Makalah Epidemiologi Penyakit Hipertensi
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Kelompok Mata Kuliah Epidemiologi Gizi Dosen Pengampu : Irma, SKM., M.Kes.
KELOMPOK 8 :
NELSY PUSPITA PANGALA (200305502015) PUTRI AULIA SARI (200305502032) AMANDA NAFI’AH RASYID (200305502030) NUR FAUZIAH MAGHFIRAH (200305501020)
JURUSAN GIZI
FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2021
KATA PENGANTAR
Syukur alhamdulillah senantiasa kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini guna memenuhi tugas kelompok untuk mata kuliah Epidemiologi Gizi, dengan judul “Epidemiologi Penyakit Hipertensi”.
Kami menyadari bahwa dalam kepenulisan penyusunan makalah ini tidak terlepas dari bantuan banyak pihak yang dengan tulus memberikan doa, saran dan kritik sehingga makalah ini dapat terselesaikan.
Kami menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna dikarenakan terbatasnya pengetahuan yang kami miliki. Oleh karena itu, kami mengharapkan segala bentuk saran serta masukan bahkan kritik yang membangun dari berbagai pihak. Kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat untuk kita semua.
Makassar, 26 September 2021 Tim Penyusun,
Kelompok 8
KATA PENGANTAaR...i
DAFTAR ISI...ii
BAB I PENDAHULUAN...1
1.1. Latar Belakang...1
1.2. Rumusan Masalah...2
1.3. Tujuan Penulisan...2
BAB II PEMBAHASAN...3
2.1. Hipertensi...3
2.2. Patofisiologi Hipertensi...3
2.3. Epidemiologi Hipertensi...5
BAB III STUDI KASUS...9
3.1. Studi Kasus I...9
3.2. Studi Kasus II...10
3.3. Studi Kasus III...11
BAB IV PENUTUP...13
4.1. Kesimpulan...13
4.2. Saran...13
DAFTAR PUSTAKA...14
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Hipertensi merupakan masalah kesehatan masyarakat yang terjadi dinegara maju maupun negara berkembang. Hipertensi adalah kelainan sistem sirkulasi darah yang mengakibatkan peningkatan tekanan darah diatas nilai normal atau tekanan darah ≥140/90 mmHg (Kemenkes.RI, 2014). Hipertensi merupakan suatu keadaan tanpa gejala, dimana tekanan yang abnormal tinggi di dalam arteri menyebabkan meningkatnya risiko terhadap stroke, aneurisma, gagal jantung, serangan jantung dan kerusakan (Aisyiyah Nur Farida, 2012). Menurut American Heart Association (AHA), penduduk Amerika yang berusia diatas 20 tahun menderita hipertensi telah mencapai angka hingga 74,5 juta jiwa. Namun, hampir sekitar 90-95% kasus tidak diketahui penyebabnya. Hipertensi merupakan silent killer dimana gejala dapat bervariasi pada masing-masing individu dan hampir sama dengan gejala penyakit lainnya. Gejala penyakit hipertensi adalah sakit kepala/rasa berat di tengkuk, mumet (vertigo), jantung berdebar-debar, mudah Ielah, penglihatan kabur, telinga berdenging (tinnitus), dan mimisan (Kemenkes.RI, 2014) .
Menurut WHO 2014, hipertensi didefinisikan sebagai keadaan tekanan darah sistolik ≥140 mmHg dan atau tekanan darah diastolik ≥90 mmHg. Hipertensi, yaitu penyakit yang menyebabkan angka kematian terbesar nomor tiga di Indonesia setelah stroke (15,4%) dan tuberculosis (7,5%), yakni mencapai 6,8%
dari populasi kematian pada semua umur di Indonesia.
Secara global prevalensi tertinggi peningkatan tekanan darah usia ≥18 tahun pada tahun 2014 terdapat di Afrika sebesar 30% dan terendah terdapat di Amerika, yaitu sebesar 18%. Di kawasan Asia Tenggara, Indonesia menduduki peringkat ke-6 dengan prevalensi hipertensi sebesar 24% setelah Bhutan (27,7%), Timor Leste (26%), Nepal (25,9%), India (25,9%) dan Bangladesh (25,1%),
sedangkan prevalensi hipertensi terendah, yaitu Srilanka sebesar (21,6%) (WHO, 2015).
Prevalensi hipertensi tertinggi di Indonesia berdasarkan pengukuran pada umur
≥18 tahun menurut hasil Riskesdas 2013 terdapat di Bangka Belitung (30,9%) dan prevalensi kejadian hipertensi terendah terjadi di Papua (16,8%). Dilihat secara Nasional prevalensi kejadian hipertensi pada tahun 2013 di provinsi Bali sebesar 19,9% (Kemenkes.RI, 2014). Epidemiologi hipertensi berdasarkan orang dapat diklasifikasikan menurut umur, jenis kelamin dan riwayat keluarga. Semakin tinggi umur maka prevalensi hipertensi akan cenderung meningkat (Kemenkes RI, 2013).
Prevalensi hipertensi di Indonesia berdasarkan wawancara (apakah pernah didiagnosis tenaga kesehatan dan minum obat hipertensi) mengalami peningkatan, yaitu dari 7,6% pada tahun 2007 menjadi 9,5% pada tahun 2013 (Kementrian Kesehatan RI, 2013). Tingginya penderita Hipertensi diperkirakan sebesar 15 juta bangsa Indonesia tetapi hanya 4% yang merupakan controlled hypertension.
Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis tertarik untuk mengetahui lebih dalam tentang “Epidemiologi Penyakit Hipertensi”.
1.2. Rumusan Masalah
Untuk dapat menjelaskan lebih mendalam mengenai “Epidemiologi Penyakit Hipertensi”. Adapun rumusan masalah yang menjadi kajiannya:
1. Apa itu penyakit hipertensi?
2. Bagaimana patofisiologi penyakit hipertensi?
3. Bagaimana etiologi penyakit hipertensi?
1.3. Tujuan Penulisan
Sesuai dengan rumusan masalah yang telah disebutkan di atas. Adapun tujuan dari penulisan makalah ini antara lain:
1. Untuk mengetahui dan menjelaskan pengertian dari hipertensi.
2. Untuk mengetahui dan menjelaskan tentang patofisiologi hipertensi.
3. Untuk mengetahui dan menjelaskan tentang epidemiologi hipertensi.
BAB II PEMBAHASAN .1. Hipertensi
Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg pada dua kali pengukuran dengan selang waktu lima menit dalam keadaan cukup istirahat/tenang. Peningkatan tekanan darah dengan jangka waktu yang lama dapat menimbulkan kerusakan pada ginjal, jantung dan otak apabila tidak dilakukan pengobatan secara dini (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2017). Prevalensi hipertensi nasional berdasarkan Riskesdas 2013 sebesar 25,8% dengan orang yang mengalami hipertensi hanya 1/3 yang terdiagnosis sedangkan 2/3 tidak terdiagnosis dan 0,7% orang yang terdiagnosis tekanan darah tinggi dengan memiliki kebiasaan meminum obat hipertensi.
Tidak semua penderita hipertensi mengenali atau merasakan keluhan maupun gejala, sehingga hipertensi sering dijuluki sebagai pembunuh diam-diam (silent killer). Meskipun penderita hipertensi dapat mengendalikan tekanan darahnya agar tidak terus menerus meningkat, maka di penderita bukan saja harus melakukan diet garam natrium, diet makanan rendah kolesterol, tetapi penderita harus menghindari stres dan cemas yang berlebihan serta beristirahat dengan cukup. Sebagai manusia terkadang tidak dapat terus menerus menjaga agar kondisi yang dianjurkan dokter dapat dipertahankan, sebab stres dan cemas dapat sewaktu waktu menyerang penderita hipertensi. Bahkan sebaliknya hipertensi
dapat memunculkan rasa cemas karena dengan adanya penyakit hipertensi tersebut akan menimbulkan kecemasan dalam diri penderita. Cemas karena mereka terkena penyakit darah tinggi itu sendiri, cemas karena takut kalau sewaktu-waktu tekanan darah dapat melonjak tinggi yang dapat berakibat fatal bagi tubuh dan kelangsungan hidup, karena beberapa pengaruh tekanan darah tinggi ini dapat menimbulkan penyakit berbahaya lainnya seperti lumpuh, jantung dan stroke yang dapat berakibat pada kematian. Umumnya penyakit hipertensi ini dikarenakan faktor usia, keturunan dan lingkungan.
.2. Patofisiologi Hipertensi
Hipertensi adalah suatu kondisi ketila terjadi peningkatan tekanan darah secara kronis, dan dalam jangka paniana yang menyebabkan kerusakan organ serta meningkatkan angka kesakitan (morbiditas) dan aneka kematian (mortalitas).
Tekanan darah merupakan produk output jantung dan resistan vaskular sistemik.
Pada pasien dengan hipertensi arteri kemungkinan terjadi peningkatan output jantung, peningkatan resistan vaskular sistemik. atau kedua-duanya. Pada populasi yang muda, output jantung biasanya meningkat.
Sementara itu pada lansia, resistan vaskular sistemik dan pembuluh darah yang mengeras atau kaku (stiffness) berperan lebih dominan. Denyut atau bunyi vaskular mungkin saja mengalami kenaikan karena rangsangan a-adrenoseptor atau pelepasan peptida seperti angiotensin atau endothelin yang meningkat (Foëx
& Sear, 2004).
Hasil akhirnya adalah peningkatan kalsium Cytosolic dalam otot halus vaskular yang menyebabkan terjadinya vasokonstriksi. Berbagai faktor pertumbuhan seperti angiotensin dan edonthelin, menyebabkan kenaikan massa otot halus jantung yang disebut dengan remodeling vaskular. Baik peningkatan resistan vaskular sistemik dan kekakuan vaskuler meningkatkan dorongan beban ke vaentrikel kiri. Hal ini menyababkan hipertrrofi den disfungsi diastolik vertikel kiri (Foëx & Sear, 2004).
Pada orang muda, denyut nadi yang dihasilkan oleh vebtrikel kiri secara relatif rendah dan gelombang yang direfleksikan oleh pembuluh darah perifer utamanya terjadi setelah akhir sistolik dan memperbaiki perfusi koroner. Pada proses menua, kekakuan aorta dan elastisitas arteri meningkatkan tekanan tadi. Gelombang yang direfleksikan bergeser dari diastolik awak kesistolik akhir. Ini mengakibatkan peningkatan beban vertikel kiri dan kontribusu terhadap hipertofi ventrikular kiri.
Pelebaran tekanan nadi terkait bertambahnya usia merupakan prediktor yang kuat akan penyakit jantung koroner (Howell dkk., 2004). Menurut Kaplan, 2006 faktor-faktor yang berpengaruh pada pengendalian tekanan darah.
Hipertensi merupakan Peningkatan curah jantung (CJ) dan/ atau peningkatan tekanan perifer (TP). Sistem sarraf otonom berperan penting dalam pengendalian tekanan darah. Pada pasien hipertensi, baik kenaikan pelepasan maupun sensitivitas perifer norepineprin dapat ditemukan. Sselain itu, terjadi juga peningkatan respons terhadap rangsangan stres (stressfull stimuli). Bentuk lain dari hipertensi arteri adalah pembentukan kembali barorefleks dan penurunan sensitivitas baroreseptor. Sistem renin-angiotensin terlibat minimal dalam berbagai bentuk hipertensi (miss.,hipertensi renovaskuler) dan ditekan dengan kehadiran hiperaldosteronisme priper. Pada pasien lansia cenderung menderita hipertensi terkait pada renin yang rendah. Lainnya menyandang hipertensi terkait renin yang tinggi dan mereka umumnya berkembang menjadi infrakmiokard dan komplikasi kardiovaskuler lainnya (Howell, dkk 2004)
Penelitian hipertensi esensial pada manusia dan binatang percobaan menunjukkan bahwa regulasi volume dan hubungan antara tekanan darah dan ekskresi garam natrium (pressure natriuresis) menjadi tidak normal. Berbagai bukti mengindikasikan bahwa pembentukan ulang tekanan natriuresis merupakan peran kunci dalam terjadinya hipertensi. Pada pasien dengan hipertensi esensial, pembentukan ulang tekanan natriuresis (resetting of pressure natriuresis) ditandai dengan perubahan paralel ke tekanan darah tinggi dan hipertensi terkait insensitivitas garam atau penurunan slope dari tekanan natriuresis dan hipertensi terkait sensitivitas garam (Frisoli, dkk, 2012).
.3. Epidemiologi Hipertensi
Dalam epidemiologi hipertensi ini tentu saja dipengaruhi oleh faktor host, agent, dan environment. Berikut penjelasan ketiga faktor epidemiologi hipertensi, yaitu:
a) Host (Pejamu)
Host atau pejamu merupakan manusia atau orang yang menjadi tempat terjadinya proses penyakit. Faktor host dalam epidemiologi penyakit hipertensi, yaitu:
1. Daya tahan tubuh
Penyakit hipertensi dipengaruhi oleh daya tahan tubuh manusia itu sendiri.
Daya tahan tubuh seseorang sangat dipengaruhi oleh kecukupan gizi, aktifitas, dan istirahat. Kesibukan yang padat juga membuat orang kurang berolahraga dan berusaha mengatasi stresnya dengan merokok , minum alkohol, atau kopi sehingga daya tahan tubuh menjadi menurun dan memiliki resiko terjadinya penyakit hipertensi.
2. Genetik/keturunan
Pakar juga menemukan hubungan antara riwayat keluarga penderita hipertensi (genetik) dengan resiko untuk juga menderita penyakit ini.
3. Umur
Sejalan dengan bertambahnya usia, hampir setiap orang mengalami kenaikan tekanan darah; tekanan sistolik terus meningkat sampai usia 80 tahun dan tekanan diastolik terus meningkat sampai usia 55-60 tahun, kemudian berkurang secara perlahan atau bahkan menurun drastis. Tetapi di atas usia tersebut, justru wanita (setelah mengalami menapouse) berpeluang lebih besar. Para pakar menduga perubahan hormonal berperan besar dalam terjadinya hipertensi di kalangan wanita usia lanjut. Namun, sekarang penyakit hipertensi tidak memandang golongan umur.
4. Jenis Kelamin
Pada umumnya lebih banyak pria menderita hipertensi dibandingkan dengan perempuan. Wanita > pria pada usia > 50 tahun. Pria > wanita pada usia < 50 tahun.
5. Adat Kebiasaan
Kebiasaan-kebiasaan buruk seseorang merupakan ancaman kesehatan bagi orang tersebut seperti:
a. Gaya hidup modern, kerja keras dalam situasi penuh tekanan, dan stres terjadi yang berkepanjangan adalah hal yang paling umum serta membuat orang kurang berolahraga , dan berusaha mengatasi stresnya dengan merokok, minum alkohol atau kopi, padahal semuanya termasuk dalam daftar penyebab yang meningkatkan resiko hipertensi.
b. Terbiasa untuk memakan makanan yang asin, sehingga sulit untuk dapat menerima makanan yang agak tawar. Konsumsi garam ini sulit dikontrol, terutama jika kita terbiasa mengonsumsi makanan di luar rumah (warung, restoran, hotel, dan lain-lain).
c. Pola makan yang salah, dan salah dalam memilih makanan. Makanan yang diawetkan dan garam dapur serta bumbu penyedap dalam jumlah tinggi, dapat meningkatkan tekanan darah kerana mengandung natrium dalam jumlah yang berlebih.
b) Agent (Penyebab penyakit)
Agent adalah suatu substansi tertentu yang keberadaannya atau ketidakberadaannya dapat menimbulkan penyakit atau mempengaruhi perjalanan suatu penyakit. Untuk penyakit hipertensi yang menjadi agent adalah:
a. Konsumsi garam dapur (mengandung iodium) yang dianjurkan tidak lebih dari 6 gram per hari, setara dengan satu sendok teh. Dalam kenyataannya, konsumsi berlebih karena budaya masak-memasak masyarakat kita yang umumnya boros menggunakan garam, serta kebiasaan memakan makanan yang mengandung banyak garam sehingga sulit untuk dapat menerima makanan yang agak tawar.
b. Konsumsi natrium yang berlebih menyebabkan konsentrasi natrium di dalam cairan ekstraseluler meningkat. Untuk menormalkannya, cairan intraseluler ditarik ke luar, sehingga volume cairan ekstraseluler meningkat. Meningkatnya volume cairan ekstraseluler tersebut menyebabkan meningkatnya volume darah, sehingga berdampak kepada timbulnya hipertensi.
c. Minuman berkafein dan beralkohol. Minuman berkafein seperti kopi dan alkohol juga dapat meningkatkan resiko hipertensi.
Konsumsi makanan cepat saji juga merupakan salah satu penyebab hipertensi, karena mengandung penyedap yang berlebihan.
c) Environment (Lingkungan)
Lingkungan adalah segala sesuatu yang berada disekitar manusia serta pengaruh-pengaruh luar yang mempengaruhi kehidupan dan perkembangan manusia.
Lingkungan ini termasuk perilaku/pola gaya hidup misalnya gaya hidup kurang baik seperti gaya hidupnya penuh dengan tekanan (Stres). Stres yang terlalu besar dapat memicu terjadinya berbagai penyakit seperti hipertensi. Dalam kondisi tertekan adrenalin dan kortisol dilepaskan ke aliran darah sehingga menyebabkan peningkatan tekanan darah agar tubuh siap beraksi. Gaya hidup yang tidak aktif (malas berolahraga), stres, alkohol atau garam dalam makanan; bisa memicu terjadinya hipertensi pada orang-orang memiliki kepekaan yang akan diturunkan.
Terdapatnya perbedaan keadaan geografis, dimana daerah pantai lebih berisiko terjadinya penyakit hipertensi dibanding dengan daerah pegunungan, karena daerah pantai lebih banyak terdapat natrium bersama klorida dalam garam dapur sehingga konsumsi natrium pada penduduk pantai lebih besar dari pada daerah pegunungan. Penyakit hipertensi ditemukan di semua daerah di Indonesia dengan prevalensi yang cukup tinggi. Dimana daerah perkotaan lebih dengan gaya hidup modern lebih berisiko terjadinya penyakit hipertensi dibandingkan dengan daerah pedesaan.
BAB III STUDI KASUS
Berdasarkan Riskesdas 2018 prevalensi hipertensi berdasarkan hasil pengukuran pada penduduk usia 18 tahun sebesar 34,1%, tertinggi di Kalimantan Selatan (44.1%), sedangkan terendah di Papua sebesar (22,2%). Hipertensi terjadi pada kelompok umur 31-44 tahun (31,6%), umur 45-54 tahun (45,3%), umur 55- 64 tahun (55,2%).
Hipertensi disebut sebagai the silent killer karena sering tanpa keluhan, sehingga penderita tidak mengetahui dirinya menyandang hipertensi dan baru diketahui setelah terjadi komplikasi. Terdapat banyak faktor, namun faktor utama penyebab dari hipertensi, yaitu faktor makanan dan gaya hidup. Hipertensi digolongkan sebagai The Sillent Killer (pembunuh diam–diam).
.1. Studi Kasus I
PENGUKURAN TINGKAT PENGETAHUAN HIPERTENSI PADA PASIEN HIPERTENSI PADA PASIEN HIPERTENSI
KELURAHAN PAYA KUMANG KETAPANG KALIMANTAN BARAT
Hipertensi merupakan kondisi medis kronis dimana tekanan darah mengalami peningkatan di atas tekanan darah yang disepakati normal.
Pengetahuan mempengaruhi pasien hipertensi dalam manajemen hipertensi.
Tingkat pengetahuan hipertensi pada seseorang sangat penting dalam mempengaruhi pola hidup sehat. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui tingkat pengetahuan tentang hipertensi di Kelurahan Paya kumang Ketapang Kalimantan Barat. Penelitian ini merupakan kuantitatif non eksperimental menggunakan jenis penelitian deskriptif. Sampel berjumlah 63 responden yang diambil dengan teknik “nonprobability sampling”.
Tingkat pengetahuan hipertensi responden baik karena nilai yang dihasilkan lebih dari 76 dan tingkat pengetahuan obat yang dimiliki responden baik yaitu 93,7% dan cukup 6,3%. Masyarakat Kelurahan Paya Kumang Ketapang Kalimantan Barat sebagian besar memiliki tingkat pengetahuan
hipertensi dengan kategori baik, begitu pula dengan tingkat pengetahuan obat dikategorikan baik Status demografi pada masyarakat Kelurahan Paya Kumang Ketapang Kalimantan Barat tidak mempengaruhi tingkat pengetahuan hipertensi dan obat.
Tabel. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Karakteristik Responden Karakteristik Frekuensi %
Usia
26-35 17 27,0%
36-45 16 25,4%
46-55 18 28,6%
56-65 12 19,0%
Total 63 100,0%
Jenis Kelamin
Perempuan 34 54,0%
Laki-laki 63 100,0%
.2. Studi Kasus II
STUDI PREVALENSI KEJADIAN HIPERTENSI PADA POSBINDU DI WILAYAH KERJA BTKLPP KELAS I PALEMBANG
Salah satu penyakit tidak menular, yaitu hipertensi yang masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat yang turut mempengaruhi kenaikan angka mortalitas dan morbiditas di Kota Palembang.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Umur, riwayat keluarga, aktivitas fisik, dan stres memiliki hubungan yang signifikan terhadap kejadian hipertensi.
Meningkatkan upaya penyuluhan kesehatan terkait faktor risiko kejadian hipertensi, menambah jumlah posbindu yang dibina, meningkatkan penyelenggaraan kegiatan konseling serta aktivitas tertentu yang mendukung peningkatan pola hidup sehat bagi peserta posbindu adalah upaya yang sangat penting dalam menurunkan kasus hipertensi.
Tabel. Faktor Risiko Kejadian Hipertensi Pada Pospindu Di Wilayah Kerja Btklpp Kelas I Palembang
Variabel Model I Model II
p-value Adjust OR ( 95%
CI ) p-value AdjustedOR ( 95%
CI 0
Umur 0,013 4,205 (1,357–
13,026) 0,012 4,262 (1,378-
13.182) Riwayat
Keluarga
0,130 2,076 (0,806–5,345) 0,125 2,092 (0,814- 5,376)
Obesitas 0,801 0,880 (0,3272–
2,732) Aktivitas
fisik
0,017 3,123 (1,224–7,971) 0,018 3,094 (1,217- 7,864)
Stres 0,041 2,881 (1,042–7,965) 0,043 2,830(1,034-7,743) .3. Studi Kasus III
ANALISIS FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA HIPERTENSI PADA MASYARAKAT ( STUDI KASUS DI KECAMATAN PASSI
BARAT KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW)
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Utara persentase prevalensi penyakit hipertensi pada tahun 2016 sebanyak 38.36% atau 73,108 kasus. Sedangkan prevalensi penyakit hipertensi di Kabupaten Bolaang Mongondow pada tahun 2016 sebanyak 23.02% (381 kasus). Data yang diperoleh ini menunjukkkan bahwa penyakit hipertensi masih menjadi masalah utama di Kabupaten Bolaang Mongondow Kecamatan Passi Barat dimana kejadian penyakit hipertensi juga masih tinggi.
Pada umumnya, penyakit hipertensi sangat banyak terjadi pada masyarakat yang berusia lanjut, akan tetapi tidak menutup kemungkinan penduduk usia remaja hingga dewasa juga dapat menderita penyakit hipertensi. Remaja dan dewasa muda yang berada pada rentang usia 15-25 tahun memiliki angka prevalensi hipertensi 1 dari 10 orang. Pada penelitian yang dilakukan oleh Kini (2016), prevalensi pre hipertensi dan hipertensi pada dewasa muda (20-30 tahun)
adalah sebesar 45,2%. Hipertensi kini telah menjadi salah satu penyakit degeneratif yang diturunkan pada anggota keluarga yang memiliki riwayat kejadian hipertensi. Prevalensi hipertensi akan terus meningkat sejalan dengan perubahan gaya hidup seperti kebiasaan merokok, obesitas, pola makan yang kurang bergizi, dan stres psikososial. Penyakit hipertensi akan terus menjadi masalah kesehatan masyarakat dan akan menjadi lebih besar jika tidak ditanggulangi sejak dini.
Prevalensi penyakit hipertensi di Provinsi Sulawesi Utara pada tahun 2016 sebanyak 38.36% atau 73,108 kasus dan di Kabupaten Bolaang Mongondow sebanyak 23.02% (381 kasus). Obesitas, kebiasaan merokok, dan stres merupakan faktor penyebab terjadinya hipertensi pada masyarakat di Kecamatan Passi Barat Kabupaten Bolaang Mongondow. (Akbar, dkk. 2020)
BAB IV PENUTUP
.1. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa Hipertensi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg pada dua kali pengukuran dengan selang waktu lima menit dalam keadaan cukup istirahat/tenang. Penyakit hipertensi ini di pengaruhi oleh 3 faktor, yaitu faktor host (pejamu) yang merupakan manusia itu sendiri, agent (penyebab penyakit) baik itu berupa makanan, kurang berolahraga dan lain sebagainya, serta environment (lingkungan). Penyakit hipertensi pada umumnya sangat banyak terjadi pada masyarakat yang berusia lanjut, akan tetapi tidak menutup kemungkinan penduduk usia remaja hingga dewasa juga dapat menderita penyakit hipertensi. Berdasarkan Riskesdas 2018 prevalensi hipertensi tertinggi di Indonesia menurut hasil pengukuran pada penduduk usia 18 tahun sebesar 34,1%
berada di Kalimantan Selatan (44.1%) sedangkan yang terendah berada di Papua (34,1%).
4.2. Saran
1. Meningkatkan kegiatan deteksi dini faktor risiko penyakit hipertensi agar penderita hipertensi dapat dicegah secara dini.
2. Meningkatkan promosi kesehatan mengenai pencegahan hipertensi seperti penyuluhan, konsultasi dan kunjungan rumah yang dilakukan dengan rutin sehingga masyarakat dapat membiasakan diri dan memiliki kemauan serta kemampuan untuk mencegah hipertensi.
DAFTAR PUSTAKA
Aisyiyah, Farida Nur. 2012. Faktor Risiko Hipertensi pada Empat Kabupaten/Kota Dengan Prevalensi Hipertensi Tertinggi Di Jawa dan Sumatera. Skripsi. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Akbar, Hairil, dan Eko Budi Santoso. 2020. Analisis Faktor Penyebab Terjadinya Hipertensi Pada Masyarakat (Studi Kasus Di Kecamatan Passi Barat Kabupaten Bolaang Mongondow). The Indonesian Journal of Health Promotion. 3(1): 12-19.
Frisoli TM, Scmieder RE, Grodzicki T, Messerli FH. Saltt and Hypertension: is salt dietary reduction worth the effon? Am J Med. 2012:125(5): 433-9.
Howell SJ, Sear JW, Foëx P. Review: hypertension, hypertensive heart disease and perioperative cardiacrisk. Brr J Anaesth 2004: 92: 570-83.
Kemenkes.RI. 2013. Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2013. Laporan Nasional 2013. 1-384. https://doi.org/ (diakses 30 September 2021)
Kemenkes.RI. 2014. Pusdatin Hipertensi. Infodatin, (Hipertensi). Hal 1-7.
P Foëx P, Sear JW. Hypertension: pathophysiology and treatment. Contin Educ Anaesth CritCare Pain (2004) 4 (3): 71-75.
Rahmah, Debtia. 2017. Patofisiologi Hipertensi.
https://alomedika.com/penyakit/kardiologi/hipertensi/patofisiologi (diakses tanggal 30 September 2021)
Sari, E.P., Eko Budi Santoso, dan Feranita Utama. 2017. Studi Prevalensi Kejadian Hipertensi Pada Posbindu Di Wilayah Kerja BTKLPP Kelas I Palembang. Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat. 8(2): 117-124.
WHO. 2015. Global Health Observatory (GHO) data: Raised Blood Pressure,
Situation and Trends. Available at:
http://www.who.int/gho/ncd/risk_factors/blood_pressure_text/en/ (diakses 30 September 2021)
Zahara, Fenty. 2017. Hubungan Antara Kecemasan Dengan Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi Di RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Kognisi Jurnal. 2(1): 2528-4495.