KOMUNIKASI LINTAS
BUDAYA
Komunikasi
Menurut Myron W. Lustig dan Jolene Koester Komunikasi adalah proses simbolik yang memungkinkan orang- orang menciptakan makna bersama.
Ronald B Adler dan George Rodman mengatakan komunikasi adalah proses manusia merespons perilaku simbolik orang lain.
(Mulyana, 2019)
Budaya
Trenholm dan Jensen mendefinisikan budaya sebagai seperangkat nilai, kepercayaan, norma, dan adat istiadat, aturan dan kode, yang secara sosial mendefinisikan sekelompok orang, mengikat mereka satu sama lain dan memberi mereka kesadaran bersama.
Geert Hofstede mendefinisikan budaya sebagai pemprograman kolektif atas pikiran yang membedakan anggota-anggota suatu kategori lainnya. Ia menyebutkan bahwa nilai-nilai adalah inti suatu budaya, sedangkan simbol-simbol merupakan menifestasi budaya paling dangkal, sementara pahlawan-pahlawan dan ritual-ritual berada di antara lapisan luar dan lapisan dalam model budaya tersebut. Unsur-unsur ini terlihat oleh pengamat luar, tetapi maknanya tersembunyi dan makna persisnya terdapat dalam penafsiran orang dalam
(Mulyana, 2019)
Komunikasi dan Budaya
Setiap praktik komunikasi pada dasarnya adalah suatu representasi budaya, atau tepatnya suatu peta atas suatu realita (budaya) yang sangat rumit.
Komunikasi dan budaya adalah dua entitas tak terpisahkan, sebagamana dikatakan Edward T.
Hall, bahwa budaya adalah komunikasi dan
komunikasi adalah budaya. Begitu kita mulai
berbicara tentang komunikasi, tak
terhindarkan, kita pun berbicara tentang
budaya.
Hofstede menyebutkan bahwa budaya terdiri dari berbagai tingkat yang masing-masing merepresentasikan lapisan pemprograman mental yang berlainan :
Tingkat nasional menurut negara seseorang (atau negara- negara bagi orang-orang yang bermigrasi selama hidup mereka.
Tingkat regional dan/atau etnik dan/atau agama dan/atau afiliasi kebahasaan, karena kebanyakan negara terdiri dari berbagai kawasan yang berbeda secara budaya atau berbagai etnik dan/atau agama dan/atau kelompok bahasa.
Tingkat gender, berdasarkan apakah seseorang lahir sebagai perempuan atau laki-laki.
Tingkat generasi, yang memisahkan kakek-nenek dari orang tua dari anak-anak
Tingkat kelas sosial, yang dikaitkan dengan peluang pendidikan dan dengan pekerjaan atau profesi seseorang.
Tingkat organisasi atau korporat bagi
mereka yang bekerja, berdasarkan cara
para pegawai tersosialisasikan dalam
organisasi kerja mereka.
Ciri-ciri Budaya
Budaya bukan bawaan, tetapi dipelajari
Budaya dapat disampaikan dari orang ke orang, dari kelompok ke kelompok, dan dari generasi ke generasi
Budaya berdasarkan simbol
Budaya bersifat dinamis, suatu sistem yang terus berubah sepanjang waktu
Budaya bersifat selektif, merepresentasikan pola-pola perilaku pengalaman manusia yang jumlahnya terbatas
Berbagai unsur budaya saling berkaitan
Etnosentrik (menganggap budaya sendiri sebagai yang terbaik atau standar untuk menilai budaya lain.
Model Komunikasi Lintas Budaya
(William B Gudykunst dan Young Yun Kim)
Pentingnya Kepekaan Lintas Budaya
Setiap aktivitas komunikasi yang kita lakukan dengan orang lain mengandung dimensi lintas budaya. Hal ini juga sekaligus mengandung pontensi konflik lintas budaya.
Aspek-aspek budaya yang harus dipertimbangkan bisa mencakup hal-hal yang tampak remeh, seperti penulisan suatu nama, misalnya kesalahan mahasiswa dalam menuliskan nama dosen atau penguji skripsinya.
Kesulitan berkomunikasi dengan orang lain, khususnya
yang berbeda budaya, bukan saja merupakan kesulitan
memahami bahasa mereka yang tidak kita kuasai,
melainkan juga sistem nilai mereka dan bahasa
nonverbal mereka.
Komunikasi Lintas Budaya
Komunikasi lintas budaya merupakan istilah yang sering dipakai untuk menjelaskan makna dari komunikasi antar budaya, yang tidak terbatas oleh konteks geogafis, ras dan etnik. Komunikasi lintas budaya didefinisikan sebagai analisis perbandingan yang memprioritaskan relativitas kegiatan kebudayaan. Oleh karenanya, komunikasi lintas budaya lebih terfokus pada hubungan komunikasi antar bangsa dengan tidak memunculkan kultur baru sperti dalam kajian komunikasi antar budaya (Purwasito, 2003)
Samovar, dkk (2009) yang menyatakan definisi komunikasi antar budaya sebagai interaksi antar individu-individu yang memiliki pengetahuan budaya dan sistem simbol kebudayaan yang berbeda untuk mengubah kegiatan komunikasi.
Fungsi Komunikasi Lintas Budaya
Samovar, Porter, & McDaniel (2009)
menyatakan fungsi komunikasi dalam
komunikasi lintas ataupun antar budaya
sebagai berikut: (1) mendapat pengetahuan
yang luas mengenai komunikan, yang
mencakup dari keseluruhan latar belakang
sosial-budaya, (2) memenuhi kebutuhan
tiap individu, (3) membentuk identitas
pribadi, dan (4) mempengaruhi sikap dan
tindakan orang lain
GAYA KOMUNIKASI
Komunikasi Konteks- Tinggi
Komunikasi konteks-tinggi mengandung pesan yang kebanyakan ada dalam konteks fisik, sehingga makna pesan hanya dapat dipahami dalam konteks pesan tersebut.
Dalam budaya konteks-tinggi, makna terinternalisasikan pada orang yang bersangkutan, dan pesan nonverbal lebih ditekankan.
Hall berpendapat bahwa komunikasi konteks-tinggi merupakan kekuatan kohesif bersama yang memiliki sejarah yang panjang, lamban berubah dan berfungsi untuk menyatukan kelompok.
Orang-orang dalam budaya konteks-tinggi cenderung lebih curiga terhadap pendatang atau orang asing.
Orang budaya konteks-tinggi menekankan isyarat kontekstual.
Suatu pertanyaan atau suatu jawaban harus dimaknai berdasarkan konteksnya. Orang boleh jadi mengajukan pertanyaan atau memberikan jawaban, tetapi makna sebenarnya terdapat dalam konteks (budaya) orang-orang bersangkutan , bukan pada pesannya sendiri.
Maka dalam budaya konteks-tinggi ekspresi wajah, tensi, gerakan, kecepatan interaksi, dan lokasi interaksi lebih bermakna.
Orang dalam budaya konteks-tinggi mengharapkan orang lain memahami suasana hati yang tak terucapkan, isyarat halus dan isyarat lingkungan yang diabaikan orang berbudaya konteks-rendah.
Komunikasi Konteks- Rendah
Komunikasi konteks-rendah cepat dan mudah berubah, karenanya tidak mengikat kelompok.
Budaya konteks-rendah sarat dengan spesifikasi, rincian, dan jadwal waktu yang persis dengan mengabaikan konteks. Bahasa yang digunakan langsung dan lugas.
Para penganut budaya konteks-rendah senang berdebat.
Kemajuan (kebahagiaan, kekayaan, individualitas adalah tujuan masyarakat, individu yang bebas dan sederajat adalah basis masyarakat, manusia didefinisikan sebagai entitas yang rasional dan ekonomik
Teknologi dan invensi adalah sumber kekayaan masyarakat, individu yang kreatif dan invensif ( menghasilkan kekayaan) adalah yang paling berharga bagi masyarakat.
Ukuran kuantitatif seperti statistik adalah alat terbaik untuk menentukan nilai.
Orang berbudaya konteks-rendah dianggap berbicara berlebihan, mengulang-ulang apa yang sudah jelas, suka terang-terangan.
Orang berbudaya konteks-rendah cenderung mengabaikan suasana hati yang tak terucapkan, isyarat halus dan isyarat lingkungan.
Penyebab Terjadinya
Komunikasi Lintas Budaya.
Menurut Samovar dan Porter (2004)
Kemajuan teknologi yang berkembang amat pesat di era industri menyebabkan semakin mudahnya manusia untuk melakukan hubungan ke luar negaranya, berhubungan dengan orang yang berbeda kebangsaan.
Populasi dunia. Perkembangan jumlah manusia di dunia mengalami perkembangan yang amat luar biasa sejak awal abad ke-20 bahkan hingga saat ini yang sudah berada di abad 21. Jumlah kelahiran bertambah terus setiap menitnya yang berarti menambah populasi jumlah penduduk dunia
Dalam “Pengertian dan Ruang Lingkup Studi Komunikasi Antarbudaya” Dra.
Desideria, M.Si
konflik antar negara atau konflik antar penduduk. Konflik antar penduduk atau antar negara adalah salah satu penyebab yang memungkinkan terjadinya komunikasi antara orang yang berbeda kebangsaan dan budaya.
Mengapa? Karena konflik selalu disebabkan
oleh adanya perbedaan kepentingan dan
perbedaan tujuan antara pihak-pihak yang
sedang berkonflik. Akibat perbedaan
kepentingan yang tidak dikomunikasikan
dengan baik dapat menyebabkan pertikaian
Ekonomi global. Era globalisasi saat ini
membawa dampak yang amat kuat pada dunia
bisnis dan politik. Di masa lalu produsen hanya
fokus memasarkan produknya ke penduduk
suatu daerah atau negara tertentu saja. Saat ini
hal seperti itu sudah tidak dapat dipertahankan
lagi. Para pelaku pasar harus meluaskan pasar
dan memasarkan produknya hingga ke negara-
negara lain supaya perusahaan bisa
mendapatkan keuntungan yang maksimal di
tengah kompetisi dunia usaha saat ini.
The Lewis Cross-Cultural
Communication Model
Sebagaimana diperlihatkan dalam gambar, orang-orang dengan tanda biru atau linearactive berada pada kecenderungan orang-orang yang faktual dan decisive planners, kemudian pada diagram yang ditandai dengan warna merah atau multi-active, emosional, suka berbicara dan impulsif sedangkan pada diagram dengan warna kuning atau reactive berada pada kecenderungan sopan, ramah, suka menolong, mudah berkompromi dan pendengar yang baik.
Sedangkan India berada di tengah-tengah
multiactive dan reactive.
Dalam era modern, Ada beberapa jenis komunikasi yang menjadi bagian dari komunikasi lintas budaya (Purwasito, 2003:122):
Komunikasi internasional (International Communications), yaitu proses komunikasi antara bangsa dan negara. Komunikasi ini tercermin dalam diplomasi dan propaganda, dan seringkali berhubungan dengan situasi intercultural (antarbudaya) dan interracial (antarras). Komunikasi internasional lebih menekankan kepada kebijakan dan kepentingan suatu negara dengan negara lain yang terkait dengan masalah ekonomi, politik, pertahanan, dan lain-lain. Menurut Maletzke, komunikasi antarbudaya lebih banyak menyoroti realitas sosiologis dan antropologis, sementara komunikasi antarbangsa lebih banyak mengkaji realitas politik.
Namun demikian, komunikasi internasional (antarbangsa) pun masih merupakan bagian dari komunikasi antarbudaya.
Komunikasi antarras (interracial communication), yaitu suatu komunikasi yang terjadi apabila sumber dan komunkan berbeda ras. Ciri penting dari komunikasi antarras ini adalah peserta komunikasi berbeda ras. Ras adalah sekelompok orang yang ditandai dengan ciri-ciri biologis yang sama.
Secara implisit komunikasi antarras ini termasuk ke
dalam komunikasi antarbudaya. Hambatan utama
dalam komunikasi antar-ras ini adalah sikap curiga
kepada ras lain. Misalnya orang Jepang
berkomunikasi dengan orang Amerika.
Komunikasi antaretnis (interethnic communication), yaitu berkaitan dengan keadaan sumber komunikannya, sama ras/suku bangsa tetapi berbeda asal etnis dan latar belakangnya. Kelompok etnik adalah kelompok orang yang ditandai dengan bahasa dan asal-usul yang sama. Oleh karena itu komunikasi antaretnik merupakan komunikasi antarbudaya.
Misalnya, komunikasi antara orang-orang Kanada Inggris dengan Kanada Prancis. Mereka samasama warga negara Kanada, sama rasnya tetapi mempunyai latar belakang, perspektif, pandangan hidup, cita-cita, dan bahasa yang berbeda.
Kemampuan antarbudaya untuk memahami kebudayaan lain, dengan beberapa hal (Liliweri, 2013: 246-249):
Menghargai martabat orang lain. Apabila suatu saat
anda menemukan diri anda tidak cocok dengan nilai
budaya orang lain, maka anda harus mengahargai
perbedaan tersebut. Berikanlah penghargaan dan
perhatian kepada orang lain sesuai dengan situasi
kebudayaan mereka. Usahakan untuk lebih
memahami daripada mengkritik. Cobalah untuk
menikmati dan merasakan orang lain sesuai dengan
kebudayaan mereka.
Jika anda dikritik oleh orang lain, hendaknya anda tidak tersinggung. Kalau kita mempelajari kebudayaan yang tidak kita kenal, maka biasanya kita akan dikritik oleh para anggota budaya itu. Oleh karena itu sebaiknya anda tidak tersinggung karena ritik merupakan pengetahuan tambahan agar kita bisa mawas diri dan memperbaiki hubungan dengan mereka
Dalam komunikasi antarbudaya, sebaiknya kita tidak perlu jatuh hati kepada siapapun atau di mana saja.
Kita tahu bahwa setiap orang berbeda dari suatu
tempat ke tempat yang lainnya. Kalau anda tahu orang
lain tidak suka kepada anda, maka seharusnya anda
tetap menjalin komunikasi dengan mereka
Hati-hati membicarakan sesuatu hal yang sensitif, misalnya masalah keuangan, kekayaan, material dan lainlain. Apabila anda berteman dengan orang dari budaya lain maka pelajari persepsi kebudayaan tersebut tentang uang, kekayaan, material dan lain-lainya itu.
Bekerja sesuai dengan kemampuan anda. Banyak penbelitian menunjukkan bahwa apabila seseorang bekerja sesuai dengan kemampuan dan profesinya atau keahliannya, maka orang tersebut tidak akan menemui masalah karena dia bekerja dengan profesional dalam kebudayaan baru yang berbeda sekalipun.
Bekerja dengan inisiatif. Anda hendaknya memiliki inisiatif dalam berkomunikasi antarbudaya, akrablah dan berani menanggung resiko sosial.
Jadikan diri anda sebagai seorang pengamat
yang baik. Ketika berhadapan dengan
kebudayaan teretentu diharapkan anda dapat
memperhatikan atau mendengarkan dengan
baik, mengamati, dan mencatat hal-hal yang
anda anggap penting dalam buku harian anda.
Berani menanggung resiko tertentu terhadap
privacy. Seringkali dalam suatu kelompok karena
anggotanya kurang memahami perbedaan
kebudayaan maka sangat mungkin terjadi
kesalahpahaman yang membuat salah satu
anggota tersinggung, apalagi kalau privasi kita
yang merasa terganggu. Anda bisa segera
melupakan hal itu dengan berfikir bahwa mereka
memang berasal dari kebudayaan lain yang kurang
mengetahui bahwa hal tersebut dapat
menimbulkan provokasi.
Jangan menganjurkan atau berbicara persoalan politik dengan sesorang yang memiliki kebudayaan lain. Hal ini perlu ditandaskan karena tema tersebut mungkin merupakan bagian dari norma suatu kehidupan sistem budaya yang tidak patut dibicarakan disembarang waktu dan tempat.
Akuilah peran wanita dalam kebudayaan orang lain.
Perlu diketahui bahwa setiap bangsa-bangsa yang berbeda memiliki penghormatan terhadap wanita.
Apabila anda berkomunikasi antarbudaya maka anda
ambil jalan tengah yaitu anda menghormati semua orang
yang anda jumpai dalam suatu pertemuan
Hormatilah tradisi orang lain. Karena bagi orang lain menganggap tradisi mereka masing-masing adalah merupakan tradisi yang sakral dan suci.
Perlu diketahui bahwa ada pula kebudayaan yang tidak mewariskan kepada para anggotanya tentang cara-cara menangani semua keputusan dengan efesien. Di sini terlihat bahwa setiap kebudayaan mempunyai standar tertentu terhadap efesiensi.