LAPORAN PENDAHULUAN
A. Pengertian
Gastritis merupakan suatu peradangan atau inflamasi mukosa lambung yang berkembang bila mekanisme protektif mukosa dipenuhi dengan bakteri atau bahan iritan lain dan dapat dibuktikan dengan adanya infiltrasi sel-sel radang pada daerah tersebut dan bersifat akut, kronik, difusi atau lokal (Black, Joyce M.; Hawks, 2014). Gastritis juga dapat didefinisikan sebagai suatu peradangan mukosa lambung yang bersifat akut, kronik, difus atau lokal, dengan karakteristik anoreksia, perasaan penuh di perut, tidak nyaman pada epigastrum, mual dan muntah (Wijaya & Putri, 2013).
Menurut pendapat ahli di atas yang dimaksud Gastritis adalah inflamasi pada mukosa lambung yang disebabkan karena meningkatnya kadar asam lambung yang bersifat akut, kronik pada mukosa yang telah dipenuhi bakteri.
B. Klasifikasi
Klasifikasi menurut Bruner & Sudart (2018):
a. Gastritis akut
Gastritis akut berlangsung selama beberapa jam sampai beberapa hari dan sering kali disebabkan oleh diet yang tidak terlaksana (memakan makanan yang mengiritasi dan sangat berbumbu atau makanan yang terinfeksi). Penyebab lain mencakup penggunaan aspirin secara berlebihan dan penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) lain, asupan alcohol yang berlebihan, refluks emepedu, dan terapi radiasi.
Bentuk gastritis akut yang lebih berat disebabkan oleh asam atau alkali yang kuat, yang dapat menyebabkan gangren atau perforasi pada mukosa lambung.
Gastritis dapat juga menjadi tanda pertama infeksi sistematik akut. Ada dua jenis gastritis akut yaitu gastritis erosive dan gastritis hemoragik.
1) Gastritis akut erosi
Peradangan pada mukosa lambung yang akut dengan kerusakan erosi, disebut erosi apabila kerusakan terjadi tidak lebih dalam dari lapisan muskularis.
Akibat efek samping pemakaian obat-obatan.
2) Gastritis akut hemoragik
Disebut hemoragik karena pada penyakit ini akan dijumpai perdarahan mukosa lambung, ada dua penyebab utama yaitu yang pertama minum alkohol/obat-obatan NSAID yang menimbulkan peradangan pada mukosa lambung secara berlebihan. Meskipun perdarahan cukup berat tapi kebanyakan p erdarahan spontan berhenti. Kedua adalah stress pasien yang mengalami trauma berkepanjangan (penyakit berat lainnya) erosi stress merupakan lesi hemoragik y ang menimbulkan fisiologi yang parah.
b. Gastritis Kronik
Gastritis kronik adalah inflamasi lambung yang berkepanjangan yang mungkin disebabkan oleh ulkus lambung jinak atau ganas atau disebabkan oleh bakteria seperti Helicobakter Pylory. Gastritis korinik dapat disebabkan oleh penyakit autoimun seperti anemia pernisiosa, factor diet seperti kafein, penggunaan obat seperti NSAID atau bifosfonat misalnya alendronate (Fosamax), risetdronat (Actonel), ibandronat (Bonival), alcohol, merokok, atau reflex sekresi pankreas dan empedu kedalam lambung dalam waktu lama. Ulserasi superfisial dapat terjadi dan dapat memicu pendarahan/hemoragi. Gastritis kronis diklasifikasikan menjadi tiga perbedaan, yaitu :
1) Gastritis superfiscial, dengan menifestasi kemerahan, edema, serta perdarahan dan erosi mukosa
2) Gastritis atrifik, dimana peradangan terjadi diseluruh lapisan mukosa pada perkembangannya dihubungkan dengan ulkus dan kanker lambung, serta anemia pernisiosa. Hal ini merupakan karakteristik dari penurunan jumlah sel parietal dan sel chief.
3) Gastritis hipertropik, suatu kondisi dengan terbentuknya nodul- nodul pada mukosa lambung yang bersifat ireguler, tipis dan hemoragik.
4) Gastritis superfiscial, dengan menifestasi kemerahan, edema, serta perdarahan dan erosi mukosa
5) Gastritis atrifik, dimana peradangan terjadi diseluruh lapisan mukosa pada perkembangannya dihubungkan dengan ulkus dan kanker lambung, serta anemia pernisiosa. Hal ini merupakan karakteristik dari penurunan jumlah sel parietal dan sel chief.
6) Gastritis hipertropik, suatu kondisi dengan terbentuknya nodul- nodul pada mukosa lambung yang bersifat ireguler, tipis dan hemoragik.
C. Etiologi
Menurut (Lemone, P., Burke, K. M., & Bauldoff, 2015) etiologi gastritis yaitu : a) Gastritis akut yaitu akibat Obat-obatan, seperti Obat Anti- Inflamasi
Nonsteroid/OAINS (Indomestasin, Ibuprofen, dan Asam Salisilat), Sulfonamide, Steroid, Kokain, agen kemoterapi, sering mengkonsumsi minuman beralkohol, mengalami infeksi bakteri; seperti H. Pylori, dan kondisi refluks garam empedu dari usus kecil ke mukosa lambung sehingga menimbulkan respons peradangan mukosa
b) Gastritis kronik
Penyebab pasti dari penyakit gastritis kronik belum diketahui, tetapi ada dua predisposisi penting yang bisa meningkatkan kejadian gastritis kronik, yaitu:
infeksi dan non infeksi.
1) Gastritis infeksi yaitu H. pylori. Beberapa peneliti menyebutkan bakteri ini merupakan penyebab utama dari gastritis kronik. Helycobacter heilmannii, Mycobacteriosis, dan Syphilis. Infeksi parasite, Infeksi virus,.
2) Gastritis non-infeksi yaitu Kondisi imunologi (autoimun), Gastropati akibat kimia, Gastropati uremik. Gastritis granuloma, Gastritis limfositik.
D. Manifestasi Klinis
Manifestasi klien gastritis akut dapat memiliki gejala ringan seperti anoreksia (kehilangan nafsu makan), atau nyeri epigastrium ringan yang diredakan dengan sendawa atau defekasi, mual. Nyeri dapat timbul kembali bila perut kosong. Saat nyeri penderita berkeringat, gelisah, sakit perut dan mungkin disertai peningkatan suhu tubuh, tachicardi, sianosis, persaan seperti terbakar pada epigastrium,
kejang-kejang dan lemah. Manifestasi Klien gastritis kronis hampir sama dengan gastrritis akut, hanya disertai dengan penurunan berat badan, nyeri dada, enemia nyeri, seperti ulkus peptikum dan dapat terjdi aklohidrasi, kadar gastrium serum tinggi. (Susila, Ganiajri, Puji Lestari, & Wulan Arum Sari, 2014).
E. Patofifiologi 1. Gastritis akut
Penyebab yang paling umum gastritis akut adalah infeksi dan zat iritan. Patogen termasuk helicobacter pylori, Escherichia coli, proteus, haemophilus, stresptokokus, dan stafilokokus. Infeksi bakteri lambung normal melindunginya dari asam lambung, sementara asam lambung melindungi lambung dari infeksi, sehingga terdapat luka pada mukosa. Ketika asam hidroklorida (asam lambung) mengenai mukosa lambung, maka terjadi luka pada pembuluh kecil yang di ikuti dengan edema, perdarahan, dan mungkin juga terbentuk ulkus. Kerusakan yang berhubungan dengan gastritis akut biasanya terbatas jika diobati dengan tepat akan mengalami inflamasi dan erosi pada mukosa lambung sehingga terjadi perdarahan yang dapat menimbulkan nyeri (Black, Joyce M., 2014)
2. Gastritis kronis
Perubahan patofisologis awal yang berhubungan dengan gastritis kronis adalah sama dengan gastritis akut. Mulanya lapisan lambung menebal dan eritematosa lalu kemudian menjadi tipis dan atrofi. Deteriorasi dan atrofi yang berlanjut mengakibatkan hilangnya fungsi kelenjar lambung yang berisi sel parietal. Ketika sekresi asam menurun, sumber faktor intrinsik hilang. Kehilangan ini mengakibatkan ketidakmampuan untuk menyerap vitamin B12 dan perkembangan anemia pernisiosa. A trofi lambung dengan metaplasia telah diamati pada gastritis kronis dengan infeksi H pylori. Perubahan ini mungkin mengakibatkan peningkatan risiko adenokarsinoma lambung (Black, Joyce M.; Hawks, 2014).
F. Pathways
G. Komplikasi
Komplikasi gastritis akut dan kronis yang muncul berbeda sesuai dengan jenis gastritis:
a) Gastritis Akut
Komplikasi yang dapat timbul pada gastritis akut adalah hematemesis atau melena, dan dapat berakhir syok hemoragik
b) Gastritis Kronis
Komplikasi yang dapat timbul pada gastritis kronis adalah perdarahan saluran cerna bagian atas, ulkus, anemia, dan kanker lambung.
H. Pemeriksaan Penunjang 1. Pemeriksaan Hispatologi
Untuk mengetahui apakah ada kerusakan mukosa karena erosi tidak pernah melewati mukosa muskularis.
2. Pemeriksaan Laboratorium
untuk mengetahui kadar serum vitamin B 12, kadar hemoglobin, hematokrit, trombosit, leokosit, dan albumin
3. Breath Test
Tes ini menggunakan tinja sebagai sampel dan ditujukan untuk mengetahui apakah ada infeksi Helicobacter pylori (bakteri penyebab gastritis) dalam tubuh seseorang
4. Stool Test
Uji ini digunakan untuk mengetahui adanya Helicobacter pylori dalam sampel tinja seseorang.
5. Endoskopi
Endoskopi dimaksudkan untuk melihat adanya kelainan pada lambung yang mungkin tidak dapat dilihat dengan sinar X.
6. Analisa Gaster
Bertujuan untuk mengetahui kandungan HCI pada lambung. (Lemone, P., Burke, K. M., & Bauldoff, 2015) .
I. Penatalaksanaan
Menurut (Muttaqin, 2013) terapi farmakologis dan terapi non farmakologis gastritis sebagai berikut :
1. Terapi cairan, hal ini diberikan pada fase akut untuk hidrasi pascamuntah yang berlebihan
2. Terapi obat farmakologis, antara lain seperti antasida,
omeprazole, dan antibiotik
3. Terapi Nonfarmakologis : Usahakan dapat beristirahat cukup.
Hindari stress, dan usahakan untuk menghilangkan ketegangan ataupun kecemasan,
4. Diet makan yang sesuai, jangan minum alkohol, dan hentikan kebiasaan merokok.