• Tidak ada hasil yang ditemukan

kiat takrir hafalan al-qur'an wanita karier - repository iiq

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "kiat takrir hafalan al-qur'an wanita karier - repository iiq"

Copied!
195
0
0

Teks penuh

(1)

Jakarta)

Oleh:

Shufrotul Hasanah NIM.14210611

PROGRAM STUDI ILMU AL-QURAN DAN TAFSIR FAKULTAS USHULUDDIN DAN DAKWAH INSTITUT ILMU AL-QUR’AN (IIQ) JAKARTA

2018 / 1439 H Skripsi ini Diajukan

Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Agama (S.Ag)

(2)

Jakarta)

Oleh:

Shufrotul Hasanah NIM.14210611

Pembimbing:

Hj. Muthmainnah, MA

PROGRAM STUDI ILMU AL-QURAN DAN TAFSIR FAKULTAS USHULUDDIN DAN DAKWAH INSTITUT ILMU AL-QUR’AN (IIQ) JAKARTA

2018 / 1439 H Skripsi ini Diajukan

Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Agama (S.Ag)

(3)

i

Skripsi dengan judul “Kiat Takrir Hafalan Al-Qur’an Wanita Karier (Studi Living Qur’an Terhadap Alumni Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta” yang disusun oleh Shufrotul Hasanah dengan Nomor Induk Mahasiswa 14210611 telah diperiksa melalui proses bimbingan dengan baik dan disetujui untuk diujikan pada sidang munaqosyah.

Jakarta, 09 Agustus 2018 Pembimbing,

Hj. Muthmainnah, MA

(4)

ii

Skripsi dengan judul “Kiat Takrir Hafalan Al-Qur’an Wanita Karier (Studi Living Qur’an Terhadap Alumni Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta” yang disusun oleh Shufrotul Hasanah dengan Nomor Induk Mahasiswa 14210611 telah diujikan pada sidang Munaqasyah Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Ilmu Al-Qur‟an (IIQ) Jakarta pada tanggal 16 Agustus 2018. Skripsi telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Agama (S.Ag).

Jakarta, 16 Agustus 2018

Dekan Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Ilmu Al-Qur‟an (IIQ) Jakarta,

Dra. Hj. Maria Ulfa, MA

Sidang Munaqasyah

Ketua Sidang, Sekretaris Sidang

Dra. Hj. Maria Ulfa, MA Dra. Rukoyah Tamimi

Penguji I, Penguji II,

Ali Mursyid, M.Ag Ahmad Hawasyi, MA

Pembimbing,

Hj. Muthmainnah, MA

(5)

iii Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Shufrotul Hasanah

NIM : 14210611

Tempat/Tgl. Lahir : Bogor, 11 Juli 1996

Menyatakan bahwa skripsi dengan judul “Kiat Takrir Hafalan Al-Qur’an Wanita Karier (Studi Living Qur’an Terhadap Alumni Institut Ilmu Al- Qur’an (IIQ) Jakarta” adalah benar-benar asli karya saya kecuali kutipan- kutipan yang sudah disebutkan. Kesalahan dan kekurangan di dalam karya ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab saya.

Jakarta, 09 Agustus 2018

Sufrotul Hasanah

(6)

iv

Bismillahirrahmanirrahim,

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka

bertawakal”.

( Q.S. Al-Anfal: 2)

Sholatku, Ibadahku, Hidupku, dan Matiku, juga Syukurku hanya kepadamu Rabb semesta alam.

Arus kasih sayang, hormat, dan baktiku senantiasa mengalir kepada mutiara insani kehidupanku, Abi, Mamah, dan Zayin.

Harapan dan senyum terhangat tercipta dari guru dan orang-orang terkasih, terimakasihku atas semangat dan dorongan yang tak pernah surut.

Bakti dan dedikasi kuhaturkan untuk almameter tercinta, Institut Ilmu Al- Qur‟an (IIQ) Jakarta, bangsa, dan negara Indonesia.

Dengan segenap kekuatan hati, kupersembahkan karya tulis ini...

(7)

v

“Maka sesungguhnya, disetiap kesulitan ada kemudahan”

(Q.S. Al-Insyirah: 5)

Dengan ilmu dan Al-Qur‟an kamu bisa menjadi apapun, karena sumber ilmu itu adalah Al-Qur‟an. Maka, jadilah insan yang qurani.

(Ayahanda)

Luangkanlah waktumu untuk membaca Al-Qur‟an, bukan membaca Al- Qur‟an di saat ada waktu luang.

(Kak Qurrota A‟yun)

Walaupun kebaikan yang kamu lakukan hanya bernilai kecil bagi orang lain, tetaplah berbuat kebaikan. Dan jangan lelah.

Karena daun yang jatuh, tidak pernah membenci angin.

(8)

vi

Alhamdulillah, atas Inayah Allah Swt. penulis mampu menyelesaikan skripsi dengan judul “Kiat Takrir Hafalan Al-Qur’an Wanita Karier (Studi Living Qur’an Terhadap Alumni Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta”.

Shalawat serta salam tercurah limpah teruntuk idola sejati, Nabi Muhammad Saw., sumber inspirasi, motivasi dan inovasi untuk melahirkan karya yang hakiki dan dapat dicintai.

Hamdan lillah, tak henti-hentinya penulis haturkan kepada Sang Maha Kuasa yang penuh cinta, sehingga atas inayah, kuasa dan cintanya, skripsi ini dapat terselesaikan. Skripsi ini merupakan pembuktian atas perjuangan-perjuangan kecil penulis dalam menempuh empat tahun menimba ilmu di kampus tercinta, Institut Ilmu Al-Qur‟an (IIQ) Jakarta.

Penulis menyadari sepenuhnya, bahwa karya sederhana ini sejatinya bukanlah mutlak hasil dari kerja keras penulis seorang. Karena, banyak sekali sumbangsih orang lain dalam proses pengerjaannya. Untuk itu, dalam kesempatan ini penulis ingin menghaturkan terimakasih kepada:

1) Allah Swt, yang Maha Baik dan Maha Pemberi Rizki atas setiap kemudahan dan kejutan-Nya selama penulis mengerjakan skripsi ini.

2) Ibu Prof. Dr. Hj. Khuzaimah Tahido Yanggo, Lc, MA ibunda kita semua, Rektor Institut Ilmu Al-Qur‟an (IIQ) Jakarta.

3) Ibu Dr. Hj. Maria Ulfah, MA. Dekan Fakultas Ushuluddin IIQ Jakarta, atas kesediannya menyetujui judul penulis dan doa yang selalu terpanjat.

4) Bapak Dr. H. M. Ulinnuha Husnan, Lc, MA Kepala Jurusan Ilmu Al- Qur‟an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin IIQ Jakarta, dan juga dosen mata kuliah metode penelitian yang mengajarkan penulis dan teman- teman penulis untuk membuat sebuah karya, dalam bentuk skripsi.

(9)

vii tidak lari ke lain judul.

5) Ibu Hj. Muthmainnah, MA., dosen pembimbing penulis dalam mengerjakan skripsi ini. Sosok pembimbing yang penuh perhatian dan berhati lembut. Beliau tak lelah membimbing kami yang masih banyak kekurangan dan sabar mendengar setiap keluh kesah kami.

Ibu tetap meluangkan waktu yang maksimal untuk membimbing kami, di samping persiapan keberangkatan naik haji pada tanggal 10 Agustus 2018. Jazakillah ibu cantiik, atas waktu yang diluangkan, dan binaan yang tak akan penulis lupakan. Semoga Allah Swt membalas kebaikan ibu dengan kemudahan dan rezeki berlimpah.

Amiin.

6) Bapak Ali Mursyid, M.Ag, terimakasih untuk memberikan inspirasi untuk judul penelitian yang penulis teliti. Jazakallahu khairul jaza’, Pak.

7) Bapak KH. Ahmad Fathoni, Lc. Ma., Ibu Hj. Ade Halimah S.Th.I, Ibu Hj. Istiqomah, MA., dan seluruh Instruktur tahfidz IIQ Jakarta.

Instruktur tahfidz yang selalu jadi inspirator dan motivator penulis, hingga penulis sampai di titik ini. Beliau semua adalah insan Qur‟ani panutan hati.

8) Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Ushuluddin IIQ Jakarta yang telah membagikan ilmunya pada penulis, sehingga penulis mampu memahami banyak hal terkait ilmu-ilmu Al-Qur‟an.

9) Seluruh staf fakultas yang telah membantu setiap tangga proses yang penulis lalui. Terutama untuk ibu Kokoy dan ibu Suci, terimakasih atas segala bentuk perhatiannya.

(10)

viii

kesempatan kepada penulis untuk mencari bahan yang diperlukan dalam penyusunan skripsi.

11) Abi H. Asep Hidayat dan Mamah Hj. Euis Siti Saroh. Bagi penulis tiada satupun barisan kata yang mampu melukiskan betapa besar pengorbanannya. Beliau telah curahkan segala usaha dan do‟a untuk putri terkasihnya, semoga kakak menjadi insan kebanggaan abi mamah dan keluarga, sebagaimana harapan orangtua. Amiin.

12) Keluarga besar, dari bibi, om, mamang, uwa, teteh, termasuk duo rempongs neng Rahma dan Hilma, yang sudah jadi sumber semangat dan bahagia penulis sehingga penulis mampu menikmati suka dan duka di berbagai keadaan yang ada, juga selalu tanya “Kapan pulang?

Skripsinya gak selesai-selesai..”

13) Seluruh teman IIQ Jakarta angkatan 2014, teman-teman Fakultas Ushuluddin dan yang paling spesial teman-teman kelas Ushuluddin B, atas kebersamaan yang penuh misteri, dan asam manis kenangan selama masa perkuliahan hingga sekarang. See you on top Chinguu.

Semoga kelas B segera ada yang pecah telur, sidang. Hamasah!

14) Pondok Najdah Squad, yang selalu punya cerita aneh unik bin ajaib, yang selalu bisa saling mengingatkan dan memotivasi, makan gak makan kumpul, sharing, dan semua hal baik yang sudah kita bagi.

Semoga menjadi sohib until jannah. Amiiin. (Ku rindu sekali Mamak Nada).

15) Bang Akbar dan karyawannya, yang telah membantu penulis meng- print, fotocopy, jilid dari sebuah proposal hingga menjadi skripsi ini.

Dan juga terimakasih atas harga murahnya bang, semoga berkah.

(11)

ix

beliau semuanya, penelitian ini tak akan berjalan dengan baik. Maaf karena Shufroh mengganggu waktunya ya, bu, kak. Syukron, Jazakunnallah khoirul jaza’. Dan juga tidak luput terimakasih untuk semua pihak yang telah membantu mengumpulkan data, khususon buat Aa, hatur nuhuns. Tidak lupa juga abang Grab sekalian bserta diskonnya.

17) Terimakasih yang seluasnya, untuk teteh Salma, Rofi‟ah, teteh Ulep, Uni, Yuni, teteh Nupus, Indah, Ekong, yang dalam jangka 24 jam terakhir penyelesaian skripsi ini, telah menyemangati penulis dan menemani dengan menengok penulis di kamarnya. Tanpa kalian skripsi ini mungkin belum usai. Semangat selalu untuk kita!!

18) Pembaca sekalian, semoga karya sederhana ini mampu menginspirasi dan bermanfaat dunia akhirat.

Tak lupa penulis ucapkan permohonan maaf kepada seluruh pembaca jika terdapat kesalahan dalam penulisan maupun penyusunan skripsi ini.

Kesempurnaan hanya milik Allah Swt dan kekurangan ada pada diri penulis.

Besar harapan penulis, semoga karya sederhana ini mampu memberikan kontribusi positif daam dunia akademis, serta mampu menumbuhkam samudra cinta terhadap sebuah ilmu dan karya dalam hati semua pembaca.

Jakarta, 09 Agustus 2018

Shufrotul Hasanah

(12)

x

LEMBAR PERSETUJUAN ...i

LEMBAR PENGESAHAN ... ii

LEMBAR PERNYATAAN ... iii

PERSEMBAHAN ...iv

MOTTO ... v

KATA PENGANTAR ...vi

DAFTAR ISI... x

DAFTAR GRAFIK ... xiii

PEDOMAN TRANSLITERASI ...xiv

ABSTRAK ... xvii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 7

C. Batasan dan Rumusan Masalah ... 8

1. Batasan Masalah ... 8

2. Rumusan Masalah ... 8

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 8

1. Tujuan Penelitian ... 8

2. Manfaat Penelitian ... 9

E. Kajian Pustaka... 9

F. Metodologi Penelitian ... 18

1. Jenis Penelitian ... 18

2. Sumber Data ... 19

3. Teknik Pengumpulan Data ... 19

4. Metode Analisis ... 19

(13)

xi

A. Pengertian Tahfîzh dan Takrir Hafalan Al-Qur‟an ... 23

1. Tahfîzh ... 23

2. Takrir ... 27

3. Potret Para Ulama Terdahulu dalam Menghafal dan Mengulang Hafalan Al-Qur‟an ... 34

4. Fenomena Tahfîzh dan Hafiz Al-Qur‟an Masa Kini ... 37

B. Anjuran Menghafal Al-Qur‟an dan Kewajiban Dalil Takrir Al- Qur‟an ... 39

C. Teori Daya Ingat ... 48

D. Macam-Macam Metode Takrir ... 54

BAB III Alumni Institut Ilmu Al-Qur’an Jakarta dan Wanita Karier ... 62

A. Institut Ilmu Al-Qur‟an (IIQ) Jakarta Sebagai Wadah Pendidikan Tinggi Untuk Wanita ... 62

B. Institut Ilmu Al-Qur‟an (IIQ) Jakarta dan Progres Alumni ... 65

C. Definisi Wanita Karier Perspektif Agama Islam ... 69

D. Fenomena Wanita Karier Penghafal Al-Qur‟an ... 81

BAB IV Analisis Penelitian ... 84

A. Hasil Observasi Tentang Wanita Karier Alumni IIQ Jakarta Sebagai Penghafal Al-Qur‟an ... 84

B. Hasil Wawancara ... 90

1. Persepsi Wanita Karier Almuni Institut Ilmu Al-Qur‟an (IIQ) Jakarta Terhadap Takrir Hafalan Al-Qur‟an ... 90

2. Faktor Pendukung Takrir Hafalan Al-Qur‟an Para Wanita Karier ... 94

3. Hambatan Dalam Takrir Hafalan Al-Qur‟an Bagi Wanita Karier ... 98

4. Potret Wanita Karier yang Sukses Menjaga Hafalannya ... 99

5. Kiat-Kiat Takrir Wanita Karier ... 108

BAB V PENUTUP... 114

(14)

xii

DAFTAR PUSTAKA ... 116 LAMPIRAN

(15)

xiii

Tabel 4.1 Bidang Profesi Wanita Karier Alumni IIQ Jakarta ... 85 Tabel 4.2 Takrir Hafalan Al-Qur‟an Wanita Karier Alumni IIQ Jakarta .... 87

(16)

xiv

Skripsi ini ditulis dengan mneggunakan pedoman transliterasi sebagaimana diuraikan di bawah ini. Trasliterasi ini ditulis dengan menggunakan pedoman transliterasi huruf Arab ke huruf latin yang telah disusun oleh Institut Ilmu Al-Qur`an (IIQ) Jakarta Tahun 2017.

1. Konsonan

أ : a ط : th

ة : b ظ : zh

ث : t ع : „

ث : ts غ : gh

ج : j ف : f

ح : h ق : q

خ : kh ك : k

د : d ل : l

ذ : dz م : m

ز : r ن : n

ش : z و : w

س : s ي : h

ش : sy ء : `

ص : sh ي : y

(17)

xv 2. Vocal

Vocal Tunggal Vocal Panjang : Vocal Rangkap:

Fathah : a أ: â ْْي : ai ...

Kasrah : i ي: î ْْو…: au Dhammah : u و: û

3. Kata Sandang

a. Kata sandang yang diikutiْ olehْ alif lam (لا) qamariyahْ

ditransliterasikanْsesuaiْdenganْbunyinya, Contoh:

ةسقبلا : Al-Baqarah ةدئبملا : Al-Mâidah b. Kata sandang yang diikuti oleh alif lam (لا) syamsiyah

ditransliterasikan sesuai dengan aturan yang digariskan di depan dan sesuai dengan bunyinya. Contoh:

لجسلا : ar-rajulu ْةديسلا: as-Sayyidah شلا

سم : asy-Syams ْيمزادلا: ad-Dârimî

c. Syaddah (Tasydîd) dalam system aksara Arab digunakan lambang ( ّ_), sedangkan untuk alih aksara dilambangkan dengan huruf, yaitu dengan cara menggandakan huruf yang bertanda tasydîd. Aturan ini berlaku secara umum, baik tasydîd yang berada di tengah kata, di akhir kata ataupun yang terletak setelah kata sandang yang diikuti oleh huruf-huruf syamsiyah.

Contoh:

ِْللبِبْبّىَمأ: Âmannâbillâhi ْ ءبَهَفّسلاْ َهَمأ : Âmana as- Sufahâ’u

َْهْيِرَّلاْ َّنِإ : Inna al-ladzîna ِْعَّكُّسلاَو : waar-rukka’i

(18)

xvi

oleh kata sifat (na’at), maka huruf tersebut dialih aksarakan menjadi huruf “h”. Contoh:

ةدئفلأا : al-Af`idah تيملاسلأاْتعمبجلا : al-Jâmiah al- Islâmiyah

Sedangkan ta marbûthah (ة) yang diikuti atau disambungkan (di-washal) dengan kata benda (ism), maka dialih aksarakan menjadi huruf “t”. Contoh:

ٌْتَبِصبَوٌْتَلمِبَع : Âmilatun Nâshibah e. Huruf Kapital

Sistem penulisan huruf Arab tidak mengenal huruf kapital, akan tetapi apabila telah dialih aksarakan maka berlaku ketentuan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) bahasa Indonesia, seperti penulisan awal kalimat, huruf awal nama tempat, nama bulan, nama diri dan lain-lain. Ketentuan yang berlaku pada EYD berlaku pula dalam alih aksara ini, seperti cetak miring (italic) atau cetak tebal (bold) dan ketentuan lainya.

(19)

xvii

Shufrotul Hasanah, 14210611, Kiat Takrir Hafalan Al-Qur’an Wanita Karier (Studi Living Qur’an Terhadap Alumni Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta.

Takrir secara istilah adalah mengulang-ulang ayat dalam Al-Qur‟an yang sudah dihafal guna memeliharanya dari lupa. Takrir tidak terlepas dari tahfîzh, karenanya keduanya saling bersinergi. Masing-masing memiliki keterlibatan diri antara satu dengan yang lainnya. Apabila seseorang sudah menghafal Al-Qur‟an maka secara otomatis ia mempunyai kewajiban untuk mengulang hafalan Al-Qur‟annya, dan seseorang yang selalu mengulang hafalan merupakan hakikat dari penjaga Al-Qur‟an (hafiz Al-Qur‟an) dan bertanggung jawab atas pemeliharaannya. Takrir hafalan Al-Qur‟an wajib dilakukan oleh siapa pun umat Islam yang menghafal Al-Qur‟an, termasuk juga objek kajian yang ada di penelitian ini, yaitu takrirnya wanita karier.

Wanita karier yang diteliti adalah para alumni Institut Ilmu Al-Qur‟an (IIQ) Jakarta, yang mana sebelum berkarier di bidang profesi masing-masing ia sudah menghafal Al-Qur‟an karena di IIQ Jakarta wajib hafalan Al-Qur‟an.

Dari latar belakang tersebut, maka muncul pertanyaan: Bagaimana kiat takrir hafalan Al-Qur‟an para wanita karier?

Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan studi living qur‟an. Redaksi yang disusun berdasarkan studi kepustakaan dan penelitian lapangan, dengan data hasil wawancara sebagai sumber primer dan buku- buku dari jenis tema yang diampu sebagai sumber sekunder. Teknik pengumpulan data menggunakan metode wawancara dan pendokumentasian wawancara narasumber melalui rekaman suara. Metode analisis data yang digunakan adalah metode analisis kualitatif. Kemudian data yang terkumpul pada penelitian ini sebanyak 30 orang narasumber dari alumni IIQ Jakarta, dengan penggunaan batasan alumni IIQ Jakarta tingkat Strata Satu (S1)

Berdasarkan riset dan wawancara yang dilakukan penulis, kiat takrir hafalan Al-Qur'an bergantung kepada hafalan lancar dan hafalan yang kurang lancar. Secara singkat, kiat-kiat takrir yang ditemukan dari data hasil wawancara adalah sebagaimana dikategorikan kepada poin-poin berikut: (1) Takrir dengan memperbanyak membaca Al-Qur‟an. (2) Takrir dengan mengikuti halâqah simaan dan khataman Al-Qur‟an. (3) Takrir hafalan Al- Qur‟an dengan sarana Musabaqah Tilawatil Qur‟an (MTQ). (4) Takrir dengan memerhatikan waktu-waktu tertentu. (5) Takrir hafalan Al-Qur‟an dengan sarana media audio dan audiovisual.

(20)

1 A. Latar Belakang Masalah

Fenomena menghafal kitab suci Al-Qur‟an merupakan salah satu ciri khas yang dimiliki umat Islam dan tidak dimiliki oleh umat lain. Salah satu keistimewaan Al-Qur‟an adalah mudah dihafalkan, baik oleh orang Arab sendiri maupun orang non Arab yang sama sekali tidak mengerti arti kata yang ada dalam Al-Qur‟an. Bahkan kitab suci ini bisa dihafalkan oleh anak belia dengan umur kurang dari 10 tahun.1 Demikian salah satu mukjizat Al- Qur‟an yang merupakan anugerah terbesar bagi umat Islam sedunia dari zaman dahulu hingga seterusnya di masa yang akan datang.

Memahami Al-Qur‟an, menghafalnya, dan mengamalkannya adalah impian dan cita-cita semua orang Islam. Membacanya seakan langsung berbicara dengan Sang Khaliq, pencipta semesta alam, apalagi mampu menghafalnya seakan menjadi Al-Qur‟an berjalan.2 Menghafal Al-Qur‟an sama halnya dengan memelihara Al-Qur‟an. Barang siapa yang menghafal Al-Qur‟an maka secara tidak langsung ia telah menjaga Al-Qur‟an dan dirinya sekaligus. Menjaga Al-Qur‟an artinya menjaga bacaan Al-Qur‟an sebagaimana dahulu yang diajarkan Nabi Muhammad Saw. kepada para Sahabat, sedangkan yang dimaksud menjaga diri ialah senantiasa memelihara diri dengan Al-Qur‟an untuk selalu mengikuti tuntunan Allah SWT yang terdapat dalam ayat-ayatnya.

Al-Qur‟an telah diwasiatkan dan pelaksanaan penjagaannya melalui Allah sendiri. Dalam firman Allah surat Al-Hijr ayat 9:

1 Muhaimin Zen, Metode Pengajaran Tahfidz Al-Qur‟an Di Pondok Pesantren, Tsanawiyah, Aliyah, dan Perguruan Tinggi, (Jakarta: percetakanonline.com, 2012), h. 1

2 Abdul Ad-Daim Al-Kahil, Cara Baru Menghafal Al-Qur‟an (Judul asli: Thariqah Ibda‟iyyah Lihifzhil Qur‟anil Karim & Fadhail Al-Qur‟an Al-Karim), terj. Ibnu Bathal, (Klaten: Inas Media, 2009), h. 6

(21)

اح لَّۡزحه ُنۡ ۡ ح نَ اَّهِإ حر لِّلٱ ۡ

ُ ح ل اَّهوَإِ

حنو ُظِفَٰ حححل ۥ ٩

Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan adz-Dzikr (Al-Qur‟an) dan sesungguhnya Kami benar-benar baginya adalah para Pemelihara” (QS. Al-Hijr [15]: 9)

M. Quraish Shihab dalam tafsir Al-Misbah menjelaskan bahwa ayat tersebut merupakan sebagai bantahan atas ucapan mereka yang meragukan sumber datangnya Al-Qur‟an. Karena itu dikuatkannya pada ayat tersebut dengan kata sesungguhnya dan memakai kata ganti Kami ketimbang kata Saya, yakni maknanya Allah SWT., yang memerintahkan malaikat Jibril as, sehingga, dengan demikian, Kami menurunkan adz-dzikr, yakni Al-Qur‟an, dan sesungguhnya Kami juga bersama semua kaum muslimin benar-benar baginya, yakni bagi Al-Qur‟an, adalah yang akan menjadi para Pemelihara otentisitas dan kekekalannya.3 Maka dapat disimpulkan dari tafsiran tersebut bahwa dalam pemeliharaan dan penjagaannya, Allah SWT beserta malaikatNya dan umat muslim sedunia mempunyai kontribusi dalam keikutsertaannya. Terutama Allah, sang Pencipta dan Maha Suci yang memelihara seluruh makhluk di muka bumi.

Keterlibatan unsur selain Allah SWT, mempunyai pengertian bahwa Allah telah memberikan anugerah kepada sebagian hamba-hambaNya untuk terlibat dalam menjaga Al-Qur‟an. Secara umum tanggung jawab tersebut berlaku bagi umat muslim sedunia, dan secara khusus bagi orang-orang yang memilih mempelajari Al-Qur‟an dengan lebih seksama, seperti para penghafal Al-Qur‟an, para ahli Qira‟at, mufassir Al-Qur‟an, dan pemerhati Al-Qur‟an lainnya.4 Pada bahasan kali ini yang menjadi term menarik adalah pemelihara Al-Qur‟an sebagaimana arti harfiahnya, yakni hâfizh al-Qur‟ân

3 M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Quran, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), cet. ke-1, h. 420-421

4 Muhaimin Zen dan Akhmad Mustatiq, (eds.) Bunga Rampai Mutiara Al-Qur‟an Pembinaan Qari Qari‟ah dan Hafidz Hafidzah, (Jakarta: t.p. 2006), h. 105

(22)

atau penghafal Al-Qur‟an, yang berarti orang-orang yang menghafal Al- Qur‟an.

Menghafal Al-Qur‟an bukan hanya sekedar membaca untuk dihafal kemudian setelah dirasa hafal lupa begitu saja dan ditinggalkan. Menghafal Al-Qur‟an merupakan suatu pencapaian yang luar biasa, karena dalam menjalankannya kita harus memikul amanah dan tanggung jawab yang besar.

Al-Qur‟an merupakan rahmat bagi seluruh umat dan bukan sembarang kitab suci, maka menghafalnya sama dengan menjaga rahmat Allah dan memelihara petunjukNya. Dari itu hafalan Al-Qur‟an harus terus dibaca dan diulang serta dipahami agar dapat dikiaskan dalam perilaku sehari-hari sebagai petunjuk bagi manusia.

Seringkali upaya dalam menghafal Al-Qur‟an berhadapan dengan berbagai kendala, mulai dari waktu yang tersedia, kemampuan menghafal, dan usaha dalam pemeliharaan hafalannya.5 Atas pertimbangan tersebut, menghafal Al-Qur‟an membutuhkan cara dan kiat khusus agar senantiasa terjaga kualitas bacaan hafalan, dan ayat-ayat yang dihafal dapat selalu diingat. Salah satu caranya ialah dengan metode takrir. Metode takrir adalah metode takrir adalah cara atau jalan yang digunakan dalam mengulang hafalan Al-Qur‟an.

Tahfîdz dan Takrîr merupakan dua sejoli yang tidak bisa dipisahkan.

Dengan dihafalnya tiap-tiap ayat Al-Qur‟an, tidak berarti hafalan itu dijamin melekat selamanya di dalam ingatan seseorang. Secara teori, kekuatan hafalan rata-rata individu bisa bertahan 12 jam6 terhitung dari waktu setelah ia menghafal atau mengenal suatu objek. Karena itu selain menghafal Al-

5 Yahya Abdul Fattah Az-Zawawi, Revolusi Menghafal Al-Qur‟an: Cepat Menghafal, Kuat Hafalan, dan Terjaga Seumur Hidup (judul asli: Khairu mu‟in fi hifdzil Al- Qur‟an Al-Karim), terj. Dinta, (Surakarta: Penerbit Insan kamil, 2013), cet. ke-7, h. 6

6 A. Muhaimin Zen, Metode Lauhun Panduan Pengajaran Menghafal Al-Quran di Pondok Pesantren dan Pendidikan Formal (Tsanawiyah, Aliyah, dan Perguruan Tinggi), (Jakarta: Transpustaka, 2013), cet. ke-1, h. 89

(23)

Qur‟an, yang harus diperhatikan sebagai kunci utama adalah istiqomah dalam menakrir hafalan Al-Qur‟an. Kiat agar senantiasa istiqomah atau menerapkan kontinuitas dalam melakukan sesuatu telah diisyaratkan Allah di dalam Al-Qur‟an, Allah Swt berfirman:

حكِلَٰحذِلحف ...

حف ُعۡدٱ ۡمِقحتۡسٱ حو ۡمُهحءٓاحوۡه ح

أ ۡعِبَّتحت لَحو حتۡرِم ح ُ أ ٓاحمحل ....

١٥

“...dan tetaplah sebagai mana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka....” (QS. Asy-Syûrâ [42]:

15)

M. Quraish Shihab menjelaskan dalam Tafsir Al-Mishbah surat Asy- Syûra: 15, bahwa kata istaqim berarti perintah untuk menegakkan sesuatu sehingga ia menjadi sempurna dan seluruh yang diharapkan darinya terkwujud dalam bentuk sesempurna mungkin, tidak disentuh oleh kekurangan atau keburukan dan kesalahan. Sedang ahwâ‟ yang berasal dari kata hawâ‟ memiliki makna kecenderungan hati kepada sesuatu yang biasanya tidak bermanfaat, bahkan tidak jarang merupakan suatu pelanggaran.7 Dari itu disimpulkan bahwa istiqomah selain menjurus kepada amal teologis, jika dikiaskan konteks implikasinya dalam menghafal Al- Qur‟an, maka ia adalah pekerjaan yang harus selalu dijaga dan dilakukan agar dapat menegakkan tujuan dan hasil yang baik serta terhindar dari godaan yang membawa kepada lalai dari pekerjaan itu sendiri. Yakni istiqomah untuk selalu mengulang hafalan Al-Qur‟an, sehingga bacaan menjadi lebih baik, tepat, dan mutqin.

Begitulah kunci utama perjuangan dalam menjaga hafalan Al-Qur‟an yang ia berlaku tanpa pandang jenis kelamin, usia, maupun status. Anak- anak, remaja, bapak, ibu, laki-laki maupun wanita, semuanya memiliki kewajiban dan tanggung jawab yang sama terhadap hafalan Al-Qur‟an-nya.

7 M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Quran, h.

135

(24)

Lalu bagaimana jika seseorang yang hafal Al-Qur‟an belum bisa menerapkan keistiqomahannya dalam menjaga hafalan? Jika ditinjau dari kadar tanggung jawab, maka tiap individu perlu menemukan kiat takrir yang sesuai dengan kebutuhan dan keseharian masing-masing. Hal ini dikerucutkan pada konteks wanita yang kesehariannya bekerja atau disebut juga wanita karier.

Wanita karier adalah seorang wanita, selain kewajibannya sebagai istri dan ibu rumah tangga, yang bekerja di luar rumah demi kepentingan keluarga, seperti dalam rangka membantu suami mencukupkan nafkah keluarga, menggantikan posisi suami yang sedang berhalangan untuk bekerja, ataupun memperjuangkan kemaslahatan umat yang mana di dalamnya hanya wanita yang dapat menjalankan pekerjaan tersebut, misalnya mengajar santri putri di pondok pesantren khusus putri, menjadi perawat di sebuah rumah sakit, bidan melahirkan di klinik, dan lain sebagainya.8

Meninjau dari rupa pekerjaan yang diemban oleh seorang wanita karier, selain ia menjadi kepala keluarga dalam urusan rumah dan mengurus anak ia juga harus bisa membagi waktu dan tenaga seefisien mungkin untuk meniti karier. Hal ini merupakan pekerjaan yang cukup menyita waktu.

Wanita dengan tanggung jawabnya atas perihal rumah tangga sudah cukup menyita banyak waktu, yakni 10-12 jam per hari.9 Ditambah tanggung jawab seorang wanita jika ia meniti karier di luar rumah, maka waktu yang digunakan untuk bekerja sekitar 8 jam. Jika keduanya dijumlah, maka dalam kurun waktu 18-20 jam dalam satu hari satu malam seorang wanita dikiprahkan untuk bekerja dan mengurus rumah tangga, dan sisa waktunya dialokasikan untuk istirahat. Dengan ini waktu yang singkat harus digunakan seefisien mungkin dan menerapkan berbagai kegiatan sesuai dengan

8 Saifuddin Mujtaba‟, Isteri Menafkahi Keluarga?: Dilema Perempuan Antara Mencari, Menerima, dan Memberi, (Surabaya: Penerbit Pustaka Progressif, 2001), h. 26-27

9 Saefudin Mujtaba‟, Isteri Menafkahi Keluarga?, h. 39

(25)

porsinya. Hal ini menjadi masalah yang riskan bagi wanita karier yang juga menghafal Al-Qur‟an atau sudah hafal Al-Qur‟an.

Bahkan untuk mengingat hal-hal kecil saja sudah tergolong rumit, bagaimana jika ia berada dalam posisi sedang atau sudah menghafal Al- Qur‟an. Dikhawatirkan hafalan yang telah dihafal menjadi kabur atau bahkan hilang jika ia tidak membuat waktu khusus untuk menakrir hafalannya.

Kemudian muncul pertanyaan. Bagaimana wanita karier yang menghafal Al- Qur‟an mengatasi tanggung jawabnya dalam menjaga hafalan?

Berangkat dari pertanyaan tesebut, penulis tertarik untuk meneliti bagaimana wanita karier yang begitu padat dengan berbagai jadwal dan kegiatan, ia tetap mampu istiqomah dalam menjaga hafalan Al-Qur‟an dengan menyempatkan diri mengulang-ulang hafalan. Penelitian ini perlu dilakukan guna membantu para wanita hâfizh Al-Qur‟ân, yang bekerja khususnya, menemukan kiat tepat yang dapat mereka pahami dalam rangka istiqomah menakrir hafalan. Karena banyak dari mereka yang merasa terbebani dan dilanda kebingungan bagaimana mengatasi problema tersebut.

Penulis secara pribadi, yang masih dalam tahap menghafal Al-Qur‟an, sebagai mahasiswa Institut Iilmu Al-Qur‟an Jakarta yang notabene dikenal sebagai kampus dengan siswa penghafal Al-Qur‟an, masih mencari-cari kiat takrir hafalan Al-Qur‟an yang tepat dan sesuai. Yakni tepat agar istiqomah dalam keseharian menakrir hafalan dan mampu menyesuaikan dengan berbagai kegiatan dan tanggung jawab sebagai mahasiswa. Maka tema penghafal Al-Qur‟an yang fokus terhadap wanita karier menjadi bahasan yang menarik sebagaimana yang telah dijelaskan, guna meningkatkan kualitas hafalan para wanita karier penghafal Al-Qur‟an.

Dengan demikian, tanya jawab dan obseravasi terhadap objek yang berkaitan akan memberikan hasil praktis dan signifikan sehingga mampu menjawab pertanyaan dan dugaan yang ada. Dengan latar belakang di atas,

(26)

penulis sangat tertarik untuk mengadakan penelitian yang dituangkan dalam judul skripsi “Kiat Takrir Hafalan Al-Qur‟an Wanita Karier (Studi Living Qur‟an terhadap Alumni IIQ Jakarta)”.

B. Identifikasi Masalah

Terkait dalam latar belakang di atas maka peneliti mengidentifikasi masalah sebagai berikut:

1. Mengulang hafalan Al-Qur‟an lebih sulit dari menghafal Al-Qur‟an.

Karena dalam proses menghafal seseorang akan menemukan hal yang baru, kemudian ia harus meletakkan informasi tersebut dalam ruangan (otak) yang kosong. Berbeda dengan mengulang, lebih sulit dari menghafal karena ada proses pemindaian ulang yang akan melibatkan banyaknya informasi yang telah ada.

2. Ayat-ayat yang sudah dihafal mudah hilang. Sebuah informasi yang baru disebut sebagai short memory, yaitu memori yang memungkinkan informasi yang masuk dapat bertahan dalam jangka waktu pendek karena ia merupakan informasi yang baru saja otak dapatkan.10

3. Kiat wanita karier dalam menyeimbangkan seluruh hak dan kewajiban sebagai wanita, hamba, dan hâfidz Al-Qur‟ân. Biasanya ia akan melakukan kegiatan secara multi timer, yaitu menyelesaikan beberapa kegiatan dalam satu waktu. Sederhananya, mengisi kekosongan kegiatan dengan menakrir baik itu di rumah ataupun di tempat kerja.

4. Adanya faktor yang mempengaruhi diri wanita karier dalam menyeimbangkan seluruh kegiatan sehari-hari dengan kewajiban takrir hafalan Al-Qur‟an. Baik itu faktor yang mendukung kinerjanya

10 Nurla Isna Aunillah, Trik Dahsyat Mempertajam Daya Ingat Hafalan Pelajaran, (Yogyakarta: Penerbit Araska, 2017), h. 56

(27)

maupun faktor yang dapat menghambat kinerjanya. Sesibuk apapun kegiatan sehari-hari para penghafal Al-Qur‟an, pasti ada hal-hal tertentu yang memotivasi dirinya untuk lebih giat dalam memelihara hafalannya dan tetap terjaga dari aktivitasnya.

C. Batasan dan Rumusan Masalah 1. Batasan Masalah

Melihat dari identifikasi masalah yang sudah dijelaskan, objek penelitian ini akan sangat meluas bahasannya apabila tidak dibatasi penggunaannya. Maka penulis membatasi objek penelitian ini pada kiat takrir hafalan Al-Qur‟an para wanita karier yang merupakan alumni Institut Ilmu Al-Qur‟an (IIQ) Jakarta lulusan jenjang Strata Satu (S1), dengan pengecualian alumni IIQ angkatan tahun pertama dan kedua.

Karena fokus dalam penelitian ini berkaitan dengan kewajiban hafalan Al-Qur‟an di IIQ Jakarta, sedangkan program wajib hafalan hanya berlaku bagi mahasiswa S1.

Tahap selanjutnya adalah pemetaan dan klasifikasi terhadap alumni yang akan terbagi kepada beberapa bidang: Bidang Pendidikan (Pendidikan internal (lingkungan IIQ Jakarta) dan pendidikan eksternal (luar IIQ Jakarta)), Birokrasi dan Politik, dan Wirausaha (berdagang dan jasa). Kemudian peneliti akan mengambil data lapangan sebanyak 30 orang narasumber dari populasi alumni IIQ jenjang Strata Satu (S1) yang ada, dengan tanpa membatasi jumlah per kategori bidangnya.

2. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Bagaimana kiat wanita karier alumni IIQ Jakarta dalam takrir hafalan Al-Qur‟an di tengah kesibukan pekerjaannya?

(28)

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian

Tujuan dari dilaksanakan penelitian ini adalah: Untuk mengetahui dan menerapkan bagaimana kiat wanita alumni IIQ Jakarta yang berkarier namun tetap dapat menjaga hafalan Al-Qur‟an secara berkala.

2. Manfaat Penelitian

Manfaat yang didapat dari penelitian ini adalah:

a. Secara teoritis manfaat yang didapat dari hasil penelitian adalah sebagai kontribusi dalam memperkaya ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang tahfîzh Al-Qur‟an, juga sebagai literatur referensi bidang yang sama.

b. Secara praktis manfaat yang didapat dari hasil penelitian adalah sebagai bahan informasi kepada pihak-pihak yang membutuhkan, terutama kepada konteks individu wanita karier yang hafal Al- Qur‟an dan membutuhkan. Dan bagi para wanita karier penghafal Al-Qur‟an, diharapkan hasil penelitian dapat membantu sebagai solusi dari masalah-masalah yang ada dan sebagai pengetahuan terhadap langkah tepat untuk memelihara hafalan Al-Qur‟an-nya.

E. Kajian Pustaka

Pembahasan mengenai hafalan Al-Qur‟an bukan lagi merupakan sesuatu yang baru dan inovatif, namun untuk membahas konsen terhadap pengulangan hafalan Al-Qur‟an masih belum banyak penelitian yang dilakukan, terutama dengan wanita karier sebagai objeknya. Oleh karena takrir merupakan bagian dari tahfîzh Al-Qur‟an maka keduanya akan saling berkesinambungan dan mempunyai kontribusi yang sama dalam kajiannya.

Berikut beberapa literatur dan data pustaka yang ditemukan peneliti, yang

(29)

berhubungan dengan judul skripsi Kiat Takrir Hafalan Al-Qur‟an Wanita Karier:

Pertama, skripsi dengan judul penelitian “Implementasi metode Takrir Dalam Menghafal Al-Quran di Pondok Pesantren Madrasatul Quran Tebuireng” oleh Eli Ernayanti dari Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya pada tahun 2009. Secara garis besar penelitian ini memiliki gagasan dan ide yang sama dengan judul yang dipilih penulis hanya saja terdapat perbedaan pada objek kajian yang diteliti, kemudian pokok bahasannya adalah takrir yang menjadi salah satu metode tahfîzh. Sedangkan dalam penelitian ini, konsentrasi yang diusung adalah term takrir nya sendiri.11

Dari penelitian tersebut ditemukan data yang cukup signifikan, bahwa di Pondok Pesantren Madrasatul Qur'an Tebuireng, 84% hasil dari sampling yang digunakan tergolong baik dalam menakrir. Data ini didapat hasil dari observasi, interview, dokumentasi dan berdasarkan pada standart yang penulis tetapkan. Secara keseluruhan pelaksanaan metode takrir di Tebuireng, meskipun belum sempurna, metode Takrir sudah terbiasa diterapkan di Pondok Pesantren Madrasatul Qur'an Tebuireng. Hal itu terlihat dengan adanya bukti keaktifan setoran hafalan santri setiap hari, adanya mudarosah kelompok setiap ba'da maghrib dan ba'da asar, tanggung jawab santri saat mandapatkan jadwal menjadi imam sholat lima waktu, antusias santri dalam mengikuti perlombaan MHQ, serta diadakannya wisuda Hifz al-Qur'an bagi santri hafal 30 juz.

Kedua, skripsi dengan judul penelitian “Strategi Menghafal Al- Qur‟an Bagi Siswa (Studi Kasus di Rumah Tahfidz Daarul Qur‟an Putra Kepanjen Malang)” oleh Kholidul Iman dari Universitas Islam Negeri (UIN)

11 http://digilib.uinsby.ac.id/id/eprint/8076, diakses pada 29 September 2017

(30)

Maulana Malik Ibrahim Malang, pada tahun 2016.12 Secara garis besar, penelitian yang dilakukan adalah untuk mengetahui bagaimana kegiatan dan strategi yang dilakukan dalam keseharian objek yang diteliti, dalam hal ini berarti para siswa di rumah tahfizh Dârul Qur‟ân. Dari hasil penelitian tersebut dapat diketahui bagaimana gambaran dan pemaparan hasil dari strategi menghafal yang rutin dilakukan, kemudian cara-cara yang diterapkan untuk menjaga hafalan, serta deskripsi tentang faktor yang mendukung para siswa dalam menghafal Al-Qur‟an.

Penelitian ini mempunyai kesamaan teknik pengumpulan data dengan penelitian yang penulis lakukan, yaitu data yang dihasilkan didapat melalui proses pencarian di lapangan. Bedanya, penelitian ini dilakukan melalui observasi sedangkan penulis menggunakan teknik wawancara singkat namun mendalam. Objek yang dikaji pun berbeda, bahwa penelitian ini fokus pada kajian para siswa (yang notabene siswa usia sekolah) menghafal Al-Qur‟an sedangkan yang penulis teliti adalah fokus kepada kajian dalam hal mengulang hafalan Al-Qur‟an yang telah dimiliki oleh hafiz yang merupakan wanita karir.

Ketiga, skripsi dengan judul penelitian “Budaya Menjaga Hafalan Al- Qur‟an Bagi Hâfidz Hâfidzah di Lingkungan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta” oleh Riswandi dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, pada tahun 2013.13 Penelitian ini merupakan penelitian yang paling mendekati konsep yang diusung penulis pada judul Kiat Takrir Hafalan Al-Qur‟an Wanita Karier (Studi Living Qur‟an Terhadap Alumni Institut Ilmu Al-Qur‟an (IIQ) Jakarta. Penelitian tersebut mempunyai fokus kajian kepada hafiz Al-Qur‟an yang juga merupakan civitas akademik di lingkungan kampus UIN Sunan Kalijaga, dengan mengamati fenomena-

12 http://etheses.uin-malang.ac.id/id/eprint/4625, diakses pada 13 September 2018

13 https://digilib.uin-suka.ac.id:80/id/eprint/9030, diakses pada tanggal 13 September 2018

(31)

fenomena yang terjadi di sekitarnya. Zaman semakin modern, dan tak diayal bahwa faktor tersebut dapat menjadi sebuah rintangan bagi para hafiz untuk menjaga hafalannya.

Persamaan yang ditemukan dari penelitian ini adalah bahwa fokus kajian yang dibahas adalah penjagaan hafalan Al-Qur‟an, bukan berbicara tentang pengulangan hafalan Al-Qur‟an sebagai salah satu metode dalam menghafal. Karena kedua kajian tersebut adalah dua hal yang berbeda, sehingga dari penelitian ini penulis dapat mempelajari konsep kajian dari penelitian yang telah dilakukan. Kemudian yang membedakan dengan penelitian yang dilakukan penulis adalah, objek kajian pada penelitian tersebut adalah hafiz yang berada di lingkungan kampus, termasuk para civitas akademik. Sedangkan objek yang dikaji oleh penulis adalah para hafiz yang merupakan wanita karir yang merupakan alumni IIQ Jakarta, sehingga ruang lingkup kajiannya lebih besar dan lebih kompleks. Terlebih lagi bahwa wanita yang berkarier tidak hanya memiliki satu bidang pekerjaan atau satu fokus, melainkan banyak jenis bidangnya dan fokus pekerjaannya. Maka dengan penelitian tersebut, penulis mendapatkan gambaran yang sangat baik dan yang dibutuhkan untuk penelitian yang penulis teliti.

Keempat, skripsi dengan judul penelitian “Hubungan Antara Intensitas Menghafal Al-Qur‟an dan Motivasi Menghafal Dengan Prestasi Menghafal Al-Qur‟an Pada mahasiwa di Rumah Tahfidz Daarul Ilmi Mangunsari, Sidomukti, Salatiga Tahun 2018” oleh Fitri Irmawati dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga, pada tahun 2018.14 Penelitian ini merupakan penelitian dengan tema kajian mengafal Al-Qur‟an, dengan menggunakan metode kuantitatif sehingga ada sebuah perbandingan yang

14 http://e-repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/id/eprint/3619, diakses pada tanggal 13 September 2018

(32)

dicari. Penelitian tersebut memiliki konsep kajian untuk mengetahui hubungan antara faktor X, yaitu intensitas menghafal Al-Qur‟an dan motivasinya, dengan faktor Y, yaitu prestasi menghafal Al-Qur‟an yang dicapai. Sehingga yang ditemukan adalah data hasil riset yang menggambarkan korelasi antar dua faktor yang dikaji. Data akhir menunjukkan bahwa hubungan antara intensitas menghafal Al-Qur‟an dan motivasinya dengan prestasi menghafal Al-Qur‟an yang dicapai mendapat nilai 0,868>0,514, yang menunjukkan bahwa di antara keduanya terdapat korelasi yang sempurna.

Persamaan dengan penelitian yang dilakukan penulis adalah adanya persentase dari data yang ditemukan pada setiap faktor yang diteliti, namun perbedannya adalah bahwa di penelitian ini memakai sarana pertayaan di angket/kuisoner sedangkan penulis melalui sarana pertanyaan pada wawancara. Selainnya, penelitian ini memiliki perbedaan yang cukup siginifikan dengan penelitian penulis karena dari segi jenis penelitian yang digunakan saja sudah berbeda.

Kelima, paper (artikel) penelitian dengan judul “Tradisi Menjaga Hafalan Al-Qur‟an (Studi Atas Para Hafizhah di Kota Salatiga dan Kabupaten Semarang)” oleh Tri Wahyu dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Purwokerto, pada tahun 2016.15 Penelitian ini dilakukan terhadap para hâfizhah yang tergabung dalam jamî‟iyyath al-qurrâ‟ wa al-huffâzh di Kota Salatiga dan Kabupaten Semarang, yang bertujuan bagaimana seharusnya para hâfizh dan hâfizhah menjaga hafalan Al-Qur‟an.

Penelitian tersebut merupakan penelitian yang paling memiliki banyak persamaan objek kajian, selain metode penelitiannya menggunakan metode kualitatif. Persamaan yang ditemukan dalam penelitian ini adalah

15 http://repository.iainpurwokerto.ac.id/id/eprint/51, diakses pada tanggal 13 september 2018

(33)

sama-sama memiliki objek kajian wanita yang hafiz qur‟an, sehingga yang dikaji pada keduanya adalah cara/kiat bagaimana tradisi menjaga hafalan Al- Qur‟an tetap berjalan di samping perannya sebagai seorang ibu dan istri sekaligus warga masyarakat. Sedangkan perbedaannya terletak pada term penelitian dan objek yang diteliti penulis, yakni para wanita karier alumni IIQ Jakarta, yang notabene para alumni nya hafal Al-Qur‟an. Setelah selesai menempuh pendidikan di IIQ Jakarta dan telah bekerja, apakah hafalan Al- Qur‟an yang dimiliki masih tergaja dan senantiasa selalu ditakrir. Sehingga pada penelitian penulis kajian wanita yang diteliti akan lebih kompleks, karena tidak terbatas teritorial lingkungan dan yang diteliti adalah alumni IIQ Jakarta yang notabene kampusnya telah dikenal dengan tahfîzh al-Qur‟ân- nya.

Keenam, tesis dengan judul penelitian “Pengaruh Metode Menghafal Pisah-Sambung dan Pengaturan Takrîr (Pengulangan) nya Terhadap Kelancaran Hafalan Al-Qur‟an (Studi Pada Mahasiswa Institut PTIQ Jakarta)” oleh Muhammad Darwis Hude dari Universitas Indonesia pada tahun 1996.16 Penelitian ini memiliki tema dan pendekatan yang sama dengan penelitian yang dilakukan penulis, yaitu tentang managing pengulangan hafalan Al-Qur‟an dengan pendekatan teori psikologi.

Pada penelitian yang disajikan dalam tesis ini sedikit banyak terdapat temuan-temuan yang dibutuhkan oleh penulis, maka hal tersebut bisa menjadi rujukan untuk penelitian yang akan ditulis. Perbedaan yang ditemukan terletak pada metode pengambilan data yang digunakan. Pada penelitian tesis tersebut pengambilan data dilakukan dengan menerapkan teori yang dikaji secara praktis kepada para responden. Sehingga penelitian

16 M. Darwis Hude, “Pengaruh Metode Menghafal Pisah-Sambung dan Pengaturan Takrir (Pengulangan) Nya Terhadap Kelancaran Hafalan Al-Qur‟an,” Tesis, Program Pascasarjana Universitas Indonesia Program Studi Psikologi, 1996, h. 31. Tidak diterbitkan (t.d)

(34)

ini fokus kepada metode yang sedang diteliti, yang ingin diketahui efektivitasnya. Sedangkan penelitian yang dilakukan penulis berhubungan kepada kegiatan sehari-hari para responden, tanpa dipraktisi oleh metode yang dibuat penulis. Sehingga metode pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara kepada para narasumber. Hasil wawancara akan menjadi sumber primer penelitian tersebut. Maka tesis dengan judul “Pengaruh Metode Menghafal Pisah-Sambung dan Pengaturan Takrîr (Pengulangan) nya Terhadap Kelancaran Hafalan Al-Qur‟an (Studi Pada Mahasiswa Institut PTIQ Jakarta)” ini selaras dengan tema yang dikaji penulis.

Ketujuh, jurnal ilmiah dengan judul “Implementasi Metode Takrar Dalam Pembelajaran Menghafal Al-Qur‟an” oleh Fithriani Gade pada tahun 2014, beliau adalah dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Dalam pemaparannya dijelaskan fungsi metode takrir sebagai salah satu sarana dalam belajar dan mengajarkan menghafal Al-Qur‟an.

Meski ranah dalam jurnal ini condong pada bidang pendidikan, karya ini memiliki kesinambungan dengan penelitian yang akan diteliti oleh penulis.

Yakni pendekatan yang digunakan adalah pendekatan psikologi.

Perbedaannya dalam penelitian ini adalah saat mengantarkan judul besar takrir, penulis terlebih dahulu akan menjabarkan bagaimana kerja otak manusia dalam hal daya ingat berdasarkan teori psikologi, kemudian duhubungkan kepada makna yang terkandung dalam Al-Qur‟an tentang ayat- ayat yang berkenaan dengan menghafal Al-Qur‟an.17

Kedelapan, Buku dengan judul “Membumikan Peradaban Tahfîzh Al- Quran” yang diterbitkan Tim Penulis Balai Litbang Agama Jakarta. Pada buku ini Balai Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Agama Jakarta melakukan penelitian kualitatif observasi terhadap fenomena tahfîzh Al-

17 Fithriana Gade, “Implementasi Metode Takrar Dalam Pembelajaran Menghafal Al-Qur‟an”, dalam Jurnal Ilmiah DIDAKTIKA, Vol. 14 No. 2 Februari 2014, h. 413-425

(35)

Qur‟an yang diselenggarakan di beberapa tempat dan daerah. Hal ini untuk menelusuri fenomena dan memperoleh data yang ada di lapangan sehubungan dengan manajemen penyelenggaraan pendidikan tahfîzh yang meliputi aspek tempat, pelaku, dan ativitas yang berinteraksi secara sinergis.18

Buku tersebut berkesinambungan dengan penelitian ini dalam hal observasi tentang manajemen tahfîzh Al-Qur‟an. Perbedaannya terletak pada objek kajian, yaitu Balai Litbang mengarah kepada penyelenggara pendidikan tahfîzh Al-Qur‟an sedangkan peneliti mengobjek kepada manajemen waktu wanita karier yang sudah hafal Al-Qur‟an atau wanita karier yang hâfizh Al-Qur‟an.

Kesembilan, buku dengan judul “Tahfîzh Al-Quran Metode Lauhun.

Panduan Menghafal Al-Quran di Pesantren dan Pendidikan Formal (Tsanawiyah, Aliyah, dan Perguruan Tinggi)” karya Dr. KH. A. Muhaimin Zen, MA, yang diterbitkan Transpustaka. Buku ini berupakan buku yang membahas lengkap seputar tahfîzh Al-Qur‟an, metode tahfîzh Al-Qur‟an, dan hal hal seputar tahfîzh Al-Qur‟an lainnya. Garis besar yang terdapat dalam buku ini adalah, menghafal Al-Qur‟an termasuk dalam rangka menjaga dan memelihara Al-Qur‟an. Atas izin Allah para huffâdz Al-Qur‟an ialah salah satu orang yang termasuk orang-orang pilihan pemelihara Al-Qur‟an. Al- Qur‟an terjaga orisinalitasnya dari zaman awal turunnya wahyu sampai dengan sekarang ini dikarenakan penjagaan oleh Allah Swt secara langsung, sebagaimana Allah berfirman dalam surat Al-Hijr ayat 9. Maka dari itu metode pembinaan tahfîzh Al-Qur‟an perlu dicanangkan dan diaplikasikan pada semua jenjang pendidikan, agar tercipta individu qurani yang cinta dan paham dalam memaknai Al-Qur‟an. Buku ini memiliki kesinambungan

18 Tim Penulis Balai Litbang Agama Jakarta, Membumikan Peradaban Tahfidz Al- Quran, (Jakarta: Penerbit Balai Litbang Agama Jakarta, 2015), cet. ke-1

(36)

dengan penelitian yang akan dilakukan, yakni pada ide pokok dari term pemeliharaan dan menghafal al-Quran.19

Kesepuluh, buku dengan judul “Aku dan IIQ: Peran dan Kiprah Wanita IIQ. Antara Ide dan Fakta Kelangkaan Ulama Wanita” yang diterbitkan Tim Penulis Dosen-Dosen IIQ Jakarta bekerjasama dengan Bank BNI Syariah. Buku ini memaparkan tentang ide dan gagasan fenomena tentang wanita yang berkiprah dalam dunia pendidikan, khususnya di Institut Ilmu Al-Qur‟an (IIQ) Jakarta. IIQ Jakarta sendiri adalah instansi pendidikan perguruan tinggi yang mana tujuannya adalah mencetak ulama yang sarjana.

Dalam bukunya terdapat pernyataan bahwa ide pertam IIQ didirikan adalah untuk mencetak ulama wanita yang hafal Al-Qur‟an. Dalam buku tersebut terdapat jurnal-jurnal yang ditulis dengan tema perempuan, seperti perempuan dalam pandangan Islam, wawasan Al-Qur‟an tentang perempuan, dan pemaparan tentang bagaimana perempuan mempunyai hak dan kewajiban, termasuk hak dan kewajiban ikut serta bekerja dan mengenyam bidang-bidang tertentu. Dengan tetap berpegang teguh pada ajaran agama Islam dan norma-norma Islam.20

Buku tersebut berkesinambungan dengan penelitian karena kontennya menggambarkan bagaimana ulama wanita yang cendikia bisa menempatkan diri dalam masyarakat, dan gagasannya tentang wanita karier.

Ini akan sangat membantu penulis dalam menemukan gagasan-gagasan dan ide pokok bahasan wanita karier. Hanya perbedaannya terletak pada beberapa aspek. Tulisan dan jurnal dalam buku ini menitikberatkan pada hal yang masih global yakni wanita yang berpendidikan dan hafal Al-Qur‟an.

Sedangkan dalam penelitian yang akan dilakukan nanti arahnya sudah

19 A. Muhaimin Zen, Metode Lauhun Panduan Pengajaran Menghafal Al-Quran di Pondok Pesantren dan Pendidikan Formal, hal. 107

20 Tim Penulis Dosen IIQ Jakarta, Aku dan IIQ: Peran dan Kiprah Wanita IIQ.

Antara Ide dan Fakta Kelangkaan Ulama Wanita, (jakarta: IIQ Press, 2002), cet. ke-1

(37)

berkembang, menjadi bagaimana kiat agar hafalan Al-Qur‟an dari wanita berpendidikan yang berkarier selalu terjaga.

F. Metodologi Penelitian 1. Jenis Penelitian

Penyusunan penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif studi living qur‟an. Redaksi yang disusun nantinya merupakan hasil data kepustakaan dan penelitian lapangan.

Living Qur‟an adalah berbagai bentuk dan model praktik resepsi dan respon masyarakat dalam memperlakukan dan berinteraksi dengan Al-Qur‟an, sehingga dapat dikatakan Al-Qur‟an hidup di tengah kehidupan masyarakat. Dalam konteks riset living Qur‟an, model-model resepsi dengan segala kompleksitasnya menjadi menarik untuk dilakukan, untuk melihat bagaimana proses budaya, perilaku, atau perangai yang diinspirasi atau dimotivasi oleh kehadiran Al-Qur‟an itu terjadi.21 Sehingga penelitian kualitatif mencoba mengerti makna suatu kejadian atau peristiwa dengan berinteraksi dengan orang-orang yang ada dalam situasi atau fenomena tersebut.22

Selaras dengan pengertian tersebut, penelitian yang akan dilakukan nanti mencakup bagaimana takrir hafalan Al-Qur‟an bisa menjadi budaya dalam kehidupan sehari-hari. Kemudian sebagai objek dari fenomena tersebut, wanita karier akan menjadi term utama yang akan diteliti agar mengetahui kiat mereka untuk mengatasi kepadatan waktu bekerja tetapi takrir hafalan Al-Qur‟an tetap terjaga. Hal tersebut yang menjadi hasil dalam penelitian Kiat Takrir Hafalan Al-Qur‟an Wanita Karier.

21 Abdul Mustaqim, Metode Penelitian Al-Qur‟an dan Tafsir, (Yogyakarta: Idea Press Yogyakarta, 2017), cet. ke-3, h. 104

22 Muri Yusuf, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan Penelitian Gabungan, (Jakarta: PT Fajar Interpratama Mandiri, 2017), cet. ke-4, h. 328

(38)

Maka untuk mendukung penelitian ini agar teorinya dapat tersaji dan terkonsep dengan baik, peneliti akan menggunakan pendekatan psikologi dasar tentang daya ingat. Untuk kemudian nanti dielaborasi dengan teori takrir hafalan Al-Qur‟an.

2. Sumber Data

Sebagaimana yang diketahui sumber data mencakup primer dan sekunder. Sumber data primer atau utama dari penelitian ini adalah data hasil penelitian lapangan terhadap sejumlah responden yang telah disesuaikan berdasarkan klasifikasi yang telah dipetakan. Sedangkan data sekundernya adalah literatur-literatur pendukung berbentuk dokumen dan pustaka, sebagai penunjang teori-teori yang terdapat dalam penelitian.

3. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan oleh peneliti berdasarkan objek kajian sebagaimana judul adalah:

a. Wawancara

Wawancara merupakan salah satu teknik yang dapat digunakan dalam mengumpulkan data penelitian. Wawancara adalah suatu kejadian dan proses interaksi antara pewawancara dan sumber informasi melalui komunikasi langsung. Pada wawancara ini peneliti akan menyiapkan beberapa pertanyaan seputar kajian yang diteliti namun bukan yang bersifat tetap, melainkan statis.

Pertanyaan yang disiapkan hanya secara garis besar pada tiap- tiap poinnya yang fungsinya sebagai guide dalam wawancara.

Kemudian pertanyaan-pertanyaan selanjutnya yang lebih krusial akan terpaparkan mengikuti kadar informasi yang diberikan oleh

(39)

narasumber. Jenis wawancara tersebut adalah wawancara terencana-tidak terstruktur.23

b. Dokumentasi

Dokumentasi dalam penelitian merupakan sarana pendukung data berupa buku pustaka, catatan, portofolio, foto, rekaman, laporan, dsb. Peneliti akan mengambil catatan dan rekaman berupa suara yang nantinya akan diubah menjadi narasi yang berisi apa yang dipaparkan dalam dokumentasi tersebut.

Gunanya adalah bahwa dokumentasi sifatnya tak terbatas, sehingga kita dapat melihat hasil dokumentasi sesering mungkin, tidak perlu mendatangi narasumber lagi tiap kali melakukan tinjauan ulang pada poin penting dari data yang diambil.

4. Metode Analisis Data

Metode analisis data yang digunakan adalah metode analisis kualitatif yaitu proses me-review dan memeriksa data, menyintesis, dan menginterpretasikan data yang terkumpul sehingga dapat menggambarkan dan menerangkan fenomena atau situasi yang diteliti, yang mana tidak terlepas dari kerangka pengumpulan data, reduksi data, penyajian, dam kesimpulan.24

Langkah penyajian data yang dilakukan adalah mengumpulkan semua data yang ada, baik sumbernya primer maupun sekunder.

Kemudian dari macam-macam data yang didapat peneliti memilah (menyintesis) data yang ada untuk dikategorisasi berdasarkan jenis datanya. Selanjutnya data yang telah diklasifikasi tersebut digabung dan disesuaikan sebagaimana pola yang sudah disusun pada outline

23 Muri Yusuf, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan Penelitian Gabungan, h. 377

24 Muri Yusuf, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan Penelitian Gabungan,, h. 400

(40)

penelitian. Maka satu persatu masalah dan solusi akan tergambar, dan penelitian akan membuahkan hasil yang signifikan.

Maka dalam penelitian ini, upaya pengumpulan data diawali dengan dikumpulkannya seluruh data tentang teori tahfîzh dan takrir hafalan Al- Qur‟an, serta sedikit membahasa IIQ Jakarta dan teori wanita karier sebagai objek bahasan pada penelitian ini. Kemudian dijelaskan juga teori sebagaimana yang telah dibatasi dalam batasan masalah yaitu wanita karier alumni IIQ Jakarta lulusan jenjang Strata Satu/S1 (dengan pengecualian alumni angkatan pertama dan kedua). Kemudian melakukan wawancara dan pengambilan dokumentasi dengan wanita karier sebagai narasumber terdata, yang merupakan sumber primer untuk melengkapi data penelitian yang ada. Setelah terkumpul, data diimpres menjadi olahan yang sedemikian rupa. Sehingga hasil penelitian yang didapat bisa terbaca dengan baik dan individu yang membacanya paham terhadap penelitian yang peneliti lakukan.

G. Teknik dan Sistematika Penulisan

Adapun teknik dan sistematika penulisan penelitian ini nantinya akan terbagi menjadi lima Bab, yaitu:

Bab I: Pendahuluan. Bab ini merupakan pembahasan tentang latar belakang dan gambaran umum tentang tema dan hal yang diteliti oleh peneliti. Gambaran umumnya mencakup latar belakang penelitian, bahasan masalah yang akan diteliti, kemudian tata cara penelitian, dan identitas penelitian yang mencakup, jenis, sumber, teknik, dan sistematika, atau lebih dikenal dengan metodologi penelitian.

Bab II: Tahfîzh dan Takrir. Bab ini membahas tentang kata kunci pertama penelitian dari judul Kiat Takrir Hafalan al-Quran Wanita Karier (Studi Living Qur‟an Alumni Institut Ilmu al-Quran (IIQ) Jakarta. Maka takrir adalah term petama yang diteliti dan ditelaah data nya. Oleh karena

(41)

mengulang hafalan merupakan bagian dari menghafal Al-Qur‟an, maka tema yang akan dibahas dalam bab ini meliputi Tahfîzh dan takrir. Berupa teori dari pengetian tahfîzh dan takrir, kemudian dilanjut dengan keterangan dalil yang mengandung makna tahfîzh dan takrir, selanjutnya menerangkan teori psikologi kognitif tentang daya ingat sebagai materi pendukung guna menerangkan kaitan antara manusia dan fungsi otak untuk belajar dan menghafal, dan yang terakhir macam-macam metode takrir.

Bab III: Alumni Institut Ilmu Al-Qur‟an (IIQ) Jakarta dan Wanita Karier. Bab ini membahas tentang kata kunci kedua dalam penelitian, yaitu wanita karier. Sebelum masuk kepada topik wanita karier, akan terlebih dahulu dipaparkan sedikit bahasan mengenai Institut Ilmu Al-Quran (IIQ) Jakarta, karena batasan masalah wanita karier berkaitan dengan wanita karier alumni IIQ Jakarta. Pada term ini yang akan dibahas adalah teori-teori tentang wanita yang bekerja, tentunya menurut persperktif agama Islam karena penelitian ini masuk kepada penelitian ilmu Al-Qur‟an dan tafsir.

Maka dalam bab ini akan disajikan perbedaan-perbedaan pandangan ulama tentang wanita karier, dan fenomena perihal wanita karier penghafal Al- Qur‟an.

Bab VI: Temuan Lapangan. Bab ini disebut juga hasil penelitian, yakni saat semua teori sudah disusun rapi berdasarkan analisa data yang ada.

Pengumpulan data dilakukan melalui teknik sampling dengan metode wawancara dan dokumentasi. Setelah data terkumpul, data diolah menjadi bentuk narasi dan disajikan sedemikian rupa sehingga menghasilkan temuan baru atau teori baru. Sebagai catatan, temuan lapangan harus sejalan dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian.

Bab V: Penutup. Yaitu berisi kesimpulan penelitian, saran-saran, dan ucapan penutup.

(42)

23

A. Pengertian Tahfîzh dan Takrir Hafalan Al-Qur’an 1. Tahfîzh

Apabila berbicara tentang Tahfîzh al-Qur‟ân maka akan berkaitan erat dengan istilah Hâfizh Al-Qurân. Hâfizh Al-Qurân secara harfiah berarti “penghafal” atau “penjaga” Al-Qur‟an, asal katanya

َ - ََظِفَح

َُظَفَْيَ

-

َ

اًظْف َِح

artinya menjaga, yang dinukil dari kosakata bahasa arab.

Kemudian asal kata tersebut ditarik ke dalam bentuk isim fâ‟il tiga huruf menjadi

ٌَظِفا ََح

yang memiliki makna “menjagakan sesuatu” atau

“penjaga sesuatu”. Sedangkan kata

ٌَظْفِح

mempunyai arti “menjaga sesuatu”, sebagaimana al-Azhari (370 H/981 M) menulis dalam kitabnya Tahdzîb al-Lughah beliau mengutip pendapat al-Laits, seorang pakar bahasa, sebagai berikut1

َْف َِح

َُثْيَّللاََلاَقَ: ٌَظ

َِّنلاَُضيِقَنَ:ُظْفِلحاَ:

َِناَيْس

َُدُىاعَّتلاََوُىَوَ،

َُةَّلِقو َ

ََغلا

ََلْف .ِة

َ

َِفَلحاو

َْي

َْلاَ:ُظ

ََوُم

َِبَُلَّك

َََِِّّْْل

َُوُظَفَْيَ َ

َُلاَقُ يَ،

ََلُفَ:

َْيِفَحٌَن

ََعَاَنُظ

َْمُكْي ََل

َََو

ََح

ََنُظِفا

2

“Kata “hifzh” berarti kebalikan dari lupa, yakni senantiasa mengingat dan lupanya sedikit. Sedang “al-hafîzh” berarti “yang diserahi sesuatu untuk menjaganya.”3

Maka sebutan hâfizh Al-Qur‟ân (sama jenis bentuk perubahan dengan kata dalam redaksi

َْيٌَظ ََحَِف

) memiliki makna penghafal Al-

1 A. Muhaimin Zen, Metode Lauhun Panduan Pengajaran Menghafal Al-Quran di Pondok Pesantren dan Pendidikan Formal (Tsanawiyah, Aliyah, dan Perguruan Tinggi), (Jakarta: Trsanshop Printing, 2013), cet. ke-1, h. 3

2Abu Manshur Muhammad bin Ahmad bin Al-Azhary bin Al-Harawy, Tahdzib al-Lughah, Jilid 4, (Beirut: Dar Ihya‟ at-Turats al-„Araby, 2001), cet. ke-1, h. 264

3A. Muhaimin Zen, Metode Lauhun Panduan Pengajaran Menghafal Al-Quran di Pondok Pesantren dan Pendidikan Formal, h. 3

(43)

Qur‟an dengan konotasi “Penjaga Al-Qur‟an”, yakni seseorang yang menyimpan dan menjaga bacaan Al-Qur‟an dalam memori sehingga tidak lepas dan menghilang darinya.4 Sedangkan arti dari hafiz menurut Bahasa Indonesia adalah penghafal Al-Qur‟an.5 Melihat dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa hifzh Al-Qur‟an ialah usaha seseorang untuk menjaga, menekuni, dan menghafalkan Al-Qur‟an agar tidak hilang dari ingatan dengan cara selalu membacanya terus menerus dan mengusahakan penjagaan bacaan Al-Qur‟an nya setiap waktu. Dengan ini kata “al-hifzh” itu mengandung tiga unsur utama, yaitu:6

Pertama, kemampuan untuk menentukan secara tepat bentuk tulisan sesuatu di mana orang dapat menghadirkannya (membacanya) tanpa melihat mushaf Al-Qur‟an. Yakni dapat membaca kembali dan mengingat bacaan Al-Qur‟an secara keseluruhan, baik kaidah tajwidnya, lafadznya, bagian juz dan surahnya, permulaan dan akhiran ayat, bahkan dengan baik dapat melafalkan bacaan hafalan Al-Qur‟an sesuai dengan waqf dan ibtida yang telah ditentukan. Sesuai dengan apa yang tertulis pada mushaf Al-Qur‟an. Kedua, menekuni dan mengikatnya (hafal). Yakni bersungguh-sungguh dalam mempelajari Al-Qur‟an dengan mengenal ilmu-ilmu Al-Qur‟an seperti tafsir, hadis, târîkh al-Islam, dsb. Ketiga, tidak lupa. Yakni mengulang kembali bacaan Al-Qur‟an yang telah dihafal secara berkala agar dapat selalu diingat.

4 A. Muhaimin Zen, Metode Lauhun Panduan Pengajaran Menghafal Al-Quran di Pondok Pesantren dan Pendidikan Formal, h. 4

5 https://kbbi.web.id/hafiz, diakses pada 31 Juli 2018

6 A. Muhaimin Zen, Metode Lauhun Panduan Pengajaran Menghafal Al-Quran di Pondok Pesantren dan Pendidikan Formal, h. 5

Referensi

Dokumen terkait

Hasil Implementasi Metode Sima‟i dan Takrir dalam meningkatkan Hafalan Al-qur ‟an ... Analisis data

Peran Orang Tua dan Sekolah dalam Meningkatkan Hafalan al-Qur’an dan Adab di SMPIT Ar-Rahmah Pacitan.. Program Studi Pendidikan Agama Islam Program

Berdasarkan analisis data penelitian, dapat ditarik kesimpulan bahwa kontribusi pengasuh dalam meningkatkan hafalan al-Qur‟an santri di Pondok Pesantren Al-Ihsan

Penelitian yang akan penulis lakukan bertujuan untuk mengetahui mengapa terjadi penurunan hafalan Al-Qur‟an pada alumni Pondok Pesantren Al- hikmah Karanggede, bagaimana

Sedangkan perbedaannya adalah pada skripsi ini penulis akan membahas penerapan ilmu tajwid dalam langgam jawa yang dibacakan oleh dosen UIN Sunan Kalijaga

Ada pun al-Qurthubîy dan Wahbah az-Zuhailîy, penafsiran keduanya dalam memaknai perilaku penista boleh dikatakan hampir sama yaitu menyumpahi Al-Qur`an karena ragu terhadap kebenaran

Dari hasil penelitian tersebut, diperoleh bahwasannya usia ideal dalam menghafal Al-Qur`an di Pondok Pesantren Bidayatul Hidayah Unit Asrama Darul Qur`an adalah Anak Usia 16-21 Tahun

Berdasarkan data yang telah dihitung dan dijelaskan pada bab IV, bisa disimpulkan bahwa Usia ideal dalam menghafal Al-Qur`an di Pondok Pesantren Bidayatul Hidayah Unit Asrama Darul