• Tidak ada hasil yang ditemukan

konseling kelompok dengan pendekatan analisis

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "konseling kelompok dengan pendekatan analisis"

Copied!
123
0
0

Teks penuh

(1)

1

SIKAP SALING MENGHARGAI

Pada Mahasisiwa Anggota Laboratorium Konseling Dan Layanan Psikologi Al- Tazkiyah Jurusan Bimbingan Dan Konseling Islam FDIK

UIN Mataram

Oleh MARZANDI NIM 160303058

JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSLING ISLAM FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM

MATARAM 2020

(2)

2

KONSELING KELOMPOK DENGAN PENDEKATAN ANALISIS TRANSAKSIONAL DAN TERAPI SHALAT UNTUK MENUMBUHKAN

SIKAP SALING MENGHARGAI

Pada Mahasisiwa Anggota Laboratorium Konseling Dan Layanan Psikologi Al- Tazkiyah Jurusan Bimbingan Dan Konseling Islam FDIK

UIN Mataram

Skripsi Diajukan Kepada UIN Mataram Untuk Melengkapi Persyaratan Mencapai Gelar Sarjana

Oleh MARZANDI NIM 160303058

JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSLING ISLAM FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM

MATARAM 2020

(3)

3

(4)

4

(5)

6

(6)

7

MOTTO

Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang lai- laki dan seorang Perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal”.1

1 AL-Qur’an Surah Hujurat : 13

(7)

8

PERSEMBAHAN

“ Kupersembahkan skripsi ini untuk keluarga tersayang dan kembanggaan dalam hidupku ayahku Rosisdin, ibuku Marisah, kakak tersayang Marlina, adikku Muhammad Ari yang sedang menempuh pendidikan sekolah menengah pertama,adikku Kiki pembimbing yang penuh kasih sayang bapak Dr. H. M.S. Udin, M. Ag dan pembimbing yang paling baik hati dan tidak sombong bapak Rendra Khaldun, M. Ag kemudian sahabat rasa saudara (Muhammad Alit Iswadi, Samsul Anwar, Wahyu Irhas), sahabat pejuang suka dan duka dalam skripsiku (alid, wahyu),laboratorium al-tazkiyah, suka dan duka skripsiku ( Lulu', Anggy), Al-Tazkiah, khususnya keluarga besar Komunitas Sekolah Perjumpaan Banget Bilong (Bapak Ustaz. Sairi Sadif, Ibu Aer, kakak Feri, Sar’in, Amri, Jihan ) dan semua tidak bisa saya sebutkan satu-persatu.

(8)

9

KATA PENGANTAR

Alhamdulilah, segala puji bagi Allah Swt, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan hinayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan lancar. Sholawat dan salam semoga tetap tercuhkan kepada penghulu sekalian alam Nabi Muhammad saw, juga kepada keluarga, sahabat, dan umatnya yang mengikuti jejak beliau dan semoga kita semua mendapatkan syafaanya di akhirat kelak Aamiin.

Penulis menyadari bahwa selsainya skripsi ini tidak luput dari bantuan-bantuan dari beberapa pihak. oleh karena itu penulis memberikan penghargaan yang setinggi-tingginya dan ucapan terimakasih yang tak terhingga kepada pihak yang membantu, yaitu antara lain:

1. Bapak Dr. H. M.S Udin, M.Ag sebagai pembimbing I dan bapak

Rendara Khaldun, M. Ag sebagai pembimbing II yang telah memberikan bimbingan, motivasi, dan masukan, koreksi tanpa bosan ditenga

kesibukannya dalam suasana keakraban menjadikan skripsi cepat selesai 2. Bapak Rendara Khaldun, M. Ag sebagai ketua jurusan dan Bapak H.

Masruri, Lc. Ma selaku sekertaris jurusan bimbingan dan konseling islam.

3. Bapak Dr. H. Subhan Abdullah Acim, Ma Sebagai Dekan Fakultas Dakwah Dan Ilmu Komnikasi

(9)

10

telah memberi tempat bagi penulis untuk menuntut ilmu dan memberi bimbingan sekaligus memberikan peringatan agar segera wisuda tepat waktu.

5. Bapak dan Ibu Dosen Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam atas ilmu yang telah diberikan kepada penulis.

6. Teman-teman seperjuanganku di jurusan BKI kelas C angkatan 2016 yangselama tiada hentinya memeberikan semngat kepada penulis untuk menyelsaikan skripsi, khususnya sahabat setiaku Muhammad Khalid iswadi, wahyu irhas, smasul anwar

7. Al-Tazkiah UIN Mataram yang sangat welcome dalam proses penelitian, khususnya direktur terbaik Bapak L. Abdurrahman Wahid, M A

8. Keluarga NTN Komunitas, GAGAS, KTB khususnya, Habib, Eliza, Kalid, Wahyu, Yanti yang selalu meberikan semangat

9. Keluarga bessar komunitas Sekolah Perjumpaan Bangket Bilong, khususnya Bapak Ustaz Sairi Sadip yang selalu memberikan saya bimbingan apa arti hidup sesungguhnya.

Penulis

Marzandi Nim 16030358

(10)

11 DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ... 1

HALAMAN JUDUL ... 2

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... 3

NOTA DINAS PEMBIMBING ... 4

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... 5

PENGESAHAN DEWAN PENGUJI ... 6

HALAMAN MOTTO ... 7

HALAMAN PERSEMBHAAN ... 8

KATA PENGANTAR ... 9

DAFTAR ISI ... 10

DAFTAR GAMBAR ... DAFTAR LAMPIRAN ABSTRAK ... BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 9

C. Tujuan Dan Manfaat Penelitian ... 9

D. Kajian Pustaka ... 11

E. Kerangka Teori... 20

F. Metode Penelitian... 58

BAB II PAPARAN DATA DAN TEMUAN ... 68

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 68

(11)

12

2. Latar Historis Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunkasi Uin

Mataram ... 69

B. Faktor-Faktor Yang Menyebabkan Tumbuhnya Sikap Tidak Saling Menghargai Pada Anggota Laboratorium Konseling dan Psikologi Al-Tazkiah UIN Mataram………...89

C. Proses Konseling Kelompok Dengan Pendekatan Analisis Transaksional Dan Terapi Shalat Untuk Menumbuhkan Sikap Saling Mengharg……….93

BAB III PEMBAHASAN……….…107

A. Analisis Faktor-Faktor Yang Menyebabkan Tumbuhnya Sikap Tidak Saling Menghargai Pada Anggota Laboratorium Konseling Dan Psikologi Al- Tazkiah………...107

B. Analisis Hasil Proses Konseling Kelompok Dengan Pendekatan Analisis Transaksional Dan Terapi Shalat Untuk Menumbuhkan Sikap Saling Menghargai………...……..111

BAB IV PENUTUP………..………121

A. KESIMPULAN……….………..121

B. SARAN………...……….122

DAFTARPUSTAKA……….123

LAMPIRAN-LAMPIRAN………

………

………...……..126

(12)

13

KONSELING KELOMPOK DENGAN PENDEKATAN ANALISIS TRANSAKSIONAL DAN TERAPI SHALAT UNTUK MEUMBUHKAN

SIKAP SALING MENGHARGAI

(STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM ) Oleh:

Marzandi 160303058 ABSTRAK

Latar belakang penelitian ini adalah karena mahasisiwa anggota Laboratorium al- tazkiyah dalam menumbuhkan sikap saling menghargai belum terlaksana dengan efektif. Oleh karena itu laboratorium konseling dan psikologi al-tazkiyah menyikapinya dengan memeperbanyak pelatihan-pelatihan yang berkaitan dengan bagaimana menumbuhkan sikap saling menghargai, berupa konseling kelompok dengan pendekatan analisis transaksional. Penelitian ini merupakan penelitian deskriftif kulaitatif, yang bertujuan untuk mengetahui proses konseling kelompok dengan pendekatan analisis transaksional untuk menumbuhkan sikap saling mengharagai pada anggota laboratorium konseling dan psikologi al- tazkiyah Uin mataram. adapun subjek penelitian adalah direktur Laboratorium konseling dan psikologi al-tazkiyah beserta anggotanya dengan objek penelitian menggunakan pendekatan terapi shalat untuk menumbuhkan sikap saling menghargai di laboratorium konseling dan psikologi al-tazkiyah uin mataram.

penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui bentuk (1) faktor-faktor yang menyebabkan tumbuhnya sikap tidak saling menghargai pada anggota

(13)

14

pendekatan analisis transaksional dan terapi shalat untuk menumbuhkan sikapa saling menghargai di laboratorium konseling dan psikologi al-tzkiyah uin mataram.

Kata Kunci : Sikap Tidak Saling Menghargai, Konseling Kelompok, Anlisis Transaksional, Shalat

(14)

15 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Sebagai contoh kasus lain seperti yang terjadi di pulau Lombok.

Pulau Lombok dikenal dengan pulau 1000 Masjid. Jika mendengar julukan tersebut maka yang ada di bayangan kita adalah pulau yang tentram dan damai sesuai dengan ajaran Islam. Julukan pulau 1000 Masjid tersebut juga sering terjadi konflik. Di Lombok khususnya sangat rawan terjadi konflik yang disebabkan karena perbedaan adat istiadat, pendapat, dan perbedaaan agama. Seperti contohnya kasus salafi di Lombok Barat, konflik Ahmadiyah di Lombok Timur, konflik Karang Genteng- Bajur, dan konflik Monjok- Karangg Taliwang. Dari kasus-kasus di atas dapat dilihat bahwa pulau Lombok yang dikenal dengan pulau 1000 majsid tidak menjamin ketentraman dan perdamaian di Lombok.

Konflik yang terjadi di Lombok tidak hanya berlaku dikalangan sosial, tetapi kerap juga terjadi di kalangan akademisi. Sebagai contoh adalah konflik internal yang terjadi pada anggota Laboratorium Konseling AL- Tazkiyah UIN Mataram. Lab Al- Tazkiah UIN Mataram merupakan Laboratium Konseling yang ada di Fakutas Dakwah. Lab konseling sempat pakum, karena fasilitas, struktur, dan anggota Lab belum efektif, akan tetapi setelah berubah nama IAIN menjadi UIN, ketua jurusan Bimbingan dan konseling islam mengintuksikan kepada dosen tetap BK untuk mengaktifkan kembali Lab Konseling.

(15)

16

rapi, mulai dari struktur, fasilitas, dan anggota Lab sudah tersusun dengan rapi. Harapan ke depan Lab Konseling akan menjadi Lab yang berkualitas, baik itu anggotanya maupun fasilitas Lab Konseling. Untuk menciptakan Lab Konseling yang berkualiats tentu Direktur Lab Konseling harus membuka ruang yang seluas-luasnya untuk menerima masukan dari berbagai pihak agar apa yang menjadi visi misi Lab Konseling tercapai.

Karena untuk menciptakn sebuah perubahan tentu harus mulai dari subjek itu sendiri. Untuk itu segala yang bisa menghambat jalan tercapainya visi misi Lab konseling, tentu Lab Konseling harus segera di evaluasi kembali. 2

Peneliti mencoba mencari apa saja yang bisa menghambat tercapainya harapan ke depan dari Lab Konseling dengan menggunakan Pendekatan Analis Transaksional dan Terapi Sholat untuk bagaimana menjalin hubungan yang saling berterima di Lab Konseling, karena apabila hubungan internal Lab tidak menjalin hubungan dengan baik maka itu semua bisa menghambat tercapainya suatu harapan. Bentuk konflik yang penulis temukan di Lab Al- Tazkiyah Uin Mataram; Kesenjangan antara kakak tingkat dengan adik tingkat, membuli secara verbal, sikap ego yang tinggi, saling Menutupi diri.

Penyelesaian konflik dapat diselesaikan melalui 2 arah yaitu secara pendekatan Analisis Transaksional dan Pendekatan Terapi Sholat. Analisis transaksional menekankan aspek-aspek kognitif-rasional-behavioral dan

2 Lalu Abdurrahman Wahid, Wawancara, Mataram, 9 Maret 2020.

(16)

17

berorientasi kepada peningkatan kesadaran sehingga klien akan mampu membuat putusan-putusan baru dan mengubah cara hidupnya.

Sifat kontraktual proses terapeutik AT cenderung mempersamakan kekuasaan terapis dan klien adalah menjadi tanggung jawab klien untuk menentukan apa yang akan di ubahnya. Agar perubahan menjadi kenyataan, klien mengubah tingkah lakunya secara aktif. Selama pertemuan terapi, klien melakukan evaluasi terhadap arah hidupnya, berusaha memahami putusan-putusan awal yang telah dibuatnya, serta menginsafi bahwa sekarang dia menetapkan ulang dan memulai suatu arah baru dalam hidupnya.

Analisis transaksional (AT) dapat digunakan dalam konseling individual, tetapi lebih cocok digunakan dalam konseling kelompok.

Analisis transaksional melibatkan suatu kontrak yang dibuat oleh klien, yang dengan jelas menyatakan tujuan-tujuan dan arah proses konseling. Pendekatan ini menekankan pada aspek komitmen dan keputusan. Melalui komitmen ini tujuan dan arah proses terapi dikembangkan sendiri oleh klien, juga dalam proses terapi ini menekankan pentingnya keputusan-keputusan yang diambil oleh klien. Maka proses terapi mengutamakan kemampuan klien untuk membuat keputusan sendiri, dan keputusan baru, guna kemajuan hidupnya sendiri.3

Pada pendekatan ini lebih terfokus dalam bagaimana memperbaiki hubungan sosial, untuk menjaga hubungan sosial yang harmonis, maka

3 Ahmad Sugianto, Tesis Teori Pendekatan Analisis Transaksional, (PascasarjanaUniversitas Negeri MalangProgram Studi Bimbingan Dan Konseling, 2013), hlm.1

(17)

18

interaksi. Apabila interaksi sosial saling berterima, maka sudah pasti setiap individu akan saling menghargai.

Sedangkan pada pendekatan terapi shalat, konseli lebih ditekankan untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. Melalui sholat yang khusyu’, karena apabila shalat seorang hamba berkualitas, maka hubungan antara individu dengan individu yang lainnya akan saling menghargai.

Dalam tulisan ini peneliti mengkorelasikan pendekatan Analisis Transaksional dengan terapi Shalat. Korelasi tersebut bertujuan untuk menangani psikis konseli dengan pendekatan religius. Allah Swt memerintahkan hamabnya untuk mendirikan Shalat lima waktu tidak lain dan tidak bukan karena memang sudah menjadi kewajiban manusia sebagai hambanya4, dan dibalik semua itu pasti terdapat hikmah yang tersimpan.

Allah menciptakan shalat lima waktu sebagai media jalan keluar dari masalah yang dihadapi. Namun manuisa lupa dan lalai karna kebodohan mereka karna kejeniusan akal yang diberikan oleh sang pencipta yang terlupakan. Mereka lebih memilih pergi ke diskotik-diskotik, kafe-kafe dan temapat hiburan, dan jalan-jalan ke pantai, namun bukan jalan keluar yang mereka dapatkan tapi malah semakin menambah permasalahan.

Allah memerintahkan kepada hambanya untuk menegakkan Shalat sehari semalam lima kali pasti memiliki hikmah yang besar.5 Disamping

4 Adz-Dzariyat (51): 56 نودبعيل لاا سنلاا و نجلا تقلخامو

yang artinya: Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-

5 Al-‘Ankabut (29): 45

(18)

19

hikmah dari frekuensi manusia dianjurkannya shalat lima kali sehari semalam juga hikmah yang terkandung di dalam gerakan-gerakan shalat dan bacaan-bacaan disetiap rukun shalat. Rasul sendiri pernah bersabda: hikmah dari frekuensi manusia dianjurkannya shalat lima kali sehari semalam juga hikmah yang terkandung di dalam gerakan-gerakan shalat dan bacaan- bacaan disetiap rukun shalat. Rasul sendiri pernah bersabda:

؟ ءيش هنر د نم ىقبي له تارم سمخ موي لك هنم لستغي مكدحأ بابب اراهن ناول متيارا اياطخلا نهب اللهوحمي سمخلا تاولصلا لثم كلاذف :لاق .ءيش هنرد نم ىقبي لا :اولاق

Bagaimana pendapat kalian seandainya ada sungai di depan pintu salah seorang dari kalian, kemudian dia mandi lima kali setiap hari, apakah masih tersisa kotoran darinya?.Para sahabat menjawab: ‘tidak akan tersisa sedikitpun kotoran darinya’ Beliau besabda: ‘itulah perumpamaan shalat lima waktu, Allah akan menghapus dosa-dosa dengan shalat lima waktu’.

Padahal sudah jelas Allah berfirman di dalam buku panduan kita sebgai ciptaan yaitu Al-Qur’an:

Al-Baqarah (2): 45 & 153

َنيعشخلا لع لاا ةريبكل اهناو ِةولصلاوَ ربصلاباونْيِعَتْساو ََ

نيربصلا عم الله نا ةولصلاو ربصل اب ا ونيعتسااونما نيذلااهياآي Artinya: “Dan mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan sholat, dan sesungguhnya yang demikian itu sangat berat, kecuali bagi

ام ملعي اللهو ربكا اللهركذلو ركنملاو ءاشحفلا نع ىهنت ةولصلا نا ةولصلا مقاو بتكلا نم كيلا يحواام لتا

َن وعنصت Artinya: “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu al-Qur’an dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat- ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

(19)

20

pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar .

Al-Mu’minun (23): 1-2

ونم ؤملا حلفا دق نوعش اخ مهت ولص يف مه نيذلا ن

Artinya: “ Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya.”

Al-‘Ankabut (29): 45

اللهركذلو ركنملاو ءاشحفلا نع ىهنت ةولصلا نا ةولصلا مقاو بتكلا نم كيلا يحواام لتا اللهو ربكا

ملعي َن وعنصت ام Artinya: “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu al- Qur’an dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Karena itulah sangat penting untuk pribadi peneliti untuk menelaah lebih lanjut apa hikmah tatkala manusia melakukan shalat lima waktu secara khusyu’ dan dihubungkan dengan pendekatan Analisis transaksional.

Apakah memang benar ketika memberikan terapi kepada seorang klien dalam mengatasi masalah psikologis sehari-hari dengan pembiasaan perilaku shalat khusyu’ ini mampu mengungkap dan mengatasi

(20)

21

permasalahannya. Terlebih permasalahan sikap tidak saling menghargai di Laboratium Psikologi AL-Tazkiah UIN Mataram.

B. Rumusan Masalah

Adapun Fokus Penelitian adalah:

1. Apa saja faktor-faktor yang menyebabkan tumbuhnya sikap tidak saling menghargai pada anggota Laboratorium Konseling dan Psikologi Al-Tazkiah UIN Mataram ?

2. Bagai mana proses konseling kelompok dengan pendekatan analisis transaksional dan terapi shalat untuk menumbuhkan sikap saling megnghargai pada anggota Laboratorium Konseling dan Psikologi Al- Tazkiah UIN Mataram ?

C. Tujuan Dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian

Berangkat dari fokus penelitian sebagaimana yang telah dikemukakan di atas dan agar sasaran yang akan di capai dalam penelitian ini lebih terarah. Maka berikut penjabaran tujuan penelitian yang akan dicapai:

a. Untuk mengetahui Apa saja faktor-faktor yang menyebabkan tumbuhnya sikap tidak saling menghargai pada anggota Laboratorium Konseling dan Psikologi Al-Tazkiah UIN Mataram

b. Untuk mengetahui Bagai mana proses konseling kelompok dengan pendekatan analisis transaksional dan terapi shalat untuk menumbuhkan sikap saling megnghargai pada anggota

(21)

22 Mataram

2. Manfaat Penelitian a. Secara Teoritis

Secara teoritis penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan ilmu khusunya pada bidang psikologi dan konseling terhadap konseling kelompok dengan pendekatan analisis transaksional dan terapi shalat untuk menumbuhkan sikap saling megnghargai pada anggota Laboratorium Konseling dan Psikologi Al-Tazkiah UIN Mataram

b. Bagi Mahasiswa

Sebagai salah satu acuan yang bisa digunakan untuk melakukan konseling kelompok dengan pendekatan analisis transaksional dan terapi shalat untuk menumbuhkan sikap saling megnghargai pada anggota Laboratorium Konseling dan Psikologi Al-Tazkiah UIN Mataram

c. Bagi Penulis

Bagi penulis hasil penelitian ini dapat menjadi acuan dan referensi untuk terus meningkatkan kapasitas diri dalam melakukan konseling kelompok dengan pendekatan analisis transaksional dan terapi shalat untuk menumbuhkan sikap saling megnghargai pada anggota Laboratorium Konseling dan Psikologi Al-Tazkiah UIN Mataram

(22)

23 D. Ruang Lingkup dan Setting Penelitian

Ruang lingkup dari penelitian yang dilakukan oleh peneliti disesuaikan dengan fokus penelitian yang telah dipaparkan sebelumnya.

Dimana peneliti akan mengkaji tentang “Konseling Kelompok Dengan Pendekatan Analisis Transaksional Dan Terapi Sholat Utuk Menumbuhkan Sikap Saling Menghargai (Studi Kasus Lab Al Tazkiyah)” .

Sedangkan setting penelitian, penelitian ini dilakukan di Laboratorium Konseling Al-Tazkiyah UIN Mataram.

E. Telaah Pustaka

Pada bagian ini memuat uraian secara sistematis tentang hasil penelitian terdahulu (prior research) yang relevan dengan persoalan yang akan dikaji dalam skripsi. Oleh karenanya peneliti akan memaparkan hasil penelitian terdahulu dengan tujuan untuk menegaskan kebaharuan dan orisinalitas penelitian bagi pengembangan ilmu pengetahuan serta untuk menghindari adanya duplikasi dalam penelitian ini, diantaranya yaitu:

1. Skripsi oleh Meri Handayani, yang berjudul Pengaruh Layanan Konseling Kelompok Pendekatan Analisis Transaksional Terhahadap Kterampilan Komunikasi Peserta Didik Kelas VIII SMP Negeri 18 Bandar Lampung. Pada penelitian ini, peneliti memfokuskan apakah layanan konseling kelompok dengan pendekatan analisis transaksional

(23)

24 didik?

a. Peneliti membuat kontrak terkait kegiatan waktu, dan sesi pertemuan yang akan dilakukan, itu peneliti juga memberikan peserta didik angket yang akan digunakan sebagai data pre-test.

b. Pada pertemuan kedua peserta didik belum meampakkan perubahan signifikan, hal ini disebabkan kareana peserta didik masih belum leluasa dalam kegiatan konseling kelompok yang dilakukan.

c. Pada pertemuan ketiga, peneliti menyimpulkan bahwa dinamika kelompok sudah mulai terlihat, perubahan pada peserta didik dibandingkan dengan pertemuan sebelumnya. Hal ini terlihat setelah diberikan permaina “Pesan Berantai”, awalnya permainan ini dimaksudkan untuk mencairkan suasana yang mulai terasa menjenuhkan, sehingga peneliti memutuskan untuk member permainan ini, namun permainan ini berdampak fositif bagi perkembangan komunikasi interpersonal peserta didik.

d. Pada pertemuan kali ini terlihat peserta didik nampak lebih ceria,dan mulai dapat berbincang dengan teman sebaya dengan

(24)

25

anggota kelompok. Pada pertemuan kali ini peserta didik mulai berani mengeluarkan pendaptnya.6

2. Nuzmi Sasferi dan Moh. Kamil Fikri dengan judul Analisis Transaksional Media Aum Konseling terhadap Pola Komuikasi Bahasa Verbal Mahasiswa Bimbingan Konseling Islam IAIN Kerinci.

a. Bentuk Pola Interaksi Bahasa Verbal Mahasiswa Bimbingan Konseling Islam IAIN Kerinci dalam Memahami Media AUM Konseling, meliputi; objektifitas, akurasi dan kelogisan penalaran yang diberikan terhadap pola komunikasi verbal.

Terdapatnya beberapa bentuk kelemahan dalam aktifitas analisis berbahasa yang mencakup; Kata sukar dimengerti khususnya komunikan, Kesalah-pahaman pemikiran, Pola kalimat pesan yang membingungkan penerima pesan, Perbedaan budaya antara komuniktor dengan komunikan.

b. Faktor-faktor penyebab tidak maksimalnya pelaksanaan komunikasi verbal Mahasiswa Bimbingan Konseling Islam IAIN Kerinci dalam memahami media AUM Konseling disebabkan oleh rendahnya tingkat profesionalisme mahasiswa dalam membuat analisa terhadap pernyataan yang terdapat di dalam setiap butir permasalahan baik secara pribadi maupun kelompok, yang meliputi analisis secara rasional, dan analisis

6 Meri Handayani, “Pengaruh Layanan Konseling Kelompok Pendekatan Analisis Transaksional Terhadap Keterampilan Komunikasi Peserta Didik Kelas VIII SMP 18 Bandar Lampung, (Skripsi, FTK IAIN Raden Intan Lampung, Lampung, 2017), hlm. 105.

(25)

26 meliputi;

1) Analisis terhadap Permasalahan bahasa.

2) Analisis terhadap permasalahan persepsi.

3) Analisis terhadap perbedaan emosional 4) Analisis terhadap perbedaan latar belakang.

3. Upaya Memaksimalkan Pola Komunikasi Bahasa Verbal Mahasiswa Bimbingan Konseling Islam IAIN Kerinci dalam Menganalisis Media AUM Konseling secara Transaksional dilakukan dalam mengatasi permasalahan kebahasaan mahasiswa dalam menganalisis media AUM di atas dilakukan secara individu. Adapun bentuk analisis transaksional yang digunakan meliputi:

a. Transaksi Komplementer (Complementary), Transaksi ini peneliti gunakan untuk mencocokkan respon yang diberikan oleh mahasiswa dan ketepatan responya

b. Transaksi Silang (Crossed), bagi mahasiswa yang mengalami gannguan dalam merespon peneliti menggunakan pola transaksi silang.

c. Transaksi Terselubung (Ulterior), Transaksi ini peneliti gunakan untuk melihat apabila terdapat dalam analisisnya mereka lebih menekankan status ego secara bersama-sama dalam analisis kebahasaannya. Setelah mengidentifi- kasi serta mengelompokkan mahasiswa berdasarkan tingkat analisisnya.

(26)

27

4. Muhammad Yani, dengan judul “Terapi Psikoproblem Melalui Shalat Lima Waktu (Studi Kasus pada anak asuh LPKA Kls II Anak Mataram)”.Berdasarkan analisis yang peneliti lakukan di LPKA kls II Mataram mengenai terapi psikoproblem melalui shalat lima waktu dalam hal ini paneliti dapat menyimpulkan dari beberapa pertanyaan- pertanyaan bahwa: Pertama, Psikoproblem yang dialami oleh anak asuuh LPKA kls II anak Mataram seperti stres dan rasa cemas (khawatir). Kedua, dimensi psikoproblem di dalam LPKA kls II Mataram berasal dari tekanan jiwa dalam lingkungan, pergaulan, dan disebabkan oleh peran ganda. Ketiga, coppying setres anak asuh LPKA kls II Matarm pada katagori bagus (zikir mengingat Allah, sahalt sussat, membaca Al-qur’an, dan membaca buku), katagori wajar (bermain, bercanda tawa dengan teman, bercerita dan bernyanyi sambil bermain gitar), katagori tidak wajar (berkata-kata kotor). Keempat, efektifitas shalat lima waktu yang dilakukan anak sauh LPKA kls II mataram sebagai terapi psikoperoblem dapat menenagkan hati dan meringankan beban pikiran, menghilangkan masalah, menghilangkan amarah, dan menimbulkan harapan baru.7

5. Marzandi, dengan judul ”Konseling Kelompok Dengan Pendektan Analisis Transaksional Dan Terapi Sholat Untuk Menumbuhkan Sikap Saling Menghargai”

7 Muhammad Yani, Terapi Psikoproblem Melalui Sholat Lima Waktu, (Skripsi, FDIK UIN Mataram, Mataram, 2018). Hlm. 99.

(27)

28

menjelaskan bagimana membangun hubungan yang saling berterima atau saling menghargai, karena dalam dunia sosial sekarang ini sudah mulai terkikis cara berinteraksi yang semestinya, seperti yang kita lihat dewasa ini orang sibuk dengan dirinya sendiri, suatu contoh ketika orang sedang berbicara komunikan sibuk dengan gadget, buku, atu hal-hal yang membuat komunikatornya terseninggung.

tentu hal ini terjadi tidak hanya di ranah sosial kemasyarakatan, tapi di dunia pendidikan juga terjangkiti dengan problem ini. Untuk itu peneliti mencoba menawarkan pendekatan annlisis transaksional dan terapi sholat untuk membangun hubungan yang baik.

(28)

29 Tabel 1.1 analisis telaah pustaka

No Peneliti dan Judul Perbedaan Persamaan Hasil

1 Meri Handayani, yang berjudul

“Pengaruh Layanan Konseling Kelompok Pendekatan Analisis Transaksional Terhadap

Keterampilan Komunikasi Peserta Didik”

Terletak pada fokus penelitian dan subjek penelitian

Menggunakan konseling kelompok

pendekatan Analisis Transaksionl

Peneliti membuat kontrak terkait kegiatan waktu, dan sesi pertemuan dilakukan, itu peneliti juga memberikan peserta didik angket yang akan digunakan sebagai data pre-test. Pada pertemuan kedua peserta didik belum meampakkan perubahan signifikan, hal ini disebabkan kareana peserta didik masih belum leluasa dalam kegiatan konseling kelompok yang dilakukan.

2 Nuzmi sasferi dan Moh. Kamil Fikri Terletak pada fokus Menggunakan Bentuk Pola Interaksi Bahasa Verbal Mahasiswa

(29)

30 Media Aum Konseling terhadap Pola

Komuikasi Bahasa Verbal Mahasiswa Bimbingan Konseling Islam IAIN Kerinci

subjek penelitian Transaksional Memahami Media AUM Konseling, meliputi;

objektifitas, akurasi dan kelogisan penalaran yang diberikan terhadap pola komunikasi verbal.

Terdapatnya beberapa bentuk kelemahan dalam aktifitas analisis berbahasa yang mencakup; Kata sukar dimengerti khususnya komunikan, Kesalah- pahaman pemikiran, Pola kalimat pesan yang membingungkan penerima pesan, Perbedaan budaya antara komuniktor dengan komunikan.

3 Muhammad Yani, dengan judul

“Terapi Psikoproblem Melalui Shalat Lima Waktu (Studi Kasus pada anak asuh LPKA Kls II Anak Mataram)

Terletak pada fokus penelitian dan subjek penelitian

Menggunakan terapi sholat

Efektifitas shalat lima waktu yang dilakukan anak sauh LPKA kls II Mataram sebagai terapi

psikoperoblem.

Menenagkan hati, meringankan beban pikiran,

(30)

31

Menghilangkan masalah, Menghilangkan amarah dan

Menimbulkan harapan baru.

4 1. Marzandi dengan judul konseling kelompok dengan pendekatan analisis transaksional dan terapi sholat untuk menumbuhkan sikap saling menghargai

Terletak pada focus penelitian dan subjek penelitian

Menggunakan konseling kelompok dan pendekatan analisis transaksional

Dengan pendektan terapi sholat dan analisis taransakional untuk menumbuhkan sikap saling menghargai

(31)

38 F. Kerangka Teori

1. Konseling

Pengertian konseling secara etimologi, berasal dari bahasa latin, yaitu consilium ( dengan atau bersama), yang dirangkai dengan menerima atau memahami. Dalam bahasa Anglo Saxon, istilah konseling berasal dari sellan, yang berarti menyerahkan atau menyampaikan. Berikut ini beberapa definisi konseling yang disusun oleh mereka yang ahli dibidang tersebut:

a. Menurut Burks dan Stefflre bahwa konseling mengindikasikan hubungan profesional antara konselor telatih Menurut Shertzer dan Stone, konseling adalah upaya membantu individu melalui proses interaksi yang bersifat pribadi antara konselor dengan konseli agar konseli mampu memahami diri dan lingkungannya, mampu membuat keputusan dan menentukan tujuan berdasarkan nilai yang diyakininya sehingga konseli merasa bahagia dan efektif perilakunya.

b. ASCA (American School Counselor Assosiation) mengemukakan, bahwa konseling adalah hubungan tatap muka yang bersifat rahasia, penuh dengan sikap penerimaan dan pemberian kesempatan dari konselor kepada klien. Konselor mempergunakan pengetahuan dan keterampilannya untuk membantu klien mengatasi masalah-masalahnya.

(32)

39

c. Carl Rogers, seorang psikolog humanistik terkemuka, berpandangan bahwa konseling merupakan hubungan terapi dengan klien yang bertujuan untuk melakukan perubahan self (diri) pada pihak klien. dengan klien. Hubungan ini biasanya bersifat individu ke individu, walaupun terkadang melibatkan lebih dari satu orang.8

2. Analisis Transaksional

a. Definisi Analisis Transaksional

Analisis transaksional adalah salah satu pendekatan yang memandang manusia memiliki kemampuan memilih bahwa apa yang sebelumnya ditetapkan bisa ditetapkan ulang. Meskipun manusia bisa menjadi korban dari putusan-putusan dini dan scenario kehidupan, aspek-aspek yang mengalihkan diri bisa diubah dengan kesadaran.9 Pendekatan ini juga merupakan suatu bentuk psikoterapi yang didasarkan bahwa teori hubungan antar manusia dapat dianalisis dalam pengertian transaksi antara satu sama lain sebagai ‘anak’, ‘orang dewasa’, dan ‘orang tua’.10

Analisis transaksional (AT) adalah psikoterapi transaksional yang dapat digunakan dalam terapi individual, tetapi lebih cocok untuk digunakan dalam terapi kelompok. AT

8 John Mc Leod, Pengantar Konseling Teori dan Studi Kasus, (Jakarta: Kencana, 2008), hlm.5.

9 Faizah Noer Laela, Bimbingan Konseling Sosial, (Surabaya: UIN SA Press, 2014), hlm. 107.

10 Sue Hinchilff, Kamus Keperawatan, (Jakarta: EGC, 1997), hal. 441

(33)

40

melibatkan suatu kontrak yang dibuat oleh konseli, yang dengan jelas menyatakan tujuan-tujuan dan arah proses terapi.

AT juga berfokus pada putusan-putusan awal yang dibuat oleh klien, dan menekankan kemampuan klien untuk membuat putusan-putusan baru. AT menekankan aspek-aspek kognitif- rasional-behavioral dan berorientasi kepada peningkatan kesadaran sehingga klien akan mampu membuat putusan- putusan baru dan mengubah cara hidupnya.

Pendekatan ini ditemukan oleh Eric Berne dan juga diuraikan oleh Thomas A. Harris11 berlandaskan suatu teori kepribadian yang berkenaan dengan analisis struktural dan transaksional. Teori AT ini menyajikan suatu kerangka bagi analisis terhadap tiga kedudukan ego yang terpisah yaitu orangtua, orang dewasa dan anak.

Sifat kontraktual proses terapeutik AT cenderung mempersamakan kekuasaan terapis dan klien adalah menjadi tanggung jawab klien untuk menentukan apa yang akan di ubahnya. Agar perubahan menjadi kenyataan, klien mengubah tingkah lakunya secara aktif. Selama pertemuan terapi, klien melakukan evaluasi terhadap arah hidupnya, berusaha memahami putusan-putusan awal yang telah dibuatnya, serta menginsafi bahwa sekarang dia menetapkan ulang dan

11 Charles V. Gerkin, Konseling Pastoral dalam Transisi, (Yogyakarta: Kanisius, 1992), hal. 242

(34)

41

memulai suatu arah baru dalam hidupnya. Pada dasarnya, AT berasumsi bahwa orang-orang bisa belajar mempercayai dirinya sendiri, berfikir dan memutuskan untuk dirinya sendiri, dan mengungkapkan perasaan-perasaannya.12

AT pertama kali diperkenalkan oleh Dr. Eric Berne pada tahun 1956. Awalnya Eric bertugas sebagai konsultan pada Surgeon General diminta untuk membuka program terapi kelompok di Ford Ord, bagi para serdadu yang baru usai perang Dunia kedua. Akibat doronngan itu, Eric menciptakan suatu teknik untuk menganalisa transaksi-transaksi antar pribadi dalam berkomunikasi. Prinsip-prinsip yang dikembangkan oleh Eric adalah upaya untuk merangsang rasa tanggung jawab pribadi atas tingkah lakunya sendiri, pemikiran yang logis, rasional, tujuan-tujuan yang realistis, berkomunikasi dengan terbuka, wajar, dan pemahaman dalam berhubungan dengan orang lain. Secara historis AT berasal dari psikoanalisa yang dipergunakan dalam konseling/terapi kelompok, tetapi kini telah dipergunakan pula secara meluas dalam konseling/terapi individual.13

12 Gerald Corey, Teori dan praktek konseling dan psikoterapi, (Bandung : PT Refika Aditama, 2013), hal 160

13 Dewa Ketut Sukardi, Pengantar Teori Konseling, (Jakarta: Graha Indonesia, 1984), hal. 206

(35)

42 b. Macam-macam Transaksi

Dalam AT ada tiga macam tipe transaksi, di antaranya:

Complementary (komplementer/senada), Crossed (silang), dan Urterior (terselubung). Untuk dapat memahami selintas tentang ketiga tipe itu, maka berikut penjelasannya:

Transaksi komplementer dalam transaksi minimal terdapat satu stimulus dan satu respons. Maka dari itu dalam transaksi komplementer terjadi secara kontinyu, stimulus-stimulus dan seterusnya yang secara langsung mengakibatkan timbulnya suatu masalah, sebab para pelakunya terikat dengan peran tertentu. Apabila terlalu lama atau dalam waktu yang terlalu lama akan mengakibatkan terjadinya kebosanan serta transaksi antara kedua belah pihak. Transaksi itu disebut komplementer apabila stimulus yang diberikan mendapat respons seperti apa yang diharapkan.

c. Tujuan AT

Tujuan AT ialah untuk memberikan kepada ego seseorang agar dewasa dalam mengambil keputusan yang melebihi kemampuan pada ego anak dan orang tua. Tujuan lain dari AT menurut Eric Berne dalam bukunya yang berjudul: “Principles of Group Treatment” mengemukakan empat tujuan yang ingin dicapai dalam Konseling AT, di antaranya:

(36)

43

1) Konselor dapat membantu klien yang mengalami kontaminasi (pencemaran) status ego yang berlebihan.

2) Konselor berusaha membantu mengembangkan kapasitas diri klien dalam menggunakan semua status egonya yang cocok. Ini menyangkut pula dalam memperoleh kebebasan dan kemampuan yang dapat ditembus di antara status egonya.

3) Konselor berusaha membantu klien dalam mengembangkan seluruh status ego dewasanya. Pengembangan ini hakekatnya adalah menetapkan pikiran dan penalaran individu. Untuk itu dibutuhkan suatu kemampuan serta kapasitas yang optimal dalam mengatur hidupnya sendiri.

4) Tujuan terakhir dari konseling adalah membantu klien dalam membebaskan dirinya dari posisi hidup yang kurang cocok serta menggantinya dengan rencana hidup yang baru atau naskah hidup (life script) yang lebih produktif.14

d. Tahapan Konseling AT

1) Tahap eksplorasi masalah Pada tahap ini yang terpenting adalah konselor menciptakan hubungan baik dengan klien, membangun saling kepercayaan, menggali pengalaman klien pada perilaku yang lebih dalam, mendengarkan apa yang menjadi perhatian klien, menggali pengalaman-

14 Dewa Ketut Sukardi, Pengantar Teori Konseling, hal. 224

(37)

44

pengalaman klien dan merespon isi, perasaan dan arti dari apa yang dibicarakan klien.

2) Tahap perumusan masalah Masalah-masalah klien baik afeksi, kognisi maupun tingkah laku diperhatikan oleh konselor. Setelah itu keduanya, konselor dan klien, merumuskan dan membuat kesepakatan masalah apa yang sedang dihadapi. Masalah sebaiknya dirumuskan dalam terminologi yang jelas. Jika rumusan masalahnya tidak disepakati perlu kembali ketahap pertama.

3) Tahap identifikasi alternatif Konselor bersama klien mengidentifikasi alternatif-alternatif pemecahan dari rumusan masalah yang telah disepakati. Alternatif yang diidentifikasi adalah yang sangat mungkin dilakukan, yaitu yang tepat dan realistik. Konselor dapat membantu klien menyusun daftar alternatif-altenatif, dan klien memilki kebebasan untuk memilih alternatif yang ada. Dalam hal ini konselor tidak boleh menentukan alternatif yang harus dilakukan klien.

4) Tahap perencanaan Jika klien telah menetapkan pilihan dari sejumlah alternatif, selanjutnya menyusun rencana tindakan. Rencana tindakan ini menyangkut apa saja yang akan dilakukan, bagaimana melakukannya, kapan dilakukan, dan sebagainya. Rencana yang baik jika

(38)

45

realistik, bertahap, tujuan setiap tahap juga jelas dan dapat dipahami oleh klien. Dengan kata lain, rencana yang dibuat bersifat tentatif sekaligus pragmatis.

5) Tahap tindakan atau komitmen Tindakan berarti oprasionalisasi rencana yang disusun. Konselor perlu mendorong klien untuk berkemauan melaksanakan rencana-rencana itu. Usaha klien untuk melaksanakan rencana sangat penting bagi keberhasilan konseling, karena tanpa ada tindakan nyata proses konseling tidak ada artinya.

6) Tahap penilaian dan umpan balik Konselor dan klien perlu mendapatkan umpan balik dan penilaian tentang keberhasilannya. Jika ternyata ada kegagalan maka perlu dicari apa yang menyebabkan dan klien harus bekerja mulai dari tahap yang mana lagi. Mungkin diperlukan rencana- rencana baru yang lebih sesuai dengan keadaan klien dan perubahan-perubahan yang dihadapi klien. Jika ini yang diperlukan maka konselor dan klien secara fleksibel menyusun alternatif atau rencana yang lebih tepat. Sesuai dengan apa yang diharapkan dari peneliti (konselor) dan klien, konseling yang diadakan membuahkan hasil yang memang tidak bisa dikatakan instan. Hasil yang dihasilkan oleh konseling yang tentunya juga dibantu dengan adanya

(39)

46

tindakan yang membantu klien mengatur dirinya sendiri melalui keputusan yang diambilnya.15

3. Shalat

a. Pengertian Shalat

Shalat adalah suatu kegiatan fisisk-mental spiritual yang memberikan makna bagi hubungan antara seorang muslim dengan Allah, dengan sesama manusia maupun diri sendiri.

Lebih dari itu, dengan shalat Allah SWT. Merealisasikan kasih sayanganya pada manusia agar hidup dalam kebahagiaan.

Karna shalat akan menjadi sumber kedamaian hati bagi setiap insan yang melaksanakannya dengan khusu’, penuh kehidmatan dan semata-mata karna Allah.

Shalat secara etimologis mengandung arti berdo’a memohhon kebaikan dan pujian. Sedangkan secara hakikat mengandung pengertian “berhadap hati (jiwa) kepada Alllah dan mendatangkan takut pada-Nya, serta menumbuhkan rasa keagungan, kebesaran dan kesempurnaan sang khalik di dasar jiwa. Adapun menurut pemahaman ilmu fikih, salat merupakan rangkaian perbuatan, dan perkataan yang dimulai dengan dan di akhiri degan salam.16

15 Destri Dkk, “Pelatihan Analisis Transaksional Untuk Peningkatan Kemampuan Komunikasi Interpersonal Pada Perawat Poli Eksekutif Di Pavilion Nusa Indah Rsud Dr Adhytma Mph Provinsi Jawa Tengah” Vol.( Yogyakarta: fakultas psikologi universitas mercu buana yogyakarta, Agustus 2016), 17.

16ةصوصخم طورشب ميلستلاب ةمتتخمو ريبكتلاب ةحتتفملاعفأو لاوقأ

(40)

47

Secara umum, kita mengenal dua macam shalat, yaitu sahalat fardu dan shalat sunnat. Sahalat fardu adalah sahalat yang diwajibkan untuk dikerjakan bagi tiap-tiap mmuslim yang telah balig (dewasa) yang meliputi shalat Subuh, Zuhur, Ashar, Magrib, Isya’. Sementara shalat sunnat adalah shalat- shalat yang dianjurkan atau diutamakan untuk dikerjakan baik yang termasuk dalam rangkaian shalat fardu seperti shalat rawatib, maupun yang tidak dalam rangkaian shalat fardu antara laian Tahajjud, Tarawih, Istisqa’, Istikaharah dan shalat sunnat lainya.17

b. Shalat adalah dzikir

Dzikir berasal dari bahasa arab yaitu dzakaro, yadzkuru, dzikronyang berarti mengingat18. Berarti segala yang berkaitan dengan mangingat itulah dzikir itu menurut bahasa.Zikir secara bahasa bermakna ingat kepada Allah dengan menghayati kehadiranya, kemahaterpujianya, dan kemahakebesaranya.

Zikir merupakan sikap batain yang biasanya di ungkapkan melalui ucapan tahlil (Laa ilaaha illallah, artinya tida tuhan selain Allah), tasbih (subhanallah artinya maha suci Allah), dan takbir (Allahu Akbar artinya Allah mahabesar) yang smuanya sudah tercantum didalam shalat. 19

17Tristiadi Ardi Ardani, Psikiatri islam, (Malang: UIN-Malang Pers, 2008), hal 331-332.

18Muhammad Yunus, Kamus Arab Indonesia, (Jkarta: Karya Agung, 1990), hal 134.

19Tristiadi Ardi Ardani, Psikiatri... hal 332

(41)

48 Allah berfirman dalam Al-qur’an:

هط( يركذل ةلاصلا مقأ -

41 ) Artinya: Dirikanlah untuk megingatku20

دعرلا( بولقلا نئمطت الله ركذب لاأ الله ركذب مهبولق نئمطتو اونمأ نيذللأ -

82 )

Artinya: Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatkan, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.21

Bayak orang yang ketika berdzikir menginagat Allah tidak pernah mendapatkan apa yang di janjikan oleh Allah berupa ketenangan hati, karna mereka tidak pernah melakukanetika/ tata tertib dalam berdzikir mengingat Allah. Adapun tata tertibnya ialah:22

1) Dzikir yang batin, yakni hatinya mengingat makna dzikir dikala lidah menyebut sebutan-sebutanya.\

2) Tempat suci bersih, terlepas dari segala yang membingungkan hati atau perasaan.

3) Membersihkan mulut sebelu memulai dzikir.

b. Hikmah dan faidah-faidah shalat

Lukman Hakim23 berkata “Begitu besar perhatian sang khalik kepada kita sebagai manusia, sehingga diturunkanya ibadah shalat.

Andaikan kita mau mempergunakan akal kita untuk menyelami

20 QS. Taha: (20) 16.

21QS .Ar-ra’ad (13) 28.

22Ibid,.

23Lukman Hakim Saktiawan, Keajaiban Shalat Menurut Ilmu Kesehatan Cina, (Bandung: Mizan Pustaka, 2007), hlm 181.

(42)

49

hakikat dan manfaat shalat, niscaya kita akan melakukan shalat dengan sungguh-sungguh”, karrna Allah tidak pernah menciptakan sesuatu dan memerintahkan hambanya untuk mengerjakanya sia- sia dan tanpa ada tujuan. Pasti disana terselip hikmah dan manfaat.

Misalnya perintah wajib shalat.24

ءاسنلأ( اتوقوم اباتك نينمؤملا ىلع تناك ةولصلا نا -

401 )

Artinya: sesungguhnya sahalat itu ialah kewajiaban yang ditentukan waktunya atan orang-orang beriman.25

كذ كلذ تائيسلا نبهذي تانسحلانا ليللانم افلزو راهنلا يفرط ةولصلا مقأو ىر

دوه( نيركذلل -

441 )

Artinya: Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan daripada malam.

Sesungguhnya perbuatan yang baik itu menghapus (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah pernggatan bagi orang- orang yang ingat.26

ةرقبلا( نيتناق لله اوموقو ىطصولا ةلاصلاو تاولصلا يلع اوظفاح -

812 )

Artnya: Pliharalah semua shalatmu, dan pliharalah sahalat wustha, berdirilah karna Allah (dalam shalatmu dengan ) khusyuk.27

نونمؤملا(نوعش اخ مهت ولص يف مه نيذلا * نونم ؤملا حلفا دق 4

- 8 )

24لاطاب اذه تقلخ امو

25QS. An-nisa’: (4) 103.

26QS. Hud (11): 114.

27Al-baqarah (2): 238.

(43)

50

Artinya: sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang yang khusyu’ dalam shalatnya.28

بلا(نَنيعشخلا ىلع لاا ةريبكل اهناو ِةولصلاوَ ربصلاب ا ونْيِعَتْساو ةرق

- 14 )

Artinya: “Jadikalah shalat dan sabar sebagai penolongmu.

Dan yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.29

اونمأ نيذللأ دعرلا( بولقلا نئمطت الله ركذب لاأ الله ركذب مهبولق نئمطتو

- 82 )

Artinya: Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatkan, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.30

4. Shalat sebagi terapi.

a. Gerakan-gerakan shalat.

Berdiri tegak menghadap kiblat :31

1) Kepala agak menunduk ke depan: Membuat tulang leher pada bagian sendi atas mengalami perenggangan otot ringan.

2) Badan tegak: Ruas-ruas tulang belakang mengalami penyempurnaan letak.

3) Posisi berdiri tegak: membuat aliran sistem dan pola saraf menjadi lancar.

28QS. Al- Mu’minun (23): 1-2

29QS. Al-Baqarah (2):45

30QS . Ar-ra’ad (13) 28.

31Lukman Hakim Saktiawan, Keajaiban.... Hlm. 92

(44)

51

4) Posisi kedua telapak kaki sejajar dan lurus: membentuk jaringan otot kaki yang kokoh.

b. Takbiratul ihram.32

1) Kedua tangan terangkat: Meimbulkan konteraksi otot dan sistem saraf pada pundak. Membantu membuka saluran- saluran dari kepala ke tangan dan melepaskan tekanan di kepala. Dan otot dan rongga dada mengalami tarikan ringan, membantu pernapasan.

2) Kedua tangan terlipat di depan badan: Merupakan pemijatan ringan pada titik sraf ditangan yang merupakan saluran chi33. Sirkulasi darah menjadi lebih baik. Dan mencegah rematik.

c. Ruku’34

1) Kepala/otak: Terjadi peningkatan fungsi otak keseimbangan.

2) Punggung: Otot meregang. Gerbang-gerbang chi terstimulasi dan aliran chi menjadi lancar. Tulang belakang menjadi lentuk.

3) Pinggang: Sistem saraf yang sngat banyak terdapat di penggang menjadi terpacu.

32Ibid., hal 100.

33Chi adalah bentuk energy tubuh internal (Yin).

34Ibid., hlm. 104

(45)

52

4) Bagian belakang kaki: Terjadi proses peregangan yang membantu merileksasikan otot-otot yang kaku dan membuka saluran-saluran yang tersumbat

5) Tangan menopang tubuh di lutut: Terjadi proses pemijatan ringan dijalur hati dan kantong empedu.

d. I’tidal 35

Grakan bangkit dari rukuk bermanfaat untuk mengfungsikan otot-otot punggung. Dan pinggang aktif dan terkontraksi dengan semua jaringan otot di punggung dan di paha.

e. Sujud36

1) Kepala:Letak kepala yang turun memperlancar aliran darah sekaligus oksigen ke otak, Pikiran menjadi tenang, dinding urat nadi otak terlatih menerima aliran darah yang deras, dan ini mencegah kematian akibat pecahnya urat darah di otak.

2) Dada: Sewaktu menarik nafas dalam sujud, tulang dada terangkat dan maju, rongga dada bertumbuh besar dan paru-paru berkembang baik dan dapatt mengisap udara secara lebih optimal.

35Ibid., hlm. 120

36Ibid., hlm.122

(46)

53 f. Duduk diantara dua sujud.37

Dalam sikap ini kita duduk dengan pangkal paha, sarap pangkal pahaa besar tterpijit, pijatan ini menghindarkan kita dari penyakit pangkal paha, dan posisi ini juga mencegah penyakit wasir.

g. Duduk tahyat awal.38

1) Kaki kiri menyangga beban badan: Menstimulasi banyak impuls seperti kandung kemih, limpatik, pinggul dan lian- lain.

2) Jari-jari kaki kanan merenggang seperti orang berjingkat:

Mensetimulasi beberapaa organ internal seperti pituitari, implus tenggorokan, implus telinga, implus mata Dll.

h. Duduk tahyat akhir.39

1) Jari-jari kaki kanan yang berdiri: Menguatkan otot-otot telapak kaki dan mencegah penyakit ”telapak kaki rata”.

2) Tumit kiri menekan daerah prineum: Mencegah penyakit wasir dan parises pada paha dan betis.

i. Salam (menengok ke kanan dan ke kiri).40

1) Leher: Otot-otot leher dan tengkuk menjadi kuat, sirkulasi darah menjadi lebih baik, gerbang chi tidak tersumbat dan dapat lancar beredar.

37Ibid., hlm. 136

38Ibid., hlm. 132

39Ibid., hlm.135

40Ibid., hlm. 140

(47)

54

2) Kepala: Otot-otot dan jaringan saraf mengendur, peredaran, oksigen dan chi ke otak mencadi lancar, dan pikiran jernih 5. Waktu mengerjakan shalat.41

a. Shalat subuh: sebagai terapi paru-paru.

Shalat ini dilakukan pda pagi hari. Manfaatnya berhubungan dengan paru-paru. Saat subuh kita menghirup udara bersih, oksigen yang massih segar. Dari paru-paru darah mengambil ”bahan bakar” yang masih baru dan bersih.

Ahiranya keseluruhan organmenerima pasokan nutrisi yang bersih. Selanjutnya tubuh menjadi segar kembali. Otak menjadi jernih karna menerima pasokan darah yang membawa oksigen yang masih segar. Dengan demikian tubuh dipersiapkan untuk menghadapi aktivitas pada hari itu.

b. Sahalat zuhur: sebagai terapi jantung.

Shalat ini dilakukan saat udara sudah panas, sehingga meningkatkan emosi kita. Ini karna pada saat itu kerja jantung mencapai puncaknya. Dengan shalat, dan dipadukan denganbasuhan air dingin saat wudhu, kita menurunkan hawa panas jantung sehingga kembali stabil. Ahirnya hal ini memengaruhi sistem lainya, karena fungsi jantung yang merupakan ”penguasa” pembuluh-pembuluh. Jantung

41Lukman Hakim Saktiawan, Keajaiban .., hlm. 177-179.

(48)

55

memompa darah agar selalu mengalir untuk membawa sari-sari makanan yang dibutuhkan oleh organ-organ lainya.

c. Shalat asar: sebagai terapi kandung kemih.

Shalat ini dilakukan pada sore hari, waktu yang menjadi pembatas siklus hawa udara panas menuju dingin. Bagi organ manusia, ini adalah masa udara untuk membuang sisa proses kimiawi di dalam tubuh kita yang berlangsung selama aktivitas sepanjang siang.

d. Shalat magrib: sebagai terapi ginjal.

Shalat ini dilakuakn setelah matahari terbenam hingga lenyap mega-mega merah di sebelah barat.Setelah hawa udara semakin menurun, system ginjal juga milai menyesuaikan diri dengan energy (chi) di sekitarnya.Pada waktu magrib, mulai terjadi penurunan aktivitas dan tubuh kita menyesuaikan diri dengan hawa di sekitarnya yang semakain mendingin.Dengan melakukan gerakan-gerakan shalat, energy panas (Yang) dalam tubuh selalu terjaga agar tetap seimbang.

e. Sahalat isya: sebagai terapi prikardium.

Shalat ini dilakukan sehabis waktu magrib hingga menjelang subuh.Pada saat ini, dimulailah system penurunan kerja organ internal yang telah digunakan dalam aktivitas sehari. Seluruh tubuh memasuki masa istirahat, terutama pada kerja jaringan yang digunakan untuk gerak dan berfikir. Waktu

(49)

56

ini juga disebut sebagai waktu rileksasi, pengenduran dan penormalan organ, jaringan otot, sistem saraf, dsb. Gerakan- gerakan shalat mendukung kerja prikardium yang membuanag kelebihan energi dari jantung, dengan dilepaskanya kelebihan energi secara alamiah, terciptalah stabilitas tingkat enrgi jantung sehingga proses istirahat tubuh menjadi sempurna.

6. Kiat-Kiat Shalat Khusyu’

Khusyu’ sesungguhnya merupakan salah satu dari amalan shalat yang wajib dan harus disertai dengan ikhlas seperti pada amalan yang lainnya. Karena itu, ketika seseorang beramal hendaklah ia khusyu’

dan ikhlas karena Allah SWT.

Dalam bukunya 20 Tuntunan Khusyu’ Shalat., M. Thalib setidaknya membagi khusyu’ dalam shalat menjadi dua bagian, yaitu:

pertama, lahiriyah. Yakni melakukan gerak-gerik shalat dan ucapannya sesuai dengan tuntunan dan anjuran Rasulullah saw. Kedua, batiniah.

Yaitu melakukan shalat dengan hati penuh rasa harap, cemas, takut, merasa diawasi dan Susana mendukung terciptanya pelaksanaan lahir batin dalam melakukan shalat khusyu.

Untuk dapat mencapai khusyu’ dalam shalat, M. Thalib, setidaknya telah mencoba merangkimnya, kedalam dua puluh langkah:

a. Bila lapar, makan lebih dahulu b. Tidak menahan kencing c. Tidak mengantuk

(50)

57 d. Berpakaian baik dan bersih e. Udara tidak panas

f. Melakukan shalat diawal waktu

g. Pergi ke masjid dengan tenang dan didahului dengan do’a, juka shoalat di masjid

h. Tempat sholat harus bersih dari kotoran i. Tempat shalat bersih dari gambar j. Tempat shalat tidak bising

k. Ketika shalat pikiran tidak disibukkan oleh urusan duniawi l. Tidak tergesa-gesa melakukan bacaan dan gerakan sholat m. Menyadari bacaan yang diucapkan

n. Ruku’ dan sujud dengan tenang o. Tidak menoleh ke kanan ataua ke kiri p. Melihat ke tempat sujud

q. Tidak mengusap pasir ke tempat sujud r. Tidak menguap

s. Tidak meludah kecuali terpaksa

t. Meluruskan dan merapatkanshaf dalam shalat berjamaah.

Orang yang bisa mencapai khusyu’ dalam shalatny, insyaallah ia akan dapat merasakan manfaaat pada dirinya. Sebab khusyu’

mempunyai pengaruh yang besar dan kuat bagi seseorang.42

42 Musbikin, Imam, Rahasia Shalat Bagi peneyembuhan Fisik dan Fsikis (Yogyakarta: Mitra Pustaka, 2007), hlm.55-57.

(51)

58 G. Metode Penelitian

1. Pendekatan Penelitian

Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode penelitian kualitatif. Yang mana penelitian kualitatif adalah penelitian yang menekankan pada quality atau hal yang terpenting dari sifat suatu barang atau jasa. Hal terpenting dari suatu barang atau jasa berupa kejadian atau fenomena atau gejala sosial adalah makna dibalik kejadian tersebut yang dapat dijadikan pelajaran berharga bagi suatu pengembangan konsep teori.43

Menurut Denzin dan Lincoln, penelitian kualitatif merupakan penelitian yang menggunakan latar ilmiah, dengan maksud menafsirkan fenomena yang terjadi dan dilakukan dengan jalan melibatkan berbagai metode yang ada. Kemudian Creswell mengemukakan bahwa penelitian kualitatif adalah suatu proses inquiry tentang pemahaman berdasar pada tradisi-tradisi metodologis terpisah;

jelas pemeriksaan bahwa menjelajah suatu masalah sosial atau manusia.44

Dari pemaparan di atas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa penelitian kualitatif merupakan salah satu pendekatan penelitian yang dapat digunakan dengan melihat fenomena atau kejadian sosial secara nyata (diamati langsung) dan kemudian dikemas dalam bentuk laporan sehingga hasilnya dapat dipahami.

43 Djam’an Satori Dan Aan Komariah, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Alfabeta, 2017), hlm. 22.

44 Ibid., hlm. 23-24.

(52)

59 2. Kehadiran Peneliti

Dalam penelitian ini digunakan pendekatan kualitatif yang mana kehadiran peneliti mutlak dibutuhkan karena peneliti berperan penting dalam lokasi penelitian (lapangan). kehadiran peneliti bukan ditujukan untuk memengaruhi subjek namun untuk mendapatkan data dan informasi yang akurat dan secara langsung. Adapun cara yang peneliti gunakan dalam mendapatkan informasi adalah dengan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi.

Dalam pelaksanaannya, peneliti hadir sejak diizinkan untuk melakukan penelitian di lokasi dengan cara mendatangi lokasi tersebut pada waktu-waktu tertentu tanpa menggunakan jadwal secara formal.

Adapun tujuan utama kehadiran peneliti di lokasi penelitian yaitu untuk pencarian dan mengkaji data guna mendapat data yang lebih valid dan akurat seperti yang diharapkan oleh peneliti.

3. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian yang dipilih oleh peneliti adalah Laboratorium Konseling dan Psikologi Al-Tazkiah UIN Mataram. Alasan peneliti memilih lokasi tersebut adalah:

a. Memudahkan peneliti dalam mendapatkan data di lapangan dan untuk menghemat tenaga serta biaya karena lokasi penelitian dekat dengan tempat tinggal peneliti.

(53)

60

b. Melihat program yang diterapkan dalam mendukung.

Laboratorium ini merupakan salah satu Laboratorium yang banyak melakukan praktik konseling dan psikologi

4. Sumber Data

Sumber data dalam penelitian kualitatif adalah subjek penelitian atau informan, atau subjek dari mana data diperoleh.45

a. Data Primer

Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari sumbernya, baik melalui wawncara maupun observasi. Subjek penelitian ini adalah orang yang bersedia memberikan informasi terkait permasalahan yang dilaksanakan. Dalam hal ini, yang menjadi informan yaitu Ketua Jurusan BKI Bapak Rhendra Khaldun, M.Ag. Direktur Laboratorium Konseling dan Psikologi Al-Tazkiah Lalu Abdurrahman, M.A. dan Anggota Laboratorium Konseling dan Psikologi Al- Tazkiyah yang merupakan sasaran atau target penelitian.

b. Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh dari dokumen- dokumen, buku-buku yang berhubungan langsung dengan obyek penelitian, yang berbentuk laporan, skripsi, tesis disertasi dan perundang-undangan.

45 Pedoman Penulisan Skripsi Tahun 2018, hlm. 29.

(54)

61 5. Teknik Pengumpulan data

Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling utama dalam penelitian karena tujuan utama dari penelitian adalah untuk mendapatkan data dan informasi.

a. Observasi

Observasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti pengamatan atau peninjauan secara cermat. Menurut Alwasilah, observasi adalah penelitian atau pengamatan sistematis dan terencana yang diniati untuk perolehan data yang dikontrol validitas dan reliabilitasnya. Syaodih N. mengatakan bahwa observasi atau pengamatan merupakan suatu teknik atau cara mengumpulkan data dengan jalan mengadakan pengamatan terhadap kegiatan yang sedang berlangsung.46

Dari pernyataan tersebut peneliti menyimpulkan bahwa observasi adalah salah satu teknik yang dapat digunakan dalam memperoleh data lapangan dengan cara mengamati langsung aktivitas yang dilakukan oleh subjek atau target yang akan diteliti.

Observasi digunakan dalam teknik kualitatif karena suatu objek hanya dapat diungkap datanya apabila peneliti menyaksikan langsung. Di samping itu, peneliti ingin mengungkap gerak-gerik, sikap, suasana, dan kesan yang akan

46 Djam’an, Metodologi, hlm. 104-105.

(55)

62

ditangkap setelah melakukan observasi. Suatu usaha pengamatan dikatakan sebagai teknik observasi karena memiliki kriteria sebagaimana dikatakan oleh Selltiz, yaitu:

1) Pengamatan digunakan dalam penelitian dan telah direncanakan secara serius.

2) Pengamatan harus berkaitan dengan tujuan penelitian yang telah ditetapkan.

3) Pengamatan dicatat secara sistematik dan dihubungkan dengan proposisi umum dan bukan dipaparkan sebagai suatu yang hanya menarik perhatian.

4) Pengamatan dapat dicek atau dikontrol mengenai keabsahannya.47

b. Kuesioner (Angket)

Kuesioner (angket) merupakan metode pengumpulan data untuk memahami individu dengan cara memberikan suatu daftar pertanyaan tentang berbagai aspek kepribadian individu.48 Melalui kuesioner ini, peneliti menjadi lebih mudah dalam menggali informasi pribadi subjek yang terlibat dalam penelitian.

Bagian yang mengandung data identitas ialah bagian yang mengandung data tentang diri individu. Sedangkan bagian yang mengandung pertanyaan fakta atau opini dapat diperoleh

47 Djam’an, Metodologi... hlm. 107-108.

48 Susilo Rahardjo Dan Gudnanto, Pemahaman Individu Teknik Non-Tes, (Jakarta:

Kencana, 2013), hlm. 94.

(56)

63

melalui tiga macam bentuk, yaitu pertanyaan tertutup, terbuka, tertutup dan terbuka.

Dalam hal ini, peneliti menggunakan pertanyaan tertutup karena melalui pertanyaan ini responden lebih mudah dalam mengisi angket dan bersifat terikat artinya responden tinggal memilih jawaban yang telah disediakan di dalam kuesioner tersebut.49

c. Wawancara

Wawancara merupakan komunikasi atau percakapan antara pewawancara (interviewer) dan terwawancara (interviewee).

Menurut Berg, wawancara merupakan suatu percakapan dengan suatu tujuan, khususnya tujuan untuk mengumpulkan informasi. Sedangkan Sudjana menyatakan bahwa wawancara adalah proses pengumpulan data atau informasi melalui tatap muka antara pihak penanya dengan pihak yang ditanya (narasumber).50

Dalam hal ini, peneliti dapat menyimpulkan bahwa melalui teknik wawancara akan memudahkan peneliti untuk memperoleh data atau informasi secara detai karena selain melakukan pengamatan wawancara ini akan memberikan informasi yang belum didapatkan melalui tahap observasi

49 Ibid., hlm. 96

50 Ibid., hlm. 129-130

(57)

64

Peneliti melakukan wawancara bermaksud untuk mengungkap data dan informasi dari sumber langsung yang sifat datanya berhubungan dengan makna-makna yang berada dibalik perilaku atau situasi sosial yang terjadi.

1) Mengkonstruksi mengenai orang, kejadian, organisasi, perasaan, motivasi, tuntutan, kepedulian, dan lain-lain.

2) Memverifikasi, mengubah, dan memperluas informasi yang diperoleh dari orang lain, baik manusia maupun bukan manusia (triangulasi)

3) Memverifikasi, mengubah, dan memperluas konstruksi yang dikembangkan oleh peneliti sebagai pengecekkan anggota.51

d. Dokumentasi

Dokumentasi berasal dari bahasa latin yaitu docere yang berarti mengajar. Dalam bahasa inggris disebut document yaitu

something written or printed, to be used as a record or evidence” atau sesuatu tertulis atau dicetak untuk digunakan sebagai suatu catatan atau bukti. Menurut McMillan dan Schumacher, dokumen merupakan rekaman rekaman kejadian masa lalu yang ditulis atau dicetak, dapat berupa catatan anekdotal, surat, buku harian, dan dokumen-dokumen.52

51 Ibid, hlm. 132

52 Ibid.... h. 146-147.

Referensi

Dokumen terkait

Adapun faktor – faktor yang menyebabkan cacat antara lain adalah kurangnya penerangan pada ruang produksi dengan nilai RPN sebesar 750, kurangnya ventilasi udara

a) Faktor-faktor yang determinan menyebabkan munculnya perilaku membolos peserta didik SMP Perintis terdiri dari beberapa hal: Pertama, faktor pendidik yang

Hasil observasi menunjukan bahwa siswa yang menjadi anggota kelompok (subjek penelitian) pada setiap pertemuan semakin meningkat dinamika kelompoknya, ditandai

Permasalahan berikutnya yang muncul dengan skema pembagian rahasia ini adalah bahwa anggota kelompok mungkin saja tidak saling mengetahui satu sama lainnya sehingga

dakwah Nabi Muhammad SAW peiode Madinah bab 4 faktor-faktor yang mendukung dakwah Nabi Muhammad periode Madinah bab 5 Sejarah pertumbuhan perkembangan dan keruntuhan

Faktor-faktor yang menyebabkan adanya penyimpangan produk yang dihasilkan antara lain manusia (perbedaan ketrampilan, kurang memahami IM produksi, serta kurang teliti

Penerapan Konseling Behavioral Dengan Teknik Self Management Untuk Meningkatkan Konsep Diri Siswa Kelas VIII B3 SMP Negeri 4 Singaraja e-journal Undiksa Jurusan

Penelitian lain yang dilakukan Triyoso Adi Puspito dalam skripsinya tahun 2015 yang berjudul Layanan Konseling Kelomppok dengan Pendekatan Rasional- Emotive Behavior Theraphy REBT