• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN KERJA PRAKTIK Evaluasi Overall equipment effectiviness (OEE) pada Penerapan Total Productive Maintenance PT. Tokai Rubber Indonesia

N/A
N/A
ujang ahmad

Academic year: 2024

Membagikan "LAPORAN KERJA PRAKTIK Evaluasi Overall equipment effectiviness (OEE) pada Penerapan Total Productive Maintenance PT. Tokai Rubber Indonesia"

Copied!
39
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN KERJA PRAKTIK

Evaluasi Overall equipment effectiviness (OEE) pada Penerapan Total Productive Maintenance PT. Tokai Rubber Indonesia (Finish Revisi)

Diajukan sebagai salah satu syarat dalam melaksanakan perkuliahan mata kuliah Kerja Praktik

UJANG AHMAD KHOIRUDI 2041622620112

PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BUANA PERJUANGAN KARAWANG 2023

(2)

ii

LEMBAR PERSETUJUAN

LAPORAN KERJA PRAKTIK

Evaluasi Overall equipment effectiviness (OEE) pada Penerapan Total Productive Maintenance PT. Tokai Rubber Indonesia

Laporan Kerja Praktik dilakukan oleh:

UJANG AHMAD KHOIRUDIN NIM : 20416226201112 telah disetujui untuk diajukan pada

Seminar Kerja Praktik Program Studi Teknik industri Fakultas Teknik

Universitas Buana Perjuangan Karawang

Karawang, <Tanggal NamaBulan Tahun>

Menyetujui, Pembimbing

Akda Zahrotul Wathoni, M.Si NIDN: ...

(3)

iii

LEMBAR PENGESAHAN LAPORAN KERJA PRAKTIK

Evaluasi Overall equipment effectiviness (OEE) pada Penerapan Total Productive Maintenance PT. Tokai Rubber Indonesia

NIM : 20416226201112 UJANG AHMAD KHOIRUDIN

Telah diujikan pada hari …., tanggal ………. dan dinyatakan LULUS dengan susunan Tim Penguji sebagai berikut:

Karawang, <Tanggal NamaBulan Tahun>

Ketua Sidang, Penguji,

(Nama dan Gelar Dosen) NIDN: ...

(Nama dan Gelar Dosen) NIDN: ...

Disahkan oleh, Koordinator Program Studi

Muhamad Sayuti, S.T., M.T., IPM., ASEAN., ENG.

NIDN : 0419078903

(4)

iv

LEMBAR PERNYATAAN

Saya Ujang Ahmad Khoirudin menyatakan dengan sesungguhnya bahwa Laporan Kerja Praktik yang saya tulis beserta dengan seluruh isinya adalah merupakan hasil karya sendiri. Saya tidak melakukan penjiplakan yang tidak sesuai dengan etika keilmuan yang berlaku dalam masyarakat keilmuan.

Sesuai peraturan yang berlaku saya siap menanggung resiko/sanksi yang diberikan jika di kemudian hari ditemukan pelanggaran terhadap etika keilmuan dalam laporan ini atau jika ada klaim dari pihak lain terhadap keaslian karya,

Karawang, <Tanggal>

Yang Menyatakan,

<tandatangan>

UJANG AHMAD KHOIRUDIN

(5)

v

KATA PENGANTAR

Berisi kata-kata yang terangkai menjadi kalimat sebagai pengantar tulisan karya ilmiah. Isi kata pengantar yaitu ucapan puji dan syukur, tujuan penulisan, ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah turut membantu, harapan, tempat dan tanggal, dan nama penulis. Kata pengantar ini ditulis secara ringkas maksimal dua halaman

Penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Prof. Dr. H. Dedi Mulyadi, S.E., M.M., Rektor Universitas Buana Perjuangan Karawang.

2. Bapak Ir. Ade Suhara, ST., MT., IPM Dekan Fakultas Teknik Universitas Buana Perjuangan Karawang,

3. Muhamad Sayuti, S.T., M.T., IPM., ASEAN., ENG. Koordinator Program Studi Teknik Industri Universitas Buana Perjuangan Karawang, yang menerima penulis dengan baik untuk berkonsultasi,

4. Amelia Nur Fariza, S.T., M. Sc., Koordinator Kerja Praktik Program Studi Teknik Industri Universitas Buana Perjuangan Karawang, yang menerima penulis dengan baik untuk berkonsultasi,

5. Akda Zahrotul Wathoni, M.Si, Dosen Pembimbing yang telah memberikan bimbingan pembuatan laporan Kerja Praktik,

6. Akhmad Sayuti, Manager Produksi PT. Tokai Rubber Indonesia

7. Naip Hudallah, Pembimbing Lapangan yang telah memberikan bimbingan selama melaksanakan kerja praktik di PT. Tokai Rubber Indonesia

Semoga laporan Kerja Praktik ini dapat bermanfaat, baik sebagai sumber informasi maupun sumber inspirasi, bagi para pembaca.

Karawang, <Tanggal>

Penulis, UJANG AHMAD KHOIRUDIN

(6)

vi

RINGKASAN

Ringkasan ditulis maksimum 1 halaman berisikan rangkuman yang menggambarkan keseluruhan laporan yang berisi tentang alasan dan tujuan, metodologi kerja praktik, dan hasil kerja praktik. Font size digunakan 12pt, 1 spasi dan dengan jumlah kata antara 150 - 200 kata.

Kata Kunci: kata kunci berisikan kata-kata yang medeskripsikan isi tulisan dan ditulis dengan huruf kecil. Kata kunci maksimum sebanyak 6 kata, dan minimum 3 kata kunci.

(7)

vii DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN... ii

LEMBAR PERNYATAAN ... iv

KATA PENGANTAR ... v

RINGKASAN ... vi

DAFTAR ISI ... vii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Perumusan Masalah ... 2

1.3 Tujuan Penelitian ... 2

1.4 Manfaat ... 2

1.5 Batasan Masalah ... 3

1.6 Asumsi ... 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 5

2.1 Total Productive Maintenance ... 5

2.1.1 Definisi Total Productive Maintenance (TPM) ... 5

2.1.2 Tujuan Total Productive Maintenance (TPM) ... 5

2.1.3 Delapan Pilar Total Productive Maintenance (TPM) ... 6

2.2 Overall Equipment Effectiveness (OEE) ... 7

1. Availability Rate ... 7

2. Performance Ratio ... 8

3. Quality Rate ... 8

2.3 Diagram Sebab akibat (Fishbone Cause and Effect Diagram) ... 8

2.4 Total Quality Management ... 10

2.5 Manajemen Perawatan ... 12

(8)

viii

2.6 Pengambilan Keputusan Manajerial ... 15

2.7 Manajemen Kinerja ... 17

2.4.1 Definisi Manajemen Kinerja ... 17

2.7.2 Tujuan Manajemen Kinerja ... 18

BAB III METODOLOGI ... 20

3.1 Gambaran Umum perusahaan ... 20

3.1.1 Bidang Pekerjaan PT. Tokai Rubber Indonesia ... 20

3.1.2 Visi Misi PT. Tokai Rubber Indonesia ... 21

3.1.3 Struktur Organisasi PT. Tokai Rubber Indonesia ... 21

3.2 Lokasi dan Waktu ... 23

3.3 Prosedur Kerja ... 23

3.4 Data dan Informasi ... 25

3.5 Kerangka Pemikiran ... 25

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 27

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 28

DAFTAR PUSTAKA ... 29

LAMPIRAN ... 30

RIWAYAT PENULIS ... 31

(9)

1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Tantangan pada dunia industri menuntut perusahaan untuk menerapkan segala langkah dan kebijakan yang dapat mendukung efisiensi dan efektifitas terhadap proses produksi untuk mencapai tujuan perusahaan yaitu untuk mencapai keuntungan perusahaan. Perusahaan harus mengupayakan tahapan produksi yang efektif, efisien dan produktif untuk mencapai tujuan perusahaan (Rusli Ananta, 2017).

Untuk mencapai tujuannya, perusahaan seringkali menghadapi berbagai masalah, baik dari segi bahan baku, mesin produksi, sumber daya manusia maupun faktor eksternal seperti kondisi cuaca dan bencana alam. Terjadinya kegagalan mesin atau terhentinya proses produksi akibat kerusakan mesin menuntut perusahaan untuk memutuskan bagaimana perusahaan dapat melanjutkan proses produksi tanpa kehilangan waktu. Pada kenyataannya, tindakan perbaikan yang dilakukan tidak sampai pada akar permasalahan yang dihadapi, sehingga menimbulkan kerugian akibat biaya yang diakibatkan oleh kerusakan dan penurunan produksi. Pada dasarnya perawatan terhadap mesin dilakukan sedemikian rupa agar selalu dalam kondisi baik sehingga tetap beroperasi dan tahan lama (Wildan Wiranata, 2017). Dalam usaha melakukan perawatan terhadap mesin perusahaan mencoba melakukan penerapan Total Productive Maintenance (TPM), dimana TPM terbukti mampu memberikan perubahan yang baik pada perusahaan berupa peningkatan produktivitas, peningkatan kualitas, pengendalian biaya, ketepatan pengiriman produk kepada konsumen, menjaga keselamatan pekerja dan penyemangat dalam menciptakan tempat kerja yang kondusif untuk operasional perusahaan (Sigit Priyono, 2019).

Total Productive Maintenance dapat menjadi program fundamental pengembangan pemeliharaan terhadap mesin yang melibatkan bukan hanya team Maintenance melainkan seluruh operator . Pengamatan ini fokus pada implementasi Total Productive Maintenance di PT. Tokai Rubber Indonesia demi meningkatkan pencapaian produksi dan menurunkan resiko Breakdown machine pada lini proses Mixing. Berdasarkan permasalahan di atas Implementasi Total

(10)

2

Productive Maintenance Pada Lini Proses Mixing Di Pt. Tokai Rubber Indonesia menitik beratkan pada tiga dari delapan pilar TPM yaitu :

1. Autonomous Maintenanse 2. Focus Improvement, 3. Planned Maintenance.

Dalam implementasi TPM Penuils ditugaskan untuk melakukan pengamatan pada progres master plan implamantation TPM pada lini mixing dan melakukan perhitungan menggunakan Metode Overall Equipment Effectiveness(OEE) yang diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai kerugian-kerugian (six big losses). Berdasarkan permasalahan di atas, pengamatan ini bertujuan untuk mengukur tingkat efektivitas mesin mixing, menentukan faktor penyebab nilai Overall Equipment Effectiveness(OEE) rendah dan mengidentifikasi kerugian/losses yang erjadi, sertamemberikan usulan perbaikan penerapan TPM pada perusahaan

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan pemikiran di atas, maka pertanyaan yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah:

1. Bagaimana langkah penerapan TPM pada lini Mixing?

2. Bagaimana metode OEE membantu menghitung efektifitas peralatan 1.3 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui langkah langkah yang tepat dari penerapan TPM di lini Mixinng

2. Untuk mengetahui Nilai Overall Equipment Effectiveness (OEE) pada efisiensi proses produksi peralatan di lini mixing

1.4 Manfaat

Manfaat yang diperoleh dari penelitian yang dilakukan adalah sebagai berikut:

1. Manfaat teoritis

Pengamatan penerapan Total Productive Maintenance ini diharapkan menamba wawasan dan pengetahuan mengenai langkah langkah teoritis

(11)

3

dalam penerapan Total Productive Maintenance dan juga menentukan nilai Overall Equipment Effectiveness untuk menentukan langkag terbaik pengambilan keputusan.

2. Manfaat Praktis a) Bagi penulis

Pengamatan penerapan Total productive Maintenance ini dapat dijadikan sarana penerapan dan pengamalan ilmu mengenai Manajemen perawatan mesin dan menentukan nilai Overall Equipment Effectiveness

b) Bagi Perusahaan

Penerapan Total Productive Maintenance diharapkan dapat membantu perusahaan dalam meningkatkan pencapaian produksi dan pengambilan keputusan yang tepat berdasarkan Nilai Overall Equipment Effectiveness yang didapat

c) Bagi penelitian selanjutnya

Pengamatan ini diarapkan dapat dijadikan referensi untuk penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan penerapan Total Productive maintenance dan Pengambilan keputusan perbaikan efektifitas produksi berdasarkan nilai Overall Equipment Effectiveness.

1.5 Batasan Masalah

Dalam penelitian ini akan dilakukan batasan masalah sebagai berikut :

1. Penelitian ini difokuskan pada langkah dan strategi manajemen dalam penerapan TPM pada lini Mixing

2. Data penelitian adalah data kerusakan mesin mixing tahun january 2022 hingga Agustus 2022

3. Tidak menghitung biaya perbaikan dan biaya implementasi TPM pada lini Mixing

1.6 Asumsi

Dalam penelitian ini, asumsi yang digunakan sebagai berikut :

1. Data dan informasi didapatkan dari rekapitulasi data kerusakan mesin mixing PT. Tokai Rubber Indonesia

(12)

4

2. Kondisi peneliti dalam keadaan normal, dan penelitian dilakukan secara netral dan objektif dan tidak ada intervensi dari pihak manapun

3. Data yang diperoleh peneliti telah dipertimbangkan kelayakannya oleh pihak perusahaan terkait.

(13)

5 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Total Productive Maintenance

Total Productive Maintenance (TPM) adalah salah satu konsep gagasan dari Jepang, Seiichi Nakajima (1919 – 11 April 2015) adalah warga negara Jepang dan perintis sistem Total Productive Maintenance. Nakajima dihormati oleh Kaisar Jepang dengan Ranju Ho-sho, atau Medali Pita Biru. Penghargaan ini diberikan kepada individu dengan pencapaian seumur hidup yang signifikan, dan diberikan kepada Nakajima oleh Kaisar "untuk menunjukkan rasa terima kasih atas dedikasinya untuk meningkatkan industri manufaktur melalui TPM dan Nippon denso adalah perusahaan pertama yang menerapkan dan mengembangkan konsep TPM pada tahun 1960.

Total Productive Maintenance (TPM) adalah suatu manajemen perusahaan yang berfokus pada pemeliharaan dan peningkatan produksi melalui perawatan mesin dan peralatan dengan meminimalisir pemborosan. TPM yang dikembangkan ole JIPM sejak tahun 1970. Membuat penerapan TPM mendapatkan respon yang baik, yaitu peningkatan pengetahuan dan ketrampilan dalam produksi dan perawatan mesin bagi pekerja dan telah menyebar di banyak negara.

2.1.1 Definisi Total Productive Maintenance (TPM)

TPM adalah suatu sistem perawatan mesin yang melibatkan operator produksi dan semua elemen departemen yang berkaitan dengan produksi, pengembangan serta administrasi. TPM membutuhkan partisipasi dari seluruh elemen perusahaan mulai dari top manajemen sampai operator yang mengoperasikan mesin. Operator tidak hanya bertugas menjalankan mesin, tapi juga merawat mesin sebelum dan sesudah pemakaian.

2.1.2 Tujuan Total Productive Maintenance (TPM)

TPM bertujuan untuk membentuk budaya pada sistem manajemen perawatan mesin dengan peningkatan produktifitas dari proses serta menurunkan cost (waste) yang di sebabkan oleh kerusakan yang mendadak (six big losses). Sasaran penerapan TPM adalah tercapainya zero breakdown, zero defect, dan zero accident sepanjang

(14)

6

siklus hidup dari sistem produksi sehingga memaksimalkan efektifitas penggunaan mesin dengan improvemen Overall Equipment Effectiveness (OEE).

Gambar 2. 1 Six Big Losses of OEE

2.1.3 Delapan Pilar Total Productive Maintenance (TPM)

TPM memiliki 8 pilar yang sebagian besar terfokus pada teknik proaktif dan preventif untuk meningkatkan efisiensi peralatan/mesin.

1. Autonomous Maintenance : Perawatan secara mandiri yang dilakukan oleh operator produksi atau si pengguna peralatan/mesin

2. Planned Maintenance : Perawatan peralatan/mesin yang direncanakan 3. Quality Maintenance : Memastikan peralatan/mesin produksi dapat

mendeteksi kesalahan dan penurunan kualitas selama proses produksi

4. Focused Improvement : meningkatkan kemampuan karyawan dalam mengatasi masalah atau probem solving.

5. Early Equipment Management : Sebuah kegiatan yang terencana pada rekayasa teknis dalam membuat mesin menjadi lebih sederhana dalam pengoperasian dan perawatan mesin.

6. Training & Education : Mengisi kesenjangan pengetahuan Skill dan karakter saat perencanaan dan implementasi TPM

7. Health, Safety & Environtment : Menciptakan lingkungan kerja yang aman dan sehat

(15)

7

8. TPM in Administration : Menyebarkan konsep TPM ke dalam fungsi administrasi

Pilar pilar diatas adalah hal yang menunjang aktifitas TPM dan pilar itu akan kuat jika pondasi nya kuat, oleh karenanya 5S menjadi pondasi dari pilar pilar TPM (gambar 2.2).

Gambar 2. 2 8 pilar TPM

2.2 Overall Equipment Effectiveness (OEE)

Overall Equipment Effectiveness (OEE) adalah metode yang digunakan untuk mengukur rasio dalam penerapan TPM guna menjaga peralatan pada kondisi ideal dengan menghapuskan six big losses peralatan. Pengukuran OEE ini didasarkan pada tiga rasio utama, yaitu :

1. Availability Rate

Availability ratio merupakan rasio yang menggambarkan pemanfaatan waktu tersedia untuk kegiatan operasi mesin atau peralatan.

𝐴𝑣𝑎𝑖𝑙𝑎𝑏𝑖𝑙𝑖𝑡𝑦 𝑅𝑎𝑡𝑒 = 𝑂𝑝𝑒𝑟𝑎𝑡𝑖𝑛𝑔 𝑡𝑖𝑚𝑒

𝐿𝑜𝑎𝑑𝑖𝑛𝑔 𝑡𝑖𝑚𝑒 𝑥 100%

Loading Time, merupakan waktu yang ada atau tersedia (available time) perhari atau perbulan dikurangi dengan waktu downtime dari mesin yang sudah direncanakan (planned downtime).

𝐿𝑜𝑎𝑑𝑖𝑛𝑔 𝑇𝑖𝑚𝑒 = 𝐴𝑣𝑎𝑖𝑙𝑎𝑣𝑙𝑒 𝑡𝑖𝑚𝑒 − 𝑃𝑙𝑎𝑛𝑛𝑒𝑑 𝐷𝑜𝑤𝑛𝑡𝑖𝑚𝑒

(16)

8

Operating Time, merupakan hasil pengurangan loading time dengan waktu downtime mesin (non-operating time).

𝑂𝑝𝑒𝑟𝑎𝑡𝑖𝑛𝑔 𝑡𝑖𝑚𝑒 = 𝐿𝑜𝑎𝑑𝑖𝑛𝑔 𝑡𝑖𝑚𝑒 − 𝐷𝑜𝑤𝑛 𝑇𝑖𝑚𝑒

Dengan kata lain, operation time adalah waktu operasi yang tersedia setelah waktu-waktu downtime mesin dikeluarkan dari total available time yang direncanakan

2. Performance Ratio

Performance ratio merupakan suatu ratio yang menggambarkan kemampuan dari peralatan/mesin dalam menghasilkan barang..

Tiga faktor penting yang dibutuhkan untuk pngukuran performance efficiency adalah:

a. Ideal cycle time (waktu siklus ideal)

b. Processed amount (jumlah produk yang diproses c. Operation time (waktu operasi mesin)

Formula pengukuran rasio ini adalah : 𝑃𝑒𝑟𝑓𝑜𝑟𝑚𝑎𝑛𝑐𝑒 𝐸𝑓𝑓𝑒𝑐𝑖𝑒𝑛𝑐𝑦

= 𝑃𝑟𝑜𝑐𝑒𝑠𝑠𝑒𝑑 𝐴𝑚𝑜𝑢𝑛𝑡 𝑥 𝑇ℎ𝑒𝑜𝑟𝑖𝑡𝑖𝑐𝑎𝑙 𝐶𝑦𝑐𝑙𝑒 𝑡𝑖𝑚𝑒 𝑂𝑝𝑒𝑟𝑎𝑡𝑖𝑜𝑛 𝑡𝑖𝑚𝑒

3. Quality Rate

merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan peralatan dalam menghasilkan produk yang sesuai dengan standar. Formula yang digunakan untuk menghitung rasio kualitas adalah :

𝑅𝑎𝑡𝑒 𝑜𝑓 𝑄𝑢𝑎𝑙𝑖𝑡𝑦 𝑃𝑟𝑜𝑑𝑢𝑐𝑡

= 𝑃𝑟𝑜𝑐𝑒𝑠𝑠𝑒𝑑 𝐴𝑚𝑜𝑢𝑛𝑡 − 𝐷𝑒𝑓𝑒𝑐𝑡 𝐴𝑚𝑜𝑢𝑛𝑡

𝑃𝑟𝑜𝑐𝑒𝑠𝑠𝑒𝑑 𝐴𝑚𝑜𝑢𝑛𝑡 𝑥 100%

2.3 Diagram Sebab akibat (Fishbone Cause and Effect Diagram)

Diagram sebab akibat adalah alat yang digunakan untuk mewakili hubungan antara akibat dan penyebabnya dengan menggunakan garis dan simbol yang di kembangkan oleh Dr. Kaoru Ishikawa pada tahun 1943 yang lebih dikenal dengan Fishbone Diagram. Diagram ini memungkinan analisis yang lebih terperinci untuk menemukan masalah berdasarkan penyebab, ketidaksesuaia dan kesenjangan dari masalah yang ada. Fishbone diagram dapat digunakan dengan braintsroming untuk

(17)

9

mengidenttifikasi mengapa suatu masalah terjadi, diperlukan analisa lebih terperinci dari suatu masalah dan terdapat kesulitan untuk memisahkan penyebab dan akibat.

Fishbone Diagram memiliki faktor-faktor penyebab utama yang digunakan dalam analisa diagram ini, yaitu :

1. Manusia (Man)

2. Metode kerja (Methode) 3. Mesin (Machine) 4. Bahan Baku (Material) 5. Lingkungan (Environtment) Pembagian faktor ini bertujuan untuk :

1. Menyimpulkan sebab sebab variasi pada proses

2. Mengidentifikasi kategori dan sub-kategori sebab sebab yang mempengaruhi karakteristik kualitas

Gambar 2. 3 Cause and Effect, Fishbone Diagram

(18)

10 2.4 Total Quality Management

Total Quality Management atau TQM adalah proses yang berorientasi pada konsumen dan bertujuan untuk meningkatkan operasi bisnis secara berkelanjutan.

Konsep tersebut memastikan semua departemen atau karyawan saling bekerjasama dalam peningkatan kualitas produk atau layanan. Termasuk di dalamnya juga proses produksi dan memberikan layanan terbaik. Nah, untuk penerapannya akan berdasar pada fakta saat mengambil keputusan, dengan menggunakan performa metrik untuk memantau progresnya.

Dilansir dari investopedia.com, TQM adalah proses yang dilakukan secara berkelanjutan untuk mendeteksi dan mengurangi atau menghilangkan kesalahan dalam produksi, menyederhanakan manajemen supply chain, meningkatkan pengalaman konsumen, dan memastikan bahwa semua karyawan mengikuti training dengan cepat.

TQM adalah konsep yang dapat diimplementasikan pada berbagai macam perusahaan. Terdapar 8 elemen utama yang perlu kamu ketahui dalam penerapan TQM yaitu sebagai berikut :

1. Fokus pada pelanggan (Customer focussed)

Prinsip yang tidak boleh kamu lewatkan dari TQM adalah konsumen sepenuhnya akan menentukan kualitas dari suatu produk. Walaupun suatu perusahaan melakukan berbagai macam cara untuk meningkatkan kualitas, seperti training karyawan, menambah kualitas dalam proses perancangan, memperbarui teknologi, atau menggunakan peralatan canggih. Pada akhirnya tetap konsumen yang akan menentukan apakah usaha-usaha tersebut sudah tepat.

Sehingga perusahaan harus memiliki standar yang fokus pada konsumen.

2. Keterlibatan karyawan secara keseluruhan (Total employee involvement) Hal selanjutnya dari TQM adalah semua karyawan harus berpartisipasi dalam mencapai tujuan perusahaan yang sudah direncanakan. Komitmen karyawan dapat diperoleh secara keseluruhan jika perusahaan telah menciptakan lingkungan kerja yang baik dan nyaman. Komitmen karyawan sangat penting karena dapat mendukung perusahaan dalam meningkatkan kualitas produk baik barang maupun jasa, sehingga kepuasaan pelanggan akan tercapai

(19)

11

3. Pemusatan perhatian pada proses (Process-centered)

Bagian fundamental dalam TQM adalah fokus atau memusatkan perhatian dalam proses, seperti dikutip dari asq.org. Proses merupakan serangkaian proses yang mengambil input dari supplier (internal atau eksternal) dan mengubahnya menjadi output yang dikirimkan kepada konsumen (internal atau eksternal).

Langkah-langkah yang dibutuhkan untuk menjalankan suatu proses sudah ditentukan dan ukuran performa akan terus dipantau untuk mendeteksi hal yang tidak terduga.

4. Sistem yang terintegrasi (Integrated system)

Sebuah perusahaan memiliki berbagai macam departemen atau tim dengan fungsi yang berbeda-beda dan sering diorganisasikan dalam struktur vertikal.

Akan tetapi fokus dari TQM adalah proses horizontal yang akan menghubungkan berbagai macam fungsi-fungsi yang ada dalam perusahaan itu sendiri. Setiap posisi yang ada harus memahami visi, misi, dan prinsip dari perusahaan. Selain itu, mengetahui kebijakan mutu, tujuan, dan proses penting juga harus dimengerti. Performa bisnis harus dipantau dan dikomunikasikan secara berkala. Dengan begitu, sistem yang terintegrasi menghubungkan elemen peningkatan bisnis dalam upaya untuk melebihi ekspektasi konsumen, karyawan dan stakeholder lainnya.

5. Pendekatan strategis dan sistematik (Strategy and systematic approach)

Salah satu elemen kritikal dari TQM adalah pendekatan strategis dan sistematik untuk mencapai visi, misi, dan tujuan perusahaan. Proses tersebut disebut perencanaan atau manajemen strategis. Di dalamnya akan mencakup perumusan rencana strategis yang mengintegrasikan kualitas sebagai komponen inti pada perusahaan.

6. Peningkatan yang berkesinambungan (Continual improvement)

Aspek besar dalam TQM adalah terus melakukan peningkatan proses yang berkesinambungan. Peningkatan yang dilakukan secara berkelanjutan akan mendorong perusahaan menjadi analitis dan kreatif. Sehingga dapat menemukan cara untuk menjadi lebih efektif dan kompetitif dalam memenuhi ekspektasi dari berbagai macam stakeholder.

(20)

12

7. Keputusan berdasarkan fakta (Fact-based decision making)

Untuk dapat mengetahui seberapa baik performa dari suatu perusahaan, diperlukan data mengenai hasil pengukuran kinerja.TQM mengharuskan perusahaan untuk terus mengumpulkan dan menganalisis data, sehingga dapat meningkatkan akurasi pada saat prose pengambilan keputusan , mencapai konsensus, dan membuat prediksi berdasarkan kejadian sebelumnya.

8. Komunikasi (Communications)

Salah satu elemen utama TQM adalah melakukan komunikasi yang baik dan efektif. Selama masa perubahan dalam perusahaan, juga operasi sehari-hari, komunikasi efektif memainkan peran besar dalam menjaga moral dan memotivasi seluruh karyawan. Komunikasi melibatkan strategi, metode, dan ketepatan waktu.

2.5 Manajemen Perawatan

Sistem perawatan merupakan suatu metode yang digunakan dalam kegiatan untuk mengadakan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, serta pengawasan dari mesin produksi dan mesin pendukung. Pengertian maintenance adalah suatu kegiatan untuk memelihara atau menjaga fasilitas, mesin dan peralatan pabrik dan mengadakan perbaikan atau penyesuaian atau penggantian yang diperlukan agar terdapat suatu keadaan operasi produksi yang memuaskan sesuai dengan apa yang diharapkan.

Secara alamiah tidak ada barang yang dibuat oleh manusia yang tidak bisa rusak. Usia kegunaannya dapat diperpanjang dengan melakukan perbaikan berkala dengan suatu aktivitas yang dikenal dengan istilah perawatan.

Menurut Corder (1992), perawatan adalah suatu kombinasi dari berbagai tindakan yang dilakukan untuk menjaga suatu barang dalam atau memperbaikinya sampai suatu kondisi yang bisa diterima.

Menurut Assauri (1999), perawatan adalah kegiatan untuk memelihara atau menjaga fasilitas peralatan pabrik dan mengadakan perbaikan atau penggantian yang memuaskan sesuai dengan apa yang direncanakan.

Berdasarkan pada teori diatas dapat diambil kesimpulan bahwa perawatan adalah kegiatan untuk memelihara atau menjaga fasilitas, mesin dan peralatan

(21)

13

pabrik, mengadakan perbaikan, penyesuaian atau penggantian yang diperlukan agar terdapat suatu keadaan operasi produksi yang memuaskan sesuai dengan apa yang diharapkan. Manajemen perawatan adalah pengorganisasian operasi perawatan untuk memberikan pandangan umum mengenai perawatan fasilitas industri.

Pengorganisasian ini mencakup penerapan dari metode manajemen dan metode yang menunjang keberhasilan manajemen ini adalah dengan mengembangkan dan menggunakan suatu penguraian sederhana yang dapat diperluas melalui gagasan dan tindakan.

Menurut Assauri (1999), beberapa tujuan dari manajemen perawatan adalah untuk menunjang aktivitas dalam bidang perawatan ( Maintenance ) adalah sebagai berikut :

a. Kemampuan berproduksi dapat memenuhi kebutuhan sesuai dengan rencana produksi.

b. Menjaga kualitas pada tingkat yang tepat untuk memenuhi apa yang dibutuhkan oleh produk itu sendiri dan kegiatan produksi yang tidak terganggu.

c. Untuk membantu mengurangi pemakaian dan penyimpangan yang diluar batas dan menjaga modal yang diinvestasikan dalam perusahaan mengenai investasi tersebut.

d. Untuk mencapai tingkat biaya maintenance serendah mungkin, dengan melaksanakan kegiatan maintenance secara efektif dan efisien keseluruhannya.

e. Menghindari kegiatan pemeliharaan yang dapat membahayakan keselamatan.

f. Mengadakan suatu kerjasama yang erat dengan fungsi–fungsi utama lainnya dari suatu perusahaan, dalam rangka untuk mencapai tujuan utama perusahaan yaitu tingkat keuntungan dan return of investment yang sebaik mungkin dan total biaya yang terendah.

Adapun tujuan perawatan atau pemeliharaan menurut Corder (1992), adalah sebagai berikut :

a. Memperpanjang usia aset ( yaitu setiap bagian dari suatu tempat kerja, bangunan dan isinya ). Hal ini terutama penting di negara berkembang karena kurangnya sumber daya modal untuk pergantian.

(22)

14

b. Untuk menjamin ketersediaan optimum peralatan yang dipasang untuk produksi atau jasa dan mendapatkan laba investasi ( Return Of Invesment ) maksimum yang mungkin.

c. Untuk menjamin kesiapan operasional dari seluruh peralatan yang diperlukan dalam keadaan darurat setiap waktu, misalnya unit suku cadang, unit pemadam kebakaran dan penyelamat, dan sebagainya.

d. Membantu dalam menciptakan kondisi kerja yang aman, baik untuk bagian operasi maupun personil pemeliharaan lainnya dengan menetapkan dan menjaga standar pemeliharaan yang benar.

Menurut Assauri (1999), kegiatan perawatan atau maintenance yang dilakukan dalam suatu perusahaan pabrik dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:

1. Preventive Maintenance(Time Base Maintenance)

Merupakan kegiatan pemeliharaan dan perawatan yang dilakukan untuk mencegah timbulnya kerusakan yang tidak terduga dan menemukan kondisi yang dapat menyebabkan fasilitas produksi mengalami kerusakan pada waktu proses produksi.

a. Routine maintenance adalah kegiatan pemeliharaan dan perawatan yang dilakukan secara rutin, misalnya setiap hari.

b. Periodic maintenance adalah kegiatan pemeliharaan dan perawatan yang dilakukan secara periodik atau dalam jangka waktu tertentu, misalnya setiap satu minggu sekali, meningkat menjadi satu bulan sekali.

2. Corrective Maintenance

Adalah kegiatan pemeliharaan dan perawatan yang dilakukan setelah terjadinya suatu kerusakan atau kelainan pada fasilitas atau peralatan, sehingga tidak dapat berfungsi dengan baik.

3. Improvement Maintenance

Suatu sistem perawatan yang dilakukan untuk merubah sistem suatu alat menjadi maksimal penggunaannya. Tujuan dari improvement maintenance adalah

a. Memudahkan operasi dari suatu mesin b. Memudahkan pemeliharaan.

(23)

15 c. Menaikan hasil kapasitas produksi.

d. Memperkecil biaya pemeliharaan akibat ketidak efisienan dari penggunaan suatu mesin.

e. Meningkatan keselamatan kerja 2.6 Pengambilan Keputusan Manajerial

Pengambilan Keputusan, merupakan suatu tindakan yang menentukan hasil dalam memecahkan masalah dengan memilih suatu jalur tindakan di antara beberapa alternatif yang ada melalui suatu proses mental dan berfikir logis dan juga mempertimbangkan semua pilihan alternatif yang ada yang mempunyai pengaruh negatif atau pun positif. Pengambilan keputusan mempunyai peranan penting dalam manajemen karena keputusan yang diambil oleh manajer merupakan keputusan akhir yang harus dilaksanakan dalam organisasi-nya atau bisnis yang dijalankannya.

Keputusan manajer sangat penting karena menyangkut semua aspek. Kesalahan dalam mengambil keputusan bisa merugikan organisasi, mulai dari merusak nama baik organisasi atau perusahaan sampai pada kerugian uang. Maka oleh sebab itu manajer harus berhati – hati dalam mengambil keputusan. Hal ini sejalan dengan teori real life choice,yang menyatakan dalam kehidupan sehari-hari manusia melakukan atau membuat pilihan – pilihan di antara sejumlah alternatif. Pilihan- pilihan tersebut biasanya berkaitan dengan alternatif dalam penyelesaian masalah yakni upaya untuk menutup terjadinya kesenjangan antara keadaan saat ini dan keadaan yang diinginkan. Begitu pula dengan perusahaan. Perusahaan juga butuh mengambil keputusan-keputusan yang nantinya akan mempengaruhi perusahaan itu ke depannya. Dalam pengambilan keputusan, keputusan-keputusan tersebut harus dipikirkan secara matang terlebih dahulu agar tidak merugikan perusahaan tersebut dan pihak-pihak yang terkait. Pengambilan keputusan secara universal didefinisikan sebagai pemilihan diantara berbagai alternative yang ada.

Proses konstruksi pengetahuan secara umum sama dengan proses kronologi pembentukan kreativitas. Perbedaan yang utama antara pengetahuan dan kreativitas adalah bahwa pengetahuan lebih berupa sesuatu yang abstrak dan teoretis saja, sedangkan kreativitas mencakup sesuatu yang lebih konkret dan berwujud nyata.

Salah satunya adalah bahwa seorang ilmuwan dapat saja memiliki pengetahuan yang dalam mengenai suatu alat komunikasi, tetapi hanya ilmuwan yang

(24)

16

berkreativitas tinggi saja yang mampu menciptakan suatu hal yang berguna bagi orang lain seperti smartphone dll. Ambil contoh saja kisah dari seorang Steve Job dan Bill Gates, merekalah orang berpengetahuan dan berkreativitas tinggi yang bergerak dalam bidang industri teknologi. Proses terbentuknya pengetahuan dan kreativitas itu terbagi menjadi tiga tahapan krusial, yaitu:

1) Penginderaan fisik adalah proses utama dan pertama sekaligus berfungsi untuk menangkap informasi dan sinyal rangsangan (stimulus) dari objek luar.

Stimulus memiliki sifat yang berbeda-beda tergantung dari wujud benda yang dimiliki dan dipengaruhi oleh cahaya, warna, suhu, bau, suara, bentuk, sensitivitas, konektivitas, karakter dan daya tahan dari suatu objek.Stimulus yang berbeda-beda akan direspon secara beragam oleh alat indera karena sebagian besar proses seperti ini terlaksana secara otomatis (alam sadar).

Semakin berkualitas suatu stimulus, dalam artian banyak melibatkan respon indera ( penglihatan, penciuman, pendengaran, perasa) maka suatu pengetahuan akan semakin melekat lama pada otak seseorang.

2) Pengolahan atau disebut proses penampungan data adalah proses stimulus yang diterima indra dibenamkan dalam otak dalam bentuk data dan informasi.

Semakin banyak data dan informasi yang terkumpul, skema yang terbentuk akan menjadi semakin lengkap dan akan berpengaruh terhadap hasil pengetahuan dan kreativitas yang akan terbentuk. Salah satu perspektif yang memengaruhi proses pengolahan data adalah imajinasi. Pengetahuan imajinatif dalam proses ini terwujud melalui dua hal yaitu pertama berupa kemampuan fantasi, yaitu kemampuan mereproduksi dan mengkreasi gambaran-gambaran tanpa bantuan suatu objek yang riil atau nyata, dan kedua sebagai kemampuan imajinasi, yaitu proses konstruksi suatu konfigurasi intelektual ilmu pengetahuan dan juga filsafat

3) Penyimpulan merupakan proses terakhir dari tiga tahapan penting ini, yang memiliki pengertian keputusan yang diambil melalui metode berpikir induktif atau deduktif. Dalam hal ini, pertimbangan antara baik atau buruk, dan salah atau benar terhadap suatu objek itu sudah pada tahapan konfirmasi. Artinya, tahapan penggabungan pengetahuan dan kreativitas imajinasi sudah

(25)

17

mencapai bentuk yang paling konkret dan yang terpenting sudah melalui proses asosiasi pengetahuan dan kreativitas.

Dengan menciptakan sesuatu yang baru dan berbeda dengan yang lain, disitulah kreativitas tercipta. Tidak hanya sebagai pembeda, kreativitas tersebut muncul juga sebagai tanda kinerja dari otak kita, yaitu otak kanan. Secara tidak langsung, kreativitas terbentuk dari pengalaman-pengalaman yang telah terjadi sebelumnya dan tersimpan di otak (skemata) dan itulah yang kita sebut sebagai pengetahuan. Kedua hal tersebut merupakan sesuatu yang sangat esensial terutama dalam menentukan sukses tidaknya seorang siswa dalam pembelajaran. Oleh karena itu, baik pengetahuan maupun kreativitas harus senantiasa dibentuk dan diasah setiap kali seseorang mengahadapi masalah dalam memutuskan sesuatu.

2.7 Manajemen Kinerja

Manajemen kinerja atau dalam bahasa Inggrisnya Performance Management merupakan kegiatan untuk memastihkan suatu sasaran organisasi sudah tercapai secara konsisten dalam cara-cara yang efektif dan efisien. Manajemen kinerja dapat fokus pada kinerja dari suatu organisasi, departemen, karyawan, atau bahkan proses untuk membuat produk atau layanan dan juga di area yang lain.

2.4.1 Definisi Manajemen Kinerja

Berikut ini adalah definisi dari manajemen kinerja yang dibahas oleh ahlinya.

1) Schwarz (1999)

Pengertian manajemen kinerja menurut Schwarz adalah gaya manajemen yang dasarnya adalah komunikasi terbuka antara manajer dan karyawan yang menyangkut pencapaian tujuam memberikan umpan bali dari manajer kepada karyawan dan sebaliknya dari karyawan kepada manajer, demikian pula dengan penilaian kinerja.

2) Amstrong (2004)

Pengertian manajemen kinerja menurut Amstrong adalah pendekatan strategis dan terpadu untuk menyampaikan sukses berkelanjutan pada organisasi dengan memperbaiki kinerja karyawan yang bekerja didalamnya dan dengan mengembangkan kemampuan tim dan kontributor individu.

(26)

18 3) Bacal (1999)

Pengertian manajemen kinerja menurut Bacal adalah komunikasi yang berkesinambungan dan dilakukan dalam kemitraan antara seorang karyawan dan atasa langsungnya. Proses ini meliputi kegiatan membangun harapan yang jelas serta pemahaman mengenai pekerjaan yang akan dilakukan.

4) Castello (1994)

Pengertian manajemen kinerja menurut Castello adlaah dasar dan kekuatan pendorong yang berada di belakang semua keputusan organisasi, usaha kerja dan alokasi sumber daya.

2.7.2 Tujuan Manajemen Kinerja

Pada umumnya, tujuan dari manajemen kerja atau manajemen kinerja adalah sebagai berikut:

1. Tujuan Strategik

Berkaitan dengan aktivitas karyawan dengan tujuan organisasi. Jalannya strategi tersebut membutuhkan definsi hasil yang hendak dicapai, perilaku, karakteristik karyawan yang dibutuhkan untuk melakukan strategi, pengembangan pengukuran dan sistem feed back kepada kinerja karyawan.

2. Tujuan Administratif

Memakai informasi manajemen kinerja khususnya evaluasi kinerja untuk keperluan keputusan administratif, pengkajian, promosi, pemberhentian karyawan dan lain-lain.

3. Tujuan Pengembangan

Bisa melakukan pengembangan kapasitas karyawan yang berhasil pada bidang kerjanya, pemberian training untuk yang mempunyai kinerja tidak baik dan menempatkan pada tempat yang cocok.

Tetapi dari pada itu, terdapat juga tujuan khusus manajemen kinerja antara lain:

1. Mendapatkan peningkatan kinerja suistainable

2. Melakukan peningkatan motivasi dan komitmen karyawan

(27)

19

3. Memungkinkan individu untuk melakukan pengembangan kemampuan, peningkatan kepuasan kerja dan juga pencapaian potensi pribadi yang berguna untuk individu dan organisasi

4. Daya dongkrak untuk perubahan yang lebih berorientasi kinerja

5. Melakukan pengembangan hubungan yang terbuka konstruktif antara individu dan organisai dalam dialog yang berkelanjutan

6. Menyiapkan kerangka kerja untuk kesepakatan sasaran kerja

7. Berfokus pada perhatian terhadap atribut dan kompetensi yang dibutuhkan 8. Manajer dan karyawan membuat kesepakatan mengenai rencana

pengembangan

9. Menyiapkan kriteria untuk melaksanakan pengukuran kinerja 10. Landasan untuk memberikan imbalan

11. Memberdayakan karyawan

12. Mempertahankan karyawan yang memiliki kualitas

13. Melakukan dukungan inisiatif manajemen yang berkualitas secara menyeluruh

14. Melakukan demonstrasi bagaimana individu menghargai karyawan

(28)

20 BAB III METODOLOGI 3.1 Gambaran Umum perusahaan

3.1.1 Bidang Pekerjaan PT. Tokai Rubber Indonesia

PT. Tokai Rubber Indonesia adalah perusahaan manufaktur anti vibration rubber untuk kendaraan roda empat yang beralamatkan di Kawasan Industri Mintra (KIM) karawang Jl. Mitra Timur II Blok E No. 13-14, Parungmulya, Ciampel, Karawang, Jawa barat 41363, Indonesia. PT. Tokai Rubber Indonesia memproduksi berbagai jenis anti vibration (A/V) untuk berbagai merk kendaraan roda empat. Seperti torque rod dan engine mountin yang berfungsi menahan getaran dan meningkatkan handling saat berkendara.

PT. Tokai Rubber Indonesia merupakan anak perusahaan dari Sumitomo Riko.co.Ltd yang bermarkas di Kota Komaki, Prefektur Aichi, Jepang. Sumitomo Riko Group secara aktif berekspansi dalam skala global. Sumitomo Riko Group sedang mengembangkan produk dan memelihara sistem pasokan di lima poros berbeda di seluruh dunia untuk memantapkan diri sebagai pemasok sistem global.

Saat ini Sumitomo Riko Group melakukan bisnis di lebih dari 20 negara di seluruh dunia. Salah satunya di indonesia yaitu PT. Tokai Rubber Indonesia (TRID) yang berdiri sejak tahun 2012 yang yang memproduksi dan mendistribusikan automotive anti-vibration rubber di indonesia.

PT. Tokai Rubber Indonesia telah memiliki standar IATF 16949 QMS untuk managemen system dan Environment mengenai sistem standar manajemen mutu yang di rancang membantu organisasi dalam memastikan bahwa organisasi dapat memenuhi kebutuhan pelanggan dan stakeholdernya serta dapat memenuhi persyaratan perundangan, hukum dan peraturan terkait dengan produk yang dihasilkannya dan standar manajemen terhadap dampak lingkungan yang dihasilkan dari kegiatan produksi.

(29)

21 Berikut adalah nama dan logo perusahaan :

Nama Perusahaan : PT. TOKAI RUBBER INDONESIA Logo Perusahaan :

Gambar 3. 1 Logo PT. Tokai Rubber Indonesia

3.1.2 Visi Misi PT. Tokai Rubber Indonesia A. Visi PT. Tokai Rubber Indonesia

Sebagai salah satu bagian dari Sumitomo Riko Group yang berpusat di Asia, kami berekspansi ke skala global melalui produksi dan pemasaran produk untuk meningkatkan nilai perusahaan dan memberikan kontribusi kepada masyarakat di Indonesia dan Asia

B. Misi PT. Tokai Rubber Indonesia

1. Menghasilkan produk yang dipercaya oleh pelanggan.

2. Menghasilkan keuntungan yang wajar untuk mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan karyawan yang berujung pada kepuasan yang lebih dari pelanggan.

3.1.3 Struktur Organisasi PT. Tokai Rubber Indonesia

Pada PT. Tokai Rubber Indonesia Struktur organisasinya dipimpin oleh seorang Direktur lalu dibawahnya ada 2 General Manager yang membawahi 2 bidang divisi diantaranya Departemen Administration dan departement Manufacturing yang bertanggung jawab atas masing-masing semua Departemen yang ada di perusahaan. Berikut ini adalah gambaran dari Struktur Organisasi PT.

Tokai Rubber Indonesia :

(30)

22

Gambar 3. 2 Struktur Organisasi PT Tokai Rubber Indonesia (sumber : HRD PT. Tokai Rubber Indonesia)

(31)

23 3.2 Lokasi dan Waktu

Berdasarkan kalender akademik Universitas Buana Perjuangan Karawang semester ganjil tahun ajaran 2022/2023, kerja praktik ini telah dilaksanakan pada tanggal dibagian produksi cat PT. Tokai Rubber Indonesia. Kerja praktik ini dilaksanakan melalui sistem non shift setiap hari Senin – Jumat. Berikut merupakan jam kerja praktik kerja industri.

3.3 Prosedur Kerja

Dalam melaksanakan kerja praktik di PT. Tokai Rubber Indonesia, penulis di tempatkan pada bagian administrasi implementasi Total Productive Maintenance (TPM). Dalam melaksanakan kerja praktik penulis memiliki beberapa tugas yang harus dikerjakan yaitu sebagai berikut

1) Memahami proses Impelementasi TPM berdasarkan Master plan

2) Memahami proses input data yang diperlukan dalam implementasi TPM 3) Mempelajari cara menghitung efektifitas implementasi dengan menggunakan

Metode Overall Equipment Effectiveness (OEE)

Jadwal kegiatan penugasan selama kerja praktik ini tercantum dalam tabel 3

(32)

24

M1 M2 MR M3 M4 FR GR V BOD

a. Buat Struktur

b. Buat Tugas dan tanggung jawab komite TPM c. Rekrutmen + Komitmen

d. Approved e. Sosialisasi

a. Kebijakan Management (Company)

a. Buat KPI untuk Komite TPM b. Meeting komite TPM (internal)

c. Meeting komite TPM, produksi, management, maintenance

a. Awareness (Kampanye tagline, slogan, logo) b. Understanding (sosialiasasi)

c. Buy in (Rasa memiliki dibagiannya saja utk diri sendiri)

d. Ownership (Rasa memiliki & menjaga areanya aman,utk dirinya&org lain)

a. Undangan Stakeholder

b. Komitmen TPM (managemen, produksi, maintenance, komite TPM) a. Collect data produksi, maintenance, quality

a. Sosialisasi komite TPM ke seluruh member produksi

(STEP-1) In Line model (STEP-2) All shop*

a. Buat Template Report

a.Make proposal b.Make board 5s management

1. Design board 2. Struktur & Template board 1. Policy Management

2. komite 4S (Struktur organisasi utk 1 plant (Dokumen ditandatangi Minimal Plant Head) 3. Rencana pelatihan 4S periode satu tahun (ditunjukkan dokumen)

4. Rencana pelatihan sesuai dengan target (Waktu/Peserta/Kelulusan) 5. Buat acara khusus untuk penilaian 4S (bulan 4S ada dlm AP coy) 6. setiap area memiliki peta 4S

7. Tentukan dengan jelas PIC , area kerja 4S dan tugasnya 3. Content board

4. Sosialisasi penggunaan board c.Make board activity AM & PM

1 Design board 2 Struktur & Template board 3 Content board 4 Sosialisasi penggunaan board d.Make board presentation

1 Design board 2 Struktur & Template board 3 Content board a. Buat template problem a. Buat clasification dengan method CTL a. Buat clasification dengan method CTL

a. Buat cleaning standard b. Buat oiling standard

Buat template checksheet inspection (mcs,inspection sheet & sop) a. Lubrication

b. Machine element (bolt, nut & others) c. Electrical & control

d. Driving part

Buat template inspection implementation (STEP 4-1) Lubrication

(STEP 4-2) Machine element (bolt, nut & others) (STEP 4-3) Electrical & control

(STEP 4-4) Driving part Buat standard baru

a. Buat checksheet audit b. Implementation

a. Membuat template check sheet control

a. cleaning machine (Detail)

a. Membuat materi auntomous maintenance

b. training autonomous maintenance (member, leader, kabag produksi)

a. Cleaning standard b. Lubrication standard c. Autonomous maintenance standard

a. Mapping skill (AM & PM) b. Diskusi dengan maintenance (AM & PM) c. approved

a. Membuat SOP

b. Membuat prosedur abnormality Contoh Format ADM

CHECK SHEET MENTORING COMPANY : PT Tokai Rubber Indonesia Year : 2022

NO ACTIVITY RESUME

1

Basic policy, Organizati

on &

Preparatio n

2 Develop Autonomous Maintenance

1. Prepare board activity TPM [AM,PM & presentation ] in model line

3

Equipment Efectiveness Improvement Activities

1. Select models as object (one machine in each line model)*

11.Continuos implementation & Improvement 2. Define problem & counter mesure model line

5.(STEP-3) Prepared cleaning standard & oiling standard

6.(STEP-4) Overall insp. training for operator & temporary inspection standard:

7.(STEP-4) Overall inspection implementation

8.(STEP-5) New standardization of inspection item

2. Support to Developed basic equipment's condition

3. Develop TPM skill (AM & PM) 2. Implement improvement

3. Apply the some improvement at others machine

4. Skill-Up maintenance training program / Transfer to production (machine oriented) 5. Prepare repair guide (model line)

5

Prepare Maintenance

Control &

System

1. PM Schedule & Implementation (all line) 4 Maintenance Develop

Skill

1. Prepare Training material for autonomous maintenance

2. Develop sparepart database (all line) 3. Improve chemical control

4. Record of maintenance activities (history record) 5. Complete special spare part for certain machine

6

Early Equipment

Management 1. Develop checklist control system for new equipment 2. Formulate common & specific standar for new equipment 3. Apply checklist control & formula to new equipment

TANGGAL 1. Organization development

2. Annual policy set-up

3. Make Committee TPM,work system & target

4.Develop people mindset

5. Kick Off

9.Audit of overall inspection activities (by team TPM).

10.(STEP-6) Quality trial (go production,cutting convirmation etc.)*

6. Efficiency data collecting & Target setup 7. TPM shop floor & sharing

8. Develop small group

9. Report TPM activities & Review result (Use standard chart to report)

3.(STEP-1) Initial cleaning, problem identification 4.(STEP-2) Counter of the found problem

(33)

25 3.4 Data dan Informasi

Berdasarkan latar belakang masalah dimana implementatsi TPM yang sedang dilakukan membutuhkan evaluasi untuk menentukan efektifitas dari kegiatan implementasi TPM berdasarkan master plan yang telah di buat sebelumnya.

a) Data Primer

Data yang diperoleh langsung dari sumber-sumber yang diamati dan dicatat pertama kali atau diperoleh langsung dari data perusahaan yang bersangkutan.

Lebih tepatnya data yang diperoleh berasal dari penelitian langsung ke lapangan.

Disini penulis menggunakan data breakdown machine yang terjadi pada lini model implementasi TPM

b) Data Sekunder

Yaitu data yang diperoleh dari luar lokasi penelitian dan ada hubungannya dengan materi penelitian yang meliputi studi pustaka dan disiplin keilmuan yang mendukung serta mempunyai hubungan dengan kasus yang diamati

3.5 Kerangka Pemikiran

Penelitian ini mencoba mengukur nilai OEE pada peralatan/mesin sebelum diterapkan nya TPM agar nantinya dapat ditarik beberapa kesimpulan yang menjadi indikator dalam penerapan TPM di lini Mixing. Berdasarkan identifikasi masalah pada latar belakang, maka didapatkan variabel-variabel penelitian sebagai berikut:

1) Variabel Independen sering juga disebut variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau sering disebut sebagai variabel yang menjadi sebab terjadinya perubahan atau timbulnya variabel dependen.

2) Variabel Dependen atau yang variabel terikat merupakan variabel yang menjadi akibat atau dipengaruhi oleh variabel independen

(34)

26

Gambar 3. 3 Kerangka Pemikiran

(35)

27 BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

(36)

28 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

(37)

29

DAFTAR PUSTAKA

(38)

30 LAMPIRAN

(39)

31

RIWAYAT PENULIS

Gambar

Gambar 2.  1 Six Big Losses of OEE
Gambar 2.  2 8 pilar TPM
Gambar 2.  3 Cause and Effect, Fishbone Diagram
Gambar 3. 1 Logo PT. Tokai Rubber Indonesia
+3

Referensi

Dokumen terkait

Kualitas dan kuantitas produksi yang tinggi dapat dicapai oleh perusahaaan melalui suatu sistem dan prosedur yang baik, dengan melakukan perawatan mesin, sehingga dapat mendukung

metode perawatan yang dipakai penulis adalah Total Productive Maintenance.. Total Productive Maintenance (TPM) merupakan

Evaluasi penerapan Total Productive Maintenance (TPM) dilakukan dengan menggunakan nilai Overall Equipment Effectiveness (OEE) sebagai indikator dan juga sebagai

Untuk itulah perusahaan perlu melakukan evaluasi atas mesin yang digunakan sehingga penerapan Total Productive Maintenance dapat dilaksanakan optimal demi

Untuk mengurangi cacad produksi sekaligus meningkatkan efektivitas produksi maka perlu penerapan &#34;Total Productive Maintenance&#34; karena TPM adalah sistem perawatan

Garpersz, Vincent, manajemen Productive Maintenance, Successful Equipment atAgilentTechnology, Productivity Press, inc., 1988.. Geza Gruenwald, Thermoforming: A plastic

Setiap perusahaan dapat mengetahui efektifitas mesin yang digunakan dengan menggunakan perhitungan tingkat keefektifan peralatan menggunakan metode Total Productive

USULAN PENERAPAN TOTAL PRODUCTIVE MAINTENANCE UNTUK MENINGKATKAN EFEKTIVITAS MESIN PORTABLE SPOT WELDING.. (STUDI KASUS