LAPORAN PRAKTIKUM
KRISTALOGRAFI DAN MINERALOGI ACARA 2 HEXAGONAL
OLEH:
A.AHMAD BASO FARIED ARIFUDDIN 4523046016
A
PRODI TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS BOSOWA MAKASSAR
2024
KATA PENGANTAR
Puji syukur penyususn panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan karunianya, sehingga penyusun dapat menyelasikan Laporan Praktikum Kristalografi dan Mineralogi ini. Oleh karena itu dengan segala hormat dan kerendahan hati perkenankanlah penyusun mengucapkan terimah kasih kepada :
1. Tuhan Yang Maha Esa, berkat rahmat dan karunia-Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan leporan ini.
2. Para asisten laboratorium kristalografi dan mineralogi.
Laporan Praktikum Kristalografi dan Mineralogi ini dapat menjadi bahan evaluasi dan tolak ukur dalam pelaksanaan kegiatan penggambaran dan pemerian kristal serta mineral dan menjadi bahan perbaikan untuk masa yang akan datang.Dalam penyususn laporan ini, penyusun menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang terdapat didalamnya sehingga penyusun mengharapkan kritik dan saran yang membangun guna memperbaiki pembuatan laporan kedepannya.
Makassar,13 Oktober 2024
A.Ahmad Baso Faried Arifuddin
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR………
………..
DAFTAR
ISI………
………...
BAB I
PENDAHULUAN………
………...
1.1LATAR
BELAKANG………
………
1.2MAKSUD DAN
TUJUAN………
…..
1.2.1 Maksud……….
1.2.2 Tujuan……….
1.3ALAT BAHAN DAN
BAHAN………..
1.3.1
Alat...
...
1.3.2
Bahan...
...
BAB II TINJAUAN
PUSTAKA………...
2.1 PENGERTIAN MINEROLOGI DAN
KRISTALOGRAFI………...
2.1.1
Minerologi...
...
2.1.2
Kristalografi...
...
2.2 PENGERTIAN KRISTAL DAN
MINERAL………...
2.2.1
Kristal...
...
2.2.2 Mineral...
...
2.3 UNSUR-UNSUR SISTEM
KRISTAL………...
2.3.1 Kubik
(Isometrik)...
...
2.3.2
Tetragonal...
...
2.3.3
Heksagonal...
...
2.3.4 Trigonal
(Rhombohedral)...
...
2.3.5
Ortorombik...
...
2.3.6
Monoklinik...
...
2.3.7
Triklinik...
...
2.4 SISTEM KRISTAL
HEXAGONAL………...
2.4 Gambar Sistem Kristal Hexagonal...
BAB III
PEMBAHASAN………
………..
3.1 PERAGA
1………
…...
BAB IV
PENUTUP………
…………...
4.1
Kesimpulan………
………...
4.2
Saran………
………...
DAFTAR
PUSTAKA………
………...
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
proses penempatan atom-atom dalam keadaan padat. Bilamana kondisi memungkinkan, mereka dapat membentuk permukaan yang halus secara beraturan dan dalam bentuk geometri dikenal sebagai Kristal. Pada saat ini banyak sekali proses yang telah diketahui dalam terbentukya Kristal. Proses tersebut terdiri dari proses buatan manusia dilaboratorium atau proses alami seperti proses pendinginan magma, proses evaporit, proses hidrotermal dan lain- lainnya. Bentuk Kristal yang terdapat dalam bumi sangatlah banyak sekali ragamnya, dari bentuk yang paling sederhana sampai ke bentuk yang rumit. Bentuk-bentuk Kristal yang terdapat dibumi dapat
diklelompokkan menjadi beberapa kelompok dasar. Pembagian iniberdasarkan system sumbu dari Kristal-kristal tersebut, pada bab ini selanjutnya akan dibahas tentang system Kristal yang telah kita kenal.
Mineral mempunyai pengertian yang berlainan dikalangan orang awam. Sering diartikan sebagai bahan yang bukan organic atau zat-zat anorganik dalam obat, misalnya dibedakan antara vitamin dan mineral, mineral juga sering diartikan sebagai cebakan bijih (ore). Sebenarnya mineral adalah partikel-partikel terkecil yang diskrit yang menyusun batuan. Kulit bumi bagian terluar atau kerak bumi disusun oleh zat padat yang sehari-hari kita sebut batuan, sedangkan batuan meliputi segala macam materi yang menyusun kerak bumi, baik yang lepas seperti pasir dan debu. Umumnya batuan merupakan ramuan beberapa jenis mineral, mineral adalah suatu zat padat dari unsur kimia yang dibentuk oleh proses-proses organic, dan mempunyai susunan kimiawi tertentu dan suatu penempatan atom- atom secara beraturan didalamnya atau dikenal dengan struktur Kristal.
1.2 Maksud dan Tujuan 1.2.1 Maksud
Mengidentifikasi contoh-contoh mineral yang memiliki sistem kristal hexagonal, seperti kuarsa, korundum, hematit, gamping, dolomit, dan apatit.
1.2.2 Tujuan
Melihat dan memahami sistem kristal hexagonal, termasuk identifikasi karakteristik uniknya seperti jumlah sumbu kristal, orientasi sumbu, dan perbandingan panjang sumbu.
1.3 Alat dan Bahan 1.3.1 Alat
1. ATK ( Pulpen, Penghapus, Pensil, Penggaris dll) 2. Pensil Warna
3. Busur Derajat 1.3.2 Bahan 1.Kertas HVS A4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Mineralogi Dan Kristalografi 2.1.1 Minerologi
Mineralogi adalah ilmu yang mempelajari mineral, yaitu bahan padat homogen yang terbentuk secara alami dan memiliki komposisi kimia tertentu. Mineral terdiri dari satu atau lebih unsur kimia yang tersusun secara teratur. Dalam konteks ini, mineral dapat dianggap sebagai unit dasar dalam geologi yang menyusun batuan. Mineralogi juga mencakup klasifikasi mineral berdasarkan komposisi kimia, sifat fisik, dan bentuk kristalnya. Klasifikasi ini penting untuk memahami berbagai jenis mineral yang ada di kerak Bumi, termasuk kelompok silikat, karbonat, dan oksida.
2.1.2 Kristalografi
Kristalografi adalah cabang ilmu yang mempelajari struktur dan sifat-sifatkristal. Kristal dapat didefinisikan sebagai zat padat yang memiliki susunan atom yang teratur dalam tiga dimensi, sehingga membentuk pola difraksi tertentu saat terkena sinar X.
Kristalografi mencakup analisis bentuk, simetri, dan sifat geometris dari kristal, serta bagaimana kondisi lingkungan mempengaruhi pembentukannya. Kristal biasanya dibatasi oleh bidang-bidang datar yang disebut sebagai bidang muka kristal, dan sudut antara bidang- bidang ini selalu tetap untuk setiap jenis kristal.
2.2 Pengertian Kristal Dan Mineral 2.2.1 Kristal
Kristal merupakan suatu padatan yang atom molekul atau ion penyusunannya terkemas secara teratur dan polanya berulang melebar secara tiga dimensi. Secara umum, zat cair membentuk kristal ketika mengalami proses pemadatan. Pada kondisi ideal, hasilnya bisa berupa kristal tunggal yang semua atom dalam padatannya “terpasang” pada kisi atau struktur kristal yang sama, namun secara umum kebanyakan kristal terbentuk secara simultan
sehingga menghasilkan padatan polikristalin. Misalnya kebanyakan logam yang kita temui sehari-hari merupakan polikristalin. Struktur kristal akan terbentuk dari suatu cairan tergantung pada cairan kimianya sendiri, kondisi ketika terjadi pemadatan dan tekanan ambient. Proses terbentuknya struktur kristalin dikenal dengan sebagai kristalisasi. Kristal juga dapat didefinisikan sebagai zat padat homogen, biasanya anisotrop dan tembus air serta menurut hukum- hukum ilmu pasti, sehingga susunan bidang-bidangnya mengikuti hukum geometri, jumlah dan kedudukan dari bidangnya tertentu dan teratur. Keteraturannya tercermin pada permukaan kristal yang berupa bidang-bidang datar dan rata yang mengikuti pola-pola tertentu. Bidang-bidang datar ini disebut sebagai bidang muka kristal. Dua bidang muka kristal yang berimpit selalu membentuk sudut yang besarnya tetap pada suatu kristal (Hukum Steno).
2.2.2 Mineral
Mineral adalah zat padat alami yang terbentuk melalui proses geologi dan memiliki komposisi kimia serta struktur kristal yang tertentu. Mineral terbentuk melalui proses alamiah, seperti pengkristalan magma, pengendapan dari larutan, atau
metamorfisme (perubahan bentuk akibat tekanan dan suhu).Setiap mineral memiliki komposisi kimia yang spesifik, seperti kuarsa (SiO₂), pirit (FeS₂), atau kalsit (CaCO₃), serta sifat fisik yang unik, seperti warna, kilap, kekerasan, dan belahan. Tidak semua mineral berbentuk kristal yang sempurna, namun sebagian besar mineral memiliki struktur kristal di tingkat atomiknya.
Ada beberapa ahli yang mengemukakan tentang pengertian mineral.
Adapun pengertian mineral adalah sebagai berikut.
1. L.G. Berry dan B. Mason, 1959
Mineral adalah suatu benda padat homogen yang terdapat di alam terbentuk secara anorganik, mempunyai komposisi kimia pada batas- batas tertentu dan mempunyai atom-atom yang tersusun teratur.
2. D.G.A. Whitten dan J.R.V. Brooks, 1972
Mineral adalah suatu bahan padat yang secara struktural homogen mempunyai komposisi kimia tertentu, dibentuk oleh proses alam yang anorganik.
3. A.W.R. Potter dan H. Robinson, 1977
Mineral adalah suatu zat atau bahan yang homogen mempunyai komposisi kimia tertentu atau dalam batas-batas tertentu atau dalam batas-batas tertentu dan mempunyai sifat-sifat tetap, dibentuk di alam dan bukan hasil suatu kehidupan.
2.3 UNSUR-UNSUR SISTEM KRISTAL
Dalam kristalografi, unsur-unsur dalam sistem kristal adalah karakteristik utama yang menentukan bagaimana atom atau molekul tersusun dalam bentuk kristal. Sistem kristal mengelompokkan kristal berdasarkan simetri dan bentuk geometrisnya. Ada tujuh sistem kristal utama yang digunakan untuk mengklasifikasikan kristal. Setiap sistem ini memiliki unsur-unsur simetri tertentu, yaitu sumbu simetri, bidang simetri, dan pusat simetri. Berikut adalah unsur-unsur dan deskripsi dari setiap sistem kristal:
2.3.1 Kubik (Isometrik)
Unsur simetri: Tiga sumbu simetri yang saling tegak lurus dan memiliki panjang yang sama.
Ciri khas: Bentuk geometrisnya berupa kubus atau oktahedron.
Contoh mineral: Intan, pirit, garam (NaCl).
2.3.2 Tetragonal
Unsur simetri: Dua sumbu yang sama panjang dan saling tegak lurus, serta satu sumbu yang berbeda panjangnya.
Ciri khas: Bentuk geometris seperti prisma persegi panjang atau piramida persegi.
Contoh mineral: Rutil, zirkon.
2.3.3 Heksagonal
Unsur simetri: Terdapat satu sumbu utama yang tegak lurus pada tiga sumbu lainnya yang membentuk sudut 120 derajat di antara mereka. Sumbu-sumbu ini memiliki panjang yang sama.
Ciri khas: Bentuk geometris berupa prisma heksagonal atau bipiramida.
Contoh mineral: Kuarsa, grafit, beryl.
2.3.4 Trigonal (Rhombohedral)
Unsur simetri: Satu sumbu utama dengan tiga sumbu lainnya yang mirip dengan sistem heksagonal, tetapi memiliki perbedaan dalam simetri internal.
Ciri khas: Bentuk geometris berupa rombohedron atau prisma trigonal.
Contoh mineral: Kalsit, kuarsa (variasi).
2.3.5 Ortorombik
Unsur simetri: Tiga sumbu yang berbeda panjangnya, tetapi semuanya saling tegak lurus.Ciri khas: Bentuk geometris berupa
prisma persegi panjang atau bipiramida ortorombik.Contoh mineral:
Topaz, sulfur, olivin.
2.3.6 Monoklinik
Unsur simetri: Dua sumbu saling tegak lurus, sementara sumbu ketiga miring pada sudut tertentu (tidak tegak lurus dengan sumbu lainnya).
Ciri khas: Bentuk geometris seperti prisma miring atau piramida.
Contoh mineral: Mica, gypsum, feldspar.
2.3.7 Triklinik
Unsur simetri: Ketiga sumbu memiliki panjang yang berbeda dan tidak ada yang saling tegak lurus.
Ciri khas: Bentuk geometris yang cenderung tidak simetris, dengan sudut yang tidak 90 derajat.
Contoh mineral: Kyanit, plagioklas feldspar.
BAB III PEMBAHASAN
3.1 PERAGA 1 1. Persiapan Dasar:
Buatlah model dasar kristal dengan empat sumbu kristal (a, b, c, dan d).
Pastikan sumbu c tegak lurus terhadap ketiga sumbu lainnya (a, b, dan d)
2. Gambar Sumbu-Sumbu Kristal:
Gariskan sumbu-sumbu kristal dengan menggunakan pena dan cat hitam.
Jika menggunakan material yang fleksibel, gunakan lem atau gliserol untuk menempelkan sumbu-sumbu agar stabil.
3. Perbandingan Panjang Sumbu:
Simbolkan perbandingan panjang sumbu sesuai dengan definisi sistem hexagonal, yaitu text{a} = {b} = {d} {c} ).
Misalkan, jika ingin menunjukkan perbandingan umum, gunakan rasio 1 : 3 : 6untuk sumbu a, b, dan c masing-masing
4. Garis-Garis Persilangan:
Gambarkan garis-garis persilangan antar sumbu untuk membantu visualisasikan struktur kristal.
Pastikan sudut antar sumbu sesuai dengan definisi sistem hexagonal ( α=β=90∘;γ=120∘)α=β=90∘;γ=120∘)
5. Bidang-Bidang Muka Kristal:
– Setelah semua sumbu dan garis persilangan ditetapkan, gambarkan bidang-bidang muka kristal yang terbentuk dari interaksi antar sumbu.
– Ini akan membantumu memvisualisasikan bentuk tiga dimensi dari kristal hexagonal.
3.1 Gambar Sistem Kristal Hexagonal CatatanTambahan:
– Untuk memastikan keseragaman, pastikan kamu telah memahami klasifikasi sistem
hexagonal yang terdiri dari tujuh kelas, seperti Hexagonal Piramid, Hexagonal Bipiramid, dll
Dengan mengikuti langkah-langkah di atas, kamu dapat membuat model yang representatif bagi sistem kristal hexagonal.
BAB IV PENUTUP 4.1 KESIMPULAN
Mempelajari sistem kristal hexagonal memberikan pemahaman yang mendalam tentang struktur dan karakteristik mineral. Berikut adalah kesimpulan dari pembelajaran mengenai sistem kristal hexagonal:
Sistem kristal hexagonal terdiri dari empat sumbu, di mana tiga sumbu (a, b, d) memiliki panjang yang sama dan membentuk sudut 120° satu sama lain, sedangkan sumbu c tegak lurus terhadap bidang yang dibentuk oleh ketiga sumbu tersebut. Ini menciptakan bentuk dasar yang unik dan teratur dalam kristal.Pada sistem ini, perbandingan panjang sumbu ditentukan sebagai a=b=d≠ca=b=d=c, dengan sudut kristalografi α=β=90∘α=β=90∘ dan γ=120∘γ=120∘. Ini menunjukkan simetri yang khas dalam struktur kristal hexagonal.Sistem kristal hexagonal dibagi menjadi tujuh kelas, termasuk Hexagonal Piramid, Hexagonal Bipiramid, dan Hexagonal Trapezoedris.
Setiap kelas memiliki karakteristik dan simetri yang berbeda, memungkinkan identifikasi mineral berdasarkan bentuk dan sifatnya. Beberapa mineral yang termasuk dalam sistem kristal hexagonal adalah kuarsa, korundum, hematit, gamping, dolomit, dan apatit. Pengetahuan tentang mineral ini penting untuk aplikasi dalam geologi dan ilmu material. Pemahaman tentang sistem kristal hexagonal sangat berguna dalam berbagai bidang seperti mineralogi, petrologi, dan material science. Ini membantu dalam pengembangan material baru serta pemahaman tentang sifat fisik mineral.Teknik penggambaran menggunakan proyeksi orthogonal memungkinkan visualisasi struktur tiga dimensi dari kristal hexagonal, membantu praktikan dalam memahami hubungan antar sumbu dan bidang muka kristal.
Dengan demikian, mempelajari sistem kristal hexagonal tidak hanya memperluas pengetahuan tentang geometri kristal tetapi juga meningkatkan kemampuan untuk mengenali dan menganalisis berbagai jenis mineral berdasarkan struktur mereka.
4.2. SARAN
Saran untuk para asisten praktikum Kristalografi dan Mineralogi ini yaitu agar kedepannya bisa memberikan pemaparan materi yang lebih menarik, lebih memperbanyak interaksi kepada para mahasiswa yang mengikuti praktikum dan membagikam ulang materi yang telah di paparkan, agar para mahasiswa dapat lebih memahami materi yang telah diberikan. Saya juga berharap agar para asisten bisa lebih detail memproyeksikan sistem kristal yang akan diberikan agar mahasiswa lebih mudah menyerapnya dan juga memahaminya.
DAFTAR PUSTAKA
Hexagonal crystal family. (n.d.). In Wikipedia. Retrieved October 16, 2024, from https://en.wikipedia.org/wiki/Hexagonal_crystal_family
Hexagonal Crystal System. (2011). In ManufacturingET.org. Retrieved October 16, 2024, from http://www.manufacturinget.org/2011/08/hexagonal-crystal-system/
Hexagonal system | Definition & Facts. (n.d.). In Encyclopedia Britannica.
Retrieved October 16, 2024, from https://www.britannica.com/science/hexagonal- system
Crystal Structure. (n.d.). In Chem LibreTexts. Retrieved October 16, 2024, from https://chem.libretexts.org/Bookshelves/Analytical_Chemistry/
Physical_Methods_in_Chemistry_and_Nano_Science_(Barron)/
07:_Molecular_and_Solid_State_Structure/7.01:_Crystal_Structure
MTEX Toolbox: The Crystal Reference System. (n.d.). Retrieved October 16, 2024, from https://mtex-toolbox.github.io/CrystalReferenceSystem.html