Experiental Marketing dan Customer Relationship Marketing untuk Meningkatkan Repurchase Intention Konsumen Indomaret
Imel Salasguni
Universitas BSI Bandung, [email protected]
ABSTRAK
Experiental marketing dan Customer relationship marketing merupakan suatu aktivitas usaha yang dilakukan dan dikelola untuk mencapai kepuasan pelanggan atau konsumen yang dapat meningkatkan kepercayaan, hubungan jangka panjang yang saling menguntungkan dengan menawarkan kualitas yang tinggi. Repeat Purchase intention dapat menjadi faktor penting dalam meningkatkan citra baik perusahaan, menjadi tolak ukur konsumen untuk dapat loyal terhadap perusahaan dan dapat menambah profit jangka panjang perusahaan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran dan pengaruh Experiental marketing dan Customer relationship marketing untuk meningkatkan Repeat Purchase intention pada konsumen Indomaret Rancaekek.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif verifikatif. Adapun teknik pengambilan data berupa observasi, kuesioner, dengan menggunakan data primer. Hasil penelitian secara parsial menunjukan tidak ada pengaruh antara Experiental marketing terhadap Repeat Purchase intention dan adanya pengaruh yang antara Customer relationship marketing terhadap Repeat Purchase intention. Secara simultan, menunjukan adanya pengaruh antara Experiental marketing dan Customer relationship marketing terhadap Repeat Purchase intention
.Kata Kunci : Experiental Marketing, Customer Relationship Marketing, Repeat Purchase Intention
ABSTRACT
Experiental marketing and Customer relationship marketing are business activities undertaken and managed to achieve customer or consumer satisfaction that can increase trust, long-term mutually beneficial relationships by offering high quality.
Repeat Purchase intention can be an important factor in enhancing a company's good image, becoming a benchmark for consumers to be loyal to the company and can increase the company's long-term profit. The purpose of this study was to determine the description and influence of Experiental marketing and Customer relationship marketing to increase Repeat Purchase intention in Indomaret Rancaekek consumers.
The method used in this research is descriptive verification. The data collection techniques are observation, questionnaire, using primary data. The partial results of the study showed that there was no effect between Experiental marketing on Repeat Purchase intention and the existence of influence between Customer relationship marketing on Repeat Purchase intention. Simultaneously, showed a influence between Experiental marketing and Customer relationship marketing on Repeat Purchase intention
.Keywords: Experiental Marketing, Customer Relationship Marketing, Repeat Purchase Intention
I. PENDAHULUAN
Ritel minimarket merupakan pasar swalayan yang hanya memiliki satu atau dua mesin register atau mesin kasir. Minimarket
merupakan usaha yang berhubungan langsung dengan konsumen, sehingga segala sesuatu yang dilakukan pengelola bisnis minimarket disamping untuk memperoleh keuntungan
juga bagaimana pengelola minimarket dapat memuaskan pelanggan. Bisnis minimarket yang berkembang di kota-kota besar saat ini, Menimbulkan persaingan yang sangat tajam dalam memenuhi berbagai macam kebutuhan (dian A, 2017).
Kebutuhan yang disediakan minimarket diantaranya ialah kebutuhan konsumen sehari- hari meliputi produk kebutuhan rumah tangga.
Dilansir dari data Aprindo (Asosiasi pengusaha ritel Indonesia) nilai penjualan ritel modern 3 tahun terkhir menunjukan angka:
Tabel 1.1
Nilai Penjualan Ritel Modern
Tahun Jumlah
2016 Rp. 205 Triliun
2017 Rp. 212 Triliun
2018 Rp. 233 Triliun
Sumber: Data Aprindo
Berdasarkan data diatas menunjukan bahwa selama 3 tahun terakhir ritel modern seperti minimarket menunjukan hasil yang baik dengan menunjukan nilai yang terus meningkat secara bertahap.
Salah satu minimarket yang sedang berkembang saat ini dan mendapat respon baik oleh konsumen yaitu Indomaret. Usaha ini banyak ditemukan di seluruh wilayah.
Tingginya tingkat persaingan yang ada membuat penjualan pun meningkat. Tak heran banyak minimarket berdiri diwilayah-wilayah dengan jarak yang cukup dekat bahkan berdampingan satu sama lain. Hal ini membuat daya saing yang ketat dan tingkat persaingan nya pun tinggi untuk menarik minat konsumen.
Dalam hal tersebut repeat purchase intention cocok untuk diterapkan, dimana mengharuskan perusahaan mempunyai daya tarik lebih untuk menarik minat beli ulang pada konsumen dan membuat konsumen tertarik datang kembali ke gerai/toko. Minat seseorang baik yang bersifat menetap atau yang bersifat sementara, dan berbagai sistem motivasi yang dominan merupakan faktor penentu internal yang benar-benar mendasar dalam mempengaruhi perhatiannya.
Sehingga salah satu pendekatan yang sesuai dengan usaha dalam memberi kepuasan dan mempertahankan pelanggan adalah relationship marketing, yaitu prinsip pemasaran yang menekankan dan berusaha
untuk menarik dan menjaga hubungan yang baik dalam jangka panjang dengan pelanggan, supplier maupun distributor (Prasasty, 2003).
Implikasi dari relationship marketing yaitu dapat meningkatkan kepercayaan, hubungan jangka panjang yang saling menguntungkan dengan menawarkan kualitas yang tinggi, pelayanan yang baik dan harga yang sesuai, serta mengurangi waktu tunggu diantara kedua belah pihak dengan adanya transaksi rutin. Selain konsep relationship marketing, konsep experiental marketing juga cocok diterapkan.
Dengan menerapkan experiential marketing, perusahaan ritel yang bergerak dibidang minimarket dapat mengambil keuntungan dengan adanya experiential marketing. Karena, konsep pemasaran ini lebih mengutamakan pendekatan kepada konsumen dari pengalaman yang dapat menciptakan sebuah kesan serta membangkitkan emosi dan perasaan bagi para konsumen.
Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui gambaran dan pengaruh experiental marketing dan customer relationship marketing tethadap repeat purchase intention.
II. KAJIAN LITERATUR 2.1. Experiental Marketing
Handi Chandra (2008:166) mengatakan bahwa, Experiental marketing adalah strategi pemasaran yang dibungkus dalam bentuk kegiatan sehingga memberi pengalaman yang dapat membekas dihati konsumen
.
Menurut Schmitt (2008), experiential marketing dapat diukur dengan menggunakan 5 faktor yaitu diantaranya:
1. Sense (Panca Indera), Sense marketing mempunyai daya tarik dengan indera, bertujuan untuk menciptakan pengalaman sensorik melalui penglihatan (sight), suara (sound), sentuhan (touch), rasa (taste), dan penciuman (smell). Sense marketing dapat digunakan untuk membedakan perusahaan dan produk, untuk memotivasi konsumen, dan menambah nilai produk.
2. Feel (Perasaan), Feel marketing menarik perasaan dan emosi konsumen, dengan tujuan menciptakan pengalaman
afektif dari suasana hati positif terkait dengan merek, sampai emosi yang kuat dari kegembiraan dan kebanggaan.
3. Think (pola pikir), Think marketing menarik untuk kecerdasan dengan tujuan penciptaan kognitif, pengalaman pemecahan masalah yang melibatkan konsumen secara kreatif. Think menarik untuk melibatkan konsumen berfikir memusat dan menyebar melalui kejutan (surprise), intrik (intrigue), provokasi (provocation).
4. Act (perilaku), Act marketing bertujuan untuk mempengaruhi pengalaman tubuh, gaya hidup, dan interaksi. Act marketing memperkaya kehidupan konsumen dengan meningkatkan pengalaman fisik mereka, menunjukkan kepada konsumen cara lain dalam melakukan kegiatan (contoh, dalam business to business, dan pasar industri), gaya hidup alternatif dan interaksi.
5. Relate (Pertalian), Relate marketing berisi aspek dari pemasaran sense, feel, think, dan act. Namun, relate marketing berkembang melampaui kepribadian individu, perasaan pribadi, demikian menambah pengalaman individu dan mengaitkan individu tersebut dengan dirinya sendiri, orang lain, atau budaya. Kampanye relate menarik bagi keinginan individu untuk pengembangan dirinya (ingin seperti apa dia dikaitkan dimasa depan).
2.2. Customer Relationship Marketing Menurut Chan (2003: 6) mengatakan bahwa relationship marketing adalah pengenalan setiap pelanggan secara lebih detail dengan menciptakan komunikasi dua arah dengan mengelola suatu hubungan yang menguntungkan antara pelanggan dan badan usaha, sehingga membuat badan usaha untuk selalu memiliki kerangka berpikir dalam jangka panjang.
Menurut Chan (2003: 6) Customer relationship marketing terdiri atas empat dimensi, yaitu:
1. Commitment atau komitmen
Adalah suatu kepercayaan timbal balik yang tercipta dalam suatu hubungan, yang merupakan komponen penting sebagai jaminan atas suatu upaya yang maksimum dalam memelihara hubungan tersebut, dimana kumpulan orang-orang yang berkomitmen tersebut percaya bahwa
hubungan yang tercipta sangat bernilai dan memastikan bahwa hubungan yang juga akan merubah dan mempengaruhi komitmen.
Pengembangan dan pemeliharaan suatu hubungan membutuhkan suatu investigasi dari waktu, tenaga, emosi, dan uang.
2. Trust atau kepercayaan
Adalah kesediaanmengandalkan kemampuan, integritas, dan motivasi pihak lain dalam rangka memuaskan kebutuhan dan kepentingan seseorang sebagaimana disepakati bersama secara implisit maupun eksplisit.
3. Customer orientation/empathy atau orientasi pelanggan/empati
Faktor ini merupakan faktor yang diperkenalkan oleh Palmer dan Bejou dalam Conway dan Swift (1999:139), dan memiliki hubungan dengan konsep social bonding.
Kata orientasi merujuk pada sebuah pengertian, atau kemampuan untuk melihat situasi melalui sudut pandang seseorang.
Dalam pengembangan customer relationship marketing, tanggung jawab lebih condong kepada penjual untuk berempati kepada konsumennya. Akan tetapi, sesuai dengan perkembangan customer relationship marketing, situasi saling berempati berkembang jauh lebih penting.
4. Experience/satisfaction atau pengalaman/kepuasan
Kepuasan adalah faktor penentu lain dalam suatu customer relationship marketing yang berhasil. Keputusan untuk melanjutkan suatu hungan dapat dilihat tergantung kepada kesesuaian antara harapan terhadap hubungan dan pelaksanaan yang ada.
5. Communication atau komunikasi Komunikasi dalam customer relationship marketing berarti menjaga hubungan dengan konsumen yang bernilai, menyediakan tepat waktu dan terpercaya dalam pelayanan jasa dan perubahannya, berkomunikasi secara aktif jika terjadi masalah. Hal ini merupakan tugas utamana komunikator dalam membangun kesadaran, mengembangakan prefensi konsumen, meyakinkan pembeli yang tertarik, dan mendorong mereka melakukan pembelian. Komunikasi juga memberitahukan kepada nasabah yang tidak puas bahwa perusahaan akan memperbaiki penyebab ketidakpuasan tersebut. Saat terjadi komunikasi yang efektif antara perusahaan
dan konsumennya, suatu hubungan yang lebih baik akan terjadi dan nasabah akan lebih loyal
2.3. Repeat Purchase Intention
Repeat purchase (pembelian Ulang) dapat didefinisikan sebagai kesediaan individu untuk melakukan pembelian lain dari perusahaan yang sama, berdasarkan atau pengalaman sebelumnya (Towhidi & Srite, 2016). Konsep niat pembelian kembali pada dasarnya diadopsi dan dimodifikasi dari psikologi social serta pemasaran. Pelanggan yang melakukan niat pembelian kembali disebut sebagai kunci untuk strategi pemasaran defensive yang memutuskan keberhasilan bisnis. Mempertimbangkan kepuasan pelanggan menjadi alat penting untuk mempertahankan pelanggan di masa depan dan dengan niat pembelian kembali yang positif (ibzan, 2016).
Indikator Repeat Purchase Intention:
1. Transaksional: kecenderungan sesorang untuk selalu membeli ulang produk yang telah dikonsumsinya.
2. Referensial: kecenderungan seseorang untuk merefensikan produk yang sudah dibelinya, agar juga dibeli oleh orang lain, dengan referensi pengalaman konsumsinya.
3. Prefensial: minat yang menggambarkan perilaku seseorang yang selalu memiliki preferensi utama pada produk yang telah dikonsumsi. Preferensi ini hanya dapat diganti bila terjadi sesuatu dengan produk preferensinya.
4. Eksploratif: minat ini menggambarkan perilaku seseorang yang selalu mencari informasi mengenai produk yang diminatinya dan mencari informasi mengenai produk yang diminatinya dan mencari informasi untuk mendukung sifat-sifat positif dari produk yang dilangganinya
2.4. Penelitian Terdahulu
1. Ayulia Nirwani (2016) Pengaruh Experiental Marketing terhadap Repeat Purchase Intention pada sector pariwisata bandung
2. Yogi saputra (2017)pengaruh dimensi relationship marketing terhadap customer retention pada tiwana musik studio di bandar lampung
3. Didik Isnadi (2005) Analisis Pengaruh Customer Relationship Marketing
terhadap nilai nasabah dalam meningkatkan kepuasan dan loyalitas 4. Riska Aulia Adilah (2017) Analisis
Pengaruh Relationship Marketing terhadap Loyalitas Anggota
5. T. Arifin Achmad (2010) pengaruh customer relationship marketing (crm)
terhadap loyalitas pengguna matahari club card pada matahari
department store mal di pekanbaru 2.5. Kerangka Pemikiran
Kerangka pemikiran bertujuan untuk mempermudah suatu proses penelitian.
Dalam kerangka pemikiran dapat diketahui variabel apasaja yang dapat mempengaruhi loyalitas pelanggan. Oleh karena itu kerangka pemikiran dalam penelitian ini dapat dijabarkan dalam suatu model dimana variable Experiental Marketing (X1), Customer Relationship Marketing (X2) merupakan variable bebas dan Repeat Purchase Intention (Y) merupakan variable terikat. Berdasarkan landasan teori dan penelitian terdahulu di atas, dapat disusun kerangka pemikiran sebagaimana dapat dilihat pada Gambar berikut ini.
Gambar II 1 Kerangka Pemikiran
III. METODE PENELITIAN
Tipe penelitian yang digunakan oleh peneliti metode kuantitatif. Metode kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sempel tertentu. Pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis yang bersifat kuantitatif/statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan (Sugiyono, 2016)
Metode yang dijadikan sebagai bahan penelitian untuk mendapatkan data yaitu menggunakan metode survey. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dan verifikatif.
Populasi dalam penelitian ini adalah para konsumen Indomaret di Rancaekek. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah sampling insidental. Sampling insidental adalah teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data (Sugiyono, 2016).
IV. PEMBAHASAN 4.1 Hasil
1. Uji Validitas
Uji validitas digunakan untuk mengukur valid atau tidaknya suatu kuisioner. Valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang sebenarnya diukur (Sugiyono, 2016). Menurut Sugiyono (2016:178) menyatakan “Biasanya syarat minimum untuk dianggap memenuhi syarat adalah kalau r=0.3”. Berikut disajikan hasil perhitungan validitas dengan menggunakan SPSS 20.
Hasil menunjukan bahwa untuk semua item pertanyaan untuk variabel experiental marketing, customer relationship marketing, dan repeat purchase intention dengan total skor lebih dari 0,3 sehingga disimpulkan bahwa item pertanyaan ke 3 variabel yang digunakan valid dan dapat digunakan dalam analisis data selanjutnya.
2. Uji Reliabilitas
Hasil pengujian reliabilitas memiliki nilai diatas 0,60 yakni variabel Experiental Marketing (X1) sebesar 0,888 sedangkan variabel Customer Relationship Marketing
(X2) sebesar 0,623 dan variabel Repeat Purchase Intention (Y) sebesar 0,631.
Dengan demikian item-item pertanyaan variabel Experiental Marketing, Customer Relationship Marketing dan Repeat Purchase Intention dinyatakan reliabel.
3. Experiental Marketing terhadap Repeat Purchase Intention
Nilai korelasi yang diperoleh untuk Experiental Marketing terhadap Repeat Purchase Intention yaitu sebesar 0,512, artinya terdapat hubungan yang sedang antara Experiental Marketing terhadap Repeat Purchase Intention karena berada pada interprestasi koefisien korelasi nilai r (0,40 – 0,599). Koefisien regresi pada variabel Experiental Marketing adalah 0,088 yang apabila penambahan Experiental Marketing sebesar 1, maka terjadi peningkatan Repeat Purchase Intention sebesar 0,088.
Hasil perhitungan koefisien determinasi X1 terhadap Y adalah (0,512)2 x 100% = 0,262
= 26,2% menunjukan bahwa besarnya koefisien determinasi antara Experiental Marketing terhadap Repeat Purchase Intention adalah 26,2% artinya Repeat Purchase Intention dapat dipengaruhi Experiental Marketing sebesar 26,2% dan sisanya 73,8% dapat dipengaruhi oleh fakor lain yang tidak diteliti.
4. Customer Relationship Marketing terhadap Repeat Purchase Intention Nilai korelasi yang diperoleh untuk Customer Relationship Marketing terhadap Repeat Purchase Intention yaitu sebesar 0,984, artinya terdapat hubungan yang sangat kuat antara Customer Relationship Marketing terhadap Repeat Purchase Intention karena berada pada interprestasi koefisien korelasi nilai r (0,80 – 1,000). Koefisien regresi pada variabel Customer Relationship Marketing adalah 0,221 yang apabila penambahan Customer Relationship Marketing sebesar 1, maka terjadi peningkatan Repeat Purchase Intention sebesar 0,221.
Hasil perhitungan koefisien determinasi X2 terhadap Y adalah (0,984)2 x 100% = 0,968 = 96,8% menunjukan bahwa besarnya koefisien determinasi antara Customer Relationship Marketing terhadap Repeat Purchase Intention adalah 96,8% artinya Repeat Purchase Intention dapat dipengaruhi Customer Relationship Marketing sebesar
96,8% dan sisanya 3,2% dapat dipengaruhi oleh fakor lain yang tidak diteliti
5. Experiental Marketing dan Customer Relationship Marketing terhadap Repeat Purchase Intention
.
Gambar IV 1 Pengaruh Experiental Marketing dan Customer Relationship
Marketing terhadap Repeat Purchase Intention di Indomaret
Besarnya hubungan yang terjadi ditunjukan dengan nilai korelasi (r) sebesar 0,991 yang didasarkan pada kategori kuat karena berada pada kisaran 0,80 – 1,000.
Selain dari nilai korelasi, nilai lainnya diperlihatkan pula pada perhitungan koefisien determinasi yaitu dengan mengkuadratkan koefisien korelasi dan memperoleh nilai sebesar 98,2% dalam artian bahwa perubahan variabel Repeat Purchase Intention (Y) sebesar 98,2% dipengaruhi oleh variabel Experiental Marketing (X1) dan Customer Relationship Marketing (X2),sedangkan 1,8%
dipengaruhi oleh faktor lain diluar penelitian.
Berdasarkan hasil uji hipotesis tersebut dapat ketahui bahwa secara parsial variabel Experiental Marketing (X1) tidak berpengaruh signifikan terhadap Repeat Purchase Intention (Y) dan Customer Relationship Marketing (X2) berpengaruh signifikan terhadap Repeat Purchase Intention (Y). Secara simultan diketahui bahwa variabel Experiental Marketing (X1) dan Customer Relationship Marketing (X2) berpengaruh signifikan terhadap Repeat Purchase Intention (Y).
V. PENUTUP
Berdasarkan hasil penelitian Analisis Experiental Marketing dan Customer Relationship Marketing untuk meningkatkan Repeat Purchase Intention pada Indomaret Rancaekek diperoleh kesimpulan antara lain:
1. Experiental Marketing pada Indomaret Rancaekek menurut presepsi konsumen adalah baik. Hal ini dibuktikan dengan
jawaban responden pada kuesioner variabel Experiental Marketing pada Indomaret Rancaekek mayoritas menjawab setuju. Dari hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa Experiental Marketing pada Indomaret Rancaekek sudah sangat baik di mata pelanggan.
2. Customer Relationship Marketing pada Indomaret Rancaekek menurut presepsi konsumen adalah baik. Hal ini dibuktikan dengan jawaban responden pada kuesioner variable Customer Relationship Marketing pada Indomaret Rancaekek mayoritas menjawab setuju.
Dari hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa Customer Relationship Marketing pada Indomaret Rancaekek sudah sangat baik di mata pelanggan.
3. Repeat Purchase Intention pada Indomaret Rancaekek menurut presepsi konsumen adalah baik. Hal ini dibuktikan dengan jawaban responden pada kuesioner variabel Repeat Purchase Intention pada Indomaret Rancaekek mayoritas menjawab setuju. Dari hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa Repeat Purchase Intention pada konsumen Indomaret Rancaekek ialah tinggi.
4. Pengaruh Experiental Marketing terhadap Repeat Purchase Intention pada konsumen Indomaret Rancaekek tidak berpengaruh secara signifikan. Hal ini menunjukan bahwa kekuatan Experiental Marketing yang ada pada Indomaret Rancaekek tidak terlalu berpengaruh terhadap tingkat Repeat Purchase Intention.
5. Pengaruh Customer Relationship Marketing terhadap Repeat Purchase Intention pada konsumen Indomaret Rancaekek berpengaruh secara signifikan. Hal ini menunjukan bahwa kekuatan Customer Relationship Marketing yang ada pada Indomaret Rancaekek memiliki pengaruh terhadap meningkatnya Repeat Purchase Intention 6. Pengaruh Experiental Marketing dan Customer Relationship Marketing memiliki pengaruh secara simultan terhadap Repeat Purchase Intention pada
EXPERIENTAL MARKETING
CUSTOMER RELATIONSHIP
MARKETING
REPEAT PURCHASE INTENTION
konsumen Indomaret Rancaekek. Jadi, dapat ditarik kesimpulan bahwa Experiental Marketing dan Customer Relationship Marketing pada konsumen Indomaret Rancaekek secara simultan membentuk tingkat Repeat Purchase Intention yang cukup tinggi
DAFTAR PUSTAKA
Malik M. Pengaruh Kualitas Pelayanan terhadap Minat Beli. 2004:1-7.
Hendarsono, G. (2013). Analisa pengaruh experiential marketing terhadap minat beli ulang konsumen cafe buntos 99 sidoarjo. 1(2), 1–8.
Malik, M. (2004). Pengaruh Kualitas Pelayanan terhadap Minat Beli. 1–7.
Rozaqie, N. (2016). Analisis faktor-faktor experiential marketing dan pengaruhnya terhadap loyalitas pelanggan (survei pada pelanggan legend coffe malang).
Jurnal Administrasi Bisnis, 38((1)), 30–
39.
Sugiyono. (2017). Metode penelitian kualitatif, kuantitatif. Bandung:
Alfabeta.
fadhil muhamad, z. (2016). Analisispengaruh perilakukonsumenterhadap keputusan pembelian mobil merek daihatzu.
Ghozali, I. (2016). Analisis multivariant.
Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
gusman, R. h. (2014). Pengaruh lingkungan kerja terhadap disiplin kerja. 2.
ibzan, E. (2016). Consumer Satisfaction and Repurchase Intention.
Ilham. (2016). Analisis perilaku konsumen dalam keputusan pembelian produk motor matic di kecamatan karang intan martapura.
Iman, T. (2014). Pengaruh relationship marketing terhadap loyalitas nasabah.
Kotler, P. (1997). Manajemen Pemasaran.
schiffman, l. k. (2008). perilaku konsumen.
Sholeh R, K. (2018). Pengaruh kemajuan teknologi terhadap volume penjualan ritel di kota mojokerto. OPTIMA II.
totok, s. (n.d.). Studi tentang perilaku konsumen beserta implikasinya terhadap keputusan pembelian.
Towhidi, & Srite. (2016). The effect of Website Quality on Repurchase Intention : The Moderating Role of Espoused
Cultural Differences Twenty-Second Americas Conference on Informatin Systems (2005). 1-10.
BIODATA PENULIS
Nama: Imel Salasguni. Tempat dan Tanggal Lahir: Bandung, 07 Januari 1997. Alamat:
Kp.Dangdeur rt.01/04 Rancaekek-Bandung.
Universitas BSI Bandung (2015-2019).