91
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Kesimpulan pada penelitian ini dibuat berdasarkan penelitian dan analisa terhadap Gereja HKBP Serpong di Tangerang Selatan. Penelitian dilakukan dengan pengumpulan data baik langsung pada objek studi maupun berdasarkan hasil studi literatur. Data-data yang terkumpul kemudian di analisa. Hasil analisa kemudian digunakan untuk menjawab pertanyaan penelitian yaitu:
‘Bagaimana wujud inkulturasi arsitektur tradisional Batak Toba pada bangunan gereja HKBP Serpong?’
Pertama-tama, mari kita pertajam dulu definisi dari inkulturasi arsitektur.
Inkulturasi memiliki berbagai macam definisi, namun secara terminologi maka inkulturasi dapat diartikan sebagai penyisipan mendalam nilai-nilai religi kedalam suatu kebudayaan lokal agar agama tersebut dapat diterima oleh masyarakat setempat. Inkulturasi dalam penelitian ini melibatkan dua elemen penting, yaitu liturgi gereja Kristen Protestan dan kebudayaan masyarakat Batak Toba. Inkulturasi bukanlah proses yang terjadi secara instan, melainkan adalah sebuah proses yang berjalan terus sepanjang manusia hidup dan bereaksi terhadap perkembangan lingkungan hidupnya. Dalam proses inkulturasi terjadi penyesuaian terus-menerus antara kedua elemen pembentuknya hingga mencapai tahap transformasi dari kedua unsur pembentuknya.
Sedangkan arsitektur merupakan salah satu hasil kebudayaan dan di dalam arsitektur juga tekandung nilai-nilai tradisi dan kebiasaan masyarakat setempat yang dicerminkan pada pengaturan ruang, bentuk fisik bangunan, ornamentasi dan material yang digunakan, dan sebagainya. Oleh sebab itu perwujudan dari inkulturasi suatu kebudayaan dapat dikaji dari karya arsitektur. Berdasarkan pemahaman tersebut maka inkulturasi arsitektur dapat didefinisikan sebagai penyisipan nilai-nilai dan tradisi arsitektur satu kedalam ragam arsitektur lainnya yang kemudian menghasilkan sebuah jenis arsitektur baru yang masih memiliki karakter dari kedua budaya asalnya.
Dari analisa yang dilakukan pada seluruh aspek gugus ekspresi atau bentuk arsitektur Gereja HKBP Serpong dan arsitektur rujukan maka elemen bentuk pada bangunan gereja dapat digolongkan dalam tiga kelompok. Kelompok pertama adalah
elemen bentuk yang secara visual dan konseptual sama dengan arsitektur rujukan, kedua adalah elemen yang secara visual maupun konseptual serupa tetapi mengalami perubahan, dan yang terakhir adalah elemen yang tidak dapat ditelusuri keterkaitannya dengan arsitektur rujukan. Arsitektur rujukan dalam penelitian ini adalah arsitektur tradisional Batak Toba dan arsitektur Gereja Protestan.
Terdapat beberapa aspek kajian atau indikator yang tidak ditemukan pada tipologi arsitektur Gereja Kristen Protestan. Hal ini disebabkan penyebaran gereja Kristen yang luas sehingga pada beberapa aspek tersebut tidak terdapat patokan tetap untuk dapat diklasifikasi sebagai sebuah tipologi gereja Protestan. Oleh sebab itu pada aspek-aspek kajian tersebut, analisa hanya dilakukan dengan membandingkan terhadap arsitektur tradisional Batak Toba saja.
Aspek kajian atau indikator yang menunjukkan terdapat karakter kedua arsitektur rujukan dengan penyesuaian adalah aspek yang menunjukkan adanya perwujudan inkulturasi arsitektur tradisional Batak Toba pada Gereja HKBP Serpong. Sedangkan aspek kajian yang menunjukkan persamaan atau perbedaan dengan salah satu atau kedua arsitektur rujukan belum dapat dikatakan memperlihatkan perwujudan inkulturasi pada bangunan gereja HKBP Serpong, karena berarti belum melalui seluruh tahapan proses inkulturasi.
Tabel 6.1 Klasifikasi Wujud Inkulturasi Arsitektur Gereja HKBP Serpong
93 Dari tabel klasifikasi diatas terlihat bahwa profil bentuk pada bangunan Gereja HKBP Serpong sangat didominasi oleh elemen yang berasal dari arsitektur rujukannya dengan diberikan penyesuaian, sehingga disimpulkan bahwa ditemukan adanya perwujudan inkulturasi arsitektur Batak Toba pada bangunan gereja HKBP Serpong.
Dari kedua arsitektur rujukan, karakter arsitektur tradisional Batak Toba cenderung lebih banyak terlihat pada gugus ekspresi bangunan Gereja HKBP Serpong. Karakter arsitektur gereja Protestan pada gereja HKBP Serpong paling banyak ditemukan pada penataan ruang kebaktian, dimana inkulturasi dengan kebudayaan Batak Toba terwujud dalam prosesi ibadah atau liturgi HKBP sehingga kemudian menghasilkan kebutuhan ruang serta penataan ruang yang sedikit berbeda dari tipologi arsitektur gereja Protestan konvensional. Penerapan inkulturasi Batak Toba dengan juga terlihat pada ornamentasi, pencahayaan serta penggunaan warna pada bangunan gereja, khususnya pada ruang liturgi.
Contoh perwujudan inkulturasi tersebut adalah pada penyesuaian letak ruang yang memiliki hirarki tertinggi, tata ruang ibadah yang disesuaikan dengan kesenian dan budaya Batak Toba, ornamentasi dan pencahayaan alami ruang liturgi dengan stained glass, serta penggunaan warna-warna yang mengandung makna keagamaan.
Ditemukan elemen bangunan Gereja HKBP Serpong dengan karakter yang sama dengan karakter arsitektur rujukan. Pada elemen berikut belum terwujud inkulturasi secara utuh karena tidak ditemukan penyesuaian karakter dan belum melewati tahapan transformasi. Persamaan pertama adalah pada aspek posisi ruang-ruang secara vertikal pada gereja yang sama dengan pada rumah adat Batak Toba. Kedua bangunan secara vertikal sama-sama terbagi menjadi tiga bagian utama dan fungsi yang diwadahi oleh masing-masing bagiannya pun paralel pada kedua bangunan. Persamaan kedua ditemukan pada orientasi ruang kebaktian yang sepenuhnya mengikuti arsitektur gereja konvensional yang menghadap ke timur. Ruang altar mimbar sebagai pusat orientasi ruang diletakkan pada sisi timur ruangan yang menurut arsitektur gereja melambangkan ‘surga’ dan kenaikan Tuhan Yesus ke surga.
Pada bangunan gereja HKBP Serpong juga terdapat elemen yang tidak dapat ditelusuri keterkaitannya dengan arsitektur rujukannya, yaitu posisi bangunan secara vertikal serta struktur dan konstruksi gereja. Perbedaan posisi bangunan secara vertikal pada bangunan gereja HKBP Serpong dengan bangunan tradisional Batak Toba disebabkan oleh konteks lingkungan dan fungsi bangunan yang sepenuhnya berbeda antara keduanya.
Bangunan tradisional Batak Toba memiliki fungsi yang sama dengan bangunan di sekelilingnya sedangkan Gereja HKBP Serpong merupakan sebuah bangunan ibadah di
tengah perumahan warga, sehingga ia memiliki elevasi yang lebih tinggi dari sekitarnya agar mudah diidentifikasi. Struktur dan konstruksi gereja HKBP Serpong juga sangat berbeda dengan struktur dan konstruksi yang dipakai pada bangunan tradisional Batak Toba mengingat perbedaan teknologi, ketersediaan material serta sumber daya manusia pada kedua bangunan.
Inkulturasi baru dapat dikatakan terwujud apabila penyesuaian nilai agama pada suatu kebudayaan telah melewati sebuah tahapan panjang yang diakhiri oleh tahap transformasi. Inkulturasi terwujud pada bangunan gereja HKBP Serpong karena ditemukan adanya transformasi arsitektur tradisional Batak Toba hingga menghasilkan bangunan yang memiliki fisik dengan karakter arsitektur tradisional Batak Toba namun mampu mewadahi fungsinya sebagai bangunan ibadah umat Kristen. Dalam inkulturasi, agama menjadi elemen yang tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan pemeluk agama tersebut, sehingga dalam proses inkulturasi arsitektur Gereja HKBP Serpong tentunya melibatkan prosesi kebaktian atau liturgi agama Kristen Protestan di satu sisi dan kebudayaan masyarakat Batak Toba sebagai arsitektur rujukan.
6.2 Saran
Bagi praktisi, penelitian ini dapat digunakan untuk memberikan pengetahuan bagi perancangan arsitektur secara umum dan perancangan bangunan ibadah secara khusus.
Seringkali perancangan bangunan di Indonesia hanya meniru arsitektur dari negara lain tanpa memperhatikan nilai-nilai kelokalan. Fenomena ini juga terjadi pada bangunan ibadah umat Kristen Protestan. Padahal inkulturasi arsitektur dan kebudayaan lokal merupakan hal yang lazim ditemukan pada bangunan-bangunan ibadah agama Katolik.
Kurangnya upaya inkulturasi budaya lokal dalam bangunan gereja Kristen juga seringkali dikaitkan dengan prinsip kesederhanaan dan kejujuran pada agama ini, sehingga nilai-nilai lokal tradisional cenderung dihindari karena dikaitkan dengan ornamentasi dekoratif belaka dan dianggap berbau duniawi. Diharapkan perwujudan inkulturasi pada Gereja HKBP Serpong dapat menjadi inspirasi bagi para perancang bahwa nilai-nilai budaya lokal dan kebiasaan adat-istiadat dapat diterapkan dalam bangunan gereja Kristen dengan penyesuaian yang tepat, bahkan dapat memberikan identitas dan karakter yang menjadi ciri khas bangunan gereja tersebut.
Keberadaan inkulturasi juga mendukung penyebaran agama Kristen, karena masyarakat dapat lebih mudah menerima nilai-nilai gereja dalam komunitasnya. Di sisi lain, inkulturasi juga dapat dipandang sebagai sebuah bentuk pelestarian kebudayaan, baik
95 pelestarian nilai-nilai keagamaan maupun pelestarian budaya tradisional masyarakat Indonesia.
Bagi mahasiswa arsitektur, penelitian ini mampu dijadikan bahan pembelajaran mengenai tahapan proses inkulturasi serta aplikasi nyatanya pada bidang arsitektur. Dalam pencarian wujud inkulturasi pada bangunan Gereja HKBP Serpong, penelitian juga menggunakan penelaahan bangunan berdasarkan gugus ekspresi bangunan serta aspek- aspek kajian yang terkait di dalamnya. Penelitian dapat digunakan sebagai bahan acuan bagi penelitian selanjutnya.
97
DAFTAR PUSTAKA
Buku
Lembaga Penelitian Bangunan. (1973). Traditional Buildings of Indonesia Volume 1 Batak Toba. Bandung : Kementrian Pekerjaan Umum
Napitupulu, S.P., dkk. (1986). Arsitektur Tradisional Daerah Sumatera Utara. Jakarta:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi.
Rachman, Rasid. (2010). Pembimbing ke dalam Sejarah Liturgi. Jakarta : BPK Gunung Mulia.
Schineller, P. (1990). A Handbook on Inculturation. New York: Paulist Press
Schefold, Reimar, J.M. Nas, Peter & Domenig, Gaudenz. (2003). Indonesian Houses Volume 1. Leiden : Kitlv Press
Sinaga, OFM Cap. & Mgr. Anicetus, B. (1984). Gereja dan Inkulturasi. Yogyakarta:
Kanisius
Thiry, Paul, Bennett, Richard M. & Kamphoefner, Henry L. (1953). Churches and Temple.
New York : Reinhold Publishing Corporation
Jurnal dan Disertasi
Baku, Eszter. (2012). Tradition and Liturgy: Centralising Tendencies of Church Architecture in Hungary during the Interwar Period. Budapest: Budapest University of Technology and Economics.
Crollius, Ary A. R. (1984). What is So New about Inculturation. Pontificial Gregorian University.
Greimas, J. Algirdas, Collins, Frank & Perron, Paul. (1989). Figurative Semiotics and the Semiotics of the Plastic Arts. New Literary History Vol. 20, No. 3. The Johns Hopkins University Press.
Hanan, Himasari & Wonorahardjo, Surjamanto. (2012). The Architecture of Batak Toba:
An Expression of Living Harmoniously. Bandung: Institut Teknologi Bandung.
https://journalteologi.files.wordpress.com/2014/09/03-ijt-2-1-2014-analisis-kritis- liturgi-perjamuan-kudus-hkbp2.pdf
Laurens, Joyce Marcella. (2013). Memahami Arsitektur Lokal dari proses Inkulturasi pada Gereja Katolik di Indonesia. Surabaya: Universitas Kristen Petra. Diakses 3 Maret 2018
http://repository.petra.ac.id/16300/1/Memahami_Arsitektur_Lokal_pada_Proses_In kulturasi_pada_Arsitektur_Gereja_di_Indonesia.pdf
Laurens, Joyce Marcella. (2017). Relasi Antara Makna dan Bentuk Inkulturasi Arsitektur Gereja Katolik Kasus Studi: Gereja Katolik Ganjuran-Bantul, Gereja Katolik Pugeran-Yogyakarta, Gereja Katolik Marganingsih-Kalasan. Disertasi tidak diterbitkan. Bandung: Universitas Katolik Parahyangan.
Pakpahan, Binsar Jonathan. (2014). Analisis Kritis Liturgi Huria Kristen Batap Protestan.
Indonesian Journal of Theology. Diakses 4 Februari 2018
Purba, Jimmy R. (2001). Gereja Suku di Kota: Simbiosis Tradisi dan Reliji, Kasus Studi Gereja HKBP. Disertasi tidak diterbitkan. Bandung: Institut Teknologi Bandung.
Sitinjak, Ronald H.I. (2011). Arsitektur dan Interior Gereja Katolik Inkulturatif Panguruan: Pemaknaan dengan Metode Hermeneutik Ricoeur. Yogyakarta: Institut Seni Indonesia.
Sitinjak, Ronald H.I. (2012). Proses Semiosis pada Altar Gereja HKBP Surabaya.
Surabaya: Universitas Kristen Petra.
Website
Henderson, Charles. (2004). The Significance of Color in Christian Symbolism. Diakses tanggal 31 April 2018 http:// christianity.about.com/
Napitupulu, Daniel. (2005). Tata Ruang Ibadah Gereja Kristen Protestan. Diakses tanggal 31 Januari 2018 http://buletin-narhasem.blogspot.co.id/2009/01/tata-ruang- ibadah.html
Sitio, Luhut. (2011). Arsitektur Tradisional Suku Batak. Diakses tanggal 4 Februari 2018 http://auteurdelaction.blogspot.co.id/2014/07/arsitektur-tradisional-suku-batak.html Ujan, Bernardus Boli. (2010). Penyesuaian dan Inkulturasi Liturgi, Sakramen dan Liturgi.
Diakses tanggal 31 Januari 2018 http://st-andreas.or.id/content/view/1352/1/