• Tidak ada hasil yang ditemukan

Landasan Peningkatan Kualitas Pendidikan di Indonesia

N/A
N/A
Siti Rahma

Academic year: 2024

Membagikan " Landasan Peningkatan Kualitas Pendidikan di Indonesia"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM

“PRINSIP-PRINSIP PENDIDIKAN ISLAM”

Disusun Oleh:

Siti Rahma Dongoran (2350100020)

Dosen Pengampu :

Dr. Zainal Efendi Hasibuan, MA

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM PROGRAM PASCA SARJANA

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN UIN SYEKH ALI HASAN AHMAD ADDARY

PADANG SIDIMPUAN 2023

(2)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sumber utama pendidikan Islam yaitu Al-Quran, Sunnah Nabi Muhammad SAW, pendapat para sahabat muslim, ulama dan ilmuwan. Penulis menekankan bahwa pendidikan Islam sebagai ilmu perlu memperluas visinya terhadap kondisi pendidikan saat ini yang masih jauh dari harapan. Meskipun pendidikan Islam diharapkan dapat memberikan kontribusi positif terhadap pendidikan di Indonesia, namun hal tersebut belum sepenuhnya terwujud.

Salah satu penyebab kurang optimalnya suatu hal, dalam konteks ini pendidikan, adalah ketidakmenerapkan prinsip-prinsip sebagai landasan. Penulis mengkritik kecenderungan di mana prinsip-prinsip seringkali hanya dianggap sebagai formalitas belaka, tanpa dijadikan dasar atau pondasi yang benar-benar diperlukan untuk mencapai tujuan pendidikan. Penekanan diberikan pada pentingnya prinsip-prinsip ini dan urgensi dalam mencapai tujuan pendidikan Islam.

B. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan prinsip pendidikan Islam?

2. Apa saja prinsip dasar pendidikan Islam?

3. Apa saja prinsip pedidikan Islam sebagai disiplin ilmu?

(3)

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Prinsip Pendidikan Islam

Istilah "asas atau dasar" dijelaskan sebagai kebenaran yang berubah menjadi pokok yang dipikirkan dan menjadi dasar bagi pemikiran dan tindakan. Kamus Besar Bahasa Indonesia digunakan sebagai referensi untuk mendefinisikan istilah ini. Selanjutnya, kalimat mengenai prinsip menyatakan bahwa asas atau kebenaran yang menjadi dasar bagi pemikiran, tindakan, dan sebagainya, dikenal sebagai prinsip. Pernyataan ini merujuk pada pandangan Dagobert D. Rune yang disampaikan oleh Syamsul Nizar. Rune mendefinisikan prinsip sebagai "truth global" atau kebenaran yang bersifat universal, yang merupakan hakikat atau inti dari sesuatu. Dengan demikian, kalimat tersebut menggambarkan konsep prinsip sebagai dasar universal yang menjadi pijakan untuk pemikiran dan tindakan.1

Di sisi lain, pendidikan juga didefinisikan sebagai proses mengajar seseorang atau sekelompok orang bagaimana menggunakan pendidikan dan pelatihan untuk umat manusia yang lebih baik. Dengan demikian parametre pendidikan, kebenaran yang sifatnya universal sehingga dapat diartikan sebagai dasar untuk merincikan metode pendidikan. Keduanya merupakan agama atau bahasa nasional yang diakui secara resmi.2

Sebagai salah satu jenis pendidikan agama, pendidikan Islam dapat dianggap sebagai suatu proses yang dilakukan oleh masyarakat awam melalui pengajaran yang ditujukan kepada umat Islam dengan tujuan membantu peserta didik mencapai hasil yang baik, baik di dunia maupun di akhirat. Pendidikan ini dianggap sebagai jenis pendidikan agama yang menekankan pada pengajaran dan bimbingan pembentukan karakter sesuai ajaran Islam, dengan fokus pada pencapaian kebahagiaan dunia dan akhirat. Pentingnya bimbingan dalam

1 Tim Perumus, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2007), hlm. 896 2 Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia 2008), hlm. 28.

(4)

pendidikan Islam ditekankan dan landasan pendidikan tersebut digambarkan sebagai “asas atau landasan upaya pengajaran”. Yayasan ini menekankan pada upaya seseorang atau sekelompok orang untuk membentuk karakternya sesuai dengan ajaran Islam. Pemahaman tersebut mencakup konsep bahwa landasan pendidikan Islam mencakup upaya pembelajaran yang terfokus pada pencapaian kebahagiaan dunia dan akhirat.

Menurut Usman Abu Bakar, landasan pendidikan Islam juga mencakup penggunaan kesabaran, keimanan, kerja keras dan disiplin dalam melaksanakan kegiatan yang berkaitan dengan pendidikan Islam. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan Islam memerlukan perpaduan nilai dan prinsip tertentu untuk mencapai tujuannya. Hal ini mencakup konsep bahwa landasan pendidikan Islam mencakup upaya pembelajaran yang terfokus pada pencapaian kebahagiaan dunia dan akhirat.3 Pandangan Syed Muhammad Naquib Al-Attas terhadap pendidikan. Al- Attas menuturkan bahwasanya pendidikan merupakan suatu proses yang bertujuan mengajarkan sesuatu kepada manusia agar mereka mampu menerapkannya dalam kehidupan mereka sendiri dan mengambil pelajaran darinya. Pendidikan tidak hanya mencakup proses pengajaran, tetapi juga melibatkan isinya. Kemudian, jika prinsip-prinsip pendidikan terlibat dalam suatu program pendidikan, maka prinsip- prinsip tersebut dapat dianggap sebagai prinsip universal. Prinsip-prinsip tersebut kemudian dapat dijadikan landasan dalam mengembangkan program pendidikan.

Ditekankan bahwa prinsip-prinsip pendidikan ini berasal dari kerangka pendidikan, yang bisa bersumber dari ideologi nasional atau keyakinan agama. Pentingnya prinsip-prinsip pendidikan sebagai panduan dalam mengembangkan program pendidikan yang dapat diaplikasikan secara universal, sejalan dengan nilai-nilai yang mendasari kerangka pendidikan, seperti ideologi nasional atau keyakinan agama.

Prinsip pendidikan Islam bersandar pada prinsip filsafat Islam yang sejalan dan logis mengenai masyarakat, negara, ilmu pengetahuan, dan akhlak. Respons Islam terhadap isu-isu tersebut kemudian menyoroti beberapa prinsip pendidikan Islam. Artinya, prinsip-prinsip pendidikan Islam tidak hanya berdiri sendiri,

3 Usman Abu Bakar, Fungsi Ganda Lembaga Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Safiria Insania Pres, 2005), hlm. 50.

(5)

melainkan terintegrasi dengan prinsip-prinsip filsafat Islam yang mencakup pandangan Islam tentang manusia, masyarakat, negara, ilmu pengetahuan, dan moral. Respons Islam terhadap hal ini menekankan dan menggambarkan prinsip khusus bagi pendidikan Islam yang diarahkan oleh nilai-nilai dan konsep-konsep yang berasal dari pandangan filosofis Islam. Dengan kata lain, pendidikan Islam tidak hanya berfokus pada aspek-aspek praktis, tetapi juga terakar dalam kerangka pemikiran dan nilai-nilai filosofis Islam yang mendalam. Prinsip-prinsip ini memberikan dasar dan pedoman untuk membentuk pendidikan Islam yang holistik dan konsisten dengan prinsip-prinsip filsafat Islam yang melandasi keyakinan dan nilai-nilai dalam masyarakat Islam.

B. Prinsip-Prinsip Dasar Pendidikan Islam

Sesuai dengan konteks pendidikan Islam, prinsip pendidikan dianggap sebagai contoh dari seluruh elemen yang membentuk pendidikan secara keseluruhan. Pendidikan, dalam pandangan ini, dianggap sebagai satu-satunya sesuatu yang manusia gunakan untuk memastikan keberlangsungan hidup, apakah itu sebagai individu atau sebagai masyarakat. Pendidikan dianggap sebagai alat yang esensial untuk memastikan kelangsungan hidup, mencakup survival sebagai individu dan kelangsungan hidup masyarakat. Lebih lanjut, pendidikan juga dipandang sebagai sarana untuk mengembangkan potensi diri, sehingga potensi tersebut dapat digunakan secara efektif untuk memenuhi kebutuhan yang terus berubah. Prinsip yang mendukung pendidikan Islam searah dengan unsur-unsur penyusunanya, yaitu;

1. Tujuan

Tujuan dianggap sebagai penentu, yang menjadi salah satu komponen karena memberikan arah yang jelas bagi proses pendidikan. Dengan adanya tujuan, metode dan materi pendidikan dapat diterapkan secara efektif.

Menurut Omar Muhammad Al Toumy Al Syaibani, terdapat beberapa prinsip yang menjadi dasar tujuan pendidikan. Pertama, prinsip universalitas menunjukkan bahwa tujuan pendidikan harus bersifat umum dan dapat diterapkan secara luas. Keseimbangan dan kesederhanaan mencerminkan pentingnya menjaga proporsi dan sederhana dalam merumuskan tujuan.

(6)

Kejelasan dan kurangnya kekaburan menekankan perlunya tujuan yang jelas dan tidak ambigu. Prinsip realisme dan kelayakan menunjukkan bahwa tujuan pendidikan harus realistis dan dapat dicapai, serta mempertimbangkan kelayakan dari segi sumber daya dan waktu. Perubahan yang diingini mengacu pada tujuan pendidikan untuk menciptakan perubahan positif.4 Tujuan pendidikan tidak hanya memberikan arah tetapi juga harus didasarkan pada prinsip-prinsip tertentu, yang mencakup universalitas, keseimbangan, kejelasan, realisme, perubahan yang diharapkan, menjaga berbedanya antar individu, dan dinamisme.

a. Universal (menyeluruh)

Islam tidak hanya dilihat sebagai seperangkat norma atau aturan, tetapi juga sebagai sistem panduan yang mencakup berbagai aspek kehidupan. Ini termasuk memberikan arah mengenai tujuan hidup seseorang, membentuk interaksi sosial, dan menegaskan keterkaitan antara manusia dengan lingkungannya. Dengan demikian, Islam dianggap sebagai landasan untuk membimbing individu dalam membentuk pemahaman holistik tentang kehidupan dan menentukan perilaku yang sesuai dengan ajaran agama.

b. Keseimbangan dan kesederhanaan

Pendidikan Islam bertujuan untuk mendamaikan perbedaan antara kebutuhan massa dan individu, serta antara kebutuhan pertama dan kedua.

c. Kejelasan

Pendidikan Islam dicirikan oleh pendekatannya yang komprehensif dan seimbang, yang menekankan pemahaman dan kasih sayang dalam pengajaran dan pembelajaran, serta kejelasan dan pragmatisme dalam pengajaran dan hukum serta memberikan jawaban Akal dan Jiwa membutuhkan pernyataan yang jelas dan ringkas.

4 Omar Muhammad Al-Toumy Al-Syaibany, Filsafat Pendidikan Islam, alih bahasa, Hasan Langgulung, (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), hlm. 437

(7)

Semuanya akan diterapkan dengan metode, kurikulum, dan tujuan jelas serta lugas.

d. Tak ada pertentangan

Tujuan pendidikan dalam Islam tidak hanya diungkapkan melalui satu cabang atau aspek saja, tetapi mencakup berbagai bidang kehidupan dan keilmuan. Disebabkan itulah, pelaksanaan tujuan pendidikan dalam Islam diakui sifat kealamiannya, sesuai dengan nilai serta pendidikan agama Islam yang bersumber dari Allah. Dengan demikian, tujuan pendidikan Islam dianggap memiliki kesucian dan kebijaksanaan yang berasal langsung dari sumber Ilahi.

e. Realisme dan dapat dilaksanakan

Tujuan dalam hukum dan pendidikan Islam ingin dicapai melalui metode dan prosedur yang sesuai dengan kondisi dan sumber daya manusia dan masyarakat. Dengan kata lain, pendekatan yang digunakan diarahkan untuk sama dengan realitas dan kebutuhan praktis yang ada.

Selain itu, metode dan prosedur yang digunakan dalam hukum dan pendidikan Islam haruslah sesuatu yang dapat diakses dan dilaksanakan kapan saja dan di mana saja.

f. Perubahan yang diingini

Pendidikan adalah suatu cara yang diharapkan membawa perubahan yang dapat diamati dalam berbagai bidang kehidupan, seperti keadilan, etika, psikologi, pekerjaan sosial, dan kehidupan masyarakat.

Pernyataan ini menekankan bahwa tujuan pendidikan tidak hanya sekedar aspek pengetahuan, namun juga merangkap pada perubahan yang diamati dalam perilaku dan nilai-nilai individu. Tujuan utama pendidikan tidak hanya terletak pada peningkatan pengetahuan, tetapi juga pada perubahan yang dapat memperbaiki dan memperkaya kehidupan individu dan masyarakat secara keseluruhan.

g. Menjaga perbedaan perseorangan

(8)

Perbedaan perseorangan atau individual differences mencakup variasi dalam kemampuan, kebutuhan, minat, dan karakteristik lainnya antar individu. Pentingnya pemahaman terhadap perbedaan ini dijelaskan bahwa dalam pendidikan Islam, semua aspek, mulai dari tujuan, kurikulum, hingga metode, dirancang dan dipelihara dengan baik untuk mengakomodasi keberagaman tersebut

h. Dinamisme

Pendidikan Islam tidak bersifat statis atau tertinggal, tetapi berusaha untuk tetap relevan dan efektif untuk menghadapi perubahan zaman serta tantangannya. Jadi, perbaharuan dan pengembangan pendidikan Islam dianggap sebagai suatu keharusan untuk menjaga relevansinya dan memberikan kontribusi positif terhadap perkembangan individu dan masyarakat dalam berbagai konteks zaman.

2. Kurikulum

Evolusi istilah "kurikulum" yang awalnya muncul pada tahun 1856 dalam kamus Webster dan pertama kali digunakan dalam konteks dunia olahraga. Pada awalnya, istilah tersebut tidak terkait dengan bidang pendidikan. Namun, perkembangan selanjutnya menunjukkan bahwa kurikulum ini mulai diterapkan di bidang pendidikan pada tahun 1955. Sebagai kumpulan materi pendidikan yang diorganisasikan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai merupakan maksud dari kurikulum. Dengan demikian, kurikulum menjadi suatu sistem terstruktur yang merincikan perencanaan pembelajaran agar mendapatkan hasil dari pendidikan yang ditentukan.5 Manhaj yang digunakan dalam literatur Arab untuk menggambarkan suatu jalan atau metode yang sulit yang harus diemban oleh manusia dalam berbagai aspek kehidupannya. Istilah ini membawa konsep perjalanan atau pendekatan yang tidak selalu mudah, melainkan memerlukan usaha dan perjuangan. Menurut Omar Muhammad Al Toumy Al Syaibani, pendekatan ini mungkin merujuk pada suatu sistem atau filosofi hidup yang mencakup nilai-nilai, norma-norma, dan tata cara yang harus diikuti oleh individu untuk mencapai tujuan tertentu

5Khoiron Rosyadi, Pendidikan Profetik, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), hlm. 239

(9)

dalam kehidupan mereka. Ini menunjukkan bahwa "manhaj" dapat melibatkan upaya yang mendalam dan komprehensif dalam menjalani perjalanan kehidupan, dengan implikasi bahwa pencapaian tujuan tersebut memerlukan kedisiplinan, tekad, dan ketekunan. prinsip-prinsip berikut ini mengatur kurikulum:

a. Bertautan (koneksi) yang semata-mata didasarkan pada agama, pendidikan, dan pengetahuan.

b. Menekankan tujuan dan isi kurikulum.

c. Hubungan antara tujuan dan isi kurikulum.

d. Bakat, minat, kemampuan, dan kebutuhan siswa dapat diukur atau dilihat dengan mempertimbangkan lingkungan alam, fisik, dan sosial di tempat mereka tinggal. Ini menunjukkan bahwa faktor-faktor eksternal seperti lingkungan dapat mempengaruhi perkembangan dan kebutuhan individual siswa.

e. Menghargai dan merawat perbedaan individu dalam hal bakat, minat, kemampuan, kebutuhan, dan permasalahan siswa. Ini mencerminkan pendekatan yang inklusif dan responsif terhadap keunikkan setiap siswa, yang dapat membantu menciptakan lingkungan belajar yang lebih mendukung.

f. pertumbuhan Islam dianggap sebagai sumber filosofi atau dasar pemikiran.

Selain itu, prinsip-prinsip Islam membentuk dasar dari kurikulum, menunjukkan pentingnya nilai-nilai agama dan kepercayaan dalam merancang materi pendidikan.

g. Ada hubungan antara pembelajaran, pengalaman, dan aktivitas dalam kurikulum. Ini menggarisbawahi pentingnya mengintegrasikan pengalaman dan aktivitas yang relevan dengan proses pembelajaran, menciptakan keterkaitan yang kuat antara teori dan praktik dalam pendidikan.6

6Omar Muhammad Al-Toumy Al-Syaibany, Op.Cit., hlm. 478-522

(10)

Menurut Abududdin Nata, prinsip yang melandasi pendidikan Islam idak hanya memberikan pengetahuan agama, tetapi juga membentuk karakter, memahami konteks universal, menjaga keseimbangan, dan mengakomodasi perubahan dalam masyarakat dan psikologi individu.7

3. Metode

Metode ini erat kaitannya dengan ajaran Islam dari Al-Qur'an dan Sunnah yang berisi petunjuk dan prinsip. Selain itu, ayat ini menunjukkan bahwa Al-Quran dan Sunnah dapat dipahami sebagai konsep metode pembelajaran. Hal ini menunjukkan bahwa persoalan metodologi dalam konteks pendidikan Islam mendapat perhatian khusus.

M. Athiyah Al Abrasyi yang dikutip oleh Omar Muhammad Al Toumy mengutarakan pandangannya tentang metode ini sebagai “perjalanan yang kami lakukan untuk memberikan ilmu kepada siswa dalam berbagai mata pelajaran”. Pernyataan ini menunjukkan bahwa dalam konteks pendidikan, metode dianggap sebagai suatu perjalanan atau proses yang dilakukan untuk mentransfer pengetahuan kepada siswa, dan hal ini dapat melibatkan jenis mata pelajaran. Selanjutnya, Ali Al-Jumbalaty dan Abd Fatah Attawanisy memberikan perspektif tambahan mengenai metode. Menurut mereka, metode merujuk pada pendekatan atau teknik yang digunakan oleh seorang guru untuk mengajar atau menyampaikan informasi kepada siswa. Langkah-langkah atau cara yang diambil oleh guru dalam menyampaikan informasi kepada otak murid. Dengan kata lain, metode dipahami sebagai serangkaian tindakan atau pendekatan yang diadopsi oleh guru untuk mengajar dan berkomunikasi dengan siswa.8

Menurut Abududdin Nata, prinsip yang menjadi dasar pendidikan Islam mencakup beberapa aspek, yaitu "kesesuaian dengan psikologi anak, pencapaian tujuan pembelajaran, pengurangan stres, dan partisipasi dalam kegiatan praktis." Ini menunjukkan bahwa pendidikan Islam, menurut pandangan tersebut, harus memperhatikan aspek psikologis anak, mencapai

7Abuddin Nata, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004), hlm. 16 8 Ibid., hlm. 209

(11)

tujuan pembelajaran dengan efektif, mengurangi stres dalam proses pembelajaran, dan menggalakkan partisipasi siswa dalam kegiatan praktis.

Di sisi lain, menurut Khoiron Rasyidi, prinsip di balik metode pendidikan Islam mencakup banyak aspek berbeda yang bertujuan untuk menciptakan lingkungan belajar yang positif. Prinsip-prinsip tersebut antara lain “menyediakan suasana gembira, memberikan pelayanan dan dukungan yang lembut dan bermakna kepada siswa, prasyarat, komunikasi terbuka, perilaku yang baik, praktik positif, kasih sayang dan bimbingan terhadap siswa." Hal ini menggambarkan bahwa metode pembelajaran dalam konteks pendidikan Islam seharusnya mencakup unsur-unsur seperti kegembiraan, layanan yang lembut, makna bagi siswa, prasyarat yang diperlukan, komunikasi terbuka, perilaku positif, praktik aktif, kasih sayang, dan pembinaan bagi siswa.9

4. Pendidik

Al-Mu'allim (guru), Al-Mudarris (pengajar), Al-Muaddib (pendidik), dan Al-Walid (orang tua). Fokus disini tidak akan membahas perbedaan gaya, melainkan akan membahas cara memilih gaya yang optimal bagi pendidik yang dianggap sempurna menurut syariat Islam. Berikut adalah poin-poin yang dibahas:

a. Pelajari lebih lanjut tentang apa yang perlu Anda ketahui: Pentingnya pendidik untuk terus belajar dan meningkatkan pengetahuan mereka, sehingga mereka dapat memberikan pendidikan yang lebih baik kepada siswa.

b. Mendiskusikan komposisi materi yang akan diajarkan: Pentingnya berdiskusi tentang materi yang akan diajarkan, mungkin dengan kolega atau pakar subjek, untuk memastikan pemahaman yang lebih baik.

c. Membantu dalam menganalisis materi yang akan diajarkan dan menghubungkannya dengan konteks: Pandangan bahwa pendidik seharusnya tidak hanya memahami materi secara teoritis, tetapi juga mampu menghubungkannya dengan konteks kehidupan nyata siswa.

9Khoiron Rosyadi, Op.Cit., hlm. 216

(12)

d. Tentukan apa yang diajarkan sesegera mungkin: Pentingnya perencanaan dan penetapan tujuan pembelajaran sejak dini untuk memberikan struktur yang jelas dalam pengajaran.

e. Dapat mengevaluasi proses dan hasil pendidikan: Perlunya evaluasi terhadap proses dan hasil pembelajaran untuk menentukan efektivitas metode pengajaran yang diterapkan.

f. Anda akan dapat memberikan reward dan memberi hukuman yang salah:

Pentingnya pendidik untuk memahami cara memberikan penghargaan atau hukuman dengan bijaksana, sesuai dengan prinsip-prinsip Islam dan keadilan.

Menurut Islam, prinsip-prinsip pengajaran yang baik antara lain:

mempunyai cita-cita, menyamakan diri dengan patokan, menyayangi anak- anak, mempunyai ilmu, mempunyai bakat, mempunyai sikap, wibawa, ikhlas dalam melayani, mempunyai sifat-sifat teladan, zuhud, kebersihan, pemaaf, kasih sayang, kejujuran dalam pengertian dan keadilan dalam segala hal.

5. Anak didik

Pendidikan adalah proses menggabungkan pengetahuan dan keterampilan dengan bakat yang dimiliki setiap individu. Beberapa hal yang harus diperhatikan oleh seorang pendidik dalam konteks pembelajaran anak- anak, yaitu:

a. Anak-anak bukanlah miniatur orang dewasa: Memahami bahwa anak-anak memiliki karakteristik dan kebutuhan yang unik, berbeda dari orang dewasa.

b. Siswa mengikuti tahapan perkembangan tertentu: Siswa mengalami tahapan perkembangan yang berbeda, dan pengajaran harus disesuaikan dengan tahap tersebut.

c. Siswa mempunyai model pengembangannya sendiri: Setiap siswa memiliki pola pengembangan sendiri, dan pendidik perlu memahami serta menghormati perbedaan ini.

(13)

d. Anak harus menyelesaikan tugas perkembangannya: Anak-anak memiliki tugas perkembangan yang harus diselesaikan, dan pendidik dapat membantu mereka dalam proses ini.

e. Kebutuhan Siswa: Memahami dan memenuhi kebutuhan siswa dalam konteks pendidikan.

f. Perbedaan individu anak: Mengakui dan merespons perbedaan individual di antara siswa.

g. Anak-anak mempunyai total jam: Ini merujuk pada konsep bahwa anak- anak memiliki waktu terbatas dan penting bagi pendidik untuk merencanakan pengajaran yang efektif dalam waktu yang tersedia.

h. Anak-anak adalah makhluk yang aktif dan kreatif: Menyoroti sifat aktif dan kreatif anak-anak, menekankan bahwa metode pengajaran harus merangsang kreativitas dan partisipasi aktif siswa.10

6. Lingkungan

Lingkungan pendidikan mengacu pada situasi, kondisi atau lembaga yang melingkupi seseorang dan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan pribadi siswa. Teori konvergensi William Stren dipandang semakin sesuai dengan pandangan Islam tentang pendidikan, karena Islam mengakui adanya unsur “fundamental” (nativis) dan “pedagogis” (empirisme) dapat berkembang lebih baik dalam kondisi lingkungan yang mendukung.

Menurut Abududdin Nata, prinsip pengelolaan lingkungan pendidikan meliputi keterpaduan anak dengan lingkungan, meliputi pengetahuan, metode, dan alat dari dalam kelas. Dengan mengintegrasikan anak ke dalam lingkungannya, baik pengetahuan maupun praktiknya, diharapkan anak mampu.

7. Evaluasi

Evaluasi merupakan suatu proses atau alat yang digunakan dalam bidang pendidikan untuk menilai atau menentukan nilai suatu aspek, baik itu akademis maupun praktis. Dalam konteks pendidikan Islam, evaluasi digunakan untuk membandingkan kinerja siswa dengan maksud pembelajaran

10Khoiron Rosyadi, Op.Cit., hlm. 172

(14)

yang sudah ditetapkan. Ini bermaksud dapat mencakup aspek akademis seperti pemahaman materi pelajaran, keterampilan berpikir kritis, dan aspek praktis seperti implementasi norma-norma Islam dalam keseharian.

Ramayulis dalam bukunya “Ilmu Pendidikan Islam” mengatakan bahwa prinsip-prinsip pendidikan Islam antara lain:

a. Pendidikan adalah penerapan karakteristik (ciri-ciri) manusia

Ajaran Islam menyatakan bahwa aturan-aturan berikut ini mengatur perilaku manusia terhadap makhluk hidup lainnya:

1) Fitrah/Agama

Sifat setiap manusia tunduk pada kesepakatan bahwa seseorang menerima Allah sebagai Tuhan yang harus disembah.

Perwujudan fitrah (pengakuan) keimanan kepada Tuhan terjadi dalam bentuk ibadah, dan ibadah inilah yang menjadi tujuan utama penciptaan manusia (al Zariyat: 56) 2).

ِن ْوُدُبْعَيِل للِا َسْنِ ْلاَو لنِجْلا ُتْقَلَخ اَمَو

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku”.

2) Kesatuan antara roh dan jasad

Manusia terdiri dari dua bagian: roh dan jasad. Menurut aturan, manusia dan hewan memiliki banyak kesamaan karakteristik, termasuk keinginan untuk tumbuh dan meningkatkan diri. Namun dari sudut pandang spiritual, perbedaan antara manusia dan hewan sudah jelas, firman Allah dalam surat as-Sajadah ayat 7-8.

) ٍنْيِط ْنِم ِناَسْنِ ْلا َقْلَخ َاَدَبَو ٗهَقَلَخ ٍءْيَش للُك َنَسْحَا ْٓيِذللا

٧ )

) ٍنْيِهلم ٍءۤالم ْنّم ٍةَلٰلُس ْنِم ٗهَلْسَن َلَعَج لمُث

٨ )

(15)

(7)"(Dia juga) yang memperindah segala sesuatu yang Dia ciptakan dan memulai penciptaan manusia dari tanah". (8) "Kemudian, Dia menjadikan keturunannya dari sari pati air yang hina (air mani).

Roh dan berkembang manusia, yang dipisahkan oleh oase qalb dan aqal, adalah dua kekuata yang dimiliki oleh roh. Dalam pendidikan Islam, semua daya ini diajarkan secara seimbang, dengan para filsuf lebih menekankan aqal daripada para sufi yang menekankan qalb, dan manusia memiliki fitrah (potensi)

3) Kebebasan berkehendak

Kebebasan merupakan sifat manusia yang mencakup berbagai aspek. Beberapa aspek tersebut di antaranya termasuk kemampuan untuk bekerjasama, memiliki empati, kejelian, kreativitas, dan lain- lain. Dengan kata lain, kebebasan dalam konteks ini tidak hanya dipahami sebagai kebebasan fisik atau kebebasan dari kendala, tetapi juga sebagai kapasitas manusia untuk mengekspresikan diri, berinteraksi dengan lingkungannya, dan menunjukkan sifat-sifat positif seperti kecerdasan emosional, kolaborasi, ketelitian, dan kreativitas.

b. Pendidikan Islam itu integral dan terpadu

Dalam pendidikan Islam tidak ada pemisahan atau dikotomi antara ilmu-ilmu umum seperti sains, biologi, fisika, kimia, dan lain-lain dengan pengetahuan agama. Pandangan ini sesuai dengan petunjuk Aqidah Islam yang menekankan integrasi dan kesatuan antara berbagai bidang ilmu pengetahuan. Dalam Islam, setiap ilmu dihargai, dan tujuannya adalah untuk mendorong individu yang meragukan untuk bekerja lebih keras dalam meningkatkan keimanan kepada Allah SWT dan cinta mereka kepada Nabi Muhammad SAW.

c. Pendidikan Islam adalah pendidikan yang seimbang

Islam senantiasa mengajarkan bahwa semua individu, tanpa memandang latar belakang etnis, ras, kelas sosial, atau jenis kelamin,

(16)

memiliki nilai yang sama di hadapan Allah. Firman Allah dalam surah al- Qashash ayat 77.

َكْيَلِا ُ ٰاا َنَس ْحَا اَمَك ْنِس ْحَاَو اَيْنّدلا َنِم َكَبْيِصَن َسْنَت َلَو َةَرِخٰ ْلا َرالدلا ُ ٰاا َكىٰتٰا اَمْيِف ِغَتْباَو

َنْيِدِسْفُمْلا ّبِحُي َل َ ٰاا لنِاۗ ِضْرَ ْلا ىِف َداَسَفْلا ِغْبَت َلَو

“Dan, carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi.

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

d. Pendidikan Islam itu universal

Pendidikan Islam merupakan landasan utama yang memperlakukan semua ilmu pengetahuan dengan setara dan tanpa membedakan antara perspektif manusia dan ilahi. Islam, sebagai dasar pendidikan, memiliki aspirasi untuk mencakup semua aspek kehidupan, menggambarkan pandangan bahwa agama tidak hanya berfokus pada dimensi spiritual tetapi juga memperhatikan dimensi fisik, mental, dan sosial manusia.

Zakiah Derajat menyebutkan, pendidikan Isalm bertujuan untuk mengembangkan, memperkuat, dan memperluas semua aspek martabat manusia serta semua aspek kehidupan sehari-hari. Ini mencakup dimensi fisik (jasmani), mental (akal), spiritual (rohaniah), dan sosial, yang disusun secara sistematis, sistematik, dan teratur.11

e. Pendidikan Islam adalah pendidikan yang dinamis

Islam sebagai sebuah filosofi pengajaran tidak bersifat statis atau tetap dalam hal tujuan, materi, kurikulum, media, dan metodenya.

Sebaliknya, Islam dianggap sebagai ajaran yang terus menganalisis, mengadaptasi, dan merespons kebutuhan masyarakat sesuai dengan

11Zakiah Drajat, Pendidikan Islam dalam Keluarga dan Sekolah, (Jakarta: Ruhama, 1994), h. 1- 19

(17)

perubahan sosial dan evolusi masyarakat. Hal ini dilakukan tanpa bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam yang mendasar.12

C. Prinsip-Prinsip Pedidikan Islam Sebagai Disiplin Ilmu

Pandangan dan pendapat para sahabat Nabi (para pengikut langsung Nabi Muhammad) serta pandangan cendekiawan atau ilmuwan Muslim juga memiliki nilai tambah dalam memahami dan mempelajari Islam. Pandangan mereka dapat memberikan konteks historis, penafsiran, dan aplikasi praktis yang membantu dalam pemahaman yang lebih mendalam terhadap ajaran Islam.13

Pendidikan Islam berusaha untuk mengilmiahkan wawasan atau pandangan mengenai pendidikan, yaitu mengedepankan pendekatan yang ilmiah dan terperinci dalam memahami konsep-konsep pendidikan yang terdapat dalam sumber-sumber utama, seperti Al-Qur'an, dengan referensi pada pendapat para sahabat, ulama, dan ilmuwan Muslim. Materi-materi fundamental dalam bidang pendidikan Islam mencakup nilai-nilai kependidikan atau implikasi-implikasi kependidikan yang masih relevan dan digunakan dalam konteks pendidikan Islam.

Hubungan antara pengetahuan akademis, nilai-nilai keilmuan, dan nilai-nilai ketuhanan. Menyoroti bahwa nilai-nilai ketuhanan dianggap memiliki posisi yang lebih tinggi daripada nilai keilmiahan dan pengetahuan, mengakui bahwa aspek keagamaan memiliki prioritas. Isi pendidikan Islam didasarkan pada teori-teori dan konsep-konsep yang dirumuskan untuk membentuk suatu kesatuan elemen yang saling berkaitan dalam pendidikan Islam.

Pendidikan Islam fokus pada keterlibatan dalam dialog dengan penelitian empiris. Ini mencakup penggunaan fakta atau informasi untuk mengembangkan teori-teori yang kredibel sebagai dasar penyelidikan berbagai aspek pengetahuan Islam. Tuntutan Ilmu Pendidikan Islam (IPI) terhadap adanya teori yang dapat dijadikan pedoman operasional dalam praktik pendidikan sehari-hari. Ini menekankan pentingnya pendekatan yang tidak hanya teoretis tetapi juga dapat diimplementasikan dalam kegiatan pendidikan.

12 Ramayulis, op.cit., h. 28-36

13 Arifin, Muzayyin. Kapita Selekta Penddikan Islam. (Jakarta: PT Bumi Aksara. 2003). Hlm, 17.

(18)

Pandangan Islam terhadap kependidikan yang bersumber dari Al-Qur'an dijadikan sebagai bahan untuk merumuskan konsepsi pendidikan Islam, baik dalam dimensi teoretis maupun praktis. Fleksibilitas dalam lapangan operasional, menunjukkan adaptabilitas dan kesiapan untuk menghadapi berbagai tantangan dan dinamika yang mungkin terjadi dalam praktik pendidikan sehari-hari.

Pendidikan Islam menetapkan tujuan yang berbeda-beda dengan cita-cita budaya masing-masing masyarakat, sehingga umat manusia secara keseluruhan, menurut Al-Quran secara keseluruhan, tidak akan mampu menegakkan syariat Islam dan juga akan mempunyai standar tersendiri, cita-cita moral yang berbeda.

Cara hidup Islam telah ditetapkan oleh Al-Quran dan pendidikan Islam harus mencerminkan hal ini.14 Metode yang digunakan dalam pendidikan Islam berbasis pedofilia, dimana potensi manusia dijadikan dasar dalam proses pendidikan.15

Berikut ini adalah beberapa keharusan yang ditemukan dalam pendidikan Islam.16

1. Pendidikan Islam perlu mempertimbangkan bagaimana memenuhi kebutuhan generasi penerus dengan cara yang sistematis dan penuh kasih sayang.

Pemahaman bahwa prinsip-prinsip inti Islam bersifat aspiratif dan sesuai dengan fitrah manusia menjadi dasar untuk memandu pendidikan agar dapat mencapai tujuan ini.

2. Pendidikan Islam diharapkan dapat membantu generasi muda untuk menjalani kehidupan yang lebih sederhana, diperkaya dengan iman, moralitas, dan pengetahuan. Tujuannya adalah untuk mengilhami kreativitas dalam kegiatan- kegiatan yang sejalan dengan ajaran Al-Qur'an.

3. Pendidikan Islam dianggap sebagai disiplin intelektual yang memiliki peran penting dalam melestarikan dan menjunjung tinggi tradisi Islam-etnis serta nilai- nilai moral dalam komunikasi sosial dan interpersonal. Ini menjadi krusial dalam menghadapi perkembangan pesat dan teknologi maju dalam masyarakat.

14 Nasir S. 2020. Prinsip-prinsip pendidikan Islam: Universal, Keseimbangan, Kesederhanaan, Perbedaan Individu dan Dinamis.Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Islam. Vol.7.No.2

15 Bukhari Umar. 2010. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta:Amzah

16 Herman, Prinsip-prinsip dalam Pendidikan Islam (Universal, Keseimbangan dan Kesederhanaan. Jurnal Al-Ta’dib. 2014, hlm. 107.

(19)

4. Keberlanjutan efektivitas pendidikan Islam diukur oleh kemampuannya untuk mengurangi pengaruh lingkungan negatif di lembaga pendidikan. Dengan demikian, pendidikan Islam diharapkan dapat mencapai kondisi akhir yang diinginkan, baik untuk individu maupun sebagai anggota masyarakat dan warga negara yang berkualitas tinggi.

Motto filosofi kerja kita antara lain adalah firman Allah : “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sampai Dia merubah keadaan diri- Nya sendiri”.

BAB III

(20)

PENUTUP A. Kesimpulan

Pendidikan Islam diarahkan untuk mengembangkan nilai-nilai kemanusiaan melalui pemerolehan pengetahuan yang disertai dengan akhlaq mulia dan pengembangan ilmu pengetahuan. Dengan demikian, pendidikan ini bertujuan agar setiap individu dapat berinteraksi dengan sesama secara benar dan tumbuh sebagai individu, masyarakat dan agama, sesuai dengan tuntutan zaman dan ajaran agama.

Beberapa prinsip dasar dalam pendidikan Islam melibatkan pemahaman terhadap karakteristik manusia, integrasi dan keterpaduan, keseimbangan, universalitas, dinamisme, proses rububiyyah (proses pendidikan sebagai bentuk pengawasan Tuhan), keagamaan, terbuka, kasih sayang, berkesinambungan, ilmiah, demokratis, sederhana, tanpa pertentangan, realistis, menghargai perbedaan, dan mengutamakan pengembangan akhlak.

Pendidikan Islam sebagai suatu ilmu dikatakan mampu memberikan gagasan atau cara pandang ilmiah terhadap pendidikan, dengan mengacu pada sumber-sumber primer dan dengan bantuan pendapat para sahabat dan cendekiawan/ilmuwan muslim. Hal ini menunjukkan pentingnya pendekatan ilmiah dan keterlibatan pandangan keilmuan dalam pengembangan konsep pendidikan Islam.

Selain itu, pendidikan Islam menekankan perlunya insan akademika dalam lembaga pendidikan untuk mengoptimalkan daya fikir dan mental dalam menatap masa depan pendidikan yang lebih maju. Ini mencerminkan kebutuhan untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman dan menanggapi tantangan masa depan dengan cara yang progresif.

DAFTAR PUSTAKA

(21)

Abu Bakar, Usman. 2005. Fungsi Ganda Lembaga Pendidikan Islam. Yogyakarta:

Safiria Insania Pres.

Al-Nahlawiy. 1979. Usbul al-hadlarat al-islamiyyah wa asalibuha. damaskus: Dara Al- Fikr.

Arifin, Muzayyin. 2003. Kapita Selekta Penddikan Islam. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Bukhari Umar. 2010. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta:Amzah

Drajat, Zakiah. 1994. Pendidikan Islam dalam Keluarga dan Sekolah. Jakarta:

Ruhama.

Herman. 2014. Prinsip-prinsip dalam Pendidikan Islam (Universal, Keseimbangan dan Kesederhanaan. Jurnal Al-Ta’dib.

Hitamim, Munjir. 2004. Mengonsep Kembali Pendikan Islam. Yogyakarta: Infinite Press

Nasir S. 2020. Prinsip-prinsip pendidikan Islam: Universal, Keseimbangan,

Kesederhanaan, Perbedaan Individu dan Dinamis. Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Islam. Vol.7.No.2

Tim Perumus 2007. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Ramayulis. 2008. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia 2008.

Omar Muhammad Al-Toumy Al-Syaibany. 1979. Filsafat Pendidikan Islam, alih bahasa, Hasan Langgulung. Jakarta: Bulan Bintang.

Rosyadi, Khoiron. 2004. Pendidikan Profetik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004), hlm.

239

Hitamim, Munjir. 2004. Mengonsep Kembali Pendikan Islam. Yogyakarta: Infinite Press

Referensi

Dokumen terkait

Sebuah Analisis Kritis terhadap Kualitas Pemberitaan Media Massa Indonesia dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan1.

Landasan psikologis pendidikan adalah suatu landasan dalam proses pendidikan yang membahas berbagai informasi tentang kehidupan manusia pada umumnya serta gejala-gejala yang

Sejak 2010, Tanoto Foundation mendukung peningkatan kualitas pendidikan dasar melalui Program Pelita Pendidikan yang kini bertransformasi menjadi Program PINTAR untuk

Meningkatkan kualitas sumber daya manusia dalam perspektif pendidikan Islam dilakukan dengan menjalankan sistem pendidikan Islam yang seoptimal mungkin dan sesuai

jabatan adalah merupakan salah satu sarana untuk meningkatkan kualitas guru yang pada gilirannya diharapkan dapat meningkatkan kualitas pendidikan di

Pelaksanaan strategi melalui program ekstra kurikuler di asrama untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu (SMP-IT)

Pendidikan Islam di Indonesia memiliki kedudukan yang cukup kuat karena sudah memiliki landasan formal yuridis diantaranya Sila pertama Pancasila, UU No 4 Tahun 1950 Undang-Undang

KESIMPULAN Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa landasan dan pendekatan pendidikan Islam multikultural Indonesia dengan India juga memiliki kesamaan pada proses