• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lembaga Keuangan Islam _Penggadaian Syariah

N/A
N/A
Khilmi Zuhroni

Academic year: 2024

Membagikan "Lembaga Keuangan Islam _Penggadaian Syariah"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

i

MAKALAH

PENGGADAIAN SYARIAH

Disusun Sebagai Tugas Mata Kuliah Ekonomi Syariah

Dosen Pengampu: Khilmi Zuhroni, S.Fil.I., M.E

Oleh:

Yatmi Wulandari : 1887203028

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) MUHAMMADIYAH SAMPIT 2021

(2)

ii

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Allah swt yang telah melimpah kan rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis sehingga penulis bias menyelesaikan penulisan makalah ini. Shalawat dan salam tak lupa kami haturkan kepada junjungan kita Nabi Agung Muhammad SAW yang telah menjadi penerang bagi kita semua dan yang kita nanti-nantikan syafaatnya besok di hari kiamat.

Makalah ini berjudul “Penggadaian Syariah” ini ditulis untuk memenuhi tugas dari mata kuliah Ekonomi Syariah. Penulis merasa yakin bahwa dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Hal ini disebabkan keterbatasan yang dimiliki oleh penulis. Untuk itu penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan penulisan makalah ini baik berupa nasehat, saran, arahan dan lain sebagainya.

Selanjutnya tak lupa penulis mengucapkan rasa terima kasih yang sedalam- dalamnya kepada Bapak Khilmi Zuhroni, S.Fil.I., M.E selaku dosen Mata Kuliah Ekonomi Syariah. Pada akhirnya penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini belum mencapai kesempurnaan. Namun demikian penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya.

Sampit, 03 November 2021

Yatmi Wulandari

(3)

iii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... iii

BAB I : PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

A. Rumusan Masalah ... 2

B. Tujuan ... 2

BAB II : PEMBAHASAN ... 3

A. Sejarah Penggadaian Syariah pada saat Masa Rasullah... 3

B. Definisi Penggadaian syariah. ... 3

C. Tujuan dan Fungsi Penggadaian Syariah ... 6

D. Keunggulan dan Kekurangan Penggadaian Syariah ... 7

BAB III : PENUTUP ... 9

E. KESIMPULAN ... 9 DAFTAR PUSTAKA ...

(4)

1

BAB I

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Lembaga keuangan syariah sangat diperlukan dalam perekonomian Indonesia disaat ini, dimana lembaga keuangan syariah tersebut merupakan lembaga mediator antara kelompok masyarakat yang kelebihan dana dengan kelompok masyarakat yang memerlukan dana.

Keberadaan lembaga keuangan syariah ini dapat membantu masyarakat dalam mengatasi permasalahan hidup keuangan, atau dalam jangka panjang dapat meningkatkan taraf hidupnya.

Lembaga keuangan syariah di Indonesia terdiri dari lembaga keuangan bank dan non bank.tidak semua masyarakat dapat menikmati jasa kredit bank, apalagi masyarakat ekonomi lemah atau kurang mampu. Sebagai alternatif lain yang bisa jadi pilihan mereka adalah dengan meminjam uang ke pegadaian syariah, sebagai lembaga keuangan non bank. Masyarakat mulai banyak yang memanfaatkan jasa pegadaian syariah sebagai salah satu pilihan mereka bila membutuhkan uang dengan cepat. Pinjaman uang di pegadaian syariah diberikan kepada setiap orang tanpa memandang untuk kegiatan produksi atau konsumsi pribadi dan prosedurnya pun sangat sederhana.

Usaha pegadaian syariah terutama adalah produk gadai pada masyarakat dengan proses yang sederhana dan cepat (misal: Rahn, Arrum, Program Amanah dan Program Produk Mulia).

Pegadaian Syariah melayani hampir semua jenis kebutuhan dana, baik konsumsi dan terlebih untuk tujuan produksi. Oleh karena itu pegadaian syariah menjadi alternatif peminjaman yang semakin banyak yang dipilih masyarakat, tidak hanya dari golongan ekonomi rendah, golongan ekonomi menengah atas pun memanfaatkan jasa dari pegadaian ini (WAHAB, 2017). Dari penjelasan di atas pengadaian syaraiah merupakan badan keuangan non bank yang mampu membatu perekonomian masyarakan yang menengah kebawah dengan mudah dan tidak membabani dengan ketentuan secara islam. Untuk pembahasan lebih lengkapanya akan di bahas di pembahasan

(5)

2

A. Rumusan Masalah

1. Bagaimana sejarah penggadaian syariah?

2. Apa yang di maksud dengan pegadaian syariah?

3. Apa tujuan dan fungsi penggadaian syariah?

4. Apa saja keunggulan dan kekurangan penggadaian syariah?

B. Tujuan

1. Utuk mengetahua sejarah munculnya pengadaian syariah.

2. Untuk memahami pengertian pengadaian syariah.

3. Agar mengetahui tujuan dan fungsi penggadaian syariah

4. Agar mengetahui keunggulan dan kekurangan penggadaian syariah.

(6)

3

BAB II PEMBAHASAN

A. Sejarah Penggadaian Syariah pada saat Masa Rasullah

Pegadaian pada masa rasulullah maupun pada masa sahabat dan perkembangannya telah banyak dipraktikkan oleh umat Islam, hal ini bahwa gadai itu adalah syariat karena disebutkan dalilnya. Meskipun di dalam Alquran disebutkan dalam keadaan tertentu, tetapi itu tidak membatasi orang untuk melakukan gadai. Seperti yang telah dicontohkan Rasulullah bahwa beliau melakukan gadai tidak dalam keadaan safar seperti yang disebutkan dalam Alquran. Hal ini dikarenakan pada esensinya gadai itu dilakukan pada saat orang ingin bermuamalah tapi tidak secara tunai. Jika diteliti banyak hadits-hadits yang mengindikasikan bahwa telah banyak praktik gadai pada masa rasulullah, sehingga rasul menunjukan tata cara pengambilan manfaat barang gadai melalui haditsnya, bahkan ada salah satu sumber menyebutkan bahwa pada zaman jahiliyah, jika rahn tidak bisa membayar utang pada waktu yang telah ditetapkan maka barang agunan langsung menjadi milik murtahin. Lalu praktek ini dibatalkan oleh Islam. Rasulullah bersabda: “agunan (barang gadai) itu tidak boleh dihalangi dari pemiliknya yang telah menggadaikannya, ia berhak atas kelebihan (manfaat) dan wajib menanggung kerugian (penyusutan) (HR as Syafi‟i, al Baihaki, ibn Hibban dan ad Daruqutni).

B. Definisi Penggadaian syariah.

Pegadaian syariah dilaksanakan berdasarkan pada ketentuan Hukum Islam, yaitu Alquran dan hadis, serta fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia. Kegiatan gadai syariah merupakan suatu gejala ekonomi yang baru lahir semenjak regulasi Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998.Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang perbankan syariah. Regulasi ini direspon Dewan Syariah Nasional dengan

(7)

4

mengeluarkan fatwa Nomor 25/DSN-MUI/III/2002 tentang rahn dan fatwa Nomor 26/DSN-MUI/III/2002 tentang Rahn Emas.

Pengertian gadai (ar-rahn) menurut Wahbah Al-Zulaihi dari pandangan empat mazhab:

1. Ulama Syafi‟iyyah mendefinisikan akad ar-rahn adalah: “Menjadikan al-Ain (barang) sebagai watsiqah (jaminan) utang yang barang itu digunakan untuk membayar utang tersebut (al Marhuun bihi) ketika pihak al-Madiin (pihak yang berutang, arRaahin) tidak bisa membayar utang tersebut”.16 Definisi di atas menegaskan bahwa mazhab ini tidak membolehkan rahn hanya dengan sesuatu barang yang diambil manfaatnya saja, karena manfaat sesuatu mungkin bisa habis dan hilang, sehingga tidak bisa dijadikan jaminan yang bisa diukur nilai dan harganya.

2. Ulama Hanabilah mendefinisikan ar-Rahn adalah: “Harta yang dijadikan sebagai watsiqah (jaminan) utang yang ketika pihak yang menanggung utang tidak bisa melunasinya, maka utang tersebut dibayar dengan menggunakan harga hasil penjualan harta yang dijadikan watsiqah (jaminan) tersebut.

3. Ulama Malikiyyah mendefinisikan ar-Rahn adalah: “Sesuatu yang mutamawwal (berbentuk harta dan memiliki nilai) yang diambil dari pemiliknya untuk dijadikan watsiqah (jaminan) utang yang lazim (keberadaannya sudah positif dan mengikuti) atau yang akan menjadi laazim”.

4. Ulama Hanafiah mendefinisikan ar-Rahn adalah: “Menjadikan sesuatu untuk dijaminkan dan dapat membayar utang tersebut dengan jaminan tersebut”.

Pengertian yang dikemukakan oleh Ulama Hanafiyah menunjukkan bahwa besarnya jaminan tidak harus sebanding dengan besarnya pinjaman, artinya barang jaminan bagi kelompok ini boleh lebih kecil dari nilai utang. Karena barang jaminan posisinya adalah penguat perjanjian.

(8)

5

Definisi yang diungkapkan oleh para Ulama-ulama tersebut terbagi menjadi dua pandangan, yaitu mengenai barang yang boleh dijadikan sebagai barang jaminan utang. Definisi yang dikemukakan Syafi‟iyyah dan Hanabilah menunjukkan pengertian bahwa barang yang boleh dijadikan (agunan) utang hanyalah harta yang bersifat materi, tidak termasuk didalamnya manfaat sebagaimana yang dikemukakan ulama Malikiyah, sekalipun sebenarnya manfaat itu menurut mereka (Syafi‟iyyah dan Hanabilah) termasuk dalam pengertian harta.

Adapun akad dalam penggadaian syariah yaitu : 1. Gadai Qard Al-Hasan

Akad qard al-hasan adalah suatu akad yang dibuat oleh pihak pemberi gadai dengan pihak penerima gadai dalam hal transaksi gadai harta benda yang bertujuan untuk mendapatkan uang tunai yang diperuntukkan untuk konsumtif.

2. Gadai al-Mudharabah

Akad al-Mudharabah dilakukan untuk nasabah yang menggadaikan jaminannya untuk menambah modal usaha (pembiayaan investasi dan modal kerja). Dengan demikian, rahin akan memberikan bagi hasil (berdasarkan keuntungan) kepada murtahin sesuai dengan kesepakatan, sampai barang yang dipinjam dilunasi.

3. Gadai Bai‟ al-Muqayadah

Akad Bai‟ al-Muqayadah sementara akad ini dilakukan jika rahin yang menginginkan menggadaikan barangnya untuk keperluan produktif, artinya dalam menggadaikan, rahin tersebut menginginkan modal kerja berupa pembelian barang. Sedangkan barang jaminan yang dapat dijaminkan untuk akad ini adalah barang-barang yang dapat dimanfaatkan atau tidak dapat dimanfaatkan oleh rahin atau murtahin. Dengan demikian, murtahin akan memberikan barang yang sesuai dengan keinginan rahin atau rahin akan memberikan mark-up kepada murtahin sesuai dengan kesepakatan pada saat akad berlangsung sampai batas waktu yang telah ditentukan.

(9)

6

Berakhirnya Akad Gadai Akad gadai akan berakhir apabila:

a. Barang gadai telah diserahkan kembali pada pemiliknya b. Rahin telah membayar hutangnya

c. Pembebasan utang dengan cara apapun, walaupun dengan pemindahan oleh murtahin d. Pembatalan oleh murtahin walaupun tidak ada persetujuan dari pihak lain

e. Rusaknya barang rahin bukan oleh tindakan atau pengguna murtahin

f. Pemanfaatan barang rahn dengan penyewaan, hibah atau shadaqah baik dari pihak rahin maupun murtahin.

Pegadaian sebagai lembaga keuangan tidak diperkenankan menghimpun dana secara langsung dari masyarakat dalam bentuk simpanan, misalnya giro, deposito, dan tabungan. Untuk memenuhi kebutuhan dananya, perum pegadaian memiliki sumber-sumber dana sebagai berikut:

• Modal sendiri

• Penyertaan modal pemerintah

• Pinjaman jangka pendek dari perbankan

• Pinjaman jangka panjang yang berasal dari Kredit Lunak Bank Indonesia

• Dari masyarakat melalui penerbitan obligasi

C. Tujuan dan Fungsi Penggadaian Syariah 1. Tujuan Penggadaian syariah

Sifat usaha pegadaian pada prinsipnya menyediakan pelayanan bagi kemanfaatan umum, dan sekaligus memupuk keuntungan berdasarkan prinsip pengelolalan. Oleh karena itu, pegadaian memiliki tujuan sebagai berikut:

a. Turut melaksanakan dan menunjang pelaksanakan kebijakan dan program pemerintah dibidang ekonomi dan pembangunan nasional pada umumnya melalui penyaluran uang pinjaman/pembiayaan atas dasar hukum gadai.

(10)

7

b. Untuk mengatasi agar masyarakat yang sedang membutuhkan uang, tidak jatuh ketangan para pelepas uang atau tukang ijon, atau tukang rentenir yang bunganya relatif tinggi.

c. Mencegah praktik pegadaian gelap dan pinjaman yang tidak wajar Kemudian dalam PP RI No.103 tahun 2000, tujuan perum pegadaian dipertegas, yaitu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama golongan menengah kebawah, melalui penyediaan dana atas dasar hukum gadai. Juga menjadi penyedia jasa di bidang keuangan lainnya. Berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang berlaku, serta menghindari masyarakat dari gadai gelap, praktik riba, dan pinjaman yang tidak wajar lainnya.

2. Fungsi Penggadaian Syariah

Sedangkan fungsi pokok pegadaian menurut Usman adalah sebagai berikut:

a. Mengelola penyaluran uang pinjaman atas dasar hukum gadai dengan cara mudah. cepat, aman, dan hemat.

b. Menciptakan dan mengembangkan usaha-usaha lain yang menguntungkan bagi lembaga Pegadaian maupun masyarakat.

c. Mengelola keuangan, perlengkapan, kepegawaian, dan diklat d. Mengelola organisasi, tata kerja, tata laksana pegadaian dan

e. Melakukan penelitian dan pengembangan, serta mengawasi pengelolaan Pegadaian

D. Keunggulan dan Kekurangan Penggadaian Syariah 1. Keunggulan Penggadaian Syariah

Pegadaian syariah dalam perspektif perum pegadaian hadir untuk menjawab kebutuhan transaksi gadai sesuai syariah, untuk solusi pendanaan yang cepat, praktis dan aman. Oleh karena itu, hanya dalam waktu 15 menit kebutuhan masyarakat yang memerlukan dana akan terpenuhi, tanpa perlu membuka rekening ataupun prosedur lain yang memberatkan. Customer perum pegadaian cukup perlu membawa barang-barang berharga miliknya,

(11)

8

dan saat itu juga akan mendapat dana yang dibutuhkan dengan jangka waktu hingga 120 hari dan dapat dilunasi sawaktu-waktu. Jika masa jatuh tempo tiba dan nasabah masih memerlukan dana tersebut dapat diperpanjang hanya dengan membayar sewa simpan dan pemeliharaan serta biaya administrasi.

Pemberian gadai syariah berasal dari sumber yang sesuai dengan syariah, proses gadai berlandaskan prinsip syariah, serta didukung oleh petugas-petugas dan gerai dengan nuansa Islami sehingga lebih syar‟i dan menentramkan. Menentramkan karena sumber dana yang dimiliki oleh pegadaian syariah didapat dari sumber dana yang halal dan sesuai dengan prinsip syariah. Produk dan layanan pencairan kredit pada kantor pegadaian syariah pada umumnya hanya menggunakan produk layanan rahn dan ijarah saja. Padahal, sebuah lembaga pegadaian idealnya tidak hanya melayani dua model saja (MUNAWAROH, 2017).

2. Kekurangan Penggadaian Syariah

a. Berprasangka baik kepada semua nasabahnya dan berasumsi dan bahwa semua orang yang terlibat dalam perjanjian bagi hasil adalah jujur, yang hal akan menjadi boomerang bagi lembaga gadai syariah,

b. Memerlukan metode perhitungan yang rumit, apabila digunakan bagi hasil terutama dalam menghitung biaya yang dibolehkan dan pembagian laba untuk nasabah-nasabah yang kecil, sedangkan juklak dan juknis masih belum sempurna,

c. Karena menggunakan konsep bagi hasil, pegadaian syariah lebih banyak memerlukan tenaga-tenaga profesional yang handal, bukan hanya mengertikan operasional gadai syariah, namun juga mengerti tentang

„aturan‟ Islamnya itu sendiri, yang hal ini masih minim dimiliki oleh pegadaian syariah,

d. Keterbatasan murtahin yang dapat dijadikan jaminan,

e. Memerlukan adanya seperangkat peraturan dalam pelaksanakannya untuk pembinaan dan pengawasannya

(12)

9

BAB III PENUTUP

E. KESIMPULAN

Penggadaian syariah adalah lembaga non bank yang memberi pinjaman atau kredit berupa uang kepada nasabah dengan memberi jaminan berupa harta yang di miliki nasabah, pengadaian syariah dilakukan berdasarkan ketentuan atau perjanjian yang di lakukan secara prinsip syariat islam. Sifat usaha pegadaian pada prinsipnya menyediakan pelayanan bagi kemanfaatan umum, dan sekaligus memupuk keuntungan berdasarkan prinsip pengelolalan. Tujuan penggadaian meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama golongan menengah kebawah, melalui penyediaan dana atas dasar hukum gadai.

Juga menjadi penyedia jasa di bidang keuangan lainnya. Berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang berlaku, serta menghindari masyarakat dari gadai gelap, praktik riba, dan pinjaman yang tidak wajar lainnya.

(13)

DAFTAR PUSTAKA

1. MUNAWAROH, J. T. (2017). REGULASI DAN IMPLEMENTASI PEGADAIAN SYARIAH DI INDONESIA . Yogyakarta. : K-Media .

2. Randi Saputra, K. M. (2017). ANALISIS POTENSI DAN KENDALA PENGEMBANGAN PEGADAIAN SYARIAH DI KOTA MEDAN . Jurnal Ekonomi dan Keuangan , 221-223.

3. WAHAB, W. (2017). PENGARUH KUALITAS PELAYANAN TERHADAP KEPUASAN NASABAH PEGADAIAN SYARIAH DI KOTA PEKANBARU. Al Masraf: Jurnal

Lembaga Keuangan dan Perbankan, 27-41.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan perolehan dari simpulan pada penelitian analisis model bisnis kanvas kepada Lembaga Keuangan Mikro Syariah di lokasi KJKS BMT UGT Sidogiri, maka saran yang

Definisi level mikro antara perbankan dengan BMT/koperasi jasa keuangan syariah (KJKS) memiliki perbedaan yang mendasar. Level mikro bagi perbankan formal

Merupakan evaluasi produk musyarakah dari pengoperasian sampai perlakuan akuntansi pada lembaga keuangan syariah mikro dengan prinsip syariah dan standar akuntansi syariah yang

1808202141 dengan judul “PENYELESAIAN KREDIT BERMASALAH MELALUI PENJUALAN DI BAWAH TANGAN DI KOPERASI JASA LEMBAGA KEUANGAN MIKRO SYARIAH (KJLKMS) BMT TALAGA KABUPATEN

Kesimpulannya adalah, perbankan syariah mengalami perkembangan persepsi yang dinamis pada mahasiswa akuntansi dan sudah mengalami kemajuan akan tetapi juga tidak terlepas

BMT merupakan kependekan kata Balai Usaha Mandiri Terpadu atau Bautul Mal wat Tamwil, yaitu lembaga keuangan mikro (LKM) yang beroperasi berdasarkan prinsip-prinsip

Baitul Maal wat Tamwil (BMT) atau Balai Usaha Mandiri Terpadu, juga bias diartikan sebagai lembaga keuangan mikro yang dioperasikan dengan prinsip bagi hasil, menumbuh

Kesimpulan penelitian dengan metode studi pustaka, bahwa Perbankan Syariah atau Lembaga Keuangan Syariah bukanlah sistem financial sector based banking saja sebagaimana Perbankan