• Tidak ada hasil yang ditemukan

IMPLIKASI KEHADIRAN MEDIA SIBER

B. Berita

Berita selama ini dipahami sebagai suatu informasi yang diproses melalui institusi media. Juga, khalayak atau massa berada dalam posisi pasif dalam menerima terpaan informasi yang disampaikan oleh media.

Suatu peristiwa yang terjadi di lapangan akan dinilai penting atau tidaknya untuk dipublikasikan tergantung bagaimana institusi atau pekerja media melihat peristiwa itu sebagaimana adanya kepentingan atau kekuatan di redaksi. Jika suatu peristiwa memiliki nilai berita yang penting diketahui, dengan memakai perspektif bahwa peristiwa itu dibutuhkan oleh khalayak, institusi media akan mengonstruk peristiwa itu menjadi suatu komoditas berita yang akan dikonsumsi oleh khalayak.

Dalam kajian komunikasi massa, proses ini dikenal dengan istilah agenda setting; bahwa peristiwa yang terjadi di lapangan akan dikonstruksi oleh institusi media untuk memilah fakta dan data apa saja yang dianggap penting untuk disampaikan kepada khalayak. Di dalam konten berita itu tentu ada agenda tersembunyi yang berasal dari perusahaan media.

Namun kehadiran internet dan media siber membawa pengaruh terhadap proses produksi berita sebagaimana yang terjadi di perusahaan media tradisional, dan tak kalah pentingnya, yaitu bagaimana khalayak mereposisi dirinya tidak sekadar menjadi konsumen an sich, tetapi juga telah menjelma menjadi produsen. Internet tidak hanya menyebabkan institusi media massa tradisional melakukan konvergensi, baik secara teknologi maupun medium, dalam proses produksi berita, melainkan juga sudah melibatkan khalayak yang selama ini diposisikan secara pasif sebagai konsumen. Keterbatasan jumlah jurnalis dan momentum peristiwa ditambah letak geografis jangkauan liputan media menjadi salah satu alasan mengapa keterlibatan warga dalam jurnalisme warga

dianggap penting oleh institusi media. Terjadinya bom di London, Inggris pada 2007 merupakan salah satu contoh bagaimana institusi media tradisional juga memanfaatkan keterlibatan warga dalam memproduksi suatu berita. Sesaat setelah bom meledak, dalam waktu singkat informasi, foto, dan video peristiwa yang diproduksi dari warga menyebar dengan cepatnya di internet dan juga memenuhi surat elektronik media tradisional seperti BBC. Menurut Jesse Hicks (2009), peneliti dari Penn State University menyebutkan institusi berita nasional BBC menerima ratusan pesan singkat (text message), foto, video, dan e-mail yang menginformasikan kejadian itu yang tidak dapat diliput oleh BBC.

Dalam praktik di media tradisional, media, dan jurnalis tidak terlepas dari upaya membingkai (framing) suatu peristiwa menurut jurnalis atau bahkan media itu sendiri. Framing menyediakan perangkat bagaimana jurnalis membuat simplikasi, prioritas, dan struktur tertentu dari suatu realitas. Dalam rangka ini realitas yang ada didefinisikan menurut pandangan jurnalis, pada taraf selanjutnya melalui proses manajemen redaksional, sehingga ia menjadi realitas yang bermakna dan dekat dengan masyarakat atau khalayak yang menjadi penerima (receiver) dari hasil konstruksi yang berupa berita itu. Bahwa realitas yang diberitakan sebenarnya bukanlah realitas yang objektif. Ada subjektivitas yang bermain di dalamnya dan ini terbentuk melalui rutinitas yang terjadi di dalam manajemen redaksional. Realitas bukanlah laporan pertama, melainkan telah disesuaikan dengan kepercayaan, nilai, dan pengharapan pilihan. Strategi yang dilakukan untuk menyesuaikan gaya dan meritualkan pembuatan berita tentang objektivikasi, antara lain:

1. Penyajian kemungkinan yang bertentangan, dilakukan oleh jurnalis dalam kondisi di mana realitas yang terjadi tidak dapat diungkapkan faktanya atau tersamarkan.

2. Penyajian bukti yang mendukung untuk memperkuat pernyataan yang meragukan.

3. Kebijaksanaan penggunaan tanda kutip dari narasumber untuk menguatkan pernyataan atau isu yang dikonstruk.

4. Penyusunan cerita dengan urutan yang tepat, untuk surat kabar biasanya berita disusun dengan menempatkan bagian terpenting di

awal berita yang tidak terpenting di akhir berita (model piramida terbalik).

5. Pelabelan analisis berita

Prosedur berita yang ditampakkan sebagai sifat formal kisah berita dan media massa sebenarnya yaitu strategi yang digunakan oleh jurnalis untuk melindungi diri dan untuk meletakkan tuntutan profesional agar bersikap objektif. Namun ada catatan yang diberikan Tuchman berkaitan dengan objektivikasi pemberitaan media massa, bahwa realitas yang dikonstruk dalam berita cenderung mengesahkan status quo. Pelaporan objektif yang dilakukan media massa sebenarnya, yaitu ritual, prosedur rutin yang hampir tidak ada hubungannya dengan penghilangan sikap memihak dari pembuatan berita (Gaye Tuchman, 1978: 660-678).

Dalam jurnalisme warga, berita yang dihasilkan warga pada dasarnya merupakan hasil kerja individual frame. Peristiwa yang terjadi di lapangan juga dikonstruksi menurut pandangan dan hasil seleksi.

Namun perbedaan yang lebih tegas antara jurnalis di media tradisional dan jurnalisme warga yaitu hasil konstruksi terhadap realitas bisa dikatakan secara independen dilakukan oleh warga sendiri tanpa campur tangan birokrasi redaksi sebagaimana terjadi di institusi media. Suatu opini atau pemihakan jurnalis, sebagai contoh, tidaklah bisa dimasukkan sekenaknya saja di dalam tubuh berita yang ditulis. Berbeda dengan warga dalam jurnalisme warga, setiap warga bebas mengungkapkan ekspresi, opini, pendapatnya, bahkan kritik pedasnya yang diselipkan di dalam tubuh berita yang dibuat. Juga, dalam media jurnalisme warga, berita sebagai isi utama dari media pada dasarnya merupakan komoditas khalayak sebagai produsen (jurnalis) sekaligus objek (sumber berita) sebagai pemberitaan. Kondisi diri sebagai sumber berita atau self- commodity yang menjadikan diri khalayak itu sendiri sebagai objek pada dasarnya merupakan realitas yang dibangun oleh jurnalis warga itu sendiri yang berasal dari dua sumber realitas, yakni di luar diri (realitas objektif eksternal) dan di dalam diri (realitas objektif internal) jurnalis warga tersebut, sebagaimana dijelaskan pada gambar berikut.

JURNALIS WARGA A RE

AL TI AS

REALITAS A

JURNALIS

WARGA B REALITAS

B

REALITAS C

REALITAS D JURNALIS

WARGA C

JURNALIS WARGA D EKSTERNAL

INTERNAL

Gambar 7.1 Realitas Khalayak dalam Media Jurnalisme Warga Berdasarkan skema di atas, maka pembentukan realitas oleh jurnalis warga dalam media jurnalisme warga merupakan realitas yang langsung dikonstruk oleh warga itu sendiri tanpa adanya campur tangan dari pihak lain sebagaimana yang terjadi di dalam institusi industri media tradisional. Khalayak, dengan segala pertimbangan dan tujuannya, mempublikasikan realitas yang berada di luar dirinya menjadi realitas yang menurutnya layak untuk diketahui oleh orang lain di media jurnalisme warga.

Dengan mengambil konsep framing ini, jurnalisme warga dan jurnalisme yang berlaku di perusahaan media tradisional pada umumnya menjadi dua posisi yang berbeda dalam melihat suatu peristiwa.

Perbedaan ini menurut Jan Schaffer (2010), dalam Civic and citizen Journalism’s Distinction, bahwa berita dalam media jurnalisme warga berasal dari apa yang disebut sebagai “inside-out” yang berbeda dengan liputan yang memakai pola “outside-in” (Schaffer dalam Rosenberry

adn John III, 2010: 178). Media jurnalisme warga juga memungkinkan keterlibatan warga atau khalayak lain untuk mengembangkan opini yang ada di berita (Bruns, 2010a: 3); proses diskusi melalui kolom komentar menjadikan berita bukanlah hasil akhir yang tidak bisa diutak-atik sebagaimana berita yang telah dicetak di surat kabar. Pengguna menjadi bagian dari proses konstruksi berita dalam jurnalisme warga (Friedland dan Kim, 2009: 298).

Secara struktur berita juga menjadi bagian penting yang membedakan jurnalis warga dengan jurnalis di media tradisional.

Suatu berita, misalnya straight news atau berita keras (hard news), merupakan laporan jurnalis berdasarkan struktur piramida terbalik;

bahwa semakin ke bawah dalam struktur berita berarti semakin tidak penting informasi yang akan disampaikan. Selain itu, suatu berita pada umumnya yang dipublikasikan di media cetak, terdiri dari judul, lead, tubuh berita, dan penutup berita. Namun dalam kenyataannya jurnalis warga terkadang “tidak mematuhi” struktur suatu berita.

Peristiwa yang terjadi di lapangan bisa saja hanya dipublikasikan oleh warga hanya dalam satu kalimat yang terdiri dari tiga atau empat kata saja. Perincian sebagaimana yang diformulasikan dalam Formula Lasswell (1972) tentang kelengkapan berita, yang sering digunakan di literatur jurnalistik tentang berita, yakni 5W+1H, menjadi kabur dalam jurnalisme warga. Suatu berita bisa saja hanya memuat what dan/atau how dalam media jurnalisme warga dengan sisanya memuat opini warga.

Namun kondisi ini menurut Burns (2010a: 7-8) merupakan salah satu karakteristik jurnalisme warga. Dengan menggunakan istilah

Pro-Am” Journalism, penggabungan dari kerja profesional serta amatir dalam jurnalistik, Burns menyatakan bahwa: Pertama, kehadiran laporan jurnalisme warga merupakan laporan dari pihak pertama yang menjadi saksi langsung dari suatu peristiwa. Laporan ini bisa jadi terlewatkan oleh institusi media dikarenakan isu yang terjadi bukan menjadi minat ekonomi-politik media yang bersangkutan, keterbatasan sumber daya manusia, dan jangkauan media terhadap peristiwa itu. Kedua, liputan warga dalam jurnalisme warga menurut Burns pada dasarnya bisa menjadi bahan, masukan, atau data awal yang digunakan untuk melengkapi berita yang dipublikasikan; di sisi lain konten itu bisa juga menjadi sumber alternatif lain audiences dari sekadar, yang selama ini terjadi, hanya bersandar pada media tradisional. Karakteristik terakhir,

media jurnalisme warga dan warga merupakan sumber yang bisa mengakses informasi dan peristiwa selama 24 jam nonstop. Berbeda dengan keterbatasan media tradisional yang penayangannya sesuai dengan jadwal, jurnalisme warga bekerja dengan melibatkan seluruh warga yang ada di dunia dan terhubung dengan jaringan komputer melalui internet tanpa dibatasi waktu. Beragam media jurnalisme warga, dengan karakteristiknya masing-masing, selalu hidup tanpa henti. Juga, dengan karakteristik konten dalam jurnalisme warga yang terus-menerus berkembang, suatu peristiwa yang diberitakan akan semakin bertambah informasi, data, kritikan, opini, dan sebagainya sebagaimana dikenal dengan istilah user-generated-content atau konten yang dihasilkan dari pengguna media siber.