• Tidak ada hasil yang ditemukan

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI JEMBER FAKULTAS USHULUDDIN, ADAB DAN HUMANIORA PRODI ILMU AL-QUR’AN DAN TAFSIR MEI 2017

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI JEMBER FAKULTAS USHULUDDIN, ADAB DAN HUMANIORA PRODI ILMU AL-QUR’AN DAN TAFSIR MEI 2017"

Copied!
118
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Fokus Penelitian

Bagaimana pembacaan Al-Quran yang dilakukan pada upacara perkawinan yang dilakukan oleh masyarakat Desa Mangaran Kabupaten Situbondo. Apa tujuan diadakannya pengajian pada pesta pernikahan yang diadakan masyarakat Desa Mangaran Kabupaten Situbondo? Bagaimana kesan pengalaman pembaca mengenai pembacaan Al-Qur'an di pesta pernikahan di Desa Mangaran Kabupaten Situbondo.

Tujuan Penelitian

Untuk mendeskripsikan kesan pembaca terhadap pengalaman pembacaan Al-Qur'an pada pesta pernikahan di Desa Mangaran Provinsi Situbondo.

Manfaat Penelitian

Definisi Istilah

Jadi yang dimaksud dengan membaca Al-Qur'an dalam penelitian ini adalah proses membaca Al-Qur'an dari awal Surat Al-Fatihah sampai akhir Surat An-Nas atau penerapan bacaannya. Al-Qur'an dari Juzi 1 sampai Juzi 30 sampai akhir atau penutup, khatam. Perkawinan berarti pelaksanaan perkawinan yang dilakukan sesuai dengan ijab kabul23 atau pengucapan janji penyerahan dan penerimaan atau persetujuan dan penerimaan di hadapan kepala.24 Nikah itu sendiri berarti ikatan perkawinan yang dilakukan sesuai dengan ketentuan. hukum dan ajaran agama.25. Sementara itu, Pak. Saiful Ra'uf, selaku pimpinan senior Khataman Al-Qur'an dan ketua KUA Kecamatan Mangaran menjelaskan, dalam praktiknya masyarakat Desa Mangaran melakukan Khataman Al-Qur'an sebelum prosesi pernikahan dilangsungkan, baik calon pengantin maupun calon pengantin. calon pengantin laki-laki telah mengadakan akad, perkawinan secara agama tetapi belum sah secara hukum, atau calon pengantin belum sah secara agama dan hukum. 26.

Maka dari definisi diatas dapat disimpulkan apa yang dimaksud dengan Khataman Al-Qur'an pada pesta pernikahan di desa. Mangaran Kabupaten Situbondo yang akan penulis pelajari adalah adat membaca Al-Qur’an dari awal sampai khatam 30 juz yang dilakukan sebelum prosesi pernikahan. Calon pengantin bisa saja sah secara agama tetapi tidak sah secara hukum, atau calon suami istri mungkin tidak sah secara agama dan hukum.

Sistematika Pembahasan

KAJIAN KEPUSTAKAAN

Kajian Teori

METODE PENELITIAN

Lokasi Penelitian

Umumnya memuat lokasi-lokasi antara lain desa, organisasi, acara, teks, dll. 11 Lokasi penelitian yang akan penulis gali adalah di salah satu atau beberapa rumah warga di Desa Mangaran Kabupaten Situbondo Jawa Timur yang merupakan pengajian Al-Qur'an dan pada pernikahan putra dan putrinya. Alasan peneliti memilih tempat penelitian ini karena fenomena pembacaan Al-Quran dalam pernikahan sangat unik dan menarik untuk dikaji serta merupakan salah satu fenomena Living Quran yang masih luput dari pengamatan kalangan akademisi apapun manfaatnya. fenomena ini kepada masyarakat umum.

Subjek Penelitian

Sumber data dapat berupa perkataan dan tindakan tokoh agama, pemimpin upacara, pemimpin organisasi, dan pengikut yang terlibat dalam kegiatan yang bersangkutan. Sedangkan sumber data dokumenter adalah sumber data yang sengaja ditulis oleh penciptanya sebagai dokumen sejarah atau dokumen tertulis yang diabadikan. Sedangkan berdasarkan jenisnya, sumber data juga dibedakan menjadi dua, yaitu (1) data primer dan (2) data sekunder.

Jenis data primer adalah data yang diperoleh langsung dari penganut agama tersebut; sedangkan jenis data sekunder adalah komentar orang lain atau data yang dikumpulkan dari hasil penelitian orang lain.16. Maka sehubungan dengan penelitian Living Qur'an tentang fenomena pembacaan Al-Qur'an pada pesta pernikahan di Desa Mangaran Kabupaten Situbondo, di bawah ini penulis akan menyebutkan siapa dan apa. Keluarga atau tuan rumah yang memegang khataman Al-Qur'an pada acara pernikahan putra atau putrinya.

Sedangkan untuk sumber data dokumenter, penulis menggunakan berbagai sumber data seperti buku, majalah, tesis, disertasi dan sumber data lain yang berkaitan dengan tugas penelitian. Oleh karena itu pada tahap pertama peneliti hanya perlu mengambil satu informan saja sebagai langkah awal, kemudian dari informan pertama peneliti akan mencari informan selanjutnya yang ikut terlibat dalam pementasan pengajian di pesta pernikahan karena hal ini menjamin mereka paham. dan memahami apa yang peneliti butuhkan. Maka sebagai langkah awal, peneliti akan menggali data terlebih dahulu dari para pemimpin salat Al-Qur'an dalam pernikahan.

Diantaranya adalah Bpk. Saiful Ra'uf sebagai pemimpin Khataman Al-Quran dan juga menjabat sebagai Penghulu di Desa Mangaran. Selanjutnya, Pak. Nur Wali dan Bpk. Anshori juga percaya bahwa mereka adalah pemimpin pengajian. Setelah itu dilanjutkan menggali data dan informasi dari berbagai informan lain seperti anggota Khataman Al-Quran, baik dari salah satu anggota yaitu Bapak. Saiful, Pak. Nur Wali atau salah satu anggota Bpk. Anshori.

Kemudian peneliti akan menggali informasi dari anggota keluarga yang mengadakan khataman Al-Qur'an di pesta pernikahannya tentang maksud dan tujuan mereka mengadakan khataman Al-Qur'an sebelum pernikahan putra atau putrinya.

Teknik Pengumpulan Data

Begitu seterusnya sampai peneliti benar-benar memperoleh hasil data dan informasi yang dikumpulkan cukup dengan bukti hasil yang sama dan tidak berubah.18 Atau dengan kata lain sampai peneliti tidak lagi menemukan informasi baru, bosan, informasi tersebut tidak ada lagi. “berkualitas” karena sama dengan data informan sebelumnya.19. Muhammad Yusuf menjelaskan observasi sebagai salah satu metode utama dalam penelitian sosial keagamaan, khususnya penelitian naturalistik (kualitatif), adalah mengamati dan mendengarkan untuk memahami, mencari jawaban, mencari bukti-bukti fenomena sosial keagamaan tanpa melalui proses fenomena tersebut menjadi kenyataan. diamati 21 Untuk itu seorang peneliti diharapkan berusaha untuk diterima oleh masyarakat sebagai warga negara atau 'orang dalam' sehingga kecurigaan subjek hilang dan mereka tidak merasa sedang diteliti 22. Dalam hal ini peneliti hanya melakukan pengamatan dan kehadirannya tidak diketahui oleh subjek yang diteliti.

Artinya peneliti sendiri yang menghadiri acara tersebut, namun kehadirannya di lokasi menunjukkan peran pasif yang tidak melakukan pencatatan, kecuali tidak diketahui oleh yang diperiksa atau hanya membawa alat perekam yang tersembunyi. Artinya seorang peneliti memainkan beberapa peran aktif dan kehadirannya tidak mengganggu atau mempengaruhi sifat naturalistiknya. Model keempat adalah pengamat peran. Oleh karena itu, peneliti sekurang-kurangnya harus menjadi anggota resmi kelompok yang diamati dalam kegiatan yang diselidiki.

Pembagian empat jenis observasi Muhammad Yusuf di atas tidak jauh berbeda dengan tipologi observasi berbasis pengamat yang dipetakan oleh banyak sosiolog seperti Norman K. Denzin, Nan Lin dan George Ritzer yang dikutip oleh Kamanto Sunarto dalam bukunya Pengantar Sosiologi 24 Sementara itu , Soeharto membagi observasi berdasarkan observasi menjadi dua bagian. Maka dari penjelasan diatas terkait dengan pembahasan observasi, maka peneliti akan mencoba melakukan proses observasi tersebut dengan menjadi pengamat yang berperan aktif atau menjadi pengamat yang berperan penuh dalam kegiatan membaca Al-Qur'an di pernikahan.

Karena observasi jenis ini akan sangat cocok digunakan oleh peneliti untuk memperoleh banyak kemudahan dalam memperoleh informasi dan data yang dibutuhkan dalam penelitian. Untuk itu sebagai instrumen untuk menggali data dan informasi yang diperlukan, peneliti akan menggunakan teknik wawancara mendalam. Dengan teknik ini akan terungkap sejarah keagamaan informan sebagai anggota masyarakat atau tokoh masyarakat, sehingga diharapkan dapat mengungkap pengalaman dan pengetahuan baik yang tersurat maupun yang tersembunyi.

Dalam pelaksanaannya, peneliti akan mengajukan beberapa pertanyaan kepada subjek penelitian yang terlibat langsung dalam kegiatan mengaji di pesta pernikahan, seperti awal mula sejarahnya, siapa pemimpin dan anggota pembacanya, syarat-syarat membacanya, apa tujuan menjaga tradisi yaitu, apa pandangan, persepsi atau penafsirannya, seperti apa pengalaman saat terlibat dalam tradisi; senang, tidak bahagia, tenang, gelisah, jengkel dan sebagainya.31. Maksudnya dokumentasi ini dilakukan untuk mendukung dan menambah informasi dari sumber-sumber selain rincian spesifik dari salah satu teknik pengumpulan data.32. Pada bagian ini peneliti akan menelusuri dan mendokumentasikan kemudian mengkaji hasil penelitian, baik berupa teks maupun dokumen foto yang memberikan informasi visual tentang kegiatan mengaji.

Analisis Data

Mencerminkan suatu pernyataan dari hasil wawancara yang tetap dan menonjolkan sesuatu yang hakiki dari kenyataan yang ada. Mensistematisasikan dan memadukan pemahaman yang diperoleh dari hasil deskripsi, pemahaman, refleksi ke dalam uraian struktur pengetahuan.

Keabsahan Data

Tahap-tahap Penelitian

  • Keadaan Demografis Desa Mangaran kabupaten

Desa Mangaran iku salah siji saka enem desa ing Kecamatan Mangaran, Kabupaten Situbondo. 1http://goo.gl/mapsc35eoZFjkho, pungkasan diakses tanggal 10 Mei 2017 2https://situbondokab.bps.go.id/website/pdf_publikasi/Statistik-Daerah-Kecamatan- Mangaran-2016 diakses tanggal 10 Mei 2017. Wilayah lan watese Desa Mangaran, Kabupaten Situbondo. Dene miturut ambane desa Mangaran yaiku 3.402 km3 kanthi rincian wates antarane desa Mangaran lan desa liyane isih ana ing wilayah kecamatan Mangaran kaya ing ngisor iki: 4 .

3 Faisol Amir & Harjadi Kartono, Statistik Daerah Kecamatan Mangaran Tahun 2016 (Panarukan: Badan Pusat Statistik Kabupaten Situbondo, 2016), 1. Kondisi demografi Desa Mangaran Kabupaten Situbondo. Kondisi demografi terdiri dari beberapa bagian yaitu. Kondisi demografi terdiri dari beberapa bagian, yaitu: kehidupan sosial, ekonomi, pendidikan, dan keagamaan masyarakat. Dalam bidang sosial budaya, Pak. , yang biasa disebut kawasan Tapal Kuda, tambahnya.

7 https://situbondokab.bps.go.id/website/pdf_publikasi/Statistik-Daerah-Kecamatan- Mangaran-2016 yang diakses pada 10 Mei 2017. Mengenai pendidikan di Desa Mangaran, jumlah gedung sekolah dan jumlah siswa yang berkedudukan pada tahun 2014 dan 2015 di Desa Mangaran sebagai berikut: 8.

Penyajian dan Analisis Data

  • Pelaksanaan Khataman Al-Qur’an dalam Acara
  • Syarat-syarat Pembaca Khataman Al-Qur’an
  • Pemimpin dan anggota Khataman Al-Qur’an

Referensi

Dokumen terkait

Dari berbagai pengertian yang disampaikan oleh beberapa pendapat maka dapat diambil pengertian bahwa ghaib adalah segala sesuatu yang tersembunyi yang tertutup

69 Hamka, Tafsir al-Azhar, 522.. hidup di antara sesamanya lebih meringankan mereka dalam menjalani kehidupan pernikahan. Sehingga melahirkan buah ketenangan dan

Dalam menemukan konsep mubazir dalam Al-Qur’an, digunakan beberapa langkah metode tafsir maudhu’i yang dirumuskan oleh Abdul Hay Al-Farmawi. Dalam rumusan

Sementara, Ilmu pendidikan Islam Fannu al-Tadris, tujuan mengajarkan al-Qur‟an kepada murid-murid adalah sebagai berikut: (a) untuk menjelaskan asas utama syari‟at

Sejarah hermeneutika al-Qur‟an dari aspek ini sebenarnya bisa saja disamakan dengan tafsir dan ta‟wil yang bernuansa hermeneutis yang telah ada dalam tradisi Islam klasik.

Tetapi di sini hendak dipakai dalam cakupan yang lebih luas, yakni tafsir al-Qur‟an yang menjadikan filsafat ilmu dan teori ilmiah sebagai perangkat memahami konteks untuk

Quraish Shihab memberi pembahasan bahwa Merupakan kebiasaan al-Qur‟an menggandengkan sesuatu dengan lawannya yaitu riba dengan zakat dan sedekah agar perbandingan yang diharapkan

1.3 Tujuan Penelitian Sesuai dengan permasalahan yang telah dirumuskan maka tujuan penelitian dalam pembahasan ini adalah : 1.3.1 Untuk mengetahui upaya yang dilakukan Prodi