• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN

N/A
N/A
Indri 2203

Academic year: 2024

Membagikan "LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN"

Copied!
74
0
0

Teks penuh

(1)

DISUSUN OLEH :

DWIANA OCTIVIANTY SIHOTANG (PO71390210019)

ELLA RISKA SADILLAH (PO71390210033)

ZAKIA CAHYANI (PO71390210053)

PEPRILA SANPUTRI (PO71390210071)

INDRI NURSABILA PUTRI (PO71390210089)

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN JAMBI

JURUSAN FARMASI

TAHUN 2024

(2)

HALAMAN PENGESAHAN

PRAKTIK KERJA LAPANGAN PUSKESMAS AUR DURI KOTA JAMBI

Dibuat Untuk Memenuhi Ketentuan Sebagai Bagian dari Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Puskesmas Aur Duri Kota Jambi

Pada Tanggal 03 April – 24 April 2024 Disusun oleh :

Mahasiswa Praktik Kerja Lapangan (PKL) di Puskesmas Aur Duri Kota Jambi

Menyetujui :

Pembimbing Institusi I Pembimbing Institusi II

apt. Drs. Hisran, Me Salmah, S.Pd., M.Kes NIP.197805052006042010 NIP.196804011989032006

Pembimbing Lahan PKL

apt. Cynthia, S.Farm NIP. 199603082024212023

ii

(3)

penulis untuk menjalani praktik kerja lapangan di Puskesmas Aur Duri. Penulis sangat menghargai kepercayaan yang Bapak berikan kepada kami mahasiswa, untuk belajar dan berkontribusi di lingkungan yang berharga ini.

Praktik kerja lapangan ini diselenggarakan dalam rangkan memberikan bekal pengetahuan keterampilan dan pengalaman dalam pengelolaan Apotek kepada mahasiswa serta meningkatkan kemampuan dalam mengabdikan profesinya kepada masyarakat dilaksanakan pada tanggal 03-24 April 2024.

Dalam penyusunan laporan praktik kerja lapangan ini penulis banyak memperoleh dukungan dari beberapa pihak oleh karena itu dalam kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada :

1. Bapak Rusmimpong,S.Pd.,M.Kes selaku Direktur Politeknik Kesehatan Kemenkes Jambi.

2. Ibu apt. Agusriani, S.Si., M.Kes selaku Ketua Jurusan Farmasi Poltekes Kemenkes Jambi.

3. Bapak apt. Drs. Hisran, Me selaku Pembimbing 1 Institusi Puskesmas yang telah memberikan arahan selama PKL dilakukan di Puskesmas

4. Ibu Salmah, S.Pd., M.kes selaku Pembimbing 2 Institusi Puskesmas yang telah memberikan arahan selama PKL dilakukan di Puskesmas..

5. Bapak dr. Jumhari selaku Kepala Puskesmas Aur Duri yang telah bersedia menyediakan fasilitas untuk melaksanakan praktik kerja lapangan selama PKL di Puskesmas Aur Duri.

6. Ibu apt. Chyntia, S.Farm selaku Apoteker yang telah memberikan ilmu, informasi, dan masukan selama PKL di Puskesmas Aur Duri.

7. Ibu Yulinda Susanti, Amd. Farm yang telah bersedia mengajarkan dan membimbing kami selama melaksanakan praktik kerja lapangan.

iii

(4)

8. Ibu Worokustina haryanti, Amd. Farm sebagai Kepala Gudang Farmasi yang telah bersedia mengajarkan dan membimbing kami selama melaksanakan praktik kerja lapangan.

9. Rekan- rekan mahasiswa Poltekkes Kemenkes Jambi yang telah memberikan dukungan bagi keberhasilan penyusunan laporan Praktik Kerja Lapangan.

10. Semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian Praktik Kerja Lapangan ini baik secara langsung maupun tidak langsung.

Kami menyadari bahwa dalam penulisan laporan Praktik Kerja Lapangan ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu,dengan tulus dan rendah hati kami mengharapkan kritik dan saran pembaca guna perbaikan dan penyempurnaan berikutnya.

Jambi, 22 April 2024

Penyusun

iv

(5)

i

LEMBAR PENGESAHAN ...

ii

KATA PENGANTAR ...

iii

DAFTAR ISI ...

v

BAB I PENDAHULUAN ...

1

1.1 Latar Belakang ...

1

1.2 Kompetensi Mahasiswa ...

2

1.3 Tujuan PKL ...

2

1.4 Manfaat PKL ...

3

1.5 Pelaksanaan PKL ...

3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ...

4

2.1 Puskesmas ...

4

2.2 Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas ...

7

2.3 Standar Operasional Prosedur (SOP) ...

13

BAB III TINJAUAN UMUM PUSKESMAS ...

15

3.1 Sejarah singkat dan Company Profile Puskesmas Aur Duri...

15

v

(6)

3.2 Visi, Misi, Falsafah, Nilai dan Tujuan Instalasi ...

15

3.3 Struktur Organisasi ...

16

3.4 Wilayah Kerja Puskesmas Aur Duri ...

16

3.5 Logo Instanasi dan Makna...

18

3.6 10 Penyakit Terbesar...

19

3.7 Kegiatan Instansi ...

19

3.8 Pengelolaan Bangunan dan ruangan Puskesmas Aur Duri...

19

3.9 Rasio Kunjungan Resep...

21

BAB IV PELAYANAN KEFARMASIAN ...

22

4.1 Manajemen Sumber Daua Manusia ...

22

4.2 Perencanaan ...

22

4.3 Permintaan ...

26

4.4 Penerimaan ...

29

4.5 Penyimpanan ...

32

4.6 Pendistribusian ...

34

4.7 Pengendalian ...

35

4.8 Pencatatan dan Pelaporan ...

36

4.9 Penerimaan Resep ...

38

4.10Pengkajian Resep ...

39

vi

(7)

43

4.14 Pemberian Informasi Obat ...

44

4.15 Pengarsipan ...

45

4.16 Penyimpanan Psikotropika ...

46

BAB V PEMBAHASAN ...

47

BAB VI PENUTUP ...

48

5.1 Kesimpulan ...

48

5.2 Saran ...

48

DAFTAR PUSTAKA...

50

LAMPIRAN ...

51

vii

(8)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Politeknik Kesehatan Kemenkes Jambi adalah salah satu institusi pendidikan tinggi kesehatan negeri yang merupakan Unit Pelayanan Teknis di bawah Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. Jurusan Farmasi Poltekkes Kemenkes Jambi memiliki Visi dan Misi menjadi Program Studi D-III Farmasi yang mampu menghasilkan sumber daya manusia (SDM) yang unggul dalam bidang pelayanan kefarmasian dan pengembangan obat tradisional.

Program Praktik Kerja Lapangan (PKL) merupakan sarana bagi mahasiswa untuk memperkenalkan diri pada dunia kerja. Melalui program ini, mahasiswa dapat melihat, mengetahui, dan mempelajari teknologi kesehatan yang digunakan di masyarakat. Selain itu, program ini juga berfungsi sebagai masa orientasi bagi mahasiswa sebelum terjun langsung ke lapangan kerja. PKL adalah wadah yang tepat untuk mengaplikasikan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diperoleh dari proses belajar mengajar (PBM) sehingga mahasiswa dapat mengembangkan diri sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Pelaksanaan PKL didasarkan pada kurikulum program pendidikan Diploma III farmasi. Ada beberapa tempat PKL yang dilaksanakan sesuai dengan program Diploma III, seperti Rumah Sakit, Puskesmas, dan Apotek. Salah satu tempat PKL yang akan dibahas adalah Puskesmas.

Pelayanan kefarmasian di Puskesmas sangat penting dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Pelayanan kefarmasian di Puskesmas harus mendukung tiga fungsi pokok Puskesmas, yaitu sebagai pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan, pusat pemberdayaan masyarakat, dan pusat pelayanan kesehatan strata pertama yang meliputi pelayanan kesehatan perorangan dan pelayanan kesehatan masyarakat. Dalam menjalankan pelayanan kefarmasian di Puskesmas harus sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2016 Tentang Standar Pelayanan

1

(9)

Kefarmasian di Puskesmas guna untuk menciptakan pelayanan kefarmasian yang bermutu dan terjangkau bagi semua lapisan masyarakat.

Farmasi sebagai tenaga kesehatan mempunyai lingkup pekerjaan yang meliputi semua aspek tentang obat, dalam arti luas membuat sediaan jadi sampai dengan pelayanan kepada pasien, serta kegiatan distribusi pengadaan dibidang farmasi. Berdasarkan latar belakang tersebut kami menyusun laporan dari hasil kegiatan praktik kerja lapangan (PKL) yang telah dilaksanakan pada tanggal 03- 24 April 2024.

1.2 Kompetensi Mahasiswa

Mahasiswa yang melaksanakan PKL merupakan calon Ahli Madya Farmasi yang telah menempuh seluruh mata kuliah teori dan Praktik hingga semester ke-V perkuliahan, berdasarkan kurikulum Jurusan Farmasi Poltekkes Kemenkes Jambi tahun 2016. Dengan demikian, mahasiswa telah memiliki dasar kompetensi dalam bidang Pengelolaan dan Pelayanan Farmasi:

1. Melaksanakan peracikan dan penyerahan obat sesuai dengan ketentuan yang berlaku

2. Melaksanakan penatalaksanaan sediaan obat

3. Melaksanakan Pelayanan Informasi Obat khususnya obat OTC (Over The Counter)

4. Melaksanakan pengelolaan di bidang pergudangan sediaan obat 5. Melaksanakan teknik pendistribusian dan pemasaran sediaan farmasi

6. Melaksanakan penyuluhan dan sumber informasi kesehatan di bidang kefarmasian

7. Memahami dan melaksanakan Undang-Undang dan etika kefarmasian 8. Melaksanakan pengelolaan keuangan

1.3 Tujuan Praktik Kerja Lapangan

Praktik Kerja Lapangan (PKL) dilaksanakan dengan tujuan untuk membentuk sikap / mental sebagai tenaga kesehatan yang professional untuk menyelesaikan masalah – masalah pada bidang kefarmasian yang

(10)

3

ada dalam dunia kerja dengan bekal ilmu yang diperoleh selama masa kuliah.

1.4 Manfaat Praktik Kerja Lapangan 1.4.1 Bagi Mahasiswa

Manfaat yang dapat diperoleh dalam pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan (PKL), antara lain sebagai berikut:

1. Mahasiswa mendapatkan pengetahuan dan wawasan keilmuan secara langsung dari dunia kerja yang sesungguhnya.

2. Mahasiswa mendapat kesempatan untuk mengaplikasikan ilmu, keterampilan dan keahliannya secara langsung pada dunia kerja.

3. Mahasiswa mendapatkan pengalaman kerja secara nyata dalam bidang farmasi.

4. Mahasiswa lebih dapat mempelajari dan memahami konsep – konsep non- akademis dan non-teknis terkait perencanaan, pelaksanaan dan pengelolaan kegiatan dalam bidang Pelayanan Farmasi.

1.4.2 Bagi Lahan Praktik Kerja Lapangan

Manfaat yang ditawarkan pada lahan Praktik Kerja Lapangan (PKL):

1. Terbantu dalam menyelesaikan pekerjaan – pekerjaan dilahan PKL sesuai dengan yang disepekati.

2. Sarana untuk menjembatani Institusi Pendidikan dengan lahan PKL khususnya dalam mencari tenaga kerja yang memenuhi syarat.

1.5 Pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan 1.5.1 Tempat Praktik Kerja Lapangan

Lahan Praktik Kerja Lapangan (PKL) dilakukan di Puskesmas Aur Duri yang terletak di Perumnas Aur Duri, Blok C No. 4, Penyengat Rendah, Telanaipura, Kota Jambi, Jambi 36361.

1.5.2 Waktu Praktik Kerja Lapangan

Waktu pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan (PKL) mahasiswa Jurusan Farmasi Poltekkes Kemenkes Jambi dilaksanakan pada tanggal 03

(11)

- 24 April 2024 dengan hari kerja senin-sabtu, waktu pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan dimulai pada pukul 07.15- 14.15 WIB.

(12)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Puskesmas

2.1.1 Landasan Hukum Puskesmas

Berdasarkan Permenkes Nomor 75 tahun 2014 tentang Pusat Kesehatan Masyarakat, Puskesmas adalah unit pelaksanaan teknis Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan kesehatan di suatu wilayah kerja.

2.1.2 Landasan Hukum Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas Berdasarkan Permenkes Nomor 74 tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas, Standar Pelayanan di Puskesmas adalah tolak ukur yang dipergunakan sebagai pedoman bagi tenaga kefarmasian dalam menyelenggarakan pelayanan kefarmasian.

2.1.3 Landasan Hukum Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas

Berdasarkan Permenkes Nomor 74 tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas, Pelayanan Kefarmasian adalah suatu pelayanan langsung dan bertanggung jawab kepada pasien yang berkaitan dengan sediaan farmasi dengan maksud mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien.

2.1.4 Sumber Daya di Puskesmas 1. Sumber Daya Manusia

Menurut UU RI No. 36 tahun 2014 tentang tenaga kesehatan bahwa tenaga di bidang Kesehatan terdiri atas:

a. Tenaga Kesehatan

b. Asisten Tenaga Kesehatan

Menurut Permenkes Nomor 44 Tahun 2016 Tenaga Kesehatan minimal yang harus ada di Puskesmas adalah:

a. Dokter Umum b. Dokter Gigi c. Perawat

5

(13)

d. Bidan

e. Tenaga Kesehatan Masyarakat f. Tenaga Kesehatan Lingkungan

g. Ahli Teknologi Laboratorium dan Medik h. Tenaga Gigi

i. Tenaga Kefarmasian

Menurut PP No. tahun 2009 tentang pekerjaan kefarmasian yang dimaksud adalah apoteker dan tenaga teknis kefarmasian.

Di dalam melaksanakan praktek pekerjaan kefarmasian tenaga farmasi harus menyusun SOP. Penyusunan SOP secara lengkap terdapat di dalam Puskesmas tentang pelayanan kefarmasian sesuai standar. Penyelenggaraan pelayanan kefarmasian di Puskesmas minimal harus dilaksanakan oleh 1 (satu) orang tenaga apoteker yang dapat dibantu oleh 2-3 tenaga teknis kefarmasian.

2. Sarana dan Prasarana di Puskesmas

Sarana dan prasarana di puskesmas terdiri dari ruang administrasi kantor, ruangan kepala puskesmas, ruangan kepala tata usaha, ruangan pertemuan/aula/ruang rapat, ruangaan pendaftaran dan rekam medik, ruangan tunggu, ruangan poli umum, ruangan tindakan, ruangan imunisasi, ruangan kesehatan ibu dan anak, ruangan kesehatan gigi dan mulut, ruangan promosi kesehatan, ruangan farmasi, laboratorium, gudang obat puskesmas.

3. Sarana dan Prasarana di Apotek Puskesmas

Sarana yang diperlukan untuk menunjang pelayanan kefarmasian di Apotek Puskesmas meliputi saran yang memilki fungsi:

1. Ruang Penerimaan Resep

Ruang penerimaan resep meliputi tempat penerimaan resep 1 (satu) set meja dan kursi, serta 1 (satu) set computer jika memungkinkan.

Ruang penerimaan resep ditempatkan paling depan dan mudah terlihat oleh pasien.

(14)

7

2. Ruang pelayanan resep dan racikan

Ruang pelayanan resep dan peracikan atau produksi sediaan secara terbatas meliputi rak obat sesuai kebutuhan dan meja peracikan. Diruang peracikan disediakan peralatan peracikan, timbangan obat, air minum untuk pengencer, sendok obat, bahan pengemas obat, lemari pendingin, termometer ruangan, blanko salinan resp, etiket dan label obat, buku catatan pelayanan resep, buku-buku referensi/standar sesuai kebutuhan, serta alat tulis secukupnya.

3. Ruang penyerahan obat

Ruang penyerahan obat meliputi konter penyerahan obat, buku pencatatan penyerahan dan pengeluaran obat. Ruang penyerahan obat dapat digabung denagn ruang penerimaaan resep.

4. Ruang konseling

Ruang konseling meliputi satu set meja dan kursi konseling, lemari buku, buku-buku referensi sesuai kebutuhan, leaflet, poster, alat bantu konseling, buku catatan konseling, formular jadwal konsumsi obat (lampiran), formular catatan pengobatan pasien (lampiran), lemari arsip, serta satu set computer jika memungkinkan.

5. Ruang penyimpanan obat dan bahan medis habis pakai

Penyimpanan harus memperhatikan kondisi sanitasi, temperature, kelembaban, ventilasi, pemisahan untuk menjamin mutu produk dan keamanan petugas. Ruang penyimpanan yang baik perlu dilengkapai dengan rak/lemari obat, palet, pendingin ruangan (AC), lemari pendingin, lemari penyimpanan khusus narkotika dan psikotropika, lemari penyimpanan obat khusus, pengukur suhu, dan kartu suhu.

6. Ruang arsip

Ruang arsip dibutuhkan untuk menyimpan dokumen yang berkaitan dengan pengelolaan obat dan bahan medis habis pakai dan pelayanan kefarmasian dalam jangka waktu tertentu.

(15)

2.1.5 Upaya Kesehatan Masyarakat

Upaya Kesehatan puskesmas terdiri dari 6 yaitu:

1. UKM Esensial, yaitu promosi kesehatan, kesehatan lingkungan, pelayanan gizi KIA-KB, pencengahandan pengendalian penyakit tidak menular, survailens dan sentinel SKDR, pencengahan dan pengendalian penyakit menular.

2. UKM Pengembangan, yaitu upaya kesehatan sekolah (UKS), kesehatan jiwa, kesehatan gigi masyarakat, kesehatan tradisional dan komplementer, kesehatan olahraga, kesehatan kerja, kesehatan indera, kesehatan lanjut usia, dan pelayanan kesehatan lainnya sesuai kebutuhan puskesmas.

3. UKP, yaitu kunjungan puskesmas, pelayanan umum, kesehatan gigi dan mulut, rawat inap, UGD, kematian.

4. Pelayanan Kesehatan masyarakat 5. Pelayanan laboratorium

6. Pelayanan kefarmasian

2.2 Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas

Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas diatur oleh Permenkes No.

74 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Puskesmas yang terdiri dari pengelolaan obat dan pelayanan farmasi klinis di dukung oleh tersedianya Sumber Daya Kefarmasian dan Standar Operasional Prosedur

2.2.1 Pengelolaan Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai di Puskesmas

Pengelolaan Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai di Puskesmas meliputi Perencanaan dan Permintaan Obat, Penerimaan, Penyimpanan, Pendistribusi Obat, Pengendalian, Pencatatan dan Pelaporan, dan Evaluasi Pengelolaan Obat.

1. Perencanaan dan Permintaan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai

Menurut Permenkes 74 Tahun 2016, perencanaan merupakan proses kegiatan seleksi obat dan bahan medis habis pakai untuk menentukan jenis dan jumlah obat dalam rangka pemenuhan kebutuhan puskesmas.

(16)

9

Tuuan Perencanaan adala untuk mendapatkan perkiraan jenis dan jumlah sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai yang mendakati kebutuhan, meningkatkan penggunaan obat secara rasional, dan meningkatkan efisiensi penggunaan obat. Tujuan permintaan sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai adalah memenuhi kebutuhan sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai di Puskesmas, sesuai dengan perencanaan kebutuhan yang telah dibuat. Permintaan diajukan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan kebijakan Pemerintah Daerah setempat.

Untuk menghitung kebutuhan obat, variable yang harus diketahui adalah:

 Permintaan

1. Permintaan dari pustu dan sub unit ke puskesmas 2. Permintaan dari puskesmas ke Instalasi Farmasi.

Permintaan dirumuskan sebagai berikut:

Permintaan = SO - SS

 Stok Optimum (SO) yang dirumuskan sebagai berikut:

SO = SK + SWK + SWT + SP Keterangan:

SO = Stok optimum

SK = Stok kerja (stok pada periode berjalan)

SWK = Jumlah yang di butuhkan pada waktu kekosongan obat SWT = Jumlah yang dibutuhkan pada waktu tunggu

SP = Stok penyangga SS = Sisa stok

2. Penerimaan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai

Menurut permenkes nomor 74 tahun 2016, penerimaan obat dan bahan medis habis pakai adalah suatu kegiatan dalam menerima obat-obatan yang diserahkan dari unit pengelola yang lebih tinggi kepada pengelolaan dibawahnya.

(17)

Penerimaan sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai adalah suatu kegiatan dalam menerima sediaan farmasi dan bahan medis habis pakai dari instalasi farmasi Kabupaten/Kota atau hasil pengadaan Puskesmas secara mandiri sesuai dengan permintaan yang telah diajukan. Tujuannya adalah agar sediaan farmasi yang diterima sesuai dengan kebutuhan berdasarkan permintaan yang diajukan puskesmas, dan memenuhi persyaratan keamanan, khasiat, dan mutu.

Semua petugas yang terlibat dalam kegiatan pengelolaan bertanggung jawab atas ketertiban penyimpanan, pemindahan, pemeliharaan dan pengunaaan obat dan bahan medis habis pakai berikut kelengkapan catatan yang menyertainya. Petugas penerimaan wajib melakukan pengecekan terhadap obat yang diserahkan, mencakup jumlah kemasan/peti, jenis dan jumlah obat, bentuk obat sesuai dengan isi dokumen (LPLPO), ditandatangani oleh petugas penerima, dan diketahui oleh kepala puskesmas.

Bila tidak memenuhi syarat maka petugas penerima dapat mengajukan keberatan.

3. Penyimpanan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai

Menurut permenkes nomor 74 tahun 2016, penyimpanan obat dan bahan medis habis pakai merupakan suatu kegiatan pengaturan terhadap obat yang diterima agar aman, terhindar dari kerusakan fisik maupun kimia dan mutunya tetap menjamin, sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan.

Tujuannya adalah agar mutu sediaan farmasi yang tersedia di Puskesmas dapat dipertahankan sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan.

Pengaturan dalam penyimpanan obat yaitu obat dapat disusun secara alfabetis, sesuai bentuk sediaan, dan kelas terapi, obat dirotasi dengan system FIFO dan FEFO, obat disimpan pada rak, obat yang disimpan diatas lantai harus diletakkan di atas pallet, tumpukan dus sebaiknya harus sesuai dengan petunjuk, sediaan obat cairan dipisahkan dari sediaan padatan, sera, vaksin, dan suppositoria disimpan dalam pendingin, serta lisol dan disinfektan terpisah dari obat lainnya.

(18)

11

4. Pendistribusian Obat dan Bahan Medis Habis Pakai

Menurut permenkes nomor 74 tahun 2016, pendistribusian obat dan bahan medis habis pakai merupakan kegiatan pengeluaran dan penyerahan obat dan bahan medis habis pakai secara merata dan teratur untuk memenuhi kebutuhan sub unit/satelit farmasi puskesmas, pustu, puskesmas keliling, posyandu, dan polindes. Tujuannya adalah untuk memenuhi kebutuhan sediaan farmasi suatu unit pelayanan kesehatan yang ada di wilayah kerja puskesmas dengan jenis, mutu, jumlah dan waktu yang tepat.

Kegiatan yang dilakukan dalam pendistribusian obat adalah:

a. Menentukan frekuensi distribusi yakni jarak sub unit pelayanan dan biaya distribusi yang tersedia.

b. Menentukan jumlah dan jenis obat yang diberikan. Dalam menentukan jumlah obat perlu dipertimbangan pemakain rata-rata perperiode untuk setiap jenis obat, sisa stok, pola penyakit, dan jumlah kunjungan masing- masing sub unit.

c. Melaksanakan penyerahan obat dan menerima sisa obat dari sub unit.

5. Pengendalian Obat dan Bahan Medis Habis Pakai

Menurut permenkes 74 tahun 2016, pengendalian obat adalah suatu kegiatan untuk memastikan tercapainya sasaran yang diinginkan sesuai dengan strategi dan program yang telah ditetapkan sehingga tidak terjadi kelebihan dan kekurangan/kekosongan obat di unit pelayanan kesehatan dasar. Tujuannya adalah agar tidak terjadi kelebihan dan kekurangan obat di unit pelayanan kesehatan dasar.

a. pengendalian persediaan b. pengendalian penggunaan

c. penanganan obat hilang, rusak, dan kadaluwarsa.

6. Pencatatan, Pelaporan, dan Pengarsipan

Menurut permenkes 74 tahun 2016, Pencatatan, Pelaporan, dan Pengarsipan merupakan rangkaian dalam rangka penatalaksanaan obat dan bahan medis habis pakai secara tertib, baik obat dan bahan medis habis pakai

(19)

yang diterima, disimpan, didistribusikan dan digunakan di puskesmas atau unit pelayanan lainnya. Jenis pencatatan dan pelaporan adalah buku harian, register, laporan.

Berdasarkan frekuensinya pencatatan dan pelaporan dibagi menjadi harian (pemakaian obat, kunjungan resep), bulanan (LPLPO, laporan PIO, POR), laporan triwulan, tahunan (penyusunan profil laporan obat, laporan tahunan).

Berdasarkan tempat laporan dibuat:

1) Apotek (catatan harian pemakaian obat, catatan harian penerimaan resep) 2) Gudang (Kartu stok, LPLPO, LPLPO sub unit).

7. Pemantauan dan Evaluasi Pengelolaan Obat

Menurut permenkes 74 tahun 2016, Pemantauan dan Evaluasi Pengelolaan Obat dan bahan medis habis pakai dilakukan secara periodic degan tujuan untuk:

a. Mengendalikan dan menghindari terjadinya kesalahan dalam pengelolaan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai sehingga dapat menjaga kualitas maupun pemerataan pelayanan;

b. Memperbaiki secara terus-menerus pengelolaan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai; dan

c. Memberikan penilaian terhadap capaian kinerja pengelolaan.

2.2.2 Pelayanan Farmasi Klinik

Pelayanan farmasi klinik merupakan bagian dari Pelayanan Kefarmasian yang langsung dan bertanggung jawab kepada pasien berkaitan dengan Obat dan Bahan Medis Habis Pakai dengan maksud mencapai hasil yang pasti untuk kehidupan pasien.

Pelayanan farmasi klinik meliputi:

1. Pengkajian Resep, Penyerahan, dan Pemberian Informasi Obat

Dimulai dari seleksi persyaratan administrasi, persyaratan farmasetik dan persyaratan klinis baik untuk rawat inap maupun rawat jalan. Persyaratan administrasi meliputi nama, umur, jenis kelamin dan berat badan pasien, nama, dan paraf dokter, tanggal resep, ruangan/ unit asal resep. Persyaratan

(20)

13

farmasetik meliputi bentuk dan kekuatan sedian, dosis dan jumlah obat, stabilitas dan ketersediaan, aturan dan cara penggunaan, inkompatibilitas (ketidakcampuran obat).

Persyaratan klinis meliputi ketepatan indikasi, dosis dan waktu pemberian obat, duplikasi pengobatan, alergi, interaksi dan efek samping obat, kontraindikasi, efek adiktif

2. Pelayanan Informasi Obat

PIO merupakan kegiatan pelayanan yang dilakukan oleh Apoteker untuk memberikan informasi secara akurat, jelas dan terkini kepada dokter, apoteker, perawat, profesi kesehatan lainnya dan pasien.

Kegiatan yang dilakukan :

a. Memberikan dan menyebarkan informasi kepada konsumen secara pro aktif dan pasif.

b. Menjawab pertanyaan dari pasien maupun tenaga kesehatan melalui telepon, surat atau tatap muka.

c. Membuat buletin, leaflet, label obat, poster, majalah dinding dan lain- lain.

d. Melakukan kegiatan penyuluhan bagi pasien rawat jalan dan rawat inap serta masyarakat.

e. Melakukan pendidikan dan/atau pelatihan bagi tenaga kefarmasian dan tenaga lainnya terkait dengan obat dan bahan medis habis pakai.

f. Mengkoordinasikan penelitian obat terkait obat dan kegiatan pelayanan kefarmasian.

3. Konseling

Merupakan suatu proses untuk mengidentifikasikan dan penyelesaian masalah pasien yang berkaitan dengan penggunaan obat pasien rawat jalan dan awat inap serta keluarga pasien.

4. Visite

Merupakan kegiatan kunjungan ke pasien rawat inap yang dilakukan secara mandiri atau bersama tim profesi kesehatan lainnya.

(21)

5. Pemantauan dan Pelaporan Efek Samping Obat

Merupakan kegiatan pemantauan respon terhadap obat yang merugikan atau tidak diharapkan yang terjadi pada dosis normal yang digunakan pada manusia untuk tujuan profilaksis, diagnosa dan terapi tau modifikasi fisiologis.

6. Pemantauan Terapi Obat

Merupakan proses yang memastikan bahwa seorang pasien mendapatkan terapi obat yang efektif, terjangkau dengan memaksimalkan efikasi dan meminimalkan efek samping.

7. Evaluasi Penggunaan Obat

Merupakan kegiatan untuk mengevaluasi penggunaan obat yang terstruktur dan berkesinambungan untuk menjamin obat yang digunakan sesuai indikasi, efektif, aman, dan terjangkau (rasional).

2.3 Standar Operasional Prosedur (SOP)

Standar Operasional Prosedur (SOP) adalah serangkaian instruksi kerja tertulis yang dibakukan (terdokumentasi) mengenai proses penyelenggaraan administrasi suatu instansi, bagaimana dan kapanharus dilakukan, dimana dan oleh siapa dilakukan.

Semua tenaga kefarmasian di Puskesmas melaksanakan Pelayanan Kefarmasian berdasarkan Standar Operasional Prosedur yang dibuat secara tertulis, disusun oleh penanggung jawab farmasi dan ditetapkan oleh Kepala Puskesmas, SOP tersebut diletakkan di tempat yang mudah dilihat.

Jenis SOP dibuat sesuai dengan kebutuhan pelayanan yang dilakukan pada puskesmas yang bersangkutan.

(22)

BAB III

TINJAUAN UMUM PUSKESMAS

3.1 Sejarah singkat dan Company Profile

UPTD Puskesmas Aur Duri merupakan Puskesmas induk di Kecamatan Telanaipura, Puskesmas ini berada di wilayah Kelurahan Penyengat Rendah.

Puskesmas Aur Duri pada awalnya berdiri pada tahun 1997. Kemudian pada tahun 2003 dikembangkan menjadi Puskesmas Induk dengan nama Puskesmas Aur Duri, sedangkan Puskesmas Penyengat Rendah diubah statusnya menjadi Puskesmas Pembantu Penyengat Rendah. Pengubahan status ini didasarkan kepada pertimbangan bahwa jumlah penduduk di Perumnas Aur Duri tempat Puskesmas berdiri sekarang lebih padat dan perkembangannya sangat dinamis.

Selain itu faktor sering terjadinya banjir di lokasi Pustu Penyengat Rendah menjadi pertimbangan yang penting. Pengembangan Puskesmas ini merupakan tuntutan dari pelayanan kesehatan yang semakin dibutuhkan masyarakat, terutama bagi penduduk yang sulit menjangkau Puskesmas induk. Disamping itu pertambahan penduduk yang semakin tinggi dan padat serta kunjungan Puskesmas semakin meningkat.

3.2 Visi, Misi, Falsafah, Nilai, dan Tujuan Instalasi 1. Visi

Menjadikan Puskesmas Aur Duri sebagai pusat pelayanan kesehatan masyarakat yang bermutu menuju Masyarakat sehat dan mandiri.

2. Misi

1.) Meningkatkan mutu pelayanan kesehatan

2.) Meningkatkan profesionalisme sumber daya kesehatan 3.) Memaksimalkan tata kelola sistem administrasi

4.) Meningkatkan kerjasama lintas sektor

5.) Mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat.

3. Falsafah

Memberikan pelayanan dengan hati ikhlas, senyum, sapa, sopan (HIS3)

15

(23)

4. Nilai Tata nilai:

a. Cermat : Dalam pelayanan kesehatan

b. Akuntabel : Dapat diukur dan dipertanggung jawabkan

c. Normatif : Berperang Teguh pada Norma-norma dan aturan yang berlaku

d. Tanggap : Dalam melayani keluhan pasien dan masyarakat e. Inovatif : Bagi peningkatan mutu pelayanan kesehatan

f. Kreatif : Dalam menciptakan ide-ide untuk menunjang peningkatan pelayanan

5. Tujuan Instansi

Melayani sebaik-sebaiknya untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

3.3 Struktur Organisasi

3.4 Wilayah Kerja Puskesmas Aur Duri

Puskesmas Aur Duri berada di Jl. Aur Duri No. 1 Perumnas Aur Duri Kecamatan Telanaipura. Berdekatan dengan lingkungan Pemerintah Kota Jambi,

(24)

17

dengan wilayah kerja 3 (tiga) Kelurahan yaitu Kelurahan Penyengat Rendah, Kelurahan Buluran Kenali, dan Kelurahan Teluk Kenali yang mencakup luas wilayah 16,71 km2.

Ditilik dari topografinya, wilayah kerja Puskesmas Aur Duri Kota Jambi berada pada keadaaan tanah relatif datar dengan ketinggian 0-60 meter di atas permukaan laut.

No. Kelurahan Jumlah RT Luas

1. Penyengat Rendah 12 4,38 Km²

2. Buluran Kenali 19 2,01 Km²

3. Teluk Kenali 6 2,34 Km²

4. Aur Kenali 26 5,24 Km²

Jumlah 68 14,11 Km²

Batas wilayah kerja Puskesmas Aur Duri terdiri dari:

1. Sebelah utara berbatasan dengan Desa Penyengat Olak.

2. Sebelah barat berbatasan dengan Desa Mendalo Darat 3. Sebelah timut berbatasan dengan Kelurahan Pasir Panjang 4. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kelurahan Simpang IV Sipin 3.5 Logo Instansi dan Makna

(25)

 Bentuk lambang segi enam atau hexagonal memiliki 3 buah makna yaitu, Keterpaduan dan kesinambungan yang terintegrasi dari semua prinsip yang melandasi penyelenggaraan Puskesmas, Pemerataan pelayanan kesehatan yang mudah di akses masyarakat dan Pergerakan dan pertanggung jawaban Puskesmas di wilayah kerjanya.

 Lambang berupa irisan dua buah bentuk lingkaran melambangkan dua unsur upaya kesehatan yaitu: Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) yakni untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah dan menanggulangi timbulnya masalah kesehatan masyarakat. Serta Upaya Kesehatan Perseorangan (UKP) yakni untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah dan menanggulangi timbulnya masalah kesehatan perorangan.

 Arti warna hijau melambangkan tujuan pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh Puskesmas dalam rangka mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggitingginya.

 Arti warna putih melambangkan pengabdian luhur serta nilai nilai mulia Puskesmas

3.6 10 Penyakit Terbesar Rawat Jalan

(26)

19

No Jenis Penyakit Kode

penyakit Jumlah Ket

1. Nasoparyngitis

Acute/Common Cold J00 3.916 14,8%

2. Hipertensi Essential I10 2.420 9,2%

3. Penyakit Jantung Hipertensi I11 1.981 7,5%

4. DM tak tergantung insulin E12 1.601 6,1%

5. Dispepsia K.30 1.458 5,5%

6. Pelayanan Kontrasepsi Z30 1.241 4,7%

7. Dermatitis kontak alergi L23 1.192 4,5%

8. Demam tak tau sebab R50 996 3,8%

9. DM tergantung insulin M79 971 3,7%

10. Neuralgia dan Neuritis M79 862 3,3%

Jumlah Seluruh Kunjungan 26.326 Kasus 3.7 Kegiatan Instansi

UPTD Puskesmas Aurduri dengan sarana dan prasarana standar puskesmas rawat jalan, seperti; alat dan ruang UGD, poli umum, poli gigi, ruang pemeriksaan lansia, poli KIA, poli KB, ruang imunisasi, laboratorium sederhana, ruang konsultasi gizi, ruang kesling, serta ruang farmasi/apotek dan gudang obat.

Selain itu puskesmas juga punya dua buah mobil ambulans 119.

3.8 Pengelolaan Bangunan dan Ruangan Puskesmas Aur Duri

 Berdasarkan hasil pengamatan dari Praktik kerja lapangan yang dilakukan di Puskesmas Aur Duri memiliki bangunan :

1. Ruang farmasi, ruang gudang obat, ruang poli kesehatan ibu dan anak (KIA), dan KB, ruang poli gigi, ruang loket, ruang rekam medis, ruang tindakan, ruang poli umum, ruang laboratorium, ruang TB, ruang poli anak/ MTBS, ruang kesling, ruang imunisasi/gizi/tumbang, ruang tata usaha, ruang kepala puskesmas, ruang akreditasi/bendahara, ruang promosi kesehatan gudang barang dan aula.

2. Pustu penyengat rendah 3. Pustu buluran kenali 4. Posyandu

 Ruangan Farmasi di Puskesmas Aur duri meliputi :

(27)

1. Ruang penerimaan resep

Ruang penenerimaan resep meliputi tempat penerimaan resep 1 (satu) set meja dan kursi, serta 1 (satu) set komputer. Ruang penerimaan resep ditempatkan paling depan dan mudah terlihat oleh pasien.

2. Ruang pelayanan resep dan peracikan

Ruang pelayanan resep dan peracikan atau produksi sediaan secara terbatas meliputi rak obat sesuai kebutuhan dan meja peracikan. Di ruang peracikan disediakan peralatan peracikan, timbangan obat, air minum untuk pengencer, sendok obat, bahan pengemas obat, lemari pendingin, termometer ruangan, blanko salinan resep, etiket dan label obat, buku catatan pelayanan resep, buku-buku referensi/standar sesuai kebutuhan, serta alat tulis.

3. Ruang penyerahan obat

Ruang penyerahan obat meliputi konter penyerahan obat. Ruang penyerahan obat dapat digabung dengan ruang penerimaan resep.

4. Ruang penyimpanan obat dan bahan medis habis pakai. Penyimpanan harus memperhatikan kondisi sanitasi, temperatur, kelembaban, ventilasi, pemisahan untuk menjamin mutu produk dan keamanan petugas. Ruang penyimpanan yang baik perlu dilengkapi dengan rak/lemari obat, pallet, pendingin ruangan (AC), lemari pendingin, lemari penyimpanan khusus narkotika dan psikotropika, lemari penyimpanan obat khusus, pengukur suhu, dan kartu suhu.

5. Ruang penyimpanan obat dan bahan medis habis pakai Penyimpanan harus memperhatikan kondisi sanitasi, temperatur, kelembaban, ventilasi, pemisahan untuk menjamin mutu produk dan keamanan petugas. Ruang penyimpanan yang baik perlu dilengkapi dengan rak/lemari obat, pallet, pendingin ruangan (AC), lemari pendingin, lemari penyimpanan khusus narkotika dan psikotropika, lemari penyimpanan obat khusus, pengukur suhu, dan kartu suhu.

6. Ruangan Gudang Farmasi di Puskesmas Aur duri pengelolaan ruangan, lemari obat di gudang didesain dengan leter U untuk mempermudah

(28)

21

akses petugas saat mengambil obat obat tablet dan kapsul disimpan pada lemari yang sama dengan sistem penyimpanan alfabetis, sirup di simpan pada lemari terpisa dari tablet/kapsul, untuk obat-obat seperti psikotropika dan high alert di simpan dengan suhu dibawah 2-8C disimpan pada lemari pendingin, obat-obat seperti psikotropika dan high alert disimpan pada lemari khusus yang terpisah dari obat lainnya memiliki pintu ganda dan kunci ganda sediaan seperti alkohol, sediaan disinfektan, alkes, dan bmhp lainnya disusun di rak pallet besi bertingkat.

Penumpukan dus di gudang tidak lebih dari 3 tingkat. Gudang obat memiliki ventilasi yang kurang baik, baik untuk suhu ruang obat di cek pada termometer ruangan yang tertempel pada dinding gudang obat.

Kunci gudang obat kepala gudang farmasi puskesmas Aur duri.

3.9 Rasio

Kunjungan resep per tahun : 2000 × 12 : 24000 Jumlah penduduk : 26127

Rasio = 2000×12 26127

= 24000 26127 = 0,918 = 0,92

(29)

Dari data di atas didapatkan bahwa jumlah resep perbulannya mencapai 1441 artinya masyarakat puskesmas Aur Duri sebagai pusat pelayanan kesehatan masyarakat telah digunakan masyarakat. Dari data kunjungan pasien di Puskesmas Aur Duri disimpulkan bahwa 92% pasien yang berobat ke Puskesmas dalam 1 tahun, artinya tidak seluruh masyarakat memanfaatkan Puskesmas untuk pelayanan kesehatan.

(30)

BAB IV

PELAYANAN KEFARMASIAN

6.1 Manajamen Sumber Daya Manusia

Penyelenggaraan pelayanan kefarmasian di Puskesmas minimanl harus dilaksanakan oleh 1 (satu) orang tenaga Apoteker sebagai Penanggung jawab, yang dapat dibantu oleh Tenaga Teknis Kefarmasian sesuai kebutuhan.

Jumlah kebutuhan apoteker di Puskesmas dihitung berdasarkan rasio kunjungan pasien, baik rawat inap maupun rawat jalan serta memperhatikan pengembangan Puskesmas. Rasio untuk menentukan jumlah Apoteker di Puskesmas bila memungkinkan diupayakan 1 (satu) Apoteker untuk 50 (lima puluh) pasien perhari.

Sumber daya manusia yang ada di instalasi farmasi Puskesmas Aur Duri terdistribusi sesuai dengan tabel berikut:

Nama Unit Jenis SDM Jumlah %

Kesesuaia n

Gudang obat TTK 1 100%

Apotek Apoteker

TTK 1

3

Pada puskesmas Aur Duri, berdasarkan tabel di atas untukk SDM telah memenuhi standar yang berlaku. Yang telah memiliki 3 orang Tenaga Teknis Kefarmasian (TTK) dan 1 orang Apoteker.

6.2 Perencanaan

Perencanaan persediaan farmasi dan bahan medis habis pakai (BMHP) di UPTD Puskesmas Aur Duri dilakukan oleh bagian farmasi pada setiap periode.

Proses pemilihan persediaan farmasi dan BMHP dilakukan dengan mempertimbangkan pola konsumsi persediaan farmasi sebelumnya. Proses pemilihan ini mengacu pada Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN), Formularium Nasional, dan Formularium UPTD Puskesmas Aur Duri. Seleksi

22

(31)

kebutuhan obat dilakukan dengan menggunakan metode konsumsi, yaitu dengan mempertimbangkan sisa stok obat dari periode sebelumnya.

Permintaan obat dihitung dengan cara :

Permintaan obat = (total pemakaian obat perbulan × 3) + WT – sisa stok

Checklist tabel data untuk perancaan obat

No Data Keterangan

1. Pemakaian perperiode Ada

2. Stok kerja Ada

3. Waktu tunggu Ada

4. Stok penyangga Tidak ada

5. Sisa stok Ada

Dari hasil pengamatan perencanaan di puskesmas di dapatkan variabel hasil pencapaian didapat selengkapnya hasil pencapaian sebagai berikut :

Pengelolaan perencanaan

Permenkes No.

74 Tahun 2016

Puskesmas Aur Duri

Keterang an

% Kesesuaian Penanggungj

awab

Apoteker Apoteker Sesuai 100%

Pemilihan obat Berdasarkan fornas dan adanya buku fornas

Berdasarkan fornas dan adanya buku fornas

Sesuai 100%

Hal yang harus

dipertimbang kan

- Anggaran yang tersedia

- Waktu tunggu - Buffer stok - Sisa stok - Data

pemakaian periode sebelumnya

- Anggaran dana - Waktu tunggu - Tidak pakai - Sisa stok - Data

pemakaian tahun sebelumnya

Dipuskes mas tidak mengguna kan buffer stok, yang sesuai dengan standar hanya ada 4

4/5* 100%

= 80%

(32)

24

Metode - Konsumsi - Epiemiologi - Kombinasi

- Konsumsi Dari 3 metode hanya 1 metode yang digunakan

1/3*100%

= 33.33%

Perhitungan yang

digunakan

Dengan menggunakan rumus :

A = (B+C+D) – E Keterangan : A= rencana kebutuhan B = pemakaian rata-rata perbulan x 3

C = Stok pengaman (10- 20%)

D = waktu tunggu (1-3 bulan) E = sisa stok

Dengan menggunakan rumus :

A = (B+C+D) – E Keterangan : A= rencana kebutuhan B = pemakaian rata-rata perbulan x 3

C = tidak sesuai

D = waktu tunggu (1 bulan)

E = sisa stok

Dipuskes mas tidak mengguna kan buffer stok, yang sesuai dengan standar hanya ada 4

4/5* 100%

= 80%

Analisis ABC dan VEN Tidak

menggunakan

Tidak sesuai pedoman

0%

Jumlah Kesuaian Perecanaan = 393.33 6 = 65.55%

Berikut ini adalah contoh perhitungan dalam perencanaan pengadaan obat ; A. Acyclovir 400 mg

Sisa stok = 100

Pemakaian pertahun = 4800

Pemakaian rata-rata perbulan = 4800/12 = 400

Waktu tunggu = 1 bulan

Stok Optimum = Pemakaian rata rata perbulan x 3 bulan x WT

SO = 400 x 3 + 400

(33)

SO = 1200 + 400

SO = 1600

Permintaan = SO-SS

Permintaan = 1600 – 100

Permintaan = 1500

B. Dexamethasone

Sisa stok = 2400

Pemakaian pertahun = 12000

Pemakaian rata-rata perbulan = 12000 / 12 = 1000

Waktu tunggu = 1 bulan

Stok Optimum = Pemakaian rata rata perbulan x 3 bulan x WT

SO = 1000 x 3 + 1000

SO = 3000+ 1000

SO = 4000

Permintaan = SO-SS

Permintaan = 4000 – 2400

Permintaan = 1700

C. Amoksisilin 500mg

Sisa stok = 6400

Pemakaian pertahun = 8400

Pemakaian rata-rata perbulan = 8400/12 = 700

Waktu tunggu = 1 bulan

Stok Optimum = Pemakaian rata rata perbulan x 3 bulan x WT

SO = 700 x 3 + 700

SO = 2100 + 700

SO = 2800

Permintaan = SO-SS

Permintaan = 2800 – 6400

Permintaan = -3.600

D. Domperidone

Sisa stok = 300

(34)

26

Pemakaian pertahun = 7200

Pemakaian rata-rata perbulan = 7200/12 = 600

Waktu tunggu = 1 bulan

Stok Optimum = Pemakaian rata rata perbulan x 3 bulan x WT

SO = 600 x 3 + 600

SO = 1800 + 600

SO = 2400

Permintaan = SO-SS

Permintaan = 2400 – 300

Permintaan = 2100

E. Deksametasone injeksi

Sisa stok = 5

Pemakaian pertahun = 300

Pemakaian rata-rata perbulan = 300/12 = 25

Waktu tunggu = 1 bulan

Stok Optimum = Pemakaian rata rata perbulan x 3 bulan x WT

SO = 25 x 3 + 25

SO = 75 + 25

SO = 100

Permintaan = SO-SS

Permintaan = 100 – 5

Permintaan = 95

Pada perencanaan di Puskesmas ini bahwa obat acyclovir menurut teori harusnya permintaan 1000 tetapi puskesmas melakukan permintaan obat 1500.

Terjadinya selisih dikarenakan untuk menjaga persediaan stok agar tidak terjadi kekurangan obat di Puskesmas.

6.3 Permintaan/ pengadaan Pengelolaan

pengadaan

Permenkes No.

74 Tahun 2016

Puskesmas Aur Duri

Keterang an

% Kesesuaian Obat PKD - LPLPO yang

diajukan ke

- LPLPO yang diajukan ke

Sesuai 100%

(35)

dinkes - Permintaan

triwulan - Metode

konsumsi

dinkes - Permintaan

triwulan - Metode

konsumsi Obat Program - Permintaan

melalui

aplikasi yang diajukan ke dinkes lalu ke IFK

Permintaan

melalui aplikasi yang diajukan ke dinkes lalu ke IFK

Sesuai 100%

Obat BLUD - RKO

- Surat pesanan yang

ditandatangani apoteker

- RKO tiap tahun - Surat pesanan

yang

ditandatangani apoteker

Sesuai 100%

Perhitungan Pengadaan

= stok optimum – sisa stok

Contoh perhitungan

Beberapa obat ada terjadi sesuai dengan

perhitungan secara teori Sisa stok = 2400 Pemakaian pertahun = 12000 Pemakaian rata- rata perbulan = 12000 / 12 = 1000 Waktu tunggu = 1 bulan

Stok Optimum=

Pemakaian rata rata perbulan x 3 bulan x

Tidak sesuai

Permintaa n pada obat dekametas on ini berdasarka n teori 1700 tetapi di LPLPOper mintaan

50%

(36)

28

+ WT

SO= 1000 x 3 + 1000

SO= 3000+ 1000 SO= 4000 Permintaan

= SO-SS

= 4000 – 2400 Permintaan

= 1700

menjadi 5000 tab

Jumlah Kesuaian Perecanaan = 350

5 = 87.5%

Permintaan obat dan BMHP di UPTD Puskesmas Aur Duri diajukan ke Dinas Kesehatan Kota Jambi melalui Instalasi Farmasi Kota (IFK) untuk obat PKD dilakukan secara triwulan dengan mengajukan permintaan dengan menggunakan format LPLPO (Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat).

Dan untuk obat ARV, TB diajukan ke Dinas Kesehatan sebagai obat program, serta obat yang didanai oleh BPJS dan BLUD permintaan dilakukan secara pertahun dengan membuat Rencana Kebutuhan Obat (RKO)

Sementara untuk permintaan dari puskesmas pembantu dan unit pelayanan di lingkungan UPTD Puskesmas Aur Duri, dilakukan dengan mengajukan permintaan kepada Kepala UPTD Puskesmas melalui petugas pengelola obat di puskesmas. Sedangkan untuk obat yang didanai oleh BPJS dan BLUD, dilakukan dengan sistem katalog elektronik (e-katalog) dan memesan langsung ke distributor.

Pengadaan harus mempertimbangkan anggaran yang tersedia, penetapan prioritas, sisa persediaan, data pemakaian periode yang lalu, dan waktu tunggu pemesanan. Obat yang telah direncanakan pemesanannya, kemudian dilakukan pemesanan ke Instalasi Farmasi atau ke PBF dengan cara membeli sendiri karena jika pesanan kekurangan stok di Instalasi Farmasi.

(37)

Pengadaan di puskesmas melakukan pesanan dengan membuat surat pesanan permintaan yang dikirim dari bagian perencanaan, lalu dikirim ke instalasi farmasi atau PBF tujuan.

Di puskesmas Aur Duri perencanaan dan pengadaan menggunakan metode konsumsi tiap triwulan ataupun pertahun. Yang langsung dipesan oleh Apoteker penanggung jawab gudang pada instalasi farmasi atau PBF tujuan.

Pengadaan obat di puskesmas yang harusnya melakukan permintaan di Instalasi Farmasi yaitu PKD, tetapi Puskesmas melakukan pembelian dengan dana sendiri (BLUD) yaitu obat Amoksisilin tab (sirup), Amlodipine 5mg, Amlodipine 10mg, Guanifesin, Dexametasone, dll. Dilakukan pembelian sendiri dikarenakan penggunaan obat yang tinggi di Puskesmas, karena stok yang ada di Instalasi tidak mencukupi.

6.4 Penerimaan Pengelolaan Penerimaan

Permenkes No.

74 Tahun 2016

Puskesmas Aur Duri

Keterang an

% Kesesuaian Obat PKD 1. Cek fisik obat

- Benar ditujukan ke PKM - Nama obat - Kekuatan - Jumlah - No. batch - ED 2. Dokumen

- LPLPO

- SBBK

- Benar

ditujukan ke PKM

- Nama obat - Kekuatan - Jumlah - No. batch - ED

- LPLPO

- SBBK

Sesuai 100%

Obat Program 1. Cek fisik obat - Benar

ditujukan ke PKM

- Benar

ditujukan ke PKM

Sesuai 100%

(38)

30

- Nama obat - Kekuatan - Jumlah - No. batch - ED 2. Dokumen

- LPLPO

- SBBK

- Nama obat - Kekuatan - Jumlah - No. batch - ED

- LPLPO

- SBBK Obat BLUD 1. Cek fisik obat

- Benar ditujukan ke PKM - Nama obat - Kekuatan - Jumlah - No. batch - ED - Harga 2. Dokumen

- RKO

- Surat Pesanan - Faktur

- Benar

ditujukan ke PKM

- Nama obat - Kekuatan - Jumlah - No. batch - ED

- Harga obat

- RKO

- Surat Pesanan - Faktur

Sesuai 100%

Jumlah Kesusaian Penerimaan = 300 3 = 100%

Saat melakukan penerimaan, petugas farmasi harus memeriksa Sediaan Farmasi dan BMHP yang diterima. Penerimaan merupakan kegiatan untuk menjamin kesesuaian jenis, spesifikasi, jumlah, mutu, waktu penyerahan dan harga yang tertera dalam kontrak atau surat pesanan dengan kondisi fisik yang

(39)

diterima. Semua dokumen terkait penerimaan barang harus tersimpang dengan baik.

Penerimaan di Puskesmas Aur Duri, barang atau obat yang dipesan beserta faktur penjualan dari PBF. Petugas penerima barang akan memerikasa barang/obat berdasarkan jenis dan jumlah sesuai surat pesanan untuk obat dari BLUD sedangkan untuk Obat dari PKD memeriksa obat berdasarkan jenis dan jumlah sesuai LPLPO.

Adapun prosedur penerimaan barang dari PKD sebagai berikut : 1. Penerimaan fisik obat

2. Administrasi

 LPLPO yang ada isi pemberian di cek apakah sudah sesuai obat yang diberikan dengan yang ada secara fisik

 SBBK yang ada nama obat, satuan, jumlah, nomor batch, ED, harga obat sesuai apa tidak.

Adapun prosedur penerimaan barang BLUD sebagai berikut:

1. Barang yang diterima akan diperiksa terlebih dahulu kualitas dan kuantitas barang, kesesuaian faktur, jenis, jumlah, dan harganya serta dengan daftar pesanan barang yang ada dipuskesmas.

2. Apabila barang telah dinyatakan sesuai dengan pesanan (memenuhi persyaratan), barang akan diterima dan TTK/ Apoteker akan memberi stempel blok pada faktur pengiriman barang yang dibuat rangkap sebagai tanda diterimanya barang tersebut oleh petugas Puskesmas.

3. Salinan faktur dimasukkan kebuku khusus faktur, kemudian dikumpulkan untuk dimuatkan laporannya setiap minggu dan direkapitulasi setiap bulan.

4. Setelah itu faktur disimpan dalam lemari arsip sesuai.

Apoteker atau Tenaga Teknis Kefarmasian yang bertugas pada penerimaan di puskesmas melakukan pengecekan barang yang datang apakah sudah sesuai atau tidak dengan surat pesanan, selain itu pengecekan fisik bentuk sediaan, tahun ED, jumlah pesanan, mengecek ulang faktur dan memberi stempel puskesmas dan SIPA apoteker serta paraf faktur, sebagai bukti penerimaan barang dan faktur akan diserahkan ke puskesmas sebagai arsip di puskesmas.

(40)

32

6.5 Penyimpanan

Dari hasil pengamatan penyimpanan di puskesmas di dapatkan variabel hasil pencapaian didapat selengkapnya hasil pencapain sebagai berikut

No Gudang STANDAR HASIL

PENGAMATAN

% Kesesuaian 1 Persyaratan gudang :

A. Luas

B. Ruangan kering C. Memiliki

pencahayaan D. Warna dinding E. Sudut lantai F. Pintu kunci ganda G. Lemari narkotika

/ psikotropika H. Thermometer

a. Ukuran 3 x 4 b. Ruangan

kering c. Memiliki

ventilasi d. Warna cerah e. Tidak tajam f. Pintu dengan

kelengkapan kunci ganda g. Mempunyai

lemari khusus h. Memiliki

thermometer

a. Luas 4x4 m b. Ruangan kering

10 .5 c. Tidak ada

ventilasi d. Warna putih e. Sudut lantai

tajam (tidak sesuai)

f. Memiliki pintu dengan kunci ganda yaitu pintu biasa g. Memiliki

lemari psikotropika h. Iya ada

termometer

7

8x100 %

= 87.5%

2 Pengaturan penyimpanan

a. Obat disusun alfabetis dan bentuk sediaan b. Penyimpanan

sistem FIFO dan FEFO c. Tumpukan dus

berdasarkan standar d. Sediaan obat

cairan dipisahkan dengan sediaan padat e. Memiliki

lemari pendingin

a. Iya,

berdasarkan alfabetis dan bentuk sediaan b. Iya berdasarkan

FIFO dan FEFO c. Iya sesuai

petunjuk yang ada di dus d. Iya dipisahkan

tempat

penyimpananya e. Iya memiliki

lemari es untuk vaksin, Suppos

5

5 x100 %

= 100%

(41)

3 Pengendalian

persediaan Metode ABC dan

VEN Tidak dilakukan

tetapi tidak terdapat bukti

0%

Total % kesesuaian = 187.5

300 x100 %

= 62.5%

No Apotek STANDAR HASIL

PENGAMATAN

% Kesesuaian 1 Persyaratan gudang :

I. Luas

J. Ruangan kering K. Memiliki

pencahayaan L. Warna dinding M. Sudut lantai N. Pintu kunci ganda O. Lemari narkotika

/ psikotropika P. Thermometer

a. Ukuran 3 x 4 b. Ruangan

kering c. Memiliki

ventilasi d. Warna cerah e. Tidak tajam f. Pintu dengan

kelengkapan kunci ganda g. Mempunyai

lemari khusus h. Memiliki

thermometer

a. Luas 4x4 m b. Ruangan kering

19 ,7 c. Sedikit ada

ventilasi d. Warna putih e. Sudut lantai

tajam (tidak sesuai)

f. Memiliki pintu dengan kunci ganda yaitu pintu biasa g. Memiliki

lemari psikotropika h. Iya ada

termometer

8

8x100 %

= 100%

2 Pengaturan penyimpanan

a. Obat disusun alfabetis dan bentuk sediaan b. Penyimpanan

sistem FIFO dan FEFO c. Obat LASA

diberikan Stiker warna kuning d. Obat High

Alert diberikan stiker

berwarna merah e. Memiliki

lemari

a. Iya,

berdasarkan alfabetis dan bentuk sediaan b. Iya berdasarkan

FIFO dan FEFO

c. Iya diberikan stiker kuning untuk obat LASA

d. Iya diberikan stiker warna merah untuk obat High Alert e. Iya memiliki

lemari es untuk 5

5 x100 %

= 100%

(42)

34

pendingin Suppos

3 Pengendalian

persediaan Metode ABC dan

VEN Tidak dilakukan

tetapi tidak terdapat bukti

0%

Total % kesesuaian = 200

300 x100 %

= 66.6%

6.6 Pendistribusian

Pendistribusian adalah tindakan pengeluaran dan penyerahan sediaan farmasi dan BMHP secara merata dan teratur untuk memenuhi kebutuhan unit pelayanan di puskesmas dan jaringannya. Pendistribusian ke unit pelayanan dan jaringan dilakukan berdasarkan permintaan dari masing-masing unit pelayanan dan jaringan. Adapun unit pelayanan dan jaringan di Puskesmas Aur Duri antara lain yaitu Apotek, poli gigi, IGD, KIA, Imunisasi, Puskesmas Pembantu, dan laboratorium.

Sub Unit Kunjungan Resep % Alokasi

Maret April Mei Jumlah

Apotek PKM

; 1003 1441 3914 3914

7142x100 %

= 54.70%

Pustu Buluran Kenali

490 510 572 1572 1572

7142x100 %

= 22.01 % Pustu

Penyengat

648 421 587 1656 1656

7142x100 %

= 23.18 % Total : 7142

Nama obat Persediaan %

Distribusi

Flavon Alokasi Apotek

PKM

Pustu Buluran

Pustu Penyengat Amlodipine

10mg

9600 9600 x

0.85

= 8160

81.60 x 54.80%

=4.471,01

8160 x 22.01%

=

8160 x 23.18%

= 1891,4

(43)

1.796.016 Acyclovir 400

mg

1500 1500 x

0.85

= 1.275

1.275 x 54.80%

=698.7

1.275 x 22.01%

= 280.62

1.275 x 23.18%

= 295.54 Allopurinol

100 mg

1090 1090 x

0.85

= 926.5

926.5 x 54.80%

=507.72

926.5 x 22.01%

= 203.92

926.5 x 23.18%

= 214.76 Amoksisilin 27100 27100 x

0.85

= 23.035

23.035 x 54.80%

=12.623,18

23.035 x 22.01%

= 5.070

23.035 x 23.18%

= 5.339.51 Dexamethason

e tab

8400 8400 x

0.85

= 7.140

7.140 x 54.80%

=3.912,72

7.140 x 22.01%

=

1.571,51

7.140 ;x 23.18%

= 1.655,05

6.7 Pengendalian

Pengendalian Sediaan Farmasi dan BMHP dilakukan untuk memastikan tercapainya sasaran yang dinginkan sesuai dengan strategi dan program yang telah ditetapkan sehingga tidak terjadi kelebihan dan kekurangan/ kekosongan Obat di unit pelayanan kesehatan dasar. Pengendalian di Puskesmas Aur Duri dilakukan dengan cara melakukan stok opname setiap bulannya, menggunakan kartu stok baik secara tertulis maupun elektronik (RME), serta penandaan untuk obat-obat yang mendekati Expired Date (ED).

NO. Pengendalian Permenkes No.74 Tahun

2016

Puskesmas Aur Duri

% Kesesuaian

1. Persediaan Melakukan permintaan ke instalasi

farmasi.

Tidak semua obat dari IFK mencukupi kebutuhan persediaan sehingga diperlukan pengadaan sendiri (BLUD).

100%

2. Penggunaan Jika obat Sudah dilakukan 100%

(44)

36

kosong maka dapat diganti dengan obat sejenisnya (Substitusi).

sesuai standar.

Contoh: Obat

Cetirizine tab kosong maka dapat diganti dengan obat CTM.

3. Obat ED Obat yang ED nya dekat maka dikeluarkan terlebih dahulu.

Sudah dilakukan sesuai standar.

Contoh: Obat Ramvit 500 mg yang ED nya

dekat maka

dikelurkan terlebih dahulu.

100%

6.8 Pencatatan dan Pelaporan

Pencatatan dan pelaporan terhadap seluruh rangkaian kegiatan dalam pengelolaan Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai, baik Sediaan Farmasi dan Bahan Medis Habis Pakai yang diterima, disimpan, didistribusikan dan digunakan di Puskesmas Aur Duri atau unit pelayanan lainnya.

Pelaporan obat di Puskesmas Aur Duri dilakukan setiap bulan sekali.

Pelaporan obat dilakukan dengan membuat LPLPO yang di kirim ke Instalasi Farmasi Kota (IFK) setiap tanggal 5 pada awal bulan.

Dari hasil pengamatan mengenai pencatatan dan pelaporan di puskesmas, didapatkan variabel hasil pencapaian didapat selengkapnya hasil pencapaian sebagai berikut:

No Variabel Standar Hasil

Pengamatan Keteranga n

% Kesesuaia

n 1 Petugas

membuat laporan

Apotek 1. Buku

harian penggunaa n obat 2. Buku

harian

1. Iya terdapat buku harian penggunaan obat

2. Ada

Sesuai 100%

(45)

kunjungan resep 3. Buku harian penerimaan obat 4. Catatan

harian pengeluara n obat (gudang) 5. Kartu stok 6. LPLPO

3. Ada

4. Ada

5. Ada 6. Ada 2 Petugas

membuat pelaporan obat narkotika dan

psikotropika

Adanya lembar laporan Narkotika psikotropika

Ada Ada

terdapat laporan penerimaan dan

pengeluaran untuk obat narkotika dan

psikotropika

100%

3 Laporan PIO

Adanya lembar PIO

Ada Sesuai 100%

4 Petugas mengisi kartu stok

Adanya kartu stok

Ada terdapat kartu stok

Sesuai 100%

% total kesesuaian = 400

400x100 %

= 100%

NO. Kelebihan RME Kekurangan RME

1. Pencatatan data pasien yang tepat dan terstruktur.

Masalah keamanan data medis pasien 2. Aksesibilitas informasi pasien yang

mudah.

Biaya implementasi dan perawatan yang mahal

3. Pemantauan kondisi pasien yang lebih baik.

Keterbatasan infrastruktur dan akses teknologi

4. Mengurangi penggunaan kertas dan meningkatkan efisiensi administrasi.

Resiko kegagalan pada sistem computer dan serangan hacker

(46)

38

6.9 Penerimaan Resep

Petugas kefarmasian memiliki peran penting dalam penerimaan resep di puskesmas. Berikut adalah langkah-langkah yang dilakukan oleh petugas kefarmasian dalam proses penerimaan resep di puskesmas Aur Duri:

1) Menerima resep: Petugas kefarmasian akan menerima resep obat dari pasien yang datang ke apotek di puskesmas. Resep berupa RME (Rekam Medik Elektronik)

2) Skrining resep: Petugas kefarmasian akan melakukan pengecekan ulang terhadap resep yang diterima. Hal ini meliputi memeriksa keberlakuan resep, memastikan identitas pasien, dosis, nama obat, dan instruksi penggunaan sesuai dengan standar farmasi yang berlaku.

3) Komunikasi dengan dokter: Jika ditemui ketidakjelasan atau ketidaksesuaian dalam resep, petugas kefarmasian akan berkomunikasi dengan dokter yang meresepkan untuk klarifikasi atau konfirmasi lebih lanjut sebelum mengisi obat.

4) Pengecekan ketersediaan obat: Petugas kefarmasian akan memeriksa ketersediaan obat yang diresepkan di apotek puskesmas. Jika obat tidak tersedia, petugas kefarmasian akan memberikan informasi kepada pasien atau berkoordinasi dengan dokter untuk alternatif obat yang sesuai.

5) Penyuluhan pasien: Petugas kefarmasian akan memberikan penyuluhan kepada pasien tentang penggunaan obat, termasuk dosis yang harus diambil, cara penggunaan yang benar, efek samping yang mungkin timbul, dan aturan penyimpanan obat.

6) Pelaporan dan pencatatan: Petugas kefarmasian akan melakukan pencatatan terhadap obat yang telah diisi sesuai dengan peraturan yang berlaku, termasuk pelaporan kepada pihak yang berwenang, jika diperlukan.

7) Penyerahan obat kepada pasien: petugas kefarmasian akan menyerahkan obat kepada pasien, bersama dengan informasi-informasi penting yang diperlukan.

6.10 Pengkajian Resep

Dalam pelayanan resep harus memenuhi persyaratan sesuai standar data – data persyaratannya dapat dilihat pada tabel.

(47)

N

o Variabel R1 R2 R3 R4 R5 %

Kesesuai an 1 SKRINING RESEP

1. Kelengkapan administrasi a. Tanggal

penulisan resep b. Nama obat c. Jumlah obat d. Nama pasien e. Aturan pakai f. Nama dokter g. No SIP

h. Paraf dan tanda tangan dokter i. BB pasien j. Umur pasien k. Jenis kelamin l. Alamat dan no

telepon

2. Kesesuaian farmasetik

a. Bentuk sediaan b. Dosis

c. Potensi

d. Kompatibilitas e. Cara dan lama

penggunaan obat

3. Pertimbangan klinik

a. Kesesuaian indikasi b. Alergi

c. Efek samping d. Interaksi e. Kesesuaian

 X

= 11

12x100 %

= 91.66%

 X X

=3

5 x100 %

= 60%

 X X X

 X

=11

12x100 %

= 91.66%

 X X

=3

5 x100 %

= 60%

 X X X

 X

= 11

12x100 %

= 91.66%

 X X

= 3

5 x100 %

= 60%

 X X X

 X

= 11

12x100 %

= 91.66%

 X X

= 3

5x100 %

= 60%

 X X X

 X

= 11

12x100 %

= 91.66%

 X X

= 3

5 x100 %

= 60%

 X X X

= 91.66%

60%

40%

(48)

40

dosis

4. Konsultasi dengan dokter apabila ada keraguan pada resep/obat yang tersedia

=2

5 x100 %

= 40%

=1

1x100 %

= 100%

= 2

5 x100 %

= 40%

=1

1x100 %

= 100%

= 2

5 x100 %

= 40%

= 1

1x100 %

= 100%

=2

5x100 %

= 40%

= 1

1x100 %

= 100%

= 2

5 x100 %

= 40%

= 1

1x100 %

= 100%

2 Penyiapan obat a. Menghitung

kebutuhan jumlah obat dengan resep b. Mengambil obat

dengan

memperhatikan nama obat, kekuatan, ED, c. Melakukan

peracikan jika perlu

d. Memberikan etiket biru untuk obat luar dan etiket putih untuk obat dalam e. Menempel label

obat “kocok dahulu” untuk sediaan sirup f. Memasukkan obat

kedalam wadah secara terpisah

-

-

= 100%

-

-

= 100%

-

-

= 100%

-

-

= 100%

-

-

= 100%

100%

3 Penyerahan obat a. Sebelum obat

diserahkan kepasien

    

(49)

dilakukan pengecekan kembali penulisan nama pasien pada etiket , cara penggunaan serta jenis dan jumlah obat

b. Memanggil nama dan nomor tunggu pasien

c. Memeriksa ulang identitas dan alamat pasien d. Menyerahkan obat dengan disertai pemberian informasi obat e. Memberikan

informasi cara penggunaan obat f. Penyerahan obat

kepasien g. Memastikan

bahwa yang menerima obat adalah

pasien/keluarga h. Menyimpan resep

pada tempatnya dan

mendokumendasi kannya

i. Membuat salinan resep sesuai dengan resep asli dan diparaf apoteker

 X

X X

= 6

9x100 %

= 66.66%

 X

X X

= 6

9x100 %

= 66.66%

 X

X X

= 6

9x100 %

= 66.66%

 X

X X

= 6

9x100 %

= 66.66%

 X

X X

= 6

9x100 %

= 66.66%

=66.66%

Jumlah Kesesuaian 358.32 5 = 71.6%

(50)

42

Contoh resep

Gambar Resep Keterangan

Resep 1

Resep 2

(51)

Resep 3

Resep 4

Resep 5

6.11 Penyiapan Obat

Gambar

Gambar Resep  Keterangan
Gambar Resep  Keterangan
Gambar Keterangan

Referensi

Dokumen terkait

Laporan kegiatan Praktik Kerja Lapangan ini disusun sebagai hasil dari kegiatan Praktik Kerja Lapangan yang telah dilaksanakan selama 2 bulan pada periode 16 Juli 2018 –

LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN DI APOTEK MURNI

Laporan Praktik Kerja Lapangan di SMK Sukapura merupakan bentuk pertanggungjawaban tertulis atas terlaksananya kegiatan

Laporan Praktik Kerja Lapangan di CV. Multi Service

Laporan Praktik Kerja Lapangan Di PT. Santaku Shinwa

Laporan praktik kerja lapangan di PT PLN (Persero) Rayon

Laporan Praktik Kerja Lapangan NCP tentang gangguan gizi masyarakat di Puskesmas Sungai Kapih, menyajikan pengalaman dan analisis di bidang gizi dan kesehatan