• Tidak ada hasil yang ditemukan

keabsahan akta perkawinan incest dan penetapan

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "keabsahan akta perkawinan incest dan penetapan"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

TESIS

OLEH:

DESTY ARDIANTI 21902022021

PROGRAM STUDI MAGISTER KENOTARIATAN PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS ISLAM MALANG 2021

(2)

xi DESTY ARDIANTI 21902022021

Magister Kenotariatan Universitas Islam Malang

ABSTRAK

Perkawinan sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya itu dan tiap-tiap perkawinan harus dicatatkan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pencatatan perkawinan inilah yang disebut dengan akta nikah, akta nikah dikeluarkan oleh Kantor Urusan Agama bagi orang yang beragama Islam dan Dinas Pencatatan Sipil bagi orang yang beragama non Islam. Dalam perkawinan ada hal-hal yang dibolehkan, dan ada yang dilarang. Perkawinan Sedarah (hubungan sedarah, dan lebih jauh berarti hubungan badan atau hubungan seksual yang terjadi antara dua orang yang mempunyai ikatan pertalian darah, misal bapak dengan anak perempuannya, ibu dengan anak laki-lakinya, atau antar-sesama saudara kandung atau saudara tiri) adalah salah satu hal terlarang di dalam hukum Islam, hukum perdata maupun hukum adat.

Rumusan masalah dalam tesis ini adalah keabsahan akta perkawinan pada perkawinan incest dan bagaimana penetapan kewarisan anak hasil incest berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

Penelitian ini merupakan penelitian yuridis normatif.

Kesimpulan yang bisa diambil Perkawinan incest menyebabkan batalnya perkawinan sesuai dengan Pasal 8 UU Perkawinan dan perkawinan tersebut batal demi hokum karena adanya larangan perkawinan dalam perkawinan tersebut.

Dalam pembatalan perkawinan yang bisa membatalkan adalah keluarga garis keatas, pejabat yang berwenang, istri/suami atau suami dan istri. Didalam Putusan Nomor 80/Pdt.G/2017/PA.LLG yang membatalkan perkawinan adalah petugas KUA yang mengawinkan mereka dan Putusnya perkawinan karena perkawinan incest tidak berlaku surut pada anak-anak dari hasil perkawinan tersebut. Jadi anak-anak mereka tetap mendapatkan hak waris sesuai dengan aturan

Kata Kunci: Perkawinan Sedarah, Akta Perkawinan, Keabsahan Perkawinan, Kewarisan

(3)

xii DESTY ARDIANTI 21902022021

Magister Kenotariatan Universitas Islam Malang

ABSTRACT

Marriage is valid if it is carried out according to the law of each religion and belief and each marriage must be registered according to the applicable laws and regulations. This marriage registration is called a marriage certificate, a marriage certificate is issued by the Office of Religious Affairs for people who are Muslim and the Civil Registry Office for people who are non-Muslims. In marriage there are things that are allowed, and there are things that are forbidden. Inbreeding (blood relations, and further means sexual relations that occur between two people who have blood ties, for example, a father and his daughter, a mother and her son, or between siblings or half-siblings) is one of the things forbidden in Islamic law, civil law and customary law.

The formulation of the problem in this thesis is the validity of the marriage certificate in incestuous marriages and how to determine the inheritance of children resulting from incest based on Law Number 1 of 1974 concerning Marriage. This research is a normative juridical research.

The conclusion that can be drawn is that incestuous marriages cause the marriage to be canceled in accordance with Article 8 of the Marriage Law and the marriage is null and void because of the prohibition of marriage in the marriage In the case of annulment of marriage, those who can cancel it are upper-line family, authorized officials, wife/husband or husband and wife. In the Decision Number 80/Pdt.G/2017/PA.LLG, those who annul the marriage are the KUA officers who marry them and the dissolution of the marriage due to incestuous marriage does not apply retroactively to the children resulting from the marriage. So their children still get inheritance rights according to the rules

Keywords: Inbreeding, Marriage Certificate, Marriage Law, Inheritance

(4)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Perkawinan adalah bersatunya kedua pasangan wanita dan laki-laki dalam ikatan janji suci dengan cara yang legal. Perkawinan menurut Pasal 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (UU 1/1974),

“perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga atau rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Perkawinan sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya itu dan tiap-tiap perkawinan harus dicatatkan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pencatatan perkawinan inilah yang disebut dengan akta nikah, akta nikah dikeluarkan oleh Kantor Urusan Agama bagi orang yang beragama Islam dan Dinas Pencatatan Sipil bagi orang yang beragama non Islam. Dalam Islam, perkawinan diatur dalam Instruksi Presiden RI Nomor 1 Tahun 1990 dan berlakulah Kompilasi Hukum Islam (KHI). Dalam Pasal 2 KHI dijelaskan, “perkawinan menurut hukum Islam adalah pernikahan, yaitu akad yang sangat kuat atau mistaaqan ghalidzan untuk mentaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadan”, Tujuan perkawinan dalam Islam adalah untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan rahmah.

Perkawinan mempunyai akibat hukum yang luas di dalam hubungan hukum antara suami dan istri yang mengandung nilai-nilai agam dan moral.

(5)

Dalam perkawinan akan timbul suatu ikatan yang berisi hak dan kewajiban seperti kewajiban untuk bertempat tingal yang sama, saling setia satu sama lain, kewajiban untuk memberi nafkah, diberikanya hak waris dan sebagainya1. Salah satu tujuan lain perkawinan adalah dengan mendapatkan dan meneruskan keturunan, disinilah dirasakan pentingnya keberadaan seorang anak dalam suatu lingkungan keluarga, selain sebagai penghibur dikala susah dan lelah, pada hakikatnya seorang anak adalah anugrah dan amanah dari sang pencipta alam semesta2.

Salah satu akibat hukum dari perkawinan adalah terjadinya kewarisan antara orang tua dengan anak keturunannya. Hukum kewarisan adalah hukum yang mengatur tentang pemindahan hak pemilikan harta peninggalan pewaris, menetukan siapa-siapa yang berhak menjadi ahli waris dan berapa bagiannya masing-masing. Didalam waris terdapat orang-orang yang terikat, yaitu pewaris dan ahli waris. Pewaris adalah orang yang sudah meninggal dengan meninggalkan harta waris, sedangkan ahli waris adalah orang yang masih hidup saat pewaris meninggal dan memiliki hubungan kekerabatan atau saudara dengan pewaris. Hubungan antar manusia tidak berhenti meskipun ia telah meninggal, karena manusia bukanlah makhluk individualis.

Manusia sejatinya tidak bisa hidup sendiri karena manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain dalam hidupnya. Oleh karena

1 Ali Afandi. 1997. Hukum Waris, Hukum Keluarga Dan Hukum Pembuktian. Jakarta:

Rineka Cipta. Hlm. 93.

2 Soerjono Soekanto. 1993. Sosiologis Suatu Pengantar. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Hlm. 424

(6)

itu, manusia yang sudah dewasa maupun yang sudah merasa mampu akan melaksanakan perkawinan. Perkawinan terlaksana karena saling cinta antara laki-laki dan perempuan, meskipun era saat ini masih ada perjodohan namun sudah jarang. Percintaan antara kedua insan yang berbeda jenis, sering kali saling tidak mengetahui asal usul pasangannya tersebut. Ketidaktahuan tersebut membuat kesalahan dalam hidup kedua pasangan ini, seperti perkawinan sedarah atau yang sering kali disebut incest.

Dalam perkawinan ada hal-hal yang dibolehkan, dan ada yang dilarang.

Perkawinan Sedarah (hubungan sedarah, dan lebih jauh berarti hubungan badan atau hubungan seksual yang terjadi antara dua orang yang mempunyai ikatan pertalian darah, misal bapak dengan anak perempuannya, ibu dengan anak laki-lakinya, atau antar-sesama saudara kandung atau saudara tiri) adalah salah satu hal terlarang di dalam hukum Islam, hukum perdata maupun hukum adat.

Fenomena perkawinan sedarah telah ada dan dikenal pada masa yang cukup lama. Hal ini dapat diketahui dengan ditemukanya beberapa contoh perkawinan sedarah dalam peradaban sejarah. Dalam sejarah dicatat raja-raja Mesir kuno dan putra-putrinya kerap kali melakukan tingkah laku incest dengan motif tertentu, sangat mungkin bertujuan untuk meningkatkan dan kualitas generasi penerusnya. Pasca invasi Alexander The Great, para bangsawan Mesir banyak yang melakukan perkawinan dengan saudara kandung dengan maksud untuk mendapatkan keturunan berdarah murni dan melanggengkan kekuasaan. Contoh yang terdokumentasi adalah perkawinan

(7)

Ptolemeus II dengan saudara perempuannya, Elsione. Beberapa ahli berpendapat, tindakan seperti ini juga biasa dilakukan kalangan orang biasa.

Toleransi semacam ini didasarkan pada Mitologi Mesir Kuno tentang perkawinan Dewa Osiris dengan saudaranya, Dewi Isis

Ada beberapa penyebab atau pemicu timbulnya incest. Akar dan penyebab tersebut tidak lain adalah karena pengaruh aspek struktural, yakni situasi dalam masyarakat yang semakin kompleks. Kompleksitas situasi menyebabkan ketidak berdayaan pada diri individu. Khususnya apabila ia seorang laki-laki (cenderung dianggap dan menganggap diri lebih berkuasa) akan sangat terguncang, dan menimbulkan ketidakseimbangan mental- psikologis.

Fenomena pernikahan sedarah ini akan memunculkan beberapa akibat yang kurang baik bagi perkembangan hidup pelaku maupun keturunanya.

Akibat-akibat yang dapat muncul diantaranya yakni; munculnya gangguan psikologis, adanya potensi yang cukup besar untuk mengalami kecatatan baik fisik ataupun mental. Di sisi lain akibat dari adanya perkawinan sedarah ini juga menimbulkan masalah lain terhadap anak hasil hubungan perkawinan sedarah tersebut terkait dengan status anak yang dilahirkan, baik secara nasab (garis keturunan), maupun kedudukan hukumnya.

Perkawinan sedarah dilarang dalam agama dan hukum di Indonesia, karena menyebabkan kecacatan pada anak yang dilahirkan atau menimbulkan kelainan genetik karena genetik yang sama menjadi satu. Dalam Islam

(8)

terdapat asas yang bernama asas selektivitas yang berarti bahwa seseorang ketika hendak melangsunkan perkawinan terlebih dahulu harus menyeleksi dengan siapa dia boleh menikah dan dengan siapa dia terlarang untuk menikah3. Hal ini dilakukan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti perkawinan sedarah atau menikahi orang yang dilarang untuk dinikahi karena hubungan kekeluargaan atau disebut mahram.

Dalam surat An-Nisa ayat 22-23 telah dengan tegas menjelaskan orang yang haram untuk dinikahi, perempuan itu adalah ibu tiri, ibu kandung, anak kandung, saudara kandung seayah atau seibu, bibi dari ayah, bibi dari ibu, keponakan saudara laki-laki, keponakan dari saudara perempuan, ibu yang menyusui, saudara sesusuan, mertua, anak tiri dari istri yang sudah diajak berhubungan intim, menantu, ipar untuk dimadu dan perempuan yang bersuami. Dalam Pasal 28 Undang-undang Dasar 1945 (UUD 1945) juga telah dijelaskan bahwa setiap orang berhak untuk membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan yang sah.

Perkawinan sedarah tidak selamanya diketahui diawal pernikahan, karena banyak kasus pernikahan sedarah seperti ayah ibunya menaruh anak- anak mereka di panti asuhan lalu ketika dewasa anak-anak tersebut saling jatuh cinta dan menikah sedangkan tidak ada keluarga yang tau bahwa mereka telah menikah. Atau pada kasus lain ketika bibi atau perempuan yang

3 Amiur Nuruddin. 2004. Hukum Perdata Islam Di Indonesia. Jakarta: Prenada Media.

Hlm. 144

(9)

dilarang dinikahi tersebut merantau ditempat yang sama dengan keponakanya tersebut, lalu mereka saling mencintai dan menikah.

Banyak kasus perkawinan sedarah yang tidak diketahui, apakah perkawinan tersebut sah atau tidak menurut hukum yang berlaku di Indonesia dan bagaimana dengan hak waris dari anak incest tersebut, apakah anak tersebut tetap mendapatkannya atau tidak. Oleh karena itu penulis ingin meneliti tentang perkawinan sedarah dengan judul “Keabsahan Akta Perkawinan Incest Dan Penetapan Kewarisan Pada Anak Hasil Incest Berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (Studi Putusan Nomor 80/Pdt.G/2017/PA.LLG)”

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana keabsahan akta perkawinan pada perkawinan incest berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan ? 2. Bagaimana penetapan kewarisan anak hasil incest berdasarkan Undang-

Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan ? C. Tujuan Masalah

1. Untuk mengetahui dan menganalisis keabsahan akta perkawinan pada perkawinan incest berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan

(10)

2. Untuk mengetahui dan menganalisis penetapan kewarisan anak hasil incest berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat teoritis

Penelitian ini diharapkan untuk menambah sumbangsih pemikiran bagi ilmu pengetahuan hukum, khususnya bidang hukum perkawinan, kewarisan dan keluarga dan mengenai keabsahan perkawinan incest beserta pembagian warisnya menurut hukum di Indonesia

2. Manfaat praktis a) Bagi peneliti

Dapat menerapkan dan memahami ilmu hukum yang telah didapat saat kuliah dan diimplikasikan terhadap permasalahan yang sedang diteliti oleh penulis

b) Bagi pembaca

Pemberikan wawasan serta tambahan pengetahuan mengenai keabsahan perkawinan incest, sebab dan akibatnya serta bagaimana pembagian waris pada anak hasil incest

(11)

E. Penelitian Terdahulu

Tabel 1

Penelitian Terdahulu

--- Penelitian 1 Penelitian 2 Perbandingan Catatan Nama

Peneliti dan Lembaga

Zakiyya Raihan Falahasna / Institut Agama Islam Negeri Salatiga

Desty Ardianti/

Universitas

Islam Malang --- ---

Judul Hak Anak Hasil Hubungan Incest Ditinjau Dari Hukum Islam Dan Undang- Undang Perlindungan Anak (Studi Kasus Di Desa Pringsari, Kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang)

Keabsahan Akta Perkawinan Incest Dan Penetapan Kewarisan Pada Anak Hasil Incest Berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan

Penelitian 1:

Spesifik pada hak anak hasil

hubungan incest Penelitian 2:

Spesifik pada keabsahan akta perkawinan dan penetapan kewarisan anak hasil incest

Judul tidak sama

Rumusan Masalah

1. Bagaimana hak anak hasil hubungan incest di desa pringadi, kecamatan pringapus, kabupaten semarang ? 2. Bagaimana pandangan hukum terhadap pemberian hak anak yang dilahirkan dari hubungan incest di desa pringsari, kecamatan

1. Bagaimana keabsahan akta

perkawinan pada perkawinan incest berdasarkan kitab undang- undang hukum perdata dan undang- undang nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan ? 2. Bagaimana

Penelitian 1:

Mempertanya- kan hak anak hasil hubungan incest dan pandangan hukum terhadap pemberian hak anak dari hubungan incest

Penelitian 2:

Mempertanyakan keabsahan akta perkawinan pada perkawinan incest dan penetapan kewarisan anak hasil incest

Rumusa n

masalah tidak sama

(12)

pringapus, kabupaten semarang ?

penetapan kewarisan anak hasil incest berdasarkan kitab undang- undang hukum perdata dan undang- undang nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan

? Kesimpula

n

1. Hak anak hasil hubungan incest di desa pringsari belum terpenuhi.

Antara lain hak untuk mendapatkan akta kelahiran dan beragama 2. Hukum

melakukan perkawinan hubungan darah dilarang oleh agama dan telah dijelaskan dalam QS An Nisa ayat 23

Peneliti 1:

Mengatakan bahwa hak anak hasil incest di desa pringsari belum terpenuhi dan hukum melakukan perkawinan hubungan darah dilarang oleh agama

(13)

Tabel 2

Penelitian Terdahulu

--- Penelitian 1 Penelitian 2 Perbandingan Catatan Nama

Peneliti dan Lembaga

Hani Masya Sabila /

Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Desty Ardianti/

Universitas

Islam Malang --- ---

Judul Analisis Pasal 100 Kompilasi Hukum Islam Tentang Nasab Anak Luar Perkawinan Dan Implikasinya Terhadap Akta Kelahiran Dalam Prespektif Hukum Islam

Keabsahan Akta Perkawinan Incest Dan Penetapan Kewarisan Pada Anak Hasil Incest Undang- Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan

Penelitian 1:

fokus membahas hak anak luar kawin menurut hukum islam Penelitian 2:

Spesifik pada keabsahan akta perkawinan dan penetapan kewarisan anak hasil incest

Judul tidak sama

Rumusan Masalah

1. Bagaimana ketentuan nasab anak luar

perkawinan dalam pasal 100 kompilasi hukum islam ? 2. Bagaimana

implikasi nasab anak luar

perkawinan terhadap kutipan akta kelahiran ?

1. Bagaimana keabsahan akta

perkawinan pada perkawinan incest berdasarkan kitab

undang- undang hukum perdata dan undang- undang nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan ? 2. Bagaimana

penetapan

Penelitian 1 membahas ketentuan nasab anak luar kawin dalam Pasal 100 KHI dan

implikasinya Penelitian 2:

Mempertanyakan keabsahan akta perkawinan pada perkawinan incest dan penetapan kewarisan anak hasil incest

Rumusa n

masalah tidak sama

(14)

kewarisan anak hasil incest berdasarkan kitab

undang- undang hukum perdata dan undang- undang nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan

? Kesimpula

n

1. Ketentuan nasab dalam Pasal 100 memiliki ambiguitas 2. Akta kelahiran

menjadi suatu bukti adanya hubungan nasab atau hubungan keperdataan antara anak dengan orang tuanya

Penelitian 1:

Menyatakan bahwa Pasal 100 KHI memiliki ambigiutas dan akta kelahiran menjadi suatu bukti adanya hubungan nasab dengan orang tuanya

F. Definisi Konseptual Dan Landasan Teori 1. Definisi Konseptual

a. Keabsahan

Menurut Kamus hukum Keabsahan dijelaskan dalam berbagai Bahasa antara lain adalah convalesceren, convalescentie, yang memiliki makna sama dengan to validate, to legalize, to ratify to acknowledge

(15)

yaitu yang artinya mengesahkan, atau pengesahan suatu hal sebagai contoh adanya pengesahan rancangan ndang-undang yang diajukan oleh DPR yang tidak disyahkan oleh presiden maka tidak boleh diajukan lagi dalam persidangan Dewan Perwakilan Rakyat pada masa (tahun) itu4 b. Akta perkawinan

Dalam Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2018 tentang Pencatatan Nikah, dalam pasal 1 ayat (5), (6), (7) dan pasal 8 menyatakan

“(5) akta nikah adalah akta autentik pencatatan peristiwa perkawinan (6) buku pencatatan perkawinan adalah kutipan akta nikah

(7) kartu perkawinan adalah buku pencatatan perkawinan dalam bentuk kartu elektronik

Pasal 8 “pencatatan perkawinan dilakukan setelah akad dilaksanakan”

c. Incest

Incest adalah hubungan seksual yang dilakukan oleh pasangan yamg memiliki ikatan keluarga yang kuat, seperti misalnya ayah dengan anak perempuannya, ibu dengan anak laki-lakinya, atau antar sesama keluarga kandung5

d. Kewarisan

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata waris berarti Orang yang berhak menerima harta pusaka dari orang yang telah

4 Van Pramodya Puspa. 1977. Kamus Hukum. Semarang: Aneka Ilmu. Hlm. 252

5 I Wayan Artika. 2008. Incest. Jakarta: Iterprebook. Hlm. 10

(16)

meninggal6. Dalam Pasal 830 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata disebutkan bahwa “.pewarisan hanya berlangsung karena kematian ”.

warisan itu adalah soal apakah dan bagaimanakah berbagai hak-hak dan kewajiban-kewajiban tentang kekayaan seseorang pada waktu ia meninggal dunia, akan beralih kepada orang lain yang masih hidup.

Pendapat tersebut memberikan batasan-batasan mengenai warisan antara lain : a. Seorang peninggal warisan yang pada waktu wafatnya meninggalkan kekayaan; b. Seseorang atau beberapa orang ahli waris yang berhak menerima kekayaaan yang ditinggalkannya; c. Harta warisan, yaitu wujud kekayaan yang ditinggalkan dan beralih kepada ahli warisnya.

Dalam penelitian ilmiah definisi konseptual dan landasan teori menjadi landasan yang sangat penting untuk acuan sarana kepada penulis agar bisa memahami masalah dan penyelesaianya menjadi lebih baik.

Teori berasal dari kata theoria dalam bahasa latin yang berarti perenungan, yang pada kata thea dalam bahasa yunani yang secara hakiki menyiratkan sesuatu yang disebut realistis. Dari kata dasar thea ini pula datang kata moderen teater yang berarti pertunjukan atau tontonan. Dalam banyak literatur, beberapa ahli menggunakan kata ini untuk menunjukkan

6 Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta:

Balai Pustaka. Hlm. 1386

(17)

bangunan berfikir yang tersusun sitematis, logis (rasional), empiris (kenyataan) juga simbolis7

Penggunaan teori dalam penelitian hukum tersebut sudah pasti menggunakan teori hukum. Teori hukum adalah cabang ilmu hukum yang menganalisis secara kritis dalam prespektif interdisipliner, dari berbagai perwujudan (fenomena) hukum secara tersendiri atau menyeluruh, baik dalam konsepsi teoritis maupun dalam pelaksanaan praktis dengan tujuan memperoleh pengetahuan yang lebih baik dan uraian yang lebih jelas tentang bahan-bahan yuridis ini8. Tinjauan teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teori Kepastian Hukum dan Teori Perlindungan Hukum

Konsep adalah salah satu bagian terpenting dari teori, Definisi Konseptual diterjemahkan sebagai usaha membawa sesuatu dari abstrak yang diungkapkan dalam kata-kata, yang dapat membantu pemahaman.

Oleh karena itu, untuk menjawab permasalahan dalam penelitian ini harus didefinisikan beberapa konsep dasar agar secara konseptual diperoleh hasil yang sesuai dengan tujuan yang ditentukan, yaitu:

a. Pengaturan akta perkawinan

7 H.R Otje Salman dan Anton F. Susanto. 2004. Teori Hukum. Bandung: Refika Aditama.

Hlm. 21

8 Sudikno Mertokusumo. 2012. Teori Hukum. Yogyakarta: Cahaya Atma Pustaka. Hlm.

87.

(18)

Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang- undangan yang berlaku (pasal 2 ayat 1 Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan). Bagi mereka yang melakukan perkawinan menurut agama Islam, pencatatan dilakukan di Kantor Urusan Agama (KUA). Sedangkan bagi yang beragama selain Islam (Katholik, Kristen, Budha, Hindu, Konghucu, Penghayat dan lain-lain) pencatatan itu dilakukan di Kantor Catatan Sipil (KCS)9.

b. Pengaturan kewarisan

Pengaturan kewarisan adalah pengaturan atau sistem yang digunakan dalam membagi harta peninggalan atau harta warisan, menentukan siapa saja yang berhak mewaris atau menjadi ahli waris. Di Indonesia terdapat tiga cara mengatur kewarisan, hukum adat bagi masyarakat yang masih menganut hukum adat (Bali, Toraja, Batak dkk), Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (bagi golongan tionghoa dan non muslim). Hukum Islam (bagi masyarakat yang beragama Islam)

2. Landasan Teori a. Kepastian Hukum

Secara gramatikal kepastian berasal dari kata pasti, yang artinya tetap. Sedangkan dalam KBBI, kepastian adalah perihal (keadaan) pasti

9 Disdukcapil Penajam. Akta perkawinan. Diambil dari

https://disdukcapil.penajamkab.go.id/jenis-layanan/pencatatan-sipil/akta-perkawinan/ pada 22 Juni 2021

(19)

(sudah tetap), ketentuan, ketetapan10. Hukum tanpa nilai kepastian akan kehilangan makna karena tidak dapat digunakan sebagai pedoman perilaku bagi setiap orang11

Hukum yang baik adalah hukum yang mampu mensinergikan ketiga unsur (keadilan, kemanfaatan dan kepastian hukum), demi kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat. Hukum bertugas menciptakan kepastian hukum karena bertujuan untuk menciptakan ketertiban dalam masyarakat. Kepastian hukum merupakan ciri yang tidak dapat dipisahkan dari hukum terutama untuk norma hukum tertulis12. Kepastian hukum menunjuk kepada pemberlakukan hukum yang jelas, tetap dan konsisten dimana pelaksanaanya tidak dapat dipengaruhi oleh keadaan-keadaan yang sifatnya subjektif

Kepastian hukum dapat diartikan sebagai kejelasan norma sehingga dapat dijadikan pedoman bagi masyarakat untuk mewujudkan keadilan. pengertian kepastian tersebut dapat dimaknai bahwa ada kejelasan dan ketegasan terhadap berlakunya hukum di dalam masyarakat, dengan tanpa memandang siapa yang melakukannya.

Dalam kepastian hukum setiap orang dapat memperkirakan apa yang akan terjadi jika melakukan tindakan hukum tersebut.

10 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,. 1997. Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Jakarta: Balai Pustaka. Hlm. 735

11 Ct. Kansil. 2009. Kamus Istilah Hukum. 2009. Jakarta. Gramedia Pustaka. Hlm. 270

12 R. Tony Prayogo. “ Penerapan Asas Kepastian Hukum Dalam Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2011 Tentang Hak Uji Materiil Dan Dalam Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 06/PMK/2005 Tentang Pedoman Beracara Dalam Pengujian Undang- Undang”. Jurnal Legislasi Indonesia, Vol 13 No 2 Juni 2016. Hlm. 194

(20)

Menurut Rescue Pound adanya kepastian hukum memungkinkan adanya predicbility atau kemungkinan. Menurut Van Apeldoorn, kepastian hukum juga berarti hal yang dapat ditentukan oleh hukum dalam hal-hal yang konkret13. Jaminan adanya kepastian hukum adalah bagian tugas dari kaidah hukum, karena dengan adanya kaidah hukum masyarakat sungguh-sungguh menyadari bahwa kehidupan bersama akan tertib apabila ada kepastian dalam hubungan antara sesama manusia14.

Masyarakat mengharapkan adanya kepastian hukum, karena dengan adanya kepastian hukum masyarakat akan lebih tertib15, sedangkan menurut ajaran domatik hanya sekedar menjamin kepastian hukum, adanya aturan hukum hanya untuk menjamin kepastian hukum tersebut. sedangkan menurut Jan Michiel Otto dalam buku Pengantar Ilmu Hukum, Soeroso mengatakan bahwa kepastian hukum mendefinisikan sebagai kemungkinan bahwa dalam situasi tertentu16:

a. Tersedia aturan-aturan yang jelas, konsisten dan mudah diperoleh, diterbitkan oleh dan diakui karena kekuasaan negara

13 Van Apeldoorn. 1990. Pengantar Ilmu Hukum. Jakarta: Pradnya Paramita. Hlm. 24-25

14 Sudarsono. 1995. Pengantar Ilmu Hukum. Jakarta: Rineka Cipta. Hlm. 49-50

15 Sudikno Mertokusumo. 1988. Mengenal Hukum (Suatu Pengantar). Yogyakarta: Liberty.

Hlm.58

16 Soeroso. 1999. Pengantar Ilmu Hukum. Jakarta:Sinar Grafika. Hlm. 29

(21)

b. Instansi-instansi penguasa pemerintah menerapkan aturan-atauran hukum tersebut secara konsisten dan juga tunduk dan taat kepadanya

c. Warga secara prinsipil menyesuaikan perilaku terhadap aturan d. Hakim yang mandiri dan tidak berpikir menerapkan aturan-aturan

hukum tersebut secara konsisten sewaktu mereka menyelesaikan sengketa hukum

e. Keputusan peradilan secara konkrit dilaksanakan b. Efektivitas Hukum

Dalam teori efektivitas hukum menurut Bronislaw Malinowski meliputi tiga masalah yaitu17:

a. Dalam masyarakat modern, tata tertib kemasyarakatan dijaga antara lain oleh suatu sistem pengendalian sosial yang bersifat memaksa, yaitu hukum dan untuk melaksanakannya hukum didukung oleh suatu sistem alat-alat kekuasaan seperti kepolisian, pengadilan, dll yang diorganisasi oleh negara

b. Dalam masyarakat primitif, alat-alat kekuasaan serupa kadang tidak ada

c. Sedangkan dalam masyarakat primitif tidak ada hukum

17 Halim Hs, Erlies Septiana Nurbani. 2014. Penerapan Teori Hukum Pada Penelitian Tesis Dan Disertasi. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Hlm. 305.

(22)

Analisis efektivitas hukum dalam masyarakat menurut Malinowski dibedakan menjadi dua yaitu masyarakat modern dan masyarakat primitif. Sedangkan efektivitas hukum menurut Soerjoso Soekanto, efektif adalah taraf sejauh mana suatu kelompok dapat mencapai tujuannya. Hukum dapat dikatakan efektif jika terdapat dampak hukum yang positif, pada saat itu hukum mencapai sasarannya dalam membimbing ataupun merubah perilaku manusia sehingga menjadi perilaku hukum18.

Hukum dapat efektif ketika masyarakat berperilaku sesuai dengan yang dikehendaki dalam peraturan perundang-undangan, ketika sudah sesuai maka apa yang diharapkan dari aturan tersebut telah tercapai.

Dapat dikatakan bahwa efektif atau tidaknya suatu aturan, dapat dilihat dari perilaku yang tercermin dalam masyarakat yang diberi aturan tersebut.

G. Sistematika penulisan

Dalam penulisan tesis ini penulis menyusunnya dengan sistematika penulisan yang terdiri dari lima bab. Adapun sistematikanya dapat penulis rumuskan sebagai berikut:

Bab pertama, berisi pendahuluan yang memuat latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, penelitian terdahulu dan sistematika penulisan

18 Soerjono Soekanto. 1988. Efektivitas Hukum Dan Penerapan Sanksi. Bandung: Ramadja Karya. Hlm. 80.

(23)

Bab kedua, berisi tinjauan pustaka tentang penelitian ini. Yaitu tinjauan tentang perkawinan termasuk syarat sah perkawinan beserta pencatatan perkawinan, kewarisan menurut hukum islam dan hukum perdata di Indonesia serta pengertian incest menurut hukum perkawinan di Indonesia Bab ketiga, berisi tentang metode penelitian yang terdiri atas jenis penelitian, sumber bahan hukum, teknik pengumpulan bahan hukum dan teknik analisa bahan hukum

Bab keempat, berisi tentang pembahasan dari penelitian yaitu keabsahan akta perkawinan pada perkawinan incest berdasarkan kitab undang-undang hukum perdata dan ketentuan waris islam di indonesia dan tentang penetapan kewarisan antara anak hasil incest dengan cucu berdasarkan UU Perkawinan Bab kelima, berisi tentang penutup yang memuat tentang hasil analisis keabsahan akta perkawinan pada perkawinan incest dan tentang penetapan kewarisan antara anak hasil incest dengan cucu berdasarkan UU Perkawinan

(24)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan

1. Perkawinan incest menyebabkan batalnya perkawinan sesuai dengan Pasal 8 UU Perkawinan dan perkawinan tersebut batal demi hokum karena adanya larangan perkawinan dalam perkawinan tersebut. Dalam pembatalan perkawinan yang bisa membatalkan adalah keluarga garis keatas, pejabat yang berwenang, istri/suami atau suami dan istri.

Didalam Putusan Nomor 80/Pdt.G/2017/PA.LLG yang membatalkan perkawinan adalah petugas KUA yang mengawinkan mereka

2. Putusnya perkawinan karena perkawinan incest tidak berlaku surut pada anak-anak dari hasil perkawinan tersebut. Jadi anak-anak mereka tetap mendapatkan hak waris sesuai dengan aturan

B. Saran

Kepada petugas KUA atau petugas perkawinan untuk benar-benar meneliti bahwa yang akan melakukan perkawinan bukanlah saudara sekandung maupun saudara yang termasuk dilarang untuk dinikahi sesuai dengan Pasal 7 dan Pasal 8 UU Perkawinan. Bagi masyarakat Indonesia, untuk memahami bahwa terdapat aturan yang tidak memperbolehkan perkawinan incest, hal ini telah diatur dalam UU Perkawinan, KUHPerdata, Hukum Islam dan Hukum Adat.

(25)

DAFTAR PUSTAKA Buku

Abdul Manan. 2006. Hukum Perdata Islam Di Indonesia. Jakarta: Kencana

Abdul Ghofur Anshori. 2005. Hukum Kewarisan Islam di Idnoesia. Yogyakarta:

Ekonisia

___________________. 2010. Hukum Perkawinan Islam (Prespektif Fikih Dan Hukum Positif) Yogyakarta: UII Press

Ali Afandi. 1997. Hukum Waris, Hukum Keluarga Dan Hukum Pembuktian.

Jakarta: Rineka Cipta

Aljaziri. 1982. Al Fiqhu Ala Madzhahibul Arba’ah. Beirut: Darul Fikri

Amiur Nuruddin. 2004. Hukum Perdata Islam Di Indonesia. Jakarta: Prenada Media

Ct. Kansil. 2009. Kamus Istilah Hukum. 2009. Jakarta. Gramedia Pustaka.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,. 1997. Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Jakarta: Balai Pustaka

Effendi Perangin. 2011. Hukum Waris. Jakarta: Rajawali Press.

H.R Otje Salman dan Anton F. Susanto. 2004. Teori Hukum. Bandung: Refika Aditama

Halim Hs, Erlies Septiana Nurbani. 2014. Penerapan Teori Hukum Pada Penelitian Tesis Dan Disertasi. Jakarta: Raja Grafindo Persada

I Wayan Artika. 2008. Incest. Jakarta: Iterprebook

Mardani. 2014. Hukum Kewarisan Islam Di Indoensia. Jakarta: Rajawali Press M. Nur Rasaid. 2003. Hukum Acara Perdata. Jakarta: Sinar Grafika

Moh. Taufik Makarao. 2004. Pokok-Pokok Hukum Acara Perdata. Jakarta:

Rineka Cipta

Philipus M. Hadjon. 1987. Perlindungan Hukum Bagi Rakyat di Indonesia.

Surabaya: Bina Ilmu

(26)

Peter Mahmud Marzuki. 2005. Penelitian Hukum Edisi Revisi. Jakarta:

Prenadamedia Group

Rahman Ghazaly. 2006. Fiqh Munakahat. Jakarta: Kencana

Rato Dominikus. 2011. Hukum Perkawinan Dan Waris Adat (Sistem Kekerabatan Bentuk Perkawinan Dan Pola Pewarisan Adat Indonesia). Surabaya:

Laksbang Yustita

Riduan Syahrani. 1998. Hukum Acara Perdata Di Lingkungan Peradilan Umum.

Jakarta: Pustaka Kartini

Salim Bahreisy dan Abdullan Bahreisy. 2000. Terjemah Al Quran Al Hakim.

Surabaya: Sahabat Ilmu.

Sawitri Supardi. 2015. Bunga Rampai Kasus Gangguan Psikoseksual. Bandung:

Refika Aditama.

Sudarsono. 1991. Hukum Waris Dan Sistem Bilateral. Jakarta: Rineka Cipta _________. 1995. Pengantar Ilmu Hukum. Jakarta: Rineka Cipta

Soeroso. 1999. Pengantar Ilmu Hukum. Jakarta:Sinar Grafika

Sudikno Mertokusumo. 1988. Mengenal Hukum (Suatu Pengantar). Yogyakarta:

Liberty

___________________. 2012. Teori Hukum. Yogyakarta: Cahaya Atma Pustaka Soerjono Soekanto. 1988. Efektivitas Hukum Dan Penerapan Sanksi. Bandung:

Ramadja Karya

________________. 1993. Sosiologis Suatu Pengantar. Jakarta: Raja Grafindo Persada

________________. 2008. Pengantar Penelitian. Jakarta: UI Press

Soetojo Prawirohamidjojo dan Asis Safioedin. 1986. Hukum Orang Dan Keluarga. Bandung: Alumni.

Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Jakarta: Balai Pustaka

Van Pramodya Puspa. 1977. Kamus Hukum. Semarang: Aneka Ilmu Van Apeldoorn. 1990. Pengantar Ilmu Hukum. Jakarta: Pradnya Paramita.

(27)

Wahyono Darmabrata Dan Surini Ahlan Sjarif. 2003. Tinjauan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan Beserta Undang-Undang Dan Peraturan Pelaksanaanya. Jakarta: Gitama Jaya.

Zainuddin Ali. 2007. Hukum Perdata Islam Di Indonesia. Jakarta: Sinar Grafika

Perundang-Undangan Undang-Undang Dasar 1945

Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Kompilasi Hukum Islam

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan

Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan

Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan

Putusan Pengadilan Agama Nomor 80/Pdt.G/2017/PA.LLG

Jurnal

R. Tony Prayogo. “ Penerapan Asas Kepastian Hukum Dalam Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 2011 Tentang Hak Uji Materiil Dan Dalam Peraturan Mahkamah Mahkamah Konstitusi Nomor 06/PMK/2005 Tentang Pedoman Beracara Dalam Pengujian Undang-Undang”. Jurnal Legislasi Indonesia, Vol 13 No 2 Juni 2016.

A. Mukti Arto. 2012. Diskusi Hukum Putusan Mahkamah Konstitusi RI Nomor 46/PUU-VIII/2010 Tanggal 27 Februari 2012 Tentang Pengubahan Pasal 43 UU Perkawinan Tentang Hubungan Perdata Anak Dengan Ayah Biologisnya, Dalam Membangun Peradilan Agama Yang Bermartabat.

(Kumpulan Artikel Pilihan Jilid 2). Jakarta: Direktorat Jendral Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung Republik Indonesia.

Imam Mustofa. 2012. Dimensi Ham Dan Hukum Islam Dalam Putusan Mahkamah Konstitusi No 46/PUU-VIII/2010. Millah Jurnal Studi Islam.

(28)

Fakultas Ilmu Agama Islam, Magister Studi Islam. Vol XII No 1, Yogyakarta: UII. Hlm. 172

Internet

Disdukcapil Penajam. Akta perkawinan. Diambil dari https://disdukcapil.penajamkab.go.id/jenis-layanan/pencatatan-sipil/akta- perkawinan/ pada 22 Juni 2021

Fadhil Rizal Makarim. 2019. Ramai Pernikahan Sedarah, Kenali Bahayanya Bagi Kesehatan. Diambil Dari Https://Www.Halodoc.Com/Artikel/Pernikahan- Sedarah-Kenali-Bahayanya-Bagi-Kesehatan Pada 24 Juni 2021

Fitri Novia Heriani. 2019. Begini Hukum Perkawinan Sedarah Di Indonesia.

Diambil Dari

Https://Www.Hukumonline.Com/Berita/Baca/Lt5d1e1c41636ed/Begini- Hukum-Perkawinan-Sedarah-Di-Indonesia/?Page=All Pada 23 Juni 2021.

Hermawan. 2019. Perkawinan Sedarah Pernah Terjadi Di Indonesia. Diambil Dari Https://Www.Tagar.Id/Pernikahan-Sedarah-Pernah-Terjadi-Di- Indonesia Pada 24 Juni 2021.

Joglosemar. 2020. Kasus Incest: Ridwan Nikahi Adik Kandung Sendiri.

Https://Republika.Co.Id/Berita//Qlzeru5020000/Kasus-Incest-Ridwan- Nikahi-Adik-Kandung-Sendiri Pada 23 Juni 2021

Liputan 6. 2019. Video: Fakta-Fakta Tentang Incest Perkawinan Sedarah.

Daimbil Dari Https://Www.Liputan6.Com/Health/Read/3904202/Video- Fakta-Fakta-Tentang-Incest-Perkawinan-Sedarah Pada 24 Juni 2021

Philipus M. Hadjon. 1997. Tentang Wewenang, Yuridika No. 5-6 Tahun XII, September desember. Diakses pada https://E-Journal.Unair.Ac.Id. Tanggal 22 Juni 2021.

Tim Oke Zone. 2020. Heboh Incest Di Sragen,Begini Hukum Perkawinan

Sedarah Menurut Islam. Diambil Dari

Https://Muslim.Okezone.Com/Read/2020/06/19/330/2232749/Heboh-

Incest-Di-Sragen-Begini-Hukum-Perkawinan-Sedarah-Menurut-Islam Pada 24 Juni 2021

Tim CNN. 2019. Dampak Pernikahan Sedarah Pada Anak. Diambil Dari Https://Www.Cnnindonesia.Com/Gaya-Hidup/20190704131243-255-

409051/Dampak-Pernikahan-Sedarah-Pada-Anak Pada 24 Juni 2021.

(29)

Vifi Swarianata dkk. 2011. Kriminalisasi Inses (Hubungan Seksua Sedarah) Dalam Perspektif Pembaharuan Hukum Pidana. Jurnal Hukum. Hlm. 5.

Diambil dari

http://hukum.studentjournal.ub.ac.id/index.php/hukum/article/view/2010/13 52 Pada 27 Juni 2021

Referensi

Dokumen terkait

Bab Kedua , berisi tinjauan umum terhadap ketentuan pencatatan perkawinan di Indonesia yang meliputi : pengertian dan dasar hukum pencatatan perkawinan baik sebelum

Pasal tersebut hendak menyatakan, bahwa suatu perkawinan yang sah, hanyalah perkawinan yang memenuhi syarat- syarat yang ditetapkan dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata,

BAB III PANDANGAN HIJKUM ISLAM TENTANG OPERASI PENGGANTIAN DAN PENYEMPURNAAN ALAT KELAMIN SERTA AKIBAT HUKUMNYA TERHADAP STATUS PERKAWINAN DAN KEWARISAN A.. Tinjauan

Pendekatan istilah “anak zina” sebagai “anak yang lahir di luar perkawinan yang sah”berbeda dengan pengertian anak zina yang dikenal dalam Hukum Perdata umum, sebab dalam

Untuk dapat dikatakan sah nya suatu perkawinan tentunya ada beberapa syarat yang harus terpenuhi. Kata sah berarti menurut hukum yang berlaku, kalau perkawinan

dari segi syarat-syarat perkawinan.13 Dalam Pasal 2 ayat 1 dikatakan, bahwa perkawinan itu sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya.14 Secara umum,

Sebab, menurut mereka, fungsi pencatatan perkawinan hanyalah sekedar urusan administrasi belaka, bukan sebagai syarat sah atau tidaknya perkawinan akad nikah, kecuali pada penjelasan UU

Tinjauan hukum mengenai harta kekayaan dalam perkawinan campuran berdasarkan hukum perdata di Indonesia, menyoroti permasalahan kepemilikan harta bersama dan hak