PROPOSAL KARYA TULIS ILMIAH
IMPLEMENTASI PERAWATAN LUKA PADA PASIEN DIABETES MELITUS DENGAN MASALAH KEPERAWATAN INTEGRITAS KULIT
OLEH
FATMA HAYU ANISA P NIM 221078
OLEH
FATMA HAYU ANISA P NIM 221078
PROGRAM STUDI DII KEPERAWATAN ITSK RS dr. SOEPRAOEN MALANG
TAHUN AKADEMIK 2024/2025
PROPOSAL KARYA TULIS ILMIAH
IMPLEMENTASI PERAWATAN LUKA PADA PASIEN DIABETES MELITUS DENGAN MASALAH KEPERAWATAN INTEGRITAS KULIT
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Mendapatkan Gelar Ahli Madya Keperawatan (Amd.Kep)
Pada Program Studi Keperawatan ITSK RS dr. Soepraoen Malang
OLEH
FATMA HAYU ANISA P NIM 221078
OLEH
FATMA HAYU ANISA P NIM 221078
PROGRAM STUDI DII KEPERAWATAN ITSK dr.SOEPRAOEN MALANG
TAHUN AKADEMIK 2024/2024
LEMBAR PERNYATAAN Yang betanda tangan di bawah ini:
Nama : Fatma hayu anisa p Tempat/Tanggal lahir : Madiun, 20 juli 2002 NIM : 221078
Alamat : Komplek Pagas Blok A-90
Menyatakan dan bersumpah bahwa Proposal Karya Tulis Ilmiah ini adalah hasil karya sendiri dan belum pernah dikumpulkan oleh orang lain untuk memperoleh gelar dari berbagai jenjang pendidikan di perguruan tinggi manapun.
Jika dikemudian hari ternyata saya terbukti melakukan pelanggaran atas pernyataan dan sumpah tersebut, maka saya bersedia menerima sanksi akademik dari almamater.
Malang, Oktober 2024 Yang menyatakan
FATMA HAYU ANISA P 221078
CURRICULUM VITAE
Nama: Fatma hayu anisa p
Tempat/Tanggal Lahir: Madiun, 20 juli 2002 Alamat: Komplek pagas Blok A-90
Nama Orang Tua Ayah: Achmad suyudi Ibu: Dyah ayu w.s
Riwayat Pendidikan
SD : SDN Tamanharjo 03 SMP: SMPN 08 Madiun SMA: SMA 01 Singosari
Perguruan Tinggi: ITSK RS. dr. Soepraoen Malang
LEMBAR PERSETUJUAN
Proposal Karya Tulis Ilmiah dengan judul “ IMPLEMENTASI PERAWATAN LUKA PADA PASIEN DIABETES MELITUS DENGAN MASALAH KEPERAWATAN INTEGRITAS KULIT ”Telah Disetujui untuk Diujikan di Depan Tim Penguji
Tanggal Persetujuan tgl bln thn Oleh :
Pembimbing 1, Pembimbing 2,
( RatnaRoesardhyati,S.Kep.,Ners M.Kep) ( Mochtar Jamil, M.Kep)
LEMBAR PERSETUJUAN
Proposal Karya Tulis Ilmiah ini telah Disetujui untuk Diujikan Di Depan Tim Penguji
Tanggal, 2024
Oleh:
Penguji I Penguji II Penguji III M.Tien Aminah M.Kep Aloysia I, S.Kep.,Ners Mochtar Jamil, M.Kep PhD M.Kep
LEMBAR PENGESAHAN
Karya Tulis Ilmiah dengan Judul “Implementasi Perawatan luka pada pasien diabetes melitus dengan masalah keperawatan integritas kulit” telah diujikan di depan Tim penguji
Pada tanggal, 2024
TIM PENGUJI
Nama Tanda Tangan
Ketua : M.Tien Aminah M.Kep ………
Anggota : 1. Aloysia I, S.Kep.,Ners M.Kep PhD ………
2. Mochtar Jamil,M.Kep ………
Mengetahui, Ketua Program Studi
Heny Nurmayunita,S.kep., Ners.,MMRS
KATA PENGANTAR
Puji Syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, Karena berkat Rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Proposal Karya Tulis Ilmiah yang berjudul “Implementasi Perawatan luka pada pasien diabetes melitus dengan masalah keperawatan integritas kulit” Sesuai waktu yang ditentukan
Karya Tulis Ilmiah ini penulis susun sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar Ahli Madya Keperawatan di Program Studi D3 Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Institut Teknologi Sains dan Kesehatan RS. dr. Soepraoen Malang. Dalam penyusunan ini penulis mendapatkan banyak pengarahan dan bantuan dari beberapa pihak, untuk itu dalam kesempatan ini penulis tidak lupa mengucapkan terimakasih kepada yang terhormat
1. Prod. (hon.) Arief Efendi, S.Kes.,SH (Adv), S. Kep., Ners., M.M., M. Kes., Selaku Rektor ITSK RS dr. Soepraoen.
2. Ibu Hanim Mufarokhah, M. Kep, selaku Dosen pembimbing I dalam pembuatan Proposal Karya Tulis Ilmiah yang telah memberikan bimbingan dan saran sehingga terwujudnya Proposal Karya Tulis Ilmiah ini.
3. Bapak Dr.Ardiles Wahyu,M.Kep selaku selaku Dekan Fakultas Kesehatan ITSK Rs dr. Soepraoen Malang sekaligus Dosen pembing II dalam pembuatan Proposal Karya Tulis Ilmiah yang telah memberikan bimbingan dan saran sehingga terwujudnya Proposal Karya Tulis Ilmiah ini.
4. Ibu Heny Nurmayunita,S.kep., Ners.,MMRS, selaku Ka Prodi D3 Keperawatan ITSK Rs dr. Soepraoen Malang
5. Rekan-rekan mahasiswa Prodi Keperawatan seluruh pihak yang telah
membantu kelancaran pembuatan Proposal Karya Tulis Ilmiah ini yang dapat peneliti sebutkan satu persatu.
Penulis berusaha untuk membuat Proposal Karya Tulis Ilmiah ini dengan sebaik- baiknya. Namun demikian, penulis menyadari bahwa masih banyak kekuarangan.
Oleh karena itu demi kesempurnaan, penulis mengharap asanya kritik dan saran dari semua pihak, untuk menyempurnakan.
Malang, 2024 penulis
DAFTAR ISI
PROPOSAL KARYA TULIS ILMIAH...1
PROPOSAL KARYA TULIS ILMIAH...2
BAB 1... 12
PENDAHULUAN...12
1.1 Latar Belakang Masalah... 12
1.2 BATASAN MASALAH... 14
1.3 RUMUSAN MASALAH...14
1.4 1.4 TUJUAN...15
1.4.1 Tujuan umum... 15
1.4.2 Tujuan khusus... 15
1.5 Manfaat...15
1.5.1 Teoritis... 15
1.5.2 Praktis... 16
BAB 2... 17
TINJAUAN PUSTAKA...17
2.1 Konsep Diabetes mellitus...17
2.1.1 Pengertian...17
2.1.2 Anatomi fisiologi... 17
2.1.2.1 Pangkreas...17
2.1.2.2 Anatomi fisiologi kulit...20
2.1.3 Klasifikasi diabetes mellitus (DM)...21
2.1.4 Etiologi... 23
2.1.5 Tanda dan Gejala...23
2.1.6 Patofisiologi...24
2.1.7 Pemeriksaan penunjang...25
2.1.8 Pelaksanaan Medis... 27
2.1.9 Komplikasi...29
2.1.10 Kerangka masalah... 33
2.2 Perawatan luka untuk mengatasi masalah diabetes melitus...33
2.2.1 Pengertian perawatan luka...33
2.2.2 Tujuan perawatan luka...34
2.2.3 Manfaat perawatan luka...34
2.2.4 Konsep Tindakan keperawatan perawatan luka...34
2.2.5 Kerangka Konsep... 35
2.3 Konsep Asuhan Keperawatan... 37
2.3.1 Pengkajian...37
2.3.2 Diagnosa keperawatan... 40
2.3.3 Analisa data... 41
2.3.4 Rencana keperawatan... 42
2.3.5 Pelaksanakan... 46
2.3.6 Implementasi...48
2.3.7 Evaluasi... 48
BAB 3... 49
METODE PENELITIAN... 49
3.1 Desain...49
3.2 Batasan istilah... 49
3.3 Lokasi dan waktu...50
3.4 Pengumpulan data...50
3.5 Instrumen... 51
3.6 uji keabsahan data...52
3.7 Analisa data...53
3.8 Etika penelitian... 53
DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1 Anatomi ...20
Gambar 2.2 Kerangka Masalah ...
35
Gambar 2.3 Kerangka Konsep ...
38
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Intervensi Keperawatan...
43
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Inform consent…….....
59
Lampiran 2 Lembar
permohonan ...60 Lampiran 3 Lembar SOP perawatan
luka...61 Lampiran 4 Lembar
Observasi ...62
Lampiran 5 Askep………. 63
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Diabetes mellitus (DM) merupakan gangguan metabolisme yang bersifat genetik dan klinis termasuk beragam dengan gejala hilangnya toleransi karbohidrat.
Secara klinis, diabetes mellitus ditandai oleh peningkatan kadar glukosa puasa dan setelah makan, serta risiko aterosklerosis dan mikroangiopati vaskular. Menurut definisi American Diabetes Association (ADA) tahun 2018, diabetes adalah gangguan metabolisme yang ditandai oleh hiperglikemia karena ketidaknormalan pada insulin, kerja insulin, atau keduanya (Tanto, 2019).
Menurut International Diabetes Federation (IDF), prevalensi Diabetes Melitus di
dunia mencapai 8,4% pada tahun 2018, meningkat menjadi 382 juta kasus pada tahun 2018. IDF memperkirakan jumlah insiden DM pada tahun 2035 akan meningkat menjadi 55% (592 juta) di antara usia 40-59 tahun penderita DM (IDF, 2018). Indonesia menempati urutan ke-7 dalam kasus diabetes mellitus tertinggi dengan jumlah 8,5 juta penderita, setelah Cina (98,4 juta), India (65,1 juta), Amerika (24,4 juta), Brazil (11,9 juta), Rusia (10,9 juta), dan Mexico (8,7 juta). Jerman (7,6 juta), Mesir (7,5 juta), dan Jepang (7,2 juta) juga termasuk dalam negara dengan jumlah penderita diabetes melitus yang signifikan.
Di Provinsi Jawa Timur, prevalensi diabetes mencapai 2,1% menurut data Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur di Kota Malang tahun 2023,pada tahun 2023 terdapat 17.950 orang penderita diabetes melitus. (Tanto, 2019)
Diabetes melitus jika tidak segera ditangani maka akan menyebabkan beberapa komplikasi pada jaringan tubuh. Komplikasi dari diabetes melitus meliputi komplikasi akut dan komplikasi kronik. Komplikasi akut meliputi koma hiperglikemia dan koma hipoglikemia. Sedangkan komplikasi kronik meliputi komplikasi mikrovaskuler dan komplikasi mikrovaskuler. Komplikasi mikrovaskuler (pembuluh darah kecil) dapat menyebabkan gangguan pada penglihatan sedangkan komplikasi makrovaskuler (pembuluh darah besar) dapat menyebabkan penyakit jantung (utaminngsih,2018).
Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti melalui perawat puskesmas Pakisaji didapatkan data pasien diabetes melitus ……
Diabetes melitus dengan komplikasi merupakan salah satu penyakit yang menyebabkan kerusakan integritas kulit yang disebabkan oleh adanya neuropati, penyakit vaskuler perifer, dan penurunan daya imunitas yang merupakan 3 komplikasi diabetes yang turut meningkatkan risiko terjadinya luka diabetes. Pada penderita diabetes melitus dapat menimbulkan kerusakan integritas kulit. Kerusakan integritas kulit merupakan suatu kondisi seseorang yang mengalami perubahan atau gangguan dermis atau epidermis (nurarif & kusuma,2018 ) ganggren pada penyakit diabetes melitus disebabkan oleh mikroangiopati,makrongiopati dan neuropati.
Mikroangiopati dan makrongiopati dapat menyebabkan berkurangnya suplai darah ke kaki. Apabila sirkulasi darah ke kaki berkurang,maka sel tidak mendapat pasokan nutrisi yang cukup,sehingga kaki pada penderita diabetes melitus mudah mengalami kerusakan membran jaringan kulit. gangguan integritas kulit merupakan
resiko perubahan kulit yang disebabkan oleh faktor internal sirkulasi (suarnianti,2018)
Upaya yang dapat dilakukan yaitu memberikan asuhan keperawatan dengan melakukan pengkajian mengenai faktor risiko dan kondisi luka, memberikan perawatan luka untuk mempertahankan integritas kulit, mempertahankan nutrisi yang adekuat
Berdasarkan latar belakang di atas, penelitian ini bertujuan untuk membahas lebih lanjut tentang implementasi perawatan luka pada pasien diabetes melitus, termasuk pengkajian,diagnosis,rencana tindakan, dan evaluasi keperawatan. Penelitian ini diharapakan dapt memberikan kontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi keperawatan, serta meningkatkan kualitas asuhan keperawatan pada pasien diabetes melitus
1.2 BATASAN MASALAH
Mengingat adanya keterbatasan sarana, prasarana dan waktu sehingga pada penelitian ini penulis melakaukan batasan terhadap penelitian ini hanya mengambil pembahasan hubungan pengetahuan tentang Diabetes Melitus dengan kadar gula darah puasa pada komunitas Diabetes melitus.
1.3 RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang diatas setiap tahun nya bertambah jumlah penderita diabetes melitus. karya tulis ilmiah ini dapat disusun sehingga penulis ingin memahami gambaran dan penerapan implementasi pada pasien diabetes melitus.
1.4 1.4 TUJUAN
1.4.1 Tujuan umum
Tujuan umum dari karya tulis ilmiah ini yaitu mampu melaksanakan Asuhan keperawatan secara langsung dan komprehensif dengan diabetes melitus.
1.4.2 Tujuan khusus
1. Mampu melakukan pengkajian keperawatan pada penderita diabetes melitus
2. Dapat melakukan diagnosa keperawatan pada penderita diabetes melitus
3. Dapat mengambil keputusan dalam intervensi keperawatan pada pasien diabetes melitus
4. Mampu melaksanakan implementasi keperawatan pada pasien dengan diabetes melitus
5. Mampu melaksanakan evaluasi pada pasien dengan diabetes melitus
1.5 Manfaat
1.5.1 Teoritis
a) Menambah wawasan ilmu pengetahuan penyakit dalam di masyarakat mengenai penyakit Diabetes melitus.
b) Pengembangan ilmu pengetahuan antara lain tentang hubungan penyakit Diabetes melitus dan pencegahan.
1.5.2 Praktis
a) Bagi mahasiswa keperawatan
Sebagai bahan pustaka dan pengalaman langsung dalam pembuatan karya tulis ilmiah khususnya dalam melakukan asuhan keperawatan pada pasien diabetes melitus.
b) Bagi pasien
Manfaat penulisan ilmiah bagi pasien yaitu supaya pasien dapat mengetahui gambaran umum tentang diabetes melitus beserta perawatan yang benar bagi klien agar penderita mendapat perawatan yang tepat.
c) Bagi institusi pendindikan
Hasil karya tulis ilmiah ini dapat menjadi tambahan kepustakaan dan dapat dijadikan materi dalam pengajaran. selain itu hasil karya tulis ilmiah ini juga dapat digunakan sebagai acuan untuk mengembangkan peneletian selanjutnya.
d) Bagi rumah sakit
Sebagai data aktual mengenai jumlah penderita yang mengalami diabetes melitus dan agar dapat digunakan sebagai masukan dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien diabetes melitus
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Diabetes mellitus
2.1.1 Pengertian
DM (diabetes mellitus) merupakan suatu penyakit dimana kadar glukosa (gula sederhana) dalam darah meningkat. Diabetes mellitus (DM) merupakan sekelompok penyakit metabolik yang ditandai dengan hiperglikemia kronis akibat kelainan sekresi insulin, kelainan kerja insulin,atau kombinasi keduanya.
(Hermawan,2018).
Berdasarkan pengetahuan para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa diabetes suatu kondisi kelebihan glukosa dalam tubuh yang disertai kelainan metabolisme akibat gangguan hormonal dan dapat menimbulkan berbagai komplikasi kronis.
2.1.2 Anatomi fisiologi 2.1.2.1 Pangkreas
Pangkreas terletak di kuadran kiri atas rongga perut dan menghubungkan selempang duodenum dan limpa pangkreas yaitu organ yang terdiri dari jaringan eksorin dan endokrin bagian eksorin mengeluarkan larutan berair basa dan ezim pencernaan ke dalam lumen saluran pencernaan melalui saluran pangkreas tersebar diantara sel-sel eksorin di seluruh pangkreas yaitu kelompok atau
‘’pulau’’ sel endokrin yang dikenal sebagai pulau langerhans alternattifnya , sel pangkreas yang memproduksi hormon ini disebut pulau langerhans ( Maria insana,2021 )
Gambar 2.1 Anatomi fisiologi pankreas
Hormon yang diproduksi oleh beberapa sel endokrin pangkreas yang berbeda, bersama dengan hormon yang diproduksi oleh usus kecil,bertanggung jawab terhadap homeostasis glukosa dalam tubuh.
1. Hormon
pankreas endokrin menghasilkan hormon yang diperlukan untuk metabolisme dan pemanfaatan karbohidrat, protein, dan lemak oleh sel, sel- sel yang menghasilkan hormon ini berkumpul dalam kelompok sel yang disebut islet langerhans, islet ini terdiri atas tiga tipe sel yang berbeda
a. Sel alfa menghasilkan hormon disebut glukagon Fungsi utama glukagon yaitu mengurangi oksidasi glukosa dan meningkatkan kadar gula darah turun di bawah level tertentu selama puasa atau di antara waktu makan melalui glikogenalis ( pemecahan glikogen di hati) dan glukoneogenesis (produksi glukosa dari lemak dan protein) pada kebanyakan orang, eksresi glukagon dipicu ketika gula darah turun di bawah 70 mg/dL
b. sel beta mengeluarkan hormon insulin, yang menfasilitasi pengangkutan glukosa melintasi membran sel dan masuk ke dalam sel, sehingga menurunkan kadar gula darah.insulin mencegah
pemecahan glikogen berlebihan di hati dan otot serta mendorong pembentukan lipid, sekaligus menghambat pemecahan akumulasi lemak dan membantu mengangkut asam amino ke dalam sel untuk sintesis protein setelah disekresi oleh sel beta, insulin memasuki sirkulasi portal, berjalan langsung ke hati, dan kemudian dilepaskan ke sirkulasi portal, berjalan langsung ke hati dan kemudian dilepaskan ke sirkulasi sistemik
c. Sel delta menghasilkan somatostasin, yang menghambat produksi glukagon dan insulin di pulau langerhans dan insulin di pulau langerhans ini juga memperlambat motilitas pencernaan dan membutuhkan lebih banyak waktu untuk menyerap makanan.
2. Insulin
Insulin ini meningkatkan transpor glukosa dari darah ke sel dengan meningkatkan permeabilitas membran sel terhadap glukosa (meskipun sel sel di otak,hati,dan ginjal tidak bergantung pada insulin untuk penyerapan glukosa) di dalam sel glukosa, glukosa digunakan untuk menghasilkan energi selama respirasi sel hati dan otot rangka juga mengubah glukosa menjadi glikogen ( glikogenesis atau pembentukan glikogen), yang disimpan untuk digunakan nanti insulin juga memungkinkan sel menyerap asam lemak dan asam amino untuk digunakan dalam sintesis lemak dan protein (tetapi tidak untuk produksi energi) berkenan dengan kadar glukosa darah insulin menurunkan kadar glukosa dengan meningkatkan penggunaan glukosa untuk produksi energi.
2.1.2.2 Anatomi fisiologi kulit
Kulit merupakan pembungkus yang elastis yang terletak paling luar yang melindungi tubuh dari pengaruh lingkungan hidup manusia dan merupakan alat tubuh yang terberat dan terluas ukurannya, yaitu kira- kira15% dari berat tubuh dan luaskulit orang dewasa1,5m2. Kulitsangat kompleks,elastis dan sensitif, serta sangat bervariasipada keadaan iklim, umur, seks, ras, dan juga bergantung pada lokasi tubuhserta memiliki variasi mengenai lembut, tipis, dan tebalnya. Rata-rata tebal kulit 1-2m.
Paling tebal (6 mm) terdapat di telapak tangan dan kaki dan paling tipis (0,5 mm) terdapat di penis.Kulit merupakan organ yang vital dan esensial serta
merupakan cermin kesehatan dan kehidupan (Djuanda, 2007) 1. Epidermis
Epidermis sering kita sebut sebagai kuit luar. Epidermis merupakan lapisan teratas pada kulit manusia dan memiliki tebal yang berbeda-beda : 400-600 μm untuk kulit tebal (kulit pada telapak tangan dan kaki) dan 75- 150 μm untuk kulit tipis (kulit selain telapak tangan dan kaki, memiliki rambut). Selain sel-sel epitel, epidermis juga tersusun atas lapisan
2.Dermis atau cutan (cutaneus),
lapisan kulit di bawah epidermis. Penyusun utama dari dermis adalah kolagen. Membentuk bagian terbesar kulit dengan memberikan kekuatan dan struktur pada kulit, memiliki ketebalan yang bervariasi bergantung pada daerah tubuh dan mencapai maksimum 4 mm di daerah punggung 3. Subkutan
Jaringan Subkutan atau hipodermis merupakan lapisan kulit yang paling dalam. Lapisan ini terutama berupa jaringan adiposa yang memberikan
bantalan antara lapisan kulit dan struktur internal seperti otot dan tulang.
Banyak mengandung pembuluh darah, pembuluh limfe dan syaraf juga terdapat gulungan kelenjar keringat dan dasar dari folikel rambut.
Jaringan ini memungkinkan mobilitas kulit, perubahan kontur tubuh dan penyekatan panas tubuh (Holbrook,1991). Lemak atau gajih akan bertumpuk dan tersebar menurut jenis kelamin seseorang, dan secara parsial menyebabkan perbedaan bentuk tubuh laki-laki dengan perempuan. Makan yang berlebihan akan meningkatkan penimbunan lemak di bawah kulit. Jaringan subkutan dan jumlah lemak yang tertimbun merupakan faktor penting dalam pengaturan suhu tubuh.
Tidak seperti epidermis dan dermis, batas dermis dengan lapisan ini tidak jelas. Tidak seperti epidermis dan dermis, batas dermis dengan lapisan ini tidak jelas.
Gambar 2.1 Anatomi fisiologi kulit 2.1.3 Klasifikasi diabetes mellitus (DM)
American Diabetes Association (ADA) memperkenalkan system klasifikasi
berdasarkan etiologi dan kriteria diagnostik diabetes yang diperbarui pada tahun 2018 System klasifikasi ini menejelaskan jenis-jenis penyakit diabetes, antara lain
1) Diabetes melitus, diabetes melitus atau dahulu dikenal dengan istilah insulin- dependent diabetes mellitus (IDDM), terjadi karena adanya kerusakan sel pankreas (reaksi autoimun). Ketika kerusakan sel beta.
2) Mencapai 80-90% gejala MD mulai muncul. Penghancuran sel ini ini terjadi lebih cepat pada anak-anak dibandingkan pada orang dewasa. Kebanyakan penderita diabetes melitus memiliki antibodi yang mengindikasikan proses autoimun,dan sebagian kecil tidak memiliki proses autoimun.kondisi ini tergolong idiopatik sebagian besar (75%) kasus terjadi sebelum usia 30 tahun, namun usia bukanlah kriteria klasifikasi.
3) Diabetes melitus 90% kasus diabetes, yang sebelumnya dikenal sebagai diabetes mellitus non-insulin- dependent (NIDDM). Pada diabetes, kerja insulin di jaringan perifer berkurang ( resistensi insulin) dan terjadi disfungsi sel akibatnya pankreas tidak dapat memproduksi cukup insulin untuk mengkopensasi resistensi insulin. Kedua factor ini menyebabkan defisiensi insulin relatif. Gejala minimal dan obesitas umumnya dikaitkan dengan penyakit ini, yang biasanya terjadi pada orang dewasa lanjut usia – 40 tahun.
Kadar insulin bisa normal,rendah atau tinggi sehingga pasien tidak bergantung pada pengguna insulin.
4) Diabetes pada masa kehamilan, diabetes mellitus gestasional (GDM) merupakan kehamilan normal yang disertai dengan peningkatan resistensi insulin (ibu hamil tidak dapat menjaga kadar gula darah). Faktor risiko diabetes gestasional: riwayat keluarga diabetes, obesitas, dan glikosuria.
Diabetes gestasional meningkatkan kejadian morbiditas neonatal, seperti hipoglikemia, penyakit kuning, polisitemia, dan makrosomia. Hal ini terjadi karena bayi dari ibu GDM mengeluarkan lebih banyak insulin, yang pada
akhirnya merangsang pertumbuhan bayi dan makrosomia. Angka kejadian diabetes gestasional adalah sekitar 3-5% dan ibu-ibu ini berisiko lebih tinggi terkena diabetes di kemudian hari.
5) Diabetes tipe lain, subtipe diabetes dimana individu mengalami hiperglikemia akibat kelainan tertentu (kelainan genetik pada fungsi sel jaringan), penyakit endokrin (polaritas penyakit Cushing, akromegali), penggunaan obat-obatan yang mengganggu kerja insulin (jaringan-adrenergik), dan infeksi atau sindrom genetik.
2.1.4 Etiologi
Penyebab diabetes menurut pandiastuti (2018) antara lain :
1) faktor genetik. Keturunan merupakan faktor yang tidak dapat diubah,namun faktor lingkungan dalam gaya hidup seperti kurang berolahraga,makan berlebihan, dan obesitas merupakan faktor yang dapat diatasi.
2) Nutrisi. Nutrisi merupakan faktor penting yang menyebabkan terjadinya diabetes melitus. Gaya hidup yang berat, nyaman serta angka harapan hidup yang panjang menjadi faktor yang meningkatkan angka kejadian diabetes.
3) Kadar kortikosteroid tinggi.
4) Kehamilan diabetes gestasional akan hilang dan melahirkan.
5) Narkoba dapat merusak sistem kreatif
6) Diabetes terjadi jika tubuh tidak memproduksi cukup insulin untuk mempertahan kadar gula darah normal atau jika sel tidak merespon insulin dengan baik
2.1.5 Tanda dan Gejala
penyakit diabetes menurut pundiastuti (2018),antara lain : 1) Sering buang air kecil terutama pada pagi hari malam.
2) Penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan 3) Sensasi kesemutan pada kaki atau tungkai.
4) Lukanya sulit disembuhkan.
5) Penghlihatan kabur
6) Cepat merasa haus dan lapar.
7) Cepat merasa lelah dan mengantuk 8) Gatal-gatal
2.1.6 Patofisiologi
Diabetes memiliki banyak penyebab dan pada akhirnya menyebabkan kekurangan insulin pada diabetes terjadi kekurangan insulin dan simpanan glikogen meningkat hal memicu proses pemecahangula baru( glukoneogenesis) dan meningkatkan metabolisme lemak selanjutnya terjadi proses ketogenesis peningkatan badan keton plasma menyebabkan (keton dalam urine),yang menurunkan kadar natrium dan pH serum dan menyebabkan asidosis defisiensi insulin menyebabkan sel menggunakan lebih sedikit glukosa,sehingga mengakibatkan kadar glukosa plasma lebih tinggi (hiperglikemia) gula darah terjadi ketika hiperglikemia parah dan melebihi ambang batas ginjal gula darah ini menyebabkan diuresis osmotik yang menyebabkan peningkatan keluaran urin (poliuria), mulut kering (polidipsia) dan dehidrasi glukosa hilang melalui urin dan resistensi insulin mengakibatkan kurangnya glukosa untuk diubah menjadi energi,sehingga
menyebabkan peningkatan rasa lapar (polifagia) untuk mengimbangi kebutuhan energi. Jika kebutuhan energi ini tidak terpenuhi, maka penderitanya akan cepat lelah dan mengantuk. Hiperglikemia mempengaruhi pembuluh darah kecil dan arteri kecil, mengurangi pasokan nutrisi dan oksigen ke perifer, mempengaruhi saraf tepi, sistem saraf otonom dan sistem saraf pusat,mengakibatkan cedera neuropatik yang tidak cepat sembuh menyebakan kerusakan saraf bahkan nekrosis akibat nutrisi dan suplai oksigen yang tidak memadai dapat memicu infeksi penyakit pembuluh darah mengurangi alirah darah ke retina,mengurangi pasokan nutrisi dan oksigen ke retina,sehingga menyebabkan penglihatan kabur salah satu dampak utama dari perubahan mikrovaskuler yaitu perubahan struktur dan fungsi ginjal sehingga menyebakan netropati.(Hanum,2018)
2.1.7 Pemeriksaan penunjang
Menurut Hasriani (2018), Penegakan diagnosis DM yaitu dengan pemeriksaan glukosa darah dan pemeriksaan glukosa peroral (TTGO) pemeriksaan C- peptide berikut pemeriksaan penunjang untuk diabetes.
1. Pemeriksaan glukosa darah
1) Glukosa plasma vena sewaktu
Pemeriksaan gula darah vena sewaktu pada pasien DM dilakukan pada pasien DM dengan gejala klasik seperti poliuria,polidipsia dan polifagia.
Kadar gula darah didefinisikan sebagai suatu titik waktu,terlepas dari kapan terakhir kali anda makan anda dapat memastikan diagnosis DM kapan saja dengan memeriksa kadar gula darah anda jika kadar glukosa
darah saat ini 200 mg/dL (plasma vena),pasien menderita DM tidak perlu melakukan tes toleransi glukosa pada pasien ini
2) Kadar glukosa plasma vena puasa
Untuk pemeriksaan glukosa plasma vena puasa,pasien berpuasa 8-12 jam sebelum semua obat yang digunakan semua obat yang perlu diberikan harus diserahkan secara tertulis interprestasi tes glukosa darah puasa sebagai berikut: glukosa darah puasa > 110 mg/dl dianggap normal universitas teknologi kemenkes bengkulu 126 mg/dL disebut diabetes, 110-126 mg/dl disebut glukosa darah puasa terganggu (GDPT) 3) Glukosa 2 jam post prandial (GD2PP)
Pengujian dilakukan bila dicurigai DM sebelum berpuasa, pasien mengonsumsi makanan yang mengandung 100g karbohidrat dan berhenti merokok serta berolahraga kadar gula darah 200 mg/dl 2 jam setelah makan menandakan Dm, namun nilai normalnya 140 gangguan toleransi glukosa (IGT) ketika kadar gula darah 140 mg/dl atau lebih tinggi, atau 140 mg/dl tetapi <200 mg/dl
4) Glukosa jam ke-2 pada tes toleransi glukosa oral ( TTGO)
Tes toleransi glukosa oral (TTGO) dilakukan untuk menentukan apakah anda menderita diabetes ketika kadar gula darah anda antara 140 dan 200 mg/DL prosedur tes TTGO melibatkan melarutkan 75 gram glukosa untuk orang dewasa dan 1,25 mg glukosa untuk anak-anak dala 250 hingga 300 ml air dan menggunakanya dalam waktu 5 menit TTGO dilakukan ketika pasien telah berpuasa minimal 8 jam jika kadar glukosa darah 140 mg/dl atau lebih tinggi disebut gangguan toleransi apabila
kadar glukosa <140mg/dl tetapi <200mg/dl dan toleransi glukosa 2 200 mg/dl disebut diabetes melitus.
2. Pemeriksaan HbAlc
HbAlc merupakan reaksi antara glukosa dengan hemoglobin,yang tersimpan dan bertahan dalam sel darah merah selama 120 hari sesuai dengan umur eritrosit, kadar HbAlc bergantung dengan kadar glukosa dalam darah,sehingga HbAlc menggambarkan rata rata kadar gula darah selama 3 bulan.
2.1.8 Pelaksanaan Medis
Menurut decroli eva (2019),ada beberapa terapi farmakologis yang dapat diberikan pada pasien DM tipe II diantaranya :
1. Obat hipoglikemik oral (OHO)
Pengobatan DM diawali dengan periode diet dan olahraga jika kadar glukosa darah tidak mencapai nilai target, dilakukan intervensi farmakologis dengan obat antidiabetes oral atau suntikan insulin saat memilih obat untuk pasien DM, pertimbangan yang cermat harus diberikan apakah obat tersebut memenuhi kebutuhan pasien pertimbangan ini mencakup durasi diabetes, keberadaan dan jenis penyakit penyerta,riwayat pengobatan,riwayat hipoglikemia dan kadar HbA.
1) Golongan sulfonilurea
Sulfonilurea telah digunakan untuk mengobati T2DM sejak tahun 1950 an obat ini digunakan sebagai terapi obat pada awal pengobatan diabetes,terutama pada saat kadar gula darah tinggi obat yang
tersedia antaragenerasi pertama
(acetoheximidechlorpropramide,tolbutamide,Tolazamide),glipizide,glic azide,glibenclamidegliquidone,Glicopyramide sulfonylurea, sulfoniluera generasi pertama sangat bagus jarang digunakan karena memiliki efek hipoglikemik yang terlalu kuat.
1) Meglitinid
Meglitinid mempunyai mekanisme kerja yang sama dengan sulfonilurea glinide mempunyai waktu kerja yang singkat,sehingga digunakan sebagai obat postprandial (saat makan) karena strukturnya yang bebas sulfur, produk ini juga dapat digunakan oleh orang yang alergi sulfur.
2) Penghambat alfa glukosidase
Acarbose diserap dengan buruk dan memiliki efek lokal pada saluran pencernaan acarbose dimetabolisme di saluran pencernaan melalui mikrobiota,hidrolisis usus,dan aktivitas ezim pencernaan penghambatan kerja enzim ini secara efektif dapat mengurangi kenaikan kadar glukosa darah postprandial pada pasien DM.
3) Biguanid
Ada tiga biguanid yang diketahui : fenformin,buformin,dan metformin phenformin sering menyebabkan asidosis laktat dan penggunaanya dihentikan metformin merupakan obat hipoglikemik yang saat ini banyak digunakan metformin tidak merangsang sekresi insulin dan umumnya tidak menyebabkan hipoglikemia metformin mengurangi produksi glukosa
4) Inhibitor
Incretin merupakan jenis peptida yang disekresikan oleh usus halus sebagai respons terhadap makanan di usus ada dua jenis peptida yang diklasifikasikan sebagai ikretin yang mempengaruhi metabolisme glukosa glp-1 (glukagon like peptida) dan gip(glucose dependent insulinotropic peptida) dari keduanya,glp-1 lebih penting untuk metabolisme glukosa glp 1 berperan dalam meningkatkan sekresi insulin secara khusus,sekresi insulin fase 1 terjadi melalui stimulasi glukosa sel beta sekaligus menekan sekresi glukagon keduanya menyebabkan penurunan kadar glukosa
2. Terapi insulin
Terapi insulin bertujuan untuk meniru pola fisiologis sekresi insulin defisiensi insulin dapat berupa defisiensi insulin basal,insulin prandial ( setelah makan )
2.1.9 Komplikasi
menurut aini dan aridiana (2019),penyakit diabetes melitus ada banyak :
1. Akut
a. Hipoglikemia dan hiperglikemia
b. Penyakit maskrovakuler : mengenai pembuluh darah besar, penyakit jantung koroner (cerebrovaskuler,penyakit pembuluh darah kapiler) c. Penyakit mikrovaskuler yang mempengaruhi pembuluh darah
kecil,retinopati,nefropati.
d. Neuropati saraf sensorik (berpengaruh pada ekstrimitas) saraf otonom berpengaruh pada gastro intestinal, kardiovaskuler
2. Komplikasi kronis diabetes melitus
Neuropati diabetik, retinopati diabetik, nefropati diabetik, proteinuria,kelainan koroner. komplikasi yang dapat berkembang pada diabetes baik yang bersifat akut maupun kronik menurut(suyono dan waspadji,2019)
a. komplikasi akut
ada tiga komplikasi utama diabetes melitus yang berhubungan dengan gangguan jangka pendek pada keseimbangan kadar gula darah : 1) hipoglikemia
hipoglikemia adalah kondisi yang menunjukan kadar darah rendah kadar gula darah turun di bawah 50 mg/dL. Pada penderita diabetes,kondisi ini bisa disebabkan oleh terlalu banyak mengonsumsi insulin atau obat minum,makan terlalu sedikit, atau terlalu banyak berohlahraga.
2) Ketoasidosis diabetik ketoasidosis diabetik terjadi akibat kekurangan insulin atau kekurangan insulin sama sekali.kondisi ini menyebabkan masalah pada karbohidrat,protein,dan lemak.
3) Sindrom hiperosmolar hiperglikemia non ketotik
Merupakan suatu kondisi yang ditandai dengan hiperosmolaritas dan hiperglikemia serta perubahan tingkat kesadaran (state of awareness) keadaan hiperglikemik kronis menyebabkan diuresis osmotik,yang mengakibatkan hilangnya air dan elektrolit
b. Masalah kronis
Masalah kronis bisa menyerang setiap bagian organ tubuh.kerusakan organ terjadi akibat berkurangnya suplai darah ke organ tubuh akibat rusaknya pembuluh darah.kategori masalah kronik diabetes yang selalu digunakan adalah : penyakit makrovaskular,mikrovaskuler dan saraf,yaitu (suyono,slamet,waspadji,sarwono,2019)
1) Komplikasi makrovaskuler
Perubahan pada pembuluh darah aterosklerosis merupakan masalah serius pada diabetes pembentukan aterosklerosis berbeda-beda tergantung lokasi pembuluh darah yang terkena,tingkat penyumbatan dan jangka waktu penyumbatan.
Aterosklerosis yang berkembang di arteri koroner dapat menyebabkan penyakit jantung koroner. Saat ini aterosklerosis yang terjadi pada arteri otak menyebabkan jenis stroke tia (transient ischemic attack). Begitu pula dengan aterosklerosis yang terjadi pada pembuluh darah besar yang turun sehingga menyebabkan pembuluh darah tersebut kolaps ke samping atau matinya pembuluh darah tersebut (suyono dan waspadji,2019).
2) Komplikasi mikrovaskuler
Macam-macam penyakit mikrovaskuler adalah : a) Retinopati diabetik
Akibat perubahan pada pembuluh darah kecil di retina,di dalam retina terdapat banyak pembuluh darah kecil seperti vena,arteri dan pembuluh darah.retinopati diabetik dapat menyebabkan gangguan penglihatan (suyono& waspadji,2019)
b) Nefropati diabetikum
Ketika kadar gula dalam darah meningkatkan, sistem filtrasi ginjal menjadi stres dan filtrasi terganggu,dan protein darah mengalir ke urin. Kondisi ini meningkatkan tekanan pada pembuluh darah di ginjal. peningkatan tekanan disebut peningkatan nefropati (suyono&waspadji,2019).
c) Neuropati diabetik
Hiperglikemia juga merupakan faktor utama peningkatan neuropati diabetik. Neuropati diabetik ada dua jenis yaitu polineuropati sensorik dan neuropati otonom (suyono dan waspadji,2019)
2.1.10 Kerangka masalah
2.2 Perawatan luka untuk mengatasi masalah diabetes melitus
2.2.1 Pengertian perawatan luka
Perawatan luka dengan NaCL 0,9% dan metronidazol merupakan cara terbaik untuk membersihkan luka. Pembersihan luka dapat mempercepat penyembuhan luka dan mencegah terjadinya infeksi (Halim 2018).
Rawat luka penderita diabetes karena luka diabetes rentan masuknya bakteri dan gula darah yang tinggi menjadi titik strategis bagi pertumbuhan mikroba. Perawatan luka dilakukan dengan menggunakan metronidazol dan kompres NaCL 0,9%. Disimpulkan bahwa perawatan luka dengan menggunakan metronidazol dan NaCL encer 0,9%
efektif dan efisien mempercepat proses penyembuhan serta mencegah infeksi penyebab bau tak sedap pada luka diabetes. dan Domba, 2019)
2.2.2 Tujuan perawatan luka
Menurut Primadani Fellita Andini (2021), proses penyembuhan luka merupakan suatu proses fisiologis dalam tubuh, yaitu sel-sel jaringan hidup kembali ke struktur aslinya. Mampu menyediakan lingkungan yang hangat dan lembab. Kondisi lembab pada permukaan luka dapat meningkatkan penyembuhan luka, mencegah dehidrasi jaringan dan kematian sel. Ini mencegah bakteri dan kotoran masuk ke dalam luka.
Cegah aliran bakteri dari luka ke area sekitar, obati luka dengan obat yang diresepkan.
2.2.3 Manfaat perawatan luka
Menurut Handayani (2018), pengobatan diabetes meningkatkan kualitas hidup.
Mengendalikan penyakit, menjaga derajat kesehatan, mengurangi biaya pengobatan dan keperawatan serta mencegah amputasi. Perawatan luka diabetes terdiri dari 3 fase yaitu reduksi, reduksi dan pengendalian penyakit. Penatalaksanaan luka Salah satu cara untuk mencegah penyebaran infeksi ke area yang lebih luas adalah dengan membuang jaringan yang terinfeksi dan nekrotik secara berkala serta mengendalikan infeksi pada klien yang mengalami cedera, salah satunya sulit diobati karena dapat merusak pembuluh darah dan menimbulkan bisul. situs korban.
2.2.4 Konsep Tindakan keperawatan perawatan luka Tabel 2.2 tindakan perawatan luka
Standar Operasional Prosedur
perawatan pada luka ulkus diabetikum dengan menggunakan kompres metronidazole dan NacL 0.9%
Pengertian Perawatan luka yaitu membersihkan luka,mengobati dan menutup luka.
Tujuan a. menerapkan kompres metronidazole
b. observasi luka c. mencegah infeksi
d. mempercepat jaringan granulasi e. mempercepat penyembuhan luka Indikasi Klien dengan luka ( diabetes melitus)
Peralatan a. Handschoon
b. Cairan metronidazole 500 mg/100 ml dan NacL 0,9%
c. Kassa steril d. Kassa gulung
e. Pinset sirurgis dan anatomis f. Gunting verban/plaster g. Gunting jaringan h. Bengkok
i. Kom
j. Perlak atau pengalas k. Handscoon
l. Bak sterill m. Spuit 5cc n. Verban/plaster
Prosedur kerja A. Pra interaksi
a. Mengkaji kondisi klien,mengecek kembali catatan keperawatan dan catatan medis klien
b. Mengidentifikasi indikasi tindakan perawatan luka
c. Mencuci tangan d. Menyediakan alat-alat
e. Mendekatkan alat ke dekat pasien B. Tahap orientasi
a. Memberikan salam dan memperkenalkan diri
b. Menanyakan kondisi dan keluhan klien c. Menjelaskan maksud,tujuan dan
prosedur tindakan
d. Berikan kesempatan kepada klien atau keluarga bertanya sebelum tindakan dilakukan
2.2.5 Kerangka Konsep
kerangka konsep penelitian suatu hubungan atau kaitan antara konsep satu terhadap konsep lainya dari masalah yang ingin diteliti untuk menghubungkan atau menjelaskan tentang suatu yang akan diabahas (setiadi,2013). kerangka konsep penelitian dijabarkan sebagai berikut:
Tanda dan gejala : 1.kerusakan lapisan kulit 2.nyeri
3.perdarahan 4.kemerahan 5.hematoma Penyebab DM
-Kurang aktivitas fisik
-Riwayat penyakit jantung
-Gaya hidup tidak sehat
Diabetes melitus
Komplikasi
-Serangan jantung -infeksi kaki yang berat
-gagal ginjal Ketidak stabilan gula
darah
Tujuan rawat luka
-penyembuhan luka
-membersihkan luka
-mencegah masuknya kuman dan kotoran
Sirkulasi jaringan menurun
Neklorosis jaringan
Gangguan integritas kulit
Luka
Rawat luka
Keterangan :
: variabel yang tidak diteliti
: variabel yang diteliti : terdapat hubungan
Penjelasan :
Berdasarkan kerangka konsep. Peneliti akan melalukan penelitian terhadap asuhan keperawatan pada pasien diabetes melitus tipe II dengan gangguan integritas kulit.
Diabetes melitus tipe II merupakan kelainan metabolik yang ditandai dengan kenaikan gula darah akibat penurunan sekresi insulin oleh sel beta pankreas.kenaikan gula darah dapat menimbulkan masalah keperawatan gangguan integritas kulit,dimana hal tersebut akan menimbulkan beberapa dampak.adapun tanda dan gejala gangguan integritas kulit yaitu nyeri,pendarahan,kerusakan jaringan dan lapisan kulit,kemerahan dan hematoma.
2.3 Konsep Asuhan Keperawatan 2.3.1 Pengkajian
Menurut budiono (2018) pengkajian keperawatan merupakan tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan suatu proses yang sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber subjektif dan sumber objektif.berikut ini merupakan asuhan keperawatan teoritis pada pasien diabetes melitus:
1. Sumber subjektif meliputi data yang diperoleh dari klien,orang-orang terdekat klien,atau keluarga klien sebagai pendapat tentang suatu keadaan atau peristiwa
2. Sumber obyektif yaitu data yang diamati dan diukur pada saat pemeriksaan fisik data pengkajian yang dikumpulkan meliputi klien, keluarga, komunitas, lingkungan dan budaya proses pengumpulan data evaluasi dapat dilakukan melalui history retrieval anamnesis merupakan kegiatan wawancara antara pasien dengan dokter atau tenaga kesehatan bersetifikat lainya untuk memperoleh informasi mengenai keluhan penyakit pasien riwayat kesehatan dibagi menjadi dua bagian : 1. Riwayat kesehatan otomatis pasien dapat melakukan tanya jawab,sehingga dilakukan langsung pada pasien 2.tes memori alogenik dilakukan secara tidak langsung karena pasien tidak mampu bertanya. Dibawah ini adalah evaluasi teoritis yang ditemukan pada pasien DM menurut doegoes (2018)dan (santosa,budi 2018)sebagai berikut:
a. Riwayat kesehatan
1) indentintas pasien identintas klien perlu dikaji meliputi nama,umur,jeniskelamin,status,agama,alamat,tanggal : MRS,diagnosa masuk. Pendidikan dan pekerjaan,orang dengan pendapatan tinggi cenderung mempunyai pola hidup dan pola makan yang salah.
2) Keluhan utama
a)kondisi hiperglikemi
penglihatan kabur,lemas,rasa haus, dan banyak bak,dehidrasi,suhu tubuh meningkat,sakit kepala.
b)kondisi hipoglikemi
tremor, perspirasi, takikardi, palpitasi, gelisah, rasa lapar ,sakit kepala, susah konsentrasi, vertigo, konfusi, penurunan daya ingat, patirasa di daerah bibir.
3) Riwayat penyakit sekarang
Keluhan kesehatan sekarang yang perlu diselidiki yaitu keluhan sering buang air kecil, sering lapar dan haus,serta obesitas pasien biasanya datang kerumah sakit dengan keluhan utama kulit gatal disertai bisul/tidak kunjung sembuh, kesemutan/berat, pandangan kabur, dan penurunan kekuatan fisik sakit perut,pandangan kabur, sering sakit kepala
4) Penyakit yang pernah diderita penyakit apa yang pernah diderita Dm dapat disebabkan oleh penyakit pankreas,gangguan penyerapan insulin, gangguan hormonal,atau penggunaan obat-obatan seperti glukokortikoid, furosemid, tiazid, dan beta blocker, dapat terjadi pada masa kehamilan
5) Riwayat penyakit keluarga menurun
menurut silsilah karena kelainan gen yang mengakibatkan tubuhnya tidak dapat menghasilkan insulin dengan baik
6) Pola fungsi kesehatan
A. Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan
Biasanya penderita belum menyadari perjalanan penyakit dm.
penderita baru tahu kalau sudah memeriksakan diri di pelayanan kesehatan.
B. aktivitas dan istirahat
gelaja : kaji keluhan saat beraktivitas. Lemah, letih sulit bergerak/berjalan,kram otot, tonus otot menurun gangguan tidur dan istirahat. Tanda : takikardi dan takipnea pada
keadaaan istirahat atau dengan aktivitas, penurunan kekuatan otot.
C. sirkulasi
Gejala : adanya riwayat hipertensi,kebas dan kesemutan pada ekstremitas.ulkus pada kaki,penyembuhan yang lama.
Tanda : perubahan TD,nadi menurun,kulit panas,kering dan kemerahan.
D. Integritas ego
Gejala : setres,tergantung pada orang lain Tanda : ansietas ,peka rangsang.
E. Eliminasi
Gejala : perubahan pola berkemih (poliuria)nokturia.rasa nyeri terbakar Kesulitan berkemih(infeksi),nyeri tekan abdomen.
Tanda : urine encer,pucat,kuning,bising usus lemah.
2.3.2 Diagnosa keperawatan
Menurut budiono (2018) diagnosis keperawatan yaitu penilaian klinis terhadap masalah kesehatan dan proses kehidupan yang aktual dan potensial dialami diagnosa keperawatan bertujuan untuk mengetahui respon klien individu,keluarga,dan komunitas terhadap situasi yang berhubungan dengan kesehatan untuk mengidentifikasi masalah klien dan apakah masalah tersebut nyata atau merupakan resiko.
a. Masalah kesehatan sebenernya masalah yang dirasakan klien
b. Masalah kesehatan berbahaya merupakan masalah yang membuat perawat lebih sadar akan pentingnya perencanaan keperawatan
c. Diagnosis kesejahteraan dan perawatan merupakan penilaian klinis terhadap individu,keluarga, dan komunitas
d. Suatu sindrom,diagnosis keperawatan suatu sindrom terdiri dari diagnosis atau resiko yang sebenernya di bawah ini yaitu uraian permasalahan yang mungkin terjadi diabetes tipe II yang mungkin terjadi pada pasien DM yaitu berdasarkan diagnosis (SDKI,2016) 1. Berhubungan dengan hiperglikemia perfusi perifer yang tidak
efektif (D0009)
2. Defisiensi nutrisi berhubungan dengan peningkatan kebutuhan metabolisme (D0019)
3. Mobilitas akibat gangguan integritas fungsi tubuh struktur tulang (D0034)
2.3.3 Analisa data
NO Data Etiologi Masalah keperawatan
1. DS : - DO:
1.warna kulit memucat 2. nadi perifer menurun
Perfusi perifer tidak efektif berhubungan dengan penurunan konsentrasi
hemoglobin. Perfusi perifer tidak efektif dalam standar
diagnosis keperawatan Indonesia (SDKI, 2018) adalah
penurunan sirkulasi darah pada level kapiler yang dapat mengganggu metabolisme tubuh
Perfusi perifer tidak efektif
2. DS: -
DO:
1.Program diet 2.gula darah tinggi 3.glukosa urine
Penderita diabetes telah memiliki pola konsumsi yang baik apabila membatasi asupan karbohidrat,
Defisit nutrisi
2jpp+++ mengurangi makanan tinggi lemak
jenuh/kolesterol, membatasi konsumsi gula dan garam serta mengkonsumsi tinggi serat.
3. DS :-
DO:
1.luka tampak kemerahan 2. Kerusakan lapisan kulit
Perubahan sirkulasi, perubahan status nutrisi, kekurangan atau kelebihan volume cairan, penurunan mobilitas, bahan kimia iritatif, suhu lingkungan yang ekstrem, faktor mekanis
Gangguan integritas kulit
2.3.4 Rencana keperawatan No Diagnosa keperawatan
(SDKI)
Tujuan dan kriteria hasil
(SLKI)
Intervensi (SIKI)
1. Perfusi Perifer Tidak Efektif Berhubungan Dengan Hiperglikemia (D.0009)
setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan perfusi perifer dapat teratasi dengan kriteria hasil:
- Denyut,nadi perifer meningkat
- Penyembuhan luka meningkat - Warna kulit pucat menurun - Nekrosis menurun
- Pengisian kapiler
Perawatan sirkulasi Observasi
- Periksa sirkulasi
perifer(mis. Nadi perifer, edema, pengisian
kalpiler, warna, suhu, angkle brachial index) - Identifikasi faktor resiko gangguan sirkulasi (mis.
Diabetes, perokok, orang tua, hipertensi dan kadar kolesterol tinggi)
- Monitor panas,
kemerahan, nyeri, atau bengkak pada
cukup membaik - Turgor kulit cukup membaik - Tekanan darah cukup membaik
ekstremitas Terapeutik - Hindari pemasangan infus atau pengambilan darah di area
keterbatasan perfusi - Hindari pengukuran tekanan darah pada ekstremitas pada keterbatasan perfusi - Hindari penekanan dan pemasangan torniquet pada area yang cidera - Lakukan pencegahan infeksi
- Lakukan perawatan kaki dan kuku - Lakukan hidrasi Edukasi
- Anjurkan berhenti merokok
- Anjurkan berolahraga rutin
- Anjurkan mengecek air mandi untuk menghindari kulit terbakar
- Anjurkan menggunakan obat penurun tekanan darah, antikoagulan, dan penurun kolesterol, jika perlu
- Anjurkan minum obat pengontrol tekakan darah
secara teratur - Anjurkan
menghindari penggunaan obat penyekat beta
-Ajurkan melahkukan perawatan kulit yang tepat(mis. Melembabkan kulit kering pada kaki) - Anjurkan program rehabilitasi
vaskuler Anjurkan program diet untuk memperbaiki
sirkulasi( mis. Rendah lemak jenuh, minyak ikan, omega3)
- Informasikan tanda dan gejala
darurat yang harus dilaporkan( mis. rasa sakit yang tidak hilang saat istirahat, luka tidak sembuh, hilangnya rasa)
2. Defisit Nutrisi
Berhubungan Dengan Peningkatan Kebutuhan Metabolisme (D.0019)
setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan status nutris dapat teratasi dengan kriteria hasil:
- Porsi makan yang dihabiskan
Manajemem Nutrisi Observasi
- Identifikasi status nutrisi - Identifikasi alergi dan intoleransi
makanan - Identifikasi makanan yang disukai - Identifikasi
meningkat
- Perasaan cepat kenyang menurun - Berat badan membaik
- Nafsu makan membaik
- Membran mukosa membaik
kebutuhan kalori dan jenis nutrien
Teraupetik
- Lakukan oral hygine sebelum makan
- Sajikan
makanan secara menarik dan suhu yang sesuai - Berikan makanan tinggi serat untuk mencegah konstipasi
Edukasi
- Anjurkan posisi duduk - Ajarkan diet yang di programkan
Kolaborasi
- Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan jenis nutrien yang dibutuhkan, jika perlu
3. Gangguan Integritas Kulit/Jaringan
Berhubungan Dengan Perubahan Sirkulasi (D.0129)
setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan Integritas kulit/jaringan dapat teratasi dengan kriteria hasil:
- Perfusi jaringan meningkat
- Kerusakan jaringan menurun
- Kerusakan lapisan kulit menurun
Perawatan Luka Observasi
- Monitor karakteristik luka (mis, drainase, warna, ukuran, bau)
- Monitor tanda- tanda infeksi
Teraupetik
- Lepaskan balutan dan plaster secara
perlahan - Bersihkan
- Nyeri menurun -Pendarahan,
kemerahan menurun
dengan cairan NaCl atau pembersih nekrotik, sesuai kebutuhan
- Bersihkan jaringan nekrotik
- Berikan salep yang sesuai
kulit/lesi, jika perlu
- Pasang balutan sesuai jenis luka
- Pertahankan tehnik steril saat
melakukan perawatan luka
- Ganti balutan sesuai jumlah
eksudat dan drainase
- Jadwalkan perubahan posisi 2 jam atau sesuai kondisi pasien
Edukasi
- Jelaskan tanda dan gejala infeksi
- Anjurkan
mengkonsum si makanan tinggi kalori protein
- Ajarkan prosedur perawatan luka secara mandiri Kolaborasi
- Kolaborasi pemberian antibiotik, jika perlu
2.3.5 Pelaksanakan
Menurut fatimah (2019) ada beberapa pelaaksanaan pada Dm diantaranya :
1. Terapi diet
Berdasarkan pendapat beck terapi diet bertujuan untuk menjaga kadar glukosa dalam darah pada batas normal, mengurangi perubahan besamnya kadar glukosa dalam darah,mempertahankan atau memulihkan berat badan pada kondisi normal.
2. Exercise (latihan fisik/ olahraga)
Penderita diabetes dianjurkan melakukan olahraga selama 30 menit sebanyak 3 sampai 4 kali seminggu olahraga bagi penderita diabetes diantara antara lain jalan kaki
3. Pengobatan penggunaan obat
Untuk pengobatan diabetes sebaiknya dilakukan bila penggunaan metode relaksasi tidak berhasil mengendalikan kadar gula darah
4. Penerapan pengendalian
Tujuan jangka pendek pengendalian pada pasien diabetes untuk mengurangi atau menghilangkan gejala dan sehat kepada penderitanya tujuan jangka panjang dalam menangani pasien diabetes yaitu untuk mencegah miovaskular dan neuropati cara paling efektif untuk mengelola
diabetes dengan mengedukasi masyarakat tentang
diabetes,mengedukasi mereka tentang pola makan,dan mengedukasi mereka tentang obat-obatan yang efektif menurunkan kadar gula darah tinggi
5. Pendidikan kesehatan edukasi pada pasien
Pasien DM sangat diperlukan karena pengobatan DM memerlukan penanganan khusus pendidikan kesehatan universitas teknologi, kesehatan diabetes merupakan salah satu cara yang paling efektif untuk mencegah risiko diabetes ada tiga jenis pencegahan pencegaha primer bagi yang berisio tinggi terkena diabetes,pencegahan sekunder bagi pasien yang sedang menderita diabetes, dan pencegahan tersier bagi pasien diabetes jangka panjang
2.3.6 Implementasi
Menurut Budiono (2018) Implementasi keperawatan adalah pelaksanaan rencana tindakan yang ditentukan dengan maksud agar mencapai tujuan yang spesifik, kebutuhan pasien terpenuhi secara maksimal yang mencakup aspek peningkatan, pencegahan penyakit, pemeliharaan serta pemulihan kesehatan dan memfasilitasi koping dengan mengikut sertakan pasien dan keluarganya
2.3.7 Evaluasi
Menurut budiono (2018) tahap penilaian atau evaluasi merupakan perbandingan yang sistematis dan terencana tentang kesehatan klien dengan tujuan yang telah ditetapkan,dilakukan dengan cara bersambungan dengan melibatkan klien,keluarga dan tenaga kesehatanya. Tujuan evaluasi yaitu untuk melihat kemampuan klien mencapai tujuan yang disesuaikan dengan kriteria hasil pada perencanaan.
BAB 3
METODE PENELITIAN
3.1 Desain
Desain penelitian adalah rencana tindakan penelitian yang berupa rangkaian kegiatan yang berurutan secara logis yang menghubungkan pertanyaan penelitian yang ingin dijawab dan hasil penelitian yang mewakili jawaban atas pertanyaan penelitian Beberapa buku tentang metodologi penelitian mendefinisikan desain penelitian sebagai suatu rencana yang memandu peneliti dalam mengumpulkan, menganalisis, dan menafsirkan data (Rahardjo, 2018)
Menurut Hidayat (2019), studi kasus merupakan salah satu bagian dari metodologi penelitian, dan argumen utamanya adalah peneliti, baik individu maupun kelompok, harus lebih berhati-hati, hati-hati dan teliti dalam mengungkap kasus dan peristiwa dia dari studi kasus Peneliti diharapkan memperoleh pengetahuan yang mendalam terhadap kasus yang ditelitinya
Menurut Sugiarto (2018), studi kasus adalah jenis penelitian kualitatif yang mendalam tentang individu, kelompok, lembaga, dan lain-lain pada suatu titik waktu tertentu studi kasus yang dilakukan menggunakan pendekatan keperawatan yang secara umum menggambarkan pelayanan yang diberikan kepada pasien diabetes melitus
3.2 Batasan istilah
a) Diabetes Melitus: Diabetes melitus suatu kondisi metabolik kronis yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah. Pada pasien diabetes, penyembuhan luka biasanya lebih lambat dan rentan terhadap infeksi.
b) Asuhan keperawatan Suatu kondisi kesehatan yang diidentifikasi oleh perawat berdasarkan penilaian yang membutuhkan intervensi khusus. Dalam hal ini, masalah keperawatan yang dihadapi adalah gangguan integritas kulit akibat diabetes.
3.3 Lokasi dan waktu
Penelitian ini dilakukan di puskesmas Pakisaji saat melakukan kegiatan asuhan keperawatan saat melakukan kegiatan asuhan keperawatan. Yang akan dilakukan pada bulan oktober 2024.
3.4 Pengumpulan data
Metodei peingumpulan data yang digunakan untuk meimpeiroleih informasi seisuai deingan masalah peineilitian ini adalah seibagai beirikut :
1. Wawancara
Wawancara adalah metode pengumpulan data yang memungkinkan terjadinya dialog langsung antara subjek dengan responden atau partisipan. Selama proses wawancara, subjek akan bertanya kepada responden dan mempelajari tentang tanggapan serta informasi yang telah disampaikan oleh partisipan.
(Nursalam,2020).
Dalam penelitian ini, wawancara mencakup identitas pasien, keluhan utama, riwayat penyakit saat ini, riwayat penyakit sebelumnya, riwayat penyakit keluarga, dan tambahan informasi dari keluarga pasien.
2. Observasi
Observasi melibatkan pengamatan kondisi klinis pasien untuk memperoleh data tentang masalah kesehatan pasien. Dalam studi kasus ini, peneliti perlu
melakukan observasi dengan melakukan pemeriksaan fisik yang mencakup
inspeksi (melihat), palpasi (meraba), perkusi (mengetuk), dan auskultasi (mendengar).
3. Dokumentasi
Semua data dikumpulkan dari rekam medis pasien, sesuai dalam UU No.29 Tahun 2004 pasal 46 ayat (1) tentang praktik kedokteran mengemukakan, reikam medis merupakan berkas yang berisikan catatan dan dokumen tentang identitas pasien, pemeiriksaan laboratorium, pemeriksaan foto thorax, pengobatan, tindakan, dan pelayanan lainnya yang diberikan kepada pasien. Dalam penelitian ini, data yang berkaitan dengan subjek penelitian berupa hasil pemeriksaan diagnostik dan data lain yang relevan.
3.5 Instrumen
Dalam studi kasus ini menggunakan instrumen SOP perawatan luka dan lembar observasi pengkajian luka
Pengkajian Luka
a. Ukuran, kedalaman, dan luas luka b. Lokasi luka
c. Tanda-tanda infeksi (kemerahan, bengkak, pus, bau tidak sedap) d. Kondisi tepi luka (nekrotik, sehat, atau terbuka)
e. Adanya eksudat (jenis, jumlah, warna) Pengelolaan Luka
a. Pembersihan luka dengan antiseptik yang aman bagi pasien DM
b. Pemilihan dressing yang tepat (misalnya: balutan yang menjaga kelembapan tapi tidak terlalu basah)
c. Pemantauan tanda-tanda infeksi atau komplikasi (seperti abses atau selulitis) Perawatan Kulit Sekitar Luka
a. Menjaga kebersihan kulit sekitar luka
b. Menggunakan emolien atau pelembap untuk mencegah kekeringan pada area kulit yang tidak terkena luka
c. Mencegah gesekan atau tekanan tambahan di area luka Pengelolaan Gula Darah
a. Pemantauan gula darah secara berkala
b. Kolaborasi dengan tim medis untuk menyesuaikan terapi insulin atau oral c. Edukasi pasien terkait pengendalian gula darah untuk mendukung penyembuhan luka
Edukasi Pasien dan Keluarga
a. Mengajarkan cara membersihkan luka di rumah
b. Memberikan informasi mengenai tanda-tanda infeksi yang perlu diwaspadai c. Mendorong perubahan gaya hidup sehat (seperti pola makan dan olahraga) d. Memberikan panduan untuk memantau kondisi luka secara mandiri
Kolaborasi Tim Medis
a. Konsultasi dengan dokter spesialis untuk perawatan lanjut jika ada komplikasi b. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk perencanaan diet
c. Kolaborasi dengan fisioterapis untuk membantu mobilisasi pasien tanpa membebani luka
Evaluasi Berkala
a. Pemantauan perkembangan luka setiap kunjungan b. Penilaian efektivitas intervensi yang telah dilakukan
c. Modifikasi rencana perawatan jika penyembuhan tidak sesuai harapan
Instrumen ini dapat disesuaikan sesuai dengan kondisi pasien dan kebijakan layanan kesehatan tempat perawatan dilakukan.
3.6 uji keabsahan data
1. Data primer
Data primer adalah informasi yang diperoleh dari sumber aslinya yang berupa hasil dari wawancara klien dan hasil observasi dari objek tertentu.
2. Data sekunder
Data sekunder adalah informasi yang diperoleh secara tidak langsung atau melalui perantara, misalnya informasi yang diperoleh dari keluarga klien.
3. Data Tersier
Data tersier merupakan informasi yag diperoleh dari catatan keperawatan klien atau rekam medis.
3.7 Analisa data
Setelah mengumpulkan informasi melalui wawancara dan observasi dan penilaian aktual, pemeriksaan informasi langsung. Pemeriksaan informasi dilakukan sejak peneliti berada dibidang eksplorasi. Selama pengumpulan informasi sampai semua informasi yang diperlukan terkumpul. Teknik analisis yang digunakan dengan cara menarasikan dan menampilkan tabel dari hasil penelitian yang diperoleh serta melakukan interprestasi data yang selanjutnya akan diinterprestasikan oleh peneliti dengan membandingkan hasil penelitian dan teori dalam bentuk pembahasan asuhan keperawatan pada pasien diabetes melitus.
3.8 Etika penelitian
Pada studi kasus ini tetap dilaksanakan sesuai etika penelitian mulai dari pengumpulan data awal sampai evaluasi perkembangan pasien. Etika yang dilakukan antara lain selalu melaksanakan informed concent setiap akan dilakukan tindakan pada pasien, serta tetap menjaga kerahasiaan dan martabat pasien. Untuk melindungi responden dari bahaya dan ketidaknyamanan fisik dan psikologis, peneliti akan
mempertimbangkan pertimbangan etis dan hukum. Faktor-faktor berikut diperhitungkan selama izin etis. (Menurut A Aziz Alimul Hidayat 2022).
1. Informan Consent (persetujuan responden)
Persetujuan menjadi klien memberikan bentuk persetujuan antara peneliti dan subjek penelitian. Tujuan informan consent artinya supaya subjek mengerti maksud serta tujuan studi kasus.
2. Anonymity (tanpa nama)
Persoalan etika studi kasus ialah masalah yang memberikan
jaminan pada penggunaan subjek studi kasus dengan cara memberikan atau menempatkan nama responden serta hanya menuliskan Inisial di lembar pengumpulan data atau hasil studi kasus.
3. Konfidentialy (kerahasiaan)
Seluruh info yang telah dikumpulkan dijamin kerahasiaannya oleh peneliti.
4. Justice (keadilan)
Peneliti memberi pelayanan yang sama tanpa membeda-bedakan status, suku, ras, dan warna kulit.
5. Dalam studi kasus ini, prinsip manfaat (beneficiency) harus memiliki tiga prinsip.
a. Tidak ada penderitaan merupakan bebas dari penderitaan, atau responden tidak akan disakiti, seperti yang dijanjikan peneliti.
b. Bebas dari eksploitasi merupakan informasi yang diberikan oleh responden akan dimanfaatkan seefektif mungkin.
c. Responden tidak menghadapi risiko apapun di masa depan. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari lebih lanjut tentang pasien dengan Diabetes Melitus dengan implementasi perawatan luka menggunakan Metronidazole dan NacL 0,9%.
6. Dampak (maleficence)
Penulis berjanji tidak akan menyakiti, merugikan, atau menimbulkan ketidaknyamanan baik secara fisik maupun psikis.
7. Kejujuran (Veracity)
Informasi yang disajikan adalah infomasi yang akurat, kompreshif
dan objektif untuk memfasilitasi pemahaman dan penerimaan materi yang ada.
DAFTAR PUSTAKA
Anita, A. (2021). Asuhan Keperawatan Gangguan Integritas Kulit dengan Intervensi Perawatan Luka dengan NaCl 0,9% dan Kasa dengan Antibiotik Framycetin Sulfate (Disertasi Doktor, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar).
Budiono. (2015). Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta : Kementrian Kesehatan Republik Indonesia
Damayanti, Santi. (2015). Diabetes Melitus Dan Penatalaksaanaan Keperawatan.
Yogyakarta: Nuha medika.
Decroli Eva, (2019) Diabetes Melitus Tipe II. Padang :Pusat Penerbitan Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
Doengoes, E. Marylyann (2000), Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. Jakarta:EGC Fatayati, U. (2023). Pengaruh Perawatan Luka Menggunakan Metronidazole Dan NaCL
0,9% Terhadap Ulkus Kaki Diabetik Pada Pasien Dengan Diabetes Melitus (Doctoral dissertation, Universitas Muhammadiyah Malang).
Fatimah, R.N. (2015). Diabetes Melitus Tipe 2. Jakarta: J Majority. Vol. 4, No. 5:93-99 Jais, M., Tahlil, T., & Susanti, S. S. (2021). Dukungan Keluarga dan Kualitas Hidup
Pasien Diabetes Mellitus yang Berobat di Puskesmas. Jurnal Keperawatan Silampari, 5(1), 82-88.
Maria Insana, (2021), Asuhan Keperawatan Diabetes Melitus Dan Asuhan Keperawatan , Yogyakarta, grup CV Budi utama) https://eboo ks.gramedia.com/id/buku/asuhan- keperawatan-diabetes-mellitus-dan- asuhan-keperawatan-stroke
Fatmawaty, Desi. (2019). Asuhan Keperawatan Pada Pasien Diabetes Mellitus Dengan Masalah Keperawatan Kerusakan Integritas Kulit Di RSUD Dr
HarjonoPonorogo. Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Muhammadiyah GangguanSistem Endokrin, Ke-1 (Yogyakarta: Pustaka Baru Press, 2019).
IDF. (2019). IDF Diabetes Atlas Ninth Edition 2019. International Diabetes Federation. IDF:2019.
International Diabetes Federation. IDF Diabetes Atlas Ninth Edition 2019. Kementrian Kesehatan RI. (2019). Pusat Data dan Informasi: Hari Diabetes
SDKI DPP PPNI, (2018), Standar Diagnosa Keperawatan Indoneisia (SDKI), Jakarta, Persatuan Perawat Indoneisia
SIKI DPP PPNI, (2018), Standar Intirveinsi Keperawatan Indonesia (SIKI), Jakarta Persatuan Perawat Indonesia
SLKI DPP PPNI, (2018), Standar Luaran Keperawatan Indoneisia (SLKI), Jakarta, Persatuan Perawat Indonesia
Lampiran I
Lembar Pernyataan Persetujuan Informed Consent
Setelah menerima penjelasan dan memahami maksud dan tujuan studi kasus yang telah dijelaskan oleh:
Nam a
: Fatma hayu anisa p
NIM : 221078
Judul : Implementasi Perawatan luka pada pasien diabetes melitus dengan masalah keperawatan integritas kulit di pukesmas pakisaji
Saya bersedia turut berpartisipasi sebagai klien dalam studi kasus yang dilakukan oleh mahasiswa Diploma III Keperawatan Institut Teknologi Sains dan Kesehatan RS dr. Soepraoen Dengan ini:
Nama :
Penanggung Jawab :
Saya memahami bahwa studi kasus ini tidak akan berakibat negatif pada saya dan keluarga saya. Oleh karena itu, saya bersedia menjadi pasien pada studi kasus ini.
Disetujui Mahasiswa
Fatma Hayu Anisa P 221078
Penanggung Jawab
(______________________)
LAMPIRAN II
Lembar Permohonan Menjadi Responden
Dengan hormat, Saya yang bertanda tangan dibawah ini : Nama : Fatma Hayu Anisa P
NIM : 221078
Akan mengadakan Laporan Studi Kasus dengan judul “Implementasi Perawatan luka pada pasien diabetes melitus dengan masalah keperawatan integritas kulit di pukesmas pakisaji” Sehubungan dengan hal tersebut diatas, saya mohon kesediaan anda untuk berpartisipasi dalam Laporan Studi Kasus ini dengan menandatangani lembar persetujuan, dan saya menjamin kerahasiaan jawaban yang diberikan.
Atas kesadaran, partisipasi dan bantuan anda, saya ucapkan terima kasih.
Malang, - - 2024 Hormat Saya,
Fatma Hayu Anisa P