IDENTIFIKASI PERMASALAHAN PESERTA DIDIK DI BIDANG PRIBADI
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Bimbingan dan Konseling Yang Diampu Oleh : Dr. Naharus Surur, M.Pd.
Disusun Oleh:
Karimatuz Zuraiza (K5418041 / B)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
2020
A. Pengertian Bidang Pribadi
Merupakan Suatu proses pemberian bantuan dari guru bimbingan dan konseling/konselor kepada peserta didik/konseli untuk memahami, menerima, mengarahkan, mengambil keputusan, dan merealisasikan keputusannya secara
bertanggung jawab tentang perkembangan aspek pribadinya, sehingga dapat mencapai perkembangan pribadinya secara optimal dan mencapai kebahagiaan, kesejahteraan dan keselamatan dalam kehidupannya. Bidang bimbingan pribadi yaitu bidang
pelayanan yang membantu peserta didik dalam memahami, menilai, mengembangkan potensi dan kecakapan, bakat dan minat, serta kondisi sesuai dengan karakteristik kepribadian dan kebutuhan dirinya secara realistik.
B. Ruang Lingkup Bidang Pribadi
Adapun ruang lingkup dalam bidang pribadi meliputi pemahaman diri, pengembangan kelebihan diri, pengentasan kelemahan diri, keselarasan
perkembangan cipta-rasa-karsa, kematangan/kedewasaan cipta-rasa-karsa, dan aktualiasi diri secara bertanggung jawab.
C. Identifikasi Masalah Bidang Pribadi
1. Peserta didik sulit mengontrol emosi pada diri sendiri. Sehingga terkadang mereka akan melampiaskan pada sesorang yang ada didekatnya.
2. Jika peserta didik terkena masalah mengenai keluarganya, mereka cenderung melampiaskan kekesalannya dengan cara yang mereka sukai. Misalnya dalam hal negatif yaitu suka nongkrong dengan teman-teman yang jauh diatas umurnya, ikut minum-minuman haram, merokok, dan sebagainya.
3. Peserta didik sulit mengambil kepusutusan. Misalnya dalam hal menjcari Perguruan Tinggi, peserta didik cenderung bingung karena apa yang mereka inginkan bisa jadi bertolak belakang dengan pilohan orang tuanya.
4. Perbedaan agama dengan anak. Misalnya orangtua peserta didik memiliki agama non muslin, tetapi karena anak tersbeut ingin menjadi mualaf dan berpindah agama ke Islam, sehingga menimbulkan perdebatan antara orangtua mereka dan anak.
5. Rasa iri terhadap teman. Terkadang peserta didik mempunyai rasa iri terhadap temannya, misalnya temannya mempunyai smartphone baru tetapi smartphone yang ia punya hanyalah biasa saja. Sehingga anak tersebut memaksa orangtuanya
untuk membelikan smartphone baru padahal perekonomiannya hanya cukup untuk makan. Disinilah peran gu Bimbingdan dan Konseling, banyak anak bermasalahan tetapi hanya dipendam sendiri, disini guru Bimbingan dan Konseling harus peka terhadap peserta didik yang mempunyai masalah sepserti yang dijelaskan diatas.
Karena jika tidak dapat ditangani atau dibimbing dengan baik, akan berpengaruh terhadap proses kegiatan belajar maupun hasil belajar. Maka dari itu peran bimbingan dan konseling sangant penting, bukan hanya saat jam istirahat saja, tetapi setiap saat, saat peserta didik membutuhkannya. Sehingga peserta didik yang mempunyai maslah dapat dibimbing dengan baik.
6. Adanya rasa malas untuk melaksanakan ibadah. Selain itu, siswa kurang memiliki kemampuan untuk bersyukur dan kurang motivasi untuk mempelajari agama.
Rasa malas tersebut berkaitan dengan perkembangan pola pikir anak yang mulai mempertanyakan segala yang ada dikehidupannya.
7. Mengalami stress, depresi, dan putus asa. Pada masa ini, merupakan masa transisi menuju dewasa. Ada perubahan dalam diri mereka yang memerlukan penyesuaian agar terjadi keselarasan jasmani dan rohani. Namun, juga terdapat penolakan terhadap beberapa hal yang tidak sesuai dengan mereka. Penolakan tersebut belum disikapi dan diselesaikan sesuai dengan tingkat kedewasaan mereka masing- masing.
8. Dalam melakukan perbuatan tanpa mempertimbangkan resikonya. Dapat dikatakan bahwa hal tersebut merupakan ciri khas dari masa-masa pubertas. Di mana mereka bertindak dengan tingkat ego yang tinggi, dan sukar menerima saran atau pendapat dari orang lain, termasuk orang tua. Tindakan yang dilakukan tidak didasarkan dengan pemikiran yang matang terhadap dampak resiko yang
ditimbulkan yang dapat merugikan diri sendiri ataupun orang lain.
9. Belum memiliki rasa disiplin dalam diri mereka. Rasa disiplin tersebut berkaitan dengan tumbuhnya rasa tanggungjawab dalam diri mereka atas apa yang mereka perbuat.
10. Belum dapat menghormati orang tua. Selain itu, mereka juga sering membantah dan membangkah orang yang lebih tua sebab tidak sesuai dengan apa yang mereka percayai.
11. Mempunyai keinginan yang kurang sesuai dengan kemampuan. Masa transisi pada mereka menyebabkan daya khayal dari masa anak-anak masih terbawa.
Namun, di masa ini siswa sadar bahwa tidak semua apa yang mereka inginkan dapat terpenuhi.
12. Mulai tertarik dengan lawan jenis. Pubertas membawa dampak pada
perkembangan anak. Munculnya ketertarikan terhadap lawan jenis tersebut juga berpotensi membawa masalah pribadi bagi siswa. Seperti merasakan bahagia, sedih, marah, disaat yang bersamaan.
13. Memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Hal ini menjadi masalah apabila rasa ingin tahu tersebut tidak dijawab dengan baik. Seperti, rasa ingin tahu terhadap sex, maka perlu wadah yang tepat agar tidak terjadi salah persepsi oleh anak.