TEORI BELAJAR KOGNITIF
(Disusun dalam rangka memenuhi tugas Mata Kuliah Belajar dan Pembelajaran) Dosen Pengampu:
Valensy Rachmedita, S.Pd., M.Pd.
Drs. Maskun, M.H.
Disusun oleh:
KELOMPOK 2
Alif Nur Hafidz 2413033001
Nadhira Mutia Fahda 2413033004
Gita Aprilia Azzahra 2413033016
M. Yasir Al Qodar 2413033028
Haikal Arrofi 2413033034
Fatimah Azzahra 2413033050
Yosef Stefanus Simanjuntak 2413033052
M. S. Alfath Murod 2413033071
Riswandi Ali Kurniawan 2413033072 Muhammad Fauzan Alfarizi 2413033087
Lisvi Revina Fitri 2413033091
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG 2025
KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah senantiasa kami panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini guna memenuhi tugas kelompok untuk mata kuliah Belajar dan Pembelajaran, dengan judul “Teori Belajar Kognitif.”
Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini tidak terlepas dari bantuan banyak pihak yang dengan tulus memberikan saran dan kritik sehingga makalah ini dapat terselesaikan. Serta ucapan terima kasih kepada Ibu Valensy Rachmedita, S.Pd., M.Pd. dan Bapak Drs. Maskun, M.H. selaku dosen pengampu mata kuliah Belajar dan Pembelajaran yang sudah membimbing kami sampai terselesaikannya makalah ini.
Kami menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna dikarenakan terbatasnya pengalaman dan pengetahuan yang kami miliki. Oleh karena itu, kami mengharapkan segala bentuk saran serta masukan bahkan kritik yang membangun dari berbagai pihak. Kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi dunia pendidikan.
Bandar Lampung, 03 Maret 2025
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...ii
DAFTAR ISI...iii
BAB I...1
PENDAHULUAN...1
1.1 Latar Belakang...1
1.2 Rumusan Masalah... 2
1.3 Tujuan...2
BAB II...4
PEMBAHASAN...4
2.1 Definisi teori Kognitif...4
2.2 Pengaruh Proses Kognitif dalam Pembelajaran Siswa...9
2.3 Strategi Pembelajaran berdasarkan Prinsip teori Kognitif...9
2.4 Pengaruh Lingkungan Belajar dan Penggunaan teknologi dalam Perkembangan Kognitif Siswa...13
2.5 Implikasi Teori Kognitif dalam terhadap Praktik Pembelajaran dan Pengembangan Kurikulum...17
BAB III...19
PENUTUP...19
3.1 Kesimpulan...19
3.2 Saran...22
DAFTAR PUSTAKA...23
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Belajar dan Pembelajaran merupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan untuk menambah pengetahuan dan keterampilan seseorang baik itu pendidik, peserta didik, atau siapapun yang melibatkan lingkungannya dalam rangka menambah pengetahuan dan keterampilannya. Belajar merupakan aktivitas yang secara sadar dilakukan oleh seseorang untuk mendapatkan perubahan tingkah laku terhadap lingkungannya. Pembelajaran merupakan kegiatan yang berusaha untuk membelajarkan seseorang ataupun sekelompok orang dalam mendapatkan sebuah pengetahuan, keterampilan, dan sikap dengan memanfaatkan berbagai hal yang ada di lingkungannya.
Belajar merupakan aktivitas menuju kehidupan yang lebih baik secara sistematis.
Proses belajar terdiri atas tiga tahapan, yaitu tahap informasi, transformasi dan evaluasi. Yang dimaksud dengan tahap informasi adalah proses penjelasan, penguraian atau pengarahan mengenai struktur pengetahuan, keterampilan dan sikap. Tahap transformasi adalah proses peralihan atau pemindahan struktur tadi ke dalam diri peserta didik. Proses transformasi dilakukan melalui informasi.
Sedangkan, pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. (Wahab & Rosnawati, 2021) Dalam menjalankan kegiatan belajar dan pembelajaran, kemudian muncul teori Belajar. Teori belajar awalnya muncul dari disiplin filsafat, khususnya filsafat ilmu. Pada filsafat, teori ini membahas mengenai bagaimana proses terbentuknya pengetahuan. Salah satu teori belajar yang dikenal sebagai koneksionisme merupakan rumpun yang paling awal dari teori behavioristik. Teori ini pun berkembang hingga munculnya teori lain, salah satunya ialah teori kognitivisme.
Adanya aplikasi teori belajar dalam pembelajaran terkait dengan pentingnya teori belajar untuk memudahkan proses belajar menjadi lebih efektif dan efisien. Teori belajar memberikan gambaran tentang bagaimana siswa memahami dan mengaplikasikan ilmu yang diberikan guru dalam proses belajar menjadi lebih
mendalam dan menjadi bagian dari pribadinya. Sebagai faktor utama pembentuk karakter pribadi manusia, pendidikan merupakan kegiatan umum yang menjamin kelangsungan hidup untuk individu dan bangsa. Dalam konteks pembelajaran, teori belajar membantu guru merancang kegiatan pembelajaran agar materi pembelajaran bisa tersampaikan.
Dengan adanya teori belajar dan pembelajaran guru dapat memanfaatkan teori belajar dan pembelajaran untuk menjadi guru yang profesional. Misalnya dalam merumuskan tujuan pembelajaran yang tepat, memilih strategi yang sesuai, memberikan bimbingan atau konseling, memfasilitasi dan memotivasi belajar peserta didik, menciptakan iklim belajar yang kondusif, berinteraksi dengan siswa secara tepat dan memberi penilaian secara adil terhadap hasil pembelajaran. Tidak setiap masalah dapat dipecahkan oleh teori tetapi tanpa adanya teori, kita tidak akan tahu arah kemana dan dimana harus dimulai. (Isti'adah, 2020)
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan teori kognitif, dan bagaimana teori ini berbeda dari pendekatan psikologi lainnya?
2. Bagaimana proses kognitif, seperti memori dan perhatian, mempengaruhi pembelajaran siswa?
3. Apa saja strategi pembelajaran yang dapat diterapkan berdasarkan prinsip- prinsip teori kognitif?
4. Bagaimana lingkungan belajar dan penggunaan teknologi memberi pengaruh terhadap proses Kognitif Siswa?
5. Apa implikasi teori kognitif terhadap praktik pendidikan dan pengembangan kurikulum?
1.3 Tujuan
1. Memahami konsep teori Kognitif serta mampu membedakan antara Teori kognitif dengan teori lainnya.
2. Menguraikan pemahaman mengenai proses Teori Kognitif, seperti memori dan perhatian yang berpengaruh terhadap pembelajaran siswa.
3. Mendeskripsikan strategi pembelajaran yang dapat diterapkan sesuai dengan prinsip-prinsip teori Kognitif.
4. Menganalisis peran Lingkungan Belajar dan Penggunaan Teknologi memberi pengaruh terhadap proses Kognitif Siswa.
5. Menjelaskan Implikasi dari teori Kognitif terhadap praktik Pendidikan dan Pengembangan Kurikulum yang ada.
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Definisi teori Kognitif
Definisi “Cognitive” berasal dari kata “Cognition” yang mempunyai persamaan dengan “knowing” yang berarti mengetahui. Dalam arti yang luas cognition/kognisi ialah perolahan penataan, penggunaan pengetahuan. Teori belajar kognitivisme lebih mementingkan proses belajar dari pada hasil belajar itu sendiri. Baharudin menerangkan teori ini lebih menaruh perhatian dari pada peristiwa-peristiwa Internal. (Dr. Nurlina, Nurfadilah, & Aliem Bahri, 2021) Teori belajar kognitif mulai berkembang pada abad terakhir sebagai protes terhadap teori perilaku yang yang telah berkembang sebelumnya.Model kognitif ini memiliki perspektif bahwa para peserta didik memproses informasi dan pelajaran melalui upayanya mengorganisir, menyimpan, dan kemudian menemukan hubungan antara pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah ada. Model ini menekankan pada bagaimana informasi diproses. (Wahab &
Rosnawati, 2021).
Belajar tidak sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan respon sebagaimana dalam teori behaviorisme, lebih dari itu belajar dengan teori kognitivisme melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks. Dijelaskan bahwa menurut aliran kognitif, belajar adalah sebuah proses mental yang aktif untuk mencapai, mengingat, dan menggunakan pengetahuan. Menurut teori ini, ilmu pengetahuan dibangun dalam diri seorang anak melalui proses interaksi yang berkesinambungan dengan lingkungan. Proses ini tidak berjalan terputus-putus, tetapi melalui proses yang mengalir, sambung menyambung, dan menyeluruh (Dr.
Nurlina, Nurfadilah, & Aliem Bahri, 2021).
Dalam pengembangan Teori Kognitif terdapat beberapa tokoh-tokoh utama dalam pengembangan teori kognitif, yang memberikan kontribusi terhadap adanya Teori Kognitif, antara lain:
1. Jean Piaget
Lahir pada tahun 1989 di Nethanel, Swiss. Ayahnya adalah seorang profesor sejarah abad pertengahan, sementara ibunya dikenal sebagai sosok yang dinamis, cerdas, dan saleh. Sejak usia dini, Piaget sudah menunjukkan minat besar terhadap alam; ia senang mengamati burung, ikan, dan berbagai binatang lainnya.
Ketertarikan ini membawanya untuk menyukai pelajaran biologi di sekolah. Pada usia 10 tahun, ia menerbitkan esai pertamanya mengenai burung pipit albino dalam jurnal Naturscience. Selain itu, Piaget juga mulai mempelajari moluska dan berkat kemampuan menulisnya yang luar biasa, ia berhasil menerbitkan beberapa esai tentang topik tersebut. Ketika berusia 15 tahun, ia ditawari posisi sebagai kurator moluska di Museum Ilmu Pengetahuan Alam Jenewa, namun ia menolak tawaran tersebut untuk menyelesaikan pendidikan sekolah menengah pertama (Ibda, 2015).
Sebagai seorang pakar kognitivisme yang berpengaruh, Jean Piaget mengembangkan teori mengenai perkembangan kognitif anak yang terbagi menjadi beberapa tahap. Dalam konteks pemerolehan bahasa ibu (B1), Piaget berpendapat bahwa:
(i) Anak-anak tidak hanya meniru tetapi juga bersikap aktif dan kreatif dalam menguasai bahasa mereka;
(ii) Kemampuan menguasai bahasa didasarkan pada adanya kognisi; dan kognisi itu sendiri memiliki struktur dan fungsi yang tertentu (Nurhadi, 2020). Fungsi tersebut bersifat genetik, dibawa sejak lahir, sedangkan struktur kognisi dapat berubah seiring dengan kemampuan dan upaya individu.
Piaget lebih menekankan pada pembahasan mengenai struktur kognitif. Ia melakukan penelitian dan menulis tentang perkembangan kognitif ini dari tahun 1927 hingga 1980. Pendekatannya berbeda dengan para ahli psikologi sebelumnya. Ia menyatakan bahwa cara berpikir anak tidak hanya kurang matang dibandingkan dengan orang dewasa akibat kurangnya pengetahuan, tetapi juga berbeda secara kualitatif. Penelitiannya menunjukkan bahwa tahap-tahap perkembangan intelektual dan perubahan usia sangat mempengaruhi kemampuan
individu dalam memahami ilmu pengetahuan. Teori Piaget sering disebut sebagai genetik epistemologi, karena teorinya berusaha melacak perkembangan kemampuan intelektual, di mana istilah "genetik" merujuk pada pertumbuhan perkembangan, bukan warisan biologis semata.
2. Jerome Bruner
Jerome bruner merupakan seorang guru besar yang mengajar di dua universitas terkemuka dunia, yakni Harvard di Amerika Serikat dan Oxford di Inggris.
Meskipun kehilangan orang tua di usia 12 tahun dan tumbuh dalam keluarga yang sering berpindah tempat tinggal, hal tersebut tidak menghalangi langkahnya untuk meraih prestasi. Bruner memainkan peran penting dalam pergeseran paradigma psikologi dari behaviorisme menuju kognitivisme pada dekade 1950-an dan 1960- an. Salah satu karya utamanya yang menjadi tonggak awal perkembangan kognitivisme adalah buku berjudul "A Study in Thinking," yang diterbitkan pada tahun 1956 (Nugroho, 2015).
Sebagai seorang tokoh dalam strukturalisme kognitif dan peneliti terkemuka, Bruner meyakini bahwa perubahan dalam perkembangan intelektual sangat dipengaruhi oleh modifikasi struktur-struktur mental yang ada di dalam diri individu. Menurutnya, cara berpikir anak-anak berfungsi dengan pola yang mirip dengan sistem pemroses informasi (Arifin, 2018). Teori yang dikemukakannya menganggap bahwa pertumbuhan kognitif berlangsung baik dari luar ke dalam maupun dari dalam ke luar.
Perkembangan manusia bersifat unik, karena dipengaruhi oleh konteks budaya tempat individu tersebut tumbuh. Berbeda dengan Jean Piaget yang mengaitkan teorinya dengan batasan usia, Bruner lebih menekankan pada pentingnya pengaruh budaya. Di samping itu, Bruner juga mengembangkan konsep mode representasi, yang terdiri dari tiga jenis, yaitu enaktif, ikonik, dan simbolik (Arifin, 2018).
Teori ini menunjukkan bahwa proses belajar akan berlangsung dengan efektif dan kreatif ketika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan aturan (termasuk konsep, teori, definisi, dan sebagainya) melalui contoh-contoh
yang mewakili aturan tersebut. Pendekatan pembelajaran ekspositori ini mengharuskan siswa menerima informasi umum dan kemudian diminta untuk mencari contoh-contoh konkret yang relevan.
3. David Paul Ausubel
Seorang psikolog kognitif yang pada tahun 1963 memperkenalkan materi kursus yang mengharuskan siswa melakukan pembelajaran secara "bermakna" dan sugestif. Ausubel mengelola pembelajaran secara konkret dengan menggunakan apa yang disebut sebagai "organizer act," yakni alat yang dapat menghubungkan antara materi pelajaran dengan gagasan yang akan disampaikan. Belajar bermakna yang dicetuskan oleh David Ausubel merupakan suatu proses dikaitkannya informasi-informasi yang baru dengan konsep-konsep yang relevan dalam struktur kognitif seseorang. (Muamanah & Suyadi, 2020)
Proses belajar akan berlangsung efektif jika siswa dapat mengasimilasikan pengetahuan yang dimilikinya dengan pengetahuan baru, sehingga mereka dapat mengalami pembelajaran yang bermakna.
Proses ini terjadi melalui beberapa tahap (Budiningsih, 2012):
(i) Memperhatikan stimulus yang diberikan;
(ii) Memahami makna stimulus, serta menyimpan dan menggunakan informasi yang telah dipahami; dan
(iii) Mengaitkan informasi baru dengan pengetahuan yang telah ada.
Pembelajaran yang bermakna adalah ketika informasi baru dapat dihubungkan dengan struktur pemahaman yang sudah dimiliki oleh siswa. Hal ini terjadi ketika siswa mampu mengaitkan pengalaman baru dengan struktur pengetahuan yang ada. Dengan kata lain, materi pelajaran haruslah sesuai dengan kemampuan siswa dan relevan dengan struktur kognitif mereka. Oleh karena itu, setiap mata pelajaran perlu berhubungan dengan konsep-konsep yang sudah ada di benak siswa agar konsep baru dapat diserap dengan baik.
Selain itu, faktor intelektual dan emosional siswa juga berperan penting dalam proses pembelajaran. Untuk menciptakan peluang belajar yang bermakna, salah
satu metode yang dapat digunakan adalah peta konsep, dengan langkah-langkah sebagai berikut:
(i) Pilih topik bacaan dari buku teks;
(ii) Tentukan konsep yang relevan;
(iii) Urutkan konsep dari yang paling komprehensif ke yang paling spesifik atau memberikan contoh;
(iv) Susun konsep-konsep tersebut di atas kertas, dimulai dari konsep utama di bagian atas hingga konsep pendukung di bagian bawah; dan
(v) Gabungkan konsep-konsep tersebut menggunakan kata-kata penghubung untuk membentuk peta konsep yang jelas.
4. Robert M. Gagne
Dalam bukunya yang berjudul “The Conditioning of Learning”, mengemukakan bahwa belajar adalah suatu perubahan dalam disposisi atau kapasitas manusia yang berlangsung dalam jangka waktu tertentu dan tidak semata-mata disebabkan oleh proses pertumbuhan. Belajar adalah proses yang menghasilkan perubahan dalam kemampuan individu melalui pengalaman yang berkelanjutan.
Gagne meyakini bahwa proses pembelajaran dipengaruhi oleh faktor eksternal maupun internal, yang keduanya berinteraksi secara dinamis. Ia mendefinisikan belajar sebagai mekanisme yang memungkinkan individu menjadi anggota masyarakat dengan fungsi yang kompleks. Kompetensi yang diperoleh dari proses ini mencakup keterampilan, pengetahuan, sikap, serta nilai-nilai yang penting bagi keberlangsungan hidup manusia. Dengan demikian, belajar dapat dipahami sebagai hasil dari berbagai tingkah laku yang kemudian membentuk kapasitas individu.
Menurut Gagne, belajar adalah seperangkat proses internal yang dialami setiap individu akibat transformasi rangsangan dari peristiwa eksternal di lingkungannya. Agar kondisi eksternal ini lebih bermakna, sebaiknya diorganisasi dalam urutan yang jelas selama proses pembelajaran, baik melalui metode maupun perlakuan yang tepat. Selain itu, dalam usaha mengoptimalkan kondisi
eksternal, diperlukan berbagai rangsangan yang dapat diterima oleh pancaindra, yang dikenal sebagai media dan sumber belajar (Warsita, 2008).
2.2 Pengaruh Proses Kognitif dalam Pembelajaran Siswa
Belajar kognitif ciri khasnya terletak dalam belajar memperoleh dan mempergunakan bentuk-bentuk representatif yang mewakili objek-objek tersebut yang kemudian representasikan atau dihadirkan dalam diri seorang anak melalui tanggapan, gagasan atau lambang, yang semuanya merupakan sesuatu yang bersifat mental, misalnya seorang menceritakan pengalamannya selama mengadakan kunjungan wisata, atau selama melakukan aktivitas tertentu.
Menurut teori ini, ilmu pengetahuan dibangun dalam diri seorang anak melalui proses interaksi yang berkesinambungan dengan lingkungan. Proses ini tidak berjalan terputus-putus, tetapi melalui proses yang mengalir, sambung menyambung, dan menyeluruh. Teori kognitif ini muncul dipengaruhi oleh psikologi gestalt. Asumsi yang mendasari teori ini adalah, bahwa setiap anak telah mempunyai pengalaman dan pengetahuan di dalam dirinya. Pengalaman dan pengetahuan ini tertata dalam bentuk struktur kognitif. Proses belajar akan berjalan dengan baik bila materi pelajaran yang baru beradaptasi (bersambung) secara “klop” dengan struktur kognitif yang sudah dimiliki oleh anak. (Nugroho, 2015) Oleh karena itu, teori Kognitif seperti perasaan, ingatan, memori berpengaruh dalam proses Pembelajaran siswa.
Tanpa mempertimbangkan aspek kognitif, sulit untuk membayangkan partisipasi peserta didik dalam proses pembelajaran. Siswa akan mengalami kesulitan dalam menangkap pesan moral, termasuk dalam pelajaran agama, akibat kurangnya dasar pemikiran. Oleh karena itu, penting untuk mengakui kebenaran pepatah,
"Agama membutuhkan akal, tidak ada agama bagi yang tidak berakal. " Namun, hal ini tidak mengurangi pentingnya aspek afektif dan psikomotorik dalam pendidikan, karena keduanya sangat mendukung perkembangan kognitif peserta didik.
a. Mengembangkan Kecakapan Kognitif
Penguatan dalam ranah kognitif sangat penting, terutama bagi siswa yang sedang belajar untuk mengembangkan kapasitas emosional dan motorik mereka secara optimal. Oleh karena itu, kolaborasi antara pendidik dan orang tua sangat diperlukan untuk memfasilitasi pertumbuhan kognitif anak-anak secara terstruktur dan konsisten. Penerapan pengembangan kognitif ini memberikan efek positif tidak hanya bagi domain kognitif, tetapi juga bagi aspek emosional dan psikomotorik. Dua kemampuan kognitif siswa yang perlu dikembangkan adalah:
pertama, pendidik perlu menerapkan teknik pembelajaran yang memungkinkan pemahaman mendalam terhadap materi kursus. Kedua, selain menggunakan pendekatan yang meyakinkan siswa akan pentingnya materi, pendidik juga harus membantu siswa memahami pelajaran moral yang terkandung di dalamnya. Tanpa kedua kemampuan kognitif ini, perkembangan emosional dan fisik siswa akan terhambat.
Seiring dengan upaya pengembangan tersebut, peran pendidik menjadi sangat penting untuk menghilangkan kesalahpahaman di kalangan siswa yang beranggapan bahwa tujuan utama pendidikan adalah untuk meraih prestasi akademis dan mendapatkan diploma. Guru perlu menyajikan contoh penerapan pengetahuan dengan jelas dan mudah dipahami. Mereka juga harus memiliki keterampilan bimbingan yang baik untuk membantu siswa memahami nilai dari apa yang dipelajari, serta mendorong mereka untuk menerapkan pengetahuan tersebut dalam konteks dunia nyata. Yang terpenting bagi seorang guru adalah kemampuannya dalam membantu murid meningkatkan kemampuan kognitif mereka. Dengan demikian, siswa akan lebih siap menghadapi tantangan dengan bekal informasi dan nilai-nilai moral yang terkandung dalam pengetahuan tersebut.
b. Mengembangkan Kecerdasan Emosional
Meskipun tidak selalu mungkin untuk menjamin perkembangan kemampuan kognitif setelah mengembangkan ranah kognitif, dari segi emosional, hal ini pasti bisa dicapai. Misalnya, ada seorang pemimpin agama yang sangat efektif dalam membantu murid-muridnya berkembang secara intelektual melalui penjelasan yang mendalam. Aspek afektif pun akan mendapat manfaat secara alami dari pendekatan tersebut. Oleh karena itu, seorang guru harus memiliki pemahaman yang kuat terhadap materi sebelum menyampaikannya kepada murid. Hal ini penting karena dapat meningkatkan kemampuan emosional, salah satunya adalah kesadaran religius.
c. Mengembangkan Kemampuan Psikomotorik
Secara sederhana, kemampuan psikomotorik adalah kemampuan yang berhubungan langsung dengan aktivitas tubuh yang nyata dan dapat diamati.
Namun, kedua bakat yang telah dijelaskan sebelumnya tidak terpisahkan dari kemampuan psikomotorik ini. Kemampuan psikomotorik adalah kombinasi dari pemahaman, kewaspadaan, dan suasana hati. (Anak agung ngurah bayu arta wijaya, 2023).
2.3 Strategi Pembelajaran berdasarkan Prinsip teori Kognitif
Teori kognitif memandang belajar sebagai proses perubahan internal dalam persepsi dan pemahaman individu, yang tidak selalu tampak sebagai perubahan perilaku yang konkret. Belajar dianggap sebagai aktivitas mental yang terjadi melalui interaksi aktif dengan lingkungan, menghasilkan perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan, nilai, dan sikap. (Pahliwandari, 2016) Beberapa prinsip utama dalam teori kognitif meliputi:
(i) Proses Mental Aktif: Belajar melibatkan aktivitas mental yang aktif, seperti berpikir, mengingat, dan memecahkan masalah.
(ii) Struktur Kognitif: Informasi baru sebaiknya disajikan dalam struktur yang sesuai dengan pengetahuan yang sudah ada, untuk memudahkan pemahaman dan penyimpanan informasi.
(iii) Perubahan Persepsi dan Pemahaman: Belajar dilihat sebagai perubahan dalam cara individu memandang dan memahami informasi, bukan sekadar perubahan perilaku yang tampak.
(iv)Pentingnya Ingatan dan Daya Ingat: Teori kognitif menekankan pentingnya kemampuan ingatan peserta didik dalam proses belajar, sehingga informasi dapat disimpan dan diingat kembali saat diperlukan.
(v) Pembelajaran Melalui Observasi: Individu dapat mempelajari perilaku baru dengan mengamati orang lain, tanpa harus melakukan tindakan tersebut secara langsung.
Pemahaman terhadap prinsip-prinsip ini dapat membantu pendidik dalam merancang strategi pembelajaran yang efektif, sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik peserta didik.
Pembelajaran pada dasarnya merupakan upaya untuk mengarahkan anak didik dalam proses belajar sehingga mereka dapat memperoleh tujuan belajar sesuai dengan apa yang diharapkan. Pembelajaran hendaknya memperhatikan kondisi individu anak karena merekalah yang akan belajar. Anak didik merupakan individu yang berbeda satu sama lain, memiliki keunikan masing-masing yang tidak sama dengan orang lain. Oleh karena itu pembelajaran hendaknya memperhatikan perbedaan-perbedaan individual anak tersebut, sehingga pelajaran dapat benar-benar dapat merubah kondisi anak dari yang berperilaku kurang baik menjadi baik. Kondisi riil anak seperti ini, selama ini kurang mendapat perhatian di kalangan pendidik. Hal ini terlihat dari perhatian sebagian guru/pendidik yang cenderung memperhatikan kelas secara keseluruhan, tidak perorangan atau kelompok anak, sehingga perbedaan individual kurang mendapat perhatian.
Gejala yang lain terlihat pada kenyataan banyaknya guru yang menggunakan metode pengajaran yang cenderung sama setiap kali pertemuan di kelas berlangsung.
Pemilihan strategi pembelajaran yang akan digunakan dalam proses pembelajaran harus berorientasi pada tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Selain itu, juga harus disesuaikan dengan jenis materi, karakteristik peserta didik, serta situasi atau kondisi dimana proses pembelajaran tersebut akan berlangsung. Terdapat beberapa metode dan teknik pembelajaran yang dapat digunakan oleh guru, tetapi tidak semuanya sama efektifnya dapat mencapai tujuan pembelajaran. Untuk itu dibutuhkan kreatifitas guru dalam memilih strategi pembelajaran. (Prof. Dr.
Hamzah B. Uno & Nurdin Mohamad, 2011)
Salah satu metode pembelajaran yang dikenal efektif dalam merangsang keterlibatan aktif siswa dan pengembangan keterampilan berpikir kritis adalah metode pembelajaran aktif. Metode ini menempatkan siswa sebagai subjek aktif dalam proses pembelajaran, mendorong mereka untuk berpartisipasi aktif dalam pemecahan masalah, diskusi, dan refleksi. Dengan demikian, penelitian tentang implementasi metode pembelajaran aktif dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa sekolah dasar menjadi semakin relevan dalam konteks pendidikan saat ini (Kusumawati, 2017).
Dengan menciptakan lingkungan yang merangsang dan memberdayakan, guru membantu membangun fondasi yang kuat untuk pengembangan keterampilan berpikir kritis siswa. Guru dapat menciptakan konteks yang mendukung bagi pembelajaran yang berpusat pada siswa dengan mengadopsi pendekatan diferensiasi, mempertimbangkan gaya belajar individu siswa, dan menyediakan tantangan yang sesuai dengan tingkat kemampuan mereka. Ini memastikan bahwa setiap siswa memiliki kesempatan untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan potensi mereka sendiri. Dengan mempertimbangkan faktor-faktor ini secara holistik dan mengintegrasikannya ke dalam desain pembelajaran mereka, guru dapat menciptakan pengalaman pembelajaran yang bermakna dan efektif yang memfasilitasi pengembangan keterampilan berpikir kritis yang mendalam bagi siswa di sekolah dasar (Haryanti, 2017).
Pembelajaran aktif diharapkan dapat menggali kemampuan yang dimiliki siswa sehingga siswa akan memperoleh hasil belajar yang optimal. Dengan pembelajaran aktif ini diharapkan akan tumbuh dan berkembang segala potensi
siswa yang mereka miliki sehingga pada akhirnya dapat mengoptimalkan hasil belajar mereka (Prof. Dr. Hamzah B. Uno & Nurdin Mohamad, 2011).
Alat bantu visual pun memiliki peran penting dalam menentukan strategi pembelajaran berdasarkan Teori Kognitif, Alat bantu visual memegang peranan yang sangat penting dalam mendukung proses kognitif dalam pembelajaran.
Secara umum, alat bantu visual merujuk pada media atau materi yang dapat dilihat, seperti gambar, grafik, diagram, infografis, peta, dan video, yang digunakan untuk memfasilitasi pemahaman dan memperkaya pengalaman belajar.
Berikut adalah beberapa peran alat bantu visual dalam mendukung kognitif dalam pembelajaran (Tafonao, 2018):
1. Meningkatkan pemahaman
Alat bantu visual membantu menyederhanakan konsep-konsep yang kompleks dengan menggambarkan informasi secara lebih jelas. Misalnya, diagram alir atau peta konsep membantu siswa untuk melihat hubungan antara ide-ide utama dan rincian dalam materi pelajaran. Visualisasi seperti ini dapat meningkatkan pemahaman dan mempermudah siswa dalam mengingat informasi yang diajarkan.
2. Mendukung Proses Kognitif
Dalam teori kognitif, alat bantu visual mendukung pemrosesan informasi di dalam memori kerja (working memory). Dengan menggunakan gambar atau grafik, siswa dapat mengurangi beban kognitif yang terjadi ketika mencoba mengingat informasi verbal yang kompleks, karena informasi visual dapat diproses dengan cara yang lebih efisien.
3. Memfasilitasi Pembelajaran Visual
Setiap individu memiliki gaya belajar yang berbeda-beda, dan beberapa orang lebih mudah memahami informasi yang disajikan dalam bentuk visual. Alat bantu visual memberikan alternatif bagi siswa yang lebih cenderung kepada pembelajaran visual (visual learners), sehingga mereka dapat lebih mudah memahami materi yang diajarkan.
4. Meningkatkan Motivasi dan Minat Siswa
Penggunaan alat bantu visual dalam pembelajaran dapat meningkatkan keterlibatan dan motivasi siswa. Alat bantu visual yang menarik dan interaktif, seperti animasi atau video pembelajaran, dapat menarik perhatian siswa dan membuat mereka lebih tertarik dalam mengikuti pelajaran.
5. Mempermudah Penggunaan Konsep Abstrak
Konsep-konsep abstrak yang sulit dipahami dalam pembelajaran, seperti konsep matematika atau teori ilmiah, dapat dijelaskan dengan lebih mudah menggunakan alat bantu visual. Misalnya, grafik dan diagram dapat memvisualisasikan perubahan dalam data atau proses, yang membantu siswa untuk memahami dan menghubungkan informasi secara lebih jelas.
2.4 Pengaruh Lingkungan Belajar dan Penggunaan teknologi dalam Perkembangan Kognitif Siswa
Proses kognitif siswa sangat dipengaruhi oleh kedua aspek yaitu lingkungan belajar serta penggunaan teknologi. Keduanya mempengaruhi siswa dari cara mereka diimplementasikan dan dimanfaatkan. Bila keduanya digunakan dengan benar dan maksimal maka proses kognitif siswa meningkat. Masing masing aspek memiliki pengaruh tersendiri ke siswa yaitu :
1. Lingkungan Belajar
Proses kognitif siswa sangat dipengaruhi dari bagaimana lingkungan belajar mereka didesain. Lingkungan belajar kelas yang penataannya tidak efektif akan mempengaruhi Tingkat pemahaman siswa. Siswa yang berada di kelas yang sempit dan padat tidak bisa memahami dengan Tingkat yang sama dari siswa yang berada dikelas yang memiliki ruang yang cukup untuk membuat kelas tenang dan nyaman. Kenyamanan serta posisi yang ditata dengan baik akan memberi pengaruh yang maksimal sehingga ada perlunya pemikiran bagaimana lingkungan belajar ditata atau didesain. (Barrett, 2015)
2. Penggunaan Teknologi
Teknologi bisa digunakan dalam pelaksanaan proses kognitif siswa dengan implementasi yang efektif. Teknologi mampu digunakan sebagai alat untuk mencari informasi yang dapat dipahami oleh siswa dengan maksimal. Teknologi pun bisa digunakan untuk Teknik pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan. Hal ini dapat membantu siswa memahami suatu pembelajaran bila teknologi diintegrasikan dalam pembelajaran dengan efektif. Teknologi pun bisa menjadi media pembelajaran apabila pembelajaran terhalang oleh suatu kondisi layaknya pada masa pandemic melalui pembelajaran daring. (Hattie, 2009)
Teknologi dalam penggunaannya di proses kognitif siswa perlu dipertimbangkan dengan cermat. Pertimbangan ini karena teknologi bisa saja membuat ketergantungan akan teknologi menjadi lebih besar. Penggunaan teknologi ini pun perlu ditingkatkan namun tidak sampai titik ketergantungan yang terlalu tinggi.
Hal ini pun juga mempengaruhi proses kognitif siswa. (Wagner, 2009)
Penggunaan teknologi dalam pengajaran metode pendidikan tradisional di sekolah memiliki dampak positif terhadap proses pembelajaran. Guru-guru melaporkan bahwa teknologi membantu meningkatkan minat dan motivasi siswa, memperkaya materi pelajaran, dan memfasilitasi pembelajaran kolaboratif. Selain itu, siswa melaporkan bahwa mereka lebih tertarik dan terlibat dalam pembelajaran saat teknologi digunakan. Hasil kuesioner siswa menunjukkan bahwa mayoritas siswa merasa teknologi membantu mereka memahami konsep dengan lebih baik dan meningkatkan kemampuan kognitif mereka.
Selain itu, penggunaan teknologi juga telah membantu siswa mengembangkan keterampilan digital dan literasi informasi yang penting dalam era digital saat ini.
Melalui penggunaan perangkat lunak pembelajaran, aplikasi mobile, dan sumber daya digital lainnya, siswa dapat belajar secara mandiri, mengembangkan kreativitas mereka, dan meningkatkan kemampuan pemecahan masalah. Namun, meskipun penggunaan teknologi dalam pendidikan tradisional memiliki dampak positif, penelitian ini juga mengungkapkan beberapa tantangan yang perlu diatasi.
Guru-guru melaporkan adanya kesulitan dalam memperoleh dan mengelola perangkat teknologi, terbatasnya akses ke infrastruktur yang memadai, serta
kurangnya pelatihan dan dukungan yang memadai dalam penggabungan teknologi dalam pengajaran. Selain itu, ada kekhawatiran bahwa penggunaan teknologi dapat mengganggu nilai-nilai dan kearifan lokal yang mendasari pendidikan tradisional. Oleh karena itu, perlu ada pendekatan yang hati-hati dalam menggabungkan teknologi sehingga tetap mempertahankan esensi pendidikan tradisional.
Kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan masyarakat juga sangat penting.
Dukungan dan partisipasi orang tua dalam penggunaan teknologi dapat membantu menciptakan lingkungan yang kondusif untuk pembelajaran yang melibatkan teknologi. Serta, melibatkan masyarakat secara luas dalam proses pengambilan keputusan terkait dengan penggunaan teknologi dalam pendidikan tradisional dapat memastikan bahwa keputusan yang diambil mencerminkan nilai-nilai dan kearifan lokal yang ada.
Selain itu, perlu adanya kebijakan yang jelas dan panduan praktis terkait penggunaan teknologi dalam pendidikan tradisional. Kebijakan ini harus mencakup aspek pengelolaan teknologi, keamanan, etika, dan privasi. Dengan adanya kebijakan yang terarah, sekolah dapat mengadopsi pendekatan yang konsisten dalam penggunaan teknologi dan meminimalkan risiko yang terkait dengan penggunaannya. Hasil studi ini menunjukkan bahwa penggunaan teknologi dalam pengajaran metode pendidikan tradisional di sekolah dasar dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran. Teknologi dapat menjadi alat yang efektif untuk memperkaya pengalaman belajar siswa, mendorong partisipasi aktif dalam pembelajaran, dan meningkatkan pemahaman konsep. Guru-guru juga mengungkapkan bahwa penggunaan teknologi membantu mereka dalam menyajikan materi pelajaran secara lebih menarik dan interaktif, serta memfasilitasi kolaborasi antara siswa (Palupi, Anitah, & Budiyono, 2014)
Namun, ada beberapa tantangan yang dihadapi dalam penggunaan teknologi dalam Pendidikan, Salah satunya adalah ketersediaan infrastruktur dan akses yang terbatas terhadap perangkat teknologi. Beberapa guru melaporkan bahwa terbatasnya jumlah perangkat dan koneksi internet yang stabil membatasi penggunaan teknologi dalam pengajaran. Selain itu, diperlukan pelatihan dan
dukungan yang memadai bagi guru untuk mengintegrasikan teknologi secara efektif dalam metode pendidikan tradisional (Palupi, Anitah, & Budiyono, 2014).
Pendidikan tradisional memiliki keunikan dan kekhasan dalam metode pengajaran dan budaya yang diwariskan. Oleh karena itu, guru perlu memahami bagaimana mengintegrasikan teknologi dengan bijak tanpa mengorbankan nilai-nilai tradisional yang ada. Dalam penelitian ini, guru-guru mengemukakan pentingnya mengembangkan strategi pembelajaran yang mencakup penggunaan teknologi secara selektif dan terarah, dengan tetap mempertahankan esensi metode Pendidikan tradisional (Munaisah, 2022).
Rekomendasi yang diajukan dalam penelitian ini dapat membantu memperbaiki penggunaan teknologi dalam pendidikan tradisional di sekolah dasar. Pertama, perlu adanya upaya kolaboratif antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan pihak terkait lainnya untuk meningkatkan akses dan infrastruktur teknologi di sekolah dasar. Investasi yang cukup dalam infrastruktur yang memadai, termasuk akses internet yang stabil dan perangkat keras yang memadai, sangat penting untuk mendukung penggunaan teknologi dalam pengajaran (Rochmatin, 2022).
Selanjutnya, guru-guru perlu mendapatkan pelatihan dan pengembangan profesional yang tepat dalam penggunaan teknologi. Pelatihan ini harus mencakup pemahaman tentang bagaimana menggunakan teknologi dengan metode pendidikan tradisional yang ada, penggunaan alat-alat pembelajaran yang sesuai dengan kurikulum, serta pengelolaan dan pemeliharaan perangkat teknologi.
Guru-guru juga perlu mendapatkan dukungan kontinu dalam menghadapi tantangan teknis dan pedagogis yang mungkin muncul selama pengajaran dengan menggunakan teknologi.
Dalam rangka meningkatkan pemahaman kita tentang penggunaan teknologi dalam metode pendidikan tradisional, penelitian lanjutan dapat dilakukan untuk melihat perkembangan jangka panjang dan faktor-faktor lain yang mempengaruhi efektivitas penggunaan teknologi. Dengan demikian, penggunaan teknologi dalam pendidikan tradisional dapat terus berkembang dan memberikan manfaat yang signifikan bagi proses pembelajaran di sekolah dasar (Salsabila, Andini, Triyana, Sari, & Rauv, 2021).
2.5 Implikasi Teori Kognitif dalam terhadap Praktik Pembelajaran dan Pengembangan Kurikulum
Teori belajar ini mendorong dan menyemangati peserta didik untuk belajar sendiri melalui kegiatan dan pengalaman, peserta didik diminta untuk bisa menemukan arti hidup dan mempelajari konsep sesuai dengan pemahaman masing masing.
Para psikologi kognitif berkeyakinan bahwa pengetahuan yang dimiliki sebelumnya dapat menentukan keberhasilan mempelajari informasi atau pengetahuan yang baru (Yuberti, 2014). Kognitif merupakan aspek yang paling penting dalam perkembangan setiap individu apalagi yang menyangkut dengan proses pembelajaran dan sangat menentukan sekali keberhasilan mereka di sekolah.
Aplikasi teori belajar kognitif dalam pembelajaran dapat dilakukan dengan cara berikut ini: (Herpratiwi, 2016)
(i) Diperlukan arahan dari guru agar siswa tidak banyak melakukan kesalahan, guru harus memberikan kesempatan sebaik-baiknya agar siswa memperoleh pengalaman optimal dalam proses belajar dan meningkatkan kemauan belajar.
(ii) Pendekatan pembelajaran dilakukan melalui urutan masalah, materi pelajaran yang logis dan sistematis untuk meningkatkan kemampuan dalam menerima, mengubah dan mentransfer apa yang telah dipelajari.
(iii) Pemberian hadiah dan hukuman dalam pembelajaran harus memperhatikan aspek kuantitas dan kualitas.
(iv)Pada saat mengawali pembelajaran guru menggunakan kemampuan awal, sehingga pembelajaran akan lebih bermakna.
(v) Guru memperkenalkan terlebih dahulu konsep yang paling umum dan inklusif kemudian baru yang lebih mendetail, artinya pembelajaran dari umum ke khusus.
Namun, Ketika mengaplikasikan teori kognitif dalam kehidupan sehari-hari, tentu saja terdapat tantangan yang dihadapi didalamnya. tantangan dalam implementasi pendidikan karakter sering kali muncul, seperti ketidakpahaman guru mengenai konsep karakter yang harus diajarkan, metode pembelajaran yang kurang variatif, serta sistem penilaian yang tidak terstandarisasi. Di beberapa sekolah dasar, kasus bullying masih menjadi masalah serius yang menghambat pendidikan karakter.
Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, menunjukkan bahwa meskipun program pendidikan karakter telah diterapkan, banyak peserta didik yang masih merasa takut dan tertekan karena adanya tindakan bullying di antara teman sebaya. Ini menunjukkan bahwa implementasi pendidikan karakter tidak cukup hanya melalui kurikulum, tetapi juga memerlukan penanganan langsung terhadap isu-isu sosial yang terjadi di lingkungan sekolah. Namun beberapa sekolah lainnya juga membuat program untuk meningkatkan karakter peserta didik untuk lebih baik, terdapat program khusus yang disebut "Program Karakter" (Nugraha &
Hasanah, 2021)
Kemudian Sekolah menerapkan pendekatan yang mengintegrasikan nilai-nilai karakter dalam setiap pelajaran yaitu dalam pelajaran matematika, siswa diajarkan untuk bekerja sama dalam kelompok untuk menyelesaikan masalah, sehingga dapat mengembangkan sikap kerjasama dan saling menghargai. Namun, tantangan muncul karena tidak semua guru memiliki pemahaman yang sama tentang nilai- nilai karakter yang harus diajarkan. Hal ini menyebabkan ketidakkonsistenan dalam pengajaran karakter di kelas (Dwiputri & Anggraeni, 2021).
Kemudian juga membuat program yaitu kegiatan ekstrakurikuler seperti Pramuka dan olahraga dioptimalkan untuk mendukung pendidikan karakter. Dalam kegiatan Pramuka, peserta didik diajarkan tentang kepemimpinan, disiplin, dan kerja sama. (Dahaluddin, Rakib, & Apriyanti, 2022). Meski demikian, beberapa peserta didik menunjukkan minat yang rendah terhadap kegiatan ini karena kurangnya variasi dalam jenis kegiatan yang ditawarkan. Ini mengindikasikan perlunya evaluasi dan inovasi dalam program ekstrakurikuler agar lebih menarik dan relevan dengan minat siswa.
Dalam kajian pendidikan karakter, beberapa penelitian menunjukkan bahwa integrasi pendidikan karakter ke dalam mata pelajaran memberikan dampak positif terhadap perkembangan karakter peserta didik. Misalnya, penelitian oleh Nugraha & Hasanah (2021) menunjukkan bahwa metode pembelajaran berbasis proyek dapat meningkatkan kesadaran peserta didik akan nilai-nilai karakter seperti kerjasama dan tanggung jawab.
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Definisi “Cognitive” berasal dari kata “Cognition” yang mempunyai persamaan dengan “knowing” yang berarti mengetahui. Dalam arti yang luas kognition/kognisi ialah perolahan penataan, penggunaan pengetahuan. Teori belajar kognitivisme lebih mementingkan proses belajar dari pada hasil belajar itu sendiri. Baharudin menerangkan teori ini lebih menaruh perhatian dari pada peristiwa-peristiwa Internal. (Dr. Nurlina, Nurfadilah, & Aliem Bahri, 2021) Dalam pengembangan Teori Kognitif terdapat beberapa tokoh-tokoh utama dalam pengembangan teori kognitif, yang memberikan kontribusi terhadap adanya Teori Kognitif, antara lain:
1) Jean piaget
Ia menyatakan bahwa cara berpikir anak tidak hanya kurang matang dibandingkan dengan orang dewasa akibat kurangnya pengetahuan, tetapi juga berbeda secara kualitatif.
2) Jerome bruner
Bruner meyakini bahwa perubahan dalam perkembangan intelektual sangat dipengaruhi oleh modifikasi struktur-struktur mental yang ada di dalam diri individu. Menurutnya, cara berpikir anak-anak berfungsi dengan pola yang mirip dengan sistem pemroses informasi (Arifin, 2018).
3) David paul ausubul
Belajar bermakna yang dicetuskan oleh David Ausubel merupakan suatu proses dikaitkannya informasi-informasi yang baru dengan konsep-konsep yang relevan dalam struktur kognitif seseorang. (Muamanah & Suyadi, 2020)
4) Robert m.gagne
Menurut Gagne, belajar adalah seperangkat proses internal yang dialami setiap individu akibat transformasi rangsangan dari peristiwa eksternal di lingkungannya.
Kemudian terdapat pengaruh teori kognitif terhadap pembelajaran siswa dimana Pengalaman dan pengetahuan ini tertata dalam bentuk struktur kognitif. Proses belajar akan berjalan dengan baik bila materi pelajaran yang baru beradaptasi (bersinambung) secara “klop” dengan struktur kognitif yang sudah dimiliki oleh anak. (Nugroho, 2015) Oleh karena itu, teori Kognitif seperti perasaan, ingatan, memori berpengaruh dalam proses Pembelajaran siswa.
Kemudian terdapat stategi pembelajaran berdasarkan teori piaget yakni diantara nya ialah Pembelajaran aktif (diskusi) dan Pendekatan diferesiansi. untuk melaksanakan strategi tersebut tentu di perlukan alat bantu yang dapat mendukung terlaksana nya strategi dengan baik,alat bantu ini lebih merujuk kepada alat bantu visual, alat bantu tersebut meliputi : Meningkatkan pemahaman, Mendukung proses kognitif, Memfasilitasi pembelajaran visual, Meningkatkan motivasi dan minat siswa, dan Mempermudah penggunaan konsep abtrak.
Proses kognitif siswa sangat dipengaruhi oleh kedua aspek yaitu lingkungan belajar serta penggunaan teknologi. Kenyamanan serta posisi yang ditata dengan baik akan memberi pengaruh yang maksimal sehingga ada perlunya pemikiran bagaimana lingkungan belajar ditata atau didesain (Barrett, 2015).
Kemudian penggunaan Teknologi dalam pengunaannya di proses kognitif siswa perlu dipertimbangkan dengan cermat. Pertimbangan ini karena teknologi bisa saja membuat ketergantungan akan teknologi menjadi lebih besar. Penggunaan teknologi ini pun perlu ditingkatkan namun tidak sampai titik ketergantungan yang terlalu tinggi. Hal ini pun juga memengaruhi proses kognitif siswa. (Wagner, 2009).
Aplikasi teori belajar kognitif dalam pembelajaran dapat dilakukan dengan cara berikut ini: (Herpratiwi, 2016).
1) Diperlukan arahan dari guru
2) Pendekatan pembelajaran dilakukan melalui urutan masalah 3) Pemberian hadiah dan hukuman
4) Mengawali pembelajaran dengan baik
5) Memperkenalkan konsep materi yang akan di bahas
Namun, Ketika mengaplikasikan teori kognitif dalam kehidupan sehari-hari, tentu saja terdapat tantangan yang dihadapi didalamnya. tantangan dalam implementasi pendidikan karakter sering kali muncul, seperti metode pembelajaran yang kurang variatif, serta sistem penilaian yang tidak terstandarisasi. Hal ini tentu nya sangat memerlukan penerapan teori kognitif dalam pembelajaran dan pengembangan kurikulum karna segala sesuatu yang akan di berikan kepada peserta didik harus di sesuai kan dengan perkembangan kognitif nya dan tidak melebihi batas kognitif nya agar apa yang di sampaikan dapat di fahami dengan baik oleh peserta didik hal ini pun berkaitan dengan usia dan kecerdasan berfikir nya yang sudah siap atau belum dalam menerima pembelajaran di sekolah.Dengan pembelajaran yang variatif para peserta didik dapat dengan nyaman dalam kegiatan pembelajaran karna setiap peserta didik tentu nya berbeda-beda dalam belajar.
3.2 Saran
Proses Kognitif sangat penting dan berpengaruh dalam proses pembelajaran siswa. Agar perkembangan peserta didik berjalan dengan baik, guru dan orang tua perlu meningkatkan pemahaman mereka tentang kebutuhan anak. Pendekatan pembelajaran yang fleksibel dan sesuai dengan karakteristik peserta didik sangat penting untuk mendukung pertumbuhan mereka secara optimal. Kerja sama yang baik antara pendidik, keluarga, dan masyarakat juga diperlukan untuk menciptakan sistem pendidikan yang lebih terpadu dan adaptif terhadap kebutuhan peserta didik.
DAFTAR PUSTAKA
Anak Agung Ngurah Bayu Arta Wijaya, Ni Made Safitri (2023), Hubungan Perkembangan Kognitif Peserta Didik Dengan Proses Belajar, 157, Vol 3(1) Arifin, A. H. (2018). Implementasi Teori Perkembangan Manusia dalam
Pembelajaran Sains. In Proceeding Annual Conference on Madrasah Teacher.
Barrett, P. (2015). he impact of classroom design on pupils’ learning: Final results of a holistic, multi-level analysis. Building and Environment, 118.
Budiningsih, C. A. (2012). Belajar Dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Dahaluddin, Rakib, M., & Apriyanti, E. (2022). Implementasi Pendidikan Karakter Melalui Kegiatan Ekstrakurikuler Pada Siswa Smk Negeri 1 Pangkep. Jurnal Education and Development, 129-135.
Dr. Nurlina, S. M., Nurfadilah, S. M., & Aliem Bahri, S. M. (2021). Teori Belajar dan Pembelajaran. Makassar: Berkah Utami.
Dwiputri, F. A., & Anggraeni, D. (2021). Penerapan Nilai Pancasila dalam Menumbuhkan Karakter Siswa Sekolah Dasar yang Cerdas Kreatif dan Berakhlak Mulia. Jurnal Pendidikan Tambusai, 1267-1273.
Haryanti, Y. D. (2017). Model Problem Based Learning Membangun Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Cakrawala Pendas, 1-10.
Hattie, J. (2009). isible Learning: A Synthesis of Over 800 Meta-Analyses Relating to Achievement. London: Routledge.
Herpratiwi. (2016). Teori Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta: Media Akademi.
Ibda, F. (2015). PERKEMBANGAN KOGNITIF: TEORI JEAN PIAGET.
Intelektualita, 3(1).
Isti'adah, F. N. (2020). Teori-teori Belajar dalam Pendidikan. Tasikmalaya: Edu Publisher.
Kusumawati, N. (2017). Penerapan Metode Acrive Learning Tipe Team Quiz Untuk Meningkatkan Keaktifan Bertanya dan Kreatifitas Siswa Pada Mata Pelajaran IPA Kelas V SDN Ronowijayan. Jurnal Bidang Pendidikan Dasar, 26-36.
Muamanah, H., & Suyadi. (2020). Pelaksanaan Teori Belajar Bermakna David Ausubel Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Jurnal Pendidikan Islam, 161-180.
Munaisah. (2022). Peningkatan Aktivitas dan Hasil Belajar Matematika dengan Metode Tutor Sebaya. Jurnal Teknologi Pembelajaran, 1-16.
Nugraha, D., & Hasanah, A. (2021). Pendidikan Karakter Berbasis Nilai-nilai Budaya di Sekolah. Nugraha, D., & Hasanah, A. (2021). PendidJurnal Pendidikan PKN (Pancasila Dan Kewarganegaraan), 1-9.
Nugroho, P. (2015). PANDANGAN KOGNITIFISME DAN APLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM ANAK.
ThufuLA: Jurnal Inovasi Pendidikan Guru Raudhatul Athfal, 281-304.
Nurhadi. (2020). Transformasi teori kognitivisme dalam belajar dan pembelajaran. Jurnal STITPN.
Pahliwandari, R. (2016). Penerapan Teori Pembelajaran Kognitif Dalam Pembelajaran Pendidikan Jasmani Dan Kesehatan. Jurnal Pendidikan Olahraga, 154-164.
Palupi, R., Anitah, S., & Budiyono. (2014). Hubungan Antara Motivasi Belajar dan Persepsi Siswa terhadap Kinerja Guru dalam Mengelola Kegiatan Belajar dengan Hasil Belajar IPA Siswa Kelas VIII di SMPN N 1 PACITAN. Jurnal Teknologi Pendidikan Dan Pembelajaran.
Prof. Dr. Hamzah B. Uno, M., & Nurdin Mohamad, S. M. (2011). Belajar Dengan Pendekatan PAILKEM: Pembelajaran Aktif, Inovatif, Lingkungan, Kreatif. Efektif, Menarik. Jakarta: Bumi Aksara.
Rochmatin, S. (2022). Index Card Match (ICM) sebagai Model Meningkatkan Keaktifan Belajar Sejarah. Jurnal Teknologi Pembelajaran, 17-28.
Salsabila, U. H., Andini, Triyana, F., Sari, K. F., & Rauv, M. (2021). Pemanfaatan Teknologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Berbasis Online Masa Pandemik Covid-19. Jurnal Penelitian Tarbawi: Pendidikan Islam Dan Isu-Isu Sosial.
Tafonao, T. (2018). Peranan Media Pembelajaran Dalam Meingkatkan Minat Belajar Anak. Jurnal Komunikasi Pendidikan, 103-114.
Wagner, A. D. (2009). Cognitive control in media multitaskers. Proceedings of the National Academy of Sciences, 106.
Wahab, D. G., & Rosnawati. (2021). TEORI-TEORI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN. Indramayu: Penerbit Adab.
Warsita, B. (2008). Teori Belajar Robert M. Gagne Dan Implikasinya Pada Pentingnya Pusat Sumber Belajar. Jurnal Teknodik, 64-78.
Yuberti. (2014). Teori Pembelajaran dan Pengembangan Bahan Ajar dalam Pembelajaran. Bandar Lampung: Anugrah Utama Raharja.
DAFTAR NAMA DAN PARTISIPASI DALAM PENGERJAAN TUGAS KELOMPOK
NAMA NPM TUGAS
Alif Nur Hafidz 2413033001 Analisis materi pengaruh Lingkungan belajar dan Penggunaan teknologi dalam proses Kognitif pada Siswa.
Nadhira Mutia Fahda 2413033004 Analisis materi teknik pembelajaran aktif yang mampu meningkatkan pemahaman siswa.
Gita Aprilia Azzahra 2413033016 Analisis materi pengaruh proses kognitif dalam pembelajaran siswa, definisi kognitif dan Menyusun Makalah.
M. Yasir Al Qodar 2413033028 Analisis materi prinsip-prinsip teori Kognitif.
Haikal Arrofi 2413033034 Analisis materi tantangan yang dihadapi oleh Pendidik dalam menerapkan Kognitif.
Fatimah Azzahra 2413033050 Analisis materi Peran alat bantu visual dalam mendukung proses Kognitif dalam Pembelajaran.
Yosef Stefanus Simanjuntak 2413033052 Analisis materi cara-cara yang dilakukan Pendidik untuk menerapkan Proes Kognitif dalam Kehidupan sehari-hari.
M.S. Alfath Murod 2413033071 Analisis materi pengaruh prosdan edit Video Pembelajaran.
Riswandi Ali Kurniawan 2413033072 Analisis materi Penggunaan teknologi dalam memfasilitasi proses Kognitif siswa.
Muhammad Fauzan A. 2413033087 Analisis materi prinsip dasar yang mendasari Kognitif siswa.
Lisvi Revina Fitri 2413033091 Analisis materi tokoh-tokoh yang mengembangkan Teori Kognitif dan membuat PPT.