dengan tingkat kecemasan p value < 0,05 dan mekanisme koping dengan tingkat stress didapatkan hasil p value < 0,05. Hal tersebut menunjukan bahwa Ha diterima karena terdapat hubungan dan Ho ditolak.

3.8 Etika Penelitian

Etika yang harus dijaga saat menjalankan penelitian ini yaitu : 3.8.1 Confidentely (Kerahasiaan)

Peneliti merahasiakan berbagai informasi responden. Informasi responden hanya akan dibatasi berupa inisial, dan tingkat pendidikan. Peneliti juga akan merahasiakan alamat responden.

3.8.2 Anonimity (Tanpa Nama)

Pada lembar jawaban survei, peneliti akan mengganti nama lengkap dengan inisial responden. Akibatnya, anonimitas responden terjamin.

(46)

3.8.3 Informed Consent

Sebelum memberikan survei, peneliti memberi pengarahan kepada peserta tentang tujuan penelitian, potensi keuntungan, dan cara yang tepat untuk memberikan persetujuan. Selanjutnya, peneliti juga menginformasikan hak dan kewajiban bertanggungjawab atas penelitian dan dokumentasi nya.

Peneliti menyarankan responden bahwa mereka mungkin menandatangani formulir persetujuan jika mereka ingin melakukannya. Sebaliknya, jika responden menolak, peneliti tidak mendorong isu tersebut dan justru menghormati otonomi responden.

3.8.4 Prinsip Keadilan

Peneliti bersikap adil terhadap semua responden dan tidak membandingkan satu sama lain.

3.8.5 Beneficience (manfaat)

Peneliti mengaplikasikan penelitian ini menurut etika dalam penelitian guna mencapai hasil bermanfaat dalam penelitian yang dilaksanakan.

3.8.6 Non Malafience

Peneliti tidak boleh bertindak yang dapat merugikan responden ataupun tidak menguntungkan keduanya (responden dan peneliti).

3.8.7 Respect Of Human Dignity

Responden berhak melakukan penolakan untuk menjadi responden.

Sehingga peneliti tidak boleh memaksa responden, apabila responden tidak paham mengenai isi dari kuesioner yang disediakan responden dapat bertanya kepada peneliti (Murti, 2020).

(47)

DAFTAR PUSTAKA

Anggraini, S., & Fadila, Z. (2023). KUALITAS HIDUP PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK DENGAN DIALISIS DI ASIA TENGGARA : A SYSTEMATIC REVIEW (Vol. 11, Issue 1). http://ejournal.uika-

bogor.ac.id/index.php/Hearty/issue/archive

Imron Rosyidi, M., & Wakhid, A. (2017). GAMBARAN KUALITAS HIDUP PASIEN GAGAL GINJAL KRONIS YANG MENJALANI TERAPI HEMODIALISA. In Jurnal Keperawatan Jiwa (Vol. 5, Issue 2).

Indriani, S., Saparidah Agustina, H., & Fauziyah, N. (2023). HUBUNGAN MEKANISME KOPING DENGAN TINGKAT KECEMASAN PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK DI RUANG HEMODIALISA. Jurnal Ilmiah Ilmu Dan Teknologi Rekayasa, 5(1). https://ejournal.polsub.ac.id/index.php/jiitr

Indriani, S., Saparidah Agustina, H., Fauziyah, N., Negeri Subang, P., Brigjen Katamso No, J., Dangdeur, K., &

Barat, J. (n.d.). HUBUNGAN MEKANISME KOPING DENGAN TINGKAT KECEMASAN PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK DI RUANG HEMODIALISA. Jurnal Ilmiah Ilmu Dan Teknologi Rekayasa, 5(1), 2023. https://ejournal.polsub.ac.id/index.php/jiitr

Oktarina, Y., Imran, S., Rahmadanty, A., & Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Garuda Putih Jambi, D. (2021).

HUBUNGAN MEKANISME KOPING DENGAN KUALITAS HIDUP PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK YANG MENJALANI HEMODIALISIS. Artikel Penelitian Jurnal Keperawatan Sriwijaya, 8(1).

Yonlafado Simanjuntak, E., & Anggraini, V. (2020). Kecemasan dengan kualitas hidup pasien yang menjalani hemodialisis The anxiety with quality of life in patients undergoing hemodialysis. Health Sciences and Pharmacy Journal, ISSN(1), 7–14. https://doi.org/10.32504/hspj.v%vi%i.230

(48)

Gambar

Tabel 2.3 Kelebihan dan Kekurangan Instrumen WHOQOL

Referensi

Dokumen terkait

Bombay (2016) : Hubungan Tingkat Depresi Dengan Mekanisme Koping Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik Yang Menjalani Hemodialisis di RS PKU Muhammadiyah Unit II

Hasil uji hipotesis ada perbedaan strategi coping yang berorientasi pada emosi (emotional focused coping) antara pasien gagal ginjal kronik laki-laki dan perempuan

Mengetahui adakah hubungan tingkat pengetahuan tentang proses hemodialisis dengan tingkat kecemasan pasien gagal ginjal kronik (GGK) di instalasi Hemodialisa RSUD

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara spiritualitas terhadap kualitas hidup pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis

HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL DENGAN TINGKAT DEPRESI PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK YANG MENJALANI HEMODIALISIS DI RSUD KOTA

Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan kualitas hidup pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis di Rumah Sakit PKU

Penelitian lain yang diugkapkan Utami et all 2017 hasil penelitian gambaran efikasi diri pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis mengatakan dalam menjalani

Dokumen ini berisi pertanyaan tentang kualitas hidup dan kesehatan pasien gagal ginjal kronik selama empat minggu