• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kecakapan Interpersonal Guru

INTERPERSONAL DALAM PEMBELAJARAN

D. Kecakapan Interpersonal Guru

interpersonal setidaknya ada dua syarat yang harus dipenuhi, yaitu ketepatan dan kepatutan.

Kecakapan interpersonal, menurut Rungapadiachy (1999: 193) adalah kemampuan “.. berkomunikasi secara efektif dengan seseorang atau sekelompok orang. Kompetensi interpersonal ini terdiri atas beberapa inti bagian, yaitu (1) kesadaran diri yang menjadi prasyarat untuk kesadaran terhadap orang lain atau berempati yang mendasari komunikasi efektif; menyimak secara efektif; (3) keterampilan bertanya, yang merupakan kemampuan untuk memaksimalkan peroleh informasi yang relevan yang dikumpulkan dalam perbincangan sehingga mendorong interaksi yang efisien; (4) komunikasi lisan; (5) membantu dan memfasilitasi; (6) merefleksikan, merupakan kemampuan untuk merefleksikan dan menyampaikan hasil refleksi; (7) tegas, yakni kemampuan untuk menunjukkan pandangan secara jelas dan terbuka;

dan (8) komunikasi nonverbal yang mencakup rona wajah, tatapan mata, gerak-gerik tubuh, sikap tubuh, dan penggunaan kiat-kiat paralinguistik.

Dalam proses dan keterampilan interpersonal itu ada beberapa bagian yang seolah terpisah, tetapi sebenarnya saling terkait. Misalnya saja, saat siswa mempresentasikan hasil diskusi kelompok di depan kelas ada kecakapan komunikasi yang terlibat di dalamnya seperti kecakapan menyatakan dan memperhatikan orang lain, yang memang berada dalam ranah interpersonal. Pada saat presentasi hasil diskusi, selain harus menyampaikan informasi secara lisan juga harus menyimak secara aktif dan berdiskusi, selain memantau reaksi dari teman-teman sekelasnya.

Salah satu alasan mengapa keterampilan interpersonal dan mendengarkan ini penting dalam pembelajaran adalah karena kegiatan pembelajaran dilakukan oleh profesional pembelajaran. Hampir semua profesi mengharuskan penguasaan tiga kelompok keterampilan, yaitu (1) keterampilan kognitif (basis pengetahuan bagi profesi); (2) keterampilan teknis (kemampuan untuk menggunakan peralatan/

perangkat tertentu yang diperlukan); dan (3) keterampilan komunikasi atau keterampilan sosial (termasuk kemampuan individu untuk berperilaku baik dalam kegiatan interpersonal).

Lebih jauh lagi, Dobransky (2008: 12) menunjukkan penegasan para pakar komunikasi pembelajaran tentang relasi antara guru dan siswa yang dapat memengaruhi secara langsung maupun tidak terhadap pemahaman atas bahan ajar. Ada berbagai kajian yang menunjukkan

bahwa relasi positif antara guru dan siswa memfasilitasi pembelajaran afektif (mengarahkan, mengubah, dan/atau meneguhkan sikap siswa karena terkait dengan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan) yang pada gilirannya juga akan memengaruhi pembelajaran kognitif (penguasaan dan kemampuan memahami dan memanfaatkan pengetahuan).

Tujuan yang hendak dicapai oleh mereka yang terlibat dalam komunikasi interpersonal bisa saja berbeda, namun biasanya mengacu pada kebutuhan interpersonal, yaitu afeksi, inklusi, dan kontrol (lihat, Bettinghaus dan Cody, 1994). Relasi interpersonal dibangun untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Relasi interpersonal melalui komunikasi interpersonal memiliki lima karakteristik, yang sebenarnya bisa juga digunakan untuk mengkaji relasi guru-siswa, yaitu (1) keunikan, karena itu relasi interpersonal lebih banyak didasari faktor- faktor personal ketimbang faktor-faktor sosial; (2) tak tergantikan, yang menunjukkan kemustahilan satu relasi menggantikan relasi lainnya, meski dalam bidang pendidikan hal ini tidak terjadi karena bisa saja siswa mengikuti pelajaran dari guru yang lain; (3) interdependensi di dalam relasi interpersonal, seperti yang bisa kita rasakan misalnya guru bergantung pada komunikasi siswa dalam memberikan bantuan memfasilitasi pembelajaran dan siswa pun bergantung pada gurunya untuk memenuhi tujuan akademik dan mungkin juga bantuan untuk hal-hal yang sifatnya pribadi; (4) membuka diri yang merupakan ciri khas relasi interpersonal, karena dengan membuka diri itu maka terbangun ikatan di antara mitra relasional; dan (5) ganjaran intrinsik yang diperoleh masing-masing orang yang menjalin hubungan.

Kita tentu ingat bahwa pada dasarnya pendidikan itu memfasilitasi pembelajaran. Komunikasi pembelajaran fokus utamanya adalah pembelajaran afektif dan pembelajaran kognitif. Seperti yang dikemukakan Bloom, pembelajaran afektif berkaitan dengan perubahan dalam minat, sikap, nilai-nilai dan perkembangan apresiasi serta penyesuaian diri yang tepat. Banyak studi komunikasi pembelajaran yang menunjukkan adanya korelasi antara pembelajaran afektif dan variabel komunikasi seperti relasi guru dan siswa. Sedangkan pembelajaran kognitif merupakan pembelajaran yang “mengingat atau rekognisi pengetahuan dan perkembangan kemampuan dan kecakapan intelektual”. Seperti halnya dalam pembelajaran afektif, pembelajaran

kognitif pun memiliki kaitan dengan komunikasi seperti penyampaian pesan-pesan yang berupa materi pembelajaran yang dikomunikasi guru atau sesama siswa di ruang kelas.

Swenson (2010) tertarik pada soal kedekatan guru dan siswa.

Mengutip Franada dan Clarke (2004), Swenson menunjukkan, kedekatan adalah “kemampuan menjaga relasi yang harmonis yang didasari ketertarikan pada orang lain”. Sedangkan ketertarikan adalah “proses komunikatif-sosial yang aktif yang di dalamnya individu-individu berusaha untuk disukai orang lain dan berpandangan positif terhadap orang lain”. Soal kedekatan îni penting dalam pembelajaran karena kedekatan merupakan sisi lain dari pembelajaran, yang membuat guru bukan sekadar orang yang tugasnya menyampaikan materi pembelajaran.

Kedekatan ini terkait dengan pengetahuan yang kita miliki tentang siswa dan gaya belajarnya serta memanfaatkan relasi siswa dan guru untuk membelajarkan pada level personal. Guru yang memiliki kedekatan memiliki keterampilan untuk mendorong siswanya menjadi siswa yang aktif, berkomitmen dan memiliki minat dalam pembelajaran.

Relasi interpersonal yang baik, yang antara lain ditandai dengan kedekatan, menunjukkan komunikasi guru-siswa bukan hanya berlangsung di dalam kelas saat terjadi proses pembelajaran.

Komunikasi interpersonal tersebut bisa berlangsung di dalam maupun di luar kelas. Relasi interpersonal yang dekat yang dijaga melalui komunikasi interpersonal ini secara konseptual diyakini berdampak positif terhadap pembelajaran. Kedekatan guru-siswa berkontribusi terhadap efektivitas guru dan efektivitas pembelajaran. Ringkasnya, guru yang efektif itu adalah guru yang mampu menjaga relasi dengan siswanya melalui komunikasi interpersonal. Guru juga bisa menjalankan pembelajaran efektif bila memiliki hubungan interpersonal yang dijalin melalui komunikasi dengan siswanya.

Untuk menjadi orang yang memiliki hubungan interpersonal yang baik biasanya tidak lepas dari soal daya tarik. Setiap orang memiliki daya tarik. Ada yang memiliki daya tarik karena kecantikan dan ketampanannya, kecerdasannya, cara berpakaiannya atau keramahannya.

Daya tarik diri ini merupakan salah satu “pelumas” penting dalam menjalin relasi interpersonal. Guru bisa memiliki daya tarik bagi siswanya, sehingga siswa menjadi dekat dan bersedia membangun relasi interpersonal dalam konteks pembelajaran.

Kita bisa melihat apa yang dikembangkan oleh dua orang ahli komunikasi pembelajaran, yaitu McCroskey dan McCroskey (1986:

161-163) yang menyusun strategi untuk membangun daya tarik ini dalam konteks komunikasi pembelajaran. Strategi tersebut adalah sebagai berikut.

1. Altruisme. Guru membuat siswa-siswanya menyenanginya dengan cara membantu siswanya. Misalnya, guru memegangi pintu kelas ketika siswanya masuk kelas sehingga siswa bisa masuk kelas dengan nyaman, membantu siswanya yang mengalami kesulitan mempelajari materi tertentu, membantu siswa dengan memberinya bahan yang diperlukan untuk mengerjakan tugas, atau guru memberi saran atas permintaan siswanya.

2. Kendali. Guru menunjukkan dirinya sebagai seorang pembelajar dan sebagai pengendali atas apa yang terjadi di dalam kelas. Misalnya, guru mengarahkan diskusi yang berlangsung di kelas, bertanggung jawab atas kegiatan-kegiatan di dalam kelas, dan memperlihatkan contoh tanggung jawabnya sebagai pemimpin kelas pada waktu sebelumnya.

3. Kesetaraan. Guru menunjukkan dirinya sebagai orang yang sama dengan orang lain. Misalnya guru menghindari untuk terlihat sebagai orang yang lebih unggul atau sombong, dan tidak memerankan dirinya sebagai “orang terpandai” di kelas.

4. Orang yang menyenangkan. Guru bertindak sebagai orang yang menyenangkan, baik sebagai pribadi maupun saat menjalin relasi dengan siswanya. Saat ada gangguan dari luar, guru seperti tidak memedulikannya. Misalnya ketika ada kebisingan dari kelas sebelahnya, dengan tenang guru tersebut menyatakan, “nggak apa- apa, kita kan masih bisa terus belajar”.

5. Pengendali siswa. Guru membebaskan siswa untuk mengendalikan relasi dan situasi lingkungan guru dan siswa. Misalnya, guru membiarkan siswa menjadi penanggung jawab arah diskusi di kelas. Guru membebaskan siswa memengaruhi dirinya dengan tidak memperlihatkan dominasinya sebagai guru.

6. Menjaga arah pembicaraan. Guru mengikuti norma budaya cara manusia bersosialisasi dengan menunjukkan kerja sama, santun, dan bersahabat. Guru dengan sungguh-sungguh menyampaikan

jawaban yang relevan saat siswa mengajukan pertanyaan. Guru juga menyampaikan jawabannya secara tepat, bersikap menyenangkan dan menyesuaikan pesan yang yang disampaikannya dengan keadaan siswanya. Guru tidak terlalu cepat beralih pokok bahasan, tidak menghentikan diskusi siswa, tidak mendominasi kelas, dan tidak terlalu banyak menunjukkan sesuatu yang berkaitan dengan dirinya. Guru menghindari penyampaian topik yang tak menarik bagi siswanya.

7. Dinamis. Guru menampilkan dirinya sebagai pribadi yang dinamis, aktif dan antusias. Misalnya, saat berbicara guru menggunakan badannya untuk menirukan sesuatu dan berbicara dengan cara yang menyenangkan, menggunakan intonasi yang berbeda-beda bahkan mungkin dengan karakter suara yang berbeda juga. Selain itu, guru ini sangat mudah dihubungi dan terbuka pada para siswanya.

8. Keterbukaan. Guru mendorong siswanya untuk berbicara dengan mengajukan pertanyaan dan terus mengajak siswanya berbicara.

Misalnya, guru mencari apa yang diminati siswanya, apa yang dirasakan siswanya, pendapat dan pandangan siswanya dan seterusnya. Guru menanggapi semua hal yang disampaikan siswanya itu, seolah-olah semua hal itu penting dan menarik, lalu melanjutkannya dengan pertanyaan kepada siswa lainnya.

9. Fasilitator kegembiraan. Guru membangun suasana yang membuat siswa dan guru mengalami peristiwa yang menyenangkan. Guru bertindak untuk menggembirakan siswa-siswanya, menceritakan kejadian lucu, dan berusaha membuat suasana kelas kondusif untuk membangun keceriaan. Guru melibatkan siswa dalam kegiatan sosial dan kelompok bersama teman-temannya. Guru memperkenalkan siswa pada teman-temannya dan membuat siswa merasa satu kelompok dengannya.

10. Memengaruhi persepsi kedekatan. Guru melakukan sesuatu yang membuat siswanya memandang gurunya makin dekat saja hubungannya dengan mereka. Misalnya, guru menyapa siswanya dengan nama panggilan akrabnya, berbicara dengan bahasa “kita”

dan bukan “Aku” dan “Kamu”. Guru pun membahas kegiatan yang sudah dilakukan bersama dengan para siswanya.

11. Menyimak. Guru memperhatikan apa yang dikatakan para siswanya dengan cara menyimak secara aktif. Guru memberi perhatian penuh pada siswanya, dengan cara memperhatikan apa yang dinyatakannya. Guru menunjukkan perhatiannya dengan langsung menanggapi gagasan yang diajukan siswanya, mengajukan pertanyaan untuk meminta penjelasan siswa, menunjukkan keterbukaan terhadap gagasan yang disampaikan siswa dan ingat gagasan yang dikemukakan siswanya.

12. Tanggapan nonverbal. Guru menyampaikan pesan-pesan nonverbal yang menunjukkan dirinya senang dan tertarik pada apa yang disampaikan siswanya. Misalnya, guru sengaja mendekati siswa yang bertanya, melakukan kontak mata, tersenyum, memegang bahu siswa, atau mengangguk-anggukkan kepalanya. Semua itu dilakukan untuk memperlihatkan ketertarikan guru pada apa yang dikemukakan siswanya.

13. Terbuka. Guru menunjukkan dirinya sebagai orang yang terbuka.

Guru menyampaikan secara terbuka informasi tentang dirinya seperti latar belakang, minat dan pandangannya. Bahkan, bisa saja guru juga sangat terbuka untuk informasi yang sangat pribadi seperti pengalaman yang tak menyenangkan yang pernah dialaminya, kelemahannya dan ketakutan-ketakutannya yang membuat siswa merasa menjadi orang yang spesial dan dipercaya gurunya.

14. Optimisme. Guru menunjukkan dirinya sebagai orang yang positif dan optimistis sehingga dalam pandangan siswanya guru tersebut terlihat sebagai orang yang menyenangkan bagi lingkungannya.

Guru bertindak dengan cara “gembira-membawa-bahagia”, ceria, dan selalu melihat sisi positif dari segala sesuatu. Dia tidak mengeluh, tidak bicara topik yang tidak menyenangkan atau kritis terhadap diri dan orang lain.

15. Pribadi mandiri. Guru menunjukkan dirinya sebagai pribadi mandiri dan berpikir bebas, sehingga merupakan pribadi yang bisa berdiri sendiri dan bisa menyatakan pandangannya apa pun konsekuensinya, menolak mengubah perilakunya agar sesuai harapan orang lain dan tahu betul apa yang berlangsung dalam kehidupannya. Misalnya, jika guru melihat ada siswanya yang tak sejalan dengan pandangannya dalam beberapa masalah, guru tetap kukuh dengan pandangannya

dan percaya diri kalau pandangannya benar, dan bahkan dia akan berusaha mengubah pandangan siswanya.

16. Daya tarik fisik. Guru menjaga penampilannya semenarik mungkin, dengan mengenalkan pakaian rapi, menarik, bersih, berdiri tegak dan tegap.

17. Menunjukkan diri sebagai pribadi menarik. Guru menunjukkan dirinya sebagai orang yang tertarik untuk tahu banyak hal. Misalnya, menjelaskan prestasi yang diraihnya dan sifat-sifat positifnya, menekankan bidang yang diminatinya, menyampaikan gagasan unik, menunjukkan kecerdasan diri dan orang berpengetahuan.

Bisa saja, guru ini eksentrik sehingga kelihatan aneh, tak terduga dan luar biasa.

18. Mengaitkan dengan ganjaran. Guru menunjukkan dirinya sebagai figur penting yang dapat memberikan ganjaran kepada siswa- siswanya yang sejalan dengan dirinya. Misalnya, menganjurkan siswanya agar berperilaku menyenangkan orang lain dan menyampaikan informasi yang berharga pada siswa-siswanya.

19. Penegasan konsep diri. Guru menunjukkan rasa hormatnya pada siswa, dan membuat siswanya nyaman. Misalnya, guru memperlakukan siswa sebagai orang penting, memberi pujian pada siswa, menyatakan hal-hal positif tentang siswanya dan memperlakukan apa pun yang disampaikan siswanya sebagai informasi penting. Guru juga menyampaikan kepada guru lain tentang siswanya dan berharap bisa memperoleh informasi lain dari pihak ketiga.

20. Inklusif. Guru sering menemui siswa-siswanya. Misalnya, guru memulainya dengan pertemuan biasa lalu membuat jadwal untuk pertemuan berikutnya, berusaha dekat dengan para siswanya secara fisik, dan memosisikan dirinya untuk selalu diundang dalam kegiatan-kegiatan sosial siswa.

21. Sensitivitas. Guru menunjukkan sikap hangat dan empatik terhadap siswanya melalui komunikasi yang penuh kepedulian dan perhatian.

Guru pun menunjukkan simpati terhadap masalah dan kecemasan yang dihadapi siswanya, menggunakan sebagian besar jam kerjanya untuk memahami bagaimana siswa memandang dirinya, dan aspek-aspek apa yang dinyatakan siswa sebagai bentuk respons jujur dari siswa.

22. Kesamaan. Guru mencoba membuat siswanya merasa mereka memiliki kesamaan dalam sikap, nilai, minat, pilihan, kepribadian, dan seterusnya. Guru menyatakan pandangannya bahwa ada kesamaan pandangan terhadap siswa, setuju dengan beberapa hal dari apa yang dinyatakan siswa, dan sengaja menghindari perilaku yang membuatnya tampak berbeda dari siswa-siswanya.

23. Suportif. Guru mendukung siswa dan memberi dukungan pada posisi siswa dengan cara memotivasi, menunjukkan pemihakan, dan menguatkan siswanya. Guru sedapat-dapatnya berusaha tidak mengkritik siswa atau menyatakan sesuatu yang menyakiti hati siswa, dan berada pada pihak siswa manakala siswa menghadapi pihak yang berbeda dengan pandangan siswa.

24. Terpercaya. Guru menunjukkan dirinya sebagai orang yang bisa dipercaya dan bisa diandalkan. Misalnya, guru menunjukkan dirinya sebagai orang yang bertanggung jawab, bisa diandalkan, jujur, berdedikasi, tulus, dan fair. Guru juga menunjukkan satunya kata dengan perbuatan, teguh dengan janji yang dibuatnya bersama siswa, dan tidak mau berada pada “pihak yang salah” dengan bertindak wajar sepanjang waktu.

Strategi membangun ketertarikan pada guru ini diperlukan untuk tujuan membangun relasi interpersonal yang baik dengan siswa.

Mengapa membangun relasi ini penting? Kiranya menarik apa yang dikemukakan Wang dan Haertel (1995), yang menyatakan perkara relasi guru-siswa ini memang harus dirumuskan ulang sejalan dengan kemajuan dalam bidang psikologi kognitif. Menurut keduanya, sejalan dengan prinsip-prinsip konstruktivisme, guru dan siswa secara bersama-sama mengonstruksi pengetahuan. Guru dan siswa itu diyakini membentuk komunitas pembelajar yang membangun wacana sosial dan menghasilkan pemahaman bersama. Guru dipandang sebagai fasilitator yang membimbing dan memperkaya kegiatan belajar siswa, sedangkan siswa berperan sebagai orang yang sama-sama berperan dalam proses pembelajaran.

Tabel 2.1 Perubahan Pola Pembelajaran Perubahan

Dari Deskripsi Menjadi Deskripsi

Berpusat pada

guru Guru

menyampaikan informasi?

Berpusat pada siswa Guru sebagai fasilitator dan pendamping siswa mengerjakan tugas- tugas yang autentik Cakupan

bahan ajar Guru

menyampaikan bahan ajar melalui pengajaran langsung dan beralih dari satu topik ke topik pembelajaran berikutnya dengan kecepatan yang sesuai dengan kemampuan siswanya

Belajar dan

melakukan Guru merancang kegiatan yang diikuti siswanya untuk memenuhi standar akademik. Kemampuan siswa mengerjakan tugas itu menunjukkan kemampuannya berdasarkan standar yang ditetapkan. Guru hanya melakukan intervensi pada siswa yang belum memenuhi standar.

Menghafal

informasi Guru menghabiskan waktunya untuk mengajar, lalu pada akhir pengajaran memberikan ujian untuk menguji kemampuan menghafal

Memanfaatkan

informasi Guru mendorong

siswanya untuk mengerjakan tugas yang menghasilkan sesuatu yang autentik yang menunjukkan penguasaan informasi dan cara memanfaatkan informasi yang dimilikinya Pengajar Guru

menghabiskan waktunya untuk mengajar, untuk berdiri dan menyampaikan materi pembelajaran.

Pengetahuan datangnya dari guru

Fasilitator Guru memberikan tugas pada siswa yang membuat siswa melakukan kajian dan menggunakan pengetahuan yang dimilikinya. Guru berperan sebagai pembimbing yang memberikan dorongan yang dibutuhkan siswa.

Guru berperan sebagai manajer penugasan.

Perubahan

Dari Deskripsi Menjadi Deskripsi

Konfigurasi kelompok tunggal

Semua siswa menerima pengajaran yang sama. Satu ukuran yang tepat untuk semua orang.

Pengelompokan yang fleksibel yang sesuai kebutuhan siswa.

Guru membuat kelompok sesuai dengan kebutuhan.

Pengajaran biasanya disampaikan pada kelompok besar. Di sini adalah dilakukan pengajaran yang dilakukan adalah pengajaran pada individu, pasangan individu atau kelompok-kelompok kecil.

Wujud pengajaran dan pembelajaran tunggal

Keragaman bentuk pembelajaran yang sesuai bagi semua siswa

Menghafal dan

mengingat Ujian menjadi cara terpenting dalam penilaian dan terfokus pada kemampuan menghafal/

mengingat dan kemampuan berpikir tingkat rendah

Kemampuan berpikir

tingkat tinggi Guru menugaskan siswanya untuk mengerjakan tugas yang membutuhkan kemampuan berpikir tingkat tinggi (sintesis, analisis, aplikasi, dan evaluasi)

Sumber: Characteristic of a 21st Century Classroom (http://www.learningaccount.net/Course_Files/

T21C001_055.htm)

Berdasarkan tabel tersebut, kita lihat bahwa kemampuan memosisikan siswa sebagai orang yang menjadi pusat pembelajaran membutuhkan kemampuan berkomunikasi yang baik dari guru. Karena guru akan mendorong siswanya berkomunikasi, membangkitkan kemampuan siswa untuk mengomunikasikan pikiran dan gagasan secara lisan dan tertulis. Komunikasi interpersonal mendorong guru untuk bisa berkomunikasi dengan baik, yang tidak hanya menekankan dimensi isi pesan tetapi juga dimensi relasional dalam pembelajaran.

Kelas bukan sekadar ruang belajar, melainkan juga sebuah sistem sosial yang anggota-anggotanya saling berinteraksi satu sama lain, saling mempertukarkan pengetahuan dan pemahaman, saling berkomunikasi dan saling memengaruhi. Ruang kelas juga bukan hanya ruang untuk guru mengomunikasikan materi pembelajaran yang harus dikuasai para siswanya melainkan juga tempat para siswa mempertukarkan pengetahuan dan pemahaman melalui kegiatan komunikasi dan interaksi di antara sesama siswa. Karena itu, belajar bukan sekadar menyimak dengan baik materi pembelajaran yang disampaikan guru, melainkan juga bagaimana para siswa, melalui interaksi dan komunikasi di antara sesamanya, membangun pengetahuan dan mengembangkan pemahamannya.

Salah satu komponen penting dalam pembelajaran di ruang kelas adalah terjadinya interaksi sosial dan interaksi komunikatif di antara sesama siswa dan antara siswa dan gurunya. Kemampuan guru menyampaikan bahan pelajaran secara jelas tentu penting bagi proses pembelajaran. Begitu juga dengan kemampuan komunikatif siswa dalam mengajukan pertanyaan, menyampaikan pandangannya atau bahkan menyatakan ketidaksetujuannya terhadap satu gagasan, menjadi prasyarat penting berjalannya proses pembelajaran yang baik.

Sebagai pemimpin pembelajaran di ruang kelas, guru tidak hanya menyampaikan bahan ajar tetapi juga mendorong tumbuh kembangnya proses interaksi dan komunikasi yang menunjang pembelajaran serta terjadinya interaksi sesama siswa dan komunikasi yang produktif di antara mereka. Karena itu, kelas bukan merupakan ruangan hening

KOMUNIKASI KELOMPOK