PENDAHULUAN
Latar belakang masalah
Namun banyak juga hal negatif yang mempengaruhi keaktifan siswa dalam keterlibatannya dalam proses pembelajaran. Contohnya seperti kurangnya motivasi belajar, ketidaksukaan terhadap kelas, ketidaksukaan terhadap guru mata pelajaran, termasuk kurangnya kesadaran diri. Kesadaran diri adalah energi primordial yang sangat besar yang bersemayam dalam pikiran yang dialami secara sadar.
Proses pembelajaran harus dilaksanakan dengan penuh kemauan dan kesadaran diri dari dalam, sehingga siswa memperoleh semangat belajar yang luar biasa. Oleh karena itu, sangat disayangkan jika siswa masih kurang memiliki kesadaran diri dalam mengikuti proses pembelajaran. Setelah membaca beberapa media elektronik, penulis memperoleh pemahaman tentang gejala kurangnya kesadaran diri siswa dari beberapa kasus yang terjadi akhir-akhir ini.
Dari pemberitaan di atas, penulis memahami bahwa kesadaran diri siswa dalam belajar khususnya memantau proses pembelajaran masih kurang. Oleh karena itu penulis ingin mengetahui seberapa tinggi tingkat kesadaran diri siswa ketika mengikuti proses pembelajaran khususnya siswa kelas VIII. kelas ŠMP Negeri 1 Ceper.
Identifikasi Masalah
Batasan Masalah
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
- Manfaat Teoritis
- Manfaat praktis
Hasil penelitian ini dapat membantu memberikan informasi kepada guru tentang tingkat kesadaran diri siswa kelas VIII SMP 1 Ceper, yang dapat menjadi masukan untuk membuat program pengembangan diri siswa. Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi tentang tingkat kesadaran diri siswa kelas VIII di SMP 1 Ceper terhadap guru BK, yang dapat menjadi bahan masukan untuk membantu guru BK dalam menentukan tingkat kesadaran diri. kesadaran diri siswa sehubungan dengan aspek Solso (2008).
Batasan Istilah
Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) direncanakan, dilaksanakan dan selalu dievaluasi agar peserta didik dapat mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien.
KAJIAN PUSTAKA
- Hakikat Kesadaran diri
- Pengertian Kesadaran diri
- Aspek-Aspek Kesadaran diri
- Fungsi-fungsi Kesadaran diri
- Hakikat Proses Pembelajaran
- Karakteristik Remaja SMP
- Pengertian Remaja
- Ciri-ciri Remaja SMP
- Tugas perkembangan siswa
- Kesadaran diri siswa dalam Proses Pembelajaran
- Kajian Penelitian yang Relevan
- Kerangka Berfikir
Solso (2008) mengemukakan beberapa aspek kesadaran diri, antara lain perhatian, kewaspadaan, arsitektur, aktivitas kognisi, dan emosi. Dari aspek-aspek tersebut seseorang dapat mengetahui derajat kesadaran diri dalam dirinya sehingga mampu bersikap dan waspada terhadap lingkungannya saat ini. Perekrutan dan pengendalian, dimana kesadaran diri memasuki sistem motorik untuk melakukan tindakan sadar.
Deteksi dan pengeditan kesalahan adalah fungsi kesadaran diri yang dapat dimasukkan ke dalam sistem norma kita. Objek penelitian Hilapok tentang kesadaran diri siswa menitikberatkan pada aspek kesadaran diri yaitu perhatian, kewaspadaan, arsitektur, aktivitas pengetahuan dan emosional. 2 Ikhsan Pradita Kesadaran diri yang meliputi aspek perhatian, kewaspadaan, arsitektur, aktivitas pengetahuan, emosional.
Kesadaran diri dalam proses pembelajaran sangat penting bagi siswa agar dapat mencapai tujuan proses pembelajaran secara maksimal. Jika siswa telah mempunyai kesadaran diri dalam dirinya, maka secara tidak langsung siswa akan mampu meningkatkan keinginannya untuk belajar.
METODE PENELITIAN
- Jenis atau Desain Penelitian
- Subjek dan Sampel penelitian
- Tempat dan Waktu penelitian
- Variabel Penelitian
- Teknik Pengumpulan Data dan Instrumen
- Teknik Pengumpulan Data
- Instrumen
- Validitas dan Reabilitas Instrumen
- Validitas
- Reliabilitas
- Teknik Analisis Data
- Memberi skor pada tiap alternatif jawaban yang dipilih oleh responden
- Mentabulasi data
- Mengkategorikan subjek
Dalam penelitian ini variabel yang ingin diteliti adalah variabel tunggal yaitu kesadaran diri siswa SMP. Kesadaran diri ini mempunyai 5 aspek (Solso, 2008) yaitu Attention, Wakefulness, Architecture, Activity of Knowledge, Emotive. Dalam penelitian ini angket bertujuan untuk mengumpulkan data kesadaran diri siswa kelas VIII SMP N 1 Ceper.
Instrumen kesadaran diri dalam penelitian ini menawarkan 4 (empat) alternatif tanggapan yaitu sangat setuju (SS), setuju (S), tidak setuju (KS) dan tidak setuju (TS). Kesadaran diri mahasiswa arsitektur diproses oleh pengalaman yang pernah dimilikinya dan disimpan di otak. Arsitektur Kesadaran diri siswa diproses oleh pengalaman-pengalaman yang dialaminya sendiri dan disimpan dalam otak.
Berdasarkan kategori norma pada tabel di atas, telah ditentukan pengelompokan skor tinggi dan rendah pada butir soal kesadaran diri siswa SMP Negeri 1 Ceper dengan jumlah subjek 111. Dari pemaparan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa sebagian besar siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Ceper memiliki kesadaran diri yang rendah. Deskripsi aspek kesadaran diri yang skornya ditemukan mempunyai pengaruh paling besar terhadap kesadaran diri siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Ceper.
Dengan demikian, hasil tersebut menunjukkan bahwa kesadaran diri siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Ceper dalam hal partisipasi dalam proses pembelajaran masih sangat perlu ditingkatkan. Sebanyak (36%) siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Ceper memiliki kesadaran diri sangat tinggi dan tinggi, sebagian (3%) memiliki kesadaran diri sedang, dan sebagian besar (61%) siswa memiliki kesadaran diri rendah. kesadaran. Diketahui bahwa kesadaran diri siswa kelas VIII ditinjau dari aspek kesadaran diri termasuk tiga aspek dalam kategori rendah.
Artinya siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Ceper masih perlu dikembangkan kesadarannya terutama pada aspek arousal, arsitektur dan emosi. Hasil penelitian ini dapat membantu peneliti lain untuk melihat dan mengetahui tingkat kesadaran diri siswa kelas VIII SMP Negeri 1. Hasil penelitian ini juga dapat dijadikan bahan referensi bagi peneliti lain apabila ingin melakukan penelitian lebih lanjut. kesadaran diri siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Ceper.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
Dari sini tercipta gambaran kesadaran diri terhadap setiap aspek kesadaran diri dengan cara mengkategorikan setiap aspek kesadaran diri. Pada aspek perhatian ini dapat disimpulkan bahwa skor tertinggi yang dicapai berada pada kategori sedang yaitu masing-masing sebesar 43 dan 39%. Artinya siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Ceper sudah cukup dalam hal perhatian dalam mengikuti proses pembelajaran.
Pada aspek kewaspadaan dapat disimpulkan bahwa skor tertinggi yang diperoleh berada pada kategori sangat rendah yaitu 71 atau 64%. Artinya siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Ceper sangat kurang pada aspek kewaspadaan saat mengikuti proses pembelajaran. Pada aspek arsitektural ini dapat disimpulkan bahwa skor tertinggi yang diperoleh berada pada kategori rendah yaitu 54 atau 49%.
Artinya siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Ceper kurang memiliki aspek arsitektural ketika mengikuti proses pembelajaran. Pada aspek aktivitas pengetahuan dapat disimpulkan bahwa skor tertinggi yang dicapai berada pada kategori tinggi yaitu 60 atau 54%. Artinya siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Ceper tinggi pada aspek aktivitas pengetahuan saat mengikuti proses pembelajaran.
Berdasarkan aspek emosional tersebut dapat disimpulkan bahwa skor tertinggi yang dicapai berada pada kategori rendah yaitu 34 atau 31%. Artinya siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Ceper kehilangan aspek emosional dalam mengikuti proses pembelajaran.
Pembahasan
Berdasarkan observasi dan hasil wawancara terhadap guru bimbingan dan konseling yang dilakukan peneliti di SMP Negeri 1 Čeper pada bulan Mei 2018, terlihat bahwa perilaku siswa menunjukkan rendahnya kesadaran diri dalam mengikuti proses pembelajaran. Rendahnya kesadaran diri ini menimbulkan beberapa aspek kesadaran diri yang masih kurang memadai. Seperti yang dijelaskan (Solso, 2008), beberapa aspek kesadaran diri tercantum, termasuk perhatian, kewaspadaan, arsitektur, aktivitas pengetahuan, dan emosi.
Aspek-aspek tersebut merupakan upaya untuk lebih memahami kesadaran diri berdasarkan pengalaman individu. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan mengenai aspek kesadaran diri, peneliti dapat mengambil kesimpulan bahwa dari 5 (lima) aspek terdapat 3 (tiga) aspek yang menunjukkan kesadaran diri siswa dengan mengikuti kegiatan tersebut. proses pembelajaran pada kategori rendah. Pada aspek ini siswa masih kurang perhatian atau kurang siap mengikuti proses pembelajaran.
Dengan demikian, aspek kesadaran diri yang masuk dalam kategori sedang atau tinggi adalah perhatian dan aktivitas pengetahuan. Sedangkan untuk aspek perhatian, kesadaran diri sebagian besar siswa berada pada kategori sedang yaitu 39%, adapun pada aspek kewaspadaan, kesadaran diri sebagian besar siswa berada pada kategori rendah yaitu 40%, adapun aspek arsitektural, kesadaran diri siswa sebagian besar berada pada kategori rendah yaitu 49%, dan selanjutnya pada area aktivitas siswa terbanyak. Kesadaran diri siswa berada pada kategori tinggi, yaitu sebesar 54%. Mengenai aspek emosional, sebagian besar kesadaran diri siswa berada pada kategori tinggi. kategori rendah: 31%. Dari hasil tersebut dapat diartikan bahwa diantara kelima aspek kesadaran diri, terdapat dua aspek kesadaran diri yang tergolong tinggi dan sedang, serta terdapat tiga aspek kesadaran diri.
Penelitian ini mempunyai keterbatasan yaitu hanya mendeskripsikan tingkat kesadaran diri siswa secara umum dan melihat setiap aspek kesadaran diri. Guru bimbingan/konselor di sekolah mempunyai peranan yang sangat penting dalam membantu membangkitkan dan membangkitkan kesadaran siswa. Sehingga pengawas/guru BK dapat memberikan layanan orientasi sesuai kebutuhan siswa dan nantinya kesadaran siswa untuk berpartisipasi dalam proses pembelajaran akan terus meningkat.
Kesadaran diri pada siswa merupakan kunci penting untuk meningkatkan pemahaman diri, menetapkan tujuan dan mencapai semangat untuk memahami pentingnya mengikuti proses pembelajaran. Saya merasa kesal jika nilai saya buruk, namun saya tidak ingin berusaha mendapatkan nilai yang lebih baik. Saya tidak mengerti perasaan orang tua saya ketika melihat prestasi akademik saya baik atau buruk.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Keterbatasan
Saran
Aku hanya bermain-main di sekolah dan tidak peduli dengan kerja keras orang tuaku yang telah menyekolahkanku. Ketika guru mengangkat tangan ketika mengajukan pertanyaan, saya menyadari bahwa siswa diminta untuk mengangkat tangan sebelum menjawab. Saat guru bertanya dan mengangkat tangan, saya hanya menunduk agar tidak diminta menjawab.
Saya menyukai guru yang ramah dan dekat dengan siswanya, sehingga saya juga menyukai pelajarannya.