• Tidak ada hasil yang ditemukan

Implikasinya bagi Pasangan, Keluarga, dan Masyarakat

N/A
N/A
Digita Nurlia

Academic year: 2025

Membagikan " Implikasinya bagi Pasangan, Keluarga, dan Masyarakat"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

PROPOSAL SKRIPSI

Diajukan Kepada Fakultas Syari’ah

Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta Untuk Penyusunan Skripsi

Oleh : Digita Nurlia NIM. 21.21.2.1.131

PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA ISLAM (AL AKHWAL ASY SYAKHSHIYYAH)

FAKULTAS SYARIAH

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN MAS SAID SURAKARTA

2024

(2)

A. Latar Belakang

Pernikahan dini, atau menikah sebelum usia minimal yang ditetapkan secara hukum, adalah masalah rumit yang membutuhkan pertimbangan yang matang. Pernikahan dini sering kali menimbulkan sejumlah masalah yang berdampak buruk bagi kehidupan pasangan, keluarga, dan masyarakat luas, meskipun pernikahan dipandang sebagai ikatan suci dan landasan sebuah keluarga.

1 Usia minimal untuk menikah ditetapkan oleh Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, yaitu 16 tahun untuk perempuan dan 19 tahun untuk laki-laki, namun pada tahun 2019 terdapat perubahan yang menyatakan batas minimal usia menikah untuk laki-laki maupun perempuan adalah 19 tahun. Meskipun demikian, banyak permohonan dispensasi nikah yang diajukan, terutama oleh anak muda yang ingin menikah lebih awal. Hal ini memunculkan sejumlah masalah sosial dan hukum yang perlu diteliti lebih dalam.2

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kabupaten Temanggung, angka pengajuan dispensasi nikah di Kabupaten Temanggung dalam tiga tahun terakhir menunjukkan angka yang mengkhawatirkan, pada tahun 2021 mencapai 42%

pengajuan, pada tahun 2022 mencapai 38,7% pengajuan, dan pada 2023 sampai per

1 Yopani Selia, dkk., “Pernikahan Dini Dalam Perspektif Undang-Undang Perkawinan Dan Kompilasi Hukum Islam”, Jurnal Rechten : Riset Hukum Dan Hak Asasi Manusia, Vol. 3 Nomor 1, 2021, hlm, 27.

2 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1978 Tentang Perkawinan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1974), hlm. 134.

(3)

bulan September 2023 mencapai 19,3% pengajuan.3 Angka ini menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas mekanisme dispensasi nikah dalam melindungi kepentingan anak serta konsistensi penerapan teori maslahah dalam putusan hakim.

Hal ini diperkuat oleh data Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) serta Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menunjukkan peningkatan kasus pernikahan dini di Indonesia sebesar 30% per tahun (2019-2021). Di Jawa Tengah pada tahun 2021, tercatat 8.700 kasus pernikahan dini yang memerlukan proses dispensasi nikah di Pengadilan Agama. Alasan pengajuan bermacam-macam, meliputi kehamilan, pernikahan siri, keinginan anak, dan kekhawatiran orang tua,4

Kenaikan angka dispensasi nikah tidak hanya menciptakan tantangan hukum, tetapi juga menimbulkan masalah sosial, kesehatan, dan pendidikan.

Banyak remaja yang terpaksa putus sekolah, yang mengurangi peluang pendidikan dan meningkatkan risiko masalah kesehatan reproduksi. Selain itu, pernikahan dini

3 Badan Pusat Statistik “Banyaknya Kasus Dispensasi Kawin Menurut Kecamatan Di

Kabupaten Temanggung 2021-2023” dikutip dari

https://temanggungkab.bps.go.id/id/statistics-table/2/MjExIzI=/banyaknya-dispensasi-kawin-menurut- kecamatan-di-kabupaten-temanggung.html.%20di, diakses 12 September 2024.

4 PA Muara Taweh, “Signifikannya Perkara Dispensasi Kawin terus meningkat di Masa Pandemi Covid-19” dikutip dari https://badilag.mahkamahagung.go.id/seputar-peradilan-agama/berita- daerah/signifikannya-perkara-dispensasi-kawin-terus-meningkat-di-masa-pandemi-covid-19, (Hidayat, 2024)diakses 12 September 2024.

(4)

juga berpotensi meningkatkan angka stunting pada anak, memperburuk kesehatan mental pasangan muda, dan meningkatkan risiko kekerasan dalam rumah tangga.5 Melihat dampak negatif yang luas ini, penelitian ini akan fokus pada menganalisis pertimbangan hakim di Pengadilan Agama Temanggung dalam memutuskan permohonan dispensasi nikah dengan menggunakan teori maslahah sebagai kerangka teori. Maslahah, yang berarti kemaslahatan atau kebaikan, merupakan prinsip penting dalam pengambilan keputusan hukum Islam yang bertujuan untuk mencapai keadilan dan kesejahteraan.6 Dengan memahami pertimbangan hakim dan mengidentifikasi faktor-faktor yang mendorong permohonan dispensasi nikah, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam upaya menekan angka pernikahan dini di Kabupaten Temanggung dan melindungi hak-hak anak serta keluarga.

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, penulis tertarik untuk mengkaji lebih dalam mengenai pertimbangan hakim dalam perkara dispensasi nikah, dengan memberi judul “Analisis Pertimbangan Hakim Dalam Memutuskan Permohonan Dispensasi Nikah Di Pengadilan Agama Temanggung Tahun 2023 Dengan Perspektif Maslahah”.

5 Hasto Wardoyo “BKKBN : Dispensasi tak bisa dijadikan ukuran naiknya kasus kawin dini”

dikutip dari https://www.antaranews.com/berita/3358443/bkkbn-dispensasi-tak-bisa-dijadikan-ukuran- naiknya-kasus-kawin-dini, diakses 18 Januari 2025.

6 Ma’ruf Hidayat, “Imam al-Ghazali dan Konsep Maslahah: Kontribusi Kontemporer terhadap Integrasi Etika, Ekonomi, dan Kesejahteraan dalam Hukum Islam,” Masile Jurnal Studi Keislaman, (Purwokerto) Vol. 5 Nomor 1, 2024, hlm. 48.

(5)

B. Rumusan Masalah

Pada latar belakang di atas, penyusun berencana merumuskan permasalahan yang akan dikaji secara lanjut dalam proposal ini, berdasarkan pada latar belakang di atas. Adapun rumusan masalah yang diajukan penyusun adalah:

1. Bagaimana pertimbangan hakim Pengadilan Agama Temanggung dalam memutuskan permohonan dispensasi nikah tahun 2023?

2. Bagaimana pertimbangan hakim dalam memutuskan dispensasi nikah di Pengadilan Agama Temanggung tahun 2023 berdasarkan teori maslahah?

C. Tujuan Penelitian

1. Untuk mendeskripsikan pertimbangan hakim Pengadilan Agama Temanggung dalam memutuskan permohonan dispensasi nikah tahun 2023.

2. Untuk mendeskripsikan pertimbangan hakim dalam memutuskan dispensasi nikah di Pengadilan Agama Temanggung tahun 2023 berdasarkan teori maslahah.

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman tentang hukum perkawinan dan dispensasi nikah di Indonesia, serta menjadi bahan referensi untuk pengembangan teori hukum keluarga. Hasil penelitian ini juga dapat memperkaya khasanah ilmu hukum dengan memberikan analisis yang komprehensif mengenai pertimbangan hakim dalam perkara dispensasi nikah.

2. Manfaat Praktis

(6)

Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan yang bermanfaat bagi para hakim dalam memutus perkara dispensasi nikah.

Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya pernikahan dini dan pentingnya mematuhi aturan hukum terkait batas usia perkawinan. Hasil penelitian ini juga dapat menjadi acuan bagi berbagai pihak, seperti lembaga pemerintah, organisasi masyarakat, dan keluarga, dalam upaya pencegahan pernikahan dini.

E. Kerangka Teori

1. Pertimbangan Hakim

Hakim memiliki kebebasan untuk memutuskan suatu kasus. Hal ini sesuai dengan UU No. 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman pada pasal 1 ayat (1) yang menyatakan bahwa kekuasaan kehakiman adalah kekuasaan negara yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, demi terselenggaranya Negara Hukum Republik Indonesia.7 Kekuasaan kehakiman harus bebas dari campur tangan pihak lain, termasuk dari kekuasaan yudisial. Meskipun demikian, kebebasan hakim dalam menjalankan tugasnya tidaklah mutlak. Hakim harus

7 Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 2).

(7)

menegakkan hukum dan keadilan sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, sehingga putusan yang dihasilkan mencerminkan rasa keadilan bagi rakyat.8

Alasan-alasan yang digunakan hakim untuk membuat keputusan dalam suatu kasus disebut pertimbangan hakim. Pertimbangan hakim sangat penting karena menentukan apakah keputusan hakim adil atau tidak. Pertimbangan hakim adalah kunci utama untuk mencapai putusan yang adil (ex aequo et bono), pasti, dan bermanfaat bagi semua pihak yang terlibat dalam suatu kasus.

Karena itu, pertimbangan hakim harus dilakukan dengan sangat teliti, baik, dan cermat. Jika pertimbangan hakim tidak memenuhi kriteria tersebut, maka putusan hakim bisa dibatalkan oleh Pengadilan Tinggi atau Mahkamah Agung.

9

Dalam memutuskan suatu perkara, hakim mempertimbangkan berbagai aspek. Pertama, pertimbangan yuridis yang didasarkan pada landasan hukum yang digunakan, meliputi dakwaan jaksa, keterangan terdakwa, saksi, barang bukti, dan pasal-pasal. Kedua, pertimbangan non yuridis yang meliputi latar belakang perbuatan terdakwa, kondisi diri terdakwa, dan hal-hal yang memberatkan terdakwa. Ketiga, hakim juga mempertimbangkan kebenaran

8 Firman Floranta Adonara, “Prinsip Kebebasan Hakim Dalam Memutus Perkara Sebagai Amanat Konstitusi”, Jurnal Konstitusi, (Jember) Vol. 12 Nomor 2, 2015, hlm. 224.

9 Siregar, Barry Franky. "Pertimbangan hakim dalam menjatuhkan putusan terhadap residivis pengedar narkotika di kota yogyakarta." Fakultas Hukum Universitas Atma Jaya Yogyakarta (2016), hlm. 3-4.

(8)

filosofis dan sosiologis dalam memutus perkara. Terakhir, hakim juga mempertimbangkan asas keadilan, kepastian hukum, dan kemanfaatan dalam membuat putusan. Hakim juga dapat mempertimbangkan yurisprudensi, yaitu keputusan-keputusan dari hakim terdahulu untuk menghadapi perkara yang tidak diatur dalam UU. Yurisprudensi ini dijadikan sebagai pedoman bagi hakim-hakim lain untuk menyelesaikan perkara yang sama.10

2. Dispensasi Nikah

Dispensasi nikah terdiri dari dua kata yaitu dispensasi dan nikah.

Dispensasi dalam kamus besar bahasa indonesia adalah pengecualian dari aturan umum untuk suatu hal atau keadaan yang khusus, izin pembebasan dari suatu kewajiban atau larangan; suatu tindakan pemerintah yang menyatakan bahwa suatu peraturan perundang-undangan tidak berlaku untuk suatu hal yang khusus (di hukum administrasi negara).11 Singkatnya, dispensasi berarti memberikan pengecualian atau keringanan dari aturan umum, sehingga sesuatu yang biasanya tidak diizinkan, bisa dilakukan dalam keadaan tertentu.12 Sedangkan nikah (pernikahan/perkawinan) adalah membentuk keluarga dengan lawan jenis, bersuami atau beristri. Jadi dispensasi nikah adalah izin khusus

10 Brian Khukuh Wijaya, dkk., “Dasar Pertimbangan Hakim dalam Menjatuhkan Putusan Kasus Anak Yang Berkonflik Dengan Hukum (Studi Kasus Putusan Nomor.14/Pid.Sus.Anak/2015/PN SMG)”, Diponerogo Law Journal, Vol. 5 Nomor 4, 2016, hlm. 8.

11 Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Bahasa Indonesia (Jakarta, 2008), hlm. 359.

12 Nabiela Naily, dkk., Hukum Perkawinan Islam Indonesia, (Sumatera: Prenada Group, 2019), hlm. 152.

(9)

yang diberikan oleh pengadilan kepada calon pasangan yang ingin menikah namun belum mencapai usia minimal pernikahan yang ditetapkan undang- undang, yaitu 19 tahun.

Dasar hukum dispensasi nikah tertera dalam UU Nomor 16 Tahun 2019 adalah UU tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Perubahan yang terjadi pada UU Nomor 1 Tahun 1974 akibat adanya UU Nomor 16 Tahun 2019 adalah batas minimal usia perkawinan yang berubah dari 16 tahun menjadi 19 tahun. Perubahan ini tercantum dalam Pasal 7 ayat (1) UU Nomor 16 Tahun 2019 yang berbunyi “perkawinan hanya diizinkan apabila pria dan wanita sudah mencapai umur 19 (Sembilan belas) tahun”.13

Pasal 15 ayat (1) Kompilasi Hukum Islam (KHI) membahas tentang kemaslahatan keluarga dan rumah tangga dalam konteks pernikahan. Pasal ini menyatakan bahwa untuk kemaslahatan keluarga dan rumah tangga, perkawinan hanya boleh dilakukan calon mempelai yang telah mencapai umur yang ditetapkan dalam pasal 7 Undang-undang No. l tahun 1974 yakni calon suami sekurang-kurangnya berumur 19 tahun dan calon isteri sekurang

13 Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 Tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2019 Nomor 006265).

(10)

kurangnya berumur 16 tahun. Yang sekarang sudah berubah ketentuannya, jadi untuk pria dan wanita sudah berumur 19 tahun.14

Dulu, perempuan boleh menikah di usia 16 tahun, tapi sekarang aturannya berubah. Sekarang, baik laki-laki maupun perempuan harus berusia minimal 19 tahun untuk menikah. Meskipun begitu, kalau ada alasan khusus, seperti kehamilan di luar nikah atau kondisi mendesak lainnya, calon pasangan bisa mengajukan permohonan dispensasi nikah ke pengadilan. Pengadilan akan menilai apakah alasan permohonan itu kuat dan memutuskan apakah boleh menikah di bawah umur atau tidak.

Peraturan Mahkamah Agung Nomor 5 Tahun 2019 tentang Pedoman Mengadili Permohonan Dispensasi Nikah memberikan panduan yang jelas kepada hakim dalam menangani kasus permohonan dispensasi nikah.

Sebelumnya, aturan tentang dispensasi nikah masih belum diatur secara jelas dalam undang-undang. PERMA ini menekankan pentingnya anak sebagai amanah dan karunia Tuhan yang memiliki nilai dan martabat sebagai manusia.

Anak juga memiliki hak yang sama untuk tumbuh dan berkembang dengan baik.15

14 Perpustakaan Nasional RI, Himpunan Peraturan Perundang-Undangan Yang Berkaitan Dengan Kompilasi Hukum Islam Serta Pengertian Dalam Pembahasannya, Mahkamah Agung RI, 2011, hlm. 67.

15 Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2019 Tentang Pedoman Mengadili Permohonan Dispensasi Kawin (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2019), hlm. 6.

(11)

Peraturan ini juga mengacu pada Konvensi Hak Anak yang menyatakan bahwa semua tindakan yang berhubungan dengan anak harus didasarkan pada kepentingan terbaik bagi anak. PERMA Nomor 5 Tahun 2019 mencakup berbagai aspek dalam proses pemeriksaan permohonan dispensasi nikah, mulai dari persyaratan administrasi, proses pemeriksaan, pertimbangan hakim, hingga kriteria hakim yang dapat mengadili perkara dispensasi nikah.16

3. Maslahah

KBBI mendefinisikan "maslahah" sebagai sesuatu yang membawa kebaikan, manfaat, atau kegunaan. Dengan kata lain, "maslahah" adalah hal yang menguntungkan atau memberikan nilai positif. "Kemaslahatan" sendiri merupakan konsep yang lebih luas, mencakup semua aspek positif seperti kegunaan, kebaikan, manfaat, dan kepentingan. Istilah "maslahah" dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Arab "al-maslahah," yang berasal dari kata dasar "shalaha." Kata ini memiliki makna yang berlawanan dengan

"fasada" (kerusakan) dan merujuk pada hal-hal yang baik, sesuai, bermanfaat, dan membawa kemajuan. "Al-Maslahah" juga memiliki makna "kedamaian,"

seperti yang tercantum dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 227. "Maslahah"

mengacu pada manfaat yang ingin diwujudkan untuk mencapai kebaikan atau kemajuan dalam kehidupan manusia. Setiap hal yang memiliki manfaat, baik

16 Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2019 Tentang Pedoman Mengadili Permohonan Dispensasi Kawin (Buku Saku 2 Tahun 2020), hlm. 48.

(12)

dalam upaya meraihnya (jalbu al-mashalib) atau dalam menghindari hal-hal yang merugikan (dar’u al-mafasid), dianggap sebagai "maslahah”.17

F. Tinjauan Pustaka

Tinjauan pustaka memiliki tujuan untuk menyajikan teori yang terkait dengan isu yang sedang diselidiki. Oleh karena itu, tinjauan pustaka ini akan menjadi landasan dalam merancang penelitian. Penulis akan merujuk pada beberapa penelitian sebelumnya yang memiliki keterkaitan dengan isu yang akan diteliti, sebagai sumber referensi untuk mendapatkan data yang akurat yang akan digunakan dalam penelitian ini.

Skripsi oleh Fajar Muharom tahun 2016 (Fakultas Syari’ah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta). Dengan judul

“Pertimbangan Dan Diskresi Hukum Hakim Dalam Penyelesaian Dispensasi Perkawinan (Studi Perbandingan Penetapan Nomor 0093/Pdt.P/2015.PA.Btl Dengan Penetapan Nomor 0036/Pdt.P/2011.PA.Btl) Di Pengadilan Agama Bantul”. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa hakim Pengadilan Agama Bantul dalam menangani kasus permohonan dispensasi kawin memiliki pertimbangan yang berbeda-beda. Terdapat dua kasus yang dikaji dalam penelitian ini yang pertama, penetapan nomor 0093/Pdt.P/2015.PA.Btl hakim mengabulkan permohonan dispensasi perkawinan dengan alasan bahwa calon suami anak pemohon sudah berpenghasilan Rp. 1.200.000,- (satu juta dua ratus ribu rupiah).

17 M. Noor Harisudin, “Ilmu Ushul Fiqh”, (Setara Press, 2011), hlm. 253.

(13)

Hakim berpendapat bahwa mengutamakan meraih kemaslahatan dan menolak kemafsadatan. Dan hakim lebih mengedepankan kesiapaan ekonomi dan mengabaikan hak anak. Sedangkan yang kedua, penetapan nomor 0036/Pdt.P/2011.PA.Btl hakim menolak permohonan dispensasi perkawinan dengan alasan bahwa calon suami anak pemohon bekerja sebagai buruh dengan penghasilan yang tak menentu. Hakim lebih mengedepankan kemaslahatan jangka panjang dan konsekuensi-konsekuensinya bagi anak pemohon dan calon suaminya.

Dan hakim memperhatikan hak anak dan kesejahteraannya, baik yang bersifat lahiriyah maupun batiniyah, baik dari fisik dan psikis.18 Persamaan penelitian ini dengan penelitian penulis yaitu membahas pertimbangan hakim dalam memutuskan permohonan dispensasi nikah. Sedangkan perbedaannya terletak pada segi pembahasan, dimana penelitian tersebut membahas perbandingan putusan penetapan perkara dari Pengadilan Agama Bantul.

Skripsi oleh Akhsal Premadian Wibowo tahun 2022 (Fakultas Syari’ah Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta). Dengan judul “Analisis Penetapan Hakim Dalam Mengabulkan Dan Menolak Permohonan Dispensasi Nikah Di Pengadilan Agama Pangkajene Perspektif Maṣlaḥah (Studi Penetapan Pengadilan Agama Nomor 0216/Pdt.P/2020/Pa.Pkj Dan Nomor 0228/Pdt.P/2020/Pa.Pkj)”. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan

18 Fajar Muharom, “Pertimbangan Dan Diskresi Hukum Hakim Dalam Penyelesaian Dispensasi Perkawinan (studi Perbandingan Penetapan Nomor 0093/Pdt.P/2015.PA.Btl Dengan Penetapan Nomor 0036/Pdt.P/2011.PA.Btl) Di Pengadilan Agama Bantul”, Skripsi, diterbitkan, Prodi Syariah Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, Yogyakarta, 2016.

(14)

bahwa hakim Pengadilan Agama Pangkajene dalam menangani kasus permohonan dispensasi kawin memiliki pertimbangan yang berbeda-beda. Terdapat dua kasus yang dikaji dalam penelitian ini yang pertama, kasus 1 (dikabulkan) hakim mengabulkan permohonan karena khawatir anak pemohon dan calon suaminya terjerumus zina, meskipun anak tersebut belum berusia 19 tahun. Hakim berfokus pada menjaga agama (daruriyat). Sedangkan yang kedua, kasus 2 (ditolak) hakim menolak permohonan karena anak pemohon baru berusia 13 tahun dan beresiko mengalami kematian saat melahirkan. Hakim berfokus pada menjaga jiwa anak (hajiyat).19 Persamaan penelitian ini dengan penelitian penulis yaitu membahas pertimbangan hakim dalam memutuskan permohonan dispensasi nikah. Sedangkan perbedaannya terletak pada segi pembahasan, dimana penelitian tersebut membahas perbandingan 2 putusan penetapan perkara dari Pengadilan Agama Pangkajene.

Skripsi oleh Via Puspasari tahun 2021 (Fakultas Syari’ah Universitas Islam Negeri Prof. Kh. Saifuddin Zuhri Purwokerto). Dengan Judul “Pertimbangan Hakim Tunggal Dalam Perkara Dispensasi Kawin Menurut Perma No. 5 Tahun 2019 (Analisis Penetapan Pegadilan Agama Purwokerto Nomor 0420/Pdt.P/2020/Pa.Pwt)”. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa hakim tunggal di Pengadilan Agama Purwokerto dalam memutus perkara

19 Akhsal Premadianti Wibowo, “Analisis Penetapan Hakim Dalam Mengabulkan Dan Menolak Permohonan Dispensasi Nikah Di Pengadilan Agama Pangkajene Perspektif Maṣlaḥah (Studi Penetapan Pengadilan Agama Nomor 0216/Pdt.P/2020/Pa.Pkj Dan Nomor 0228/Pdt.P/2020/Pa.Pkj)”, Skripsi, diterbitkan, Prodi Syariah Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta, Surakarta, 2022.

(15)

dispensasi kawin, mempertimbangkan beberapa faktor, terutama faktor yang sangat mendesak dan tidak ada pilihan lain selain melangsungkan perkawinan.

Yang pertama, Hakim tunggal mempertimbangkan fakta bahwa calon mempelai perempuan sedang hamil, serta bukti-bukti pendukung seperti surat keterangan usia mempelai dan surat keterangan dari tenaga kesehatan yang menyatakan perkawinan tersebut sangat mendesak. Yang kedua, Hakim juga mempertimbangkan faktor kuratif, yaitu usaha penyembuhan bagi orang tua yang tidak ada pilihan lain selain menikahkan anak untuk menutup aib dan menyelamatkan status anak, serta untuk menjaga dari fitrah akibat hubungan luar nikah.20 Persamaan penelitian ini dengan penelitian penulis yaitu membahas pertimbangan hakim dalam memutuskan permohonan dispensasi nikah. Sedangkan perbedaannya terletak pada segi pembahasan, dimana penelitian tersebut membahas pertimbangan hakim tunggal.

Skripsi oleh Muhamad Rizki Akbar tahun 2023 (Fakultas Syari’ah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta). Dengan judul

“Perbandingan Landasan Hukum Pada Penetapan Dispensasi Kawin”. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa hakim Pengadilan Agama dalam menangani kasus permohonan dispensasi kawin, memiliki pertimbangan yang berbeda-beda. Adapun pertimbangan hakim dalam mengabulkan permohonan:

hakim cenderung mengabulkan permohonan jika ada alasan mendesak, terutama jika calon mempelai perempuan sudah hamil. Hakim mempertimbangkan kesiapan

20 Via, Puspa Sari, “Pertimbangan Hakim Tunggal dalam Memutus Perkara Dispensasi Kawin Menurut Perma No: 5 Tahun 2019 (Analisis Penetapan Pegadilan Agama Purwokerto Nomor 0420/Pdt.

P/2020/PA. Pwt)”, Diss. IAIN Purwokerto, 2021.

(16)

ekonomi calon suami, melihat penghasilan dan pekerjaan. Hakim menilai kesanggupan orang tua kedua calon mempelai untuk mendukung pernikahan, termasuk dalam hal ekonomi, sosial, kesehatan, dan pendidikan. Dan hakim menggunakan kaidah fiqh "Menolak mafsadat (kerusakan) lebih diutamakan daripada meraih maslahat (kebaikan)" untuk menghindari kerusakan yang lebih besar, seperti zina atau penelantaran anak. Lalu pertimbangan hakim dalam menolak permohonan: hakim cenderung menolak permohonan jika calon mempelai masih di bawah umur 19 tahun, berpedoman pada Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Hakim menolak permohonan jika tidak ada alasan mendesak yang dirasa cukup kuat untuk menyimpangi ketentuan usia minimal perkawinan. Hakim mempertimbangkan risiko kesehatan bagi calon mempelai perempuan, terutama jika masih muda dan belum siap secara fisik dan mental untuk melahirkan. Dan hakim mempertimbangkan dampak sosial dari perkawinan anak, seperti stigma dan penelantaran.21 Persamaan penelitian ini dengan penelitian penulis yaitu membahas pertimbangan hakim dalam memutuskan permohonan dispensasi nikah. Sedangkan perbedaannya terletak pada segi pembahasan, skripsi diatas memberikan analisis komparatif tentang landasan hukum, sementara penelitian ini memberikan analisis lebih mendalam tentang pertimbangan hakim di satu Pengadilan Agama.

21 Akbar, Muhamad Rizki. Perbandingan Landasan Hukum Pada Penetapan Dispensasi Kawin.

BS thesis. Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2023.

(17)

Skripsi oleh Nanda Syah Putri tahun 2022 (Fakultas Syari’ah dan Hukum Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh). Dengan judul “Analisis Perbandingan Pertimbangan Hakim Dalam Menetapkan Dispensasi Kawin (Studi Putusan Nomor: 524/Pdt.P/2020/Pa.Sor Dan Putusan Nomor:

352/Pdt.P/2021/Ms.Sgi)”. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa adanya disparitas (ketidakadilan) putusan hakim. Dua kasus dengan dasar hukum dan permasalahan serupa menghasilkan putusan berbeda. Putusan nomor 524/Pdt.P/2020/PA.Sor ditolak karena kurangnya bukti persetujuan calon mempelai perempuan, sedangkan putusan nomor 352/Pdt.P/2021/MS.Sgi dikabulkan karena alasan mendesak dan persetujuan kedua calon mempelai.22 Persamaan penelitian ini dengan penelitian penulis yaitu membahas pertimbangan hakim dalam memutuskan permohonan dispensasi nikah. Sedangkan perbedaannya terletak pada segi pembahasan, skripsi diatas memberikan analisis dua putusan hakim yang berbeda, sedangkan penelitian ini fokus pada Pengadilan Agama Temanggung. Skripsi diatas menyimpulkan perbedaan putusan disebabkan oleh penafsiran hukum, fakta persidangan, dan pertimbangan hakim.

Jurnal oleh Waluyo Sudarmaji tahun 2021 (Sekolah Tinggi Agama Islam An-Nawawi Purworejo). Dengan judul “Pertimbangan Hakim Dalam Memutuskan Perkara Dispensasi Nikah Berdasarkan Analisis Maslahah (Studi Penetapan Hakim No. 266/Pdt.P/2020/PA.Pwr di Pengadilan Agama

22 Putri, Nanda Syah. Analisis Perbandingan Pertimbangan Hakim Dalam Menetapkan Dispensasi Kawin (Studi Putusan Nomor: 524/Pdt. P/2020/PA. Sor dan Putusan Nomor: 352/Pdt.

P/2021/MS. Sgi). Diss. UIN Ar-Raniry Banda Aceh, 2023.

(18)

Purworejo)”. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa hakim mempertimbangkan urgensi pernikahan, kesiapan kedua calon mempelai, dan persetujuan keluarga, serta menganalisisnya dalam kerangka maslahah ḍaruriyyah.

Dalam kasus ini, dispensasi nikah dikabulkan untuk menjaga agama dengan mencegah dosa zina dan menjaga keturunan dengan menghindari pernikahan di bawah tangan. Hakim menilai bahwa menunda pernikahan akan berisiko lebih besar daripada memberikan dispensasi, mengingat hubungan yang telah terjalin lama dan potensi kerusakan sosial yang mungkin terjadi.23 Persamaan penelitian ini dengan penelitian penulis yaitu membahas pertimbangan hakim dalam dispensasi nikah. Sedangkan perbedaannya terletak pada lokasi penelitian, tahun penelitian, dan fokus analisis, yaitu dengan fokus pada Pengadilan Agama Temanggung tahun 2023 dan teori maslahah, sementara penelitian sebelumnya fokus pada Pengadilan Agama Purworejo tahun 2020 dan aspek urgensi pernikahan serta kesiapan calon mempelai.

G. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini termasuk jenis penelitian lapangan (field research), y aitu merupakan suatu penelitian yang dilakukan di lapangan atau di lokasi

23 Waluyo Sudarmaji, “Pertimbangan Hakim Dalam Memutuskan Perkara Dispensasi Nikah Berdasarkan Analisis Maslahah (Studi Penetapan Hakim No. 266/Pdt.P/2020/PA.Pwr di Pengadilan Agama Purworejo),” e-Journal Al-Syakhsiyyah Journal of Law and Family Studies, (Ponorogo) Vol. 3 Nomor 1, 2021.

(19)

penelitian suatu tempat yang dipilih sebagai lokasi untuk menyelidiki gejala objektif yang dilakukan juga untuk penyusunan laporan ilmiah.

Berdasarkan masalah yang ada di lapangan, penulis mengambil jenis penelitian kualitatif yang bersifat lapangan. Maka dari itu, penulis akan melakukan wawancara terhadap hakim yang bertanggung jawab terhadap perkara tersebut.

2. Sumber Data

a. Sumber data primer

Data yang diperoleh langsung berupa teks hasil wawancara dengan informan yang sedang dijadikan sampel dalam penelitian. Sumber data primer yang digunakan penulis yaitu wawancara dengan hakim yang menangani perkara dispensasi nikah di Pengadilan Agama Temanggung.

b. Sumber data sekunder

Berupa data-data yang sudah tersedia dan dapat diperoleh oleh peneliti dengan cara membaca, melihat, dan mendengarkan. Sumber data sekunder yang digunakan penulis yaitu dokumen putusan mengenai dispensasi nikah.

3. Lokasi dan Waktu Penelitian a. Lokasi Penelitian

(20)

Penelitian ini akan dilakukan di Pengadilan Agama Temanggung Kelas 1B, Jl. Pahlawan No. 3, Sayangan, Butuh, Kec. Temanggung, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.

b. Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan pada tahun Januari 2025.

4. Teknik pengumpulan data a. Wawancara

Wawancara adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui tatap muka dan tanya jawab langsung antara peneliti dan narasumber. Jenis wawancara yang akan digunakan oleh peneliti adalah wawancara secara terstruktur (structured interview), yaitu teknik pengumpulan data dengan wawancara yang dilakukan dalam bentuk questioner (pertanyaan).24

Metode ini dilakukan untuk menggali sebuah data, alasan, opini, dan sebuah peristiwa. Di dalam penelitian ini, penulis akan melakukan wawancara dengan cara tanya jawab langsung dengan hakim Pengadilan Agama Temanggung yang menangani perkara dispensasi nikah.

b. Dokumentasi

24 Sofyan A.P. Kau, Metode Penelitian Hukum Islam Penuntun Praktis Untuk Penulisan Skripsi Dan Tesis, ed. H. Zulkarnain Suleman, cet. 2 (Yogya: Mitra Pustaka, 2023), hlm. 167.

(21)

Dokumentasi merupakan suatu teknik pengumpulan data yang diperoleh dalam suatu penelitian melalui dokumen-dokumen. Dokumen yang dimaksud dalam penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi dari dokumen-dokumen yaitu berupa Putusan Pengadilan Agama Temanggung.

5. Teknik Analisis Data

Analisis data adalah pencarian atau pelacakan pola-pola. Secara sistematis dilakukan dengan cara mengubah data wawancara yang berupa rekaman suara menjadi teks tulisan, melakukan pengkodean untuk mengidentifikasi tema atau kategori yang muncul dari data hasil wawancara, mengelompokkan kode-kode yang serupa menjadi kategori-kategori yang lebih luas, mencari kesamaan atau perbedaan dalam pendapat responden, memilih mana yang penting dan akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami. Teknik analisis data yang dilakukan penulis adalah teknik analisis data kualitatif menggunakan model Milles dan Huberman dengan tahapan, ruduksi data (data reduction), paparan data (data display), dan penarikan kesimpulan atau verifikasi (conclusion drowing/verifying).25

H. Sistematika Penulisan

25 Lila Pangestu Hadiningrum, Metode Penelitian Sebuah Pengantar Disiplin Keilmuan, ed.

Yayuk Umaya, cet. 1 (Malang: Ahlimedia Press, 2021), hlm. 81.

(22)

Guna mengetahui mengenai gambaran sekilas perihal penelitian ini, maka sistematika penulisan dalam skripsi ini terbagi menjadi 5 bab yaitu sebagai berikut:

Bab I Pendahuluan, pada bab ini berisi mengenai latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, kerangka teori, tinjauan pustaka, metode penelitian, dan sistematika penulisan.

Bab II Landasan Teori, yang berkaitan dengan tinjauan umum dalam pembahasan aspek dispensasi nikah, yakni: 1) Pertimbangan Hakim, 2) Dispensasi Nikah, 3) Maslahah.

Bab III Deskripsi Data Penelitian, bab ini menjelaskan gambaran umum lokasi penelitian dan faktor-faktor pertimbangan hakim.

Bab IV Analisis Data dan Pembahasan, pada bab ini berisi analisis tentang pertimbangan hakim dalam memutuskan permohonan dispensasi nikah di Pengadilan Agama Temanggung. Selain itu, bab ini juga akan menganalisis pertimbangan hakim berdasarkan teori maslahah.

Bab V Penutup, pada bab ini berisikan kesimpulan dari penelitian yang dilakukan serta saran.

(23)

DAFTAR PUSTAKA

Adonara, F. F. (Vol. 12 Nomor 2, 2015). Prinsip Kebebasan Hakim Dalam Memutus Perkara Sebagai Amanat Konstitusi. Jurnal Konstitusi, 224.

Banyaknya Kasus Dispensasi Kawin Menurut Kecamatan Kabupaten Temanggung 2021-2023. (2024, Agustus 14). Retrieved from Badan Pusat Statistik

Kabupaten Temanggung:

https://temanggungkab.bps.go.id/id/statistics-table/2/MjExIzI=/banyaknya- dispensasi-kawin-menurut-kecamatan-di-kabupaten-temanggung.html.%20di, Brian Khukuh Wijaya, d. (2016). Dasar Pertimbangan Hakim dalam Menjatuhkan

Putusan Kasus Anak Yang Berkonflik Dengan Hukum (Stdui Kasus Putusan Nomor. 14/Pid.Sus.Anak/2015/PN SMG). Diponerogo Law Journal, 8.

Harisudin, M. N. (2011). Ilmu Ushul Fiqh. Setara Press.

Hidayat, M. (2024). Imam al-Ghazali dan Konsep Maslahah: Kontribusi Kontemporer terhadap Integrasi Etika, Ekonomi, dan Kesejahteraan dalam Hukum Islam.

Masile Jurnal Studi Keislaman, (Purwokerto), 48.

Kamus Bahasa Indonesia. (2008). Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.

Lila Pangestu Hadiningrum, e. Y. (cet.1, 2021). Metode Penelitian Sebuah Pengantar Disiplin Keilmuan. Malang: Ahlimedia Press.

Muharom, F. (2016). Pertimbangan Dan Diskresi Hukum Hakim Dalam Penyelesaian Dispensasi Perkawinan (studi Perbandingan Penetapan Nomor 0093/Pdt.P/2015.PA.Btl Dengan Penetapan Nomor 0036/Pdt.P/2011.PA.Btl) Di Pengadilan Agama Bantul. Skripsi, diterbitkan, Prodi Syariah Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta,.

(24)

Nabiela Naily, d. (2019). Hukum Perkawinan Islam Indonesia. Sumatera: Prenada Group.

Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2019 Tentang Pedoman Mengadili Permohonan Dispensasi Kawin. (2020). Buku Saku 2.

Perpustakaan Nasional RI, Himpunan Peraturan Perundang-Undangan Yang Berkaitan Dengan Kompilasi Hukum Islam Serta Pengertian Dalam Pembahasannya, Mahkamah Agung RI . (2011). 67.

Rizki, A. M. (2023). Perbandingan Landasan Hukum Pada Penetapan Dispensasi Kawin. BS thesis. Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.

Sari, V. P. (2021). Pertimbangan Hakim Tunggal dalam Memutus Perkara Dispensasi Kawin Menurut Perma No: 5 Tahun 2019 (Analisis Penetapan Pegadilan Agama Purwokerto Nomor 0420/Pdt. P/2020/PA. Pwt). Diss. IAIN Purwokerto .

Siregar, B. F. (2016). Pertimbangan hakim dalam menjatuhkan putusan terhadap residivis pengedar narkotika di kota yogyakarta. Fakultas Hukum Universitas Atma Jaya Yogyakarta, 3-4.

Sofyan A.P. Kau, e. H. (2023). Metode Penelitian Hukum Islam Penuntun Praktis Untuk Penulisan Skripsi Dan Tesis. Yogya: Mitra Pustaka.

Sudarmaji, W. (2021). Pertimbangan Hakim Dalam Memutuskan Perkara Dispensasi Nikah Berdasarkan Analisis Maslahah (Studi Penetapan Hakim No.

226/Pdt.P/2020/PA.Pwr di Pengadilan Agama Purworejo). e-Journal Al- Syakhsiyyah Journal of Law and Family Studies.

Syah, P. N. (2023). Analisis Perbandingan Pertimbangan Hakim Dalam Menetapkan Dispensasi Kawin (Studi Putusan Nomor: 524/Pdt. P/2020/PA. Sor dan Putusan

(25)

Nomor: 352/Pdt. P/2021/MS. Sgi). Diss. UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Taweh, P. M. (2022, Maret 30). Signifikannya Perkara Dispensasi Kawin terus meningkat di Masa Pandemi Covid-19. Retrieved from https://badilag.mahkamahagung.go.id/seputar-peradilan-agama/berita-daerah/

signifikannya-perkara-dispensasi-kawin-terus-meningkat-di-masa-pandemi Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1978 Tentang Perkawinan. (1974). Lembaran Negara

Republik Indonesia, 134.

Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 Tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan. (2019). Lembaran Negara Republik Indonesia.

Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman . (2009 Nomor 2). Lembaran Negara Republik Indonesia.

Wardoyo, H. (2023, Januari 20). BKKBN : Dispensasi tak bisa dijadikan ukuran naiknya kasus kawin dini. Retrieved from Antara Kantor Berita Indonesia:

https://www.antaranews.com/berita/3358443/bkkbn-dispensasi-tak-bisa- dijadikan-ukuran-naiknya-kasus-kawin-dini

Wibowo, A. P. (2022). Analisis Penetapan Hakim Dalam Mengabulkan Dan Menolak Permohonan Dispensasi Nikah Di Pengadilan Agama Pangkajene Perspektif Maṣlaḥah (Studi Penetapan Pengadilan Agama Nomor 0216/Pdt.P/2020/Pa.Pkj Dan Nomor 0228/Pdt.P/2020/Pa.Pkj). Skripsi, diterbitkan, Prodi Syariah Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta, Surakarta.

Yopani Selia Almahisa, A. A. (2021). Pernikahan Dini Dalam Perspektif Undang- Undang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam. Rechten : Riset Hukum Dan Hak Asasi Manusia, 27.

Referensi

Dokumen terkait

Pasangan Suami Istri di Desa Kemantren Paciran Lamongan. Fokus permasalahan dalam penelitian skripsi ini adalah 1) Bagaimana Proses Pelatihan Keluarga Ideal kepada

KONSEP PENDIDIKAN ANAK DALAM ALQURAN DAN IMPLIKASINYA TERHADAP

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan komunikasi interpersonal dan keharmonisan keluarga pada pasangan pernikahan dini terhadap kesehatan reproduksi di Kelurahan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan komunikasi interpersonal dan keharmonisan keluarga pada pasangan pernikahan dini terhadap kesehatan reproduksi di Kelurahan

FENOMENA CERAI GUGAT PADA PASANGAN KELUARGA SUNDA (Studi Kasus di Pengadilan Agama

Skripsi yang berjudul “ALASAN PERCERAIAN PASANGAN KELUARGA MUDA DAN UPAYA PENCEGAHANNYA DI PENGADILAN AGAMA KUDUS” ini secara umum bertujuan untuk mengetahui

Salah satu tujuan pernikahan adalah untuk meneruskan keturunan, namun kenyataannya dalam masyarakat tidak semua pasangan suami isteri yang bisa memiliki anak.Bahkan ada beberapa

Dari hasil wawancara di atas dapat ditemukan bahwa faktor yang mempengaruhi kebutuhan sosial ekonomi pada pasangan pernikahan dini di Desa Dukuh Mencek, yaitu mereka rajin, giat dalam