PENYUSUNAN LAPORAN INVENTARISASI
GAS RUMAH KACA
DINAS LINGKUNGAN HIDUP KOTA SEMARANG 2019
Jalan Tapak Tugurejo, Kota Semarang Jawa Tengah 50151
LAPORAN AKHIR
PENYUSUNAN LAPORAN
INVENTARISASI GAS RUMAH KACA KOTA SEMARANG
Dinas Lingkungan Hidup
Kota Semarang
Tahun 2019
TIM PENYUSUN
Laporan Inventarisasi Gas Rumah Kaca Kota Semarang ini tersusun atas kerjasama antara Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan beberapa pihak yang tergabung dalam Tim Pendataan Inventarisasi Gas Rumah Kaca (GRK) Kota Semarang yang terdiri dari:
● Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Semarang
● Badan Perencanaan, Penelitian dan Pengembangan Daerah Kota Semarang
● Dinas Kesehatan Kota Semarang
● Dinas Perindustrian Kota Semarang
● Dinas Pertanian Kota Semarang
● PT. Indonesia Power Semarang
● Tim Konsultan
Ucapan terimakasih juga disampaikan kepada semua pihak yang terlibat langsung maupun tidak langsung yang tidak dapat disebutkan satu persatu dalam laporan ini.
Disklaimer:
Laporan Inventarisasi GRK Kota Semarang ini menggunakan penulisan angka berdasarkan US method, yakni penggunaan tanda titik (.) dalam angka menjadi tanda koma (,) dan sebaliknya.
KATA PENGANTAR
Puji Syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat-Nya sehingga Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Semarang dapat menyelesaikan Pekerjaan Inventarisasi Gas Rumah Kaca sebagaimana mandat Peraturan Presiden Nomor 61 Tahun 2011 tentang Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca dan Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun 2011 tentang Penyelenggaraan Inventarisasi Gas Rumah Kaca Nasional.
Laporan Akhir Inventarisasi Gas Rumah Kaca Kota Semarang Tahun 2019 ini memuat hasil penghitungan emisi GRK dari aktivitas sektor penghasil GRK di Kota Semarang pada tahun 2018 serta menampilkan trend emisi selama 5 (lima) tahun terakhir (2014-2018). Laporan ini merupakan aktivitas inventarisasi GRK yang secara berkelanjutan telah dilakukan oleh Dinas Lingkungan Hidup pada tahun 2014 dan pada tahun 2018.
Melalui Laporan Inventarisasi Gas Rumah Kaca ini dapat terpantau emisi dan serapan GRK di Kota Semarang pada tahun 2014-2018. Hasil penghitungan ini diharapkan dapat berkontribusi dalam Inventarisasi GRK Provinsi Jawa Tengah dan Inventarisasi GRK Nasional. Data yang digunakan dalam penghitungan ini juga digunakan dalam input sistem informasi GRK Nasional (SIGN-SMART GRK).
Dokumen ini juga dapat menjadi acuan dalam kajian ilmiah sekaligus sebagai modal awal dalam menentukan kebijakan dalam kegiatan mitigasi perubahan iklim.
Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada semua pihak yang telah mendukung kegiatan ini sehingga laporan ini dapat selesai sesuai dengan waktu yang telah direncanakan. Laporan ini selanjutnya akan disusun secara berkala untuk mendapatkan informasi mengenai tingkat, status dan kecenderungan perubahan emisi dan serapan GRK Kota Semarang.
Akhirnya, semoga laporan ini bermanfaat untuk semua pihak.
Semarang, Juli 2019 Kepala Dinas Lingkungan Hidup
Kota Semarang
DAFTAR ISI
TIM PENYUSUN 1
KATA PENGANTAR 2
DAFTAR ISI 3
DAFTAR TABEL 6
DAFTAR GAMBAR 8
DAFTAR SINGKATAN 9
DAFTAR ISTILAH 11
RINGKASAN EKSEKUTIF 13
BAB 1 PENDAHULUAN 15
1.1 Latar Belakang 15
1.2 Tujuan 16
1.3 Dasar Hukum 16
1.4 Ruang Lingkup 18
1.4.1 Ruang Lingkup Wilayah 18
1.4.2 Ruang Lingkup Kegiatan 19
1.5 Pengaturan Kelembagaan Penyelenggaraan Inventarisasi Emisi GRK 20
1.6 Sistematika Pelaporan 21
1.7 Proses Persiapan Inventarisasi Gas Rumah Kaca 22
BAB 2 METODOLOGI 23
2.1. Metode Perhitungan Emisi Gas Rumah Kaca 23
2.1.1. Jenis Gas Rumah Kaca 23
2.1.2. Metodologi Dasar Perhitungan Emisi/Serapan GRK 24
2.1.3. Pengadaan Dan Penggunaan Energi 26
2.1.4. Proses Industri Dan Penggunaan Produk 28
2.1.5. Pertanian, Kehutanan Dan Perubahan Penggunaan Lahan 29
2.1.6. Pengelolaan Limbah 34
2.2. Jenis Data yang Digunakan 36
2.3. Penilaian Kelengkapan 37
BAB 3 STATUS EMISI & SERAPAN GRK 38
3.1. Tingkat, Status dan Kecenderungan Emisi dan Serapan Agregat Gas Rumah Kaca 38
3.2. Emisi dan Serapan berdasarkan Jenis Gas Rumah Kaca 39
3.3. Emisi dan Serapan Gas Rumah Kaca Berdasarkan Kategori 40
BAB 4 SEKTOR PENGADAAN DAN PENGGUNAAN ENERGI 43
4.1. Status Emisi GRK Sektor Pengadaan dan Penggunaan Energi Tahun 2014-2018 43
4.2. Aktivitas Penggunaan Bahan Bakar 45
4.2.1. Industri Energi 46
4.2.2. Industri Manufaktur 47
4.2.3. Transportasi 48
4.2.4. Kegiatan Lainnya 49
4.3. Emisi Fugitif 50
4.4. Transportasi dan Penyimpanan Karbon 50
BAB 5 SEKTOR PROSES INDUSTRI DAN PENGGUNAAN PRODUK 51
5.1. Status Emisi GRK Sektor Proses Industri dan Penggunaan Produk Tahun 2014-2018 51
5.2. Industri Mineral 53
5.3. Industri Kimia 53
5.4. Industri Logam 53
5.5. Produk-produk Non Energi dan Penggunaan Pelarut 53
5.6. Industri Elektronik 54 5.7. Penggunaan Produk Mengandung Senyawa Pengganti Bahan Perusak Ozon 54
BAB 6 SEKTOR PERTANIAN, KEHUTANAN, DAN PENGGUNAAN LAHAN 55
6.1. Status Emisi GRK Sektor Pertanian, Kehutanan dan Penggunan Lahan Kota Semarang Tahun
2014-2018 55
6.2. Peternakan 58
6.2.1. Fermentasi Enterik 58
6.2.2. Pengelolaan Kotoran Ternak 59
6.3. Lahan 62
6.4. Pertanian 67
6.4.1. Pembakaran Biomasa 67
6.4.2. Pemakaian Kapur 67
6.4.3. Pemakaian Urea 68
6.4.4. Emisi N72 6.4.5. N73 6.4.6. CH74
BAB 7 PENGELOLAAN LIMBAH 72
7.1. Status Emisi GRK Sektor Pengelolaan Limbah 2014-2018 72
7.2. Pembuangan Akhir Sampah 74
7.3. Pengolahan Sampah secara Biologi 77
7.4. Pembakaran Sampah 78
7.5. Pengolahan Limbah Cair Domestik 79
BAB 8 ANALISIS KETIDAKPASTIAN DAN KATAGORI KUNCI 82
8.1. Analisis Ketidakpastian 82
8.2. Deskripsi Kategori Kunci 83
BAB 9 PENGENDALIAN DAN PENJAMINAN MUTU 86
BAB 10 RENCANA PERBAIKAN PENYELENGGARAAN INVENTARISASI GRK 88
BAB 11 PENUTUP 89
11.1. Kesimpulan 89
11.2. Rekomendasi 89
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Hasil Inventarisasi GRK Kota Semarang Tahun 2014-2018 12 Tabel 2. Kerangka Waktu Penyusunan Inventarisasi GRK Kota Semarang 16 Tabel 3. Tingkat Ketelitian Perhitungan Emisi Gas Rumah Kaca 19
Tabel 4. Kategori Sumber Emisi dari Kegiatan Energi 20
Tabel 5. Kategori Sumber Emisi GRK dari Proses Industri dan Penggunaan Produk 22
Tabel 6. Tabel Kategori Sektor Limbah 28
Tabel 7. Deskripsi Metodologi dan Sumber Data Inventarisasi GRK Kota Semarang 30 Tabel 8. Simbol Penilaian Kelengkapan Inventarisasi GRK Kota Semarang 31 Tabel 9. Emisi dan Serapan GRK Kota Semarang Berdasarkan Kategori Tahun 2014-2018 35 Tabel 10. Rangkuman Emisi GRK dari Sektor Pengadaan dan Penggunaan Energi di Kota Semarang
2014-2018 37
Tabel 11. Data Kegiatan Penggunaan Bahan Bakar 40
Tabel 12. Tabel 16. FE Beberapa Jenis Bahan Bakar untuk Industri Manufaktur 40 Tabel 13. Emisi GRK dari Kegiatan Industri Manufaktur Kota Semarang 2014-2018 41 Tabel 14. Penggunaan Bahan Bakar Transportasi Kota Semarang Tahun 2014-2018 41 Tabel 15. FE Beberapa Jenis Bahan Bakar untuk Sumber Bergerak 41 Tabel 16. Emisi GRK dari Kegiatan Transportasi Jalan Raya Kota Semarang 2014-2018 42 Tabel 17. Penggunaan Energi untuk Kegiatan Lainnya di Kota Semarang 2014-2018 42
Tabel 18. FE Beberapa Jenis Bahan Bakar 43
Tabel 19. Emisi GRK dari Kegiatan Lainnya Kota Semarang 2014 - 2018 43 Tabel 20. Rangkuman Emisi GRK dari Sektor Proses Industri dan Penggunaan Produk Kota Semarang
2014-2018 44
Tabel 21. Penggunaan Pelumas di Kota Semarang 2014-2018 46
Tabel 22. FE Penggunaan Pelumas 46
Tabel 23. Emisi CO2 dari Penggunaan Pelumas Tahun 2014-2018 47 Tabel 24. Rangkuman Emisi GRK dari Sektor Pertanian, Kehutanan dan Penggunaan Lahan Kota
Semarang 2014-2018 48
Tabel 25. Jumlah Populasi Ternak di Kota Semarang 2014 - 2018 51
Tabel 26. FE Fermentasi Enterik per jenis ternak 51
Tabel 27. Jumlah Emisi CH4 dari Fermentasi Enterik di Kota Semarang 2014-2018 52
Tabel 28. FE CH4 dari Pengelolaan Limbah Ternak 52
Tabel 29. Emisi CH4 dari Pengelolaan Limbah Ternak di Kota Semarang 2014-2018 53
Tabel 30. FE N2O dari Pengelolaan Limbah Ternak 54
Tabel 31. Emisi N2O Langsung dari Pengelolaan Limbah Ternak di Kota Semarang 2014-2018 54 Tabel 32. Emisi N2O Tidak Langsung dari Pengelolaan Limbah Ternak Kota Semarang 2014-2018 55
Tabel 33. Kelas Penutupan Lahan 55
Tabel 34. Luas Tutupan Lahan Kota Semarang Tahun 2014-2018 58
Tabel 35. Emisi/ Serapan CO2 (Ton) dari Perubahan Lahan 2014-2018 60 Tabel 36. Berat Pembakaran Biomassa Kota Semarang Tahun 2014-2018 60 Tabel 37. Emisi GRK dari Pembakaran Biomassa Kota Semarang Tahun 2014-2018 60 Tabel 38. Emisi CO2 dari Penggunaan Urea pada Pertanian di Kota Semarang Tahun 2014-2018 61
Tabel 39. Penggunaan Pupuk Kota Semarang 2014-2018 62
Tabel 40. Emisi N2O Langsung dari Pemakaian Pupuk Kota Semarang 2014-2018 62
Tabel 41. Faktor Emisi untuk N2O Tidak Langsung 63 Tabel 42. Emisi N2O Tidak Langsung (ton) Pengolahan Tanah Kota Semarang 2014-2018 63
Tabel 43. Luas Budidaya Padi di Kota Semarang 2014-2018 64
Tabel 44. Emisi dari Budidaya Padi di Kota Semarang 2014-2018 64 Tabel 45. Rangkuman Emisi GRK dari Sektor Pengelolaan Limbah Kota Semarang 2014-2018 65 Tabel 46. Perkiraan Timbulan Sampah di Kota Semarang 2014 – 2018 68 Tabel 47. Komposisi Timbulan Sampah di Kota Semarang 2014-2018 (dalam %) 68 Tabel 48. Komposisi Pengelolaan Sampah di Kota Semarang 2014-2018 68 Tabel 49. Perkiraan Komposisi Pengelolaan Sampah (Ton) Di Kota Semarang 69 Tabel 50. Metode Pembuangan Sampah di Kota Semarang 2014-2018 69 Tabel 51. Emisi CH4 dari Pembuangan Sampah Kota Semarang 2014-2018 70 Tabel 52. Pengolahan Sampah secara Biologi di Kota Semarang 2014 – 2018 70
Tabel 53. FE Pengolahan Sampah secara Biologi 71
Tabel 54. Emisi GRK dari Pengolahan Sampah Secara Biologi di Kota Semarang 2014-2018 71 Tabel 55. Pengolahan Sampah dengan Pembakaran di Kota Semarang 2014 – 2018 72
Tabel 56. Karakteristik C pada Sampah Berdasarkan Jenisnya 72
Tabel 57. Nilai FE pengolahan Sampah dengan Pembakaran Terbuka 72 Tabel 58. Emisi GRK dari Pembakaran Sampah di Kota Semarang 2014 - 2018 73 Tabel 59. Jumlah Materi Organik dari Limbah Cair Domestik di Kota Semarang 2014-2018 73 Tabel 60. Kapasitas Produksi Gas Metana per Jenis Sistem Pengolahan 73 Tabel 61. Jumlah Emisi CH4 dari Pengolahan Limbah Cair Domestik per Sistem Pengolahan di Kota
Semarang 2014-2018 74
Tabel 62. Besarnya konsumsi protein per kapita di Kota Semarang 74 Tabel 63. Jumlah N terbuang dan N2O terbentuk dari Pengolahan Limbah Cair Domestik Kota Semarang
Tahun 2014-2018 75
Tabel 64. Jumlah Emisi GRK Pengolahan Limbah Cair Domestik Kota Semarang Tahun 2014-2018 75 Tabel 65. Ketidakpastian Jumlah Emisi Sumber Energi Kota Semarang Tahun 2014-2018 76 Tabel 66. Ketidakpastian Jumlah Emisi Sumber Limbah Kota Semarang 2014-2018 76 Tabel 67. Prosedur Pengendalian dan Penjaminan Mutu Inventarisasi GRK Kota Semarang 80 Tabel 68. Rencana Perbaikan Inventarisasi GRK Kota Semarang 82
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Peta Administrasi Kota Semarang 18
Gambar 2. Mekanisme Pelaporan Inventarisasi GRK 19
Gambar 3. Global Warming Potential 22
Gambar 4. Tren Emisi GRK Kota Semarang Tahun 2014-2018 37
Gambar 5. Tren Emisi GRK (Termasuk Listrik) Tahun 2014-2018 38 Gambar 6. Emisi dan Serapan GRK Berdasarkan Jenis Gas Kota Semarang 2014-2018 39 Gambar 7. Emisi per Kategori Sektor Pengadaan dan Penggunaan Energi 2014-2018 43
Gambar 8. Proporsi Sumber Emisi GRK Sektor Energi 44
Gambar 9. Tren Emisi GRK Berdasarkan Jenis Gas 44
Gambar 10. Emisi per Kategori Sektor Proses dan Penggunaan Produk Industri 2014-2018 51 Gambar 11. Tren Emisi GRK Sektor IPPU berdasarkan Jenis Gas 51 Gambar 12. Emisi per Kategori Sektor Pertanian, Kehutanan dan Penggunaan Lahan 2014-2018 55
Gambar 13. Proporsi Sumber Emisi GRK Agregat Pertanian 56
Gambar 14. Tren Emisi GRK Subsektor Agregat Pertanian 56
Gambar 15. Emisi per Kategori Sektor Pengelolaan Limbah 2014-2018 72
Gambar 16. Proporsi Sumber Emisi GRK Sektor Limbah 72
Gambar 17. Tren Emisi GRK Berdasarkan Jenis Gas 73
Gambar 18. Pohon Pengambilan Keputusan dalam Penentuan Kategori Kunci, Sumber: IPCC, 2006 83
Gambar 19. Kategori Kunci Emisi GRK Kota Semarang 84
DAFTAR SINGKATAN
AC : Air Conditioner (Pendingin Udara) AD : Activity Data (Data Aktifitas)
AFOLU : Agriculture, Forestry, and Land Use (Pertanian, Kehutanan dan Penggunaan Lahan) APAR : Alat Pemadam Api Ringan
BBM : Bahan Bakar Minyak DLH : Badan Lingkungan Hidup BOD : Biological Oxigen Demand BPO : Bahan Perusak Ozon BPS : Badan Pusat Statistik CH4 : Methane (Metana)
CO2 : Carbon Diocide (Karbon Dioksida)
CVD : Chemical Vapor Deposition (Deposisi Uap Kimia)
DOC : Degradable Organic Carbon (Karbon Organik Terdegradasi) EF : Emission Factor (Faktor Emisi)
FOD : First Order Decay
Gg : Giga gram
GRK : Gas Rumah Kaca
GWP : Global Warming Potential (Potensi Pemanasan Global) HFCs : Hydro Flouro Carbons (Hidrokarbon)
HSD : High Solar Diesel IC : Integrated Circuit IE : Including Elsewhere
IPCC : Inter-Government Panel on Climate Change (Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim)
IPPU : Industrial Process and Product Use (Proses Industri dan Penggunaan Produk) KC : Key Category (Kategori Kunci)
Kg : Kilo gram
KL : Kilo Liter
KLH : Kementerian Lingkungan Hidup
KLHK : Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Km : Kilometer
LFG : Landfill Gas
LPG : Liquid Petrolium Gas
MCF : Methane Conversion Factor (Faktor Konversi Metana) MFO : Marine Fuel Oil
MSCF : Million Standard Cubic Foot NA : Not Applicable
NE : Not Estimated
NPK : Nitrogen, Phospor, Kalium
NO : Not Occuring
N2O : Dinitro Oxide (Dinitro Oksida)
ODU : Oxidised During Use (Oksidasi Selama Penggunaan) OPD : Organisasi Pelaksana di Daerah
PEP : Pemantauan, Evaluasi dan Pelaporan PFCs : Peflouro Carbons
PLTG : Pembangkit Listrik Tenaga Gas
PLTGU : Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap
PLTU : Pembangkit Listrik Tenaga Uap QA : Quality Assurance (Penjaminan Mutu) QC : Quality Control (Pengendalian Mutu)
RAD GRK : Rencana Aksi Daerah Penurunan Gas Rumah Kaca RPJMD : Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah SF6 : Suphur Hexaflouride (Sulfur Heksa Florida)
SIGN : Sistem Inventarisasi GRK Nasional OPD : Satuan Kerja Perangkat Daerah SNI : Standar Nasional Indonesia
TJ : Terra Joule
TPA : Tempat Pembuangan Akhir USK : Usaha Skala Kecil
ZA : zwavelzure ammoniak (Ammonium Sulfat)
DAFTAR ISTILAH
● Confidential (Rahasia) adalah istilah yang digunakan untuk menerangkan bahwa kategori emisi tertentu tidak dilaporkan karena bersifat rahasia
● Data aktivitas (DA) adalah besaran kuantitatif kegiatan atau aktivitas manusia yang dapat melepaskan dan/atau menyerap GRK.
● Downscale (penurunan) adalah pendekatan untuk menurunkan data/informasi di daerah yang tidak tersedia dengan menurunkan dari data Wilayah yang lebih luas. Penurunan data membutuhkan angka perbandingan dari data/informasi lain yang relevan.
● Emisi Fugitif (Fugitive Emissions) adalah emisi yang keluar dari kebocoran atau kegiatan tidak terduga lainnya. Dalam inventarisasi emisi GRK mengacu pada kebocoran pada pengadaan dan penggunaan energi
● Faktor Emisi (FE) adalah besaran yang menunjukkan jumlah emisi gas rumah kaca yang akan dilepaskan dari suatu aktivitas tertentu. Faktor emisi juga digunakan untuk menunjukkan jumlah serapan gas rumah kaca yang ada di atmosphere kembali ke dan disimpan di sistem lahan melalui aktivitas tertentu.
● Fermentasi Enterik (Enteric Fermentation) adalah proses fermentasi untuk memecah molekul hidrokarbon menjadi molekul sederhana oleh mirkroorganisme yang terjadi dalam tubuh binatang/ternak
● Gas‐gas Rumah Kaca (GRK) adalah berbagai unsur di atmosfer yang mengakibatkan efek rumah kaca. Beberapa gas rumah kaca dihasilkan secara alamiah di atmosfer, sementara yang lainnya merupakan akibat berbagai aktivitas manusia seperti membakar bahan bakar fosil seperti batu bara. Gas‐gas rumah kaca terdiri dari uap air, karbon dioksida, metan, nitrogen oksida, dan ozon.
● ICCSR (Indonesia Climate Change Sectoral Roadmap) adalah peta sektoral perubahan iklim Indonesia (Indonesia Climate Change Sectoral Roadmap/ICCSR) sebagai salah satu inisiatif pemerintah dalam mendorong integrasi pembangunan ekonomi dan Lingkungan yang diluncurkan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas)
● Including Elswhere adalah istilah yang digunakan untuk menerangkan bahwa kategori emisi tertentu telah diperhitungkan pada kategori yang lain sehingga tidak perlu ditampilkan kembali
● IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) adalah panel ilmiah yang didirikan pada tahun 1988 untuk menerbitkan laporan khusus tentang berbagai topik yang relevan dengan implementasi Kerangka Konvensi PBB untuk Perubahan Iklim, UN Framework Convention on Climate Change (UNFCCC).
● Justifikasi Ahli (Expert Judgement) adalah pendapat ahli yang dijadikan dasar untuk menentukan nilai karena tidak ada informasi atau data.
● Kategori Kunci (Key Category) adalah kategori emisi GRK yang penting karena memiliki jumlah yang besar. Jumlah akumulasi kategori kunci mencapai 95% dari total emisi GRK.
● Ketidakpastian (Uncertainty) adalah nilai bias dari angka yang sebenarnya. Ketidakpastian timbul dari penyimpangan data maupun faktor emisi
● Landfill Gas (GasTPA) adalah berbagai gas yang timbul dari proses fermentasi material organic dalam suatu tempat pembuangan sampah
● Not Applicable adalah istilah yang digunakan untuk menerangkan bahwa kategori emisi tertentu tidak tersedia atau tidak ada kegiatan.
● Not Estimated (Tidak Diduga) adalah istilah yang digunakan untuk menerangkan bahwa kategori emisi tertentu ada kegiatannya, namun tidak dilakukan pendugaan. Tidak dilakukan pendugaan dapat disebabkan karena sulitnya data diperoleh, kegiatan terlalu kecil, atau membutuhkan biaya banyak dalam investigasinya
● Pemanasan global adalah kenaikan rata-rata suhu udara di dekat permukaan bumi dan samudera dalam beberapa dekade terakhir ini dan proyeksi kelanjutannya.
● Perubahan iklim adalah semua perubahan dalam iklim dalam suatu kurun waktu, apakah karena perubahan alamiah atau sebagai akibat aktivitas manusia.
● Tier (Tier 1, tier 2, dan tier 3) adalah tingkat ketelitian suatu metodologi pendugaan yang mencerminkan tingkat akurasi hasil. Semakin tinggi tier menunjukkan semakin akurat hasil pendugaan
● UNFCC (United Nations Framework Convention on Climate Change) adalah suatu kesepakatan internasional yang diberlakukan pada tahun 1994 bertujuan untuk menstabilkan konsentrasi gas rumah kaca pada tingkat yang dapat mencegah bahaya terhadap perubahan sistem iklim yang diakibatkan oleh aktivitas manusia.
RINGKASAN EKSEKUTIF
Melalui Peraturan Presiden Nomor 61 Tahun 2011 tentang Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca dan Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun 2011 tentang Penyelenggaraan Inventarisasi Gas Rumah Kaca Nasional, Pemerintah Indonesia memiliki kebijakan untuk menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 29% dari bussiness as usual pada tahun 2030. Berdasarkan peraturan tersebut, Pemerintah Provinsi dan Kota/ Kota memiliki kewajiban untuk menyusun inventarisasi GRK, termasuk Kota Semarang. Upaya tindak lanjut dilakukan dengan penyusunan inventarisasi Gas Rumah Kaca (GRK) di Kota Semarang yang telah dilaksanakan secara berkelanjutan.
Laporan inventarisasi GRK Kota Semarang ini merupakan kegiatan inventarisasi GRK yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Semarang melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) terhadap sumber-sumber emisi GRK berdasarkan aktivitas untuk tahun 2018. Selain memuat hasil inventarisasi, laporan ini juga memuat hasil inventarisasi selama 5 (lima) tahun terakhir (periode 2014-2018).
Hasil inventarisasi emisi GRK di Kota Semarang pada tahun 2014-2018 berfluktuasi dengan rincian sebagai berikut:
Tabel 1. Hasil Inventarisasi GRK Kota Semarang Tahun 2014-2018
SEKTOR
Ton CO2e
2014 2015 2016 2017 2018
PENGADAAN DAN
PENGGUNAAN ENERGI
1.658.440,24 3.198.161,56 4.349.392,23 3.745.058,39 3.387.385,33 PROSES
INDUSTRI DAN PENGGUNAAN PRODUK
354,92 354,63 355,84 355,84 355,84
PETERNAKAN, LAHAN DAN PERTANIAN
36.123,78 59.613,55 104.180,92 55.660,86 52.886,08 PENGELOLAAN
LIMBAH 576.642,68 585.671,26 617.140,64 659.927,35 686.659,64 TOTAL 2.271.561,62 3.843.800,99 5.071.069,64 4.461.002,44 4.127.286,89
Tabel diatas menunjukan bahwa emisi GRK Kota Semarang pada tahun 2018 mengalami penurunan dibandingkan tahun 2017, emisi total di Kota Semarang berfluktuatif dengan emisi tertinggi pada tahun 2016 menunjukkan angka 5.071.069,64 Ton CO2e. Besar emisi pada tahun 2018 yaitu 4.127.286,89 ton CO2eq. Sektor energi berkontribusi paling besar terhadap emisi GRK di Kota Semarang disusul oleh sektor pengelolaan limbah, AFOLU dan kemudian IPPU.
Berdasarkan hasil IGRK kota Semarang pada periode 2014-2018 mengalami fluktuasi. Besarnya emisi pada tahun 2018 adalah 4.127.286,89Ton CO2e. Dari keempat sektor utama penghasil GRK tertinggi yaitu sektor energi (82,07%), kemudian sektor limbah (16,64%), AFOLU (1,28%), dan di sektor IPPU kontribusinya paling rendah (0,01%)
Berdasarkan jenis gas, jumlah dan komposisi emisi GRK di Kota Semarang dibandingkan dengan total emisi CO2e pada tahun 2018 didominasi oleh CO2 hingga mencapai 33.505.357,22 ton CO2 (85,24%)
terhadap total emisi GRK ton CO2e. 27.721,79ton. Gas CH4 berkontribusi pada kisaran (0,67%) dan Gas N2O dengan emisi 80,05 berkontribusi pada kisaran (0,002%). Bila dengan mempertimbangkan GWP (Global Warming Potential), kontribusi masing-masing gas pada tahun 2018 adalah CO2 sebesar 52,62%, CH4 sebesar 1,91% dan gas N2O sebesar 0,02%. Dengan demikian, kontribusi per jenis gas berdasarkan berat absolut maupun relatif terhadap GWP menunjukkan bahwa Gas CO2 menempati porsi paling banyak, disusul gas CH4 dan terakhir gas N2O.
Berdasarkan analisis katagori kunci diperoleh 6 (enam) subkategori yang merupakan katagori kunci yaitu industri energi, transportasi, limbah padat, lainnya, industri pengolahan, dan pegolahan limbah cair. Penentuan katagori kunci ini diperlukan sebagai pertimbangan dalam penyusunan rencana mitigasi emisi Gas Rumah Kaca.
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perubahan iklim global yang terjadi akhir-akhir ini disebabkan karena terganggunya keseimbangan energi antara bumi dan atmosfir. Keseimbangan tersebut dipengaruhi antara lain oleh peningkatan gas-gas asamarang atau karbon dioksida (CO2), metana (CH4) dan nitrous oksida (NO) yang lebih dikenal dengan gas rumah kaca (GRK). Saat ini konsentrasi GRK sudah mencapai tingkat yang membahayakan iklim bumi dan keseimbangan. Kelompok Gas Rumah Kaca terdiri dari karbondioksida (CO2), metana (CH4), dinitro oksida (N2O), hidrofluorokarbon (HFC), perfluorokarbon (PFC), sampai sulfur heksafluorida (SF6). Emisi GRK yang timbul, pada umumnya dihasilkan oleh penggunaan batubara, minyak bumi, gas dan penggundulan hutan serta pembakaran hutan untuk pembukaan lahan. Kegiatan tersebut dapat menghasilkan gas-gas rumah kaca yang makin lama makin banyak jumlahnya di atmosfer.
Kota Semarang dalam konteks perubahan iklim menghasilkan GRK dari kegiatan ekonomi, utamanya dari kegiatan penggunaan energi, industri, pertanian, peternakan, kehutanan dan pengelolaan limbah.
Untuk mengetahui tingkat, status, dan kecenderungan emisi di Kota Semarang, maka dilakukanlah inventarisasi emisi gas rumah kaca. Penyusunan inventarisasi GRK ini bertujuan untuk menyediakan informasi secara berkala mengenai tingkat, status dan kecenderungan perubahan emisi dan serapan GRK termasuk simpanan karbon di Kota Semarang. Kedua, informasi pencapaian penurunan emisi GRK dari kegiatan mitigasi perubahan iklim di daerah. Inventarisasi GRK meliputi empat sektor yakni pengadaan dan penggunaan energi; proses dan produk industri; pertanian, kehutanan, dan penggunaan lahan; serta pengelolaan limbah.
Pada tahun 2017 Kota Semarang memulai untuk melakukan inventarisasi GRK periode 2013-2016.
Penyusunan dokumen ini dilakukan dengan pelibatan unsur dari berbagai pemangku kepentingan dan mempertimbangkan karakteristik, potensi emisi serta prioritas rencana pembangunan daerah.
Pelibatan OPD di Kota Semarang sejak dari awal proses sampai dengan akhir dimaksudkan sebagai upaya menjaga kualitas dan akurasi data sumber emisi GRK.
Perubahan iklim yang telah melanda dunia saat ini adalah akibat dari terperangkapnya gas-gas di atmosfir bumi yang menimbulkan efek rumah kaca, sehingga gas-gas tersebut dinamakan GRK.
Perubahan iklim yang disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi Gas Rumah Kaca (GRK) di atmosfer telah menjadi tantangan pembangunan baik lokal maupun global. Indonesia menerima konsekuensi ganda perubahan iklim karena di satu sisi terpengaruh oleh dampak perubahan iklim namun juga menjadi penyumbang emisi GRK. Emisi Gas Rumah Kaca yang terdiri dari Karbon Dioksida (CO₂), Metana (CH₄), Dinitrogen Mono Oksida (N₂O), Hidro Fluorocarbon (HFCs), Sulfur Hexaflorida (SF₆), Perfluoro Karbon (PFCs), dan gas-gas turunan lainnya menjadi indikator penting bagi kontribusi dan komitmen pemerintah terhadap perubahan iklim.
Komitmen Indonesia di dalam penurunan tingkat emisi GRK nasional adalah 29% di bawah tingkat emisi GRK Business-As-Usual (BAU) pada tahun 2030 untuk skenario un-conditional dan sampai dengan 41% di bawah tingkat emisi BaU untuk skenario conditional sebagaimana disampaikan pada dokumen
Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia. Komitmen tersebut merupakan kontribusi Indonesia di dalam pelaksanaan Paris Agreement yang telah diratifikasi melalui Undang-undang Republik Indonesia No. 16/2016 dan bertujuan menjaga agar peningkatan temperatur bumi, yang menyebabkan perubahan iklim global, tidak melebihi 2ºC dibandingkan dengan masa pra- industrialisasi. Melalui Peraturan Presiden Nomor 61 Tahun 2011 tentang Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca dan Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun 2011 tentang Penyelenggaraan Inventarisasi Gas Rumah Kaca Nasional, Pemerintah Indonesia memiliki kebijakan penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 26% dari bussiness as usual pada tahun 2020.
Adanya isu transparansi pada Paris Agreement, data tingkat emisi GRK dan capaian reduksi emisi GRK dari kegiatan mitigasi harus credible dan dapat dipertanggung jawabkan sebagai data tingkat nasional maupun tingkat daerah. Verifikasi terhadap data dan informasi terkait inventarisasi emisi GRK penting dilakukan agar data-data tersebut credible dan dapat dipertanggung jawabkan. Terkait isu transparansi pada Paris Agreement, Pemerintah Kota Semarang tentunya juga menginginkan hasil Inventarisasi Emisi GRK dapat diverifikasi agar Inventarisasi Emisi GRK dapat dipertanggung jawabkan sebagai data tingkat daerah (Provinsi atau Kota/Kota). Untuk itu, proses penyiapan data, pelaksanaan inventarisasi, dan penghitungan tingkat emisi GRK mengikuti Pedoman Inventarisasi Emisi GRK Nasional Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang diadopsi dari IPCC 2006 GLs serta Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.73/Menlhk/Setjen/Kum.1/12/2017 tentang Pedoman Penyelenggaraan Dan Pelaporan inventarisasi Gas Rumah Kaca Nasional. Pelaporan tingkat emisi GRK dan capaian reduksi emisi GRK juga harus memenuhi kaidah format pelaporan sebagaimana diatur di dalam pedoman tersebut. Dengan demikian, hasil Inventarisasi Emisi GRK Kota Semarang diharapkan dapat dijadikan contoh dalam pelaporan status emisi GRK untuk daerah-daerah lain, sehingga aksi-aksi di berbagai sektor yang memberikan dampak penurunan emisi GRK yang dipantau dan dihitung capaian penurunannya dapat dipertanggung jawabkan Kota Semarang dalam konteks perubahan iklim menghasilkan GRK dari kegiatan ekonomi, utamanya dari kegiatan penggunaan energi, industri, pertanian, peternakan, kehutanan dan pengelolaan limbah. Untuk mengetahui tingkat, status, dan kecenderungan emisi di Kota Semarang, maka dilakukanlah inventarisasi emisi gas rumah kaca. Penyusunan inventarisasi GRK ini bertujuan untuk menyediakan informasi secara berkala mengenai tingkat, status dan kecenderungan perubahan emisi dan serapan GRK termasuk simpanan karbon di Kota Semarang. Kedua, informasi pencapaian penurunan emisi GRK dari kegiatan mitigasi perubahan iklim di daerah. Inventarisasi GRK meliputi empat sektor yakni pengadaan dan penggunaan energi; proses dan produk industri; pertanian, kehutanan, dan penggunaan lahan; serta pengelolaan limbah.
Pada tahun 2017, Kota Semarang telah melakukan Inventarisasi Gas Rumah Kaca dengan tahun data 2013 – 2016 sekaligus melakukan Pemantauan, Evaluasi dan Pelaporan aksi mitigasi penurunan emisi gas rumah kaca. Penyusunan dokumen laporan inventarisasi GRK, dilakukan dengan pelibatan unsur dari berbagai pemangku kepentingan dan mempertimbangkan karakteristik, potensi emisi serta prioritas rencana pembangunan daerah. Pelibatan OPD di Kota Semarang sejak dari awal proses sampai dengan akhir dimaksudkan sebagai upaya menjaga kualitas dan akurasi data sumber emisi GRK.
1.2 Tujuan
Secara umum, pekerjaan ini bertujuan untuk menyusun profil emisi Gas Rumah Kaca (GRK) Kota Semarang melalui:
1) Menyusun daftar aktifitas yang menyebabkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) di Kota Semarang.
2) Menghitung jumlah emisi GRK yang dihasilkan oleh Kota Semarang pada tahun 2014-2018.
3) Memberikan rekomendasi upaya mitigasi yang dapat dilakukan oleh pemerintah daerah Kota Semarang.
1.3 Dasar Hukum
Sesuai dengan Perpres No. 71 Tahun 2011, bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 7 ayat (1) dan Pasal 16 Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun 2011 tentang Penyelenggaraan Inventarisasi Gas Rumah Kaca Nasional, perlu ditetapkan dan diatur pedoman penyelenggaraan dan pelaporan inventarisasi Gas Rumah Kaca (GRK) dan dalam pelaksanaan Inventarisasi Gas Rumah Kaca Nasional, Indonesia mengacu pada pedoman Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) Tahun 2006 (2006 IPCC Guideline for National Greenhouse Gas Inventories) dan/atau perubahannya. Pedoman Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) Tahun 2006 (2006 IPCC Guideline for National Greenhouse Gas Inventories) telah diadopsi menjadi Pedoman Umum Inventarisasi Gas Rumah Kaca Nasional serta Pedoman Perhitungan Emisi Gas Rumah Kaca untuk Pengelolaan dan Penggunaan Energi, Proses Industri dan Penggunaan Produk, Kehutanan dan Penggunaan Lahan Lainnya, dan Limbah serta Pedoman Umum Inventarisasi GRK sebagaimana ditetapkan dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan berdasarkan pertimbangan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan tentang Pedoman Penyelengaraan Inventarisasi Gas Rumah Kaca Nasional. Berikut merupakan dasar hukum yang menjadi landasan dalam penyusunan Inventarisasi Gas Rumah Kaca:
1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1990 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3419);
2. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1994 tentang Pengesahan United Nations Framework Convention on Climate Change (Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa Mengenai Perubahan Iklim) (Lembara Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 42, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3557);
3. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 167, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3888) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2004 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan Menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 86, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4412);
4. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2004 tentang Pengesahan Kyoto Protokol to the United Nations Framework Convention on Climate Change (Protokol Kyoto atas Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perubahan Iklim) (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 72, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4403);
5. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2007 tentang Energi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 96, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4746);
6. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 61, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4846);
7. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 69, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4851);
8. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 133, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5052);
9. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2009 tentang Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 139, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5058);
10. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5059); Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 4, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5492);
11. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587) sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679);
12. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2016 tentang Pengesahan Paris Agreement to the United Nations Framework Convention on Climate Change (Persetujuan Paris Atas Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa Mengenai Perubahan Iklim) (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2016 Nomor 204, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5939);
13. Peraturan Pemerintah Nomor 81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 188, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5347);
14. Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 300, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5609);
15. Peraturan Pemerintah Nomor 104 Tahun 2015 tentang Tata Cara Perubahan Peruntukan dan Fungsi Kawasan Hutan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 326, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5794); Peraturan Presiden Nomor 61 Tahun 2011 tentang Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RAN-GRK);
16. Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun 2011 tentang Penyelenggaraan Inventarisasi Gas Rumah Kaca Nasional;
17. Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2015 tentang Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 8);
18. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.18/MENLHK- II/2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 713);
19. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.73/Menlhk/Setjen/Kum.1/12/2017 tentang Pedoman Penyelenggaraan Dan Pelaporan inventarisasi Gas Rumah Kaca Nasional
20. Peraturan Gubernur Jawa Tengah Nomor 43 Tahun 2012 tentang Rencana Aksi Daerah Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca.
1.4 Ruang Lingkup
Inventarisasi GRK Kota Semarang mencakup segala aktivitas atau kegiatan yang menyerap dan menghasilkan emisi GRK. Sesuai dengan pembagian sektor pada IPCC 2006 maka sektor energi,
pertanian, kehutanan dan pemanfaatan lahan (AFOLU), dan limbah merupakan sektor utama penghasil GRK di Kota Semarang. Tiap-tiap sektor terdiri dari sub-sub sektor yang banyak dan rinci sehingga untuk menghitung seluruh sektor dan subsektornya dibutuhkan sumberdaya yang intensif padahal tidak semua sektor dan subsektor memberikan kontribusi emisi GRK yang signifikan.
1.4.1 Ruang Lingkup Wilayah
Ruang Lingkup Wilayah kegiatan ini adalah Kota Semarang secara administrasi Kota sebelah Utara berbatasan dengan Laut Jawa. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kota Semarang Sebelah Timur berbatasan dengan Kota Kendal. Sebelah Barat berbatasan dengan Kota Demak.
Gambar 1. Peta Administrasi Kota Semarang
1.4.2 Ruang Lingkup Kegiatan
Ruang lingkup Kegiatan Inventarisasi Gas Rumah Kaca sesuai dengan pengaturan dalam Peraturan Menteri ini meliputi:
a) Pedoman penyelenggaraan inventarisasi GRK
b) Pedoman pelaporan penyelenggaraan inventarisasi GRK.
Penyelenggaraan inventarisasi GRK merupakan suatu proses yang berkesinambungan untuk memperoleh data dan informasi mengenai tingkat, status, dan kecenderungan perubahan emisi GRK secara berkala dari berbagai sumber emisi dan penyerapnya. Pedoman tersebut sesuai dengan pedoman umum dan pedoman teknis.
Pedoman umum penyelenggaraan inventarisasi GRK meliputi:
a) Prinsip dasar inventarisasi GRK;
b) Tahapan penyelenggaraan inventarisasi GRK;
c) Metodologi umum perhitungan emisi/serapan GRK;
d) Analisis ketidakpastian dan kategori kunci;
e) Pengendalian dan penjaminan mutu;
f) Kelembagaan inventarisasi GRK; dan g) Sistem inventarisasi GRK Nasional (SIGN).
Pedoman teknis penyelenggaraan inventarisasi GRK meliputi:
a) Pedoman teknis sektor pengadaan dan penggunaan energi;
b) Pedoman teknis sektor proses industri dan penggunaan produk;
c) Pedoman teknis sektor pertanian, kehutanan, dan penggunaan lahan lainnya;
d) Pedoman teknis sektor pengelolaan limbah.
Pelaporan inventarisasi GRK dilakukan oleh penyelenggara inventarisasi GRK. Penyelenggara inventarisasi GRK merupakan Pemerintah Daerah Kota/ Kota dan Pemerintah Daerah Provinsi, Kementerian dan/atau Lembaga Pemerintah Non Kementerian terkait dan Kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang lingkungan hidup dan kehutanan selaku National Focal Point untuk Perubahan Iklim. Penyelenggara inventarisasi GRK pada tingkat Kota/kota melaporkan hasil penyelenggaraan inventarisasi GRK kepada penyelenggara pada tingkat provinsi.
Penyelenggara inventarisasi GRK pada tingkat provinsi menyampaikan laporan kepada Menteri c.q.
Dirjen selaku National Focal Point untuk Perubahan Iklim dengan ditembuskan kepada Menteri Dalam Negeri c.q. Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah. Laporan penyelenggaraan Inventarisasi GRK sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) disampaikan paling sedikit 1 (satu) kali dalam setahun.
1.5 Pengaturan Kelembagaan Penyelenggaraan Inventarisasi Emisi GRK
Sesuai dengan Perpres No. 71 Tahun 2011 dan Permen LHK No. P.73/Menlhk/Setjen/Kum.1/12/2017 tentang pedoman penyelenggaraan dan pelaporan inventarisasi gas rumah kaca nasional menyebutkan bahwa, Pemerintah Kota/ Kota melalui institusi lingkungan baik Badan maupun Kantor Lingkungan Hidup yang sekarang telah berubah menjadi Dinas ditunjuk sebagai lembaga yang bertangung jawab untuk mengkoordinasikan penyelenggaraan inventarisasi GRK. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Semarang melembagakan inventarisasi GRK sebagai bagian tugas pokok dan fungsi ini untuk mengkoordinasikan pelaporan emisi GRK melalui perencanaan, pengumpulan data, analisa, dan pelaporan inventarisasi GRK.
Gambar 2. Mekanisme Pelaporan Inventarisasi GRK
Sistem kelembagaan inventarisasi GRK ini akan terhubung dengan sistem inventarisasi GRK Nasional (SIGN). SIGN bertujuan untuk memperkuat kapasitas sektor-sektor dan daerah dalam rangka meningkatkan kualitas inventarisasi GRK dan pengembangan sistem manajemen inventarisasi yang berkelanjutan.
Fungsi dan peran DLH Kota Semarang sebagai Organisasi Pelaksana di Daerah memprioritaskan
pengembangan kapasitas daerah untuk:
1. Peningkatan pemahaman metodologi pelingkupan, perhitungan (termasuk ketidakpastian), kelengkapan, verifikasi, dan pelaporan;
2. Dokumentasi data kegiatan dan asumsi yang digunakan; dan
3. Peningkatan keterlibatan OPD lain dalam inventarisasi dan monitoring rencana aksi mitigasi.
DLHK Provinsi
DLH Kab/Kota
KLHK
Dinas Provinsi Dinas Provinsi
Dinas Kab/Kota Dinas Kab/Kota
Pendekatan Top Down
Pendekatan Bottom Up
Kemendagri
1.6 Sistematika Pelaporan
Laporan Pendahuluan Profil GRK Kota Semarang disusun untuk memberikan gambaran mengenai sumber-sumber emisi, status emisi dan tingkat pada tahun 2014-2018.
Pada pelaporan akhir Inventarisasi Gas Rumah Kaca Laporan disusun berdasarkan prosedur dan pengaturan dalam pengumpulan dan penyimpanan data secara berkelanjutan. Hasil inventarisasi gas rumah kaca yang memuat tingkat, status, dan kecenderungan perubahan emisi GRK. Untuk encana perbaikan yang akan dilakukan untuk meningkatkan kualitas inventarisasi GRK. Penyusunan Format laporan sesuai Menteri Lingkungan Hidup Dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.73/ Menlhk/
Setjen/ Kum.1/ 12/ 2017 tentang Pedoman Penyelenggaraan Dan Pelaporan inventarisasi Gas Rumah Kaca Nasional yang berisi paling sedikit:
a. Ringkasan Eksekutif;
b. Pendahuluan;
⋅ Latar belakang informasi inventarisasi GRK;
⋅ Tujuan
⋅ Dasar Hukum
⋅ Ruang Lingkup
⋅ Pengaturan kelembagaan dalam penyelenggaraan inventarisasi GRK; dan
⋅ Sistematika Pelaporan
⋅ Deskripsi ringkas proses persiapan inventarisasi GRK.
c. Metodologi dan Sumber Data yang digunakan;
d. Hasil Perhitungan emisi dan serapan GRK terhadap:
⋅ Tingkat, status, dan kecenderungan emisi dan serapan GRK;
⋅ Pengadaan dan penggunaan energi;
⋅ Proses industri dan penggunaan produk
⋅ Pertanian, kehutanan, dan penggunaan lahan lainnya; dan
⋅ Pengelolaan limbah;
e. Analisis ketidakpastian dan kategori kunci;
f. Pengendalian dan penjaminan mutu;
g. Rencana perbaikan penyelenggaraan inventarisasi GRK;
h. Penutup.
1.7 Proses Persiapan Inventarisasi Gas Rumah Kaca
Proses Inventarisasi Gas Rumah Kaca dilakukan melalui beberapa tahap yaitu persiapan, pengumpulan data, penentuan metode, dan analisa serta pelaporan. Seluruh tahapan dikoordinasikan oleh DLH dengan melibatkan OPD yang terkait. Data yang disajikan dalam laporan inventarisasi GRK Kota Semarang sebagian besar berasal dari publlikasi statistik yaitu Kota Semarang Dalam Angka, Jawa Tengah Dalam Angka dan Laporan Lingkungan Hidup Jawa Tengah. Adapun langkah-langkah pengumpulan data adalah sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi sumber-sumber penghasil emisi di Kota Semarang berdasarkan kategori yang telah ditetapkan di Pedoman Inventarisasi GRK, IPCC 2006
2. Menyusun daftar data yang diperlukan untuk menghitung besaran emisi per jenis sumber emisi (dengan menggunakan formulir tabel data yang telah disediakan per sektor)
3. Melakukan pengumpulan data primer dan sekunder
4. Melakukan cek data dengan sumber yang relevan atau publikasi lainnya 5. Data yang telah tersedia diinputkan ke alat perhitungan (kalkulator GRK)
Pada setiap tahapan dilakukan perincian langkah-langkah kegiatan sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 2 dengan waktu penyusunan kurang lebih 3 bulan.
Pada setiap tahapan dilakukan perincian langkah-langkah kegiatan sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 1 dengan waktu penyusunan kurang lebih tiga bulan.
Tabel 2. Kerangka Waktu Penyusunan Inventarisasi GRK Kota Semarang
No Kegiatan
Bulan
I II III
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
I PERSIAPAN 1 Pembentukan Tim 2 Persiapan teknis II PENGUMPULAN DATA 1 Distribusi Format Data 3 Sidang I
4 Pengumpulan Data I 5 Verifikasi Data
III ANALISA & PELAPORAN 1 Input dan Perhitungan 2 Perhitungan Ketidakpastian 3 Analisa Kelengkapan 4 Verifikasi Hasil 5 Sidang II 6 Perbaikan Akhir 7 Penulisan Laporan 8 Pencetakan Laporan
Dalam setiap tahap pelaksanaan, dilakukan sidang untuk mengetahui status, pencapaian, dan kendala yang dihadapi serta solusi pemecahannya. Sepanjang penyusunan inventarisasi GRK, setiap OPD yang memiliki kompetensi serta tugas pokok dan fungsi yang sesuai dengan sektor-sektor inventarisasi GRK maka akan diikutsertakan dalam tim untuk menyusun secara bersama-sama inventarisasi GRK di Kota Semarang. Pelibatan seluruh lembaga terkait sangat penting, karena ketersediaan data ini menyebar dan tidak terpusat di DLH saja.
BAB 2 METODOLOGI
2.1. Metode Perhitungan Emisi Gas Rumah Kaca
Penyusunan Inventarisasi Gas Rumah Kaca Menurut Menteri Lingkungan Hidup Dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.73/Menlhk/Setjen/Kum.1/12/2017 tentang Pedoman Penyelenggaraan Dan Pelaporan inventarisasi Gas Rumah Kaca Nasional adalah kegiatan untuk memperoleh data dan informasi mengenai tingkat, status, dan kecenderungan perubahan emisi GRK secara berkala dari berbagai sumber emisi dan penyerapnya.
2.1.1. Jenis Gas Rumah Kaca
Jenis/tipe GRK yang keberadaanya di atmosfer berpotensi menyebabkan perubahan iklim global adalah CO2, CH4, N2O, HFCs, PFCs, SF6, dan tambahan gas-gas yaitu NF3, SF5, CF3, C4F9OC2H5, CHF2OCF2OC2F4OCHF2, dan senyawa-senyawa halocarbon yang tidak termasuk Protokol Montreal, yaitu CF3I, CH2Br2, CHCl3, CH3Cl, CH2Cl2. Dari semua jenis gas tersebut, GRK utama ialah CO2, CH4, dan N2O. Dari ketiga jenis gas ini, yang paling banyak kandungannya di atmosfer ialah CO2 sedangkan yang lainnya sangat sedikit sekali. (Martono, 2016)
Gambar 3. Global Warming Potential
Potensi pemanasan global (GWP) adalah ukuran relatif dari seberapa banyak memanaskan gas rumah kaca perangkap di atmosfer. Ini membandingkan jumlah panas yang terperangkap oleh massa tertentu dari gas tersebut untuk jumlah panas yang terperangkap oleh massa yang sama karbon dioksida . GWP A dihitung selama suatu interval waktu tertentu, biasanya 20, 100 atau 500 tahun. GWP dinyatakan sebagai faktor karbon dioksida (yang GWP adalah standar untuk 1). Sebagai contoh, 20 tahun GWP metana adalah 72, yang berarti bahwa jika massa yang sama dari metana dan karbon dioksida diperkenalkan ke atmosfer, metana yang akan menjebak panas 72 kali lebih banyak daripada karbon dioksida selama 20 tahun ke depan. Gas-Gas dalam Global Warming Potential disebabkan naiknya konsentrasi gas rumah kaca di atmosfir. Ada 6 senyawa gas rumah kaca yang disepakati dalam Protokol Kyoto, yaitu:
1. Karbondioksida (CO₂)
Kenaikan konsentrasi gas CO₂ ini disebabkan oleh kenaikan pembakaran bahan bakar minyak (BBM), batu bara dan bahan bakar organik lainnya yang melampaui kemampuan tumbuhan- tumbuhan dan laut untuk mengabsorbsinya.
2. Metana (CH₄)
Merupakan insulator (zat penyerap, tidak menghantarkan, isolator) yang efektif, mampu menangkap panas 20 kali lebih banyak bila dibandingkan karbondioksida. Metana dilepaskan selama produksi (penambangan, pengeboran) dan transportasi (pengolahan) batu bara, gas alam,
dan minyak bumi. Metana juga dihasilkan dari pembusukan limbah organik di tempat pembuangan sampah (landfill), bahkan dapat keluarkan oleh hewan-hewan tertentu, terutama sapi, sebagai produk samping dari pencernaan. Gas ini efeknya lebih parah daripada CO₂, tetapi jumlahnya jauh lebih sedikit dibanding CO₂, sehingga dampaknya tidak sebesar CO₂.
3. Nitrogen Oksida (N₂O)
N₂O adalah gas insulator panas yang sangat kuat. Ia dihasilkan terutama dari pembakaran bahan bakar fosil dan oleh lahan pertanian. Nitrogen dioksida dapat menangkap panas 300 kali lebih besar dari karbondioksida.
4. Chloro-Fluoro-Carbon (CFC)
CFC atau yang disebut sebagai Freon. Gas ini dihasilkan oleh pendingin-pendingin yang menggunakan freon, seperti kulkas, AC, dll. Gas ini selain mampu menahan panas juga mampu mengurangi lapisan ozon, yang berguna untuk menahan sinar ultraviolet masuk ke dalam bumi.
CFC ini menyerang Ozon, akibatnya kandungan Ozon di angkasa menipis dan mengakibatkan lubang di kutub utara dan selatan, sehingga UV (ultraviolet) mampu menerobos masuk ke atmosfer dan menyebabkan terjadinya radiasi.
5. Hidro-Fluoro-Carbon (HFCs)
HFCs ini juga disebut sebagi Freon. Gas ini juga dihasilkan oleh pendingin-pendingin yang menggunakan freon, seperti kulkas, AC, juga terbentuk selama manufaktur berbagai produk, termasuk busa untuk insulasi, perabotan (furniture), dan tempat duduk di kendaraan dan dapat menimbulkan pemanasan global.
6. Sulfur Heksafluorida (SF₆)
Konsentrasi gas ini di atmosfer meningkat dengan sangat cepat, yang walaupun masih tergolong langka di atmosfer tetapi gas ini mampu menangkap panas jauh lebih besar dari gas-gas rumah kaca yang telah dikenal sebelumnya. Hingga saat ini sumber industri penghasil gas ini masih belum teridentifikasi.
2.1.2. Metodologi Dasar Perhitungan Emisi/Serapan GRK
Perhitungan emisi/serapan GRK sebagaimana dimaksud dilakukan dengan mengacu pada Pedoman Inventarisasi GRK yang ditetapkan oleh IPCC.
1. Formula emisi
Secara umum, formula perhitungan emisi GRK adalah sebagai berikut:
E = AD x ef
E : Beban emisi yang ditanggung oleh wilayah pada periode tertentu (ton/tahun) AD : Data aktivitas dari sumber emisi (menyesuaikan)
Ef : Faktor emisi (menyesuaikan).
Aplikasi teknologi pengendali emisi umumnya menjadi upaya reduksi emisi yang dilakukan oleh sector industri, khususnya industri besar. Penurunan emisi oleh teknologi ini diperhitungan dengan memasukkan persen efisiensi reduksinya. Namun, pengendali emisi hanya berperan untuk menurunkan emisi PM atau debu. Oleh sebab itu, nilai pengendalian emisi tidak dapat digunakan dalam inventarisasi emisi GRK ini.
2. Tier perhitungan
Tier merujuk pada kedalaman metode yang dipergunakan dalam mengestimasi beban emisi.
Semakin tinggi nilai Tier, maka akan semakin kompleks perhitungan, semakin detail data aktivitas dan semakin mendekati tingkat keakuratan kondisi riil. Meskipun demikian, fakta bahwa data aktivitas kerapkali terbatas dan tidak terakses, khususnya pada metode koleksi top down menyebabkan pilihan Tier menjadi terbatas pada level-level awal. Secara umum, dalam inventarisasi emisi maupun inventarisasi GRK akan dikenal tiga tingkatan Tier dalam perhitungan sebagai berikut:
Tabel 3. Tingkat Ketelitian Perhitungan Emisi Gas Rumah Kaca
Tingkat Perhitunga
n
Keterangan
Tier I Metode perhitungan emisi dan serapan menggunakan persamaan dasar dan faktor emisi default atau IPCC default values dan adata aktivitas yang digunakan sebagian berasal dari data global.
Tier II Perhitungan emisi dan atau serapan menggunakan persamaan yang lebih rinci, misalnya persamaan reaksi atau neraca material dan menggunakan faktor emisi lokal yang diperoleh dari hasil pengukuran langsung dan data aktivitas berasal dari sumber data nasional dan/atau daerah
Tier III Metode perhitungan emisi dan serapan karbon menggunakan metode paling rinci (dengan pendekatan modelling dan sampling). Melalui pendekatan modeling, faktor emisi lokal dapat divariasikan sesuai dengan keberagaman kondisi yang ada sehingga emisi dan serapan akan memiliki tingkat kesalahan lebih rendah.
3. Data aktivitas
Data aktivitas adalah segala tipe data yang berasal dari informasi detail kegiatan dengan potensi emisi. Data aktivitas mengutamakan pada emisi yang bersifat stokiometrik (berasal dari aktivitas non-alam, antropogenik). Data aktivitas dapat merujuk pada potensi emisi pembakaran (combustive) maupun fugitive emission.
Kegiatan inventarisasi GRK Kota Semarang menggunakan pendekatan koleksi data top down.
Artinya, keseluruhan atau setidaknya mayoritas data aktivitas yang digunakan adalah data sekunder. Hal ini membatasi pengumpulan (koleksi) data secara primer, menyesuaikan dengan ketersediaan sumber daya dan waktu kegiatan. Data sekunder dapat berupa dokumen pemerintah, catatan distribusi/penjualan tahunan maupun expert judgement dari kegiatan serupa sebelumnya. Pendekatan top down juga memberikan akses bagi penyediaan data berdasarkan tren atau mengkombinasikan ketersediaan pada beberapa dokumen atau expert judgement.
4. Faktor emisi
Faktor emisi merupakan koefisien atau rasio polutan yang dihasilkan atau diemisikan dari sumber emisi tertentu yang nilainya ditentukan oleh beragam variabel khusus seperti berat bahan bakar, berat biomassa, proses dsb, diperoleh dari simpulan pengamatan atau penelitian pada emisi sumber serupa dalam periode yang panjang. Faktor emisi biasanya telah memiliki nilai atau ketentuan tertentu. Untuk kegiatan IE GRK Kota Semarang, sumber faktor emisi adalah:
a. IPCC Guidelines for National Greenhouse Gas Inventory (2006) yang dicantumkan kembali dalam Petunjuk Teknis Inventarisasi Gas Rumah Kaca Kementerian Lingkungan Hidup RI (2011).
b. Faktor emisi lokal, digunakan pada beberapa perhitungan berdasarkan ketersediaan secara lokal/nasional (misalnya pada konsumsi listrik) atau asumsi hitungan berbasis karakter lingkungan setempat (misalnya pada beberapa emisi pertanian).
2.1.3. Pengadaan Dan Penggunaan Energi
Energi merupakan salah satu sektor penting dalam inventarisasi emisi gas rumah kaca (GRK). Cakupan inventarisasi meliputi kegiatan penyediaan dan penggunaan energi. Penyediaan energi meliputi kegiatan-kegiatan: (i) eksplorasi dan eksploitasi sumber-sumber energi primer (misal minyak mentah, batubara), (ii) konversi energi primer menjadi energi sekunder yaitu energi yang siap pakai (konversi minyak mentah menjadi BBM di kilang minyak, konversi batubara menjadi tenaga listrik di pembangkit tenaga listrik), dan (iii) kegiatan penyaluran dan distribusi energi. Kegiatan penggunaan energi meliputi: (i) penggunaan bahan bakar di peralatan-peralatan stasioner (di industri, komersial, dan rumah tangga), dan (ii) peralatan-peralatan yang bergerak (transportasi).
Tabel 4. Kategori Sumber Emisi dari Kegiatan Energi
Kode Kategori Cakupan Kategori
1 Energi
1A Kegiatan Pembakaran Bahan Bakar (Fuel Combustion Activities)
Emisi berasal dari pembakaran/oksidasi bahan bakar secara sengaja dalam suatu alat dengan tujuan menyediakan panas atau kerja mekanik kepada suatu proses. Pembakaran bahan bakar terjadi di berbagai sektor kegiatan, diantaranya industri, transportasi, komersial, dan rumah tangga. Penggunaan bahan bakar di industri yang bukan untuk keperluan energi namun sebagai bahan baku proses (misal penggunaan gas bumi pada proses produksi pupuk atau pada proses produksi besi baja) atau sebagai produk (misal penggunaan hidrokarbon sebagai pelarut) tidak termasuk dalam kategori aktivitas energi.
1 B Emisi Fugitive (Fugitive Emissions from Fuels)
Emisi GRK yang secara tidak sengaja terlepas pada kegiatan produksi dan penyediaan energi. Emisi fugitive terjadi di kegiatan produksi dan penyaluranm Migas dan batubara diantaranya di lapangan migas, kilang minyak, tambang batubara, dan lain-lain. Pada sistem migas emisi fugitive terjadi pada operasi flaring dan venting, serta kebocoran- kebocoran pada pipa-pipa dan peralatan- peralatan pengolahan dan penanganan migas. Di sistem batubara emisi fugitive terjadi dari lepasnya seam gas (gas yang semula terperangkap dalam lapisan batubara) pada saat penambangan dan pengangkutan.
IC CO2 Transport & Storage Emisi GRK dari kegiatan pengangkutan dan injeksi CO2 pada kegiatan penyimpanan CO2 di formasi geologi
Sumber: (Permen LHK No. 73 Tahun 2017)
Sumber emisi GRK paling utama dari kegiatan energi adalah pembakaran bahan bakar. Emisi fugitive dari kegiatan produksi dan penyaluran bahan bakar secara keseluruhan jauh lebih kecil dibandingkan emisi dari pembakaran bahan bakar. Kegiatan pengangkutan dan injeksi CO2 pada kegiatan penyimpanan CO2 di formasi geologi belum dilakukan di Indonesia, sehingga emisi GRK terkait dengan kegiatan penyimpanan CO2 tidak akan dibahas.
2.1.3.1.Pembakaran Bahan Bakar Pada Sumber Stasioner
Pendekatan Tier-1 dan Tier-2 merupakan metodologi penghitungan emisi GRK yang paling sederhana, yaitu berdasarkan data aktifitas dan faktor emisi. Estimasi emisi GRK Tier-1 dan Tier-2 menggunakan Persamaan berikut:
Persamaan 1
Persamaan Umum Tier-1 dan 2 Emisi GRK = Data Aktivitas x Faktor Emisi
Data aktifitas adalah data mengenai banyaknya aktifitas umat manusia yang terkait dengan banyaknya emisi GRK. Contoh data aktivitas sektor energi: volume BBM atau berat batubara yang dikonsumsi, banyaknya minyak yang diproduksi di lapangan migas (terkait dengan fugitive emission).
Faktor emisi (FE) adalah suatu koefisien yang menunjukkan banyaknya emisi per unit aktivitas (unit aktivitas dapat berupa volume yang diproduksi atau volume yang dikonsumsi). Untuk Tier-1 faktor emisi yang digunakan adalah faktor emisi default (IPCC 2006 GL).
Pada metoda Tier-2 data aktivitas yang digunakan dalam perhitungan lebih detil dibanding metoda Tier-1. Sebagai contoh, pada Tier-1 data aktivitas penggunaan solar sektor transportasi merupakan agregat konsumsi solar berdasarkan data penjualan di SPBU, tanpa membedakan jenis kendaraan pengguna. Pada Tier-2 data aktivitas konsumsi solar sektor transportasi dipilah (break down) berdasarkan jenis kendaraan pengguna. Faktor emisi yang digunakan pada Tier-2 dapat berupa FE default IPCC atau FE yang spesifik berlaku untuk kasus rata-rata Indonesia atau berlaku pada suatu fasilitas/pabrik tertentu di Indonesia.
2.1.3.2.Pembakaran Bahan Bakar Pada Sumber Stasioner
Sumber emisi yang stasioner dibedakan dari sumber emisi bergerak karena faktor emisi GRK, khususnya GRK yang non-CO2, bergantung kepada jenis bahan bakar dan teknologi penggunaan bahan bakar tersebut. GRK yang diemisikan oleh pembakaran bahan bakar pada sumber stasioner adalah CO2, CH4 dan N2O. Besarnya emisi GRK hasil pembakaran bahan bakar fosil bergantung pada banyak dan jenis bahan bakar yang dibakar. Banyaknya bahan bakar direpresentasikan sebagai data aktivitas sedangkan jenis bahan bakar direpresentasikan oleh faktor emisi.
Persamaan umum yang digunakan untuk estimasi emisi GRK dari pembakaran bahan bakar adalah sebagai berikut:
Persamaan 1
Persamaan Umum Tier-1 dan 2 Emisi GRK = Data Aktivitas x Faktor Emisi
Faktor emisi menurut default IPCC dinyatakan dalam satuan emisi per unit energi yang dikonsumsi (kg GRK/TJ). Di sisi lain data konsumsi energi yang tersedia umumnya dalam satuan fisik (ton batubara, kilo liter minyak diesel dll). Oleh karena itu sebelum digunakan pada Persamaan, data konsumsi energi harus dikonversi terlebih dahulu ke dalam satuan energi TJ (Terra Joule) dengan dengan Persamaan 3.
Persamaan 3
Konversi Dari Satuan Fisik ke Terra Joule
Konsumsi Energi (TJ)=Konsumsi Energi (sat. fisik) x Nilai Kalor (TJ/sat.fisik) 2.1.4. Proses Industri Dan Penggunaan Produk
Pada bagian ini disampaikan sumber-sumber utama emisi GRK yang tercakup di dalam inventarisasi emisi GRK kegiatan terkait proses industri dan penggunaan produk (industrial processes and production use, IPPU). Emisi GRK dari kegiatan IPPU mencakup; (i) emisi GRK yang terjadi selama proses/reaksi kimiadi industri, (ii) penggunaan gas-gas kategori GRK di dalam produk, dan (iii) penggunaan karbon bahan bakar fosil untuk kegiatan (non-energi), yaitu bukan untuk penyediaan energi namun untuk kegiatan produksi. Kategori sumber emisi GRK dari Proses Industri dan Penggunaan Produk (IPPU), sebagaimana disajikan pada Tabel berikut ini.
Tabel 5. Kategori Sumber Emisi GRK dari Proses Industri dan Penggunaan Produk
Kode Kategori Cakupan Kategori
2A Industri Mineral Produksi Semen, Kapur, Kaca, Proses lain yang menggunaan karbonat, Keramik, Penggunaan lain Soda Abu, Produksi Non - Metallurgical Mg, dan Lainnya
2B Industri Kimia Produksi Ammonia, Asam Nitrat, Asam Adipat, Caprolactam, Glyoxal
& Glyoxylic Acid, Produksi Karbida, Titanium Dioksida, Soda Abu, Petrokima/Carbon Black, Fluorochemical, dan Lainnya
2C Industri Logam Produksi Besi dan Baja, Ferroalloys, Aluminium, Magnesium, Timbal, Produksi Seng, dan Lainnya
2D Non-Energi Produk dari Bahan Bakar dan Penggunaan Solvent
Penggunaan Pelumas, Lilin Paraffin.
2E Industri Electronik Integrated Circuit/Semiconductor, TFT Flat Panel Display, Fotovoltaik, Heat Transfer Fluid, dan Lainnya
2F Penggunaan Produk sebagai Bahan Peluruhan Lapisan Ozon
Refrigeran dan AC, Foam Blowing Agent, Alat Pemadam Kebakaran, Aerosols, Pelarut, dan Aplikasi lainnya
2G Pembuatan Produk- produk Lainnya dan Penggunaannya
Peralatan Listrik, SF6/PFCs Penggunaan Produk Lain, N2O dari Penggunaan Produk,
dan Lainnya
2H Lainnya Industri Pulp dan Kertas, Industri Makanan dan Minuman, dan Lainnya
Emisi gas rumah kaca dihasilkan dari berbagai aktivitas industri. Sumber-sumber emisi utama adalah dilepaskannya (gas rumah kaca) dari proses-proses industri yang secara kimiawi atau fisik melakukan transformasi suatu bahan/material menjadi bahan lain (misal blast furnace di industri besi dan baja, produksi amonia dan produk-produk kimia lainnya dari bahan baku berupa bahan bakar fosil, serta proses produksi semen) (Permen LHK No. 73 Tahun 2017).
1. Pendekatan Umum Penghitungan Tingkat Emisi GRK
Penghitungan tingkat emisi GRK untuk kebutuhan inventarisasi emisi GRK pada dasarnya berbasis pada pendekatan umum sebagai persamaan berikut ini:
Tingkat Emisi = Data Aktifitas (AD) x Faktor Emisi (EF)
Data aktivitas (AD) adalah besaran kuantitatif kegiatan manusia (anthropogenic) yang melepaskan emisi GRK. Pada kegiatan IPPU, besaran kuantitatif adalah besaran terkait jumlah bahan yang diproduksi atau yang dikonsumsi (misal penggunaan carbonate). Faktor emisi (EF) adalah faktor yang menunjukkan intensitas emisi per unit aktivitas yang bergantung kepada berbagai parameter terkait proses kimia yang terjadi di masing-masing industri.
2. Tier (Tingkat Ketelitian
Berdasarkan IPCC 2006 GL, ketelitian penghitungan tingkat emisi GRK dalam kegiatan inventarisasi dikelompokkan dalam 3 tingkat ketelitian yang dikenal sebagai ‘Tier’. Tingkat ketelitian perhitungan ini terkait dengan data dan metoda perhitungan yang digunakan sebagaimana dijelaskan berikut ini.
Tier 1: estimasi berdasarkan data aktifitas dan faktor emisi default IPCC. Pada Tier 1, estimasi tingkat emisi GRK menggunakan sebagian besar data aktivitas dan parameter faktor emisi default yang tersedia dalam IPCC 2006 GL.
Tier 2: estimasi berdasarkan data aktifitas yang lebih akurat dan faktor emisi default IPCC atau faktor emisi spesifik suatu negara atau suatu pabrik (country specific/plant specific). Pada Tier 2, estimasi tingkat emisi GRK menggunakan beberapa parameter default, tetapi membutuhkan data aktifitas dan parameter terkait faktor emisi yang berkualitas.
Tier 3: estimasi berdasarkan metoda spesifik suatu negara dengan data aktifitas yang lebih akurat (pengukuran langsung) dan faktor emisi spesifik suatu negara atau suatu pabrik (country specific/plant specific). Pada Tier 3, estimasi tingkat emisi GRK didasarkan pada data aktivitas spesifik suatu negara (Tier 2) dan menggunakan salah satu metoda dengan parameter kunci yang dikembangkan secara nasional atau pengukuran yang diturunkan dari parameter-parameter spesifik-suatu negara.
Penentuan Tier dalam inventarisasi GRK sangat ditentukan oleh ketersediaan data dan tingkat kemajuan suatu negara atau pabrik/industri dalam hal pelaksanaan penelitian untuk menyusun metodologi atau menentukan faktor emisi spesifik yang berlaku bagi negara/pabrik tersebut. Di Indonesia dan negara-negara non-Annex 1 pada umumnya, inventarisasi GRK menggunakan Tier- 1 berdasarkan data aktifitas dan faktor emisi default IPCC.