KOMPOSISI ZOOPLANKTON YANG TERDAPAT PADA KOLONG PENAMBANGAN DI NAGARI PAMUATAN KECAMATAN
KUPITAN KABUPATEN SIJUNJUNG
JURNAL
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (Strata 1)
MAYA DIAN PUTRI NIM. 10010142
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) PGRI SUMATERA BARAT
PADANG
2016
KOMPOSISI ZOOPLANKTON YANG TERDAPAT PADA KOLONG PENAMBANGAN DI NAGARI PAMUATAN
KECAMATAN KUPITAN KABUPATEN SIJUNJUNG
Oleh:Maya Dian Putri, Abizar, Febri Yanti
Program Studi Pendidikan Biologi STKIP PGRI Sumatera Barat [email protected]
ABSTRACT
Territorial water (stagnating) including ponds, lakes, reservoirs, swamps and so on. The existing organisms that found in waters based way of life include: plankton. Plankton is a vibrant organism hovering or floating in the waters for example zooplankton. Zooplankton is microorganisms that water plays an important role in water that is as primary consumers and as an intermediary in the flow of matter and energy in the water. The purpose of this research to determine the composition of zooplankton found in the mining pit in Nagari Pamuatan Kecamatan Kupitan Kabupaten Sijunjung. This research was conducted in December 2015 until January 2016. Location was choosen by using purposive sampling with using a descriptive survey method.
Samples were taken at three stations based on the age under which has been abandoned. The number of stations set at three research stations. Each station made three sampling points as replication. The age of first station is about 11 months, the second station is about 21 months and the third station is about 53 months.The finding of this research showed five class, 7 ordo, 9 familia and 14 genus zooplankton. The highest density found in third stations namely: 177.91ind/L with 13 genus, then the first station density is: 152.08ind/L by with 11 genus whereas low density contained in second station, namely: 128, 48ind/L with 11 genus. The highest frequency of genus Ceratium is 1,00 and the lowest frequency of genus Lecane is 0,33. The highest of density found at first station of genus Ceratium is 123,25ind/L and at third station of genus Coleps is 0,08ind/L.
Zooplankton genus similarity index is highest between the first stations and second station, namely 100,00 %, then, between the second station and the third station is 83.33%, this situation was similar with the first station and the third station . Diversity index ranged between 0,0804 - 2,4306.
Key Words : Zooplankton, kolong, Pamuatan.
PENDAHULUAN
Perairan lentik (tergenang) meliputi kolam, danau, waduk, rawadan sebagainya.
Perairan tergenang ini adalah salah satu perairan yang menjadi habitat oleh organisme. Di dalam air terdapat bermacam- macam organisme yang hidup di dalamnya dari yang berukuran kecil sampai berukuran besar. Organisme yang ada di perairan tergenang berdasarkan cara hidupnya meliputi : bentos, plankton, perifiton, nekton dan neuston (Effendi, 2003).
Kolam bekas penambangan dikenal dengan kolong, kolong adalah perairan atau badan air yang terbentuk dari lahan bekas
penambangan. Lahan bekas penambangan di daratan berbentuk lubang atau cekungan- cekungan di permukaan tanah yang kemudian diisi oleh genangan air seperti air hujan, sungai dan laut. Dengan adanya air hujan akan terbentuk ekosistem baru yang menyerupai kolong (Puspita, 2005).
Kolong yang di genangi oleh air tersebut terdapat jenis- jenis organisme hidup seperti plankton. Plankton adalah organisme yang hidup melayang atau mengambang di dalam perairan. Plankton di bagi menjadi dua yaitu fitoplankton dan zooplankton (Nybakken, 1988).
Zooplankton merupakan mikroorganisme air yang berperan penting dalam perairan yaitu sebagai konsumen primer dan sebagai perantara dalam aliran materi dan energi di perairan (Odum, 1998).
Keadaan zooplankton ini dipengaruhi oleh keadaan lingkungan seperti keadaan pH, suhu air, oksigen terlarut (DO). Semakin tinggi partikel bahan terlarut dalam perairan sehingga dapat meningkatkan kekeruhan air dan menyebabkan makanan berkurang, otomatis zooplankton berkurang. Selain itu intensitas cahaya, secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap zooplankton.
Zooplankton banyak ditemukan di permukaan air apabila intensitas cahaya rendah pada malam hari, sedangkan pada siang hari zooplankton akan bergerak ke dasar perairan apabila intensitas cahaya tinggi (Fachrul, 2007).
Sifat fisika kimia dan biologis suatu perairan sangat menentukan kelimpahan dan komposisi zooplankton perairan. Kesuburan suatu perairan dapat dilihat dari jenis fitoplankton dan kepadatan zooplankton ini jumlah individu yang banyak sehingga perairan tersebut bisa dijadikan sebagai perikanan.
Komposisi zooplankton ini menandakan kesuburan dan kestabilan suatu perairan. Perubahan kondisi lingkungan yang terjadi pada suatu perairan akan mempengaruhi keadaan zooplankton baik secara langsung maupun tidak langsung.
Perubahan kondisi suatu lingkungan dapat terjadi secara alami maupun oleh kegiatan manusia. Kegiatan manusia yang mempengaruhui keberadaan zooplankton seperti penambangan emas (Anata, dkk 2013).
Berdasarkan hasil survey pada penambangan emas di Nagari Pamuatan Kecamatan Kupitan Kabupaten Sijunjung pada tanggal 7 Juni 2015 didapatkan data sebagai berikut: penambangan emas di Nagari Pamuatan Kecamatan Kupitan ini menggunakan alat berat. Pada lokasi penambangan emas terdapat lubang-lubang besar bekas galian penambangan emas yang di genangi oleh air, sehingga adanya areal baru dan bisa dijadikan tempat hidup berbagai organisme di dalamnya.
Zooplankton sangat penting peranannya dalam perairan yaitu sebagai sumber makanan ikan. Oleh karena itu, zooplankton memerlukan habitat yang cocok untuk kelangsungan hidupnya. Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis telah melakukan penelitian tentang “Komposisi Zooplankton Yang Terdapat Pada Kolong Penambangan Di Nagari Pamuatan Kecamatan Kupitan Kabupaten Sijunjung”.
BAHAN DAN METODE
Penelitian tentang komposisi zooplankton yang terdapat pada kolong penambangan di Nagari Pamuatan Kecamatan Kupitan Kabupaten Sijunjung ini telah dilaksanakan pada bulan Desember 2015. Sampel zooplankton diidentifikasi di Laboratorium Botani STKIP PGRI Sumatera Barat Padang.
Alat yang digunakan yaitu net plankton nomor 25, botol sampel, thermometer alkohol, pH meter, selotip, mikroskop, ember plastik (10L), drigen (1 L), kaca objek, kaca penutup, pipet tetes, kertas label, kertas saring, kamera digital dan alat-alat tulis. Bahan yang digunakan adalah zooplankton, formalin 40%, larutan KOH/KI, aquades, MnSO4danH2SO4.
Penelitian ini dilakukan dengan metode survey deskriptif(pengamatan langsung ke lapangan). Pengambilan sampel langsung dilakukan di Lapangan dengan menetapkan tiga stasiun penelitian, Stasiun I pada kolong penambangan yang umurnya ± 11 bulan, stasiun II pada kolong penambangan yang umurnya ± 21 bulan, stasiun III pada kolong penambangan yang umurnya ± 53 bulan. Pada masing- masing stasiun dibuat 3 titik pengambilan sampel sebagai ulangan. Penetapan stasiun secara purposive sampling berdasarkan kondisi di lokasi.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dari penelitian yang telah dilakukan tentang komposisi zooplankton yang terdapat pada kolong penambangan di Nagari Pamuatan Kecamatan Kupitan Kabupaten Sijunjung ditemukan hasil sebagai berikut:
Tabel 1 .Klasifikasi zooplankton yang ditemukan pada kolong penambangan di Nagari Pamuatan Kecamatan Kupitan Kabupaten Sijunjung.
Class Ordo Familia Genus
1. Sarcodina Rhizopoda Arcellidae 1. Arcella 2. Phytomastigophora Diniferida Peridinidae 2. Ceratium
Euglenida Euglenidae Peridinidae
3. Phacus 4. Peridinium
3. Ciliata Holotrichia Paramicidae 5. Coleps
4. Monogonata Ploima Trichocercadae 6. Trichocerca Branchionidae 7. Brachionus
8. Euchlanis 9. Keratella 10. Lecane 11. Filina 5. Crustacea Phyllopoda Daphanidae 12. Ceriodaphnia
Copepoda Cyclopidae 13. Cyclops
14. Nauplius Dari Tabel 1 dapat dilihat bahwa
zooplankton yang ditemukan di Nagari Pamuatan Kecamatan Kupitan Kabupaten Sijunjung terdiri dari 14 genus, semua genus tersebut termasuk kedalam 5 class yaitu:
Sarcodina, Phytomastigophora, Cilita, Monogonanta dan Crustacea. Dari kelima class tersebut genus yang paling banyak ditemukan dari class Monogonanta yaitu sebanyak 6 genus (Brachionus, Trichocerca, Euchlanis, Keratella dan Lecane). Dari class Phytomastigophora terdapat 3 genus (Ceratium, Phacus dan Peridinium) dan dari class Crustacea terdapat 3 genus (Ceriodaphnia, Cyclops dan Nauplius) sedangkan genus yang paling sedikit ditemukan pada class Sarcodina yaitu Arcella dan class Ciliata yaitu genus Coleps.
Dari ketiga stasiun penelitian didapatkan jumlah total individu zooplankton yang beranekaragam. Pada stasiun I ditemukan 608,32 individu dengan 11 genus, pada stasiun II ditemukan 513,68 individu dengan 12 genus dan pada stasiun III ditemukan 709,66 individu dengan 12 genus. Jumlah genus yang paling banyak ditemukan adalah pada class Phytomastigophora yaitu pada genus Ceratium. Pada stasiun I ada 49,00 individu, stasiun II 37,00 individu dan stasiun III 0,00 individu. Jumlah genus yang sedikit ditemukan adalah pada class Ciliata (Coleps) yaitu stasiun I dan II adalah 0,00 individu dan pada stasiun III adalah 0,33 individu.
Banyaknya genus Ceratium pada stasiun I karena letak kolong didekat sungai dan kemungkinan pada saat hujan air sungai
semakin bertambah sehingga air sungai meluap dan masuk ke dalam kolong tersebut. Kemudian genus ini memiliki jumlah yang terbesar dan penyebaran yang luas di area penelitian. Hal ini tentunya didukung oleh tempat hidup yang baik serta sesuai dengan kebutuhan genus dimana faktor fisika dan kimia perairan sangat mempengaruhi dan mendukung keberadaannya serta makanan yang cukup untuk memenuhi kebutuhannya berupa fitoplankton sehingga keberadaannya lebih besar.
Kepadatan zooplankton yang terdapat di Nagari Pamuatan Kecamatan Kupitan Kabupaten Sijunjung adalah 152,82ind/L. Berdasarkan hasil penelitain kepadatan zooplankton ini termasuk rendah dan kolong penambangan ini termasuk tidak subur. Menurut Michael (1994) bahwa perairan dikatakan kurang subur jika jumlah individunya kurang dari 50.000ind/L.
Jumlah kepadatan antara stasiun berbeda-beda yaitu berkisar antara 128,48- 177,91ind/L. Jumlah kepadatan individu tertinggi terdapat pada stasiun I yaitu pada genus Ceratium sebanyak 123,25ind/L.
Tingginya jumlah Ceratium pada stasiun I ini karena kolong berdekatan dengan sungai, sehingga pada saat hujan maka air sungai Batang Ombilin di Singkarak akan meluap dan masuk kedalam kolong, dari Danau Singkarak Ceratium banyak ditemukan.
Sedangkan jumlah kepadatan terendah terdapat pada genus Coleps yaitu sebanyak 0,08ind/L. Menurut Djuhanda (1980) bahwa genus Coleps ini mempunyai rambut getar /
cilia, yang merupakan ciri utama Class Ciliata. Gerakan rambut getar ini menyebabkan hewan ini dapat berenang cepat dalam air sehingga pada saat penelitian jumlah individu ini sedikit ditemukan.
Kepadatan relatif pada setiap stasiun berbeda-beda. Kepadatan relatif tertinggi ditemukan pada stasiun I yaitu pada genus Ceratium sebanyak 81,04% sedangkan kepadatan terendah ditemukan pada stasiun III yaitu pada genus Colep sebanyak 0.04%.
Frekuensi total zooplankton yang ditemukan di Nagari Pamuatan Kecamatan Kupitan Kabupaten Sijunjung adalah 9,89.
Frekuensi tertinggi terdapat pada stasiun III yaitu 11,67. Frekuensi tertinggi yang ditemukan pada setiap stasiun yaitu genus Branchionus, Keratella, Cyclops, dan Nauplius yaitu frekuensinya 1,00. Hal ini merupakan bahwa genus tersebut tersebar merata pada setiap stasiun penelitian.
Menurut Pennak (1978) bahwa genus yang mempunyai frekuensi tinggi berarti genus tersebut umum ditemukan dalam perairan.
Sedangkan frekuensi relatif tertinggi pada setiap stasiun yaitu genus Ceratium,
Branchionus, Keratella, Ceriodaphnia, Cyclops dan Nauplius sebanyak 12,00%.
Tingginya frekuensi relatif ini didukung oleh faktor lingkungan pada stasiun tersebut.
Indeks diversitas (H’) yang didapatkan pada ke-3 stasiun berbeda.
Indeks diversitas tertinggi pada stasiun III yaitu 2,4306 dan stasiun II yaitu 1,5604 sedangkan indeks diversitas terendah pada stasiun I yaitu 0,8042. Menurut Fitriani (2006) bahwa indeks keragaman Shannon- Wiener menyatakan bahwa tingkat keragaman air H’ < 1,0 menyatakan Keanekaragaman rendah, 1,0 < H’ < 3,322 Keanekaragaman sedang dan H’ > 3,322 Keanekaragaman tinggi. Dilihat dari hasil pengamatan yang telah dilakukan indeks keanekaragaman kolong penambangan di Nagari Pamuatan Kecamatan Kupitan Kabupaten Sijunjung keanekaragaman sedang karena indeks keanekaragamannya 1,0 < H’ < 3,322 yaitu berkisar antara 0,8042 - 2,4306.
Hasil pengukuran parameter fisika kimia dari masing-masing stasiun dapat dilihat pada Tabel 4 dibawah ini:
Tabel 2. Faktor Fisika Kimia Air Nagari Pamuatan Kecamatan Kupitan Kabupaten Sijunjung
No Parameter Stasiun I Stasiun II Stasiun III
1. Suhu (oC) 300
C
290C
300C
2. pH (mg/L) 6,2 6,2 6,1
3. DO (mg/L) 8,46 7,36 7,73
Dari Tabel 2 Faktor fisika kimia air di Nagari Pamuatan Kecamatan Kupitan Kabupaten Sijunjung diperoleh hasil suhu berkisar 29 - 300C. Hasil pH berkisaran 6,1 - 6,2, pH merupakan salah satu bagian dari faktor yang sangat berpengaruh terhadap banyak tidaknya kelimpahan zooplankton disuatu perairan. Menurut Welch (1989) menyatakan bahwa pH optimum untuk kehidupan zooplankton berkisaran antara 5,5 - 8,5 hal ini menunjukkan bahwa derajat keasaaman yang terdapat di Nagari Pamuatan Kecamatan Kupitan Kabupaten Sijunjung normal. Hasil Desolved Oxygen (DO) yang didapatkan yaitu: 7,36 mg/l - 8,46 mg/l.
Berdasarkan hasil dari penelitian Zooplankton yang terdapat pada Kolong Penambangan di Nagari Pamuatan Kecamatan Kupitan Kabupaten Sijunjung didapatkan zooplankton sebanyak 14 genus.
Genus yang paling banyak ditemukan adalah
dari class Monogonanta yaitu 6 genus (Brachionus, Trichocerca, Euchlanis, Keratella, Filina dan Lecane). Kemudian class Phytomastigophora ditemukan 3 genus (Ceratium, Phacus dan Peridinium), class Crustacea ditemukan 3 genus (Ceriodaphnia, Cyclops dan Nauplius) sedangkan genus yang paling sedikit ditemukan pada class Sarcodina yaitu Arcella dan class Ciliata yaitu genus Coleps.
Indeks similaritas yang ditemukan pada kolong penambangan di Nagari Pamuatan Kecamatan Kupitan Kabupaten Sijunjung pada masing-masing stasiun berbeda-beda. Indeks similaritas ketiga stasiun berkisaran dari 83,33 – 100,00 %.
Indeks kesamaan genus zooplankton yang tertinggi yaitu antara stasiun I dan II 100,00
% dan indeks kesamaan yang terendah yaitu antara stasiun I dan III 83,33%.
Berdasarkan hasil tersebut dapat dikatakan bahwa indeks kesamaan zooplankton antara
I dan II, kondisi dan strukturnya bisa dikatakan sama atau mirip dan jarak usia kolong stasiun I dan II tidak terlalu jauh yaitu pada stasiun I usia kolong 11 bulan dan pada stasiun II usia kolong 21 bulan.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di Nagari Pamuatan Kecamatan Kupitan Kabupaten Sijunjung, maka dapat disimpulkan bahwa: Jumlah genus yang ditemukan 14 genus zooplankton yang terdapat pada kolong penambangan di Nagari Pamuatan Kecamatan Kupitan Kabupaten Sijunjung yaitu: Arcella, Ceratium, Phacus, Peridinium, Coleps, Trichocerca, Brachionus, Euchalanis, Keratella, Lecane, Filina, Ceriodhapnia, Cyclops dan Nauplius.
Komposisi zooplankton yang ditemukan terdiri 14 genus, 9 familia, 7 ordo dan 5 classis. Kepadatan tertinggi terdapat pada stasiun III yaitu: 177,91 individu/liter dan kepadatan terendah terdapat pada stasiun II yaitu: 128,48 individu/liter. Frekuensi tertingggi terdapat pada stasiun III yaitu 11,67 % dan frekuensi yang terendah terdapat pada stasiun I yaitu: 8,33 %.
Kualitas fisika kimia air di Nagari Pamuatan Kecamatan Kupitan Kabupaten Sijunjung diperoleh hasil suhu berkisar 29 - 300C. Hasil pH berkisaran 6,1 - 6,2, pH merupakan salah satu bagian dari faktor yang sangat berpengaruh terhadap banyak tidaknya kelimpahan zooplankton disuatu perairan. Hasil Desolved Oxygen (DO) yang didapatkan yaitu: 7,36 mg/l - 8,46 mg/l.
DAFTAR PUSTAKA
Anata, Y., C. Lasina dan Erawaty R. 2013.
Dampak Kerusakan Lingkungan Akibat Aktifitas Pembangunan Perumahan. Jurnal Beraja Niti. Vol 2, No 11, hlm : 6.
Djuhanda, T. 1980. Kehidupan Dalam Setetes Air dan Beberapa Parasit pada Manusia. Bandung: ITB.
Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air.
Yogyakarta: Kanisius.
Fachrul, M., F. 2007. Metode Sampling Biologi. Jakarta: Bumi Aksara.
Michael, P. 1994. Metode Ekologi Untuk Penyelidikan Lapangan Dan Laboratorium (Diterjemahkan Oleh Koestor, Y.R). Jakarta: UI Press.
Nybakken, J. 1992. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologi. Jakarta:
Gramedia
.
Odum, E., P. 1998. Dasar-Dasar Ekologi.
Terjemahan Oleh Samingan, Tjahjono. Gadjah Mada Universitas Press : Yogyakarta.
Pennak, R., W. 1978. Fresh-Water Invertebrates of The United States.
John Wiley And Sons, Inc New York.
Puspita, L., E. Ratnawati, I N. N Suryadiputra, A., A. Meutia. 2005.
Lahan Basah Buatan di Indonesia.
Wetlands Internasional – Indonesia Programme