BAB I RINGKASAN
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan inovasi pelayanan Gizi telah dilakukan oleh Rumah Sakit Jiwa Prof. HB Saanin Padang sehingga pelayanan yang diberikan lebih baik.Instalasi gizi merupakan unit yang mengelola pelayanan gizi baik untuk rawat inap maupun rawat jalan. Rangkaian kegiatan pelayanan gizi rawat inap mulai dari perencanaan menu sampai pendistribusian makanan ke pasien. Diet yang tepat harus sesuai dengan diagnosis gizi. Jika makanan yang disediakan langsung dari instalasi gizi maka kesalahan dalam proses distribusi dapat diminimalisir karena pemorsian makanan langsung dilakukan oleh petugas pada alat makan yang tersedia.
Selama ini yang terjadi pembuatan label etiket hanya dilakukan untuk khusus pasien yang berdiet saja sehingga identitas pasien yang tidak berdiet tidak bisa diketahui pada saat pendistribusian makanan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan Teknik pengumpulan data. Adapun hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Instalasi Gizi Rumah Sakit Jiwa Prof. HB Saanin Padang telah melakukan inovasi sebagai bentuk upaya dalam meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Dengan adanya inovasi penyajian etiket pasien memberikan kemudahan dalam proses distribusi makanan kepada pasien dan makanan yang sampai ketangan pasien sesuai dengan jenis diet dan identitas pasien.
Kata Kunci : Diet, etiket, penyajian makanan
BAB II PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Nutrisionis atau ahli gizi sebagai salah satu profesi yang ada di lingkup rumah sakit dan memiliki tugas untuk melakukan pelayanan dalam bidang kesehatan salah satunya adalah penyelenggaraan makanan di rumah sakit. Dalam suatu institusi seperti rumah sakit, masalah penyelenggaraan makanan merupakan suatu subsistem dari sistem pelayanan kesehatan paripurna dari pelayanan gizi di rumah sakit itu sendiri. Sejalan dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2013 tentang Pekerjaan dan Praktik Tenaga Gizi yang menyatakan bahwa tenaga gizi dalam melaksanakan pelayanan gizi di fasilitas kesehatan, mempunyai beberapa kewenangan, salah satunya adalah melaksanakan penyelenggaraan makanan. Tujuan utama dari penyelenggaraan makanan adalah mengetahui apa yang diharapkan oleh pasien dalam hal penyediaan makanan, serta memberikan manfaat yang besar bagi pihak rumah sakit.
Rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna serta menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan dan gawat darurat (Permenkes RI No.56 Tahun 2014). Setiap rumah sakit memiliki sarana dan prasarana untuk mendukung proses pelayanan kesehatan. Salah satu sarana dan prasarana rumah sakit adalah instalasi gizi.
Instalasi gizi merupakan unit yang mengelola pelayanan gizi bagi setiap pasien rawat inap, rawat jalan, maupun keluarga pasien. Instalasi gizi merupakan fasilitas yang digunakan dalam proses penanganan makanan dan minuman meliputi kegiatan pengadaan bahan mentah, penyimpanan, pengolahan, dan penyajian makanan dan minuman. Penyelenggaraan pelayanan gizi rumah sakit merupakan suatu rangkaian kegiatan, mulai dari perencanaan menu sampai dengan pendistribusian makanan kepada pasien dalam rangka pencapaian status kesehatan yang optimal melalui pemberian diet yang tepat (Kemenkes, 2013). Sasaran mutu dalam pelayanan gizi di rumah sakit meliputi tiga indikator, yaitu ketepatan waktu pemberian makanan kepada pasien, sisa makanan yang tidak termakan oleh pasien, dan tidak adanya kesalahan pemberian diet (Muliawardani & Mudayana, 2016).
Diet yang tepat harus sesuai dengan diagnosis gizi yang telah ditetapkan kemudian diimplementasikan ke dalam suatu intervensi menu diet. Di dalam suatu menu diet terdapat standar yang harus
disesuaiakan dengan kondisi pasien. Selain jenis diet yang tetap konsistensi makanan juga perlu di perhatikan. Terdapat tiga jenis konsistensi makanan yang ada di rumah sakit yaitu makanan biasa, makanan lunak dan bubur saring. Sejalan dengan penelitian (Mardianingsih dkk., 2020) menemukan adanya hubungan antara bentuk makanan dengan sisa makanan karena terjadinya perubahan kebiasaan makan yaitu pasien yang biasanya makan nasi biasa, tetapi saat dirawat di rumah sakit diberikan makanan lunak sesuai kondisi pasien. Di instalasi gizi rumah sakit masih terjadi ketidak sesuaian konsistensi makanan yang disajikan kepada pasien. hal ini dikarenakan belum adanya alat untuk mengetahui kesesuaian jenis diet pasien berupa label etiket diet. Setiap pasien memiliki indikasi penyakit tertentu sehingga jenis diet dan bentuk konsistensi makanan yang disajikan akan berbeda.
Jika makanan disediakan di instalasi gizi sesuai dengan jenis diet pasien serta diberi etiket diet, maka kesalahan proses distribusi dapat diminimalkan karena ahli gizi dapat langsung memorsikan diet khusus pada alat makan yang telah disediakan (Mardianingsih,N.,dkk, 2020). Manfaat etiket diet agar pasien mendapatkan makanan sesuai dengan pemesanan diet dan ketentuan yang berlaku. Semua makanan yang akan didistribusikan harus diberi etiket diet yang berisi nama pasien, nama ruangan, jenis diet dan disajikan dalam keadaan tertutup. Dari uraian permasalahan di atas, maka perlu adanya inovasi yang dibuat agar dapat tertangani sehingga, penulis menggagas ide pembuatan etiket diet pasien.
B. Tujuan dan Manfaat 1. Tujuan
a. Untuk meningkatkan pelayanan gizi di rumah sakit
b.
menyediakan makanan berkualitas sesuai kebutuhan gizi, biaya, aman dan dapat diterima oleh pasien guna mencapai status gizi yang optimal
2. Manfaat
a. agar pasien mendapatkan makanan sesuai dengan pemesanan diet dan ketentuan yang berlaku BAB II
METODOLOGI
Penelitian ini sudah dilakukan sejak tahun 2021 di RS Jiwa Prof. HB Saanin Padang, Provinsi Sumatera Barat, RS Jiwa Prof. HB Saanin Padang merupakan Rumah Sakit milik pemerintah yang sudah berstatus Badan Layanan Umum Daerah (BLUD). Pendekatan yang dipergunakan dalam Penelitian ini adalah kualitatif dengan tipe penelitian Deskriptif. Adapun alasan peneliti mengunakan metode penelitian kualitatif ini adalah dikarenakan penelitian ini ingin menjelaskan inovasi-inovasi yang sudah dilakukan oleh RS Jiwa Prof. HB Saanin Padang khususnya Instalasi Gizi dalam peningkatan Pelayanan Gizi.
BAB III Pelaksanaan
Untuk melaksanakan gagasan Inovasi dari isu belum efektifnya penyajian makanan sesuai jenis diet pasien di ruang rawat inap RSUD Banyorang, terdapat 4 kegiatan yang akan dilakukan seperti penjelasan dibawah ini :
1. Penggalangan Komitmen Para Pihak Terkait
Kegiatan pertama yang dilakukan yaitu Penggalangan Komitmen Para Pihak Terkait.
Komitmen disetujui oleh direktur, kepala instalasi gizi dan pemangku kepentingan terkait. Tahapan kegiatan dimulai dengan mempersiapkan rapat untuk penggalangan komitmen, pembuatan draf komitmen dan rapat penggalangan komitmen. Outputnya berupa undangan, dafar hadir, berita acara dan surat penggalangan komitmen.
2. Pembuatan Etiket Diet Pasien
Terdapat beberapa tahapan kegiatan yang akan dilakukan. Tahapan pertama dimulai dari membuat desain etiket diet pasien. Bahan referensi etiket diet didapatkan dari pencarian di internet. Setelah membuat desain selanjutnya tahapan kedua mencetak etiket diet pasien.
Makanan biasa sama dengan makanan sehari-hari yang beraneka ragam, bervariasi, dengan bentuk, tekstur dan aroma yang normal. Susunan makanan mengacu pada pola menu seimbang yang dianjurkan bagi orang deawasa sehat. Makanan biasa diberikan kepada pasien berdasarkan penyakitnya tidak memerlukan makanan khusus (diet). Walau tidak ada pantangan secara khusus, makanan sebaiknya diberikan dalam bentuk yang mudah dicerna dan tidak merangsang saluran cerna. Makanan lunak adalah makanan yang meemiliki tekstur yang mudah dikunyah, ditelan dan dicerna dibandingkan makanan biasa. Makanan ini mengandung cukup zat-zat gizi, asalkan pasien mampu mengonsumsi makanan dalam jumlah cukup. Indikasi makanan lunak diberikan kepada pasien sesudah operasi tertentu, pasien dengan penyakit infeksi dengan kenaikan suhu tubuh tidak terlalu tinggi, pasien dengan kesulitan mengunyah dan menelan. Makanan saring atau bubur saring adalah makanan semipadat yang mempunyai tekstur lebih halus daripada makanan lunak, sehingga lebih mudah ditelan dan dicerna. Hanya diberikan untuk jangka waktu singkat selama 1-3 hari, karena kurang memenuhi kebutuhan gizi, terutama energy dan tiamin. Diberikan dalam bentu disaring atau diblender. Indikasi pemberian yaitu pasien sesudah operasi tertentu, pada infeksi akut termasuk infeksi saluran cerna, serta kepada pasien dengan kesulitan mengunyah dan menelan (Almatsier, 2010).
Langkah selanjutnya setelah mencetak etiket diet adalah meminta persetujuan kepada direktur terkait etiket diet yang akan digunakan. Output yang dihasilkan yaitu nota dinas etiket diet pasien. Tahapan ketiga yaitu pelabelan etiket diet pada peralatan makan pasien. Dalam tahapan ini, etiket diet pasien yang telah disetujui oleh direktur kemudian di tuliskan nama pasien, umur, nomor rekam medik, ruangan, dan diet. Selanjutnya etiket tempel pada peralatan makan pasien sesuai dengan jenis diet dan bentuk makanan yang di order untuk didistribusikan kepada pasien.
Etiket diet pasien diperlukan agar makanan yang sampai ke tangan pasien sesuai dengan kondisi setiap pasien sehingga apabila ada pasien yang memerlukan diet khusus proses pendistribusian makanan dapat sesuai dengan order diet pasien.
3. Simulasi dan Pengaplikasian Penggunaan Etiket Diet Pasien (EDISI)
Pada kegiatan simulasi dan pengaplikasian terdapat tiga tahapan kegiatan. Tahapan yang pertama adalah assessment awal. Kegiatan yang dilakukan yaitu menyiapkan formulir assessment awal pasien yang berisi data umum pasien mulai dari nama, nomor rekam medik, tanggal masuk rumah sakit, diagnosa pasien, diet pasien. Pada kegiatan assessment atau pengkajian gizi semua data yang berkaitan dengan pengambilan keputusan (yang dicatat berkaitan dengan gizi). Menurut (Ruliana, 2016) assessment gizi meliputi pengukuran antropometri, biokimia, pemeriksaan fisik klinis, anamnesis riwayat gizi dan riwayat personal.
a. Antropometri. Antropometri merupakan pengukuran fisik pada individu. Antropometrsi dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain : pengukuran tinggi badan (TB), berat badan (BB), panjang badan (PB), tinggi lutut (TL), lingkar lengan atas (LILA), dan lain-lain. Penilaian status gizi dilakukan dengan membandingkan beberapa ukuran tersebut, misalnya indek massa tubuh (IMT), yaitu rasio berat badan menurut tinggi badan. Parameter antropometri diperlukan untuk evaluasi status gizi.
b. Data biokimia merupakan hasil pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan yang berkaitan dengan status gizi, status metabolik dan gambaran fungsi organ yang berpengaruh terhadap timbulnya masalah gizi. Pengambilan kesimpulan dari data laboratorium yang terkait dengan masalah gizi harus selaras dengan data assessment gizi lainnya, seperti riwayat gizi yang lengkap.
c. Pemeriksaan fisik klinis. Pemeriksaan fisik klinis dilakukan untuk mendeteksi adanya kelaian klinis yang berkaitan dengan gangguan gizi. Pemeriksaan fisik terkait dengan masalah gizi merupakan kombinasi dari tanda-tanda vital (kondisi umum, tekanan darah, suhu, nadi dan pernapasan) yang dikumpulkan dari catatan rekam medik pasien.
d. Anamnesis riwayat gizi. Anamnesis riwayat gizi merupakan data meliputi asupan makanan teermasuk komposisi, pola makan, diet dan data lain yang terkait.
Dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif. Kualitatif digunakan untuk memperoleh gambaran kebiasaan makan pasien. Sedangkan cara kuanitatif digunakan untuk
mendaptkan gambaran asupan zat gizi melalui food recall 24 jam. Kemudian, dilakukan analisis zat gizi yang merujuk pada Tabel Komposisi Pangan Indonesia (TKPI).
e. Riwayat personal. Data riwayat personal meliputi riwayat obat-obatan atau suplemen yang dikonsumsi, sosial-budaya, riwayat penyakit pasien, dan data umum pasien.
Selanjutnya formulir assessment awal pasien kemudian dicetak dan meminta persetujuan direktur terkait penggunaan formulir assessment dalam bentuk nota dinas. Setiap pasien baru yang dirawat inap dilakukan pengisian assessment awal. Tahapan yang kedua yaitu melakukan simulasi dan penerapan etiket diet pasien. Peserta simulasi pada kegiatan ini yaitu petugas gizi dan juru masak/pramusaji di instalasi gizi RS Jiwa Prof. HB Saanin Padang. Sebelum melakukan simulasi terlebih dahulu menyiapkan dafar hadir dan prosedur penggunaan etiket diet pasien yang telah disetujui oleh direktur. Pada proses simulasi dijelaskan cara pengisian etiket diet pasien sesuai dengan prosedur yang ditetapkan. Kemudian dilanjutkan dengan penerapan penggunaan etiket diet pasien. Tahapan yang ketiga yaitu assessment lanjutan. Tujuan dari kegiatan ini yaitu untuk mengetahui perubahan terkait kondisi pasien setelah diberikan diet. Setelah 3 hari pasien di rawat dilakukan assessment lanjutan berupa pengukuran ulang berat badan, kondisi fisik klinis pasien, riwayat gizi dan hasil laboratorium.
4. Melakukan Monitoring dan Evaluasi
Kegiatan monitoring dan evaluasi dilaksanakan untuk mengetahui efektifitas pelaksanaan kegiatan penyajian makanan sesuai jenis diet melalui media etiket diet pasien. Kegiatan ini dilakukan untuk mengetahui respon pasien terhadap intervensi dan tingkat keberhasilannya. Tiga langkah monitoring dan evaluasi gizi :
a. Monitor perkembangan, yaitu kegiatan mengamati kondisi pasien/klien yang bertujuan untuk melihat hasil yang terjadi sesuai dengan yang diharapkan.
b. Mengukur hasil kegiatan, yaitu mengukur perkembangan atau pertumbuhan yang terjadi sebagai respon terhadap intervensi gizi. Parameter yang harus diukur adalah berdasarkan tanda dan gejala dari diagnosis gizi.
c. Evaluasi hasil, pencatatan dan pelaporan. Pencatatan dan pelaporan kegiatan asuhan gizi merupakan bentuk pengawasan dan pengendalian mutu pelayanan dan komunikasi.