PENDAHULUAN
Latar belakang Masalah
Salah satu kegiatan muamalah yang dilakukan atau dilakukan oleh masyarakat adalah transaksi atau biasa dikatakan jual beli. Khiyar sangat diperlukan untuk jual beli karena peristiwa seperti di atas bisa saja terjadi.
Rumusan Masalah
Adapun jenis khiyar yang menimbulkan perselisihan akibat perbedaan pendapat tentang hukum adalah khiyar majlis, khiyar ru'yah dan khiyar ta'yin. Maka penulis bermaksud untuk melakukan penelitian tesis ini dengan tajuk “Konsep Khiyar Menurut Mazhab Abu Hanifah dan Mazhab Imam Syafi’i”.
Tujuan Masalah
Untuk mengetahui punca perselisihan pendapat antara mazhab Abu Hanifah dan mazhab Imam Syafi'i mengenai konsep khiyar dalam jual beli. Menemui kaitan konsep khiyar menurut mazhab Abu Hanifah dan mazhab Imam Syafi'i dalam jual beli kontemporari.
Kegunaan Penelitian
Definisi Istilah/ Pengertian Judul
- Konsep
- Khiyar
- Mazhab
- Abu Hanifah
- Imam Syafi’i
Imam Syafi'i dengan nama penuh Abu Abdullah Muhammad bin Idris As Syafi'i adalah mufti agung Islam Sunni yang lahir di Gaza, Palestin 150 H/. Relevan bermaksud hubungan, mata kail atau mata rantai.12 Penyelidikan ini akan menghubungkan timun antara mazhab Abu Hanifah dan mazhab Imam Syafi'i dengan jual beli semasa.
Tinjauan Penelitian Revelan
15Sarip Hidayat, “Studi Banding Pamdangan Ibnu Hazm dan Asy-Saukani tentang Khiyar dalam Jual Beli”, (Skripsi Universitas: IAIN Sunan Kalijaga, 2002). Persamaan penelitian Hartina dengan peneliti adalah sama-sama membahas tentang khiyar dalam jual beli.
Landasan Teori
- Jual beli
- Perbandingan
26Jaih Mubarok, dan Hasanuddin, Fikih Mu'amalah Maliyyah Akad Jual Beli (Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2018), hal. Kebanyakan ulama berpendapat bahwa orang yang melaksanakan akad jual beli haruslah orang yang sudah dewasa dan juga sehat. Misalnya Rini menjual barangnya dan sekaligus membeli barang yang dijualnya sendiri, maka jual belinya tidak sah.30.
Apabila persetujuan dan penerimaan dinyatakan atau tersirat dalam transaksi penjualan, pemilikan barang atau wang telah berubah. Jual beli yang hartanya disebut dalam akad ialah jual beli salam (jual beli dalam bentuk pesanan). Subban ZA., "Pengundian (Khiyar) dalam Transaksi Jual Beli Media Sosial dari Perspektif Hukum Islam" Jurnal Akademia, 11.
Metode penelitian
Objek yang akan menjadi sumber penelitian ini adalah kitab-kitab resmi yang menjadi pedoman dalam mempelajari ilmu ekonomi, khususnya buku-buku mengenai konsep khiyar mazhab Hanafi dan mazhab Syafi’i. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari buku-buku yang berkaitan dengan objek penelitian 82 Sumber data sekunder biasanya diperoleh dari sumber instansi, perpustakaan, website internet atau dari pihak lain. Pemeriksaan data yaitu memeriksa dan meneliti kembali data yang telah dikumpulkan penulis, terutama berkenaan dengan kelengkapan data yang diperoleh, kejelasan makna, keselarasan data yang diambil dan relevansinya dengan penelitian.83.
Klasifikasi merupakan pengolahan yang dilakukan peneliti dalam menganalisis data dengan cara mengelompokkan data ke dalam beberapa kategori. 84 Klasifikasi digunakan peneliti untuk menganalisis data yang dikumpulkan. Verifikasi adalah proses mengoreksi, menyaring, membenarkan atau menolak suatu proposisi (postulat, rancangan proposisi) dan membuktikan kebenarannya 85. Verifikasi adalah tahap yang digunakan peneliti untuk meninjau data yang telah dikumpulkan setelah melakukan tahap klasifikasi untuk menghindari kesalahan. kesalahan dan tidak terjadi kesalahan. Analisis (analisis) adalah sesuatu yang bersifat deskriptif, menguraikan, dan menganalisis.86 Pada tahap ini analisis terhadap data yang diperoleh dihubungkan dengan fokus masalah yang diteliti.
KONSEP KHIYAR MENURUT MAZHAB HANAFI
Biografi Abu Hanifah
- Riwayat Hidup Imam Abu Hanifah
- Menuntut Ilmu atau Pendidikan Imam Abu Hanifah
- Guru-guru dan Murid-murid Imam Abu Hanifah
- Asal-usul Mazhab Abu Hanifah
- Kedudukan mazhab Abu Hanifah
91Ibnu Eman al Cidadapi, Biografi Imam Abu Hanifah: Pelopor Mahzhab Hanafi dalam Islam, (Jakarta: Penerbit Putra Danayu, 2018), hal. Imam Abu Hanifah melanjutkan belajar pada kelompok halaqat (pendidikan) di kota Basrah. Imam Abu Hanifah membagi waktunya, sebagian waktunya untuk urusan komersial dan sebagian lagi untuk urusan ilmu.
Imam Abu Hanifah mendasarkan mazhabnya kepada Al-Quran, Hadis, Al-Ijma, Al-Qiyas dan Al-Istihsan. Terdapat pelbagai jenis hujah atau pendapat umat Islam mengenai kedudukan mazhab Abu Hanifah. Sebab itulah imam Abu Hanifah menggunakan kaedah qiyas dan istihsan untuk menentukan hukum khususnya dalam hukum jual beli atau muamalah.
Pendapat Mazhab Abu Hanifah tentang Khiyar
Pembeli mempunyai hak untuk menuntut penjual atas kecacatan barang, maka hakim wajib menyiasatnya. Pada khiyar ru'yah, mazhab Abu Hanifah membenarkan jual beli sesuatu jika pembeli belum melihat barang tersebut. Walau bagaimanapun, jika penjual menjual barangan yang pembeli tidak dapat melihat dan tanpa menjelaskan spesifikasinya, penjualan tersebut adalah tidak sah.
Pembeli memperlakukan barang yang diperdagangkan sedemikian rupa sehingga barang tersebut tidak dapat dikembalikan atau jual beli tidak dapat dibatalkan. Namun apabila terjadi cacat pada barang yang disebabkan oleh penjual, maka pembeli berhak menarik kembali atau melanjutkan akad. Jika pembeli membeli barang yang belum terlihat atau tidak tersedia pada saat akad, maka pihak tersebut berhak mendapatkan khiyar ru’yah setelah ia melihat barang tersebut.
KONSEP KHIYAR MENURUT MAZHAB IMAM SYAFI’I
Biografi Imam Syafi’i
- Riwayat hidup Imam Syafi’i
- Menuntut Ilmu atau Pendidikan Imam Syafi’i
- Guru-guru dan Murid-murid, Imam Syafi’i
- Karya-karya imam Syafi’i
Setelah itu, Imam Asy-Syafi kemudian pergi ke Madinah, beliau belajar di sana dan menjadi murid Imam Malik bin Anas. Imam Syafii menulis kitabnya di Baghdad bernama al-Hujjah, yang mengandungi mazhab Kadim.143 Selepas itu, pada tahun 200 Hijrah beliau berpindah ke Mesir. Adapun sumber-sumber imam mazhab Asy-Syafi’i adalah berdasarkan al-Quran dan Sunnah Nabi, kemudian ijmak dan qiyas.144.
Imam Asy-Syafi'i belajar di berbagai tempat antaranya Mekah, Madinah, Yaman, Iraq, Baghdad dan lain-lain. Adapun guru-guru Imam Asy-Syafi'i ialah Muslim bin Khalid Az-Zhanji, Imam Malik bin Anas, Ibrahim bin Sa'ad, Ad-Darawardi, Said bin Salim Al-Qaddah, Abu Dhamrah, Ibnu Ulyah, Sufyan bin. Selepas Imam Asy-Syafi'i meninggal dunia, murid-muridnya mengumpul beberapa pelajaran yang mereka pelajari daripadanya untuk mencipta sebuah kitab dengan sangkaan yang paling kuat ialah kitab itu bernama Al-Umm.
Pendapat Imam Syafi’i tentang Konsep Khiyar
Sementara itu, para imam mazhab Syafi’i berpendapat bahwa transaksi jual beli yang dilakukan adalah dengan ijab kabul dan akseptasi. Transaksi jual beli tersebut bebas, yaitu tidak mengikat selama kedua belah pihak yang mengadakan akad masih hadir dalam satu pertemuan yang sama di tempat terjadinya transaksi. Kriteria “terpisah” sama dengan “urf, yaitu kedua belah pihak mengadakan perjanjian secara terpisah dari tempat terjadinya transaksi jual beli.
Mazhab Abu Hanifah membenarkan adanya khiyar Ru'yah dalam transaksi jual beli di mana pada masa jual beli sesuatu barang atau benda yang belum dilihat oleh pembeli. Kaitan konsep Khijar menurut mazhab Abu Hanifah dan mazhab Imam Syafi' dengan jual beli masa kini. Pada zaman mazhab Abu Hanifah dan mazhab Imam Syafi’i dalam menangani kejadian atau kes jual beli yang boleh memudaratkan salah satu pihak iaitu dengan penggunaan timun.
ANALISIS PERBANDINGAN KONSEP KHIYAR MENURUT
Analisis Perbedaan Konsep Khiyar menurut Mazhab Abu Hanifah
- Khiyar Majlis
- Khiyar Ru’yah
- Khiyar Ta’yin
Imam Abu Hanifah tidak membolehkan khiyar majlis karena dalam suatu transaksi jual beli, jika persetujuan dan penerimaan telah dinyatakan, maka jual beli tersebut bersifat final. Menurut mazhab Abu Hanifah, dalam jual beli tentu ada penentuan apakah suatu barang sejenis atau berbeda jenisnya. Hal ini disebabkan oleh metode yang digunakan untuk menentukan hukum khiyar dalam jual beli.
Mazhab Abu Hanifah tidak menghalalkan khiyar kerana jual beli adalah sah apabila telah berlaku ijab dan kabul, kecuali ada kecacatan atau tidak serasi, maka boleh jadi khiyar aib, khiyar bersyarat atau khiyar ru'yah. Mazhab Abu Hanifah membenarkan khiyar ta'yin dan khiyar ru'yah berdasarkan qiyas dan istihsan kerana kedua-dua khiyar ini diperlukan oleh pelaku jual beli tersebut untuk mendapat manfaat dalam jual beli agar tidak ada pihak yang dirugikan. . Manakala mazhab Syafi’i dalam menentukan hukum-hukum mengenai khiyar dalam jual beli guna atau berdasarkan hadis.
Relevansi antara Konsep Khiyar menurut Mazhab Abu Hanifah
Dengan demikian, relevansi konsep khiyar dalam jual beli masa kini belum sepenuhnya relevan karena adanya beberapa perbedaan antara penerapan retur dan jaminan dengan konsep khiyar menurut mazhab Abu Hanifah dan mazhab Imam Syafi'i. pertimbangan yaitu jangka waktu yang diberikan kepada pembeli lebih dari 3 hari dan pembatalan. Kontrak pelaksanaan retur dan jaminan dalam jual beli saat ini biasanya hanya berupa penukaran barang dengan barang lain, tidak berupa pengembalian uang sesuai dengan harga barang yang dikembalikan atau dijamin tersebut. Syafi'i dalam menentukan hukum mengenai khiyar dalam aplikasi jual beli atau berdasarkan hadis. Relevansi konsep khiyar dalam jual beli masa kini belum sepenuhnya relevan karena adanya beberapa perbedaan antara pelaksanaan retur dan jaminan dengan konsep khiyar menurut mazhab Abu Hanifah dan mazhab Imam Syafi'i yaitu waktu. jangka waktu yang diberikan kepada pembeli lebih dari 3 hari dan pembatalan kontrak pada saat pengembalian. dan jaminan biasanya hanya berupa penukaran barang dengan barang lain, bukan berupa pengembalian uang berdasarkan harga barang yang dikembalikan atau jaminan.
Oleh karena itu, penjual atau pedagang seharusnya mempunyai hak untuk memilih apakah akan memberikan khiyar kepada pembeli atau konsumen dengan tujuan memberikan keuntungan dalam transaksi jual beli. Hak memilih (Khiyar) dalam transaksi jual beli di media sosial menurut perspektif Hukum Islam “Jurnal Akademi, 11. Analisis Hukum Ekonomi Islam Khiyar dalam Sistem Jual Beli E-commerce di Quantum Kota Parepare”.
PENUTUP
SIMPULAN
Mazhab Abu Hanifah membahagikan khiyar iaitu: khiyar 'aib, khiyar bersyarat, khiyar ru'yah, sifat khiyar, khiyar ta'yin, khiyar dan khiyar tahgrir, khiyar kamiyah, khiyar istihqaq, khiyar khiyar, taghrir, khiyar khianat, dsb. .beberapa bentuk khiyar iaitu himpunan khiyar, syarat khiyar, khiyar aib, talaqqi ar-rukban, khiyar tafriiq ash-shafqah, dll.Mazhab Abu Hanifah dalam menentukan hukum budi menggunakan atau berdasarkan hadis, tetapi juga menggunakan. kaedah qiyas dan istihsan .
Oleh sebab itu, khiyar ru'yah dan khiyar ta'yin tidak dibenarkan dalam mazhab berdasarkan hadis gharar.
SARAN
Khiyar (Hak Memilih) dalam Transaksi Online: Studi Banding antara Lazada, Zalara dan Blibli”, Jurnal Ekonomi Syariah, 1. Mazhab Fiqih Dalam Pandangan Syariat Islam (kritik terhadap pandangan perlunya satu mazhab agama) “Dusuriyah: Jurnal Hukum Islam, Undangan Perundang-undangan dan Lembaga Sosial¸ 7. Konsep Khiyar 'aib dan Relevansinya dengan Jaminan”, TAFAQQUH: Jurnal Hukum Ekonomi Syariah dan Ahwal Syahsiyah, 1.
Konsep khiyar menurut Syekh Daud bin Abdullah al-Fatani dalam Furu'al al-Masa'il", Jurnal Syari'ah, 21. Dinamika Perbedaan Madrasah Ibtidaiyah (Studi Praktik Sekolah di Aceh)", FUTURA Jurnal Ilmiah ISLAM, 17. Pemenuhan khiyar nyata dalam transaksi buku tersegel menurut perspektif Fiqih Muamalah (studi kasus toko buku di Banda Aceh).