PENUGASAN
KAJIAN KASUS PADA PENYAKIT RHESUS
Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Asuhan Kebidanan Pada Kasus Kompleks
Dosen Pengampu : Fitri Puspita Sari, S.S.T., M.Kes
Disusun Oleh:
F122003 Devi Mulyanti F122025 Intan Permatasari
PROGRAM STUDI SARJANA KEBIDANAN FAKULTAS KEBIDANAN
INSTITUT KESEHATAN RAJAWALI 2025
RHESUS A. Penyakit Rhesus
Penyakit Rhesus adalah kondisi ketika antibodi dalam darah wanita hamil menghancurkan sel darah bayinya. Penyakit ini juga dikenal sebagai penyakit hemolitik pada janin dan bayi baru lahir (HDFN).
Semua golongan darah memiliki faktor rhesus, baik itu positif maupun negatif. Rhesus atau faktor rhesus adalah kadar protein khusus (Antigen D) pada permukaan sel darah merah. Tidak semua orang memiliki protein pada permukaan sel darah merahnya. Seseorang yang sel darah merahnya terdapat prote-in tersebut berarti dinyatakan memiliki rhesus positif (biasa ditu-lis Rh+).
Jika seseorang tidak memiliki protein tersebut pada sel darah merahnya, berarti dinyatakan memiliki rhesus negatif (atau Rh-).
Rhesus positif dianggap lebih umum karena pemilik kondisi ini lebih banyak dibandingkan pemilik rhesus negatif. Namun, seseorang yang memiliki rhesus negatif, bukan berarti akan berdampak buruk kepada kesehatan dan kondisi tubuh karena status rhesus bukanlah suatu kelainan dan tidak memicu penyakit apa pun.
Penyakit rhesus lekat kaitannya dengan proses kehamilan ketika terjadi ketidaksesuaian rhesus antara ibu dan bayinya, misalnya ketika seorang wanita dengan Rh- memiliki anak dengan pria Rh+ yang merupakan gen resesif yang tidak dominan. Akibatnya, anak memiliki Rh+ yang menciptakan ketidakcocokan antara ibu dan anak.
Ketidak cocokan rhesus terjadi ketika darah bayi Rh+ masuk ke dalam sistem ibu yang memiliki Rh-, maka sistem tubuh ibu akan menganggap darah bavi sebagai ancaman, Akibatnya, mun-cullah reaksi kekebalan terhadap darah Rh+ dan tubuh ibu akan memproduksi antibodi yang disebut Anti-D yang berperan melin-dungi sistem tubuh dari serangan.
Percampuran darah itu dapat terjadi misalnya pada proses kelahiran, bila terjadi keguguran, aborsi, prosedur pengujian cairan ketuban hingga trauma abdomen selama masa kehamilan pertama. Inilah sebabnya penyakit rhesus lebih umum terjadi pada kehamilan kedua dan setelahnya.
B. Patofisiologi
Plasenta atau ari-ari adalah penghubung antara peredaran darah ibu dan janin. Dari plasenta inilah disalurkan segala nutrisi dan juga antibodi dari ibu ke janin. Peredaran darah janin dan darah ibu tidak bercampur dan dibatasi oleh suatu membran di plasenta. Pada beberapa kasus bisa terjadi kebocoran sehingga darah janin masuk ke dalam sirkulasi darah ibu seperti pada perdarahan yang terjadi selama kehamilan, keguguran, tindakan amniosintesis, dan proses persalinan.
Karena kebocoran ini, darah janin yang Rh+ (memiliki an-tigen D) masuk ke peredaran darah ibu yang Rh- (tidak me-miliki antigen D). Masuknya peredaran darah janin ini dianggap benda asing oleh peredaran darah ibu sehingga secara alamiah terbentuklah antibodi terhadap Rh (anti-Rh) yang kemudian respons sistem kekebalan tubuh ini disebut sebagai sensitisasi Rh.
Produksi antibodi ini sangat lambat, karena itu masalah inkompabilitas Rhesus sangat jarang dijumpai pada kehamilan pertama, karena antibodi belum terbentuk kecuali pada kasus tertentu.
Arosa (2016) mengemukakan bahwa pada kehamilan pertama, Rh sensitisasi tidak mungkin terjadi, tetapi hanya menjadi masalah dalam kehamilan kedua dan seterusnya. Selama kehamilan itu, antibodi ibu melewati plasenta untuk melawan sel-sel Rh positif di tubuh bayi. Antibodi ibu menghancurkan sel-sel darah merah yang menyebabkan bayi menjadi sakit.
Akan tetapi, jika telah terjadi kebocoran darah janin, jumlah antibodi tersebut
belum cukup membahayakan janin. Seandainya terjadi kebocoran pada kehamilan pertama terhadap bayi tersebut, bayi akan menjadi kuning setelah dilahirkan.
Reaksi inkompabilitas Rhesus yang terjadi pada kehamilan kedua dan seterusnya akan memengaruhi kehidupan dan perkembangan janin tersebut.
Karena plasenta menyalurkan antibodi ibu terhadap janinnya, antibodi anti-Rh pada peredaran darah ibu masuk ke peredaran darah janin yang ke-mudian menyebabkan penghancuran sel darah merah (he-molisis) janin yang berakibat Anemia (karena kurangnya pasokan oksigen), Hepatosplenomegali (pembengkakan hati atau limpa), Hidrops fetalis (masuknya cairan ke jaringan tubuh janin seperti perut, jantung, dan paru-paru), dan kematian janin, sedangkan pada bayi baru lahir selain anemia bisa terjadi Hiperbilirubinemia (bayi kuning). Kondisi pada janin ini disebut Erytroblastosis fetalis.
C. Diagnosa
Untuk mengetahui adanya penyakit rhesus, perlu dilaku. kan tes darah pada awal kehamilan. Pemantauan secara ketat kehamilan menjadi begitu penting untuk kesehatan ibu dan bayi,
D. Penatalaksanaan dan Pencegahan
1. Melakukan pemeriksaan golongan darah dan rhesus pada awal kehamilan.
2. Jika ibu hamil sudah mengetahui bahwa rhesusnya negatif, disarankan untuk segera mencari informasi dan dokter yang bisa menangani kehamilannya.
3. Ibu hamil dengan Rh akan diperiksa darahnya apakah sudah terbentuk antibodi anti-Rh dalam darahnya untuk penanganan terapi lebih lanjut.
4. Jika belum terbentuk antibodi, biasanya akan diberikan suntikan immunoglobulin anti-Rh (Rho-GAM) pada usia kehamilan 28 minggu dan dalam 72 jam setelah persalinan.
5. Jika ibu hamil menunjukkan kadar antibodi sangat tinggi dalam darahnya, akan dilakukan penanganan khusus terhadap janinnya, seperti pemeriksaan USG, pengecekan amniosintesis secara berkala untuk mengecek level anemia dalam darah bayi, persalinan lebih dini ketika usia janin sudah
cukup kuat untuk hidup di luar rahim, dilakukan transfusi darah kepada janin di dalam kandungan jika kasusnya berada pada level gawat.
6. Penyakit rhesus dapat dicegah dengan vaksinasi. Vaksinasi yang mengandung immunoglobulin anti-D yang diberikan kepada ibu Rh- saat kelahiran bayi Rh+ pertamanya.
KESIMPULAN
Penyakit Rhesus merupakan kondisi medis yang terjadi akibat ketidakcocokan golongan darah Rhesus antara ibu dan janin, yang dapat menyebabkan komplikasi serius pada janin, bahkan kematian. Penyebabnya antara lain Ketidak cocokan Rhesus (ibu Rh-, bayi Rh+), Sensitisasi (masuknya darah bayi Rh+ ke peredaran darah ibu Rh-), Pembentukan antibodi Anti-D oleh tubuh ibu.
Yang memberikan dampak Antibodi ibu menyerang sel darah merah bayi (hemolisis), Anemia, pembengkakan organ, hidrops janin, hiperbilirubinemia, dan kematian janin.
Referensi
Pratiwi, Arantika M & Fatima. (2022). Patologi Kehamilan. Yogyakarta: Pustaka Baru Pers.