Profil Berpikir Kritis Siswa dalam Menyelesaikan Materi Soal HOTS Sistem Persamaan Linier Dua Variabel Berdasarkan Keterampilan Awal Kelas VIII. ke kelas SMP Negeri 3 Pallangga. Data yang diolah adalah kemampuan berpikir kritis dalam menyelesaikan soal HOTS berdasarkan kemampuan awal siswa. Subjek yang mempunyai pemikiran kritis rendah tidak dapat memahami materi tentang sistem persamaan linear dua variabel.
Rumusan Masalah
Bagaimana kemampuan berpikir kritis siswa yang tinggi dalam menyelesaikan soal HOTS pada Sistem Persamaan Linier Dua Variabel ditinjau dari kemampuan awal pada kelas VIII.1 SMP Negeri 3 Pallangga. Bagaimana kemampuan berpikir kritis siswa dalam menyelesaikan soal HOTS pada Sistem Persamaan Linier Dua Variabel ditinjau dari kemampuan awal pada kelas VIII.1 SMP Negeri 3 Pallangga. Bagaimana rendahnya kemampuan berpikir kritis siswa dalam menyelesaikan soal HOTS pada Sistem Persamaan Linier Dua Variabel ditinjau dari kemampuan awal pada kelas VIII.1 SMP Negeri 3 Pallangga.
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Sebagai bahan referensi, diharapkan dapat menyumbangkan ide-ide yang dapat menguji kemampuan berpikir kritis siswa dalam menyelesaikan soal-soal HOTS ditinjau dari kemampuan awal. Bagi siswa dapat meningkatkan kreativitas dan kemampuan berpikirnya dalam menyelesaikan soal-soal khususnya soal HOTS. Tidak hanya berfokus pada cara-cara penyelesaian masalah yang berlaku umum saja, namun ada kreativitas baru dalam menyelesaikan masalah.
Batasan Istilah
Profil
Menurut Fisher (2011), berpikir kritis adalah kemampuan menafsirkan, menganalisis, dan mengevaluasi ide dan argumen. Tujuan berpikir kritis adalah untuk meninjau dan mengevaluasi informasi yang pada akhirnya memungkinkan peneliti mengambil keputusan. 10 Tabel 2.1 Salah satu kriteria dan indikator berpikir kritis diungkapkan oleh Ennis yang disingkat FRISCO.
HOTS (Higher Order Thinking Skill)
Siswa diminta mampu mengukur dan memperoleh data dari berbagai cara dan sudut. Berdasarkan data tersebut, beberapa siswa diminta mendiskusikan validitas data dan apakah semua data mendukung keputusan tersebut. Beberapa mahasiswa kemudian diminta untuk melaksanakan program kerja PASKIBRA baru berdasarkan program yang telah mereka laksanakan sebelumnya.
HOTS
Kemampuan Awal
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa keterampilan awal merupakan hasil proses belajar mengajar yang terungkap sebelum ditemukan keterampilan yang lebih besar dari sebelumnya, seperti halnya dalam pengajaran matematika. Sebab keterampilan awal siswa merupakan prasyarat awal yang harus dimiliki siswa agar proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik. Jadi, hendaknya guru memberikan perhatian penting sebelum melaksanakan proses belajar mengajar, karena proses belajar mengajar sedikit banyak dipengaruhi oleh keterampilan awal yang dimiliki siswa.
Sistem Persamaan Linear Dua Variabel 1 Persamaan Linear Dua Variabel
- Sistem Persamaan Linear Dua Variabel(SPLDV)
Solusi SPLDV dapat ditentukan dengan mencari nilai variabel yang memenuhi persamaan linier dua variabel. Berbeda dengan metode substitusi yang menggantikan variabel, namun metode eliminasi justru menghilangkan satu variabel untuk mendapatkan nilai dari variabel lainnya.
Penelitian Yang Relevan
22 untuk aspek penilaian 'kepemilikan' sebesar 67,59% dan kedua kategori baik, sedangkan untuk aspek penciptaan 'kepemilikan' sebesar 45,37% dikategorikan cukup. Namun pada soal post test aspek analisis memperoleh rata-rata 78,70% dan aspek evaluasi 77,64% kategori baik baik, sedangkan aspek penciptaan 60,83%. Hal ini terlihat dari seringnya siswa mengalami kesalahan pada saat mengerjakan soal-soal tersebut sehingga menyebabkan nilai siswa kurang memuaskan.
Kerangka Pikir
Hasil analisis menunjukkan bahwa pada saat menyelesaikan soal no. 1: kemampuan berpikir subjek dalam menyelesaikan soal tersebut hanya sampai pada tahap mengingat, memahami dan menerapkan, karena subjek hanya mengingat, memahami dan melaksanakan. untuk mendapatkan solusi yang tepat terhadap pertanyaan solusi. Untuk mengukur kemampuan berpikir kritis siswa digunakan indikator berpikir kritis Ennis yang disingkat FRISCO yaitu (1) Fokus artinya siswa mampu menjawab pertanyaan dengan konteks masalah yang sesuai, (2) Reason artinya siswa dapat menjawab pertanyaan memberikan alasan yang berkaitan dengan bukti dan fakta-fakta yang relevan dengan setiap langkah dalam menarik kesimpulan, (3) Inferensi artinya siswa mampu menarik kesimpulan sesuai dengan proses identifikasi pada langkah kesimpulan, (4) Situasi ) artinya siswa dapat mengumpulkan informasi yang relevan dengan menggunakan konsep-konsep matematika yang relevan dengan menjawab pertanyaan, (5) Kejelasan artinya siswa dapat memperjelas suatu hal atau simbol yang belum jelas penjelasannya, (6) Ikhtisar (recheck) artinya siswa telah memeriksa kembali pekerjaannya dari awal sampai akhir. Indikator tersebut memudahkan dalam menggambarkan kemampuan berpikir kritis siswa ketika menyelesaikan soal HOTS pada sistem persamaan linear dua variabel.
Lokasi Penelitian
Subjek Penelitian
Kemudian subjek yang telah diidentifikasi tersebut diwawancarai atas kemauan subjek dan berdasarkan pertimbangan guru Matematika masing-masing. Buatlah janji temu dengan guru mata pelajaran matematika SMP Negeri 3 Pallangga mengenai komitmen waktu dan pelajaran yang akan diberikan selama penelitian. Teknik analisis digunakan untuk mengetahui kemampuan berpikir kritis dalam menyelesaikan soal HOTS berdasarkan indikator FRISCO untuk SMP Negeri 3 Pallangga.
Instrumen Penelitian
- Tes Keampuan Awal
- Validasi Soal Kemampuan Awal
- Tes HOTS
- Validasi Soal HOTS
- Pedoman wawancara
- Validasi Tes Wawancara
- Metode Wawancara
Berdasarkan Tabel 3.6, saran dan masukan dari validator dapat menjadi bahan pertimbangan dalam merevisi instrumen tes soal HOTS. Tes essay digunakan untuk melihat kemampuan awal subjek dan soal tes HOTS subjek. Pembuatan soal berbentuk deskripsi bertujuan untuk memudahkan dalam mendeskripsikan profil berpikir kritis siswa dalam menyelesaikan soal HOTS.
Rencana Pengujian Keabsahan Data
Wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara tidak terstruktur untuk memperdalam kemampuan berpikir kritis subjek.
Teknik Analisis Data
- Reduksi data
- Penyajian data
- Penarikan kesimpulan
Reduksi data merupakan suatu bentuk analisis yang mempertajam, mengkategorikan, mengarahkan, menghilangkan dan mengorganisasikan data sedemikian rupa sehingga memberikan gambaran yang jelas mengenai objek yang dianalisis dan memudahkan penelitian dalam pengumpulan data selanjutnya. Penyajian data disajikan dalam bentuk deskripsi deskriptif yang didukung dengan gambar atau benda sejenis yang mendukung data yang disajikan. Dalam penelitian ini ditarik kesimpulan dengan melihat perbedaan hasil kerja pada saat tes mata pelajaran dan hasil wawancara.
Berdasarkan hasil tes dan wawancara tersebut, dapat diambil suatu kesimpulan tentang kemampuan berpikir kritis subjek yang diteliti dengan menggunakan soal HOTS. Penelitian yang berjudul “Profil Berpikir Kritis Siswa dalam Menyelesaikan Soal HOTS Sistem Persamaan Linier Dua Variabel Ditinjau dari Kemampuan Awal Kelas VIII SMP Negeri 3 Pallangga” merupakan penelitian yang dilakukan di kabupaten Gowa yang bertujuan untuk menilai tingkat kemampuan berpikir kritis siswa dalam menyelesaikan soal HOTS pada sistem persamaan linear dua variabel dilihat dari kemampuan awal kelas VIII SMP Negeri 3 Pallangga. mengetahui kemampuan berpikir kritis siswa dalam menyelesaikan soal HOTS pada sistem persamaan linear dua variabel dengan menggunakan indikator berpikir kritis yang dikemukakan oleh Ennis yaitu FRISCO. Tahapan atau proses melakukan penelitian ini diawali dengan melakukan observasi sekaligus meminta izin kepada kepala sekolah untuk melakukan penelitian di SMP Negeri 3 Pallangga pada tanggal 24 Agustus 2020. Peneliti memperoleh izin dari pihak sekolah dan sekaligus melakukan wawancara. guru mata pelajaran matematika.
Pada tanggal 19 Oktober 2020, peneliti memberikan izin penelitian kepada SMP Negeri 3 Pallangga untuk melakukan penelitian. Peneliti kemudian ditugaskan melakukan penelitian di kelas VIII.1, pada tanggal 27 Oktober peneliti memberikan tes bakat pertama di kelas VIII.1. Subjek dengan kinerja tinggi, sedang dan rendah diambil dari Tabel 4.1. Peneliti kemudian memberikan tes kedua untuk mengukur kemampuan berpikir kritis siswa dan kemudian subjek diwawancarai.
Pengkodean Subjek Penelitian
Paparan Data
- Subjek yang Berpikir Kritis Tinggi
- Subjek yang Berpikir Kritis Sedang
- Focus : subjek menjawab pertanyaan sesuai dengan konteks permasalahan tetapi subjek tidak menuliskan yang diketahui dan
- Reason : subjek mampu membuat alasan atas jawaban yang dikerjakan pada proses penyelesaian tetapi subjek tidak menuliskan
- Inference : subjek mampu menyimpulkan pemasalahan sesuai dengan penyelesaian yang dikerjakan (menuliskan jawaban dengan
- Situation : subjek dapat memperoleh informasi yang terkait dengan proses penyelesaian permasalahan yang ada serta mengetahui konsep
- Clarity : subjek tidak dapat membaca dan memahami simbol dan subjek tidak menuliskan jawaban pada saat tes dan
- Overview : subjek tidak konsisten mengecek pekerjannya dari awal hingga akhir dari nomor 1 sampai 3
- Subjek yang Berpikir Kritis Rendah
Pada orang yang berpikir kritis tinggi menunjukkan bahwa pada tingkat fokus, subjek menjawab pertanyaan sesuai dengan konteks masalahnya (dalam prosesnya, jawabannya dituliskan, diketahui dan ditanyakan secara lengkap dan akurat). Subjek yang berpikir sangat kritis menunjukkan bahwa pada tahap penalaran subjek mampu menyimpulkan permasalahan dengan benar (menuliskan jawaban sehingga memberikan kesimpulan yang benar dan lengkap). Subjek yang berpikir sangat kritis menunjukkan bahwa pada tingkat fokus, subjek menjawab pertanyaan sesuai dengan konteks masalahnya (dalam prosesnya, jawabannya dituliskan, apa yang diketahui, dan pertanyaan diajukan secara lengkap dan akurat).
Subjek yang berpikir sangat kritis menunjukkan bahwa pada tahap kesimpulan, subjek mampu menyelesaikan permasalahan sesuai dengan solusi yang berhasil. Subjek yang berpikir sangat kritis menunjukkan tahap kejelasan, subjek membaca dan memahami simbol (menulis jawaban dengan koneksi konsep yang benar). Subjek yang berpikir sangat kritis menunjukkan bahwa pada fase fokus, subjek menjawab pertanyaan sesuai dengan konteks masalahnya (dalam proses tersebut jawaban ditulis dan ditanyakan secara lengkap dan benar).
Subjek yang berpikir sangat kritis menunjukkan bahwa pada tahap inferensi subjek mampu menyimpulkan permasalahan berdasarkan solusi yang telah ia kerjakan (menulis jawaban dengan memberikan kesimpulan yang akurat dan lengkap). Subjek yang berpikir sangat kritis menunjukkan berada pada fase kejelasan, subjek mampu membaca dan memahami simbol (menulis jawaban dengan koneksi konsep yang benar). Subjek yang berpikir kritis menunjukkan fase fokus, subjek menjawab pertanyaan sesuai konteks permasalahan, namun subjek tidak menuliskan apa yang diketahui dan ditanyakan pada saat tes.
Subjek yang berpikir kritis menunjukkan pada fase inferensi bahwa subjek mampu menyimpulkan permasalahan berdasarkan solusi yang telah ia kerjakan (menuliskan jawaban dengan memberikan kesimpulan yang benar dan lengkap). Subjek yang berpikir kritis menunjukkan fase kejelasan, subjek dapat membaca dan memahami simbol (menulis jawaban dengan koneksi konsep yang benar). Pada subjek yang berpikir kritisnya sedikit, nampaknya subjek dapat memperoleh informasi mengenai hal tersebut pada fase situasi.
Analisis dan Pembahasan Data
- Subjek Dengan Kemampuan Berpikir Kritis Tinggi Dalam Menyelesaikan Soal HOTS
- Subjek Dengan Kemampuan Berpikir Kritis Sedang Dalam Menyelesaikan Soal HOTS
- Subjek Dengan Kemampuan Berpikir Kritis Rendah Dalam Menyelesaikan Soal HOTS
Pada bagian ini dilakukan analisis data dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan berpikir kritis siswa dalam menyelesaikan soal HOTS pada sistem persamaan linear dua variabel ditinjau dari keterampilan awal khususnya pada mata pelajaran keterampilan sedang. Alasan: Subjek dapat menjelaskan jawaban dan alasan pertama kali memberikan simbol x dan y, namun subjek tidak menuliskannya saat itu. Dengan indikator fokus, subjek tidak menjawab pertanyaan konteks masalah saat tes, namun subjek dapat memberikan penjelasan saat wawancara.
Dan pada indikator rangkuman subjek tidak melakukan pengecekan ulang pekerjaannya dari awal sampai akhir, hal ini terlihat dari hasil tes yang tidak menyertakan pengecekan ulang. Hasil wawancara juga mengungkapkan bahwa subjek belum memahami cara menyelesaikan permasalahan selanjutnya. soal pada soal nomor 3 yaitu subjek. Pada bagian ini dilakukan analisis data dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan berpikir kritis siswa dalam menyelesaikan soal HOTS pada sistem persamaan linear dua variabel ditinjau dari keterampilan awal khususnya pada mata pelajaran berketerampilan rendah. Situasi: Subjek tidak dapat menjelaskan konsep-konsep yang berkaitan dengan proses penyelesaian jawaban atas pertanyaan yang diberikan.
Pada indikator situasi, subjek tidak dapat memperoleh informasi terkait proses penyelesaian permasalahan yang ada dan mengetahui konsep-konsep yang akan digunakan. Berdasarkan hasil wawancara dan tes, subjek belum mampu memahami materi sistem persamaan linear dua variabel. Pada indikator fokus, subjek tidak menjawab pertanyaan mengenai konteks permasalahan, namun subjek dapat menjelaskan pada saat wawancara.
Dan pada Indikator Rangkuman subjek tidak melakukan pengecekan ulang pekerjaannya dari awal sampai akhir, hal ini terlihat dari hasil tes yang tidak menyertakan pengecekan ulang.
Saran
- SUBJEK YANG BERPIKIR KRITIS SEDANG
- SUBJEK YANG BERPIKIR KRITIS RENDAH
- Subjek yang Berpikir Kritis Sedang a) Soal Nomor 1
- Subjek yang Berpikir Kritis Rendah a) Soal Nomor 1
Dik : jumlah 3 kali bilangan pertama dan 4 kali bilangan kedua = 66 Selisih 4 kali bilangan pertama dan 3 kali bilangan kedua = 13 Dit : Tentukan nilai kedua bilangan tersebut. Tujuan: Untuk mengetahui dan mendeskripsikan kemampuan berpikir kritis siswa ketika menyelesaikan soal HOTS kaitannya dengan kemampuan awal siswa. BKT: Yang diketahui 3 angka pertama ditambah 4 angka lainnya adalah 36 dan 4 angka pertama dikurangi 3 angka lainnya adalah 13 dan yang ditanyakan adalah model matematikanya.
BKT: Saya asumsikan yang diketahui itu Kak, angka pertama saya ambil a dan angka kedua saya ambil b. Saya asumsikan saja angka pertama a dan angka kedua b ya kak, jadi pola matematikanya adalah 3a+4b=66 dan 4a- 3b=13 gan. BKT: karena menurutku itu tidak perlu kakak, jadi aku akan menulis model matematikanya saja untuk kakak.
BKS : Saya akan menguji apa yang saya ketahui dan tanyakan, namun saya rasa saya akan segera menuliskan cara penyelesaiannya. BKS : Model matematikanya langsung saya tulis ya kak, karena 3 kali bilangan pertama ditambah 4 kali bilangan kedua sama dengan 66. BKR : Diketahui ada 2 bilangan asli yang jumlah 3 kali bilangan pertama dan 4 dikalikan bilangan kedua = 66 dan selisih 4 kali bilangan pertama dan 3 kali bilangan kedua = 13.