SKRIPSI
HUBUNGAN MOTIVASI BELAJAR DENGAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS III SD NEGERI 2 KIBANG
Oleh:
Muhammad Ilham NPM. 1601050070
Jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Fakultas Tarbiyah Dan Ilmu Keguruan (FTIK)
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) METRO LAMPUNG
1442 H/2021
ii
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Dan Memenuhi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)
Oleh:
Muhammad Ilham NPM. 1601050070
Pembimbing I : Sudirin, M.Pd
Pembimbing II : Dr. Siti Annisah, M.Pd
Jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Fakultas Tarbiyah Dan Ilmu Keguruan
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) METRO LAMPUNG 1442 H/2021
iii
iv
vi Oleh:
Muhammad Ilham NPM. 1601050070
Motivasi belajar adalah daya penggerak dari dalam diri individu untuk melakukan kegiatan belajar untuk menambah pengetahuan dan keterampilan serta pengalaman. Adapun tujuanya adalah untuk mengetahui hubungan antara motivasi belajar dengan hasil belajar mata pelajaran Pkn siswa kelas III SD Negeri 2 Kibang.
Skripsi ini merupakan penelitian lapangan yang melihat hubungan antara motivasi belajar dengan hasil belajar Pkn siswa kelas III SD Negeri 2 Kibang dengan permasalahan adakah hubungan motivasi belajar dengan hasil belajar mata pelajaran Pkn yang diraih oleh siswa kelas III yang ada di SD Negeri 2 Kibang. Sedangkan jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif korelasi, adapun teknik pengumpulannya adalah angket, dokumentasi dan observasi sedangkan untuk teknik analisis data menggunakan korelasi product moment.
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa sebanyak 19 siswa atau 86,4% siswa menjawab bahwa motivasi belajarnya sangat baik, dan terdapat 22 siswa yang hasil belajarnya tergolong baik. Adanya hubungan antara motivasi belajar dengan hasil belajar dibuktikan dengan diperolehnya harga Rxy sebesar (Rxy) 0,6221 yang berada pada kategori sedang. Hal ini menunjukkan bahwa “Ada hubungan antara motivasi belajar dengan hasil belajar mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan siswa kelas III SD Negeri 2 Kibang”.
Kata Kunci: Motivasi Belajar, Hasil Belajar, Pendidikan Kewarganegaraan.
vii
viii (Albert Einstein)
ix
dan karunia-Nya saya dapat menyelesaikan hasil studi ini, yang dipersembahkan untuk:
1. Ibunda tercinta, Sri Wahyuni yang saya sayangi senantiasa memberikan banyak dukungan, do’a restu, pengorbanan, bimbingan dan motivasi serta dampingan selama ini untuk keberhasilanku.
2. Ayahanda tersayang Alm. Son Haji meskipun engkau telah bersama Allah SWT di surga sana, engkau tetap menjadi pahlawan dan penyemangat dalam hidupku.
3. Kakak dan Adik yang saya sayangi Eka Wahyu Nurhidayah dan M.
Maulana Mirhad Al-Magribi yang selalu memberikan dukungan dalam masa perkuliahan..
4. Penulis juga mengucapkan banyak terima kasih kepada teman seperjuangan Dian Cahya Ningrum atas dukungan dan semangatnya.
5. Almamaterku tercinta Institut Agama Islam Negeri Metro (IAIN).
6. Orang-orang yang selalu menanyakan kapan saya wisuda.
Metro, 13 Juli 2021 Penulis
Muhammad Ilham NPM 1601050070
x
Upaya penyelesaian ini, penulis telah menerima banyak bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karenanya penulis mengucapkan terimakasih kepada Ibu Dr. Siti Nurjanah, M.Ag selaku Rektor IAIN Metro, Ibu Nurul Afifah M.Pd.I selaku Ketua Jurusan PGMI, Bapak Sudirin, M.Pd selaku pembimbing I dan Ibu Dr. Siti Annisah, M.Pd selaku pembimbing II yang telah memberi bimbingan yang sangat berharga dalam mengarahkan dan memberikan motivasi. Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada Bapak Ibu Dosen Karyawan IAIN Metro yang telah menyediakan waktu dan fasilitas dalam rangka penyelesaian skripsi.
Penulis juga megucapkan terimakasih kepada Bapak Sugiarno, S.Pd.SD selaku kepala sekolah SD Negeri 2 Metro Kibang Kabupaten Lampung Timur yang telah memberi izin sebagai tempat penelitian. Kepada Ibu Yulliana Usman, A. Md. selaku wali kelas SD Negeri 2 Metro Kibang Kabupaten Lampung Timur.
Tidak kalah pentingnya ibunda dan kakak, serta adik yang senantiasa mendoakan dan memberikan dukungan dalam menyelesaikan pendidikan.
Saran demi perbaikan skripsi ini sangat diharapkan dan akan diterima dengan kelapangan dada. Dan akhirnya semoga hasil penelitian kiranya dapat bermanfaat.
Metro, 13 Juli 2021 Penulis
Muhammad Ilham NPM. 1601050070
xi
HALAMAN NOTA DINAS ... iii
HALAMAN PERSETUJUAN ... iv
HALAM PENGESAHAN ... v
ABSTRAK ... vi
HALAMAN ORISINALITAS PENLITIAN ... vii
HALAMAN MOTTO ... viii
HALAMAN PERSEMBAHAN ... ix
KATA PENGANTAR ... x
DAFTAR ISI ... xi
DAFTAR TABEL ... xiii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiv
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Identifikasi Masalah ... 6
C. Batasan Masalah ... 6
D. Rumusan Masalah ... 6
E. Tujuan Penelitian... 7
F. Manfaat Penelitian... 7
G. Penelitian yang Relevan ... 8
BAB II LANDASAN TEORI A. Motivasi Belajar ... 12
1. Pengertian Belajar ... 12
2. Pengertian Motivasi Belajar ... 13
3. Fungsi Motivasi Belajar ... 15
4. Jenis Jenis Motivasi Belajar ... 17
5. Indikator Motivasi Belajar ... 18
B. Hasil Belajar ... 20
1. Pengertian Hasil Belajar ... 20
2. Jenis-jenis Hasil Belajar ... 21
3. Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar ... 22
4. Kriteria Hasil Belajar ... 23
C. Kurikulum 2013 di SD ... 24
1. Pengertian Kurikulum 2013 ... 24
2. Landasan Kurikulum 2013 ... 25
3. Pengertian Tematik ... 26
4. Prinsip Pembelajaran Tematik ... 26
5. Kelebihan dan Kelemahan Pembelajaran Tematik ... 27
6. Pendidikan Kewarganegaraan ... 28
D. Hipotesis ... 29
xii
B. Variabel Penelitian ... 31
C. Definisi Oprasional Variabel Dan Ruang Lingkup Pembahasan .. 32
D. Populasi Dan Sampel Penelitian ... 33
E. Teknik Pengumpulan Data ... 35
F. Instrumen Penelitian ... 37
G. Teknik AnalisisData ... 41
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Lokasi Penelitian... 45
1. Gambaran SD Negeri 2 Kibang ... 45
a. Latar Belakang SD Negeri 2 Kibang ... 45
b. Visi Misi SD Negeri 2 Kibang ... 45
c. Lokasi Dan Administrasi Sekolah ... 46
d. Keadaan Siswa Dan Guru SD Negeri 2 Kibang ... 48
B. Hasil Penelitian ... 51
1. Motivasi Belajar Siswa Kelas III SD Negeri 2 Kibang... 51
2. Hasil Belajar Siswa Kelas III SD Negeri 2 Kibang ... 56
3. Hubungan Motivasi Belajar Dengan Hasil Belajar Siswa Kelas III SD Negeri 2 Kibang ... 59
C. Pembahasan ... 63
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 66
B. Saran ... 66 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN DAFTAR RIWAYAT HIDUP
xiii
Tabel 3.1 Indikator Motivasi Belajar ... 31
Tabel 3.2 Kompetensi Dasar Pendidikan Kewarganegaraan ... 32
Tabel 3.3 Alternatif Jawaban ... 38
Tabel 3.4 Kisi-Kisi Instrumen ... 39
Tabel 3.5 Kriteria Analisis Deskriptif Presentase ... 43
Tabel 3.6 Angka Indeks Korelasi Product Moment ... 44
Tabel 4.1 Sarana SD Negeri 2 Kibang ... 47
Tabel 4.2 Prasarana SD Negeri 2 Kibang ... 48
Tabel 4.3 Data Jumlah Siswa SD Negeri 2 Kibang Tahun Pelajaran 2020/2021 ... 48
Tabel 4.4 Data Siswa Kelas III Sumber: Data SD Negeri 2 Kibang Tahun Pelajaran 2020/2021 ... 49
Tabel 4.5 Jumlah Guru SD Negeri 2 Kibang Tahun Pelajaran 2020/2021 ... 49
Tabel 4.6 Struktur Organisasi SD Negeri 2 Kibang ... 50
Tabel 4.7 Distribusi Frekuensi Data Angket Motivasi Belajar ... 52
Tabel 4.8 Analisis Deskritif Hasil Belajar ... 53
Tabel 4.9 Data Hasil Belajar Siswa Kelas III SD Negeri 2 Kibang Tahun 2020/2021 ... 56
Tabel 4.10 Pedoman Kategori Prestasi Belajar Pendidikan Kewarganegaraan SD Negeri 2 Kibang ... 59
Tabel 4.11 Analisis Hubungan Motivasi Belajar Dengan Hasil Belajar Kelas III SD Negeri 2 Kibang Tahun Pelajaran 2020/2021 ... 60
Tabel 4.12 Pedoman Untuk Memberikan Interpretasi Koefisien Korelasi ... 61
xiv
C. Surat izin research ... 74
D. Surat keteragan telah melakukan penelitian ... 75
E. Surat tugas ... 76
F. Bebas pustaka jurusan PGMI ... 77
G. Surat keterangan bebas pustaka ... 78
H. Kartu konsultasi bimbingan proposal dan skripsi ... 79
I. Dokumentasi pengambilan data ... 89
J. Langkah-langkah pengujian menggunakan aplikasi SPSS ... 91
K. Data hasil angket SD Negeri 2 Kibang ... 95
L. Kisi-kisi instrumen penelitian ... 97
M. Alat Pengumpul Data (APD)... 100
N. Outline ... 105
O. Uji korelasi product moment ... 108
P. Riwayat hidup ... 110
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan salah satu hal yang terpenting dalam kehidupan manusia. Pendidikan dapat menciptakan manusia yang cerdas, terampil, kreatif, berbudi pekerti luhur dan memiliki ide cemerlang sebagai bekal untuk memperoleh masa depan yang lebih baik.1 Pada proses pendidikan, kompetensi yang dicapai oleh siswa terwujud dalam hasil belajar. Hal ini sesuai dengan penjelasan Yanuarti bahwa hasil belajar merupakan perubahan tingkah laku berdasarkan pengalaman belajar dalam pencapaian suatu kompetensi dasar.2 Siswa memandang dunia sebagai keseluruhan yang utuh tidak terpisah-pisah. 3 Hal ini sejalan dengan pembelajaran tematik yang merupakan suatu pembelajaran dimana materi ajar disampaikan dalam bentuk tema yang mengintegrasikan seluruh mata pelajaran.4
Salah satu indikator pendidikan berkualitas adalah perolehan hasil belajar yang maksimal oleh siswa, baik itu hasil belajar dalam bentuk kognitif, afektif maupun psikomotor.5 Akan tetapi, keberhasilan belajar setiap siswa tidaklah sama antara satu dengan yang lainnya. Ada sebagian
1Jaya Sasube Sore ,Hubungan Minat Belajar Dengan Prestasi Belajar Mahasiswa PPKn Semester 7 Pada Perkuliahan PKn, vol. 3, no.2
2 Menurut Yanuarti dalam Ary Yanuari, A. Sobandi, Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Melalui Penerapan Model Quantum Teaching, vol. 1, no.1
3 Asep Herry Hernawan, Novi Resmini, Modul 1 Konsep Dasar Dan Model-Model Pembelajaran Terpadu
4 Iif Khoiru Ahmadi, Sofian, Pengembangan & Model Pembelajaran Tematik Intregratif, (Jakarta, Prestasi Pustaka,2014), hal.191
5 Siti Maesaroh, Peranan Motode Pembelajaran Terhadap Minat Dan Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam, vol.1, no.1
siswa yang mengalami masalah dalam belajar, akibatnya hasil belajar yang dicapai kurang optimal. Untuk mengatasi hal tersebut, perlu ditelusuri faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa.6
Salah satu faktor yang mempengaruhi hasil belajar adalah motivasi7. Menurut Hapnita dkk, motivasi merupakan salah satu faktor internal yang mempengaruhi pencapaian hasil belajar siswa.8 Motivasi merupakan sesuatu keadaan yang terdapat pada diri seseorang individu dimana ada suatu dorongan untuk melakukan sesuatu agar mencapai tujuan.9 Motivasi sangat penting dalam proses pembelajaran baik bagi guru maupun bagi siswa. Jika guru mengetahui motivasi belajar siswanya, guru dapat memelihara dan meningkatkan semangat belajar siswanya sehingga tujuan dan hasil belajar yang diharapkan dalam proses pembelajaran dapat tercapai secara optimal.
Bagi siswa, motivasi belajar dapat meningkatkan kemauanya dalam belajar sehingga siswa dapat terdorong untuk memperbaiki dan meningkatkan semangatnya untuk melakukan perubahan belajar kearah yang positif.10
Peran dari motivasi adalah menumbuhkan gairah, merasa senang, semangat, dan mempunyai banyak energi untuk belajar.11 Oleh karena itu, apabila siswa belajar dengan motivasi tinggi, maka akan belajar dengan
6 Fitriani, Pengaruh Motivasi Belajar Dan Displin Terhadap Hasil Belajar IPS Siswa Di
SMP Karya Indah Kecamatan Tapung, vol.4, no.2
7 ibid
8 Menurut Hapnita dalam Widia Hapnita, Rijal Abdullah, Yuwalitas Gusmareta, Fahmi Rizal, Faktor Internal Dan Eksternal Yang Dominan Mempengaruhi Hasil Belajar Menggambarkan Dengan Perangkat Lunak Siswa Kelas Teknik Gambar Bangunan SMK N 1 Padang Tahun 2016/2017, vol.5, no.1
9 Amna Emda, Kedudukan Motivasi Belajar Siswa Dalam Pembelajaran, vol. 5, no. 2
10 Arianti, Peranan Guru Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa, vol.12, no, 2
11 Damis, Muhajis, Analisis Hubungan Antara Motivasi Belajar Dengan Hasil Belajar
Siswa Pada Sekolah Dasar Negeri 3 Allakuang Kecamatan Martingenggae Kabupaten Sidenreng Rappang, vol. II, no. 2
sungguh-sungguh, senang, dan semangat untuk mencapai tujuan belajar yang tinggi.12 Akan tetapi, belum semua siswa memiliki motivasi belajar yang tinggi, jika siswa belajar dengan motivasi rendah, maka akan belajar dengan perasaan malas dan tidak bersemangat, sehingga tujuan belajar yang dicapai kurang maksimal.
Hasil belajar yang rendah bukan hanya karena kemampuan siswa yang kurang, tetapi karena kurangnya motivasi belajar. 13 Rendahnya motivasi belajar siswa sangat berpengaruh terhadap hasil belajar. Meskipun siswa mempunyai tingkat intellegensi yang tinggi akan tetapi motivasi dalam dirinya rendah akan berdampak pada aktivitasnya dalam belajar.
Siswa akan merasa malas, tidak adanya ketertarikan, dan semangat belajar siswa juga rendah.14
Pada kurikulum 2013, setiap satuan pendidikan harus menyelenggarakan proses pembelajaran secara aktif, interaktif, inspiratif, menyenangkan, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif.15 Berdasarkan hal tersebut, proses pembelajaran yang seharusnya adalah peserta didik terlibat aktif dalam pembelajaran. Jika peserta didik yang aktif dalam pembelajaran, peserta didik lebih banyak mengerti dan mengingat pembelajaran dalam waktu yang lebih lama. Sebaliknya, ketika dalam proses pembelajaran peserta didik pasif dan hanya menerima materi
12 ibid
13 Damis, Muhajis, Analisis Hubungan Antara Motivasi Belajar Dengan Hasil Belajar
Siswa Pada Sekolah Dasar Negeri 3 Allakuang Kecamatan Martingenggae Kabupaten Sidenreng Rappang, vol. II, no. 2
14 ibid
15 Shafa, Karakteristik Proses Pembelajaran Kurikulum 2013, vol. 14, no.1
pelajaran dari pendidik, peserta didik akan cepat melupakan apa yang disampaikan oleh pendidik. Maka dapat diketahui bahwa masih banyak peserta didik yang belum mencapai ketuntasan dalam belajar tematik.
Hasil prasurvey observasi dan wawancara yang dilakukan oleh peneliti di SD Negeri 2 Kibang kelas III pada tanggal 9 dan 12 maret 2020 terdapat beberapa masalah seperti rendahnya motivasi belajar peserta didik. 16 Selanjutnya pembelajaran masih berpusat pada guru. Saat pembelajaran berlangsung siswa kurang dalam pemahaman konsep pembelajaran materi yang disampaikan oleh pendidik. Pada saat proses pembelajaran berlangsung terdengar suara bising dari luar maupun dalam sekolah yang mengganggu konsentrasi siswa. Kebersihan dan kerapihan kelas juga belum maksimal. Selanjutnya peneliti mendapati indikasi bahwa motivasi belajar siswa kelas III SD Negeri 2 Kibang masih rendah. Hal ini dapat dilihat ketika proses pembelajaran sedang berlangsung banyak siswa gaduh di kelas, usil dengan teman lainya, kurang tekun belajar, dan siswa tidak sungguh-sungguh dalam belajar. Hal ini dapat dilihat pada data presentase ketuntasan siswa kelas III nilai Pendidikan Kewarganegaraan ulangan harian semester genap tahun pelajaran 2019/2020.
16 Hasil Observasi Prasurvey di kelas III SD Negeri 2 Metro Kibang Kecamatan Metro Kibang, Lampung Timur, 9 dan 14 Maret 2020
Tabel 1.1
Nilai Ulangan Harian Kelas III SD Negeri 2 Metro Kibang
No. Nilai Kriteria Jumlah
siswa Presentase
1. > 75 Tuntas 9 41%
2. < 75 Belum tuntas 13 59%
Jumlah 22 100%
Sumber:nilai ulangan harian semester genap tahun 2019/2020
Berdasarkan Tabel 1.1 di atas terlihat bahwa hanya 9 orang siswa yang tuntas nilai kriteria ketuntasan minimal (KKM), atau seluruh siswa nilainya di bawah (KKM). Hanya 41% atau 9 siswa yang tuntas dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, dan 59% atau 13 belum tuntas, jadi terlihat jelas bahwa nilai pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan siswa kelas III SD Negeri 2 Kibang masih belum mencapai nilai kriteria ketuntasan minimal (KKM).
Pencapaian ketuntasan belajar erat hubungannya dengan motivasi siswa dalam proses pembelajaran.17 Beberapa hasil penelitian terdahulu menyebutkan bahwa motivasi belajar memiliki hubungan positif dengan hasil belajar siswa.18
Pelitian terdahulu yang pernah melakukan penelitian ini, terdapat hubungan yang signifikan antara motivasi belajar dengan hasil belajar karena kecenderungan untuk berprestasi pada seorang siswa dilakukan dengan berbagai kegiatan secara aktif dalam belajar, sehingga memperoleh
17 Elvina Bastari, Hubungan Motivasi Belajar Dengan Hasil Belajar Peserta Didik Pada Mata Pelajaran Ips Kelas IV SD Negeri 1 Sukabumi Indah Bandar Lampung Tahun 2018/2019, (2019)
18 Radinal Mukhtar, Hubungan Motivasi Belajar Dengan Hasil Belajar Pada Mata Pelajaran Seni Budaya Bidang Seni Musik Siswa Kelas X SMA Piri 1 Yogyakarta, (2015)
prestasi yang baik. Intensitas motivasi belajar seseorang akan sangat menentukan prestasi belajarnya.
Permasalahan dan hasil pemikiran di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan motivasi belajar dengan hasil belajar siswa kelas III SD Negeri 2 Kibang.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah di atas, dapat diidentifikasi bahwa yang menjadi permasalahan adalah sebagai berikut:
1. Sebagian peserta didik tidak bersemangat dalam mengikuti pelajaran.
2. Hasil belajar siswa yang belum memuaskan, dilihat dari banyaknya siswa yang belum tuntas.
3. Siswa kurang termotivasi ketika mengikuti pembelajaran.
C. Batasan Masalah
Untuk menghindari adanya kemungkinan meluasnya masalah yang akan diteliti, maka dengan ini peneliti membatasi masalah. Adapun peneliti membatasi masalah penelitian ini adalah hubungan motivasi belajar dengan hasil belajar siswa dalam pelajaran pendidikan kewarganegaraan kelas III SD Negeri 2 Metro Kibang.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka diperoleh rumusan masalah yaitu, apakah terdapat hubungan yang signifikan antara motivasi
belajar dengan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) di SD Negeri 2 Kibang?.
E. Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan permasalahan penelitian sebagaimana telah diuraikan, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat hubungan yang signifikan antara motivasi belajar dengan hasil belajar siswa pada pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan kelas III SD Negeri 2 Kibang.
F. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi:
1. Bagi guru, hasil penelitian ini dapat memberikan informasi tentang hubungan antara motivasi belajar dengan hasil belajar, sehingga dapat membantu guru untuk dapat membantu siswa dalam meningkatkan hasil belajar.
2. Bagi siswa, peserta didik dapat mengetahui peran dari motivasi belajar dalam menunjang pencapaian hasil belajar yang optimal dalam proses pembelajaran.
3. Bagi sekolah, penelitian yang telah peneliti laksanakan ini, dapat menjadi acuan dalam meningkatkan motivasi belajar peserta didik guna meningkatkan hasil belajar peserta didik.
G. Penelitian yang Relevan
No Penulis dan Tahun Judul Hasil Perbedaan
1. Radinal Mukhtar Tahun 2015
Hubungan Motivasi Belajar Dengan Hasil Belajar Pada Mata Pelajaran Seni Budaya Bidang Seni Musik Siswa Kelas X SMA Piri 1
Yogyakarta
Hasil penelitian
menunjukkan bahwa: (1) rata-rata/mean motivasi belajar siswa kelas X SMA Piri 1 Yogyakarta adalah 60,77 atau dalam kategori sedang, (2) rata- rata/mean hasil belajar siswa kelas X SMA Piri 1 Yogyakarta adalah 80,77 atau dalam kategori sedang, dan (3) terdapat hubungan positif dan signifikan motivasi belajar dengan hasil belajar Mata Pelajaran Seni Budaya Bidang Seni Musik Siswa Kelas X SMA Piri 1 Yogyakarta. Hal ini ditunjukkan dari besarnya nilai r hitung lebih besar dari r tabel (0,492>0,288) dan nilai signifikansi sebesar 0,000, yang berarti kurang dari 0,05
(0,000<0,05).
Terletak pada mata pelajaran yang diambil oleh peneliti terdahulu yaitu Seni Budaya Bidang Seni Musik dan Kelas X. Dan juga lokasi peneliti terdahulu di SMA Piri 1 Yogyakarta
2. Elvina Bastari Tahun 2019
Hubungan Motivasi Belajar Dengan Hasil Belajar Peserta Didik Pada Mata Pelajaran Ips Kelas IV SD Negeri 1 Sukabumi Indah Bandar
Lampung Tahun 2018/2019
Hasil analisis data penelitian menunjukkan nilai koefisien korelasi sebesar 0,625 bertanda positif atau searah,
kemudian Diperoleh nilai p
= 0,000 korelasi atau hubungan dua variabel tersebut signifikan baik pada taraf 0,05. Hal ini dapat di lihat dari adanya angka koefisien korelasi.
Nilai tersebut dibandingkan dengan rtabel pada
taraf signifikan 5% untuk N
= 30 dan df = N – 2 = 30 – 2 = 28 diperoleh angka 0,374 dan terlihat bahwa rhitung > rtabel atau 0,625
> 0,374, sehingga hipotesis nol (Ho) ditolak dan hipotesis alternatif (Ha) diterima. Artinya terdapat hubungan positif dan signifikan motivasi belajar dengan hasil belajar peserta
Terletak pada mata pelajaran yang diambil oleh peneliti terdahulu yaitu IPS dan kelas IV.
Dan juga terletak pada lokasi peneliti
terdahulu adalah SD Negeri 1 Sukabumi Indah Bandar Lampung Tahun
2018/2019
didik kelas IV mata pelajaran IPS Sekolah Dasar Negeri 1 Sukabumi Indah Bandar Lampung Tahun Ajaran 2018/2019.
3. HanifahBalqis dan tahun 2015
Hubungan Antara Motivasi Belajar Dengan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPA (Penelitian Deskriptif Di Kelas IV SDN Karang Tengah 5)
Berdasarkan hasil analisa data dengan korelasi Pearson Product Moment di peroleh nilai r hitung=
0,637, r tabel = 0,278 dengan df = 48 dan dengan perhitungan koefisien determinansi sebesar 40,5%
dan hasil t hitung = 5,714.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara motivasi belajar dengan prestasi belajar IPA pada siswa kelas IV di SDN Karang Tengah 05 Tangerang. Artinya makin tinggi motivasi belajar siswa, maka semakin tinggi prestasi belajar siswa.
Kesimpulannya bahwa motivasi belajar merupakan suatu kecenderungan untuk berprestasi pada seorang siswa dengan melakukan berbagai kegiatan secara aktif dalam belajar, sehingga memperoleh prestasi yang baik. Dan intensitas motivasi belajar seseorang akan sangat menentukan prestasi belajarnya.
Terletak pada mata pelajaran karena peneliti terdahulu mengambil mata pelajaran IPA dan kelas IV.
Dan juga lokasi peneliti
terdahulu di SDN Karang Tengah 5)
Radinal Mukhtar (2015) Hubungan Motivasi Belajar Dengan Hasil Belajar Pada Mata Pelajaran Seni Budaya Bidang Seni Musik Siswa Kelas X SMA Piri 1 Yogyakarta.
Hasil penelitian tersebut menunjukkan terdapat hubungan positif dan signifikan motivasi belajar dengan hasil belajar Mata Pelajaran Seni Budaya Bidang Seni Musik Siswa Kelas X SMA Piri 1 Yogyakarta. Perbedaan pada
penelitian tersebut dapat dilihat dari obyek penelitian, lokasi penelitian dan mata pelajaran dalam penelitian tersebut adalah siswa kelas X SMA Piri 1 Yogyakarta mata pelajaran Seni Budaya. Sementara dalam penelitian ini obyek penelitian, lokasi penelitian dan mata pelajaran adalah siswa kelas III SD Negeri 2 Kibang mata pelajaran Pkn. Kemudian persamaan penelitian tersebut dengan penelitian ini terletak pada tujuan dilakukanya penelitian yaitu sama-sama bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara motivasi belajar dengan hasil belajar.
Elvina Bastari (2019) Hubungan Motivasi Belajar Dengan Hasil Belajar Peserta Didik Pada Mata Pelajaran Ips Kelas IV SD Negeri 1 Sukabumi Indah Bandar Lampung Tahun 2018/2019. Hasil penelitian tersebut menunjukkan hubungan dua variabel tersebut signifikan baik. Perbedaan pada penelitian tersebut dapat dilihat dari obyek penelitian, lokasi penelitian dan mata pelajaran dalam penelitian tersebut adalah siswa kelas IV SD Negeri 1 Sukabumi Indah Bandar Lampung mata pelajaran IPS. Sementara dalam penelitian ini obyek penelitian, lokasi penelitian dan mata pelajaran adalah siswa kelas III SD Negeri 2 Kibang mata pelajaran Pkn. Kemudian persamaan penelitian tersebut dengan penelitian ini terletak pada tujuan dilakukanya penelitian yaitu sama-sama bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara motivasi dengan hasil belajar.
Hanifah Balqis (2015) Hubungan Antara Motivasi Belajar Dengan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPA (Penelitian Deskriptif Di Kelas IV SDN Karang Tengah 5). terdapat hubungan positif dan signifikan antara motivasi belajar dengan prestasi belajar IPA pada siswa kelas IV di SDN Karang Tengah
05 Tangerang. Artinya makin tinggi motivasi belajar siswa, maka semakin tinggi prestasi belajar siswa. Sementara dalam penelitian ini obyek penelitian, lokasi penelitian dan mata pelajaran adalah siswa kelas IV di SDN Karang Tengah 05 Tangerang mata pelajaran IPA. Kemudian persamaan penelitian tersebut dengan penelitian ini terletak pada tujuan dilakukanya penelitian yaitu sama-sama bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara motivasi dengan hasil belajar.
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Motivasi Belajar 1. Pengertian Belajar
Belajar juga merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku menuju perubahan tingkah laku yang baik, dimana perubahan tersebut terjadi melalui latihan atau pengalaman. Perubahan tingkah laku tersebut harus relatif mantap yang merupakan akhir daripada suatu periode waktu yang cukup panjang. Tingkah laku yang mengalami perubahan karena belajar tersebut menyangkut berbagai aspek kepribadian baik fisik maupun psikis, seperti perubahan dalam pengertian, pemecahan suatu masalah/berfikir, keterampilan, kecakapan ataupun sikap.19
Belajar dimaknai sebagai proses perubahan perilaku sebagai hasil interaksi individu dengan lingkungannya.20 Belajar merupakan proses internal yang kompleks. Yang terlibat dalam proses internal tersebut adalah seluruh mental yang meliputi ranah-ranah kognitif, afektif dan ranah psikomotorik. Proses belajar yang mengaktualisasikan ketiga ranah tersebut tertuju pada bahan belajar tertentu.21
Belajar merupakan kewajiban bagi setiap individu. Di mana aktivitas belajar bagi setiap individu tidak selamanya dapat berlangsung secara wajar, kadang-kadang lancar, kadang-kadang tidak lancar.
Kadang-kadang dapat cepat menangkap apa yang dipelajari namun sebaliknya kadang-kadang terasa sangat sulit. Dalam semangat terkadang semangatnya tinggi, tetapi terkadang juga sulit untuk konsentrasi. Keadaan semacam ini yang sering kita jumpai pada setiap
19 Nidawati, Belajar Dalam Perspektif Psikologi Dan Agama, vol. 1, no. 1 (2013).
20 Aprida Pane and Muhammad Darwis Dasopang, Belajar Dan Pembelajaran, vol. 3, no.
2 (2017).
21 Ibid
anak didik dalam kehidupan sehari-hari dalam kaitanya dengan aktivitas belajar.
Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu perubahan tingkah laku yang relatif menetap pada seseorang akibat pengalaman atau latihan yang menyangkut aspek fisik maupun psikis, seperti dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak berpengetahuan menjadi tahu tentang sesuatu, dari tahu menjadi lebih tahu, dari tidak memiliki keterampilan menjadi memiliki keterampilan dan sebagainya.
2. Pengertian Motivasi Belajar
Motivasi dan belajar merupakan dua hal yang saling mempengaruhi. Motivasi belajar dapat timbul karena faktor intrinsik, berupa hasrat dan keinginan berhasil dan dorongan kebutuhan belajar, harapan akan cita-cita. Sedangkan faktor ekstrinsiknya adalah adanya penghargaan, lingkungan belajar yang kondusif, dan kegiatan belajar yang menarik. Motivasi belajar juga dapat diartikan sebagai serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi dalam belajar, sehingga seseorang mau dan ingin melakukan kegiatan belajar dan bila ia tidak suka maka ia akan berusaha menghilangkan perasaan tidak sukanya tersebut.22
22 Rachmawati Indah Permata Sari, Hubungan Motivasi Belajar Dengan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Kelas IV Di SDN 11 Petang Jakarta Timur, vol. II, no. 1 (2014).
Allah SWT akan memudahkan jalan menuju surga untuk hambanya yang senantiasa mencari ilmu. Sebagaimana potongan hadis riwayat Abu Hurairah Ra, Rasulullah Saw bersabda:23
ارِ هَّ مَ نْ ا مَ رِ ا قًي رِ مَ ارِيرِ اسُيمَ اسُ هَّ امَ هَّ مَ ا قً نْ رِ ارِي رِ ا سُ رِ مَ نْ مَ ا قًي رِ مَ امَ مَ مَ ا نْ مَ
"Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan jalan ke surga baginya." (HR. Muslim)
Motivasi belajar adalah daya penggerak dari dalam diri individu untuk melakukan kegiatan belajar untuk menambah pengetahuan dan keterampilan serta pengalaman. Proses pembelajaran motivasi merupakan salah satu aspek dinamis yang sangat penting.24 Sering terjadi siswa yang kurang berprestasi bukan disebabkan oleh kemampuannya yang kurang, akan tetapi dikarenakan tidak adanya motivasi untuk belajar sehingga ia tidak berusaha untuk mengarahkan segala kemampuannya. Dalam proses pembelajaran tradisional yang menggunakan pendekatan ekspositori kadang-kadang unsur motivasi terlupakan oleh guru. Guru seakan-akan memaksakan siswa menerima materi yang disampaikannya.
Keadaan ini tidak menguntungkan karena siswa tidak dapat belajar secara optimal yang tentunya pencapaian hasil belajar juga tidak optimal. Pandangan moderen tentang proses pembelajaran
23 Hadist Riwayat Muslim dari Abu Hurairah Ra, Menuju Surga Dengan Ilmu.
24 Amna Emda, Kedudukan Motivasi Belajar Siswa Dalam Pembelajaran, vol. 5, no. 2 (2017).
menempatkan motivasi sebagai salah satu aspek penting dalam membangkitkan motivasi belajar siswa. 25 Motivasi dapat dirangsang oleh faktor dari luar, tetapi motivasi itu tumbuh di dalam diri seseorang.
Lingkungan merupakan salah faktor dari luar yang dapat menumbuhkan motivasi dalam diri seseorang untuk belajar.26
3. Fungsi Motivasi Belajar
Motivasi mempunyai fungsi yang penting dalam belajar, karena motivasi akan menentukan intensitas usaha belajar yang dilakukan siswa. Menurut Sardiman mengemukakan ada tiga fungsi motivasi, yaitu:
a. Mendorong manusia untuk berbuat.
Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.
b. Menuntun arah perbuatan, yakni ke arah tujuan yang hendak dicapai, dengan demikian motivasi dapat memberi arah, dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya.
c. Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut.27
Motivasi diperlukan dalam menentukan intensitas usaha belajar bagi para siswa. Menurut Djamarah ada tiga fungsi motivasi, yakni : a) Motivasi sebagai pendorong perbuatan. Motivasi berfungsi sebagai
pendorong untuk mempengaruhi sikap apa yang seharusnya anak didik ambil dalam rangka belajar.
b) Motivasi sebagai penggerak perbuatan. Dorongan psikologis melahirkan sikap terhadap anak didik itu merupakan suatu
25 ibid
26 ibid
27 Menurut Sardiman dalam Suprihatin, UPAYA GURU DALAM MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA.
kekuatan yang tak terbendung,yang kemudian terjelma dalam bentuk gerakan psikofisik.
c) Motivasi sebagai pengarah perbuatan. Anak didik yang mempunyai motivasi dapat menyeleksi mana perbuatan yang harus dilakukan dan perbuatan yang perlu diabaikan.28
Ada beberapa bentuk dan cara untuk meningkatkan motivasi siswa secara besar-besaran yaitu:
1) Pergunakan pujian verbal
Penerimaan sosial yang mengutip suatu tingkah laku yang diinginkan dapat menjadi alat yang cukup dapat dipercaya untuk mengubah prestasi dan tingkah laku akademis ke arah yang diinginkan. Kata-kata bagus, baik, pekerjaan yang baik yang diucapkan segera setelah siswa melakukan tingkah merupakan pembangkit motivasi yang besar. Penerimaan sosial merupakan suatu penguat atau insentif yang relatif konsisten.
2) Pergunakan tes dalam nilai secara bijaksana
Kenyataan bahwa tes dan nilai dipakai sebagai dasar berbagai hadiah sosial, (seperti penerimaan lingkungan, promosi, pekerjaan yang baik, uang yang lebih banyak dan sebagainya) menyebabakan tes dan nilai dapat menjadi suatu kekuatan untuk memotivasi siswa. Siswa belajar bahwa ada keuntungan yang diasosiasikan dengan nilai yang tinggi. Dengan demikian, memberikan tes dan nilai mempunyai efek dalam memotivasi siswa untuk belajar. Akan tetapi, tes dan nilai harus dipakai secara bijaksana, yaitu memberikan informasi kepada siswa dan untuk menilai penguasaan dan kemajuan siswa, bukan untuk menghukum atau membanding-bandingkannya dengan siswa lain. Penyalahgunaan tes dan nilai akan mengakibatkan menurunnya keinginan siswa untuk berusaha dengan baik.
3) Bangkitkan rasa ingin tahu siswa dan keinginannya untuk mengadakan eksplorasi. Dengan melontarkan pertanyaan atau masalah-masalah, pengajar dapat menimbulkan suatu konflik konseptual yang merangsang siswa untuk bekerja. Motivasi akan berakhir bila konflik terpecahkan atau bila timbul rasa bosan untuk memecahkannya.
4) Untuk tetap mendapatkan perhatian, sekali-sekali pengajar dapat melakukan hal-hal yang luar biasa, misalnya meminta siswa menyusun soal-soal tes, menceritakan problem guru dalam belajar, dan sebagainya.
5) Merangsang hasrat siswa dengan jalan memberikan pada siswa sedikit contoh hadiah yang akan diterimanya bila ia berusaha
28 Ibid.
untuk belajar. Berikan pada siswa penerimaan sosial, sehingga ia tahu apa yang dapat diperolehnya jika ia berusaha lebih lanjut. Dalam menerapkan hal ini, pengajar perlu membuat urutan pengajaran, sehingga siswa dapat memperoleh sukses dalam tugas-tugas permulaan.
6) Agar siswa lebih mudah memahami bahan pengajaran, pergunakan materi-materi yang sudah dikenal sebagai contoh.
7) Terapkan konsep-konsep atau prinsip-prinsip dalam konteks yang unik dan luar biasa, agar siswa jadi lebih terlibat.
8) Meminta pada siswa untuk mempergunakan hal-hal yang sudah dipelajari sebelumnya.
9) Pergunakan simulasi dan permainan.
10) Perkecil daya tarik sistem motivasi yang bertentangan.
11) Perkecil konsekuensi-konsekuensi tidak menyenangkan dari keterlibatan siswa. Pengajar perlu memahami dan mengawasi suasana sosial di lingkungan sekolah, karena hal ini besar pengaruhnya atas diri siswa.
12) Pengajar perlu memahami hubungan kekuasaan antara guru dan siswa.29
4. Jenis Jenis Motivasi Belajar
Dalam kaitannya dengan belajar, biasanya para ahli membedakan dua macam motivasi berdasarkan sumber dorongan terhadap perilaku, yaitu motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Motivasi intrinsik mempunyai sumber dorongan dari dalam diri individu yang bersangkutan sedangkan motivasi ekstrinsik mempunyai sumber dorongan dari luar. Jadi, motivasi ekstrinsik adalah dorongan dari rangsangan luar dan motivasi intrinsik adalah perilaku yang hadir karena tidak adanya rangsangan dari luar. Baik motivasi intrinsik maupun motivasi ekstrinsik timbul karena adanya rangsangan diantaranya:
29 Vina Rahmayanti, Pengaruh Minat Belajar Siswa Dan Persepsi Atas Upaya Guru Dalam Memotivasi Belajar Siswa Terhadap Prestasi Belajar Bahasa Indonesia Siswa SMP Di Depok, vol. 1, no. 2 (2016), p. 212.
a. Motivasi Intrinsik
Motivasi intrinsik adalah perubahan yang terjadi didalam diri seseorang, keadaan merasa tidak puas atau ketegangan psikologis.
Dalam aktivitas belajar, motivasi intrinsik sangat diperlukan, terutama belajar sendiri. Seseorang yang tidak memiliki motivasi intrinsik sulit sekali melakukan aktivitas belajar yang terus menerus. Sedangkan seseorang yang memiliki motivasi intrinsik selalu ingin maju dan belajar. Keinginan itu dilatarbelakangi oleh pemikiran yang positip, bahwa semua mata pelajaran yang dipelajari sekarang akan dibutuhkan dan sangat berguna kini dan di masa mendatang. Dengan demikian motivasi intrinsik muncul berdasarkan kesadaran dengan tujuan essensial, bukan sekedar atribut dan seremonial.
b. Motivasi Ektrinsik
Motivasi ekstrinsik adalah apa yang diinginkan seseorang, tujuan yang menjadi arah kelakuannya atau tujuan yang hendak dicapai oleh seseorang. Motivasi belajar dikatakan ekstrinsik bila anak didik menempatkan tujuan belajarnya di luar faktor-faktor situasi belajar (residesin some factors outside the learning situation).
Peserta didik belajar karena hendak mencapai tujuan yang terletak di luar hal yang dipelajarinya. Misalnya, untuk mencapai angka tinggi, diploma, gelar, kehormatan dan sebagainya. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa motivasi intrinsik bersifat lebih tahan lama dan lebih kuat dibanding motivasi ekstrinsik untuk mendorong minat belajar. Namun demikian, motivasi ekstrinsik juga bisa sangat efektifkarena minat tidak selalu bersifat intrinsik.
Guru yang baik, nilai yang adil dan obyektif, kesempatan belajar yang luas, suasana kelas yang hangat dan dinamis merupakan sumber-sumber motivasi ekstrinsik yang efektif untuk meningkatkan minat dan perilaku belajar.30
5. Indikator Motivasi Belajar
Siswa yang mempunyai motivasi dapat dilihat dari aktivitas yang dilakukannya sehari-hari seperti yang diungkapkan, bahwa motivasi yang ada pada diri setiap orang itu memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
a. Tekun menghadapi tugas.
b. Ulet menghadapi kesulitan.
c. Menunjukan minat terhadap bermacam-macam masalah.
30 Saptono, Motivasi dan Keberhasilan Belajar Siswa.
d. Lebih senang bekerja mandiri.
e. Cepat bosan pada tugas-tugas rutin (hal-hal yang bersifat mekanis, berulang-ulang begitu saja, sehingga kurang kreatif).
f. Dapat mempertahankan pendapatnya (kalau sudah yakin akan sesuatu).
g. Tidak mudah melepaskan hal yang diyakininya itu.
h. Senang mencari dan memecahkan masalah soal-soal.31 Motivasi belajar dapat dilihat melalui kriteria atau indikator motivasi belajar yaitu: (1) minat dan perhatian terhadap pelajaran, (2) semangat untuk melakukan tugas tugas belajar, (3) tanggung jawab dalam mengerjakan tugas-tugas belajar, (4) reaksi yang ditunjukan terhadap stimulus yang diberikan, dan (5) rasa senang dan puas dalam mengerjakan tugas yang diberikan.32
Siswa yang memiliki ciri-ciri di atas menunjukkan bahwa siswa tersebut telah memiliki motivasi yang kuat. Ciri-ciri motivasi seperti itu akan sangat penting dalam kegiatan belajar. Kegiatan belajar akan berhasil baik kalau siswa tekun mengerjakan tugas, ulet dalam memecahkan berbagai masalah atau kesulitan secara mandiri, dan semangat untuk melakukan tugas-tugas belajarnya.
Berdasarkan uraian di atas, peneliti menyimpulkan bahwa motivasi belajar merupakan suatu dorongan atau daya penggerak dari dalam diri siswa yang memberikan arah dan semangat pada kegiatan belajar, sehingga dapat mencapai tujuan yang dikehendaki.
31 Sardiman, Interaksi Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta : Raja Grafindo, 2016), h. 83
32 Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Beajar Mengajar, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2016), h. 61
Motivasi belajar dapat dilihat melalui indikator motivasi belajar, diantaranya: (1) ketekunan dalam belajar, (2) ulet dalam menghadapi kesulitan belajar, (3) minat terhadap pelajaran (4) keinginan berprestasi dalam belajar, dan (5) mandiri dalam belajar.
B. Hasil Belajar
1. Pengertian Hasil Belajar
Hasil belajar tampak sebagai terjadinya perubahan tingkah laku pada diri siswa yag dapat diamati dan diukur dalam bentuk perubahan pengetahuan sikap dan keterampilan. Perubahan tersebut dapat diartikan sebagai terjadinya peningkatan dan pengembangan yang lebih baik dibandingkan dengan sebelumnya. Misalnya dari tidak tahu menjadi tahu dan dari sikap kurang sopan menjadi sopan.33
Berdasarkan uraian diatas penekanan hasil belajar adalah terjadinya perubahan hasil masukan pribadi berupa motivasi dan harapan untuk berhasil dan masukan dari lingkungan berupa rancangan dan pengelolaan motivasional tidak berpengaruh langsung terhadap besarnya usaha yang dicurahkan oleh siswa untuk mencapai tujuan belajar.
Pendapat lain mengkalsifikasikan hasil belajar atau perubahan tingkah laku dalam belajar mencangkup seluruh aspek pribadi peserta didik, yaitu aspek kognitif, afektif dan piskomotor.34 Berdasarkan hasil tersebut, hasil belajar merupakan hasil dari perubahan tingkah laku yang diperoleh oleh individu sebagai tujuan
33 Oemar Hamalik, Perencanaan Pengejaran Berdasarkan Pendekatan Sistem, et.8. Bumi Aksara, Jakarta, 2009.h. 155.
34 Nanang Hanafiah, Cucuu Suhana, Konsep Strategi Pembelajaran Cet.1, Refika Aditama, Bandung, 2009, h.20
dari perbuatan belajar yang dilakukannya. Dalam Al-Quran menjelaskan Q.S Al-A’raf ayat 175 sebagai berikut35:
ُهَعَبْتَأَف اَ ْنِْم َخَل َسْناَف اَنِت َيَ آ ُهاَنْيَت آ يِ ذلَّا َأَبَن ْمِ ْيَْلَع ُلْتاَو َي ِواَ ْاا َيِم َا َ َف ُاا َ ْ ذشَّلاا
Artinya :
“Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian Dia melepaskan diri dari pada ayat-ayat itu, lalu Dia diikuti oleh syaitan (sampai Dia tergoda), Maka jadilah Dia Termasuk orang-orang yang sesat.”
Hasi belajar itu meliputi semua aspek prilaku (aspek kognitif, afektif, dan psikomotor). Hasil belajar itu sangat penting dalam pembelajaran, karena dengan adanya hasil belajar seorang guru dapat mengetahui sejauh mana siswa memahami materi yang telah disampaikan oleh guru. Apabila hasil belajar siswa meningkat berati tujuan pembelajaran sudah tercapai, begitupun sebaliknya.
2. Jenis - Jenis Hasil Belajar
Dalam sistem Pendidikan Nasional rumusan tujuan Pendidikan, menggunakan Klasifikasi Benyamin Bloom yang secara garis membagi menjadi tiga ranah, yaitu:
a. Ranah Kognitif, berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek yakni:
1) Pengetahuan 2) Pemahaman 3) Aplikasi 4) Analisis 5) Sintesis 6) Evaluasi36
35 QS. Al- A’raf (9): 175.
b. Ranah Afektif, berkenaan dengan sikap yang terdiri lima aspek yakni:
1) Penerimaan
2) Jawaban atau reaksi 3) Penilaian
4) Organisasi 5) Internalisasi.37
c. Ranah Psikomotoris, berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak, terdiri dari enam aspek yakni:
1) Gerakan refleks
2) Keterampilan gerakan dasar 3) Kemampuan perseptual 4) Kemampuan di bidang fisik 5) Gerakan- gerakan skill
6) Kemampuan yang berkenaan dengan komunikasi non- decursive.38
3. Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Secara garis besar faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajar siswa itu dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu faktor yang bersumber dalam diri manusia yang sedang belajar yang disebut faktor internal, dan faktor yang bersumber dari luar manusia yang sedang belajar yang disebut faktor eksternal. Adapun faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajar dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Faktor Interen, yaitu faktor yang timbul dari siswa itu sendiri yang sifatnya:
1) Faktor jasmaniah, seperti kesehatan dan cacat tubuh 2) Faktor psikologis, seperti intelegensi, perhatian, minat
bakat, kesiapan dalam belajar.
b. Faktor Ekstren, yaitu faktor yang timbul dari luar diri anak seperti cara orang tua mendidik, suasana rumah,ekonomi keluarga. 39
36 Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar (Bandung: PT Remaja Rosdakarya,2006)
37 ibid
38 ibid
Sedangkan pendapat lain menjelaskan bahwa faktor-faktor yang mempengaruh hasil belajar yaitu faktor internal dan faktor eksternal.
Faktor internalnya yaitu ciri/karakteristik siswa, sikap terhadap belajar, motivasi belajar, konsentrasi belajar, mengolah bahan belajar, menggali hasil belajar,dan rasa percaya diri. Sedangkan faktor eksternalnya yaituu guruuu, lingkungan sebaya, kurikulum sekolah, sarana dan prasarana.40Dari beberapa pendapat diatas dapat dipahami bahwa ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajar siswa.
4. Kriteria Hasil Belajar
Seorang guru harus mengetahui kriteria hasil belajar yang diperoleh siswa setelah melakukan proses belajar mengajar. Berikut ini adalah kriteria hasil belajar yang dikemukakan oleh Nana Sudjana:
b. Siswa dapat mengingat fakta, prinsip, konsep yang telah dipelajarinya dalam kurun waktu yang cukup lama.
c. Siswa dapat memberikan contoh dari konsep dan prinsip yang telah dipelajari.
d. Siswa dapat mengaplikasikan atau menggunakan konsep dan prinsip yang telah dipelajarinya baik dalam bahan pelajaran maupun dalam praktik kehidupan sehari-hari.
e. Siswa mempunyai dorongan yang kuat untuk mempelajari bahan pelajaran lanjut dan mampu mempelajari sendiri dengan menggunakan prinsip dan konsep yang dikuasai.
f. Siswa terampil mengadakan hubungan sosial seperti kerjasama dengan siswa lain.
g. Siswa memperoleh kepercayaan diri bahwa ia mempunayi kemampuan dan kesanggupan dalam melakukan tugas belajar.41
39 Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2003).
40 Aunurrahman, Belajar dan pembelajaran, Ceet.2, Alphabeta, Bandung, 2009, h.178—
195.
41 Nana Sudjana, Cara Belajar Siswa Aktif dalam Proses Belajar Mengajar (Bandung:
Sinar Baru, 2010), p. 111.
C. Kurikulum 2013 di SD
1. Pengertian Kurikulum 2013 di SD
Kurikulum 2013 atau yang lebih mudah disebut dengan K13 melalui pengembangannya yang berbasis karakter dan kompetensi yang dapat menghasilkan insan yang produktif, kreatif, inovatif, dan berkarakter. Pendidikan karakter dalam kurikulum 2013 bertujuan untuk meningkatkan mutu proses dan hasil pendidikan, yang mengarah pada pembentukan budi pekerti dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang sesuai dengan standar kompetensi lulusan pada setiap satuan pendidikan.
Keberhasilan implementasi Kurikulum 2013 dapat dilihat melalui beberapa indikator sebagai berikut :
a. Adanya lulusan yang berkualitas,produktif, kreatif, dan mandiri.
b. Adanya peningkatan mutu pembelajaran.
c. Adanya peningkatan efisiensi dan efektifitas pengelolaan dan pendayagunaan sumber belajar.
d. Adanya peningkatan perhatian serta partisipasi masyarakat.
e. Adanya peningkatan tanggung jawab sekolah.
f. Tumbuhnya sikap, keterampilan dan pengetahuan secara utuh pada peserta didik.
g. Terwujudnya pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAKEM)
h. Pembelajaran berlangsung dengan tenang dan menyenangkan,Adanya proses evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan.42
Oleh karena itu untuk mengefektifkan program pendidikan karakter dan meningkatkan kompetensi dalam kurikulum 2013
42 Mulyasa, Pengembangan dan implementasi kurikulum 2013 (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2015), 11–12.
diperlukan kerja sama dan komunikasi antara pihak sekolah, orang tua, masyarakat juga pemerintah, baik dalam perencanaan, pelaksanaan serta evaluasi dan pengawasannya.
2. Landasan Pengembangan Kurikulum 2013
Ada 3 yang melandasi pengembangan kurikulum 2013 yaitu : a. Landasan Filosofis
1) Filosofis pancasila yang memberikan berbagai prinsip dasar dalam pembangunan pendidikan.
2) Filosofis pendidikan yang berbasis pada nilai nilai luhur, nilai akademik, kebutuhan peserta didik, dan masyarakat.
b. Landasan yuridis
1) RPJMM 2010-2014 sektor pendidikan, tentang perubahan metodologi pembelajaran dan penataan kurikulum.
2) PP no. 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan.
3) INPRES nomor 1 tahun 201 tentang percepatan pelaksanaan prioritas pembangunan nasional, penyempurnaan kurikulum dan metode pembelajaran aktif berdasarkan nilai nilai budaya bangsa untuk membentuk daya saing dan karakter bangsa.
c. Landasan konseptual
1) Relevansi pendidilan (link and match) 2) Kurikulum berbasis kompetensi dan karakter
3) Pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning)
4) Pembelajaran aktif (student active learning) 5) Penilaian yang valid, utuh, dan menyeluruh.43
Dari ketiga landasan diatas kita dapat mengetahui bagaimana kurikum 2013 pada setiap bagian landasan. Landasan filosofis berdasar pada pertimbangan filosifisnya. Landasan yuridis untuk mengetahui landasan hukum dari kurikulum 2013. Landasan konseptual untuk mengetahui bagaimana kurikulum 2013 jelas secara konsep.
43 Mulyasa, 64.
3. Pengertian Tematik
Kurikulum 2013 sangat berkaitan dengan pembelajaran terpadu atau tematik. Pembelajaran terpadu atau tematik adalah salah satu bentuk model pembelajaran terpadu, yaitu model jejaring (webbed).
Yang intinya menekankan pada pola pengorganisasian materi yang dipadukan dalam sebuah tema.44
4. Prinsip Pembelajaran Tematik
Prinsip merupakan salah satu fokus dalam pembelajaran tematik. Oleh karena itu guru sebagai pendidik bukan hanya sekedar mengajarkan bagaimana proses pembelajaran tematik dalam kurikulum 2013 tetapi juga dapat mengetahui dengan jelas apa saja prinsip prinsip didalamnya. Adapun beberapa prinsip pembelajaran tematik yakni:
a) Berpusat pada siswa b) Pengalaman langsung
c) Pemisahan mata pelajaran tidak jelas
d) Penyajian beberapa mata pelajaran dalam satu proses pembelajaran e) Fleksibel
f) Bermakna dan utuh
g) Mempertimbangkan waktu dan ketersediaan sumber h) Tema terdekat dengan anak
i) Pencapaian kompetensi dasar bukan tema.45
Pembelajaran tematik memiliki ciri-ciri atau karakteristik sebagaimana diungkapkan dalam sebagai berikut:
a) Berpusat pada siswa
Proses pembelajaran yang dilakukan harus rnenempatkan siswa sebagai pusat aktivitas dan harus mampu memperkaya pengalaman belajar. Pengalaman belajar
44 Deni Kurniawan, Pembelajaran Terpadu Tematik, 1 (Bandung: Alfabeta, 2014), 95.
45 Deni Kurniawan, Pembelajaran Terpadu Tematik, 1 (Bandung: Alfabeta, 2014), 96.
tersebut dituangkan dalam kegiatan belajar yang menggali dan mengembangkan fenomena alam di sekitar siswa.
b) Memberikan pengalaman langsung kepada siswa
Agar pembelajaran lebih bermakna maka siswa perlu belajar secara langsung dan mengalami sendiri. Atas dasar ini maka guru perlu menciptakan kondisi yang kondusif dan memfasilitasi tumbuhnya pengalaman yang bermakna c) Pemisahan mata pelajaran tidak begitu jelas
Mengingat tema dikaji dari berbagai mata pelajaran dan saling keterkaitan maka batas mata pelajaran menjadi tidak begitu jelas.
d) Menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran dalam suatu proses pembelajaran.
e) Bersifat fleksibel
Pelaksanaan pembelajaran tematik tidak terjadwal secura ketat antar mata pelajaran.
f) Hasil pembelajaran dapat berkembang sesuai dengan minat, dan kebutuhan siswa.46
5. Kelebihan dan Kelemahan Pembelajaran Tematik
Pelaksanaan pembelajaran tematik memiliki beberapa kelebihan dan juga kelemahan yang diperolehnya. Kelebihan yang dimaksud yaitu:
a. Menyenangkan karena bertolak dari minat dan kebutuhan siswa.
b. Pengalaman dan kegiatan belajar relevan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan siswa.
c. Hasil belajar akan bertahan lebih lama karena lebih berkesan dan bermakna.
d. Menumbuhkan keterampilan sosial, seperti bekerja sama, toleransi, komunikasi, dan tanggap terhadap gagasan orang lain.
Pembelajaran tematik di samping memiliki beberapa kelebihan sebagaimana dipaparkan di atas, juga terdapat beberapa kekurangan yang diperolehnya. Kekurangan yang ditimbulkannya yaitu:
a. Guru dituntut memiliki keterampilan yang tinggi
46 Ibid.
b. Tidak setiap guru mampu mengintegrasikan kurikulum dengan konsep-konsep yang ada dalam mata pelajaran secara tepat.
6. Pendidikan Kewarganegaraan
Pendidikan Kewarganegaraan merupakan salah satu mata pelajaran yang sangat penting untuk diajarkan kepada warga negara.
Hal ini dikarenakan pendidikan kewarganegaraan merupakan progam pendidikan yang membekali siswa dengan seperangkat pengetahuan guna mendukung peran aktif mereka dalam masyarakat dan negara dimasa yang akan datang. Pendidikan Kewarganegaraan ialah usaha untuk membekali peserta didik dengan pengetahuan dan kemampuan dasar berkenaan dengan hubungan warganegara serta pendidikan pendahuluan bela negara agar menjadi warga negara yang dapat diandalkan oleh bangsa dan negara.
Peneliti melakukan penelitian pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, kompetensi dasar yang dipelajari yaitu sebagai berikut :47
Kompetensi Dasar Indikator Pencapaian Kompetensi 1.3 Mensyukuri keberagaman
karakteristik individu di lingkungan sekitar sebagai anugrah dari Tuhan Yang Maha Esa
1.3.1 Memahami keberagaman sifat indvidu dalam kehidupan sehari-hari dirumah sebagai wujud pengalaman sila pancasila yang dilambangkan dalam Garuda Pancasila 2.3 Menampilkan kebersamaan
dalam keberagaman
kadrakteristik individu di lingkungan sekitar
2.3.1 Mengerti beberapa sifat sifat indvidu dalam kehidupan sehari-hari dirumah sebagai wujud pengalaman sila pancasila yang dilambangkan dalam Garuda Pancasila
3.3 Menjelaskan makna
keberagaman karakteristik
Menyebutkan keberagaman sifat indvidu dalam kehidupan
47Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud. Revisi (Jakarta: Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan, 2018).
individu di lingkungan sekitar sehari-hari dirumah sebagai wujud pengalaman sila pancasila yang dilambangkan dalam Garuda Pancasila
4.3 Menyajikan makna
keberagaman karakteristik individu di lingkungan sekitar
Memperagakan beberapa sifat indvidu dalam kehidupan sehari-hari dirumah sebagai wujud pengalaman sila pancasila yang dilambangkan dalam Garuda Pancasila
D. Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, dimana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan.
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan di atas, maka jawaban sementara ( hipotesis) terhadap permasalahan di atas adalah“
Ada hubungan positif dan signifikan antara motivasi belajar dengan hasil belajar kelas III SD Negeri 2 Kibang”. Pengujian hipotesis dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh variabel bebas (x) terhadap variabel terikat (y).
Ha: terdapat hubungan antara motivasi belajar dengan hasil belajar kelas III SD Negeri 2 Kibang.
Ho: tidak terdapat hubungan antara motivasi belajar dengan hasil belajar kelas III SD Negeri 2 Kibang.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis Dan Lokasi Penelitian 1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian korelasional.
Penelitian korelasional adalah suatu penelitian yang melibatkan tindakan pengumpulan data guna menentukan, apakah ada hubungannya dan tingkat hubungan antara dua variabel atau lebih.
Adanya hubungan dan tingkat variabel ini penting, karena dengan mengetahui tingkat hubungan yang ada, peneliti akan dapat mengembangkannya sesuai dengan tujuan penelitian.48
Penulis melakukan penelitian ini karena untuk mengetahui hubungan antar 2 variabel. Hubungan 2 variabel pada penelitian ini yaitu hubungan antara motivasi belajar dan hasil belajar pelajaran pendidikan kewarganegaraan kelas III SD Negeri 2 Kibang.
2. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri 2 Kibang Kecamatan Metro Kibang Lampung Timur. Peneliti melakukan lokasi di sekolah ini karena adanya permasalahan yang dihadapi oleh guru di sekolah tersebut yaitu mengenai motivasi dan hasil belajar siswa yang kurang mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM), sehingga peneliti tertarik untuk melakukan penelitian.
48Suharismi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, XIII (Jakarta: PT.
Rineka Cipta, 2006), 203.
B. Variabel Penelitian
Variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, objek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. variabel dalam penelitian ini yaitu:
1. Variabel bebas/ Independent Variable (X)
Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel terikat. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel bebas adalah motivasi belajar.
Tabel 3.1
Indikator Motivasi Belajar No. Indikator Motivasi Belajar
1. Ketekunan dalam belajar
2. Ulet dalam menghadapi kesulitan 3. Minat dalam pelajaran
4. Keinginan dalam belajar 5. Mandiri dalam belajar 2. Variabel terikat/dependent variable(y)
Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel terikat yaitu hasil belajar mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan.