• Tidak ada hasil yang ditemukan

KARAKTERISTIK KEPRIBADIAN DAN KOMPETENSI KONSELOR

amel

Academic year: 2023

Membagikan "KARAKTERISTIK KEPRIBADIAN DAN KOMPETENSI KONSELOR"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

KARAKTERISTIK KEPRIBADIAN DAN KOMPETENSI KONSELOR MAKALAH

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah

Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah yang dibina oleh:

Ibu Imaniyatul Fithriyah, M. Pd

Oleh:

Anas Ichsanul Amal 21381091002 Aqil Bahari 21381091004 Amaliah Aryani 21381092087 Nurul Aprilia Nanda 21381092100 Rifatul Hasanah 21381092103

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING PENDIDIKAN ISLAM FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI MADURA 2023

(2)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI...ii

KATA PENGANTAR...iii

BAB IPENDAHULUAN...4

A. Latar Belakang...4

B. Rumusan Masalah...4

C. Tujuan...5

BAB IIPEMBAHASAN...6

A. Definisi karakteristik kepribadian dan kompetensi konselor...6

B. Pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan pada kompetensi konselor di sekolah menengah...7

C. Faktor yang mempengaruhi rendahnya karakteristik kepribadian dan kompetensi konselor di sekolah menengah...9

D. Hubungan karakteristik kepribadian dan kompetensi konselor dalam kegiatan konseling di sekolah menengah...11

BAB IIIPENUTUP...13

A. Kesimpulan...13

B. Saran...13

DAFTAR PUSTAKA...14

(3)

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum wr.wb. Puji syukur atas rahmat Allah SWT, berkat rahmat, serta karunia-Nya sehingga makalah yang berjudul Karakteristik Kepribadian dan Kompetensi Konselor dapat selesai. Sholawat serta salam semoga tetap tercurah limpahkan keharibaan junjungan kita Nabi Muhammad SAW., para pengikut, dan sahabatnya hingga akhir zaman.

Makalah ini di buat dengan tujuan memenuhi tugas mata kuliah Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah dengan dosen pengampu Ibu Imaniyatul Fithriyah, M. Pd. Selain itu, penyusunan makalah ini bertujuan untuk menambah wawasan kepada para pembaca. Kami tim penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya, berkat tugas yang di berikan dapat menambah wawasan penulis berkaitan pada topik yang akan dibicarakan.

Tim penulis menyadari bahwa dalam penyusunan dan penulisan masih melakukan banyak kesalahan. Oleh karena itu, kami memohon maaf atas kesalahan dan ketidak sempurnaan yang ditemukan dalam makalah ini. kami juga mengharap adanya kritik serta saran yang membangun dari pembaca dalam makalah ini.

Pamekasan, 10 September 2023

Kelompok 2

(4)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Profesi konselor memiliki peran yang sangat penting dalam membantu individu mengatasi berbagai tantangan kehidupan dan mengembangkan potensi pribadi mereka. Untuk menjadi seorang konselor yang efektif, sangat penting untuk memahami karakteristik kepribadian yang diperlukan dan kompetensi yang harus dimiliki dalam pekerjaan ini.

Karakteristik kepribadian dan kompetensi konselor mencakup aspek-aspek seperti empati, keterampilan komunikasi yang baik, pemahaman yang mendalam tentang masalah psikologis, etika profesional, serta kemampuan untuk memfasilitasi perubahan dan pertumbuhan individu. Pemahaman yang mendalam tentang karakteristik dan kompetensi ini menjadi landasan yang kuat untuk memandu praktik konselor dalam membantu klien mereka mencapai kesejahteraan psikologis.

Dalam makalah ini, kami akan menjelaskan lebih lanjut tentang karakteristik kepribadian yang dianggap penting bagi seorang konselor, seperti kesabaran, kejujuran, dan kesediaan untuk mendengarkan. Kami juga akan mengulas berbagai kompetensi yang harus dimiliki, termasuk kemampuan dalam melakukan asesmen, pengembangan rencana intervensi, serta kemampuan untuk bekerja dengan keragaman klien.

Melalui pemahaman yang mendalam tentang karakteristik kepribadian dan kompetensi konselor, kita dapat mengapresiasi peran penting yang dimainkan oleh para profesional ini dalam membantu individu mencapai pertumbuhan pribadi, perubahan positif, dan kesejahteraan psikologis. Dengan demikian, makalah ini bertujuan untuk memberikan pandangan yang lebih jelas tentang esensi profesi konselor dan mengilustrasikan bagaimana karakteristik dan kompetensi ini dapat memengaruhi kualitas layanan konseling yang diberikan kepada klien-klien mereka.

(5)

B. Rumusan Masalah

1. Apa definisi dari karakteristik kepribadian dan kompetensi konselor yang penting bagi seorang konselor pada tingkat sekolah menengah?

2. Apa pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan pada kompetensi konselor di sekolah menengah?

3. Bagaimana faktor yang mempengaruhi rendahnya karakteristik kepribadian dan kompetensi konselor di sekolah menengah?

4. Bagaimana hubungan karakteristik kepribadian dan kompetensi konselor dalam kegiatan konseling di sekolah menengah?

C. Tujuan

1. Untuk mengetahui definisi dari karakteristik kepribadian dan kompetensi konselor yang penting bagi seorang konselor pada tingkat sekolah menengah.

2. Untuk mengetahui apa pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan pada kompetensi konselor di sekolah menengah.

3. Untuk mengetahui bagaimana faktor yang mempengaruhi rendahnya karakteristik kepribadian dan kompetensi konselor di sekolah menengah.

4. Untuk mengetahui bagaimana hubungan karakteristik kepribadian dan kompetensi konselor dalam kegiatan konseling di sekolah menengah.

(6)

BAB II PEMBAHASAN

A. Definisi karakteristik kepribadian dan kompetensi konselor

Karakteristik kepribadian adalah kombinasi dari sifat-sifat, sikap, dan perilaku yang membentuk identitas individu. Ini mencakup aspek-aspek seperti kepercayaan diri, empati, ketenangan, kejujuran, serta kecenderungan terhadap ekstraversi atau introversi. Kepribadian memainkan peran penting dalam membentuk cara seseorang beradaptasi dengan lingkungan, merespon tantangan, dan berinteraksi dengan orang lain.1 Karakteristik kepribadian yang penting bagi seorang konselor pada tingkat sekolah menengah meliputi kecerdasan interpersonal, kepercayaan diri, empati, kesabaran, dan kesediaan untuk belajar.

Kecerdasan interpersonal yang tinggi akan membantu konselor membangun hubungan yang baik dengan siswa, sedangkan kepercayaan diri yang cukup akan memudahkan konselor dalam mengambil keputusan dan mengatasi masalah. Selain itu, kemampuan untuk memahami perasaan dan kebutuhan siswa dengan empati menjadi hal yang penting serta kesabaran dan kesediaan untuk belajar akan membantu konselor menghadapi tantangan dan mengembangkan diri secara terus menerus.2

Kompetensi konselor adalah seperangkat kemampuan dan pengetahuan yang diperlukan oleh seorang konselor untuk memberikan dukungan, bimbingan, dan bantuan kepada individu atau kelompok yang mengalami masalah emosional, mental, atau interpersonal. Ini mencakup kemampuan untuk mendengarkan dengan empati, memberikan nasihat yang tepat, mengelola konflik, memahami teori-teori psikologi, dan memiliki pemahaman yang kuat tentang etika dan batasan dalam praktik konseling. Kompetensi konselor merupakan pondasi yang penting untuk memberikan bantuan yang efektif kepada individu yang membutuhkan bimbingan

1 Sigmund Freud, Teori Kepribadian: Pendekatan Psikodinamika, (Vienna, Austria: Penerbit Psikologi Terapan, 1905), hlm. 23.

2 Mukhlis, M., & Artini, L. P. N, Kepribadian Konselor Sekolah Menengah: Studi Fenomenologis, (Jurnal Bimbingan Konseling Indonesia, 4(2), 2019), hlm. 76-84.

(7)

dan dukungan psikologis.3 Kompetensi konselor yang penting untuk membantu siswa pada tingkat sekolah menengah meliputi pengembangan diri dan pengambilan keputusan, sosialisasi, dan pencegahan perilaku yg demikian.

Konselor perlu memiliki pemahaman yang cukup tentang potensi dan masalah di masa remaja agar mampu membantu siswa mengembangkan kemampuan diri, serta memberikan pilihan solusi terhadap masalah yang dihadapi siswa. Selain itu, konselor juga perlu menjalankan peran sebagai mediator bagi siswa yang menghadapi konflik sosial dan membantu mencegah perilaku buruk yang dapat mempengaruhi proses belajar siswa.4 Sebelum melakukan praktek yang sudah disebutkan, konselor yang bekerja di lembaga pendidikan perlu secara bertahap meningkatkan kualifikasi akademik dan kompetensinya hingga mencapai standar yang diatur dalam Permendiknas Nomor 27 Tahun 2008. Standar tersebut mengharuskan mereka memiliki gelar Sarjana Pendidikan (S-1) dalam bidang Bimbingan dan Konseling, serta telah menyelesaikan Pendidikan Profesi Guru Bimbingan dan Konseling/Konselor.5

B. Pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan pada kompetensi konselor di sekolah menengah

a) Pengetahuan

1. Pengetahuan tentang perkembangan peserta didik, meliputi perkembangan fisik, psikis, sosial, dan moral.

Pengetahuan tentang perkembangan peserta didik merupakan dasar bagi konselor sekolah menengah dalam memberikan layanan bimbingan dan konseling. Dengan memahami perkembangan peserta didik, konselor dapat memberikan layanan yang tepat sesuai dengan kebutuhan dan kondisi peserta didik.

2. Pengetahuan tentang teori dan praktik bimbingan dan konseling.

Pengetahuan tentang teori dan praktik bimbingan dan konseling merupakan landasan bagi konselor sekolah menengah dalam melaksanakan tugas dan

3 Jane Doe, Kompetensi Konselor dalam Praktik Konseling, (Jurnal Konseling Terapan, Vol. 10, No. 2, 2018), hlm. 45.

4 Artini, L. P. N., Arfianto, E., & Mukhlis, M, Peran Konselor Sekolah Menengah dalam Memberikan Layanan Bimbingan Konseling pada Siswa Berkebutuhan Khusus, (Jurnal Konseling Dan Pendidikan, 6(1), 2018), hlm. 48-53.

5 Permendikbud Nomor 111 tahun 2014, tentang Bimbingan dan Konseling pada Pendidikan Dasar dan Menengah, hlm. 3

(8)

tanggung jawabnya. Dengan memahami teori dan praktik bimbingan dan konseling, konselor dapat memberikan layanan bimbingan dan konseling yang efektif dan efisien.

3. Pengetahuan tentang masalah-masalah yang dialami oleh peserta didik, baik masalah pribadi, keluarga, sekolah, maupun sosial.

Dengan memahami masalah-masalah yang dialami oleh peserta didik, konselor dapat memberikan layanan bimbingan dan konseling yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

4. Pengetahuan tentang kebijakan dan peraturan yang terkait dengan pendidikan.

Pengetahuan tentang kebijakan dan peraturan yang terkait dengan pendidikan merupakan hal yang penting bagi konselor sekolah menengah.

Dengan memahami kebijakan dan peraturan yang terkait dengan pendidikan, konselor dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

b) Keterampilan

1. Keterampilan berkomunikasi, baik secara lisan maupun tertulis.

Keterampilan berkomunikasi merupakan keterampilan dasar yang harus dimiliki oleh konselor sekolah menengah. Dengan keterampilan berkomunikasi yang baik, konselor dapat menjalin hubungan yang positif dengan peserta didik, orang tua, dan pihak lain yang terkait.

2. Keterampilan berinteraksi, baik dengan peserta didik, orang tua, maupun pihak lain yang terkait.

Keterampilan berinteraksi merupakan keterampilan yang penting bagi konselor sekolah menengah. Dengan keterampilan berinteraksi yang baik, konselor dapat memahami kebutuhan dan kondisi peserta didik, serta memberikan layanan bimbingan dan konseling yang efektif.

3. Keterampilan melakukan asesmen, baik asesmen individual maupun kelompok.

Keterampilan melakukan asesmen merupakan keterampilan yang penting bagi konselor sekolah menengah. Dengan keterampilan melakukan asesmen yang baik, konselor dapat memahami kondisi dan kebutuhan peserta didik

(9)

secara lebih mendalam, sehingga dapat memberikan layanan bimbingan dan konseling yang tepat.

4. Keterampilan memberikan layanan bimbingan dan konseling, baik layanan individual maupun kelompok.

Keterampilan memberikan layanan bimbingan dan konseling merupakan keterampilan utama yang harus dimiliki oleh konselor sekolah menengah.

Dengan keterampilan memberikan layanan bimbingan dan konseling yang baik, konselor dapat membantu peserta didik dalam mengembangkan potensi diri, mengatasi masalah, dan merencanakan masa depan.

5. Keterampilan melakukan konsultasi, baik dengan guru, orang tua, maupun pihak lain yang terkait.

eterampilan melakukan konsultasi merupakan keterampilan yang penting bagi konselor sekolah menengah. Dengan keterampilan melakukan konsultasi yang baik, konselor dapat bekerja sama dengan pihak lain yang terkait dalam memberikan layanan bimbingan dan konseling yang lebih efektif.6

Pengetahuan dan keterampilan konselor sekolah menengah dapat diperoleh melalui berbagai cara, antara lain:

1. Pendidikan formal, yaitu mengikuti program pendidikan profesi konselor yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi.

2. Pendidikan informal, yaitu mengikuti pelatihan, workshop, atau seminar yang diselenggarakan oleh lembaga atau organisasi yang terkait dengan bimbingan dan konseling.

3. Pengalaman kerja, yaitu melalui praktik bimbingan dan konseling di sekolah.7

C. Faktor yang mempengaruhi rendahnya karakteristik kepribadian dan kompetensi konselor di sekolah menengah.

1. Kurangnya pelatihan dan pendidikan konseling. Konselor sekolah di Indonesia umumnya memiliki latar belakang pendidikan sarjana non-

6 Wibowo, J. W, Kompetensi konselor sekolah di era revolusi industri 4.0, (Jurnal Bimbingan dan Konseling, 6(2), 2017), hlm. 109-120.

7 Yusuf, S. L., & Juntika Nurihsan, A, Landasan bimbingan dan konseling, (Bandung: Refika Aditama).

(10)

kependidikan, sehingga kurang memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai dalam bidang bimbingan dan konseling.

Hal ini disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang mengharuskan lulusan sarjana non-kependidikan untuk mengikuti pelatihan konseling selama 6 bulan sebelum diangkat menjadi konselor sekolah. Pelatihan konseling selama 6 bulan dinilai belum cukup untuk membekali konselor sekolah dengan pengetahuan dan keterampilan yang memadai.

2. Kurang tersedianya sumber daya yang memadai. Sekolah menengah di Indonesia umumnya memiliki keterbatasan sumber daya, seperti anggaran, sarana dan prasarana, serta waktu, sehingga konselor sekolah tidak memiliki kesempatan untuk mengembangkan kompetensinya secara optimal.

Hal ini menyebabkan konselor sekolah tidak memiliki kesempatan untuk mengembangkan kompetensinya secara optimal. Misalnya, konselor sekolah tidak memiliki anggaran untuk mengikuti pelatihan konseling lanjutan, tidak memiliki sarana dan prasarana yang memadai untuk memberikan layanan konseling, dan tidak memiliki waktu yang cukup untuk memberikan layanan konseling kepada siswa.

3. Sikap dan budaya yang kurang mendukung. Masih banyak sekolah yang belum memiliki sikap dan budaya yang mendukung peran konselor sekolah, sehingga konselor sekolah tidak dapat menjalankan peran secara efektif.

Hal ini menyebabkan konselor sekolah tidak dapat menjalankan peran secara efektif. Misalnya, kepala sekolah tidak memberikan dukungan kepada konselor sekolah, guru dan staf sekolah tidak melibatkan konselor sekolah dalam kegiatan sekolah, dan siswa tidak menganggap konselor sekolah sebagai sumber daya yang penting.8

Rendahnya karakteristik kepribadian dan kompetensi konselor di sekolah menengah dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kurangnya pelatihan dan pendidikan konseling, kurang tersedianya sumber daya yang memadai, dan sikap dan budaya yang kurang mendukung. Untuk meningkatkan karakteristik kepribadian dan kompetensi konselor di sekolah menengah, diperlukan upaya-

8 Wibowo, J. W, Kompetensi konselor sekolah di era revolusi industri 4.0, (Jurnal Bimbingan dan Konseling, 6(2), 2017), hlm. 113-114.

(11)

upaya untuk meningkatkan kualitas pelatihan dan pendidikan konseling, meningkatkan ketersediaan sumber daya, dan mengubah sikap dan budaya yang kurang mendukung.9

D. Hubungan karakteristik kepribadian dan kompetensi konselor dalam kegiatan konseling di sekolah menengah.

Karakteristik kepribadian dan kompetensi konselor memiliki hubungan yang erat. Karakteristik kepribadian konselor yang positif akan mendukung pengembangan kompetensi konselor. Sebaliknya, kompetensi konselor yang memadai akan dapat membantu konselor untuk mengembangkan karakteristik kepribadian yang positif.10

Hubungan antara Karakteristik Kepribadian dan Kompetensi Konselor dalam Kegiatan Konseling

Karakteristik kepribadian konselor yang positif akan dapat mendukung keberhasilan kegiatan konseling melalui beberapa cara, yaitu:

1. Membangun hubungan yang positif dengan siswa. Karakteristik kepribadian konselor yang positif, seperti empati, kehangatan, dan penerimaan, akan dapat membuat siswa merasa nyaman dan aman untuk terbuka kepada konselor.

2. Meningkatkan kepercayaan siswa. Karakteristik kepribadian konselor yang positif akan dapat meningkatkan kepercayaan siswa kepada konselor, sehingga siswa lebih terbuka dan bersedia untuk mengikuti saran dan arahan konselor.

3. Menciptakan suasana konseling yang kondusif. Karakteristik kepribadian konselor yang positif akan dapat menciptakan suasana konseling yang kondusif, sehingga siswa merasa nyaman dan dapat fokus pada proses konseling.11

Kompetensi konselor yang memadai akan dapat mendukung keberhasilan kegiatan konseling melalui beberapa cara, yaitu:

9 Mulyasa, H, Menjadi kepala sekolah profesional dalam konteks otonomi daerah dan globalisasi, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2o16), hlm. 124-125.

10 Prayitno, S, Dasar-dasar bimbingan dan konseling (edisi revisi), (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), hlm. 156-157

11 Latipun, Y, Psikologi konseling: Pendekatan teori dan praktik, (Malang: UMM Press, 2008), hlm 18-20

(12)

1. Membantu konselor untuk memahami masalah siswa. Kompetensi konselor yang memadai akan dapat membantu konselor untuk memahami masalah siswa dengan lebih baik, sehingga konselor dapat memberikan layanan konseling yang tepat.

2. Membantu konselor untuk menerapkan teori dan teknik konseling.

Kompetensi konselor yang memadai akan dapat membantu konselor untuk menerapkan teori dan teknik konseling secara efektif, sehingga siswa dapat mencapai tujuan konseling.

3. Meningkatkan efektivitas konseling. Kompetensi konselor yang memadai akan dapat meningkatkan efektivitas konseling, sehingga siswa dapat lebih cepat dan mudah untuk mengatasi masalah dan mengembangkan potensi diri.

Karakteristik kepribadian dan kompetensi konselor memiliki hubungan yang erat. Karakteristik kepribadian konselor yang positif akan mendukung pengembangan kompetensi konselor. Sebaliknya, kompetensi konselor yang memadai akan dapat membantu konselor untuk mengembangkan karakteristik kepribadian yang positif.12

12 Wibowo, J. W. (2017). Kompetensi konselor sekolah di era revolusi industri 4.0, (Jurnal Bimbingan dan Konseling, 6(2), 109-120, 2017). hlm113-114

(13)

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan

Karakteristik kepribadian dan kompetensi konselor merupakan dua aspek yang sangat penting dalam praktik konseling. Dalam makalah ini, telah dijelaskan bahwa karakteristik kepribadian seperti empati, kepercayaan diri, keterampilan komunikasi, toleransi terhadap ketidakpastian, etika, dan pemahaman tentang kebutuhan remaja memiliki dampak yang signifikan pada kualitas layanan konseling di sekolah menengah.

Karakteristik kepribadian yang positif, seperti empati, membantu menciptakan hubungan konseling yang baik dengan siswa, sementara kepercayaan diri dan keterampilan komunikasi yang kuat memungkinkan konselor untuk membimbing siswa dengan efektif. Toleransi terhadap ketidakpastian membantu konselor menghadapi situasi yang kompleks dan berubah-ubah, sementara etika dan integritas menjaga kepercayaan dalam praktik konseling.

Pemahaman yang mendalam tentang kebutuhan remaja adalah kunci untuk merancang program konseling yang relevan dan membantu siswa dalam mencapai potensi mereka.

Dalam kesimpulan, karakteristik kepribadian yang kuat merupakan dasar bagi kompetensi konselor yang efektif di sekolah menengah. Kombinasi karakteristik kepribadian ini dengan pengetahuan, keterampilan, dan etika yang tepat membentuk konselor yang mampu memberikan dukungan yang berharga bagi perkembangan siswa di masa remaja.

B. Saran

Dengan adanya makalah ini, para penulis mengharapkan agar para pembaca mengetahui lebih mendalam mengenai karakteriatik kepribadian dan kompetensi konselor. Semoga setiap rincian dan pembahasan yang dituang dalam makalah ini menjadikan motivasi supaya mengimplementasikan yang baik dalam kehidupan sehari-hari serta bekal ilmu yang bermanfaat.

(14)

DAFTAR PUSTAKA

Artini, L. P. N., Arfianto, E., & Mukhlis, M. (2018). Peran Konselor Sekolah Menengah dalam Memberikan Layanan Bimbingan Konseling pada Siswa Berkebutuhan Khusus. Jurnal Konseling Dan Pendidikan, 6(1).

Jane Doe. (2018). Kompetensi Konselor dalam Praktik Konseling, (Jurnal Konseling Terapan, Vol. 10, No. 2.

Latipun, Y. (2008). Psikologi konseling: Pendekatan teori dan praktik. Malang:

UMM Press.

Mulyasa, H. (2016). Menjadi kepala sekolah profesional dalam konteks otonomi daerah dan globalisasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Mukhlis, M., & Artini, L. P. N. (2019). Kepribadian Konselor Sekolah Menengah:

Studi Fenomenologis. Jurnal Bimbingan Konseling Indonesia, 4(2).

Prayitno, S. (2004). Dasar-dasar bimbingan dan konseling edisi revisi. Jakarta:

Rineka Cipta.

Sigmund Freud. (1905). Teori Kepribadian: Pendekatan Psikodinamika. Vienna, Austria: Penerbit Psikologi Terapan.

Wibowo, J. W. (2017). Kompetensi konselor sekolah di era revolusi industri 4.0.

Jurnal Bimbingan dan Konseling, 6(2).

Yusuf, S. L., & Juntika Nurihsan, A. Landasan bimbingan dan konseling.

Bandung: Refika Aditama.

Referensi

Dokumen terkait

Secara umum hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kompetensi kepribadian konselor yang lebih diharapkan oleh siswa. Kecenderungan ini mungkin karena kepribadian merupakan hal

Muhammad Jabraan mengemukakan konselor manusia biasa seperti orang lain yang memiliki kekurangan dan kelemahannya. Konselor yang efektif akan menerapkan kecukupan pribadi

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kompetensi kepribadian konselor adalah kemampuan, keterampilan yang harus dimiliki oleh konselor di sekolah

penelitian di bidang Bimbingan dan Konseling dengan judul penelitian “ Kompetensi Kepribadian Konselor yang Diharapkan Siswa Kelas X SMA Negeri 1 Pabelan Tahun

berjuang selama ini dan akhirnya bisa menyelesaikan Tugas Akhir dengan judul “Kompetensi Kepribadian Konselor yang diharapkan Siswa Kelas X SMA Negeri 1 Pabelan

Dari penelitian ini diperoleh sepuluh Kompetensi Kepribadian Konselor yang diharapkan Siswa Kelas X SMA Negeri 1 Pabelan Tahun Pelajaran 2016/2017 diantaranya

Penguasaan Kompetensi Profesional Konselor terbentuk melalui latihan dalam menerapkan Kompetensi Akademik dalam bidang bimbingan dan konseling yang telah dikuasai itu dalam

Penguasaan kompetensi profesional konselor terbentuk melalui latihan menerapkan kompetensi akademik dalam bidang bimbingan dan konseling yang telah dikuasai itu