Laporan Praktikum Botani
“Identifikasi Bunga”
Disusun oleh:
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG
2020
Nama : Radiva Amanda Putri Budiharto NIM : 205040201111107
Kelas : I
Asisten : Amilah Putri Fadhlina
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
Bunga adalah salah satu organ tubuh tumbuhan yang memiliki fungsi sebagai alat perkembang biakan secara generative yang memiliki bentuk dan susunan yang berbeda-beda menurut jenisnya.
Jika diperhatikan lebih lanjut, kita dapat mengetahui bahwa bunga merupakan penjelmaan daru suatu tunas (batang dan daun-daun) yang bentuk, warna, dan susunannya disesuaikan dengen kebutuhan dan kepentingan daripada tumbuhan, sehingga pada bagian bunga ini dapat berlangsung penyerbukan dan pembuahan, dan akhirnya dapat menghasilkan perkembangbiakan.
Melihat dari fungsi bunga yang sangat penting bagi tumbuhan, bunga juga memiliki sifat-sifat yang merupakan penyesuaian untuk melaksanakan tugasnya sebagai penghasil dari alat perkembang biakan yang sebaik baiknya. Sifat yang menarik seperti bagian-bagiannya, letaknya, jumlahnya, dan lain sebagainya.
1.2. Tujuan
1. Mengetahui definisi dari bunga.
2. Memahami fungsi dari bunga
3. Memahami bagian-bagian daripada bunga 4. Mengetahui bunga berdasarkan letak bunga 5. Mengetahui bunga berdasarkan jumlahnya 6. Memahami bunga sebagai alat reproduksi 7. Mengetahui bunga berdasarkan simetri bunga 1.3. Manfaat
1. Dapat mengetahui definisi dari bunga 2. Dapat memahami fungsi dari bunga 3. Dapat memahami bagian daripada bunga
4. Dapat mengetahui bunga berdasarkan pada letaknya 5. Dapat mengerahui bunga berdasarkan jumlahnya 6. Dapat memahamu bunga sebagai alat reproduksi 7. Dapat mengetahui bunga berdasarkan simetri bunganya
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi Bunga
Menurut Silalahi, (2016), bunga adalah tajuk yang mengalami kondensasi untuk menjadi organ reproduktif. Bagian di mana munculnya bunga disebut juga dengan bract.
Menurut Haryudin dan Otih (2008), bunga merupakan batang dan daun yang termodifikasi yang disebabkan oleh dihasilkannya sejumlah enzim yang dirangsang oleh komposisi fitohormon tertentu.
The basic flower has a definition as a bisexual reproductive axis with carpels and stamens. The carpels differentiates the angiosperm (angio-ovulate or enclosed ovules) from the gymnosperm (gymnoovulate or naked ovules) reproductive axis (Specht and Barlett, 2009).
Bunga dasar berdefinisi sebagai sumbu reproduski biseksual degan karpel dan benang sari. Karpel yang membedalan angiospermae (angio-ovulasi atau ovulasi tertutup) dari sumbu reproduski gymnospermae (gymno-ovulata atau ovulate terbuka) (Specht dan Barlett, 2009).
Flowers is compact generative shoots consisting of three zones, namely sterile (perianth), male (androecium), and female (gynoecium) (Shipunov, 2020).
Bunga merupakan tunas generative yang kompak terdiri aas tiga zona steril (perianth), jantan (androcium), dan betina (gynoecium) (Shipunov, 2020).
2.2. Fungsi Bunga
Menurut Dewi et al., (2013), bunga berfungsi sebagai alat perkembangbiakan generatif, dan juga sebagai tempat dari terjadinya peristiwa penyerbukan dan pembuahan yang akan menghasilkan buah yang di bagian dalamnya terdapat biji yang nantinya akan membentuk tumbuhan baru.
Bunga juga berfungsi menjadi obat herbal, bahan campuran minuman, campuran dalam pembuatan produk kecantikan, dan sebagai hiasan (Wrasiati et al., 2011).
2.3. Bagian-bagian Bunga
Menurut Wardhini dan Iriawati (2014), dalam satu bunga terdapat bagian-bagian sebagai berikut:
a. Pedicellus (tangkai)
Bunga memiliki tangkai bunga yang dapat disebut dengan pedicel, yang berbentuk mengembang (swollen).
b. Receptacle / thalamus (dasar bunga) Tempat melekat semua organ bunga.
c. Sepal (kelopak bunga)
Sepal merupakan lingkaran terluar atau terdalam pada struktur bunga. Sepal pada umumnya berwarna hijau dan memiliki tampilan seperti daun meski ukurannya lebih kecil dibandingkan daun. Seluruh sepal pada bunga menyusun kaliks yang berfungsi utama dalam melindungi tunas bunga yang sedang berkembang.
d. Petal (mahkota bunga)
Petal pada umumnya berwarna mencolok, yang dapat menarik perhatian serangga dan hewan hewan lain seperti tikus, burung, dan kelelawar yang menjadi vector dalam proses penyerbukan (polinasi). Seluruh tumbuhan memiliki bunga, tetapi tidak semuanya berwarna terang. Hal ini terjadi pada bunga yang mengalami reduksi (tidak tumbuh sempurna) atau tidak ada sehingga tumbuhan hanya bergantung pada angin atau air untuk membantu polinasinya. Petal terletak di bagian dalam atau di atas sepal dan menyusun lingkaran kedua dari bunga. biasanya ukuran petal lebih besar daripada sepal. Fungsi utama dari petal yakni memberikan perlindungan tambahan di
sampong untuk menarik hewan yang membantu proses penyerbukan melalui sinyal seperti warna, pola, dan bentuk daripada bunga.
e. Stamen (benang sari)
Stamen merupakan alat reproduksi jantan yang terdiri dari antera yang menghasilkan polen dan filament yang membantu antera. Polen yang dihasilkan oleh antera tersebut akan dibawa serangga atau hewan pollinator lain ke bunga lain untuk melakukan proses fertilisasi (pembuahan).
f. Pistilum
Pistilum merupakan alat perkembang biakan betina. Pistilum terdiri dari satu atau lebih dari daun buah (carpel) yang berada di bagian tengah bunga.
kumpulan dari carpel disebut ginocium. Bunga bisa memiliki satu atau lebih dari carpel. Stilus terdiri dari 3 bagian, yakni:
1) Stigma. Stigma merupakan bagian teratas dari pistil yang biasanya lengket dan sebagai tempat melekatnya polen.
2) Stilus. Stilus memiliki bentuk seperti tabung yang memanjang yang melekatkan stigma ke ovarium (bakal buah).
3) Ovarium (bakal buah). Bagian basal dari pistil yang berupa suatu ruangan yang memiliki satu atau lebih bakal biji (ovulum) di dalamnya.
2.4. Bunga Berdasarkan Letak Bunga
Menurut Silalahi (2016), letak bunga dibagi menjadi dua, yaitu:
a. Bunga pada ujung batang (flos terminalis) Tanaman yang menghasilkan hanya satu bunga saja yang terletak pada ujung batang. Seperti pada tanaman bunga kembang merak (Caesalphinia pulcherrima).
b. Bunga di ketiak daun (flos lateralis atau flos axilaris)
Tanaman yang menghasilkan banyak bunga pada ketiak daun atau pada ujung percabangan. Contohnya pada tanaman kembang sepatu (Hibiscus rosa sinensis).
(Tjitrosoepomo, 2009) 2.5. Bunga berdasarkan jumlah bunga
Menurut Silalahi (2016), jumlah bunga yang ditinjau dari jumlah bunganya ada dua, yakni bunga tunggal (planta uniflora) dan bunga majemuk (planta multiflora). Bunga tungga hanya menghasilkan satu bunga saja, sedangkan bunga majemuk adalah bunga yang menghasilkan banyak bunga.
2.6. Bunga berdasarkan alat reproduksi
Menurut Silalahi (2016), jenis bunga ditinjau berdasarkan alat reproduksinya dibagi menjadi dua macam, yakni:
a. Bunga sempurna (perfect flower)
Bunga yang pada bagian kedua fertile atau reproduksinya (stamen dan pistilum) berada pada satu bunga. Biasa juga disebut dengan bunga hemaphrodit. Bunga sempurna belum tentu bunga lengkap.
b. Bunga tidak sempurna (imperfect flower)
Bunga yang hanya memiliki satu macam alat reproduksi, yakni stamen atau pistilum saja. Biasa disebut juga dengan bunga uniseksual.
Tumbuhan yang memiliki bunga uniseksual dibagi menjadi dua, yakni:
1. Monoecious. Ketika bunga jantan dan bunga betina terdapat pada tumbuhan yang sama.
2. Dioecious. Apabila bunga jantan dan betina hanya terdapat pada tumbuhan yang berbeda.
2.7. Bunga berdasarkan simetri bunga
Menurut Wardhini dan Iriawati (2014), jenis bunga yang ditinjau dari segi simetri terbagi menjadi dua, yaitu:
1. Bunga aktinomorf
Bunga yang memiliki banyak bidang bagi radial simetri. Contohnya pada bunga kembang sepatu (Hibiscus rosa sinensis)
2. Bunga zigomorf
Bunga yang memiliki satu bidang saja atau bersifat bilateral. Contohnya pada bangsa anggrek-anggrekan (Orchidaceae)
Namun menurut Silalahi (2016), bunga yang ditinjau dari segi simetri dibagi menjadi tiga macam, yaitu:
1. Actinomorphic atau radial
Merupakan bunga yang dibagi menjadi dua bagian sama.
2. Zygomorphic atau bilateral
Merupakan bunga yang dpat dibagi menjadi dua bagian yang sama namun hanya pada satu bidang secara vertical.
3. Asymmetrical atau irregular
Merupakan tanaman yang memiliki bunga yang tidak memiliki bidang simetri. Contohnya pada canna (Canna hybrida).
BAB III METODOLOGI 3.1. Alat dan Bahan
1. Alat
2. Bahan
3.2. Cara Kerja
3.3. Analisa Perlakuan
Hal pertama yang dilakukan adalah menyiapkan alat dan bahan, selanjutnya melakukan identifikasi terhadap spesimen, lalu catat dan dokumentasikan dari hasil yang sudah didapat dari pengamatan.
Alat Fungsi
Alat tulis Untuk mencatat hasil dari pengamatan
Kamera Untuk mendokumentasikan hasil dari
pengamatan
Spesimen Objek yang akan diamati
Bahan Fungsi
Bunga kamboja Sebagai objek pengamatan Bunga mawar Sebagai objek pengamatan Bunga melati Sebagai objek pengamatan
Siapkan alat dan bahan.
Lakukan identifikasi pada masing-masing spesimen.
Catat hasil pengamatan.
Dokumentasikan hasil pengamatan.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Klasifikasi Tanaman
1. Bunga Kamboja
Menurut Ekosari (2009) klasifikasi bunga kamboja sebagai berikut:
Divisi : Spermatophyta Subdivisio : Gymnospermae Kelas : Dicotylodeneae
Ordo : Gentiales
Familia : Apocynaceae
Genus : Adenium
Spesies : Adenium obesum 2. Melati
Menurut Rukmi (2016), klasifikasi bunga melati sebagai berikut:
(Rukmi, 2016)
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta Subdivisi : Angiospermae Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Oleales
Famili : Oleaceae
Genus : Jasminum
Spesies : Jasminum sambac L.
3. Mawar
Menurut Salafudin (2017), klasifikasi bunga mawar sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta Subdivisi : Angiospermae Kelas : Dicotylodenae
Ordo : Rosales
Famili : Rossaceae
Genus : Rossa
Species : Rosa sp.
4.2. Klasifikasi Morfologi Bunga
Bunga Letak Jumlah Kelengkapan Reproduksi Simetri Kamboja
(Adenium obesum)
Ujung batang
Tunggal Tidak lengkap
Tidak sempurna
Beraturan bentuk terompet atau corong Melati
(Jasminum sambac)
Ketiak daun
Majemuk lengkap sempurna Radial simetri
Mawar (Rosa sp.)
Akar batang
Tunggal lengkap Sempurna Radial simetri
4.3. Pembahasan
Dari penelitian yang saya lakukan menunjukkan bahwa bunga kamboja (Adenium obesum) terletak pada ujung batang, memiliki 5 kelopak, jenis bunga tidak lengkap, dan berkembang secara vegetative
Pada penelitian yang dilakukan oleh Ekosari (2009), mengatakan bahwa bunga kamboja merupakan bunga tunggal, dengan letak bunga mengelompok pada ujung ranting dengan 4-5 helaian dan memiliki bentuk seperti terompet.
Pada penelitian yang saya amati menunjukkan bahwa
Menurut Rukmi (2016), bunga melati termasuk bunga majemuk, yang tumbuh di ketiak daun, dan memiliki bunga terbatas dengan jumlah 3 atau setandan padat dengan banyak bunga. bunganya yang memiliki 4-9 kelopak.
Pada penelitian yang saya amati, menunjukkan bahwa
Menurut Pudja dan Pande (2016), bunga mawar memiliki mahkota ada yang selapis, ada juga yang bersusun. Bunga mawar termasuk bunga tunggal yang memiliki mahkota 5-7 lembar dalam satu lingkar dan ada juga yang sampai 20 lembar. Bunga mawar ini terletak menjadi satu dengan batang.
BAB V KESIMPULAN 5.1. Kesimpulan
Bunga merupakan batang dan daun yang termodifikasi. Bunga disebut bunga sempurna apabila memiliki alat perkembangbiakan jantan (benang sari) dan alat perkembangbiakan betina (putik) secara bersama-sama dalam satu organ. Bunga yang demikian disebut dengan bunga hemaphrodit. Bunga juga dapat dikatakan apabila memiliki semua bagian utama bunga. sedangkan bunga tidak sempurna apabila bunga yang tidak lengkap dan tidak memiliki satu dari bagian bunga tersebut.
5.2. Saran
Untuk dapat memahami lebih lanjut, diperlukan penjelasan lebih detail mengenai bunga dan bagian bagiannya.
DAFTAR PUSTAKA
Dewi, A. S., Hery, P., Dwi, K. W. (2013). Keanekaragaman Morfologi Bunga Pada Chysanthemum morifolium Ramat dan Varietasnya. Jurnal Ilmiah Biologi FST, 1(1).
Ekosari, A. (2009). Pengaruh GA3 dan IAA Terhadap Pembesaran Bonggol Adenium (Adenium obesum). Surakarta. Universitas Sebelas Maret
Fazri, S. F. (2016). Pengaruh Ekstrak Bunga Kamboja (Plumeria alba sp.) Terhadap Malondialdehid (MDA) Tikus Putih (Ratus norvegicus strain wistar) Yang Diinduksi Alokasan. Malang. Universitas Muhammadiyah Malang.
Haryudin, W., dan Otih, R. (2008). Karakteristik Morfologi Bunga Kencur (Kaempfria galangal L.) Bul. Litro, 19(2): 109-116.
Nurcahyo, H., dan Purgiyanti. (2017). Pemanfaatan Bunga Kamboja (Phumeria alba) Sebagai Aromaterapi Pengusir Nyamuk. Jurnal Para Pemikir, 6(1).
Rukmi Nanda. (2016). Uji Aktivitas Anti Bakteri Pada Ekstrak Daun Melati (Jasminum sambac L.) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus aureus. Banjarmasin. Universitas Muhammadiyah Banjarmasin.
Salafudin, A. (2017). Optimasi Volume Pengenceran Larutan Dye Bunga Mawar (Rosa hybrida H.) Dengan Metanol Terhadap Efisiensi DSSC.Surakarta. Universitas Sebelas Maret.
Shipunov, A. (2020). Introduction to Botany. North Dakota: Minot State University.
Silalahi, M. (2016). Morfologi Tumbuhan. Jakarta. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidiakan.
Universitas Kristen Indonesia.
Specht, C.D., M.E. Bartlett. (2009). Flower Evolution. The Origin and Subsequent Diversification of the Angiosperm Flower. Departement of plant and Microbial Biology, University of California.
Tjitrosoepomo, G. (2009). Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta. Gadjah Mada Press.
Wardhini, T. H., dan Iriawati. (2014). Embriologi Tumbuhan. Jakarta. Universitas Terbuka.
Wrasiati, L. P., Amna, H., Dewa, A. A. Y. (2011). Kandungan Senyawa Bioaktif dan Karakteristik Sensoris Ekstrak Simplisa Bunga Kamboja (Plumeria sp.) Jurnal Biologi, 15(2): 39-4
LAMPIRAN Gambar Bunga
Nama Bunga
Bunga mawar
Melati
Kamboja
Literatur Halaman