Dilarang mengutip sebagian atau seluruh isi buku ini dengan cara apapun, termasuk menggunakan mesin fotokopi, tanpa izin yang sah dari penerbit 2020.2741RAJ. Oleh karena itu, penulis mengharapkan pembaca dapat memberikan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan buku ini.
KEBUDAYAAN 271
FENOMENA KOMUNIKASI ANTARBUDAYA 289 A. Komunikasi: Basic Social Process 289
PENDEKATAN KONSEPTUAL UNTUK
Perkembangan Media Komunikasi
Inilah salah satu ciri lingkungan media baru menurut McNamus (dalam Severin dan Tankard) bahwa terjadi pergeseran dari ketersediaan media yang sebelumnya langka menjadi terbatasnya akses media yang melimpah. industri media untuk menghasilkan media yang lebih beragam; Kondisi ini setidaknya dibuktikan dengan konvergensi media yang tidak hanya dalam bentuk cetak, tetapi juga masyarakat dapat menemukan media yang sama dalam bentuk elektronik.
PENGANTAR TEORI MEDIA
Antara Media dan Medium
Seiring dengan pertumbuhan e-book di Inggris, penjualan buku cetak juga turun sekitar tujuh persen atau sekitar £1,579 miliar pada tahun 2011. Setidaknya buku cetak: (1) lebih enak dan sehat di mata daripada membaca di layar komputer; (2) format e-book yang terkadang dibuat khusus untuk perangkat tertentu sehingga tidak mudah dibaca di perangkat lain; (3) ringan, murah, tidak membutuhkan listrik, tidak khawatir virus, tidak khawatir rusak dan dapat (aman) dibawa ke pantai (Rodman, 2006: 49).
KOMUNIKASI
INTERPERSONAL DALAM PEMBELAJARAN
Memahami Komunikasi Interpersonal
Dari perspektif proses, komunikasi interpersonal dipandang sebagai proses pertukaran makna antara orang-orang yang berkomunikasi. Suasana akrab dan pengaruh timbal balik antara orang-orang yang terlibat adalah fitur komunikasi interpersonal.
Komunikasi Interpersonal dalam Komunikasi Pembelajaran
Komunikasi yang dilakukan guru di dalam kelas juga dapat menunjukkan bagaimana guru bersedia dan siap melakukan komunikasi interpersonal dengan siswanya. Guru juga dapat membuka komunikasi antarpribadi dengan siswanya dengan menunjukkan atau membuka diri.
Komunikasi Interpersonal dan Pembelajaran Efektif
Pembelajaran yang efektif biasanya didefinisikan sebagai proses pembelajaran yang keefektifannya ditentukan oleh faktor-faktor: (1) penguasaan alat peraga, (2) kompetensi pedagogik, (3) penyampaian bahan ajar yang efektif, dan (4) keterampilan pengelolaan kelas (lihat Knoell) . Sedangkan makna dari hubungan siswa-guru adalah “membangun lingkungan belajar yang berpusat pada siswa yang bercirikan hubungan yang hangat dan saling mendukung antara guru dan siswa”.
Kecakapan Interpersonal Guru
Guru tampil sebagai pribadi yang positif dan optimis, sehingga di mata siswanya guru dipandang sebagai pribadi yang menyenangkan bagi lingkungannya. Misalnya, guru tampil sebagai pribadi yang bertanggung jawab, dapat diandalkan, jujur, berdedikasi, tulus dan adil.
KOMUNIKASI KELOMPOK DALAM PEMBELAJARAN
Komunikasi dalam Kelompok Pembelajaran
Dalam proses pembelajaran di berbagai jenjang pendidikan sering terdengar istilah “kerja kelompok”. Selain itu, perbedaan pendapat di antara anggota kelompok juga dapat terjadi, yang sebagian besar dapat diselesaikan melalui mekanisme intra-grup. Semua anggota kelompok menyadari perannya sebagai pembicara dan pendengar, sehingga komunikasi yang berlangsung dalam kelompok adalah komunikasi yang produktif.
Pembelajaran Kelompok
Guru juga berperan sebagai seseorang yang dapat mendorong kelompok untuk menggunakan sumber daya yang dimiliki kelompok. Kolaborasi ini terjadi ketika orang yang memiliki pengetahuan dan keahlian bekerja sama dengan orang yang tidak memiliki banyak pengetahuan, misalnya kolaborasi guru dan siswa. Dalam komunikasi ini, guru yang berkomunikasi dengan siswanya harus melihat siswanya sebagai orang yang berilmu, demikian pula guru harus.
Mengelola Pembelajaran dalam Kelompok
Pengelolaan kelompok belajar yang paling penting yang dapat dilakukan guru adalah bagaimana mengelola kegiatan diskusi yang dilakukan oleh siswa secara berkelompok. Diskusi yang dilakukan dalam kelompok ini dapat berupa diskusi untuk memahami teks tertentu, misalnya novel atau naskah peraturan perundang-undangan, diskusi hingga. Karena memang tidak ada tolok ukur atau aturan khusus yang menentukan kapan kita boleh mengintervensi diskusi yang berlangsung secara berkelompok.
KOMUNIKASI PUBLIK DALAM PEMBELAJARAN
Guru Sebagai Komunikator
Gorham mengemukakan bahwa ada enam komponen gaya komunikasi yang penting untuk gaya komunikasi guru yang efektif dan afektif. Guru seperti itu dilihat oleh siswanya sebagai orang yang dapat mengendalikan diri, terkoordinasi, kompeten, dan percaya diri. Guru dipandang sebagai orang yang terkadang aneh dan berkomunikasi dengan sangat berpengaruh.
Penyusunan Pesan Pembelajaran
Pendekatan ini menuntut guru untuk memiliki kemampuan menginterpretasikan semua sudut pandang berdasarkan bahan ajar yang disampaikan oleh guru dan didiskusikan oleh siswanya. Jenis komunikasi ini sangat umum terjadi dalam praktik pengajaran, terutama di ruang kelas yang kegiatan pembelajarannya terfokus pada materi pembelajaran; Menghubungkan suatu materi pembelajaran dengan materi pembelajaran lainnya atau menghubungkan materi pembelajaran dengan pengalaman hidup siswa.
Komunikasi Publik dalam Pembelajaran
Jika guru hanya duduk, maka interaktif tertinggi baik verbal maupun nonverbal adalah dengan siswa duduk di barisan paling belakang. Nantinya, siswa yang biasanya bertanya atau menyampaikan pendapat akan memilih tempat duduk yang membuat mereka nyaman berkomunikasi. Di kelas konvensional, rasa kantuk biasanya lebih cepat menyerang siswa yang duduk di barisan belakang.
Era Media Baru
Namun pada dasarnya penyebutan yang berbeda memiliki mulut yang sama, yaitu merujuk pada perangkat media, baik perangkat keras maupun perangkat lunak. Penulis juga berpendapat bahwa penggunaan istilah cybermedia lebih tepat karena Pertama, kata tersebut dapat dimasukkan dalam kelompok kajian sibernetika seperti cyberculture atau budaya siber, yang sebagaimana telah dijelaskan pada bab sebelumnya, penyebutan media tidak hanya mengacu pada teknologi. , tetapi juga aspek sosial, politik, ekonomi, budaya, dll. Kedua, kata cyber sendiri merupakan wacana yang dapat ditelusuri dan mengandung makna yang cukup luas, seperti yang akan dijelaskan pada bab ini.
MENDEFINISIKAN MEDIA SIBER
Tinjauan Atas “Cyber”
Gibson kemudian memperkenalkan istilah “cyberspace” untuk menjelaskan bahwa ada tempat-tempat yang tidak nyata, namun keberadaannya dapat dirasakan bahkan menjadi nyata di dalam pikiran. Contoh lain untuk menjelaskan bahwa dunia maya bukan sekadar halusinasi lain, penulis meminjam penjelasan yang digunakan oleh Sean Cubbit tentang keberadaan diri di layar melalui perangkat tetikus atau tetikus (lihat juga Bell, 2001). Semua definisi ini mencoba menjelaskan apa sebenarnya realitas di dunia maya, yaitu nyata di benak individu.
Portal Menuju Ruang Siber
JENIS-JENIS MEDIA SIBER
Jenis-jenis Media Siber
- Situs (Website)
- Forum di Internet (Bulletin Boards)
- Blog
- Wiki
- Aplikasi Pesan
- Internet “Broadcasting”
- Peer-to-peer
- The RSS
- MUDs
- Media Sosial (Social Media)
Dari penjelasan di atas dapat menjadi dasar untuk melihat berbagai jenis media siber dan juga standar kerja dari media siber itu sendiri. Seperti yang telah dijelaskan pada pendahuluan bab ini, penggunaan situs web sebagai salah satu jenis media siber sebenarnya dapat menjelaskan berbagai bentuk media siber. Utilitas milis atau juga dikenal sebagai "milis" adalah jenis media dunia maya yang digunakan untuk komunikasi.
IMPLIKASI KEHADIRAN MEDIA SIBER
Media
- Menipisnya Hegemoni dan Berkembangnya Demokratisasi Media
- Berubahnya Organisasi dan Kultur Media
- Penjualan dan Periklanan
Dalam proses produksi-distribusi konten, menurut Albaran, institusi media setidaknya harus mempertimbangkan: Pertama, produk apa yang akan diproduksi. Namun, kehadiran media yang berbeda pada dasarnya memberikan kesempatan bagi warga negara untuk memutuskan media mana yang harus mereka akses. Dengan demikian, kehadiran media siber dan maraknya media jurnalisme warga tidak hanya berkontribusi pada keragaman media dalam penerbitan dan distribusi konten media, tetapi juga menjadi salah satu pesaing industri media dalam hal penjualan.
Berita
Namun, perbedaan yang paling tajam antara jurnalis di media tradisional dan jurnalisme warga adalah bahwa hasil konstruksi realitas dapat dikatakan direalisasikan secara mandiri oleh warga sendiri tanpa campur tangan birokrasi redaksi seperti yang terjadi di lembaga media. Publik dengan segala pertimbangan dan niatnya menerbitkan sebuah realitas yang berada di luar dirinya untuk menjadi sebuah realitas yang menurutnya layak untuk diakui oleh orang lain dalam media citizen journalism. Sebuah berita mungkin hanya berisi apa dan/atau bagaimana dalam media jurnalisme warga, sedangkan berita lainnya berisi opini warga.
Karakter Khalayak di Media Tradisional
KHALAYAK MEDIA SIBER
Bergesernya Tipe Khalayak
Cybermedia juga memberikan kebebasan kepada khalayak untuk mentransformasikan dirinya untuk kepentingan khalayak lainnya (lihat Jordan, 1999; Bell, 200; Castel, 2009; Johnson, 1997; Meyrowitz, 1995; Turkle, 1995). Yang lebih unik lagi, posisi masyarakat tidak lagi dipisahkan antara konsumen atau produsen di media siber. Perusahaan media siber juga harus menyediakan staf untuk tidak hanya mengelola situs jurnalisme warga, tetapi juga menangani urusan administrasi.
Tipe Khalayak dan Ruang Publik
- Kemunculan Warga Sebagai Penjaga (Watchdog)
- Pendefinisian Terhadap Kredibilitas
- Warga, Antara Profesional dan Amatir
- Warga Sebagai Audiences Global
Selain itu, media internet dalam beberapa kasus mirip dengan media jurnalisme warga, dan lebih tepatnya dalam hal ruang virtual untuk ekspresi atau konstruksi. Di satu sisi, media tradisional membutuhkan pekerja profesional (jurnalis), di sisi lain media citizen journalism hampir tidak membutuhkan “profesionalisme”. Keterbatasan ini berarti jangkauan media tradisional tidak bisa lebih besar dalam media citizen journalism, apalagi dalam konteks ini di media online atau jurnalisme warga online.
Media Siber Sebagai Media Komunikasi
KOMUNIKASI DI MEDIA SIBER
Komunikasi Termediasi Komputer
Komunikasi yang terjadi di media siber lebih mengandalkan teks, baik teks dalam arti sebenarnya maupun simbol, ikon, atau penanda lain yang mewakili maksud pesan. Karena sejak lama komunikasi antar manusia dimediasi oleh teknologi seperti televisi, telepon, dll. Keempat, bahwa interaksi yang terjadi tidak memerlukan kesamaan seperti status atau tingkat pengetahuan (astigmatik).
Teks: Netlingo dan Netspeak
- Netspeak
- Netlingo
Ada dua istilah yang dapat digunakan untuk mendekati bahasa media siber “Netspeak” dan “Netlingo”. Tipografi tekstual yang muncul dan berkembang di media siber terkadang berupa kata (morfem), huruf (grafem), serta tanda baca dan penggunaan simbol atau gambar tertentu. Berbeda dengan netspeak, netlingo di media siber adalah menulis seolah-olah tertulis, yaitu berbicara.
Bagaimana Perkembangan Bahasa di Media Baru?
Perangkat media siber menjadi semacam pabrik yang akan mengolah bahan mentah menjadi teks yang dapat dibaca. Halaman media siber tidak hanya berisi teks atau foto, tetapi juga dapat digabungkan dengan video, musik, animasi, dll. Artinya, komunikasi yang muncul di media siber dapat berupa artefak atau terdokumentasi yang dapat dilihat kapan saja.
RUANG INFORMASI PUBLIK DI MEDIA SIBER
Ruang Publik Harbermas
Sebuah karakter yang dapat membuat kita memahami apa yang dimaksud Habermas dengan ruang publik. Tafsir menjadi lebih beragam dan bisa datang dari siapa saja di ruang publik ini. Inilah yang menjadi semacam ambiguitas di ruang publik, di mana keberadaan ruang privat tak pelak bercampur baur.
Antara Public Sphere dan Public Space
Keberadaan wall atau tembok sebagai tempat pengguna untuk menyampaikan ide, mempublikasikan pendapatnya atau menginformasikan sebuah realitas politik belum tentu dikatakan sebagai upaya pengguna untuk melakukan debat kritis karena tidak terjadi di ruang publik. Melalui pendekatan kultural, Internet menyediakan/melahirkan ruang publik atau ruang maya bagi budaya baru dalam proses demokratisasi. Mengkritisi ruang publik Habermas, bahwa ruang virtual telah melahirkan berbagai bentuk ruang publik yang tidak hanya diisi oleh kaum borjuasi tetapi melibatkan entitas yang lebih beragam.
Peran Ruang (Publik) Virtual
Keberadaan Internet yang tidak begitu lama jika terdesentralisasi juga menjadi kritik terhadap ruang virtual bagi Benkler. Dibandingkan dengan media tradisional seperti surat kabar, televisi dan radio, keberadaan internet sebagai ruang maya pun tidak dapat menggantikan peran pengawas. Sama halnya dengan ruang publik Habermas bahwa dalam ruang virtual juga ada yang disebut batasan keterlibatan pengguna.