KOMUNIKASI DI MEDIA SIBER
C. Teks: Netlingo dan Netspeak
kepada individu termasuk dalam penciptaan bahasa di media siber (Aaklus dan Katz, 2010: 66-67).
Ada dua term yang bisa digunakan untuk mendekati bagaimana bahasa di media siber “Netspeak” dan “Netlingo”. Netspeak diartikan pembicaraan yang seolah-olah penulisan, dan Netlingo sebagai penulisan teks seolah-olah sedang berbicara, sebagaimana dijelaskan berikut.
1. Netspeak
Bahasa dalam internet dan di media siber mengalami perubahan, yang dalam pandangan David Crystal (2001) bahasa internet atau “internet language” merupakan medium keempat setelah bahasa tulis (writing), bahasa bicara (speaking), dan bahasa tanda (signing). Netspeak terjadi tatkala para pengguna melakukan interaksi langsung (synchronous) seperti di dalam MUDs, online chat, atau instant messaging (Thurlow, dkk., 2004: 125). Misalnya dalam penggunaan YM, fasilitas ini digunakan sebagai media untuk melakukan obrolan (chat) secara langsung dengan mediasi teks. Obrolan itu merupakan duplikasi dari obrolan yang terjadi di dunia nyata, teks yang ditulis di ruang media siber YM mewakili bahasa bicara. Oleh karena itu, teks yang muncul di YM diimajinasikan seolah-olah sedang berbicara. Tipografi teks yang muncul serta berkembang di media siber adakalanya pada kata-kata (morphemes), huruf (graphemes), maupun tanda baca serta penggunaan simbol atau gambar tertentu. Beberapa contoh seperti di halaman berikut ini.
Penggunaan singkatan, akronim, dan
gabungan keduanya OIC (oh I see), CYBLR (see you all later), Kudet (kurang update)
Gabungan huruf dan angka G4 bis4 (gak bisa) Penggunaan tanda baca Serius!!!!
Huruf besar (menunjukkan kondisi
marah atau teriak) OH YA
Gaya pelafalan Cemungudh (semangat)
Ikon Emosi (emoticon) J (senyum/bahagia), L (sedih/kecewa)
2. Netlingo
Kebalikan dengan netspeak, netlingo merupakan penulisan dalam media siber yang seolah-olah tulisan itu, yakni berbicara. Media siber dan komunikasi yang mengandalkan teks juga tidak bergeser dari sekadar bahasa teks baku menjadi bahasa teks yang seolah-olah mewakili ungkapan ketika berbicara. Salah satu alasan mengapa bahasa baku yang melibatkan prasyarat penulisan sering kali dilanggar dalam media siber, dikarenakan adanya aktivitas pengguna media siber yang, misalnya tidak memiliki banyak waktu, hingga karena pengaruh perangkat teknologi itu sendiri, misalnya perangkat telepon genggam yang berukuran kecil dan bentuk papan ketik (keyboard) komputer (Thurlow, dkk., 2004:
124). Misalnya dalam kaidah dasar di surat biasanya menggunakan kata
“Dengan Hormat”, tetapi di surat elektronik penggunaan kata “Hi” atau dalam bahasa Indonesia “Hai” menggantikan kata formal sebelumnya.
Thurlow, dkk. juga mencontohkan bahwa kesalahan ketik, kesalahan penggunaan huruf kapital, hingga penggunaan tanda baca merupakan kelumrahan dalam netlingo, karena teks sedang berbicara dan ketika berbicara standar penulisan dan/atau tata bahasa tidak menjadi penting atau mengurangi pesan yang ingin disampaikan.
Terkait dengan perkembangan bahasa di media siber, terutama netlingo dan netspeak, muncul di ruang siber para pengguna di Indonesia, penulis (bersama Adi Onggoboyo, 2011) melihat bahwa ada kasus yang menarik dari perkembangan bahasa siber, yakni fenomena bahasa Alay.
Kata “Alay” tidak ditemukan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Beberapa pengertian dasar dari alay yang didapat dari sumber-sumber internet, yang paling populer di antaranya alay adalah perilaku remaja yang membuat dirinya merasa keren, cantik, hebat di antara yang lain atau tulisan lain yang menyatakan alay ini singkatan dari Anak Layangan, Alah Lebay, Anak Layu, atau Anak keLayapan yang menghubungkannya dengan anak JARPUL (Jarang Pulang). Dominannya, istilah ini untuk menggambarkan anak yang sok keren, secara fashion, karya (musik), maupun kelakuan secara umum. Konon asal usulnya, alay diartikan
“anak kampung,” karena anak kampung yang rata-rata berambut merah dan berkulit sawo gelap karena kebanyakan main layangan. Dari definisi lepas yang ditemukan di internet ini dapat ditangkap bahwa
alay mengacu kepada sikap atau perilaku dari seseorang yang tampak dari informasi yang ditampilkannya secara kasat mata seperti cara berpakaian, bermusik, dan tata rambut.
Sesungguhnya baik anak alay maupun bahasa alay, keduanya merupakan suatu konstruksi sosial. Anak alay belum tentu menggunakan bahasa alay, dan orang yang menggunakan bahasa alay belum tentu berpenampilan seperti stigma yang melekat pada kebanyakan orang untuk anak alay. Kalau dicermati, proses konstruksi sosial atas keduanya secara kebetulan berada pada suatu era yang sama, dan yang lebih penting, terdapat elemen dasar keduanya yang diasumsikan mirip, misalnya sama-sama merasa keren. Oleh karena terdapat kecenderungan bahwa anak alay juga menggunakan bahasa alay, dan sebaliknya, orang yang berbahasa alay kerap berpenampilan luar seperti halnya anak alay, maka dalam banyak kasus, anak alay dan bahasa alay merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan.
Bahasa alay di dalam ruang virtual sesungguhnya hanya berupa format tulisan (teks), bukan bahasa verbal. Bahwa bahasa alay dalam ruang virtual hampir tidak mungkin dipakai dalam pembicaraan sehari- hari. Bahasa alay sendiri diminati oleh sebagian anak muda, karena dinilai sesuai dengan jiwanya yang bebas dan beda dengan yang lain (Misandra, dkk., 2010). Lebih lanjut Misandra mengatakan, bahwa lambat laun bahasa ini berkembang menjadi bahasa gaul, karena anak muda ingin dinilai sebagai anak yang tidak ketinggalan maka mereka beralih dari penulisan yang biasa menjadi penulisan dengan gaya alay. Dengan demikian, fenomena alay sesungguhnya memiliki kemiripan dengan fenomena anak gaul. Lebih sederhananya, bahasa alay merupakan salah satu varian bahasa gaul kontemporer. Di zaman 80-an atau 90-an dikenal bahasa prokem sebagai bahasa gaul. Zaman berubah, bahasa gaul juga mengalami evolusi, dan hadirlah sekarang bahasa alay. Bahkan Idi Subandy Ibrahim (2007) mengatakan, bahwa:
Penguasaan bahasa gaul dianggap sebagai modal utama untuk bisa masuk dalam dunia yang diyakini membutuhkan orang-orang yang “pandai gaul.” Adapun seseorang yang tidak pandai bergaul kita kenal dengan kata kurang gaul. Sehingga dengan hanya bermodalkan keterampilan berbahasa gaul kita dapat menjadi bagian dari komunitas yang menamakan dirinya sebagai “anak gaul”.
Kemudian, jika ditilik dari konfigurasi huruf yang membentuk kata- kata alay, setidaknya dapat dianalisis terdapat beberapa pola berikut.
a. Kombinasi huruf kecil huruf besar, misalnya QuH Sdar SHbaT (aku sadar sahabat).
b. Penghilangan satu atau lebih huruf, misalnya bgd (banget), smua (semua).
c. Penyingkatan, merupakan varian dari penghilangan, contoh: aq (aku), km (kamu), qt (kita), mrk (mereka).
d. Penambahan satu huruf atau lebih, baik diletakkan di akhir kata misalnya aquw (aku), maupun disisipkan di tengah kata misalnya kamyu (kamu).
e. Pengulangan satu huruf atau lebih yang sama, misalnya kkkitta (kita), gobbblllookk (goblok).
f. Penggantian konsonan dan vokal, misalnya gyh (lagi), chybuwgh (sibuk).
g. Penggantian huruf dengan angka atau lambang, misalnya g4y4 (gaya), Skíån (sekian).
h. Pengguna angka dan tanda baca atau simbol, misalnya 4I<!_! (aku).
Orang yang memiliki gaya bahasa dan tulisan alay memiliki cara penyampaian tersendiri untuk mencurahkan isi hatinya dalam tulisan.
Tetapi cara yang mereka gunakan bukanlah cara yang memudahkan orang untuk memahami apa yang mereka maksud, melainkan lebih mempersulit orang yang membacanya agar mengerti, seperti:
Skiáš LáMa aQu tSluS mikrkan muuuhh... (sekian lama aku memikirkanmu).
Dari contoh di atas, tulisan yang dibuat dengan bahasa alay akan lebih mempersulit dalam berkomunikasi dan akan membuat kontingensi ganda antarpihak yang melakukan komunikasi semakin ‘ganda’, yang berarti memperumit, karena orang dengan bahasa dan tulisan alay memiliki caranya sendiri. Sehingga akan membentuk hubungan sosialnya tersendiri, yang tentunya akan semakin mempersulit interaksi dan hubungan sosial secara lebih luas.
Dalam situasi normal, kecukupan informasi antar-sesama pihak yang berkomunikasi diperlukan, sehingga dibutuhkan pengetahuan akan struktur sosial untuk mencari jalan keluar masalah komunikasi di media
siber. Struktur bahasa dapat dianggap merupakan salah satu bentuk informasi struktur sosial yang dapat membantu upaya menyolusikan komunikasi sehingga mungkin terjadi. Bahasa alay, sebagai misal, membuat struktur sosial yang dibangun menjadi berjarak yang berakhir dengan kemungkinan interaksi sosial yang kurang baik dengan sebagian besar orang (Nasrullah dan Onggoboyo, 2011). Namun media siber tidak bisa dilepaskan dari kultur pengguna media siber itu sendiri.
Sebab tradisi awal terhadap bahasa, penggunaan bahasa merupakan perwakilan atau representasi dari komunitas masyarakat tertentu atau dalam konteks besar menandakan asal negara (geografis). Sehingga ketika pengguna melibatkan diri dalam suatu media siber berarti pengguna itu sudah memasuki lingkungan atau komunitas tertentu;
yang dengan sendirinya pengguna harus juga mengakui, beradaptasi, dan menerima penggunaan bahasa di komunitas itu.