• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tipe Khalayak dan Ruang Publik

KHALAYAK MEDIA SIBER

C. Tipe Khalayak dan Ruang Publik

semata, tetapi menjadi medium yang bisa mentransformasikan tipe khalayak dan sekaligus mengaburkan batasan, salah satunya, antara produsen dan konsumen. Media siber memungkinkan khalayak tidak sekadar menjadi objek, tetapi menjelma menjadi subjek.

keberadaan di situs itu. Sementara di sisi lain sebagai penetap, pengguna dengan sadar menghabiskan waktu daring mereka untuk melakukan interaksi sosial dan bukan sekadar untuk mengumpulkan informasi semata, melainkan keberadaan pengguna itu bisa diketahui.

Sejalan dengan hal tersebut Hine (2000: 145) membagi tipe pengguna dalam konteks grup diskusi daring-menjadi web suner, active newsgroup participants, dan lurkers. Keberadaan pengintai (lurkers) merupakan persoalan tersendiri untuk melihat jejak pengguna dalam komunikasi termedia komputer. Pasalnya, dalam suatu grup diskusi di internet posisi pengintai ini hanya sekadar melihat, membaca satu dua isi yang dipublikasikan, dan tidak meninggalkan jejak atau pesan respons terhadap isi tersebut sekalipun. Pengintai dalam konteks ini tidak melakukan interaksi apa pun dengan pengguna yang lainnya Artinya, secara kuantitas keberadaan pengintai memang ada, namun tidak jika dilihat secara kebermaknaan. Yang menjadi persoalan yaitu kelompok diskusi di internet melalui media jurnalisme warza membuka peluang untuk keberadaan lurkes dalam jumlah yang banyak, bahkan dalam kondisi tertentu mereka bahkan tidak sama sekali membaca isi yang dipublikasikan. Pasalnya, melalui fasilitas perangkat jaringan yang ada di media siber, misalnya kolom komentar dalam berita di situs media siber seperti kompas.com, seperti mengarahkan pengguna untuk bisa mengakses seluruh isi yang dipublikasikan dan juga suatu isi bisa disebarkan melalui fasilitas pesan yang masuk ke dalam kotak surat (inbox) akun pemilik; dalam konteks ini situs kompas.com memiliki fasilitas pengguna untuk membuat akun identitas yang digunakan untuk mengakses beberapa kanal sekaligus untuk mengomentari pemberitaan. Juga, ditambah dengan topik diskusi yang tidak menjadi minat pengguna, maka bisa jadi keberadaan pengguna itu tidak sama sekali berarti dan posisinya di grup diskusi daring itu tidak juga bisa dikatakan sebagai pengintai.

Inilah mengapa media internet tidak sepenuhnya bisa dikatakan sebagai ruang publik virtual (virtual sphere). Ada posisi di mana pengguna sebagai anggota tidak terlibat dalam diskusi atau debat terhadap realitas politik yang sedang dibincangkan atau setidaknya menjadi liputan utama di media tradisional. Selain itu, media internet seperti media jurnalisme warga dalam beberapa kasus dan lebih cenderung berada dalam terminologi ruang virtual ekspresi atau konstruksi

diri dibandingkan ruang publik sebagaimana uraian Habermas. Oleh karena itu, untuk memasukkan mana saja topik yang masuk dalam kriteria ruang publik virtual terutama yang ada di media siber, peneliti mengutip kriteria yang dipopulerkan oleh Dahlberg (2001), yakni Pertama, autonomy from state and economic power, forum haruslah bebas dari intervensi negara atau kekuatan ekonomi mana pun. Diskursus yang terjadi di cyber-forum hendaknya bebas dari kekuatan pengelola negara maupun pasar baik dalam bentuk kapital maupun administrasi.

Kedua, exchange and critique of criticizable moral-practical validity claims.

Terdapat pertukaran dan perdebatan yang berlandaskan moral untuk melihat suatu peristiwa dibandingkan dengan dogma yang memaksa.

Bahwa setiap anggota cyber-forum berada dalam posisi sama yang siap menyampaikan kritik dan siap pula dikritik. Ketiga, reflexivity, setiap anggota cyber-forum hendaknya secara kritis juga mempertimbangkan nilai-nilai budaya, asumsi yang terjadi di tengah realitas sosial, maupun ketertarikan mereka yang cenderung pada kepentingan umum atau dalam hal ini konteks sosial yang lebih besar; dengan tentu saja tanpa memerlukan akar di mana ia berasal. Keempat, ideal role taking, ini menjadi aturan penting bahwa setiap anggota cyber-forum memiliki integritas untuk memahami argumen yang berkembang, meski itu datang dengan perspektif yang berbeda sekalipun. Dialog akan menjadi lebih bermakna apabila adanya komitmen dari masing-masing anggota untuk menghormati dan mau mendengar di antara mereka. Kelima, sincerity, setiap anggota cyber-forum melandasi dirinya dengan niat tulus, termasuk dalam hal ini keinginan, kebutuhan, bahkan tujuan yang tersembunyi untuk menemukan solusi terhadap suatu masalah dan bukan sebaliknya untuk kepentingan pribadi. Keenam, discursive inclusion and equality, cyber-forum beroperasi dengan menghormati setiap anggotanya dengan memberikan kesempatan untuk mempertanyakan dan termasuk menyanggah terhadap suatu isi. Karena tidak menutup kemungkinan ada yang ingin mendominasi dan/atau berusaha sekuat tenaga untuk didengar serta memaksakan argumen mereka dalam diskursus dalam cyber-forum.

Meski pada kenyataannya keberadaan dan realitas di virtual sphere tidak menutup kemungkinan munculnya perlawanan dari warga yang lain, akan tetapi kehadiran media siber dan tentu saja media jurnalisme praktik-praktik pemaksaan (argumen) wacana, kehadiran jurnalisme

warga memberikan semangat pada perlawanan khalayak yang selama ini diposisikan sebagai konsumen atau pengguna media. Fenomena inilah yang disebut bahwa informasi di era digital memberikan pemenuhan penggunaan media dan kebebasan dalam memberikan pendapat sebagai hak warga negara. Juga, industri media berperan dalam menyediakan akses terhadap informasi, pandangan, maupun debat dalam konteks politik maupun isu yang menyangkut kepentingan publik (lihat Murdock dalam Cardoso, 2006: 334-335). Mengutip dari Bowman dan Willis, berikut penjelasan bagaimana pergeseran (fungsi) khalayak yang selama ini fungsi-fungsi tersebut menjadi milik media massa.

1. Kemunculan Warga Sebagai Penjaga (Watchdog)

Kekuatan organisasi media inilah yang dianggap tidak menempatkan jurnalis sebagai profesi yang bebas dalam menyatakan pendapatnya terhadap suatu peristiwa (lihat Bowman dan Willis, 2003: 49). Kondisi ini pada akhirnya menimbulkan pertanyaan apakah jurnalis tidak boleh menyampaikan pendapat mereka sementara selama ini media dianggap sebagai penjaga (watchdog) dan dibangun sebagai kekuatan keempat di suatu negara? Inilah pertanyaan yang sebenarnya telah dijawab pada pembahasan subbab terdahulu. Bahwa ada faktor ideologi, rutinitas organisasi redaksi, atau ada tekanan dari pemilik modal yang dalam kasus tertentu tidak bisa membuat jurnalis bebas mengungkapkan pendapatnya; atau setidaknya melakukan seleksi isu dan penonjolan sehingga hasil liputan dan wawancara akan mengarahkan opini khalayak sesuai keinginan jurnalis. Jika selama ini suatu karya jurnalistik berupa pemberitaan media dikerjakan oleh jurnalis di sebuah institusi resmi media, kini pemberitaan dan/atau laporan sebuah peristiwa tersebut bisa dilakukan oleh warga, perorangan maupun komunitas. Keterlibatan warga dalam jurnalisme warga dan kemajuan fasilitas internet pada akhirnya membuka peluang bagi distribusi informasi yang tidak hanya bersifat alternatif, tetapi juga lebih berimbang, apa adanya, dan bahkan mengaburkan kategori karya jurnalistik, misalnya dengan memasukkan opini penulis di dalamnya atau bahkan karya fiksi (Friedland dan Kimi, 2009, 2008).

2. Pendefinisian Terhadap Kredibilitas

Kovach dan Rosenstiel dalam The Elements of Journalism menyatakan, bahwa “journalism’s first loyalty is to citizens” (2001: 5152). Ini bermakna bahwa informasi yang dipublikasikan di media oleh jurnalis pada dasarnya harus memihak kepada warga dibandingkan ego profesi. Hal ini sebagaimana telah dijelaskan mengenai tarik-menarik kepentingan dalam skema ekonomi-politik McNamus sebelumnya Bahwa berita yang dihasilkan dengan keakuratan dalam mencari data dan menyajikannya dengan menjunjung tinggi kebenaran tanpa ada motil, misalnya finansial, di belakangnya. Jurnalis di media tradisional. menjadi kelaziman bahwa suatu berita yang dipublikasikan akan terlihat yang menulis dan sekaligus siapa yang menyunting di akhir berita di surat kabar atau bisa dilihat di susunan redaksi. Di media televisi, siapa di balik produksi liputan akan terlihat jelas ketika sosok jurnalis muncul di salah satu segmen dalam liputan atau dibacakan si pemberi laporan oleh pembaca berita. Namun kredibilitas di media tradisional juga dibentuk melalui proses organisasi yang berjalan; bahwa susunan redaksi media menunjukkan betapa banyaknya langkah yang harus dilalui seorang jurnalis ketika melaporkan suatu peristiwa. Ada proses seleksi, pemilihan gambar, pemotongan suara, dan pengecekan terhadap data yang disampaikan, yang tidak sekadar rumor atau opini si jurnalis belaka. Sehingga bisa dikatakan bahwa kredibilitas jurnalis itu sejalan dengan kredibilitas organisasi media massa tempat jurnalis itu bekerja.

Kredibilitas inilah yang menjadi landasan bagi praktik jurnalisme dan bagaimana etika jurnalisme dijalankan sebagai panduan norma- norma jurnalis dalam media tradisional. Ward (2009) bahkan menegaskan bahwa etika merupakan kewajiban, baik bagi jurnalis sebagai individu maupun media sebagai institusi yang merupakan bagian dari masyarakat (negara) (dalam Wahl-Jorgensen and Hanitzsch, 2009:

296). Persoalan kredibilitas ini muncul terhadap warga di dalam media siber. Dengan kebebasan mengelola informasi yang ingin dipublikasikan, kebebasan menyelipkan opini ke dalam informasi yang ditulis sampai pada penggunaan media yang beragam, tidak menutup kemungkinan ada indikasi keberpihakan warga. Apalagi internet memungkinkan siapa pun bisa mengonstruksi identitas yang sama sekali berbeda, dan menutupi sebenarnya pengguna menjadi celah bagi media siber sebagai informasi yang diproduksi oleh khalayak ketika membincang

media informasi yang diproduksi oleh persoalan kredibilitas. Dalam beberapa kasus bahkan sangat sulit membedakan mana laporan dan mana opini warga di produk jurnalisme membedakan mana laporan warga (Friedland dan Kim, 2009: 298).

3. Warga, Antara Profesional dan Amatir

Institusi media tradisional pada umumnya seleksi yang ketat dan berkriteria sebagai jurnalis di media. Mulai dari harus dipenuhi hingga pada kandidat. Kualifikasi ini pada umumnya menerapkan kebijakan dan berkriteria terhadap siapa pun yang akan bekerja. Mulai dari minimal jenjang pendidikan yang harus dipenuhi hingga pada penguasaan bahasa asing tertentu oleh kandidat. Kualifikasi ini diharapkan menjadi standar bagi institusi media untuk mendapatkan tenaga profesional. Tidak berhenti pada proses seleksi, kandidat jurnalis setelah lolos seleksi penerimaan akan mendapatkan sejumlah pelatihan yang diadakan oleh institusi media yang bersangkutan; pelatihan ini beragam, akan tetapi biasanya memuat materi tentang keterampilan menulis, melakukan investigasi, teknik wawancara, hingga pengenalan terhadap aspek bisnis institusi media bersangkutan.

Dengan seleksi dan pelatihan yang diberikan ini tak heran apabila jurnalis dikatakan sebagai pekerjaan yang profesional.

Kemunculan media siber dan keterlibatan khalayak pada produksi, distribusi, dan sirkulasi berita pada akhirnya membenturkan jurnalis antara profesional dan amatir (Banda, 2010: 22). Di satu sisi media tradisional mensyaratkan pekerja (jurnalis) profesional, di sisi lain media jurnalisme warga hampir tidak mensyaratkan “profesionalitas”

di dalamnya. Sebuah foto atau video yang resolusinya rendah atau gambarnya kabur bisa tayang di media jurnalisme warga oleh warga yang bahkan baru saja duduk di sekolah menengah dan baru beberapa jam lalu memegang kamera video. Juga, struktur berita yang dibuat oleh pelaku jurnalisme warga tidak mensyaratkan perlunya kelengkapan unsur- unsur berita dalam 5W+1H, perlunya keberimbangan dalam menyajikan fakta, dan konfirmasi terhadap sumber yang sedang diberitakan.

Meski dalam beberapa kasus ada warga dan media jurnalisme warga yang menerapkan mekanisme kerja profesional—terutama untuk pola public journalism di mana warga berkontribusi dan jurnalis (editor) melakukan penyuntingan sebelum dipublikasikan di media tradisional- namun pada praktiknya definisi profesional sebagaimana yang ada di

media tradisional dalam jurnalisme warga seakan-akan menjadi kabur (Friedland dan Kim, 2009: 298). Gillmor juga menjelaskan bahwa jurnalisme warga pada dasarnya menghasilkan berita oleh warga biasa dan lepas dari aturan yang ada di organisasi media pada umumnya (Gillmor, 2004: x).

4. Warga Sebagai Audiences Global

Media tradisional memiliki target konsumen media (audiences) yang sangat spesifik. Spesifikasi audiences setidaknya terjadi karena: (1) tipe dari konten media; (2) keluasan jangkauan distribusi media; (3) jumlah produk yang dihasilkan; dan (4) batasan geografis tempat media itu berada. Keterbatasan ini menyebabkan jangkauan media tradisional tidak bisa menjangkau lebih luas pada media jurnalisme warga, terutama dalam konteks ini pada media jurnalisme warga dalam jaringan (daring) atau online. Selanjutnya, pola internet yang menghubungkan khalayak baik berupa perangkat komputer maupun pengguna (user) secara global di seluruh dunia menyebabkan akses khalayak terhadap media jurnalisme warga menjadi jauh lebih luas dan tanpa batas (Friedland dan Kim, 2009:

298). Jangkauan global ini juga memengaruhi bagaimana informasi itu bisa lebih terdistribusi dibandingkan dengan media tradisional. Menilik sistem pers di masing-masing negara sebagaimana dijelaskan oleh Siebert, Peterson, dan Schramm (1986), bahwa kebebasan media untuk menampilkan informasi sangat dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah negara bersangkutan. Misalnya dalam sistem otoriter yang hanya membolehkan institusi berizin dan dikontrol dari negara saja yang boleh terjun dalam industri media. Kenyataan ini berdampak pada bila suatu peristiwa bisa menjatuhkan atau dianggap mempermalukan negara, maka institusi media sering kali dilarang untuk memberitakan peristiwa itu.

Namun jurnalisme warga memiliki pendekatan yang berbeda. Meski di negara yang bersangkutan memiliki sistem pers yang otoriter dan media sangat dikontrol oleh pemerintah dalam menyiarkan informasi, tetapi melalui beragam media warga bisa memublikasikan apa yang terjadi dan audiences yang tidak hanya berasal dari negara tersebut tetapi dari seluruh dunia bisa mengetahuinya. Laporan warga dalam tragedi penembakan tentara terhadap protes yang dilakukan oleh kalangan biksu di Myanmar pada 2010 bisa dijadikan contoh bagaimana laporan jurnalisme warga memperoleh akses warga secara global.