• Tidak ada hasil yang ditemukan

Krisis Identitas pada Remaja Aktvis Organisasi

N/A
N/A
153@Zahra Lutfiannisa

Academic year: 2025

Membagikan "Krisis Identitas pada Remaja Aktvis Organisasi"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

KRISIS IDENTITAS PADA REMAJA AKTIVIS

Disusun Guna Memenuhi Tugas Akhir Mata Kuliah Psikologi Perkembangan Kelas 2D Kelompok 5

Firman Dwi Maulana – 202360145 Zahra Lutfiannisa – 202360153 Nasjwa Revalina Kaila Isnaini – 202360191

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menyelesaikan permasalahan krisis identitas remaja aktivis organisasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif melalui observasi dan interview. Subjek berasal dari organisasi PII (Pelajar Islam Indonesia) yang berjumlah 3 remaja SMA/Sederajat. Hasil yang diharapkan dari penelitian ini dapat menjadi salah satu rekomendasi bagi remaja aktivis organisasi untuk lebih memfokuskan pencarian identitas agar terhindar dari krisis identitas, sehingga dapat menjadi individu yang tangguh maupun berkarakter luhur dan kontributif bagi masyarakat serta organisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga partisipan memiliki perbedaan faktor yang memengaruhi tingkat krisis identitas dalam diri mereka, namun sebagian besar memiliki kecenderungan pada faktor. Dari hasil data yang didapatkan melalui wawancara dapat disimpulkan bahwa remaja aktivis telah memiliki prinsip hidup masing-masing walaupun cenderung memiliki keraguan akan pandangan ke depan.

Kata Kunci : Remaja Aktivis, Krisis Identitas.

PENDAHULUAN

Identitas diri merupakan suatu bentuk pemahaman tentang diri sendiri, yang dipakai seseorang untuk menjelaskan siapakah dirinya, yang meliputi karakteristik diri, memutuskan hal-hal yang penting dan patut dikerjakan untuk masa depannya serta standar tindakan dalam mengevaluasi perilaku dirinya ke semua hal sehingga seseorang merasa sebagai pribadi yang unik dan berbeda dari orang lain dalam interaksi dengan lingkungan sosialnya. Menurut (Santrock, 2003) krisis identitas merupakan keadaan dimana remaja mengalami kebingungan dalam mempertimbangkan suatu kesadaran guna membuat keputusan dan komitmen. Krisis identitas yang berkepanjangan selama masa remaja, akan menyebabkan remaja menjadi kehilangan arah, bagaikan kapal kehilangan kompas. Ketidakmampuan dalam Self control, takut dalam membuat keputusan, ketidakmampuan dalam bergaul dengan teman sebaya, tidak Mempunyai keterampilan/skillbaru, tidak mendapat gambaran diri (pemikiran, minat, hal yg menyenangkan atau tidak, kekurangan,circleyg cocok).

(2)

Berdasarkan data yang dikeluarkan BPS (Badan Pusat Statistik) tahun 2014, statistik kriminal pada tahun 2005 terdapat 58 kasus perkelahian antar pelajar/mahasiswa, lalu pada tahun 2008 meningkat menjadi 62 kasus perkelahian dan pada tahun 2011 kembali menurun menjadi 58 kasus perkelahian antar pelajar. (BPS, 2014).

Berdasarkan data yang dihimpun Kementerian Kesehatan Indonesia, dikeluarkan data yang sungguh mengejutkan yakni pada remaja usia 15 sampai 19 tahun pada tahun 2010 terdapat 827 kasus HIV, pada tahun 2011 terdapat 683 kasus, tahun 2012 sebanyak 697 kasus, tahun 2013 meningkat sebanyak 1058 kasus HIV dan tahun 2015 terdapat 813 kasus.

(InfoDATIN Kemenkes R1, 2014).

Data Kemenkes (Kementerian Kesehatan) bahwa remaja usia 16-19 tahun yang merokok meningkat 3 kali lipat dari 7,1% tahun 1995 menjadi 20,5% pada tahun 2014.

Didapatkan juga hasil bahwa tingkat kecanduan atau adiksi pada anak SMA (Sekolah Menengah Atas) yang merokok cukup tinggi, yaitu 16,8%, artinya satu orang dari setiap lima orang remaja yang merokok, telah mengalami kecanduan. (Depkes RI, 2016).

Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) juga menyatakan bahwa pada usia remaja usia 15-19 Tahun, proporsi terbesar berpacaran pertama kali pada usia 15-17 tahun. Sekitar 33,3% remaja perempuan dan 34,5% remaja laki-laki yang berusia 15-19 tahun mulai berpacaran pada saat mereka belum berusia 15 tahun. Pada usia tersebut dikhawatirkan belum memiliki keterampilan hidup (life skills) yang memadai, sehingga mereka berisiko memiliki perilaku pacaran yang tidak sehat, antara lain melakukan hubungan seks pranikah. Pada survei yang dilakukan pada tahun 2007 dan 2012 terdapat peningkatan persentase seks pranikah pada remaja usia 15-19 tahun walaupun tidak terlalu signifikan dibanding pada usia 20-24 tahun Secara umum, remaja laki-laki lebih banyak yang menyatakan pernah melakukan seks pra nikah dibandingkan perempuan. Dari survei yang sama di dapatkan alasan hubungan seksual pranikah tersebut sebagian besar karena penasaran/ingin tahu (57,5% pria), terjadi begitu saja (38% perempuan) dan dipaksa oleh pasangan (12,6 % perempuan). (InfoDATIN Kemenkes RI, 2015).

KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) menyatakan bahwa jumlah pengguna narkoba di usia remaja naik menjadi 14 ribu jiwa dengan rentang usia 12 – 21 tahun (KPAI, 2016), dan data ini didukung oleh BNN (Badan Narkotika Nasional) bahwa alasan penyalahgunaan narkoba yang paling banyak ditemukan ditemukan adalah karena ingin mencoba narkoba (65%), diajak/dibujuk teman (55%), dan bersenang-senang (19%). (BNN, 2016)

1. James Marcia (Development States Theory)

Marcia (1993) mengatakan bahwa identitas diri merupakan komponen penting yang menunjukkan identitas personal individu. Semakin baik struktur pemahaman diri seseorang berkembang, semakin sadar individu akan keunikan dan kemiripan dengan orang lain, serta semakin sadar akan kekuatan dan kelemahan individu dalam menjalani kehidupan.

(3)

Sebaliknya, jika kurang berkembang maka individu semakin tergantung pada sumber-sumber eksternal untuk evaluasi diri.

Faktor :

Eksplorasi identitas : Remaja mencoba berbagai kemungkinan identitas melalui eksplorasi peran, nilai-nilai, dan keyakinan.

Komitmen identitas : Remaja yang telah mencapai identitas yang tercapai menunjukkan komitmen terhadap pilihan identitas mereka dan siap menghadapi tantangan masa depan.

Eksplorasi identitas merupakan proses pencarian jati diri untuk terbuka dengan segala hal maupun kesempatan yang dapat menghasilkan kecocokan atau tidaknya remaja dalam suatu bidang yang merupakan representasi dari dirinya, eksplorasi tentunya bukanlah perkara yang mudah dan instan, perlu keberanian, kesabaran, kesungguhan, serta waktu yang panjang dalam prosesnya karena remaja seringkali hanya berfokus untuk kesenangan di usia awal kemandiriannya ini.

Selanjutnya komitmen identitas akan dicapai ketika seorang remaja telah menemukan identitasnya, keteguhannya dalam memikul identitasnya ini akan terlihat dalam caranya menjalani hidup. Namun pada kenyataannya remaja akan melewati fase badai sehingga ia dapat terpengaruh dengan hal-hal di luar identitasnya. Jika seorang remaja telah menemukan identitasnya melalui eksplorasi maka remaja harus berusaha semaksimal mungkin menanggung konsekuensi dari identitas yang pasti akan berbeda satu dengan yang lainnya.

Menurut Marcia (1993) status identitas dibagi menjadi 4 tahap:

1. Status identitas pertama, difusi identitas, menggambarkan generasi muda yang belum mengeksplorasi atau berkomitmen terhadap identitas tertentu. Dengan demikian, status identitas ini mewakili rendahnya tingkat eksplorasi dan rendahnya tingkat komitmen.

Para remaja ini belum mempertimbangkan identitasnya sama sekali, dan belum menetapkan tujuan hidup apa pun. Mereka reaktif, pasif menjalani kehidupan dan menghadapi setiap situasi yang muncul. Motivasi utama mereka adalah hedonis;

penghindaran ketidaknyamanan dan perolehan kesenangan.

2. Status identitas yang kedua adalah status penyitaan identitas. Status identitas ini mewakili tingkat eksplorasi yang rendah namun tingkat komitmen yang tinggi. Pada status identitas ini remaja tidak secara aktif berusaha menentukan apa yang penting bagi dirinya. Mereka tidak mempertanyakan nilai-nilai dan keyakinan yang telah diajarkan kepada mereka. Sebaliknya, para remaja ini memperoleh identitas mereka hanya dengan menerima keyakinan dan nilai-nilai keluarga, komunitas, dan budaya mereka. Dalam arti tertentu, mereka secara pasif menerima identitas yang diberikan kepada mereka. Meskipun kaum muda ini berkomitmen pada nilai-nilai dan tujuan hidup yang diberikan kepada mereka, mereka tidak mempertanyakan mengapa mereka harus melakukan hal tersebut, dan mereka juga tidak mempertimbangkan alternatif apa pun.

(4)

3. Status identitas ketiga disebut moratorium. Status identitas ini mewakili tingkat eksplorasi yang tinggi namun tingkat komitmen yang rendah . Pada status ini, remaja berada di tengah “krisis” identitas yang mendorong mereka untuk mengeksplorasi dan bereksperimen dengan nilai, keyakinan, dan tujuan yang berbeda. Namun, mereka belum membuat keputusan akhir mengenai keyakinan dan nilai mana yang paling penting bagi mereka, dan prinsip mana yang harus menjadi pedoman hidup mereka.

Dengan demikian, mereka belum terikat pada identitas tertentu. Mereka tetap membuka pilihannya.

4. Status identitas terakhir adalah pencapaian identitas. Status identitas ini mewakili tingkat eksplorasi yang tinggi dan komitmen yang tinggi. Remaja dikatakan mencapai identitasnya melalui proses eksplorasi aktif dan komitmen kuat terhadap serangkaian nilai, keyakinan, dan tujuan hidup tertentu yang muncul dari eksplorasi dan pemeriksaan aktif tersebut. Pada status identitas ini remaja akan memutuskan nilai dan tujuan apa yang paling penting bagi mereka, dan tujuan atau misi apa yang akan mengarahkan kehidupan mereka. Remaja dengan status pencapaian identitas mampu memprioritaskan apa yang penting bagi mereka dan telah memilah-milah banyak kemungkinan ingin menjadi apa. Mereka akan bereksperimen dengan banyak keyakinan dan nilai yang berbeda, dan menganalisis jalan hidup mereka. Untuk sepenuhnya mencapai identitas seperti ini, remaja harus merasa positif dan percaya diri terhadap keputusan dan nilai-nilai mereka.

METODE PENELITIAN YANG DIGUNAKAN

Metode pada penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan mengamati perilaku remaja dimana peneliti bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya krisis identitas pada remaja. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif melalui observasi dan interview. Subjek berasal dari organisasi PII (Pelajar Islam Indonesia) yang berjumlah 3 remaja SMA/Sederajat.

PEMBAHASAN

James Marcia mengemukakan 4 tahap pencarian identitas sebagai berikut;

1. Difusi Identitas : Remaja belum berusaha menemukan jati dirinya, dan belum mempunyai gambaran yang jelas tentang apa yang mungkin menjadi identitasnya.

Mereka belum menetapkan tujuan apa pun untuk diri mereka sendiri. Difusi identitas ditandai dengan rendahnya komitmen dan rendahnya eksplorasi.

2. Penyitaan Identitas : Remaja secara membabi buta menerima dan berkomitmen terhadap nilai-nilai dan keyakinan yang diajarkan kepada mereka oleh keluarga, komunitas, atau orang terdekat tanpa mencari alternatif lain. Mereka tidak mempertanyakan nilai-nilai yang diajarkan kepada mereka. Penyitaan identitas ditandai dengan komitmen yang tinggi dan eksplorasi yang rendah.

(5)

3. Moratorium Identitas : Remaja secara aktif mengalami krisis yang menyebabkan mereka mengeksplorasi identitas dan nilai-nilai mereka. Namun, mereka belum berkomitmen pada nilai atau keyakinan apa pun dan malah bereksperimen.

Moratorium identitas ditandai dengan rendahnya komitmen dan tingginya eksplorasi.

4. Pencapaian Identitas : Setelah proses eksplorasi aktif, remaja telah membuat komitmen yang kuat terhadap seperangkat keyakinan dan nilai yang sangat berkembang. Pencapaian identitas ditandai dengan komitmen yang tinggi dan eksplorasi yang tinggi.

Partisipan 1 D adalah seorang siswa MA berusia 16 tahun, anak kedua dari 2 bersaudara.

Mengikuti organisasi PII dan PMR, dari dua organisasi itu ia menjabat sebagai bendahara, partisipan sudah berorganisasi selama 5 bulan ini. Awalnya partisipan berkeinginan masuk dalam sebuah organisasi karena partisipan tipe individu yang pemalu dan kurang percaya diri.

Akan tetapi ada temannya yang mengajaknya masuk dalam organisasi dan partisipan pun mengikuti ajakan tersebut karena temannya meyakin kan partisipan bahwa jika nanti sudah masuk temannya akan mengarahkan atau menemani partisipan tersebut. Setelah berorganisasi banyak hal yang partisipan dapatkan dalam menjadi anggota organisasi tersebut. prinsip partisipan “Jangan hanya dipikirkan tapi lakukan”. Dulunya ia tidak pernah berinteraksi dengan Masyarakat sekarang Tingkat sosialnya meningkat. Partisipan menanggapi tanggung jawab secara Amanah khususnya sebagai bendahara di sebuah organisasi. Dan menentukan tujuan antara cita-cita dan jurusan perkuliahan, cita- citanya ingin menjadi seorang guru tetapi kakaknya bilang kalau ambil jurusan keguruan harus jadi dosen di sisi lain orang tuanya mendukung pilihan anaknya yaitu akhirnya partisipan memantapkan masuk di jurusan manajemen bisnis. Partisipan baik dalam mengatur waktu belajar. Hal tersebut menjelaskan bahwa Partisipan 1 berada pada tahap Penyitaan Identitas

Partisipan 2 sebelumnya pernah mengikuti beberapa organisasi, akan tetapi informan merasa kurang cocok dengan organisasi yang pernah ia jalani, karena partisipan ingin bergabung ke organisasi yang mengajarkan kepemimpinan bukan hanya mengajarkan tentang cara menjadi diri yang baik. Partisipan bergabung dengan organisasi PII karena menurut partisipan organisasi tersebut paling cocok dengan diri informan. Akan tetapi partisipan merasa tertekan ketika informan menjadi ketua PII karena informan menanggung semua harapan anggota.

Informan memiliki kekurangan dalam berkomunikasi, hal tersebut yang menyebabkan partisipan menjadi tidak nyaman ketika berkomunikasi dengan orang lain. Selain itu, partisipan tidak memiliki pandangan untuk mengubah dunia nya. Meskipun partisipan 2 kurang mengeksplorasi identitas. akan tetapi informan memiliki komitmen yang tinggi terhadap organisasi karena informan sudah diberikan amanah dan organisasi tersebut terbukti membuat informan menjadi berkembang. Hal ini menunjukkan bahwa partisipan 2 berada di tahap Penyitaan Identitas.

Informan 3 merupakan aktivis pada 2 organisasi, organisasi intra sekolah (OSIS) dan organisasi kepelajaran bernama Pelajar Islam Indonesia (PII). Faktor pendorong partisipan menjadi pengurus OSIS hanya karena melihat kakaknya yang terlihat seru ketika menjadi

(6)

Pengurus OSIS. Sedangkan menjadi Aktivis PII seperti sekarang adalah berawal dari ajakan training dari temannya yang turut serta kala itu. Partisipan menerima segala kesempatan berorganisasi yang menghampirinya tanpa mengenal lebih jauh dari masing-masing organisasi tersebut. Bahkan ia memperkirakan bahwa jika sebelumnya ia mengenal lebih jauh maka ia mungkin tidak akan bergabung di dalamnya. Menjadi Pengurus Inti pada 2 organisasi tersebut menjadikannya lebih berhati-hati dalam bertindak. Partisipan tidak pernah menyalahkan organisasinya atas suatu peristiwa, namun ia menyadari bahwa dirinya belum dapat memanajemen diri dan aktivitas dengan baik. Walaupun belum sepenuhnya memaknai tanggung jawab dengan sepenuh hati, komitmen nyaris sempurna meski hanya dianggap sebagai sarana atas konsekuensi tanpa adanya rasa kecocokan. Hal ini menunjukkan bahwa partisipan 3 berada pada tahap Penyitaan Identitas.

(7)

Skema interpretasi, Partisipan I

Krisis Identitas

a. Ketidakpuasan dalam berusaha : Partisipan selalu merasa dirinya kurang padahal sudah berusaha belajar

b. Insecurity: Partisipan selalu merasa malu saat bertanya di dalam kelas, berbicara di depan banyak orang, membandingkan dirinya dengan orang lain yang dianggap cantik hal ini menyebabkan partisipan tidak percaya diri, merasa susah paham terhadap materi yang kurang disukai (Fisika, Matematika, Bahasa Inggris)

c. Hobi : Partisipan memiliki hobi bela diri dan menyanyi. Untuk beladiri partisipan pernah mengikuti klub karate dan capoeira, bagian menyanyi partisipan lebih melakukan hobinya ketika dalam dirumah karena dirinya sudah sadar akan kekurangannya yang membuatnya enggan ketika di lakukan di luar rumah, partisipan sekarang sedang menyukai lagu yang berjudulEnd of Beginning

d. Friendship: Partisipan merasa dirinya dimanfaatkan sebagai bahan mencontek karena tipe partisipan adalah seorang yang rajin mencatat. Partisipan merasa jika teman sekelasnya baik karena ada maksud tertentu. Partisipan merasa perubahan dari seorang teman yang awalnya banyak ngobrol sekarang diam padahal satu bangku partisipan bersyukur karena semenjak bertemu F menjadi dia lebih baik karena F selalu memberitahu informan ketika melakukan kesalahan, sedangkan P suka memberi tahu hal yang negatif ke partisipan seperti pacaran.

e. Trauma: Informan pernah mengalami suatu hal yaitu ketika partisipan bertanya bukannya diberi feedback tapi malah disalahkan. Hal tersebut membuat pengaruh bagi partisipan ketika di organisasi. Partisipan lebih banyak mendengarkan ketika ada rapat organisasi.

f. Organisasi: Partisipan mengikuti 2 organisasi PMR (Partisipan tidak sengaja mengikuti seleksi masuk organisasi dan hasilnya partisipan lulus seleksi) dan PII (Partisipan awalnya menolak ajakan temannya yang mengajaknya masuk ke organisasi tapi di yakinkan temannya karena ga percaya diri akhirnya masuk.)

g. Cita-cita : Partisipan termotivasi menjadi seorang guru ketika mengamati pelaksanaan kegiatan mengajar di TPQ

h. Role model : Partisipan terinspirasi dengan ustadz Hanan Attaki karena beliau sering membawakan tema tentang amalan baik

i. Prinsip: Partisipan berpikir bahwa “Jangan hanya dipikirkan tapi lakukan”

(8)

Skema Interpretasi Partisipan II

Krisis Identitas a) Minat dan bakat

Partisipan mengembangkan minat dan bakatnya dengan mencoba terlebih dahulu, kemudian mengeksplorasi lebih lanjut mengenai minat dan bakat tersebut.

b) Insecurity

Partisipan merasa tidak nyaman ketika berkomunikasi dengan orang lain karena memiliki beberapa kekurangan yang menyebabkan rasa tidak nyaman pada partisipan.

c) Komitmen identitas

Informan berkomitmen dengan organisasi yang saat dijalani, karena informan sudah diberikan amanah dan organisasi tersebut terbukti membuat informan menjadi berkembang.

d) Eksplorasi minat

Informan mengeksplorasi minat dan bakat nya dengan cara dicoba terlebih dahulu atau dijalani terlebih dahulu, setelah dirasa sudah berminat baru di cari lebih lanjut seperti di internet, di perpustakaan dll.

e) Tantangan Organisasi

Selama di PII informan mengalami tekanan dari anggota lain, informan dianggap sadis oleh anggota lain. Selain itu, informan mengalami tantangan pada perizinan orang tua dan informan juga terbebani karena menanggung semua harapan dari anggota lain f) Dukungan keluarga

Informan selalu mendapatkan dukungan dari kedua orang tua, baik dukungan finansial maupun dukungan perizinan.

g) Kekurangan diri

Informasi mempunyai beberapa kekurangan dalam dirinya seperti malas, bahasa kurang bisa dipahami, dan juga belibet.

h) Role Model

Informan memiliki role model seorang nabi yang memiliki sifat mandiri, tangguh, mempunyai tujuan mulia, pekerja keras, dan lemah lembut.

i) Prinsip Hidup

Informan memiliki prinsip hidup, melakukan sesuatu terlebih dahulu tanpa memikirkan hasil, kemudian baru memikirkan solusinya saat sudah memulai.

(9)

Skema Interpretasi Partisipan III

a. Eksplorasi Identitas: Partisipan hanya sekedar

mengambil serta tidak ingin melewatkan kesempatan. Menjadi Pengurus OSIS karena terlihat seru dan menjadi Aktivis PII karena terdapat teman yang turut serta di dalamnya. Informan menerka jika ia akan ragu untuk bergabung jika tau seluk-beluk organisasi sejak awal.

1. Eksplorasi Minat:Partisipan menyukai segala hal yang dapat menambah pengetahuan baru yang membuatnya terpukau contohnya adalah gizi.

2. Dukungan Keluarga:Partisipan memiliki dukungan yang cukup dari kedua orang tua yang selalu melakukan diskusi terbuka bukti mencapaiLove and Belonging.

b. Komitmen Identitas:Partisipan sadar dan insyaf dalam menjalani segala pilihan dengan bersungguh-sungguh serta akan berusaha melakukan yang lebih baik lagi amanah yang didapatkan walaupun sempat berpikir bahwa segala tanggung jawab bukan pilihannya. Loyal dan toleransi akan segala prinsip yang akan ditemui dalam organisasi.

1. Kekurangan Diri:Partisipan mengakui bahwa dirinya kurang disiplin dan bertekad serta berproses untuk menjadi pribadi yang disiplin.

2. Tantangan Organisasi:Partisipan pernah miskom sehingga kedepannya akan lebih berhati-hati dengan penyebaran informasi. Informan pun tidak peduli jika dibilang tidak mengetahui info sekolah, karena tidak semua info sekolah diketahui OSIS justru

sebaliknya. Informan membawa santai perkataan siswi jika menganggap dirinya tidak merepresentasikan Anak OSIS. Informan ragu apakah dirinya dapat bermanfaat saat ada suatueventdan tidak mau gegabah.

3. Role Model:Partisipan memilikiRole Modelyang taat agama, pintar, dan sopan dan mengidolakan seorang ulama bernama Buya Hamka yang mempunyai sifat memaafkan.

4. Prinsip Hidup:Partisipan tidak akan melupakan seseorang yang telah membantunya dan akan berusaha membalasnya dan tidak ingin lagi jauh dari Allah SWT.

Krisis identitas sendiri merupakan masalah yang berkaitan dengan tugas perkembangan yang harus dilalui oleh setiap individu termasuk remaja. Hal ini terjadi karena banyaknya tuntutan, pilihan serta keinginan yang dihadapi oleh remaja dan mereka pun merasa sudah terlalu besar untuk dikategorikan sebagai anak-anak, namun belum bisa dikategorikan dalam kategori orang dewasa. Krisis identitas diri pada diri remaja memicu terjadinya demoralisasi, antara lain berupa: (1) kekerasan di kalangan remaja, (2) bahasa dan kata-kata yang memburuk, (3) pengaruh peer group dalam tindak kekerasan, (4) meningkatnya perilaku merusak diri dengan penggunaan alkohol dan obat-obatan terlarang, (5) menurunnya rasa hormat pada orang tua dan guru, (6) sex bebas dan masih banyak lagi kenakalan remaja yang lain.

Krisis Identitas

(10)

Krisis Identitas terjadi karena adanya perubahan fisik, emosional, kognitif, dansocial.

Jika remaja tidak dapat memenuhi harapan dorongan diri pribadi dan sosial yang membantu mereka mendefinisikan tentang diri, maka remaja ini dapat mengalami kebingungan identitas.

(Erikson dalam Hidayah, 2016; Ristianti, 2008). Kebimbangan tersebut bisa menyebabkan dua hal: penarikan diri individu, mengisolasi dirinya dari teman sebaya dan keluarga, atau meleburkan diri dengan dunia teman sebayanya dan kehilangan identitas dirinya (Santrock, 2003:341).

Krisis identitas yang berkepanjangan selama masa remaja, akan menyebabkan remaja menjadi kehilangan arah, bagaikan kapal yang kehilangan kompas. Dampaknya, mereka kemungkinan mengembangkan perilaku menyimpang (delinquent), melakukan kriminalitas, atau menutup diri (mengisolasi diri) dari masyarakat sehingga krisis identitas remaja juga sering diasosiasikan dengan penyebab perilaku menyimpang remaja dan cenderung melakukan tindakan-tindakan destruktif, yang rentan dengan kenakalan remaja. (Yusuf, 2006;

Utami, 2011; Hidayah, 2016).

Eksplorasi mengacu pada kenyamanan seorang remaja dengan mencoba hal-hal baru.

Semakin nyaman individu dengan eksplorasi, semakin mudah pembentukan identitas. Salah satu hal yang dapat dilakukan remaja dalam eksplorasi adalah dengan berpartisipasi pada edukasi sekunder. Berkaitan dengan pembentukan identitas yang sesuai dengan konteks, Yoder (2000) menjelaskan bahwa pembentukan identitas tergantung pada kesempatan, harapan, dan kebebasan yang dimiliki individu. Individu harus sadar bahwa mereka memiliki kesempatan untuk mengeksplorasi dan mengevaluasi alternatif identitas (Erikson, 1968).

Meskipun demikian, kenyataannya tidak semua individu memiliki kesempatan yang sama.

Perbedaan kesempatan tersebut dapat disebabkan oleh perbedaan gender dan kelompok usia pada konteks tertentu. Model tiga dimensi identitas menjelaskan tiga dimensi pembentukan identitas yaitu komitmen, eksplorasi mendalam, dan kesatuan dalam konsep pembentukan identitas (Berzonsky dkk., 2013; Crocetti, Rubini, peninjauan kembali komitmen (Crocetti dkk., 2008; Meeus, Van De Schoot, Keijsers, Schwartz, & Branje, 2010).

Komitmen mengarah pada proses memantapkan pilihan terkait dengan berbagai domain identitas yang disertai dengan rasa percaya diri terhadap pilihannya. Eksplorasi mendalam mengarah pada proses merefleksikan komitmen yang sudah dibuat, mencari informasi tambahan, dan berdiskusi dengan orang lain terkait alternatif identitas yang sudah dipilih. Peninjauan kembali komitmen mengarah pada kemungkinan untuk mengubah atau merevisi komitmen yang tidak lagi memuaskan bagi individu. Model status identitas didasarkan pada dua dimensi pembentukan identitas yaitu eksplorasi dan komitmen yang digunakan untuk mengklasifikasikan status identitas yang terdiri dari diffusion, foreclosure, moratorium, dan achievement (Kroger & Marda, 2011; Marcia, 1993). Individu yang sudah mencapai komitmen melalui proses eksplorasi berada pada status achievement.

Individu yang masih berusaha untuk mencapai komitmen dan masih dalam proses eksplorasi berada pada status moratorium. Individu yang sudah mencapai komitmen dengan mengambil komitmen orang lain yang signifikan dalam hidupnya berada pada status foreclosure. Individu yang belum mencapai komitmen dan menjalani proses eksplorasi

(11)

berada pada status diffusion. Gaya, dimensi, dan status identitas memiliki fokus yang berbeda dalam pembentukan identitas, tetapi beberapa peneliti telah menunjukkan kaitan ketiga hal tersebut dan menjadikannya satu kesatuan dalam konsep pembentukan identitas (Berzonsky dkk., 2013; Crocetti, Rubini, Berzonsky, & Meeus, 2009; Zimmermann, Mahaim, Mantzouranis, Genoud, & Crocetti, 2012).

Gaya, dimensi, dan status identitas dianggap sebagai proses, struktur, dan hasil yang merupakan komponen pembentukan identitas (Schwartz & Montgomery, 2002). Penelitian ini mencoba untuk menguji beberapa hipotesis yaitu: (1) ada perbedaan gaya, dimensi, dan status identitas antara remaja laki-laki clan perempuan; (2) ada perbedaan gaya, dimensi, dan status identitas antara remaja awal, tengah, dan akhir; (3) ada hubungan antara gaya identitas (informatif, normatif, dan menunda-menghindar) dan dimensi identitas (komitmen, eksplorasi mendalam, dan peninjauan kembali komitmen); dan (4) ada hubungan antara gaya identitas (informatif, normatif, dan menunda menghindar) clan status identitas (diffusion, foreclosure, moratorium,danachievement).

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil wawancara dan observasi yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa ketiga partisipan berada pada tahap yang sama yaitu Penyitaan Identitas. Ditandai dengan komitmen yang tinggi dan eksplorasi yang rendah. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan ketiga partisipan bahwa

Partisipan I, II, dan III membuat komitmen terhadap organisasi tanpa terlebih dahulu mengeksplorasi berbagai pilihan dan alternatif lain seperti termotivasi untuk bergabung dengan organisasi karena ajakan teman atau kakak. Meskipun belum sepenuhnya memahami makna tanggung jawab, ketiga partisipan memiliki komitmen yang tinggi terhadap organisasi tempat mereka bergabung.

Saran untuk penelitian selanjutnya adalah lebih fokus kepada bentuk-bentuk dari faktor maupun aspek yang ada agar data yang didapatkan lebih detail.

(12)

DAFTAR PUSTAKA

Afifah, R. N., Mini, R., & Salim, A. (2020). Peran Mediasi Perilaku Eksplorasi Karier dalam Pengaruh Dukungan Teman terhadap Adaptabilitas Karier Mahasiswa.

4(3), 197–209.

Hanugh, S. P., Perdana, M. R., Novaleni, K. N., & Khairunnisa, D. (2021). Upaya Mengatasi Krisis Identitas Nasional Generasi Z Di Masa Pandemi. Jurnal Kewarganegaraan, 5(2), 651–659. https://doi.org/10.31316/jk.v5i2.1937

Maulida, A. R., Wibowo, H., & Rusyidi, B. (2023). Rancang Bangun Model Pengembangan Kegiatan Pendampingan Sosial Pada Remaja Generasi Z Dalam Mengatasi Krisis Identitas. Share : Social Work Journal, 13(1), 92.

https://doi.org/10.24198/share.v13i1.46633

Mighfar, S. (2015). “ Volume 9, No. 2, Desember 2015 .” 9(2), 261–287.

Padillah, R. (2020). BIBLIO COUNS Biblio Couns : Jurnal Kajian Konseling dan Pendidikan Implementasi Konseling Realitas Dalam Menangani Krisis Identitas Pada Remaja. Biblio Couns: Jurnal Kajian Konseling Dan Pendidikan, 3(3), 120–125. https://doi.org/10.30596/bibliocouns.v3i3.5295

Ramadhanu, C. A., Sunarya, Y., & Nurhudaya. (2019). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Identitas Diri. Journal of Innovative Counseling : Theory, Practice

& Research, 3(1), 7–17. http://journal.umtas.ac.id/index.php/innovative_counseling Syafitri, M., & S, A. (2019). EcoGen PENGARUH MOTIVASI BERORGANISASI DAN KOHESIVITAS KELOMPOK TERHADAP KOMITMEN BERORGANISASI ( STUDI MAHASISWA AKTIVIS FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS NEGERI PADANG ) Maulina Syafitri , Armida S Jurusan Pendidikan Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Nege. 2(September).

Trisnawati, K. A., & Siswanti, D. (2014). … Pendekatan Kognitif Perilaku Dalam Membantu Menangani Krisis Identitas Siswa Kelas Viii Smp Laboratorium Undiksha Singaraja. Daiwi Widya, 20.

Utomo, K. M. (2022). Analisis Perkembangan Teori-Teori Psikologi dengan Epistemologi Problem-Solving Menurut Karl Popper. Jurnal Filsafat Indonesia, 5(1), 30–37.https://doi.org/10.23887/jfi.v5i1.39725

Muttaqin, D., & Ekowarni, E. (2017). Pembentukan Identitas Remaja di Yogyakarta.Jurnal Psikologi,43(3), 231. https://doi.org/10.22146/jpsi.12338

Referensi

Dokumen terkait

PENDIDIKAN NILAI MORAL DI TENGAH KRISIS IDENTITAS GENERASI MUDA (Studi Pesan Nilai Moral Dalam Film “Ada Surga di Rumahmu” Menggunakan Analisis Semiotika Roland

Oleh karena itu, perkembangan identitas remaja yang berprofesi sebagai pekerja seks menjadi menarik untuk diteliti karena di dalam mencari identitasnya, remaja pekerja seks

Oleh karena itu, perkembangan identitas remaja yang berprofesi sebagai pekerja seks menjadi menarik untuk diteliti karena di dalam mencari identitasnya, remaja pekerja seks

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada kekhasan status identitas remaja, yaitu pertama merupakan status identitas achievement , kedua yaitu memiliki status identitas

daan gaya, dimensi, dan status identitas antara remaja laki-laki clan perempuan; (2) ada perbedaan gaya, dimensi, dan status identitas antara remaja awal, tengah,

remaja yang memiliki identitas diri tidak tercapai yaitu sebanyak 57 rcmaja (48,7yo), pada awal proses pembentukan. identitas diri remaja dihadapkan pada krisis

Fokus penelitian ini adalah : perubahan identitas organisasi, khususnya faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan dan proses perubahan identitas

Mengidentifikasi Koordinator Kesehatan Reproduksi Remaja No Indikator Kualitatif Ya Tidak 1 Dilakukannya kegiatan advokasi PPAM kesehatan reproduksi remaja selama situasi krisis