Latihan Sintesis Teks
Cecilia Nathasya Cindy_222114153
Korupsi
Korupsi memiliki perumpamaan seperti penyakit kronis yang mengancam tubuh manusia, dengan artian korupsi adalah tindakan seseorang yang mengancam proses pembangunan nasional. Korupsi tidak hanya berkaitan dengan penyalahgunaan wewenang untuk mencari keuntungan dalam bentuk uang. Korupsi memiliki keterlibatan dengan kolusi dan nepotisme yang sering dikenal dengan KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme). Korupsi bukan lagi dianggap sebagai masalah regional namun sudah dianggap sebagai kejadian internasional yang dapat mempengaruhi masyarakat dan pembangunan negara.
Menurut Black's Law Dictionary (2012: 8), korupsi adalah tindakan mencari keuntungan terhadap kewajiban dan hak orang lain. Menurut istilah hukum Inggris -Indonesia (2012: 9), korupsi adalah penyalahgunaan wewenang seseorang untuk keuntungan diri sendiri.
Definisi korupsi yang dijadikan sebagai acuan yaitu definisi yang dipakai World Bank dan UNDP, adalah “penyalahan jabatan publik bagi keuntungan pribadi”. Dapat disimpulkan bahwa korupsi adalah kegiatan yang dilakukan yang bertentangan dengan tanggung jawab dan hak orang lain untuk mendapatkan keuntungan pribadi.
Bisa dikatakan orang yang berkuasa merupakan asal mula dan penyebab utama terjadinya korupsi, karena uang yang harus dikumpulkan sangat besar. Korupsi juga timbul dari kesempatan dan keserakahan manusia untuk mencari keuntungan dengan menyalahgunakan kewajiban tanpa memperhatikan keuntungan lainnya. Menurut Syed Hussein Alatas (2016:
13), korupsi terjadi ketika seorang pejabat menerima hadiah yang berasal dari seseorang dengan maksud untuk memengaruhinya agar memberikan perhatian khusus untuk peningkatan kepentingan si pemberi. Korupsi mulai terjadi di Indonesia sejak zaman Kerajaan. Setelah proklamasi kemerdekaan, banyak pejabat Belanda yang kembali ke Indonesia, dan banyak pejabat pemerintah di Hindia Belanda terlibat dalam lingkungan yang korup.
Dalam hal korupsi, Indonesia merupakan negara yang selalu menarik perhatian berbagai pakar. Menurut Political and Economic Risk Consultancy (2009: 92), Indonesia merupakan negara terkorup di antara 12 negara di Asia karena PERC menjadikan politik sebagai salah satu komponen prioritas dalam mengukur tingkat pertumbuhan korupsi. Dalam wawancara diacara Mata Najwa, wakil gubernur mengatakan bahwa gaji seorang wakil
gubernur sudah sangat tinggi dan adanya dana operasional sebesar 1,7 miliar per bulan yang dihabiskan. Selain itu, masih banyak contoh korupsi dan kolusi dengan dalil “keuangan negara tidak merugikan”. Menurut Menteri, ketika membeli barang atau jasa untuk kebutuhan pemerintah semua jenis harga diperas dari pemasok dengan ketentuan kontrak diterima serta meminta beberapa persen yang dinyatakan pemerasan terhadap pemasok bukan negara.
Tindakan korupsi sangat merugikan berbagai pihak mulai dari masyarakat, negara, dan pembangunan nasional bangsa sehingga perlunya pencegahan dan pemberantasan untuk menangani korupsi. Upaya pencegahan dan pemberantasan korupsi dilakukan secara bersamaan, mengingat korupsi merupakan kejahatan ekonomi dan kejahatan luar biasa dalam mempengaruhi pembangunan nasional serta kesejahteraan masyarakat. Dapat dilihat bahwa hukum di Indonesia dapat digambarkan “tajam ke bawah, tumpul keatas”. Hal itu dapat dilakukan dengan membentuk serta meningkatkan kinerja Kepolisisan dan Kejaksaan, membuat peraturan yang lebih tegas dalam pengadilan tindakan korupsi, pembentukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK); Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK);
dan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).
Dalam sejarahnya, korupsi merupakan kejahatan yang sulit untuk diketahui secara langsung oleh masyarakat. Kesulitan ini bermula dari kenyatan bahwa ada dua pihak yang terlibat dalam korupsi, yaitu koruptor dan komplotannya. Keduanya berusaha menyembunyikan perbuatannya untuk mendapatkan keuntungan besar bagi diri mereka sendiri. Di Indonesia sendiri korupsi masih marak dan dapat dikatakan sebagai budaya dari masa ke masa pemerintahan. Oleh karena itu, tindak pidana yang konsisten dan konsekuen sangat penting untuk melaksanakan pilar keadilan dan kepastian hukum. Di sisi lain, penerapan hukum yang tegas menciptakan kepercayaan di antara warga negara. Sebagai dasar korupsi itu sendiri yaitu budaya antikorupsi harus dipertahankan dan dilaksanakan melalui pendidikan hukum bagi masyarakat, pendidikan antikorupsi sejak dini dan penggalakan kampanye antikorupsi. Oleh karena itu, penindakan pidana yang konsisten, dorongan seluruh warga negara yang terbuka terhadap tindak korupsi dan media juga harus membantu memastikan aparat penegak hukum menindaklanjuti laporan sesuai dengan hukum yang berlaku dan berani menuntaskan kasus korupsi.
Daftar Pustaka
Danil, H. E. (2016). Korupsi: Konsep, Tindak Pidana, Dan Pemberantasannya. Jakarta:
Rajawali Pers. diunduh https://play.google.com/books/reader?
id=7PUbEAAAQBAJ&pg=GBS.PR3&hl=id, diakses 21 Maret 2023.
Gie,r K. K. (2022). Tak Cukup Pemberantasan Korupsi. diakses 21 Maret 2023, dari https://docs.google.com/document/d/1wnJl8ftad48u_EIXYU3bWhUvRr3szJ5wSE97z I9D7_M/edit.
Jahja, J. S. (2012). Say No To Korupsi!. Jakarta: Visimedia. diunduh https://play.google.com/books/reader?id=8QFEBAAAQBAJ&pg=GBS.PR3&hl=id, diakses 21 Maret 2023.
Priyono, B. Herry (2018). Melacak Arti, Menyimak Implikasi. Jakarta: Gramedia. diunduh https://play.google.com/books/reader?id=VOp8DwAAQBAJ&pg=GBS.PR4&hl=id, diakses 21 Maret 2023.
Waluyo, B. (2014). Optimalisasi Pemberantasan Korupsi Di Indonesia. Jurnal Yuridis Vol.1
No.2, hlm. 169-182. diunduh
https://ejournal.upnvj.ac.id/Yuridis/article/download/149/122, diakses 21 Maret 2023.
Zachrie, W. d. (2009). Korupsi Mengorupsi Indonesia. Jakarta: Gramedia. diunduh https://play.google.com/books/reader?id=Ul9nDwAAQBAJ&pg=GBS.PR4&hl=id, diakses 21 Maret 2023.