PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Data WHO menunjukkan bahwa efusi pleura disebabkan oleh berbagai gangguan kardiopulmoner seperti gagal jantung kongestif, gangguan hati, dan keganasan paru (Mc Gart & Anderson, 2011). Hasil penelitian di salah satu rumah sakit di India pada tahun 2013-2014 menunjukkan prevalensi efusi pleura sebanyak 80 kasus dengan penyebab tersering adalah tuberkulosis paru (Jamaluddin, 2015). Penyebab efusi pleura akibat infeksi adalah TBC, pneumonia, abses paru, perforasi esofagus, abses subphrenic.
Pada kasus efusi pleura tanpa gejala, efusi pleura biasanya terlihat pada radiografi dada (Wedro, 2014). Ciri khas tanda dan gejala efusi pleura yang sering terjadi antara lain sesak napas, batuk kering, dan nyeri dada pleuritik. Masalah keperawatan yang umum ditemui pada pasien efusi pleura antara lain pola pernafasan tidak efektif dan penurunan pertukaran gas (NANDA, 2012).
Sementara itu, efusi pleura juga menyebabkan gangguan pertukaran gas, yang secara klinis diwujudkan dalam perubahan nilai gas darah arteri (Wilkinson & Ahern, 2005). Oleh karena itu penulis tertarik dengan judul “Pelayanan Medis Pasien Efusi Pleura Di RSUD dr.
Rumusan Masalah
- Tujuan Umum
- Tujuan Khusus
Melaksanakan intervensi keperawatan pada pasien efusi pleura di RSUD Kanudjoso Djatiwibowo Balikpapan Kalimantan Timur Tahun 20120. Evaluasi asuhan keperawatan pasien efusi pleura di RSUD Kanudjoso Djatiwibowo Balikpapan Kalimantan Timur Tahun 2020.
Manfaat Penelitian
- Bagi Peneliti
TINJAUAN PUSTAKA
Konsep Dasar Medis
- Pengertian
- Etiologi
- Anatomi Fisiologi
- Klasifikasi
- Manifestasi Klinis
- Patofisiologi
- Pemeriksaan Penunjang
- Komplikasi
Efusi pleura merupakan penimbunan cairan pleura akibat peningkatan laju produksi cairan, penurunan laju aliran keluar cairan, atau kedua-duanya, hal ini disebabkan oleh salah satu dari lima mekanisme berikut (Morton 2012). Efusi pleura ini terjadi karena kebocoran cairan melalui kapiler yang rusak dan ke paru-paru di sekitarnya (Morton, 2012) 5. Sebagian besar efusi pleura terjadi akibat tuberkulosis paru melalui ruptur fokus subpleural atau melalui aliran limfatik.
Efusi tersebut bukan disebabkan oleh adanya bakteri tuberkulosis, melainkan karena efusi pleura yang dapat menyebabkan beberapa perubahan fisik, antara lain: Irama. Selain hal-hal di atas, terdapat perubahan lain akibat efusi pleura akibat infeksi tuberkulosis paru yaitu peningkatan suhu, batuk dan penurunan berat badan (Nair & Peate, 2015). Bila jumlah cairan efusi pleura lebih banyak, maka pengeluaran cairan selanjutnya baru dapat dilakukan 1 jam kemudian.
Pada sekitar 20% pasien, meskipun telah dilakukan pemeriksaan menyeluruh, penyebab efusi pleura tidak dapat ditentukan. Efusi pleura berupa eksudat yang tidak ditangani dengan drainase yang baik akan menyebabkan perlengketan fibrosa antara pleura parietal dan visceral.
Konsep Masalah Keperawatan
- Diagnosis Keperawatan
- Masalah keperawatan
Menjelaskan respon klien terhadap kondisi kesehatan atau proses kehidupan yang menyebabkan klien mengalami gangguan kesehatan. Menjelaskan respon klien terhadap kondisi kesehatan atau proses kehidupan yang menempatkan klien pada risiko mengalami gangguan kesehatan. Merupakan label diagnosa keperawatan yang menggambarkan hakikat respon klien terhadap suatu kondisi kesehatan atau proses kehidupan.
Diagnosis risiko tidak mempunyai penyebab dan tanda/gejala, namun hanya tanda/gejala yang menunjukkan klien bersedia mencapai keadaan yang lebih optimal. Berikut ini uraian permasalahan yang dihadapi pada pasien efusi pleura sebelum melakukan tindakan invasif menurut (Nurarif dkk, 2015) dan (PPNI, 2017):.
Konsep Asuhan Keperawatan Efusi Pleura
- Pengkajian
- Diagnosa Keperawatan
- Intervensi Keperawatan
- Implementasi Keperawatan
- Evaluasi Keperawatan
Tingkat kesadaran pasien harus dinilai, penampilan pasien secara umum, ekspresi wajah pasien selama prosedur. riwayat kesehatan, sikap dan perilaku pasien terhadap petugas, bagaimana suasana hati pasien untuk mengetahui tingkat kecemasan dan ketegangan pasien. Pada posisi duduk, cairan menjadi lebih encer ke atas, dan di belakangnya terdapat atelektasis kompresi dari parenkim paru. Tanda auskultasi atelektasis kompresi dapat ditemukan di sekitar batas atas cairan -5 pada garis midklavikula kiri 1 lebar cm. Pada pemeriksaan tersebut harus dinilai tingkat kesadarannya, selain itu juga diperlukan pemeriksaan GCS, apakah composmentis, somnolen, atau koma.
Pada pemeriksaan perlu diperhatikan adanya edema periorbital, selain itu juga dilakukan palpasi kedua tungkai untuk mengetahui tingkat perfusi perifer serta memeriksa waktu pengisian kapiler.
METODE PENELITIAN
- Pendekatan/Desain Penelitian
- Subyek Penelitian
- Batasan Istilah (Definisi Operasional)
- Lokasi dan Waktu Penelitian
- Prosedur Penelitian
- Metode dan instrument Pengumpulan Data
- Keabsahan Data
- Analisis Data
Pada pasien 2 sama dengan pasien 1, hanya saja pada pasien 2 tidak ditemukan edema pada ekstremitas. Pasien 1 didiagnosis pada tanggal 11 Maret 2020 dengan diagnosa pola pernafasan tidak efektif berhubungan dengan usaha pernafasan (kelemahan otot pernafasan), nyeri akut berhubungan dengan agen berbahaya fisiologis. Pada pembahasan kali ini peneliti membahas tentang asuhan keperawatan pada 2 pasien efusi pleura sesuai dengan konsep teori yang ada.
Berikut ini akan diuraikan pelaksanaan asuhan keperawatan pada pasien efusi pleura di RSUD Dr. Berdasarkan hal tersebut, peneliti dalam hal asuhan keperawatan pada pasien efusi pleura menetapkan masalah keperawatan berdasarkan penelitian yang diperoleh. Diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien 1 dengan teori adalah nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis.
Berdasarkan hasil evaluasi di atas dapat disimpulkan bahwa permasalahan pola nafas tidak efektif pada pasien 2 belum teratasi. Berdasarkan hasil penelitian penggunaan asuhan keperawatan pada pasien 1 dengan efusi pleura di ruangan RSUD Dr.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Pembahasan
Pada pasien 1 saat pengkajian tindakan pada pasien 1 menunjukkan 3 diagnosa keperawatan teratasi 2 dan teratasi sebagian 1 yaitu pola nafas tidak efektif teratasi pada hari ke 3, nyeri akut teratasi sebagian pada hari ke 1, intoleransi aktivitas sebagian hilang pada hari ke 3 . Pada pasien 2, 3 diagnosa keperawatan teratasi pada 2 dan sebagian teratasi pada 1, pola nafas tidak efektif teratasi sebagian pada hari ketiga. Hasil pemeriksaan rontgen dada posisi 1 pada pasien 1 menunjukkan adanya penimbunan cairan paru sebelah kanan.
Menurut peneliti, pola pernapasan yang tidak efektif pada pasien 1 dan 2 disebabkan oleh penumpukan cairan paru-paru sehingga menyebabkan ketidakmampuan atau kelemahan otot pernapasan sehingga menimbulkan masalah pola pernapasan yang tidak efektif. Meskipun terdapat data objektif pada pasien 1, namun pasien tampak meringis kesakitan, skala nyeri 4, dan pasien tampak gelisah. Menurut peneliti, intoleransi aktivitas pada pasien 1 dan 2 terjadi karena kelemahan sehingga sulit melakukan aktivitas. Itu sebabnya peneliti mengidentifikasi intoleransi aktivitas.
Pada saat mendiagnosis pola pernafasan tidak efisien berhubungan dengan usaha pernafasan (kelemahan otot pernafasan) pada pasien 1 dan 2, peneliti menyatakan tujuannya bahwa setelah dilaksanakan tindakan keperawatan dalam waktu yang telah ditentukan, pola pernafasan pasien diharapkan dapat kembali efisien dengan hasil pengukuran. : menunjukkan pola pernapasan normal/efisien, tidak ada sianosis atau tanda-tanda hipoksia. Dalam mendiagnosis risiko defisit nutrisi yang berhubungan dengan kurang nafsu makan pada pasien, 2 peneliti memasukkan tujuan bahwa setelah menerapkan tindakan keperawatan dalam waktu yang telah ditentukan, diharapkan kebutuhan pasien dapat terpenuhi sesuai kriteria. Intervensi terhadap intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan pada pasien 1 dan 2 antara lain: Mengidentifikasi gangguan fungsi tubuh yang menyebabkan kelelahan, memantau lokasi dan ketidaknyamanan selama.
Implementasi yang dilakukan pada pasien 1 dan pasien 2 dibagi menjadi tiga tahap yaitu tindakan keperawatan mandiri, tindakan kolaboratif dan proses pendokumentasian tindakan mandiri. Pada pasien 1 dan 2 dilakukan tindakan terhadap masalah utama keperawatan yaitu pola nafas tidak efektif, tindakan yang dilakukan adalah observasi pola nafas pasien, monitoring pola nafas (frekuensi, kedalaman, usaha pernafasan), monitoring suara nafas tambahan ( misalnya gemericik, mengi). , mengi). , retak kering). Hasil evaluasi peneliti terhadap pasien 1 dari 3 masalah keperawatan yang muncul, hanya dua masalah yang terselesaikan yaitu pola nafas tidak efektif dan nyeri akut.
Dari hasil evaluasi yang dilakukan peneliti terhadap pasien, muncul 2 dari 3 masalah keperawatan, hanya dua masalah yang terselesaikan yaitu risiko defisiensi nutrisi dan intoleransi aktivitas. Menurut teori yang disampaikan peneliti pada bab sebelumnya, diagnosa keperawatan yang biasa terjadi pada pasien efusi pleura pasca tindakan bedah invasif ada 3 diagnosa. Evaluasi dilakukan peneliti terhadap pasien 1 dan 2 selama 3 hari pengobatan oleh peneliti dan dibuat dalam bentuk SEEP.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Pengkajian yang dilakukan sesuai teori meliputi identitas pasien, keluhan utama, riwayat kesehatan pasien, pola aktivitas sehari-hari, data psikososial, data status mental pasien, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang dan penatalaksanaan terapeutik. efusi pleura adalah pola pernapasan pasien. Perencanaan yang digunakan pada kedua kasus pasien dirumuskan berdasarkan prioritas masalah dengan teori yang ada yaitu Intervensi. Tindakan dalam hal ini dilakukan sesuai dengan intervensi yang telah dilakukan, sesuai dengan kebutuhan kedua pasien efusi pleura.
Respon pasien dalam pelaksanaan asuhan keperawatan baik, pasien cukup kooperatif dalam pelaksanaan setiap tindakan keperawatan.
Saran
Hasil penelitian ini diharapkan dapat selalu menambah dan memperdalam ilmu pengetahuan di bidang keperawatan khususnya dalam pelaksanaan asuhan keperawatan pada pasien efusi pleura dengan menggunakan literatur terkini. Efusi pleura: Perpustakaan Kedokteran Internasional AS Institut Kesehatan Nasional: Diakses pada 19 Februari 2020 di http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/000086.htm. Diakses 19 Februari 2020 di http://www1.us.elsevierhealth.com/SIMON/Ulrich/Constructor/diagnos es.cfm?did=320.
Diakses pada 19 Februari 2020 dari http://www.brit-thoracic.org.uk/clinical-information/pleural-disease.aspx. Klien menyatakan bahwa di keluarga klien tidak ada seorang pun yang mempunyai riwayat penyakit tuberkulosis, penyakit jantung, diabetes melitus, dan hipertensi. Kepala : kepala tidak ada lesi, rambut tampak bersih, tidak nyeri, konjungtiva anemia, mata isokhorik, muka tidak pucat, bibir tidak sianotik.
Auskultasi : terdengar bunyi vesikular pada dada kiri dan terdengar ronki pada dada kanan antara IC anterior 6-8. Auskultasi : bising usus 10 x/m Palpasi : terdapat nyeri tekan pada ulu hati klien, klien mengatakan nyeri seperti memutar dan hilang timbul, nyeri akan hilang jika klien berbaring setengah telentang dan menarik nafas dalam, dan akan timbul bila klien beraktivitas, nyeri tidak menjalar. Perkusi : terdengar bunyi tumpul antara IC 6-8 pada dada kanan Auskultasi : terdengar bunyi vesikuler pada dada kiri dan ronki pada dada kanan antara IC 6-8 anterior.
Klien mengatakan sebelum masuk RS klien makan 3 kali sehari dan selalu menghabiskan 1 piring setiap kali makan. Klien mengatakan sebelum masuk rumah sakit ia tidur 6-8 jam/hari dan setelah bangun tidur merasa segar. Klien mengatakan tidurnya 5-6 jam sehari, klien mengatakan tidak bisa tidur nyenyak dan sering terbangun saat tidur karena nyeri pada ulu hati.