INTERPERSONAL DALAM PEMBELAJARAN
B. Komunikasi Interpersonal dalam Komunikasi Pembelajaran
saja berlangsung di dalam kelas, saat guru bertanya sambil menghampiri salah seorang siswanya, tetapi juga bisa terjadi di luar kelas ketika siswa mendatangi guru untuk menanyakan beberapa hal. Misalnya, siswa mengajak gurunya berdiskusi seusai pembelajaran di dalam kelas dalam situasi yang lebih santai dan dengan waktu yang singkat. Kita akan membahas lebih jauh komunikasi interpersonal dalam konteks pembelajaran ini pada bagian berikutnya dari bab ini.
B. Komunikasi Interpersonal dalam Komunikasi Pembelajaran
Hasil belajar siswa ternyata tidak hanya ditentukan oleh proses pembelajaran yang berlangsung di dalam kelas. Komunikasi interpersonal guru dan siswa yang berlangsung di luar kelas juga bisa berdampak terhadap hasil belajar dan kepuasan belajar siswa.
Komunikasi interpersonal menunjukkan bagaimana guru menampilkan diri sebagai orang yang siap membantu siswanya dan pribadi yang terbuka. Kesigapan membantu siswa dan pribadi terbuka itu ternyata berdampak pada hasil belajar siswa.
Knapp (2008) menunjukkan, ada beberapa hasil penelitian yang memperlihatkan, frekuensi komunikasi di luar kelas antara guru dan siswanya yang dipadukan dengan keterbukaan dan kesigapan guru berpengaruh terhadap kepuasan belajar siswa. Kesigapan (immediacy) merupakan perilaku verbal dan nonverbal yang menambah kedekatan psikologis di antara sesama manusia. Kedekatan psikologis ini memungkinkan relasi edukatif antara guru dan siswa bisa berjalan dengan baik, yang pada akhirnya akan membawa pada hasil belajar yang lebih baik. Kedekatan psikologis ini misalnya ditandai dengan bersenda gurau, sekadar untuk meruntuhkan benteng perintang psikologis yang biasa terbangun di antara guru dan siswa.
Lebih dari itu, lenyapnya perintang psikologis ini juga memungkinkan keterbukaan diri. Membuka diri pada siswa mungkin saja bisa jadi pandang tidak penting. Penelitian menunjukkan lebih memperhatikan ternyata para pendidik umumnya apa yang dipersepsinya dari keterbukaan ketimbang memperhatikan keterbukaan diri siswa dirinya sendiri kepada siswa. Padahal hal penting dari membuka diri adalah untuk membangun trust di kalangan siswa. Trust ini berkorelasi positif dengan frekuensi kontak informal. Kepuasan siswa dan bersosialisasi pada saat melakukan kontak informal. Namun trust ini berkorelasi negatif dengan pendiskusian masalah pribadi selama kontak informal.
Bila selama ini kita lebih memperhatikan bagaimana siswa memiliki motivasi belajar, sesungguhnya motivasi ini juga harus dimiliki guru.
Dengan mengutip Czubaj, Knapp (2008: 179) menunjukkan “jika guru mencintai profesinya, maka siswa-siswanya pun mencintai pendidikan”.
Hal ini menunjukkan, bagaimana motivasi guru dalam membelajarkan juga akan berdampak terhadap apa yang dilakukan siswa-siswanya dalam kegiatan pembelajaran. Kutipan dari Czubaj ini juga menyisakan pertanyaan lanjutan, bagaimana membuat guru menjadi orang yang mencintai profesinya? Dorongan dari dalam diri yang menumbuhkan kecintaan pada profesi itu bisa muncul ketika seseorang merasa dengan pekerjaannya itu dia memperoleh penghargaan dan pengakuan, bukan
hanya karena ingin mencapai tujuan yang akan diraihnya nanti, bukan pula karena adanya tujuan yang ditetapkan orang lain.
Relasi interpersonal guru dan siswa yang baik juga menunjukkan bagaimana motivasi guru menjalankan tugasnya sebagai pendidik yang membangkitkan motivasi belajar siswa dan akhirnya memengaruhi hasil belajar siswa. Dalam relasi interpersonal, kedua belah pihak saling memengaruhi dan dalam proses interaksi tersebut kedua belah pihak saling menyesuaikan diri. Karena itu, motivasi guru akan memengaruhi dan dipengaruhi juga oleh motivasi siswa untuk menjalin komunikasi.
Sedangkan, komunikasi yang berlangsung di antara siswa dengan sesamanya atau dengan guru-gurunya dipengaruhi oleh kepribadian, kehendak berkomunikasi, keinginan membina relasi baru, atau kebutuhan untuk memperoleh informasi.
Komunikasi interpersonal siswa dengan gurunya, berlangsung karena berbagai alasan. Cayanus, Martin, dan Goodboy (2009: 106) menjelaskan bagaimana motif siswa berkomunikasi dengan gurunya.
Ada lima motif siswa berkomunikasi dengan gurunya, yaitu meminta maaf, fungsional, partisipatif, relasional, dan cari muka. Hal ini menunjukkan, ada siswa yang memang ingin menjaga hubungan baik dengan gurunya, ada yang ingin memperoleh informasi lebih lanjut mengenai pelajaran yang diikutinya, ada juga yang sekadar mencari muka atau ingin memperoleh pujian dari gurunya.
Cayanus, Martin, dan Goodboy (2009: 106-107) lebih jauh lagi menjelaskan, siswa yang termotivasi untuk berkomunikasi dengan gurunya karena sebab-sebab relasional akan berusaha mengembangkan relasi interpersonal. Sedangkan siswa yang komunikasi dengan gurunya dilakukan karena alasan fungsional akan berusaha memperoleh informasi tentang bahan ajar dan tugas-tugas yang harus dikerjakan siswa. Siswa yang motivasi komunikasinya adalah alasan partisipatif ingin menunjukkan kemampuannya dan penguasaannya pada materi pembelajaran yang disampaikan gurunya. Siswa yang motivasi komunikasinya untuk meminta maaf akan menyampaikan pada gurunya alasan mengapa tugas pembelajaran yang harus dikerjakannya belum selesai atau tidak selesai sama sekali. Adapun siswa yang tujuan komunikasinya untuk mencari muka pada gurunya hanya akan berupaya untuk membuat kesan yang menyenangkan pada gurunya.
Cayanus, Martin, dan Goodboy (2009) menjelaskan lebih jauh, kepribadian dan keyakinan siswa pun berdampak terhadap motifnya.
Misalnya, siswa yang asertif, berkomunikasi berdasarkan motif-motif relasional, partisipatif, dan fungsional. Sedangkan siswa yang agresif tidak begitu sering berkomunikasi untuk motif fungsional. Selain itu, yang memengaruhi motif komunikasi siswa adalah kegiatan pembelajaran dan perilaku kelas. Siswa yang sering komunikasinya dilandasi motif relasional, partisipatif, dan fungsional lebih tinggi pencapaian pembelajaran kognitif dan afektifnya.
Knap (2008: 180), mengutip Myers, Martin, dan Mottet menunjukkan hubungan antara motif komunikasi siswa dan strategi yang digunakan siswa yang mencari informasi. Hasil penelitian menunjukkan, para siswa yang berkomunikasi dengan motif yang bersifat fungsional cenderung menggunakan strategi terbuka, sedangkan siswa yang berkomunikasi dengan motif relasional menggunakan strategi observasional dan strategi tidak langsung. Berkomunikasi dengan menggunakan pendekatan relasional seperti menggunakan humor, membuka diri, dan cepat-tanggap, secara positif berhubungan dengan motif-motif relasional, partisipatif, permintaan maaf, dan cari muka.
Selanjutnya, Knapp (2008: 181) menunjukkan, persepsi pendidik terhadap motivasi siswa juga dipengaruhi perasaan pendidik tentang kepuasan dan motivasi. Guru yang memandang rendahnya motivasi belajar siswa-siswanya akan merasakan penurunan motivasi sendiri.
Sebaliknya, guru yang memandang motivasi siswanya tinggi akan merasa sangat besar motivasinya untuk membelajarkan siswanya.
Kembali kepada soal membuka diri. Guru yang membuka dirinya kepada siswa dengan menunjukkan dirinya seperti menyatakan kesukaan dan hal yang bersifat pribadi lainnya merupakan wahana untuk membangun relasi interpersonal dengan siswanya. Adalah Martin Buber yang menyatakan komunikasi yang menunjukkan diri merupakan salah satu ciri penting dari relasi interpersonal yang positif. Bagi Buber, penegasan diri ini merupakan cara manusia menyatakan dirinya dan membangun identitas sosialnya dalam relasi dengan sesamanya dan dengan dunia di sekelilingnya.
Edwards, Torrens, dan Beck (2011: 24-25) dengan mengutip Eli, menunjukkan ada tiga dimensi perilaku penegasan diri dari guru, yaitu
(1) guru terbuka menerima siswanya dan menanggapi pertanyaan siswanya dengan komunikasi yang menunjukkan perhatian terhadap
“komentar dan bidang pengetahuan yang menjadi minat siswa”; (2) guru bisa menunjukkan dirinya dengan memperlihatkan besarnya perhatian terhadap pendidikan dan pembelajaran; dan (3) guru bisa menyatakan dirinya kepada siswa dengan menggunakan gaya membelajarkan yang menggunakan berbagai teknik pembelajaran untuk membantu siswa belajar di kelas.
Komunikasi interpersonal guru dan siswa sendiri membantu membentuk lingkungan dan suasana belajar yang baik serta bisa mendorong motivasi belajar siswa, yang merupakan bagian penting dalam proses pembelajaran dan peningkatan mutu pembelajaran. Pakar pendidikan melihat ada lima ramuan penting dalam membangkitkan motivasi belajar siswa, yaitu siswa sendiri, guru, materi ajar, metode dan proses pembelajaran serta lingkungan belajar.
Kita bisa mengutip hasil studi yang dilakukan Fraser, Aldridge, dan Soerjaningsih (2010: 22-23) yang menunjukkan, perilaku guru merupakan komponen penting bagi lingkungan belajar. Ada beberapa hal yang terkait dengan perilaku guru ini seperti harapan guru terhadap pembelajaran, pengaruh perilaku nonverbal guru, pengelolaan kelas dan siswa, gaya guru bersosialisasi dengan siswanya, dan status guru sebagai guru baru dan guru senior. Selain itu, perilaku interpersonal guru juga tak kalah pentingnya dalam membangun lingkungan belajar yang berdampak pada prestasi siswa. Perilaku interpersonal tersebut terkait dengan interaksi dan relasi saling memengaruhi antara siswa dan gurunya. Selanjutnya, kesimpulan penting studi Fraser, Aldridge, dan Soerjaningsih (2010: 31) karena adanya hubungan yang erat antara persepsi siswa tentang lingkungan kelas dan hasil belajarnya, maka untuk memperbaiki prestasi belajar siswa diperlukan perubahan pola interaksi antara siswa dan guru.
She dan Fisher (2002: 74) menunjukkan adanya relasi yang kuat dan tetap antara persepsi siswa terhadap perilaku komunikasi guru dan sikap siswa terhadap mata pelajaran IPA. Kemampuan kognitif siswa meningkat bila siswa memandang gurunya lebih banyak memberikan pertanyaan yang menantang, memberi lebih banyak dorongan, menunjukkan dukungan nonverbal serta menjadi mitra yang memahami dan bersahabat.
Moke (2002: 9), mengutip McDill and Rigsby (1965), menunjukkan di mana pun bila ada dua orang yang bertemu keduanya akan dipaksa saling menilai satu sama lain, dengan memperhatikan perilakunya, baik perilaku verbal maupun nonverbal. Dalam konteks pendidikan, hal tersebut berarti guru dan siswa-siswanya saling memberi penilaian yang kemudian dijadikan dasar untuk membangun relasi. Guru dan siswa juga memiliki konsep diri, yang menjadi landasan untuk membangun relasi. Komunikasi memengaruhi konsep diri yang kita bangun dan konsep diri ini memengaruhi cara kita berkomunikasi dan apa yang dikomunikasikan. Siswa datang ke sekolah dengan konsep dirinya masing-masing. Konsep diri itu juga digunakan untuk menyesuaikan diri dengan perbedaan-perbedaan di sekolah dalam menyusun dan mengembangkan relasi dengan gurunya. Penyesuaian diri yang dilakukan siswa, menjadi dasar bagi siswa tersebut untuk menghadapi permasalahan yang dihadapi yang memunculkan relasi positif atau negatif.
Moke (2002: 10) mengutip Sugarman yang menunjukkan bahwa para guru perlu terlibat dalam komunikasi interpersonal dengan para siswanya untuk bisa melakukan penilaian dan evaluasi terhadap perilaku siswanya. Sugarman menjelaskan, “Pendidikan merupakan proses yang evaluatif sehingga para guru dan agen sosialisasi lainnya akan terus mengevaluasi perilaku orang-orang yang dididiknya. Guru pun akan merespons perilaku anak didiknya dengan cara mengomunikasikan secara eksplisit atau implisit hasil evaluasi yang dilakukan guru. Para guru mengevaluasi perilaku siswanya dengan menggunakan norma perilaku atau standar kinerja siswa, yang hasilnya disampaikan melalui pernyataan verbal secara eksplisit”.
Berdasarkan kajian tentang relasi interpersonal guru-siswa, Moke (2001: 16) menyusun daftar tentang relasi interpersonal tersebut.
Relasi interpersonal guru-siswa menunjukkan hal-hal sebagai berikut.
1. Penilaian yang dilakukan guru terhadap siswa, siswa terhadap guru, dan siswa terhadap sesama siswa membantu pembentukan relasi.
2. Para guru dan siswa perlu saling memahami siapa masing-masing sebelum bisa berkomunikasi.
3. Para guru dan siswa memiliki keragaman konsep diri.
4. Para guru dan siswa memiliki ekspektasi satu sama lain yang
memengaruhi perilaku mereka dan juga memengaruhi relasi di antara mereka.
5. Penilaian dan evaluasi guru terhadap perilaku siswa melahirkan kategorisasi siswa yang memengaruhi relasi guru dan siswa.
6. Para guru dan siswa saling berbagi informasi sehingga bisa saling membuka diri.
7. Masing-masing guru dan siswa memiliki persepsi sendiri terhadap stimulus, yang persepsinya itu bergantung pada karakter, ekspektasi dan perasaannya.
8. Bahasa dapat digunakan untuk menutup atau membuka area komunikasi.
9. Para guru dan siswa menggunakan bahasa untuk berkomunikasi dengan cara melakukan generalisasi dan abstraksi.
Kita juga mesti menyadari, komunikasi interpersonal itu tak selalu berjalan mulus. Ada kalanya mengalami hambatan. Hambatan yang muncul biasanya kendala bahasa, yang muncul akibat kesenjangan generasi. Para siswa, mengembangkan sendiri bahasa dalam pergaulan kesehariannya yang mengandung banyak idiom khas mereka, yang biasa dinamakan slang. Para guru yang berusia lebih tua, biasanya sulit memahami idiom-idiom yang digunakan para siswanya. Hambatan lain, bisa juga muncul karena kendala psikologis. Kedekatan dalam relasi interpersonal dipandang bisa melahirkan ketidaknyamanan psikologis pada diri guru. Selain itu, anggapan motif siswa melakukan relasi interpersonal dengan guru bukan karena keinginan untuk meningkatkan mutu pembelajaran melainkan karena motif-motif yang disebutkan tadi seperti sekadar mencari muka pada gurunya supaya memperoleh nilai baik.
Anggapan tentang motif siswa itu bisa saja keliru karena motif siswa untuk menjalin relasi interpersonal dan melakukan komunikasi interpersonal dengan gurunya terkait dengan kegiatan pembelajaran seperti ingin memahami materi pembelajaran. Selain itu juga merupakan sarana bagi siswa melatih dirinya membangun dan menjaga relasi interpersonal yang merupakan salah satu keterampilan penting dalam kehidupan sosial siswa.
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk melakukan perbaikan komunikasi interpersonal guru dan siswa. Moke (2002: 59) menunjukkan langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk memperbaiki relasi dan komunikasi interpersonal tersebut seperti berikut.
1. Mengembangkan keterampilan komunikasi.
2. Membangun forum terbuka di antara guru dan siswa.
3. Meningkatkan dan mendorong penggunaan bahasa baku dalam komunikasi di sekolah.
4. Peningkatan bimbingan dan konseling.
5. Penguatan kegiatan-kegiatan ko-kurikuler.
6. Keteladanan guru.
7. Merahasiakan informasi tentang siswa.
8. Membangun lingkungan yang kondusif untuk komunikasi interpersonal.
Komunikasi yang dilakukan guru di ruang kelas juga bisa menunjukkan bagaimana kesediaan dan kesiapan guru untuk melakukan komunikasi interpersonal dengan siswanya. Seperti yang ditunjukkan Cayanus, Martin, dan Goodboy (2009: 106), ada beberapa bentuk komunikasi yang dilakukan guru di ruang kelas yang dapat menjadi pembuka untuk melakukan komunikasi interpersonal, yaitu (1) guru menceritakan kisah yang dapat memperjelas materi pembelajaran; (2) guru mendorong peningkatan partisipasi siswa dalam kegiatan di kelas;
dan (3) guru menambah pembelajaran yang berdimensi afektif.
Guru juga bisa membuka komunikasi interpersonal dengan siswanya dengan cara menunjukkan diri atau membuka diri. Membuka diri ini, dalam komunikasi interpersonal dirumuskan Wheeless dan Grotz (1976) sebagai “setiap pesan tentang diri sendiri yang dikomunikasikan pada orang lain”. Makin terbuka guru membuka dirinya, makin banyak komunikasi di luar kelas yang bisa dilakukan dengan para siswa dan makin besar juga minat siswa untuk berkomunikasi. Meski demikian, penting juga untuk diingat, membelajarkan siswa dengan cara guru membuka dirinya itu tidak dengan sendirinya akan membawa pada derajat keterbukaan yang sama dari siswa-siswanya. Di samping itu, para siswa juga akan lebih banyak terbuka kepada sesama siswa dibandingkan dengan gurunya sendiri.
Dalam hubungan interpersonal ini ada beberapa dimensi membuka diri, yaitu niat/maksud, jumlah, valensi, kejujuran, dan keakraban.
Cayanus dan Martin (2008) memperhatikan tiga dimensi membuka diri dalam komunikasi interpersonal guru di ruang kelas, yaitu (1) jumlah, yang menunjukkan seberapa banyak dan seberapa sering guru membuka dirinya di kelas, misalnya lima kali menyampaikan pernyataan yang menunjukkan membuka diri dalam satu jam pelajaran;
(2) relevansi, yang menunjukkan pembukaan diri tersebut terkait dengan topik yang dibahas di dalam kelas, seperti cerita pengalaman pribadi mengembangkan dan menjaga relasi dengan seorang teman;
dan (3) hal negatif, yang mengungkapkan kisah “buruk” di ruang kelas seperti berbohong pada kepala sekolah karena pertimbangan taktis.
Ketiga, dimensi itu terkait secara positif dengan pembelajaran afektif, memotivasi kehadiran di kelas, dan kejelasan guru dalam menjelaskan materi pembelajaran. Sedangkan jumlah, relevansi dan kurangnya hal negatif berkorelasi secara negatif dengan minat belajar siswa.
Cayanus, Martin, dan Myers (2008) menunjukkan bahwa para siswa menggunakan strategi pencarian informasi dalam melakukan observasi saat para siswa, yakin guru-gurunya terlibat dalam pengungkapan dirinya yang relevan dan tidak bersifat negatif. Studi tersebut mendukung sifat multidimensional membuka diri dari guru. Meski demikian, Cayanus (2004) menunjukkan, guru dapat menggunakan siasat membuka diri sebagai wahana pembelajaran yang dapat digunakan untuk memahami salah satu sisi penting dalam pembelajaran, yaitu berkomunikasi dengan siswa khususnya dalam memotivasi siswa untuk mau berkomunikasi di kelas.
Cayanus, Martin, dan Goodboy (2009: 110-111) yang menggunakan konsep homofili menunjukkan, jika individu-individu memandang ada banyak kesamaan di antara mereka, mereka akan saling berkomunikasi, saling memahami dan terlibat dalam interaksi lebih lanjut. Guru yang membuka informasi yang berbau negatif bisa saja dipandang oleh siswanya sebagai lebih mudah didekati ketimbang guru yang hanya menyampaikan informasi yang positif tentang dirinya. Cayanus menemukan dalam penelitiannya, para siswa itu memandang gurunya itu manusia juga dan bisa didekati jika para guru dipersepsi sebagai orang yang membuka informasi negatif tentang dirinya, selain informasi positifnya. Selanjutnya, individu yang satu sama lain memiliki kemiripan
lebih memungkinkan untuk berkomunikasi, memahami, dan terlibat dalam interaksi lebih lanjut dibandingkan dengan mereka yang dipandang memiliki perbedaan.
Homofili--istilah yang pertama kali dikemukakan Paul Lazarsfeld dan Robert K. Merton tahun 1954--digunakan Rogers (2003: 19) untuk menunjukkan derajat kesamaan dalam status sosio-ekonomi, pendidikan, nilai, dan lain-lain. Individu cenderung memilih orang lain yang memiliki kesamaan. Komunikasi menjadi lebih efektif terjadi di antara mereka yang memiliki kesamaan itu.
Karena itu, membangun banyak kesamaan menjadi bagian penting dalam proses komunikasi interpersonal ini. Orang akan saling percaya kalau menemukan di antara mereka ada banyak kesamaan, seperti kesamaan selera atau pandangan tentang keadaan sosial. Orang juga akan makin dekat satu sama lain manakala mereka menemukan pada dirinya terdapat banyak kesamaan dan kesesuaian latar belakang. Guru akan dipandang memiliki banyak kesamaan oleh siswanya, bila guru tersebut membuka dan menyatakan dirinya sehingga siswa bisa menilai seberapa banyak kesamaan dan kesesuaian antara guru dan dirinya. Kita bisa melihat apa yang dikemukakan Gehlbach, Brinkworth, dan Harris (2012) yang menjelaskan relasi guru-siswa berkait dengan prestasi dan motivasi siswa. Misalnya, para siswa yang memandang gurunya lebih bersifat suportif memiliki prestasi pembelajaran matematika yang lebih baik.