MAKALAH
ASUHAN KEPERAWATAN HEPATITIS
Disusun Oleh : Kelompok 2
Dosen Pembimbing: Sukron., S.kep., Ns., MNS Mata Kuliah: keperawatan Dewasa Sistem Endorin, Imunologi, Pencernaan, Perkemihan, dan
Reproduksi Pria
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KESEHATAN
INSTITUT ILMU KESEHATAN DAN TEKNOLOGI MUHAMMADIYAH PALEMBANG
TAHUN AJARAN 2023/2024
11. Mita Febrianti 21122033
12. Nabilah 21122035
13. Nadira Alawiyah 21122036 14. Riska Putri Utami 21122046
15. Rosmida 21122047
16. Sepri Andila Pratiwi 21122050
17. Shinta 21122051
18.
19.
Tahara Dafina Yogi pranata
21122052 21122057 1. Cinta Aprilia Saputri 21122002
2. Eric Maulana 21122004
3. Khoirunnisa 21122006
4. Abelia Putri Sahara 21122007 5. Angel Diva Zafira 21122010 6. Arief Sevta Junanda 21122012 7. Bayu Ardi Anugrah 21122014 8. Firda Amalia Fatrin 21122024 9.
10.
Ilahrahmawati
M.PutraLuki Pratama
21122027 21122031
KATA PENGANTAR
Segala puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Atas rahmat dan karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan tugas penulisan makalah mata kuliah Keperawatan Dewasa Sistem Endokrin, Imunologi, Pencernaan, Perkemihan dan Reproduksi pria tepat waktu. Tidak lupa shalawat serta salam tercurah kepada Rasulullah SAW yang syafa’atnya kita nantikan kelak.
Penulisan makalah berjudul “ASUHAN KEPERAWATAN HEPATITIS” dapat diselesaikan karena bantuan banyak pihak. kami berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua khususnya mahasiswa keperawatan. Selain itu, kami juga berharap agar pembaca mendapatkan sudut pandang baru setelah membaca makalah ini.
Kami menyadari makalah bertema kasus hepatitis ini masih memerlukan penyempurnaan. Kami menerima segala bentuk kritik dan saran pembaca demi penyempurnaan makalah. Apabila terdapat banyak kesalahan pada makalah ini, kami memohon maaf.
Demikian yang dapat kami sampaikan. Akhir kata, semoga makalah Keperawatan Dewasa Sistem Endokrin, Imunologi, Pencernaan, Perkemihan dan Reproduksi pria ini dapat bermanfaat. Terima Kasih.
Palembang, 24 Februari 2024
Kelompok 2
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...i
DAFTAR ISI...ii
BAB I PENDAHULUAN...1
1.1. Latar Belakang...1
1.2. Rumusan Masalah...3
1.3. Tujuan...3
BAB II PEMBAHASAN...4
2.1. Definisi...4
2.2. Anatomi Fisiologi...4
2.3. Tanda dan Gejala...5
2.4. Patofisiologi...5
2.5. Komplikasi...6
2.6. Penatalaksanaan...6
2.7. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN HEPATITIS...8
A. PENGKAJIAN...8
B. Diagnosa...11
C. INTERVENSI KEPERAWATAN...17
BAB III PENUTUP...24
3.1. Kesimpulan...24
3.2. Saran...24
BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang
Penyakit infeksi virus hepatitis merupakan salah satu dari tujuh penyakit yang dapat menyebabkan kematian di dunia (Medscape, 2017).Hepatitis adalah penyakit peradangan hati yang dapat menular. Penyakit ini telah menginfeksi dan menyebabkan penyakit akut hingga kematian pada jutaan orang di dunia. Berdasarkan tipe virusnya, hepatitis ada lima jenis, yaitu hepatitis A, B, C, D, dan E. Hepatitis menghasilkan sekitar 1,4 juta kematian s etiap tahunnya, hepatitis B dan hepatitis C sebesar 90% dari kematian ini, sedangkan 10%
sisanya dari kematian disebabkan oleh virus hepatitis lainnya (Jefferies, et al., 2018). Di I ndonesia, prevalensi hepatitis berdasarkan diagnosis dokter mengalami peningkatan hamp ir di seluruh provinsi dari tahun 2013 sampai 2018 (Kemenkes RI, 2018).
Kebutuhan nutrisi merupakan kebutuhan zat makanan yang diperlukan oleh tubuh, tuj uannya untuk menghasilkan energi dan digunakan untuk aktivitas tubuh (Musrifatul, 201 5). Nutrisi merupakan hal yang sangat penting bagi manusia karena nutrisi merupakan ke butuhan yang esensial sangat penting bagi semua makhluk hidup, mengkonsumsi zat gizi (nutrisi) yang berbahaya bagi tubuh sebanyak tiga kali sehari selama puluhan tahun akan menjadi racun yang menimbulkan penyakit nantinya (Haswita & Reni, 2017). Hepatitis m erupakan penyakit berbahaya dan menular yang menjadi masalah kesehatan masyarakat y ang besar, karena penularannya relatif mudah baik secara horizontal maupun vertikal, pen derita penyakit ini kebanyakan tidak menunjukkan gejala yang khas sehingga penderitany a akan mengalami keterlambatan diagnosis (Harahap, R. A, 2017). Sekitar 50% dari pasie n hepatitis memiliki penyakit hati yang berpotensi kronis dan 10% berpotensi menuju fibr osis hati yang dapat menyebabkan kanker hati. Angka-angka ini menunjukkan bahwa pasi en hepatitis memiliki potensi untuk menjadi kanker hati (Kemenkes RI, 2016). Awal terin feksi hepatitis, banyak yang tidak menunjukkan gejala, atau hanya menderita penyakit rin gan seperti flu. Pada beberapa kasus, gejala yang timbul, seperti air seni dapat menjadi ge lap, kulit dan matanya menjadi kuning (jaundice). Ketika hati mengalami peradangan lebi h dari 6 bulan, penyakit ini disebut hepatitis menahun atau hepatitis kronis (Government o f Western Australia, 2013)
Hepatitis adalah peradangan menyebar pada jaringan yang disebabkan karena adanya infeksi virus dan reaksi toksik terhadap obat-obatan serta bahan kimia (Padila, 2017).
Penderita hepatitis mempunyai gejala klinis berupa nafsu makan menurun, sakit perut, mual atau bahkan muntah, demam ringan, sering disertai nyeri dan bengkak di perut bagia n kanan atas. Kemudian seminggu kemudian, muncul gejala penyakit kuning seperti bagi an putih pada mata menguning, seluruh tubuh menguning, dan urin berwarna seperti teh.
Berdasarkan gejala klinis yang terjadi pada penderita hepatitis, kebutuhan dasar yang mun gkin terganggu adalah termoregulasi, gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi, gangguan kebutuhan rasa aman nyaman nyeri, gangguan kebutuhan cairan dan elektrolit serta gangg uan integritas kulit (Kuswiyanto, 2016).
World Health Organization (WHO, 2018) dalam Jurnal Kesehatan Masyarakat Volum e 9 Nomor 1 (2018) menyebutkan bahwa, angka kejadian Hepatitis di dunia semakin men ingkat setiap tahun dan menginfeksi sepertiga penduduk dunia, diperkirakan 500 juta jiwa terinfeksi Hepatitis dan 1,5 juta orang di dunia meninggal pertahunnya disebabkan oleh H epatitis, ini merupakan angka kematian yang cukup besar di dunia. Virus Hepatitis B dipe rkirakan menyerang 350 juta 3 orang di dunia dan menyebabkan 1,2 juta orang meninggal pertahunnya. Virus Hepatitis B akan menjadi kronik dan 20% penderita Hepatitis kronik i ni dalam waktu 25 tahun sejak tertular akan mengalami kegagalan fungsi hati yang dapat berlanjut menjadi sirosis hepatis, karsinoma hepatoseluer (hematoma), dan kanker hati. M enurut Kementrian Kesehatan (Kemenkes, 2016). Malnutrisi pada penderita hepatitis juga disebabkan karena adanya penurunan nafsu makan. Hal ini karena hati yang rusak melepa skan racun untuk mendetoksifikasi produk abnormal (Kuswiyanto, 2016). Nutrisi sangat p enting dalam penyembuhan penyakit hepatitis karena nutrisi berfungsi untuk menjaga keb utuhan metabolisme tubuh. Kegagalan dalam memenuhi kebutuhan nutrisi akan menggan ggu proses metabolisme sehingga tidak dapat menyediakan energi bagi tubuh untuk tumb uh, berkembang dan memperbaiki jaringan yang rusak. Diet yang cocok untuk penderita h epatitis adalah tinggi karbohidrat, rendah lemak dan tinggi protein karena mudah dicerna.
Pola makan khusus bagi penderita hepatitis dalam jumlah yang optimal dapat membantu menyembuhkan kerusakan sel hati dan memulihkan kekuatan hati. Selain itu dapat menin gkatkan regenerasi sel hati yang rusak, memperbaiki penurunan berat badan akibat tidak n afsu makan, mual dan muntah, mencegah katabolisme protein, mencegah atau mengurang i asites dan koma hati (Almatsier, 2018).
2. Rumusan Masalah
1. Apa definisi hepatitis?
2. Apa etiologi dari hepatitis?
3. Apa saja tanda dan gejala hepatitis?
4. Bagaimana proses patofisiologi terjadinya hepatitis?
5. Bagaimana penatalaksanaan atau terapi pada penderita hepatitis?
6. Bagaimana konsep asuhan keperawatan pada pasien hepatitis?
3. Tujuan
1. Mengetahui definisi hepatitis 2. Mengetahui etiologi dari hepatitis 3. Mengetahui tanda dan gejala hepatitis.
4. Mengetahui proses patofisiologi terjadinya hepatitis
5. Mengetahui penatalaksanaan atau terapi pada penderita hepatitis 6. Mengetahui konsep asuhan keperawatan pada pasien hepatitis
BAB II PEMBAHASAN 3. Definisi
Hepatitis adalah inflamasi hati yang dapat berkembang menjadi fibrosis (jaringan parut), sirosis, atau kanker hati. Hepatitis diakibatkan oleh beberapa faktor seperti infeksi virus, zat beracun (misalnya alkohol, obat-obatan tertentu), dan penyakit autoimun. (Anggraini dkk., 2021). Inflamasi ini ditandai dengan adanya peningkatan kadar enzim hati. Peningkatan diakibatkan oleh adanya kerusakan pada selaput hati. (Papuangan, 2018). Hepatitis adalah peradangan yang terjadi pada peradangan hati yang disebabkan kadan enzim meningkat, infeksi virus,zat beracun dan penyakit pada imun manusia.
Hepatitis adalah peradangan hati yang bisa berkembang menjadi fibrosis (jaringan parut), sirosis atau kanker hati. Hepatitis disebabkan oleh berbagai faktor seperti infeksi virus, zat beracun (misalnya alkohol, obat-obatan tertentu), dan penyakit autoimun (Kemenkes, 2017).
Peradangan hati ditandai dengan meningkatnya kadar enzim hati. Peningkatan ini disebabkan adanya gangguan atau kerusakan membran hati. Ada 2 faktor penyebabnya yaitu faktor infeksi dan faktor non infeksi. Faktor penyebab infeksi antara lain virus hepatitis dan bakteri. Selain karena virus Hepatitis A, B, C, D, E dan G masih banyak virus lain yang berpotensi menyebabkan hepatitis misalnya adenoviruses, CMV, Herpes simplex, HIV, rubella, varicella dan lain-lain. Sedangkan bakteri yang menyebabkan hepatitis antara lain misalnya bakteri Salmonella thypi, Salmonella parathypi, tuberkulosis, leptosvera. Faktor non infeksi misalnya karena obat. Obat tertentu dapat mengganggu fungsi hati dan menyebabkan hepatitis (Dalimartha,2008)
4. Anatomi Fisiologi
Hepatitis adalah peradangan pada hati yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk infeksi virus, konsumsi alkohol berlebihan, atau gangguan autoimun.
Anatomi hati melibatkan struktur organ seperti lobus hati, lobulus hati, dan sel-sel hepatosit. Fisiologi hati mencakup fungsi metabolisme, detoksifikasi, dan produksi empedu.
Penyakit hepatitis dapat terjadi dalam beberapa jenis, seperti hepatitis A, B, C, D, dan E, yang disebabkan oleh virus tertentu. Setiap jenis memiliki karakteristik dan jalur penularan yang berbeda.
Hepatitis A dan E biasanya disebarkan melalui kontaminasi makanan dan air, sementara hepatitis B, C, dan D dapat ditularkan melalui darah, kontak seksual, atau dari ibu ke bayi saat lahir. Virus hepatitis dapat menyebabkan peradangan pada sel-sel hati, menyebabkan kerusakan dan gangguan fungsi hati.
Dalam proses penyakit hepatitis, terjadi perjalanan dari fase akut ke kronis, di mana kerusakan hati dapat berkembang seiring waktu. Pengobatan tergantung pada jenis hepatitis dan tingkat keparahan, sering melibatkan antiviral, imunomodulator, atau transplantasi hati dalam kasus yang parah.
5. Tanda dan Gejala
Tanda dan Gejala Salah satu gejala hepatitis adalah munculnya warna kuning pada kulit, kuku, dan bola mata yang berwarna putih. (Damayanie, 2017). Tanda hepatitis yang dapat terlihat yaitu mual, muntah, tidak nafsu makan, badan merasa lemah, dan mudah merasa lelah.(ARROHMAH, 2022). Gejala umum dari hepatitis adalah jaundice atau warna kekuningan pada kulit atau putih mata dan urine berwarna cokelat seperti teh. (Waluyo, 2013
6. Patofisiologi
Peradangan yang menyebar ke hati (hepatitis) dapat disebabkan oleh infeksi vi rus atau reaksi toksik terhadap obat dan bahan kimia. Unit fungsional dasar hati diseb ut lobulus, yang memiliki pasokan darah sendiri. Ketika peradangan berkembang di h ati, pola normal lobulus terganggu. Gangguan pada pasokan darah normal ke sel-sel h ati menyebabkan nekrosis dan kerusakan. Sel- sel hati yang rusak kemudian dikeluark an dari tubuh oleh sistem kekebalan dan digantikan oleh sel-sel hati yang sehat. Sebag ian besar pasien dengan hepatitis sembuh sepenuhnya dengan fungsi hati normal. Pera dangan di hati akibat serangan virus dapat menyebabkan peningkatan suhu tubuh dan pembesaran kapsul hati, yang menyebabkan rasa tidak nyaman di kuadran kanan atas perut. Ini ditandai dengan mual dan nyeri di bagian atas perut. Jaundis muncul karena kerusakan sel hati. Meskipun jumlah bilirubin yang belum dikonjugasi yang masuk ke hati tetap normal, tetapi karena kerusakan sel hati dan saluran empedu intrahepatik, pe ngangkutan bilirubin di dalam hati menjadi sulit. Selain itu, konjugasi juga menjadi su lit.
Akibatnya, bilirubin yang belum lengkap diekskresikan melalui saluran emped u, karena adanya retensi (akibat kerusakan sel eksresi) dan regurgitasi pada saluran e mpedu, baik bilirubin tidak langsung (indirect) maupun bilirubin langsung (direct) ya ng sudah dikonjugasi. Jadi, jaundis yang muncul disebabkan terutama oleh kesulitan d alam pengangkutan, konjugasi, dan ekskresi bilirubin. Tinja mengandung sedikit sterc obilin, sehingga tinja terlihat pucat. Karena bilirubin konjugasi larut dalam air, bilirub in dapat diekskresikan ke dalam urin, sehingga menyebabkan bilirubin dalam urin dan urin berwarna gelap. Peningkatan kadar bilirubin yang dikonjugasi dikonjugasi dapat disertai dengan peningkatan garam empedu dalam darah yang menyebabkan gatal-gat al pada ikterus.(Simanjuntak, 2020)
7. Komplikasi
Hepatitis virus yang paling sering dijumpai adalah perjalanan penyakit yang memanjang hingga 4 sampai 8 bulan.Keadaaan ini dikenal sebagai hepatitis kronik persisten, dan terjadi pada 5 persen sampai 10 persen pasien. Akan tetapi meskipun terlambat, pasien-pasien hepatitits kronik persisten akan selalu sembuh kembali.
Setelah hepatitits virus akut sembuh, sejumlah kecil pasien akan mengalami hepatitis agresif atau kronik aktif, dimana terjadi kerusakan hati seperti digerogoti dan perkembangan sirosis. Kematian biasanya terjadi dalam 5 tahun akibat gagal hati atau komplikasi sirosis.Hepatitis kronik aktif dapat berkembang aktif pada 50 persen pasien HCV.Sebaliknya, Hepatitis kronik umumnya tidak menjadi komplikasi dari HAV atau HEV.Akhirnya, suatu komplikasi lanjut dari suatu hepatitis yang cukup bermakna adalah perkembangan karsinoma hepatoseluler.
8. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan pada pasien hepatitis lebih baik disesuaikan dengan jenis hep atitis yang dialami pasien.
1. Hepatitis A
Pengobatan biasanya terdiri dari istirahat yang cukup, pemantauan rutin, dan perb aikan nutrisi. Hepatitis A umumnya sembuh dengan sendirinya dalam beberapa mi nggu atau bulan tanpa perlu pengobatan khusus. (Arrohmah, 2022).
2. Hepatitis B
Pengobatan bergantung pada tahap penyakit dan tingkat keparahannya. Pengobata n yang umum digunakan adalah dengan obat antiviral seperti tenofovir atau enteca vir untuk mengurangi beban virus dan meredakan peradangan hati. Vaksin hepatiti
s B juga direkomendasikan kepada pasien yang belum terinfeksi untuk mencegah penularan lebih lanjut. (Setyoboedi dkk., 2023)
3. Hepatitis C
Biasanya diobati dengan obat antivirus langsung yang sangat efektif dalam mengu rangi beban virus dan menyembuhkan infeksi hepatitis C. Durasi pengobatan berv ariasi (8 hingga 12 minggu) tergantung pada genotipe virus hepatitis C yang terinf eksi. (Setyoboedi dkk., 2023)
4. Hepatitis D
Pengobatan ditujukan untuk mengurangi penyebaran virus dan mencegah kerusak an hati lebih lanjut. Terapi antiviral kadang-kadang digunakan untuk mengendalik an virus hepatitis D. (Orang & Septarini, 2017)
5. Hepatitis E
Biasanya sembuh dengan sendirinya tanpa perlu pengobatan khusus. Perawatan su portif seperti istirahat yang cukup, hidrasi yang adekuat, dan perbaikan nutrisi um umnya cukup. (Setyoboedi dkk., 2023)
6. Hepatitis G
Pasien harus melakukan pemeriksaan dan pemantauan secara rutin, menerapkan g aya hidup sehat, menghindari hal-hal yang dapat menularkan virus hepatitis G sert a mengelola gejala atau komplikasi yang mungkin muncul. (Setyoboedi dkk., 202 3)
Selain pengobatan secara medis, penting juga bagi pasien untuk menjaga pola makan sehat, menghindari konsumsi alkohol dan obat-obatan hepatotoksik, serta menj aga kesehatan umum dengan olahraga teratur dan mengelola stres dengan baik.
9. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN HEPATITIS A. PENGKAJIAN
Pengkajian keperawatan yang dilakukan pada pasien Hepatitis menurut Yasmara dan Arafat (2017), adalah:
1. Pengkajian Keperawatan
a. Identitas Pasien
Didalam identitas meliputi nama, umur, jenis kelamin, alamat, pendidikan, st atus perkawinan, agama, pekerjaan, tanggal dan jam masuk Rumah Sakit, nomor re gister, dan diagnosa medis.
b. Keluhan Utama
Keluhan utama yang ditemukan pada penderita Hepatitis adalah penurunan n afsu makan, mual, muntah, lemah dan cepat lelah, demam, nyeri perut, sakit kepala dan pruritus.
c. Riwayat kesehatan
1). Riwayat penyakit dahulu
Pengkajian riwayat penyakit dahulu yang berhubungan dengan penderi ta Hepatitis, misalnya pernah mengalami sakit hepatitis atau tidak, apakah ada riwayat kontak dengan penderita Hepatitis, apakah ada riwayat penggunaan al kohol dan obat-obatan terlarang, dan tanyakan apakah pernah mendapat transf usi darah atau cuci darah.
2). Riwayat penyakit sekarang
Pengkajian riwayat sekarang atau saat ini meliputi alasan pasien yang menyebabkan terjadinya gangguan, seperti: anoreksia, nafsu makan menurun, mual, muntah, nyeri pada perut bagian atas, terjadi penurunan berat badan, de mam, kelemahan, mudah lelah dengan malaise umum
3). Riwayat penyakit keluarga
Pengkajian riwayat penyakit keluarga pada pasien Hepatitis adalah apa kah dalam kesehatan keluarga ada yang pernah menderita penyakit Hepatitis, Sirosis Hati, Kanker Hati, atau penyakit lainnya.
4). Pengkajian pola kesehatan fungsional 1. Nutrisi
Skirining nutrisi merupakan metode untuk mengidentifikasi adanya ga ngguan pemenuhan kebutuhan nutrisi. Dilakukan dengan mengukur tinggi bad an, berat badan, perubahan berat badan, dan diagnosis primer. Dan identifikasi
adanya gejala yang mempengaruhi perubahan nutrisi, misalnya: mual, muntah, dan diare, peningkatan edema, asites, berat badan menurun.
2. Sirkulasi
Pada pengkajian sirkulasi pasien dengan Hepatitis, ditemukan adanya b radikardi (hiperbirilubin berat) dan ikterik pada sklera kulit dan membran muk osa.
3. Pola aktivitas dan latihan
Meliputi kemampuan ADL, seperti makan, minum, toileting, mobilisas i ditempat tidur, kemampuan berpindah, serta ambulasi. Pada pasien Hepatitis didapatkan adanya kelemahan, kelelahan, dan malaise umum.
4. Nyeri dan kenyamanan
Pada pengkajian nyeri dan kenyamanan pada pasien dengan Hepatitis, didapatkan nyeri dan kram abdomen, nyeri pada kuadran atas, nyeri tekan pad a abdomen karena adanya pembesaran hati, mialgia, atralgia, sakit kepala, gata l (pruritus) dan gelisah.
5. Eliminasi
Pada pengkajian sistem eliminasi pasien Hepatitis, ditemukan adanya u rine berwarna gelap, dan feses berwarna tanah liat.
6. Neurosensori
Didapatkan adanya peka terhadap rangsangan, cenderung tidur, letargi, dan asteriksis.
5). Pemeriksaan fisik
Penampilan fisik pada pasien dengan Hepatitis dapat dilihat dari aspek- aspek berikut:
a. Keadaan umum: apatis, kelemahan, dan malaise umum.
b. Keadaan kulit teraba hangat, ikterik pada kulit, ruam, bercak eritema, atau gatal dengan bintik-bintik merah dan bengkak.
c. Keadaan bibir kering, pecah-pecah, bengkak, lesi, ikterus pada membran mukosa.
d. Keadaan mata konjungtiva pucat, kering, ikterus.
e. Keadaan perut permukaan perut, adanya garis vena, peristaltik usus, pemb esaran hati atau limfe, nyeri tekan pada abdomen, splenomegali.
f. Fungsi gastrointestinal: anoreksia, konstipasi, diare, pembesaran liver atau lien.
g. Pengukuran Tanda-Tanda Vital: Demam 37,8°C-38,9°C.
6). Pemeriksaan laboratorium
a. Hemoglobin (Hb): pada laki-laki didapatkan Hb menurun (<14g/dL) dan pada perempuan didapatkan Hb menurun (<12 g/dL).
b. Enzim-enzim serum AST (SGOT), ALT (SGPT), LDH meningkat pada ker usakan sel hati.
c. Kadar aminotransferase aspartat serum dan amino trans feraseal an in menin gkat.
d. Kadar birilubin total dan direk (disertai kolestasis) meningkat.
e. Hitung leukosit meningkat.
f. Hitung eosinofil meningkat (kemungkinan jenis hepatitis non-virus karena o bat).
g. Pada dugaan hepatitis virus, profil hati dilakukan rutin, hasilnya mengidenti fikasi antibodi spesifik terhadap virus penyebab dan menentukan tipe hepatitis:
1) Tipe A-deteksi antibodi terhadap Hepatitis A.
2) Tipe B adanya antigen permukaan Hepatitis B dan antibodi Hepatitis B.
3) Tipe C diagnosis bergantung pada pemeriksaan seroligis, untuk antibodi spesifik dalam satu bulan atau lebih setelah awitan penyakit akut.
4) Tipe D deteksi antigen delta intrahepatik atau antigen antidelta imunogl obulin (Ig) M pada penyakit akut (atau penyakit kronis Ig M dan Ig G.
5) Tipe G-deteksi asam ribonukleat Hepatitis G B. Diagnosa
Diagnosa keperawatan yang berhubungan dengan Hepatitis yaitu : 1.D.0019 Defisit nutrisi berhubungan dengan faktor psikologis Definisi
Asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolisme.
Penyebab
a. Ketidakmampuan menelan makanan b. Ketidakmampuan mencerna makanan c. Ketidakmampuan mengabsorbsi nutrien d. Peningkatan kebutuhan metabolisme
e. Faktor ekonomis (mis. finansial tidak mencukupi) f. Faktor psikologis (mis. stres, keengganan untuk makan) Gejala dan Tanda Mayor
Subjektif (tidak tersedia) Objektif
1.Berat badan menurun minimal 10% di bawah rentang ideal Gejala dan Tanda Minor
Subjektif
1. Cepat kenyang setelah makan 2. Kram/nyeri abdomen
3. Nafsu makan menurun Objektif
1. Bising usus hiperaktif 2. Otot pengunyak lemah 3. Otot menelan lemah 4. Membran mukosa pucat 5. Sariawan
6. Serum albumin turun 7. Rambut rontok berlebihan
8. Diare
Kondisi Klinis Terkait 1. Stroke
2. Parkinson
3. Mobius syndrome 4. Cerebral palsy 5. Cleft lip 6. Cleft palate
7. Amytropic lateral sclerosis 8. Kerusakan neuromuskular 9. Luka bakar
10.Kanker 11.Infeksi 12.AIDS
13.Penyakit Crohn's 14.Enterokolitis 15.Fibrosis kistik
2. D.0077 Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis Definisi
Pengalaman sensorik atau emosional yang berkaitan dengan kerusakan jaring an aktual atau fungsional, dengan onset mendadak atau lambat dan berintensitas ring an hingga berat yang berlangsung kurang dari 3 bulan
Penyebab
a. Agen pencedera fisiologis (mis. inflamasi, iskemia, neoplasma) b. Agen pencedera kimiawi (mis. terbakar, bahan kimia iritan)
c. Agen pencedera fisik (mis. abses, amputasi, terbakar, terpotong, mengangkat berat, p rosedur operasi, trauma, latihan fisik berlebihan)
Gejala dan Tanda Mayor Subjektif
1. Mengeluh nyeri Objektif
1. Tampak meringis
2. Bersikap protektif (mis. waspada, posisi menghindari nyeri) 3. Gelisah
4. Frekuensi nadi meningkat 5. Sulit tidur
Gejala dan Tanda Minor Subjektif
(tidak tersedia) Objektif
1. Tekanan darah meningkat 2. Pola napas berubah 3. Nafsu makan berubah 4. Proses berpikir terganggu 5. Menarik diri
6. Berfokus pada diri sendiri 7. Diaforesis
Kondisi Klinis Terkait 1. Kondisi pembedahan 2. Cedera traumatis 3. Infeksi
4. Sindrom koroner akut 5. Glaukoma
3.D.0130 Hipertermia berhubungan dengan proses penyakit Definisi
Suhu tubuh meningkat di atas rentang normal tubuh Penyebab
a. Dehidrasi
b. Terpapar lingkungan panas
c. Proses penyakit (mis. infeksi, kanker)
d. Ketidaksesuaian pakaian dengan suhu lingkungan e. Peningkatan laju metabolisme
f. Respon trauma g. Aktivitas berlebihan h. Penggunaan inkubator Gejala dan Tanda Mayor Subjektif
(tidak tersedia) Objektif
1.Suhu tubuh di atas nilai normal Gejala dan Tanda Minor
Subjektif
(tidak tersedia) Objektif
1. Kulit merah 2. Kejang 3. Takikardi
4. Takipnea
5. Kulit terasa hangat Kondisi Klinis Terkait
1. Proses infeksi 2. Hipertiroid 3. Stroke 4. Dehidrasi 5. Trauma 6. Prematuritas
4. D.0080 Ansietas berhubungan dengan integritas ego Definisi
Kondisi emosi dan pengalaman subjektif individu terhadap objek yang tidak je las dan spesifik akibat antisipasi bahaya yang memungkinkan individu lakukan tinda kan untuk menghadapi ancaman.
Penyebab 1. Krisis situasional
2. Kebutuhan tidak terpenuhi 3. Krisis maturasional
4. Ancaman terhadap konsep diri 5. Ancaman terhadap kematian
6. Kekhawatiran mengalami kegagalan 7. Disfungsi sistem keluarga
8. Hubungan orang tua-anak tidak memuaskan
9. Faktor keturunan (temperamen mudah teragitasi sejak lahir) 10. Penyalahgunaan zat
11. Terpapar bahaya lingkungan (misalnya toksin,volutan dan lain-lain) 12. Kurang terpapar informasi
Gejala dan tanda mayor
Subjektif 1. Merasa bingung
2. Merasa khawatir dengan akibat dari kondisi yang di hadapi Objektif
1. Tampak gelisah 2. Tampak tegang 3. Sulit tidur
Gejala dan Tanda Minor Subjektif
1. Mengeluh pusing 2. Anoreksia
3. Palpitasi
4. Merasa tidak berdaya Objektif
1. Frekuensi napas meningkat 2. Frekuensi nadi meningkat 3. Tekanan darah meningkat 4. Diaphoresis
5. Tremor
6. Muka tampak pucat 7. Suara bergetar 8. Kontak mata buruk 9. Sering berkemih
10. Berorientasi pada masa lalu
C. INTERVENSI KEPERAWATAN No Diagnosa
Keperawatan
SLKI SIKI
1. (D.0019) Defisit Nutrisi
berhubungan dengan faktor psikologis.
(L.03030) Status Nutrisi
Ekspektasi:
Membaik Kriteria hasil:
1. Porsi makanan yang dihabiskan meningkat.
2. Berat badan membaik.
3. Indeks massa tubuh (IMT) membaik.
(I.03119) Manajemen Nutrisi Observasi:
1. Identifikasi status nutrisi 2. Identifikasi alergi dan
intoleransi makanan 3. Identifikasi makanan
disukai
4. Identifikasi kebutuhan kalori dan jenis nutrien 5. Identifikasi perlunya
pengunaan selang nasogastrik
6. Monitor asupan makanan 7. Monitor berat badan
8. Monitor hasil pemeriksaan laboratorium
Terapeutik :
1. Lakukan oral hygiene sebelum makan, jika perlu 2. Fasilitasi menentukan
pedoman diet (mis.
piramida makanan) 3. Sajikan makanan secara
menarik dan suhu yang sesuai
4. Berikan makanan tinggi serat untuk mencegah konstipasi
5. Berikan makanan tinggi kalori dan tinggi protein 6. Berikan suplemen
makanan, jika perlu 7. Hentikan pemberian
makan melalui selang nasogastrik jika asupan oral dapat ditoleransi Edukasi :
1. Anjurkan posisi duduk,
jika mampu 2. Ajarkan diet yang
diprogramkan Kolaborasi:
1. Kolaborasi pemberian medikasi sebelum makan (mis. pereda nyeri, antiemetik), jika perlu 2. Kolaborasi dengan ahli
gizi untuk menentukan jumlah kalori dan jenis nutrien yang dibutuhkan, jika perlu
2. (D.0077) Nyeri Akut
berhubungan dengan agen pencedera fisiologis
(L.08066) Tingkat Nyeri
Ekspektasi:
Menurun Kriteria hasil : 1. Keluhan nyeri
menurun 2. Meringis
menurun 3. Sikap protektif
menurun
4. Gelisah menurun 5. Kesulitan tidur
menurun 6. Frekuensi nadi
membaik
(I.08238) Manajemen Nyeri Observasi :
1. Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri
2. Identifikasi skala nyeri 3. Identifikasi respons nyeri
non verbal
4. Identifikasi faktor yang memperberat dan memperingan nyeri 5. Identifikasi pengetahuan
dan keyakinan tentang nyeri
6. Identifikasi pengaruh budaya terhadap respon nyeri
7. Identifikasi pengaruh nyeri terhadap kualitas hidup 8. Monitor keberhasilan
terapi komplementer yang sudah diberikan
9. Monitor efek samping penggunaan analgetik Terapeutik :
1. Berikan teknik
nonfarmakologis untuk
mengurangi rasa nyeri (mis. TENS, hipnosis, akaupresur, terapi musik, biofeedback, terapi pijat, aromater
2. Imajinasi terbimbing, kompres hangat/dingin, terapi bermain)
3. Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri (mis. suhu ruangan, pencahayaan, kebisingan) 4. Fasilitasi istirahat dan
tidur
5. Pertimbangkan jenis dan sumber nyeri dalam pemilihan strategi meredakan nyeri Edukasi :
1. Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri 2. Jelaskan strategi
meredakan nyeri 3. Anjurkan memonitor
nyeri secara mandiri 4. Anjurkan menggunakan
analgetik secara tepat 5. Ajarkan teknik
nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri Kolaborasi :
1. Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu api, teknik
3. (D.0130) Hipertermia Berhubungan dengan proses penyakit
(L.14134) Termoregulasi Ekspektasi:
Membaik Kriteria hasil :
(I. 14578) Regulasi Temperatur Observasi :
1. Monitor suhu tubuh bayi sampai stabil (36,5 - 37,5°C)
1. Menggigil menurun 2. Suhu tubuh
membaik 3. Suhu kulit
membaik gulasi
2. Monitor suhu tubuh anak tiap 2 jam, jika perlu 3. Monitor tekanan darah,
frekuensi pernapasan dan nadi
4. Monitor warna dan suhu kulit
5. Monitor dan catat tanda dan gejala hipotermia atau hipertermia Terapeutik :
1. Pasang alat pemantau suhu kontinu, jika perlu 2. Tingkatkan asupan cairan
dan nutrisi yang adekuat 3. Bedong bayi segera
setelah lahir untuk mencegah kehilangan panas
4. Masukkan bayi BBLR ke dalam plastic segera setelah lahir (mis: bahan polyethylene,
polyurethane)
5. Gunakan topi bayi untuk mencegah kehilangan panas pada bayi baru lahir
6. Tempatkan bayi baru lahir di bawah radiant warmer
7. Pertahankan kelembaban incubator 50% atau lebih untuk mengurangi kehilangan panas karena proses evaporasi
8. Atur suhu incubator sesuai kebutuhan 9. Hangatkan terlebih
dahulu bahan-bahan yang akan kontak dengan bayi (mis: selimut, kain bedongan, stetoskop)
10. Hindari meletakkan bayi di dekat jendela terbuka atau di area aliran pendingin ruangan atau kipas angin 1
11. Gunakan matras penghangat, selimut hangat, dan penghangat ruangan untuk menaikkan suhu tubuh, jika perlu 1 12. Gunakan Kasur pendingin,
water circulating blankets, ice pack, atau gel pad dan intravascular cooling cathetherization untuk menurunkan suhu tubuh 13. Sesuaikan suhu
lingkungan dengan kebutuhan pasien Edukasi :
1. Jelaskan cara pencegahan heat exhaustion dan heat stroke
2. Jelaskan cara pencegahan hipotermi karena terpapar udara dingin
3. Demonstrasikan Teknik perawatan metode kanguru (PMK) untuk bayi BBLR Kolaborasi
Kolaborasi :
1. Pemberian antipiretik, jika perlu
4. (D.0080) Ansietas Berhubungan dengan integritas ego.
(L.09093) Tingkat Ansietas
Ekspetasi : Menurun Kriteria hasil :
1. Tingat kesadaran meningkat.
2. Kemampuan
(I.09314) Reduksi Ansietas Observasi :
1. Identifikasi saat tingkat ansietas berubah (mis.
Kondisi,waktu,stressor) 2. Identifikasi kemampuan
mengambil keputusan 3. Monitor tanda-tanda
menelan meningkat 3. Kebersihan
mulut meningkat 4. Dispnea
meningkat 5. Kelemahan otot
menurun 6. Akumulasi
sekret menurun 7. Wheezing
menurun 8. Batuk menurun 9. Penggunaan
otot aksesoris menurun 10. Sianosis menurun 11. Gelisah
menurun
12. Frekuensi nafas membaik
ansietas Terapeutik :
1. Ciptakan suasana terapeutik untuk menumbuhkan kepercayaan
2. Temani pasien untuk mengurangi kecemasan, jika memungkinkan 3. Pahami situasi yang
membuat ansietas
4. Dengarkan dengan penuh perhatian
5. Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan 6. Tempatkan barang pribadi
yang memberikan kenyamanan
7. Motivasi mengidentifikasi situasi yang memicu kecemasan
8. Diskusikan perencanaan realitis tentang peristiwa yang tidak menyenangkan Edukasi :
1. Jelaskan prosedur, termasuk sensasi yang mungkin dialami
2. Informasian secara faktual mengenai diagnosis, pengobatan, dan frognosis 3. Anjurkan melakukan
kegiatan yang tida kompetif, sensasi kebutuhan
4. Anjurkan keluarga untuk tetap bersama pasien, jika perlu
5. Anjurkan mengungkapkan perasaan dan persepsi Kolaborasi :
1. Pemberian obat ansietas, jika perlu
BAB III PENUTUP 4. Kesimpulan
Hati adalah salah satu organ terpenting. Organ ini berperan sebagai gudang penyimpanan gula, lemak, vitamin, dan nutrisi.Ia melawan racun dalam tubuh, seperti alkohol, menyaring produk-produk yang tidak perlu dari darah, bertindak sebagai semacam organ yang mempengaruhi tubuh, memastikan keseimbangan bahan kimia dalam sistem.Hepatitis adalah peradangan dan kerusakan pada hati.Penyakit ini dapat disebabkan oleh infeksi atau racun seperti alkohol, dan terjadi bersamaan dengan kanker hati.Hepatitis virus adalah infeksi hati yang disebabkan oleh virus.Meskipun identifikasi penyakit virus masih berlangsung, sekitar 95% kasus hepatitis virus akut disebabkan oleh virus patogen A, B, C, D, E, F, dan G. (Ester, 2002)
5. Saran
Untukpenyakit yang belum ada obatnya, seperti hepatitis, pencegahan adalah pilihan utama.Dengan membaca buku dan mengetahui cara penularannya, siapa pun sebenarnya bisa mengetahui apa saja yang perlu dilakukan untuk mencegah penyakit kronis ini agar terhindar dari penyakit.Jalur utama penularannya adalah melalui suntikan, jadi Anda perlu memastikan jarumnya steril sebelum setiap suntikan. Praktis menggunakan jarum baru atau sekali pakai.Dan yang terpenting adalah vaksinasi.Vaksin adalah suatu zat (antigen) yang bila disuntikkan ke dalam tubuh kita dapat merangsang sistem kekebalan tubuh untuk menghasilkan anti zat (antibodi) terhadap antigen tersebut. Ini paling cocok untuk pasien hepatitis dan harus diobati sesegera mungkin untuk mencegah memburuknya dan berkembangnya kanker hati.
Dan tenaga kesehatan masyarakat harus memberikan pendidikan kesehatan sesegera mungkin kepada pasien dan keluarganya yang belum mendapat informasi tentang risiko hepatitis dan cara mencegahnya. Pakar kesehatan masyarakat juga dapat melakukan tindakan preventif dalam memerangi hepatitis untuk menurunkan jumlah kasus hepatitis dan memperbaiki kondisi kesehatan di Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Almatsier, Sunita. (2018). Penuntun Diet. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama Anggraini, T. D., Susilowati, S., & Melati, R. I. (2021). Analisis Faktor Yang mem
-pengaruhi Pengetahuan Tenaga Teknis Kefarmasian Tentang Hepatitis B Di Kabupaten Sragen. Indonesian Journal on Medical Science , 8 (1), Article 1.
https://doi.org/10.55181/ijms.v8i1.250
Arrohmah, C. (2022). Asuhan Keperawatan Gangguan Kebutuhan Nutrisi Pada Pasien Hepatitis B Di Rumah Sakit Bhayangkara Polda Lampung Tahun 2022 .
Damayanie, R. (2017). Gambaran Pemeriksaan Kadar Anti Hbs Sebelum Vaksinasi Hepatitis B Pada Tenaga Laboratorium Klinik Cito Semarang .
Harahap, R. A. (2017). Pengaruh faktor predisposing, enabling dan reinforcing terhadap pemberian imunisasi Hepatitis B pada bayi di Puskesmas Bagan Batu Kecamatan Bagan Sinembah Kabupaten Rokan Hilir. Jumantik (Jurnal ilmiah penelitian kesehatan), 1(1), 79-103.
Haswita & Reni. (2017). Kebutuhan Dasar Manusia. Kebutuhan Dasar Manusia Untuk Mahasiswa Keperawatan dan Kebidanan: CV. Trans Info Media.
Kementrian Kesehatan Repubik Indonesia. 2016. Situasi dan Analisis Hepatitis. Kuswiyanto.
(2016). Buku Ajar Virologi. Jakarta: EGC Musrifatul. (2015). Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta: Salemba Medika.
Orang, O. K., & Septarini, N. W. (2017). Metode Pengendalian Penyakit Menular . Padila.
(2017). Asuhan Keperawatan Penyakit Dalam. Yogyakarta: Nuha Medika.
Papuangan, M. (2018). Penerapan Case Based Reasoning Untuk Sistem Diagnosis Penyakit Hepatitis. JIKO (Jurnal Informatika dan Komputer) , 1 (1), 7 - 12.
Setyoboedi, B., Arief, S., Prihaningtyas, R. A., Malynda, M., & Pratiwi, A. (2023). Hepatitis B Pada Anak-Ilmu Dasar Hingga Aplikasi Klinis . Airlangga University Press.
Simanjuntak, W. F. (2020). Asuhan Keperawatan Pada Klien Hepatitis Dengan Masalah Keperawatan Kebutuhan Nutrisi Kurang Dari Kebutuhan Tubuh Dengan Pemberian Terapi Diit yang Tepat di Rumah Sakit Umum Daerah Pandan Tahun 2020 .
Waluyo, S. (2013). 100 Questions & Answers: Hepatitis . Elex Media Komputindo.
Yasmara & Arafat, R. (2017). Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah.Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC.