INTERPERSONAL DALAM PEMBELAJARAN
C. Komunikasi Interpersonal dan Pembelajaran Efektif
lebih memungkinkan untuk berkomunikasi, memahami, dan terlibat dalam interaksi lebih lanjut dibandingkan dengan mereka yang dipandang memiliki perbedaan.
Homofili--istilah yang pertama kali dikemukakan Paul Lazarsfeld dan Robert K. Merton tahun 1954--digunakan Rogers (2003: 19) untuk menunjukkan derajat kesamaan dalam status sosio-ekonomi, pendidikan, nilai, dan lain-lain. Individu cenderung memilih orang lain yang memiliki kesamaan. Komunikasi menjadi lebih efektif terjadi di antara mereka yang memiliki kesamaan itu.
Karena itu, membangun banyak kesamaan menjadi bagian penting dalam proses komunikasi interpersonal ini. Orang akan saling percaya kalau menemukan di antara mereka ada banyak kesamaan, seperti kesamaan selera atau pandangan tentang keadaan sosial. Orang juga akan makin dekat satu sama lain manakala mereka menemukan pada dirinya terdapat banyak kesamaan dan kesesuaian latar belakang. Guru akan dipandang memiliki banyak kesamaan oleh siswanya, bila guru tersebut membuka dan menyatakan dirinya sehingga siswa bisa menilai seberapa banyak kesamaan dan kesesuaian antara guru dan dirinya. Kita bisa melihat apa yang dikemukakan Gehlbach, Brinkworth, dan Harris (2012) yang menjelaskan relasi guru-siswa berkait dengan prestasi dan motivasi siswa. Misalnya, para siswa yang memandang gurunya lebih bersifat suportif memiliki prestasi pembelajaran matematika yang lebih baik.
yang memandang pentingnya para guru memiliki kompetensi interpersonal karena kompetensi ini merupakan prasyarat penting pembelajaran dengan menggunakan pendekatan pembelajaran aktif untuk mencapai pembelajaran efektif. Pembelajaran efektif biasanya dirumuskan sebagai proses pembelajaran yang efektivitasnya ditentukan faktor-faktor: (1) penguasaan materi pembelajaran, (2) kompetensi pedagogis, (3) penyampaian bahan ajar secara efektif, dan (4) keterampilan manajemen kelas (lihat, Knoell, 2012: 10-11).
Selanjutnya, dengan mengutip McEwan (2002), Knoell menyebutkan, ada banyak penelitian yang menunjukkan bahwa pembelajaran efektif itu merupakan panduan antara penyampaian materi pembelajaran dengan perhatian dan kepedulian terhadap siswa. Dengan demikian, di dalamnya ada dimensi isi pembelajaran dan relasi antara pendidik dan peserta didik.
Kemampuan guru untuk memperhatikan dimensi isi dan relasi dalam pembelajaran ini dipandang sebagai hal penting untuk menjadi guru efektif. Masuk ke dalam dimensi relasi ini adalah kemampuan guru untuk menjalin hubungan dengan siswanya, yakni kemampuan menumbuhkembangkan relasi yang biasanya disebut “pedagogi pengasuhan”. Pianta seperti dikutip Knoel, merumuskan relasi siswa dan guru sebagai “pengalaman berbasis emosi (emotions-based) yang muncul dan interaksi yang berlangsung antara guru dan siswa.”
Sedangkan makna relasi siswa-guru itu adalah untuk “membangun lingkungan pembelajaran yang berpusat pada siswa yang ditandai dengan relasi yang hangat dan mendukung antara guru dan siswa”. Guru efektif itu adalah guru yang “manusiawi” dalam artian yang sepenuhnya.
Lebih lanjut, Hargreaves seperti dikutip Knoell, menunjukkan,
“pembelajaran yang baik itu dipenuhi dengan emosi positif.
Pembelajaran yang baik itu bukan soal mengetahui materi pembelajaran, membelajarkan secara efisien, memiliki kompetensi yang dituntut, atau menggunakan teknik pembelajaran yang tepat. Guru yang baik itu bukanlah mesin dengan minyak pelumas yang bagus. Guru adalah makhluk yang memiliki ikatan emosional dan semangat yang berhubungan dengan siswa dan menjalankan pekerjaan dan melakukan pembelajaran dengan penuh rasa senang, kreativitas, tantangan, dan menikmati pekerjaannya.” Hal lain menyatakan, “ikatan emosional yang erat antara guru dan siswa membuat para siswa memandang
sekolah sebagai ‘rumah yang jauh dari rumah’. Para guru bekerja untuk pertumbuhan dan perkembangan siswa dengan membantunya mengilham siswa sehingga bisa memenuhi tuntutan sekolah secara akademis dan behavioral.”
Selain itu, Knoell pun mengutip Roeser, Midgley, and Urdan (1996) yang menyebutkan, makin positif relasi siswa-guru, makin besar rasa memiliki terhadap proses pembelajaran yang berlangsung.
Selain itu, relasi guru-siswa mendorong peningkatan rasa percaya diri dan keterlibatan dalam kegiatan di kelas yang sama halnya dengan dorongan dari orang tua yang mendorong rasa nyaman dan aman. Siswa akan berbicara dalam bangunan relasi yang terbangun di kelas, yang merupakan bagian dari keterlibatannya dalam proses pembelajaran.
Dalam komunikasi pembelajaran, selain berlangsung komunikasi verbal juga ada komunikasi nonverbal. Karena komunikasi nonverbal merupakan bagian penting dalam setiap komunikasi manusia. Felicia (2012: 4) menunjukkan, lebih dari 85% komunikasi manusia bersifat nonverbal. Komunikasi nonverbal ini berfungsi untuk mengatur perilaku dan interaksi sosial, menjadi sarana untuk menata diri dan menunjukkan emosi. Dengan mengutip Mehrabian dan Ferris, Felicia menunjukkan komponen-komponen dalam komunikasi manusia itu 7% berupa ungkàpan verbal, 38% nada suara dan 55% ekspresi wajah.
Perilaku nonverbal merupakan unsur non-linguistik dari percakapan.
Felicia (2012: 8-9) menunjukkan, penggunaan komunikasi nonverbal dilakukan untuk menarik perhatian, memberi komentar, memprotes, dan bercanda. Dalam konteks pembelajaran, Felicia (2012: 9-10) menunjukkan bagaimana komunikasi verbal dan nonverbal digunakan oleh anak usia prasekolah. Dengan mengutip Doherty-Sneddon, Felicia menunjukkan adanya dua pandangan yang berbeda tentang hubungan antara bahasa verbal dan komunikasi nonverbal pada anak usia prasekolah. Ada pakar yang meyakini bahwa komunikasi nonverbal mengikuti perkembangan bahasa verbal dan ada pula yang meyakini bahwa perkembangan bahasa verbal tidak terkait dengan komunikasi nonverbal. Bila saluran komunikasi verbal dan gerak-gerik tubuh menyampaikan dua bentuk informasi yang berbeda, anak yang lebih muda bisa saja mengabaikan salah satu bentuk informasinya sedangkan anak yang tua mencoba menangkap kedua bentuk informasi itu.
Dalam konteks prinsip pembelajaran, kita bisa melihat bagaimana pentingnya komunikasi ini. Sebelum membahas lebih jauh dimensi komunikasi dalam pembelajaran, kita memperhatikan terlebih dulu prinsip pembelajaran yang dirumuskan Learner-Centered Work Group of the American Psychological Association’s Board of Educational Affairs (1997). Ada 14 prinsip pembelajaran yang saling terkait satu sama lain yang mengacu pada faktor-faktor kognitif dan metakognitif, motivasi dan afeksi, perkembangan dan sosial, serta perbedaan-perbedaan individual yang memengaruhi pembelajaran dan pembelajar. Prinsip ini dimaksudkan bisa diterapkan pada semua pembelajar, mulai dari anak-anak, guru, staf tata usaha sampai orang tua dan warga masyarakat yang terlibat dalam proses dan sistem pendidikan. Prinsip-prinsip tersebut adalah:
1. Sifat proses pembelajaran. Pembelajaran bahan ajar yang sulit bisa dilakukan secara efektif bila pembelajarannya dimaksudkan sebagai proses membangun makna berdasarkan informasi yang diperoleh dalam pembelajaran dan pengalaman sebelumnya.
2. Tujuan proses pembelajaran. Dengan pembelajaran yang prosesnya menunjukkan dukungan dan bimbingan, siswa bisa membangun pengetahuan yang bermakna dan menunjukkan keterkaitan pengetahuan yang dimilikinya sehingga bisa menjadi siswa yang berhasil.
3. Konstruksi pengetahuan. Pembelajar yang berhasil bisa membangun makna dengan cara menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan yang sudah dimilikinya.
4. Berpikir strategis. Pembelajar yang berhasil mampu berpikir dan memanfaatkan kemampuan berpikir dan strategi-strategi penalaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang kompleks.
5. Berpikir tentang berpikir. Strategi-strategi orde tinggi untuk memilih dan menata operasi-operasi mental yang memfasilitasi pemikiran kreatif dan kritis.
6. Konteks pembelajaran. Pembelajaran dipengaruhi faktor-faktor lingkungan termasuk budaya, teknologi, dan praktik-praktik pembelajaran.
7. Faktor motivasi dan emosi memengaruhi pembelajaran. Apa dan seberapa banyak yang dipelajari dipengaruhi motivasi. Motivasi untuk belajar, pada gilirannya dipengaruhi oleh kondisi emosi,
keyakinan, minat, dan tujuan serta kebiasaan berpikir individu.
8. Motivasi intrinsik untuk belajar. Kreativitas pembelajar, berpikir orde tinggi dan rasa ingin tahu yang alamiah memberi sumbangan terhadap motivasi belajar. Motivasi intrinsik didorong oleh tugas- tugas belajar yang sulit dan baru, relevansinya dengan minat pribadi, dan memberikan peluang untuk melakukan kendali dan pilihan pribadi.
9. Efek motivasi terhadap ikhtiar. Penguasaan pengetahuan dan keterampilan yang kompleks membutuhkan ikhtiar luar biasa dari pembelajar dan praktik yang terbimbing. Tanpa motivasi pembelajar untuk belajar, keinginan untuk meningkatkan ikhtiar ini menjadi tidak mungkin bila tidak ada paksaan.
10. Pengaruh perkembangan terhadap pembelajaran. Begitu individu berkembang, ada peluang dan kendala yang berbeda untuk pembelajaran. Pembelajaran bisa efektif bila memperhatikan perkembangan diferensial di dalam di antara ranah fisik, intelektual, emosional, dan sosial.
11. Pengaruh sosial terhadap pembelajaran. Pembelajaran dipengaruhi interaksi sosial, relasi-relasi interpersonal dan komunikasi dengan orang lain.
12. Perbedaan-perbedaan individu dalam pembelajaran. Pembelajar memiliki strategi pendekatan dan kemampuan belajar yang berbeda yang merupakan fungsi dari pengalaman sebelumnya dan faktor keturunan.
13. Pembelajaran dan keragaman. Pembelajar menjadi efektif bila memperhatikan perbedaan-perbedaan latar belakang linguistik, budaya dan sosial.
14. Standar dan penilaian. Menetapkan standar-standar dan penilaian yang cukup tinggi dan menantang pembelajar selain untuk proses pembelajarannya sendiri, termasuk penilaian diagnostik, proses dan penilaian hasil sebagai bagian integral dari proses pembelajaran.
Kembali pada soal komunikasi, kita bisa melihat keterkaitan 14 prinsip tersebut dengan pentingnya komunikasi guru siswa. Knoell (2012: 12) menunjukkan, salah satu prinsip pembelajaran, yakni prinsip ke-11, menegaskan dan mengakui adanya pengaruh sosial terhadap pembelajaran sehingga dinyatakan “pembelajaran dipengaruhi
interaksi sosial, relasi interpersonal dan komunikasi dengan orang lain”. Selanjutnya, dengan mengutip McCombs dan Whisler, Knoel menegaskan, “tempat terbaik untuk pembelajaran adalah lingkungan yang di dalamnya ada relasi interpersonal dan interaksi yang positif sehingga pembelajar merasa dihargai, diakui, dihormati dan dipuji.
Sedangkan Marzano (dalam Knoel, 2012: 12) menunjukkan adanya empat komponen penting dari guru efektif, yaitu aturan dan prosedur, intervensi disipliner, mental set, dan relasi guru-siswa. Dari keempat faktor tersebut, relasi guru siswa merupakan landasan untuk faktor- faktor lainnya. Lebih dari itu, relasi guru-siswa juga menjadi faktor yang memengaruhi keberhasilan belajar siswa di dalam kelas.
Dalam melihat relasi guru-siswa ini ada beberapa kerangka konsep yang dapat digunakan. Satu di antaranya teori interpersonal (lihat, Wubbels, den Brok, van Tartwijk dan Levy, 2012: 4-5) yang melihat interaksi diadik di antara individu dengan menggunakan dimensi kendali dan afiliasi. Kendali menunjukkan tingkat pengaruh yang dimiliki seseorang yang digunakan pada orang lain dalam berinteraksi.
Sedangkan afiliasi menggambarkan derajat kesigapan emosional, kehangatan dan dukungan dalam interaksi dengan rentang mulai dari bersahabat hingga bermusuhan. Satu hal lain dari teori interpersonal adalah ada prinsip komplementaritas. Artinya, perilaku kita akan berbalas perilaku serupa dari orang lain, misalnya kita menunjukkan perilaku bersahabat akan berbalas perilaku bersahabat pula dalam dimensi relasi afiliasi. Sedangkan dalam relasi berdimensi kendali, dominasi akan bertemu dengan kepatuhan sehingga bila si pemegang kendali berbicara maka lawannya akan menyimak.
Kerangka konsep lain yang bisa digunakan adalah teori manajemen kelas (lihat, Wubbels, den Brok, van Tartwijk dan Levy, 2012: 8).
Teori ini pada dasarnya menunjukkan pada tindakan dan strategi yang digunakan guru untuk memecahkan masalah ketertiban di ruang kelas. Di dalamnya ada aspek reaktif preventif dan proaktif. Sedangkan pendekatan lain yang dikenal dengan pendekatan ekologis, melihat kelas sebagai tempat untuk membangun apa yang dinamakan ekologi kelas yang mendorong siswa saling bekerja sama. Ruang kelas merupakan tempat kegiatan multidimensi yang ekologinya harus dibangun oleh guru dengan membentuk, mengarahkan, dan menjaga munculnya peristiwa yang mengganggu pembelajaran.