LAPORAN PRAKTIKUM
EPIDEMOLOGI PENYAKIT DAN KESMAVET
Mata Kuliah : Epidemologi Penyakit dan Kesmavet Dosen : Dr. drh. Anwar Rosyidi
Nama : Baik Mesy Darita Fitriani NIM : I2D02410003
PROGRAM STUDI MAGISTER MANAJEMEN SUMBER DAYA PETERNAKAN FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS MATARAM TAHUN 2024
ii
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan karunia-Nya, saya dapat menyelesaikan laporan praktikum Epidemologi Penyakit dan Kesmavet sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas dalam mata kuliah Epidemologi Penyakit dan Kesmavet di Fakultas Peternakan Universitas Mataram.
Air dan pangan adalah dua unsur dasar yang sangat penting bagi kehidupan manusia dan semua makhluk hidup di bumi. Keduanya saling berkaitan erat dan merupakan kebutuhan esensial untuk mempertahankan kelangsungan hidup, pertumbuhan, serta kesejahteraan manusia.
Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Dr. drh. Anwar Rosyidi selaku dosen pengajar atas bimbingan, arahan, dan dukungannya yang sangat berarti selama proses penyusunan makalah ini.
2. Semua rekan kuliah pasca sarjana yang telah memberikan dukungan, masukan, dan semangat yang sangat berharga.
Kami juga menyampaikan terima kasih kepada semua teman-teman praktikum yang telah memberikan kontribusi, baik secara langsung maupun tidak langsung. Semoga laporan ini dapat memberikan manfaat dan kontribusi positif serta menjadi referensi yang berguna bagi semua pihak yang berkepentingan.
Kami menyadari bahwa laporan ini masih memiliki banyak kekurangan, oleh karena itu, kami sangat menghargai kritik dan saran yang membangun untuk perbaikan di masa yang akan datang.
Mataram, Desember 2024
Baik Mesy Darita Fitriani
iii DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... iii
PENDAHULUAN ... 1
Latar Belakang ... 1
Tujuan ... 2
PEMBAHASAN ... 3
UJI KUALITAS AIR ... 3
UJI AMONIA ... 16
UJI BORAKS ... 18
UJI HAMBATAN LISTRIK (RESISTENSI) ... 21
KESIMPULAN ... 24
DAFTAR PUSTAKA ... 25
iv
1
PENDAHULUAN 1. Latar Belakang
Air dan pangan adalah dua unsur dasar yang sangat penting bagi kehidupan manusia dan semua makhluk hidup di bumi. Keduanya saling berkaitan erat dan merupakan kebutuhan esensial untuk mempertahankan kelangsungan hidup, pertumbuhan, serta kesejahteraan manusia. Pengujian air dan pangan memiliki peranan yang sangat penting dalam memastikan kesehatan, keselamatan, dan keberlanjutan kehidupan manusia. Air dan pangan adalah dua unsur dasar yang sangat esensial bagi tubuh manusia, namun keduanya rentan terhadap pencemaran yang dapat berdampak negatif terhadap kesehatan. Oleh karena itu, pengujian kualitas air dan pangan menjadi langkah penting untuk melindungi konsumen dari risiko penyakit yang disebabkan oleh kontaminasi dan untuk memastikan bahwa produk yang dikonsumsi aman dan bergizi.
Air bersih dan aman merupakan salah satu kebutuhan utama dalam kehidupan sehari- hari. Namun, air yang terkontaminasi dapat mengandung berbagai zat berbahaya, seperti mikroorganisme patogen, bahan kimia beracun, logam berat, dan pestisida yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan, bahkan kematian. Pengujian air bertujuan untuk memastikan bahwa air yang digunakan oleh masyarakat memenuhi standar kualitas dan tidak membahayakan kesehatan.
Pangan adalah kebutuhan dasar manusia, yang berperan utama dalam mempertahankan kesehatan dan memberikan energi untuk aktivitas sehari-hari. Namun, pangan yang tercemar atau tidak diproses dengan baik dapat menjadi sumber penyakit. Pengujian pangan bertujuan untuk memastikan bahwa pangan yang diproduksi, diproses, dan dikonsumsi bebas dari bahan berbahaya dan mengandung gizi yang cukup. Oleh karena itu, pengujian terhadap kualitas air dan pangan sangat penting untuk menjamin keamanan bagi konsumen.
Salah satu pengujian penting untuk kualitas air adalah amonia. Amonia dapat muncul dalam air akibat dekomposisi bahan organik atau aktivitas manusia, seperti limbah industri atau pertanian. Dalam konsentrasi tinggi, amonia berbahaya bagi tubuh manusia, dapat merusak ginjal dan hati, serta mengganggu sistem pencernaan. Oleh karena itu, uji amonia sangat diperlukan untuk memastikan bahwa air yang kita konsumsi bebas dari kontaminasi amonia. Uji ini dilakukan dengan menggunakan reagen yang memberikan perubahan warna jika amonia ada dalam sampel.
2
Selain amonia, pengujian kualitas air lainnya meliputi pH, kesadahan, nitrit, free chlorine, total chlorine, bromine, dan total alkali. pH air penting untuk memastikan bahwa air tidak terlalu asam atau basa, yang bisa berbahaya bagi tubuh. Kesadahan air perlu diperhatikan karena air yang terlalu keras dapat merusak peralatan rumah tangga dan mempengaruhi rasa makanan. Nitrit dalam air bisa mengganggu kemampuan darah mengangkut oksigen, terutama pada bayi. Pengujian free chlorine dan total chlorine penting untuk memastikan bahwa kadar chlorine tidak terlalu tinggi, karena dapat menyebabkan iritasi pada kulit, mata, dan saluran pernapasan. Kandungan bromine juga perlu diperiksa, terutama pada air kolam renang, untuk memastikan bahwa tidak ada kontaminasi berbahaya.
Dalam pangan, boraks sering digunakan secara ilegal untuk memberikan tekstur kenyal dan daya tahan lebih lama pada makanan, seperti bakso, cilok, jajanan, dan sosis.
Namun, konsumsi boraks berlebihan dapat menyebabkan gangguan pencernaan dan kerusakan ginjal. Oleh karena itu, uji boraks perlu dilakukan untuk memastikan bahwa makanan aman dikonsumsi. Uji boraks dilakukan dengan kunyit sebagai indikator sederhana, yang akan berubah warna jika bereaksi dengan boraks.
Uji hambatan listrik atau resistansi pada bahan pangan juga dilakukan untuk mengukur kadar air dalam bahan pangan. Bahan yang mengandung banyak air memiliki hambatan listrik lebih rendah, karena air adalah penghantar listrik yang baik. Uji resistansi ini dapat memberikan informasi mengenai kandungan air dalam bahan pangan dan membantu industri makanan menjaga kualitas produk mereka.
Melalui serangkaian uji ini, kita dapat memastikan bahwa air dan pangan yang kita konsumsi aman dan bebas dari kontaminasi berbahaya. Praktikum ini memberikan wawasan tentang cara-cara sederhana namun efektif untuk menguji kualitas air dan pangan, yang pada gilirannya membantu menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan aman.
2. Tujuan
Paktikum ini memiliki beberapa tujuan antara lain:
1. Mengetahui kualitas air dari sumber air yang berbeda yang berada disekitran kita 2. Mengidentifikasi keberadaan amonia dalam air
3. Menguji kandungan boraks dalam pangan 4. Mengukur hambatan listrik pada bahan pangan.
3
PEMBAHASAN 1. UJI KUALITAS AIR
Praktikum yang dilakukan bertujuan untuk menguji kualitas air dari berbagai sumber, yaitu air minum, air keran, air kolam, dan air mineral merk Pristine. Uji kualitas air dilakukan untuk mengetahui parameter-parameter penting seperti pH, total alkali, nitrit, free chlorine, total chlorine, kesadahan, dan bromine.
a. Alat dan Bahan:
Alat:
✓ Kit uji untuk mengukur pH, total alkali, nitrit, free chlorine, total chlorine, dan bromine.
✓ Alat titrasi untuk mengukur kesadahan Bahan
✓ Air minum
✓ Air Keran
✓ Air Kolam
✓ Air mineral kemasan (Pristine) b. Hasil Uji Kualitas Air
Tabel 1. Hasil Uji Kualitas Air
Total T.otal
Sampel pH Alkali Nitrit Clorine
Bebas
Clorine Kesadahan Bromin
(mg/L) (mg/L) (mg/L) (mg/L) (mg/L) (mg/L)
Air Minum 6,8 0 0 0 0 0 0
Air Keran 7,2 0 0 0 0 0 0
Air Kolam 7,6 8 0 3 25 25 0
Air Mineral Pristine 7,0 0 0 0 0 25 0
Gambar 1. Hasil uji kualitas air menggunakan KIT
4 c. Pembahasan
Uji Ph
pH merupakan suatu skala yang untuk mengukur konsentrasi ion hidrogen (H+) dalam suatu larutan. Pada nilai pH yang ideal untuk air bersih adalah antara 6.5- 8.5, dengan pH 7 sebagai titik netral. Hal ini karena uji pH memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan kualitas air. Selain itu, apabila pH tidak stabil, maka dapat memungkinkan untuk menyebabkan perubahan sifat air yang bisa berbahaya bagi kesehatan manusia dan juga lingkungan.
Berdasarkan hasil praktikum, pH dari empat sampel air yang diuji menunjukkan variasi yang masih dalam rentang yang aman untuk konsumsi manusia, dengan nilai pH antara 6,8 hingga 7,6. Berikut adalah pembahasan lebih mendalam mengenai hasil pengujian pH pada masing-masing sampel:
✓ Air Minum (pH: 6,8)
• pH air minum yang diukur adalah 6,8, yang termasuk dalam kategori sedikit asam. Secara umum, air dengan pH antara 6 hingga 8 dianggap aman dan tidak membahayakan kesehatan manusia. Bahkan, air dengan pH sedikit asam dapat membantu menstabilkan keseimbangan pH tubuh, karena tubuh manusia dapat menyeimbangkan pH darah dengan sangat efektif.
• Selain itu, pH yang sedikit asam pada air minum ini dapat mengindikasikan bahwa air tersebut tidak mengandung kontaminan yang dapat merubah tingkat keasamannya menjadi lebih ekstrem, seperti logam berat atau bahan kimia berbahaya lainnya.
✓ Air Keran (pH: 7,2)
• Air keran menunjukkan pH yang lebih netral, yaitu 7,2. Nilai pH ini sangat ideal karena air keran biasanya digunakan untuk berbagai keperluan, termasuk konsumsi manusia, mandi, dan mencuci. Air dengan pH netral ini menunjukkan bahwa air tersebut tidak mengandung zat asam atau basa yang berpotensi merusak kesehatan atau bahan yang ada di sekitarnya.
• Air keran dengan pH netral juga seringkali lebih disukai karena rasa air yang
5
tidak terlalu asam atau terlalu basa, sehingga nyaman dikonsumsi.
✓ Air Kolam (pH: 7,6)
• pH air kolam yang sedikit basa (7,6) masih dalam batas yang aman. pH air kolam biasanya sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan air minum atau air keran, terutama jika ada bahan kimia yang digunakan untuk menjaga kebersihan kolam, seperti kaporit atau bahan pembersih lainnya. Air kolam dengan pH sedikit basa ini juga dapat mendukung kehidupan organisme air seperti ikan dan tumbuhan, yang umumnya lebih baik tumbuh dalam kondisi air yang sedikit basa.
• Meskipun demikian, pH yang lebih tinggi juga harus diawasi dengan hati-hati, karena jika terlalu tinggi, dapat mengurangi efektivitas bahan kimia desinfektan, serta mempengaruhi kenyamanan pengguna kolam renang.
✓ Pristine
• Air mineral merk Pristine menunjukkan pH netral 7,0, yang sangat ideal untuk konsumsi manusia. Air dengan pH netral adalah air yang paling aman bagi tubuh manusia karena tidak menambah beban kerja sistem pencernaan dalam menyeimbangkan pH tubuh. Air dengan pH 7 juga tidak akan mengakibatkan iritasi pada saluran pencernaan, kulit, atau mata.
• Sebagai air mineral, Pristine juga mengandung mineral yang bermanfaat bagi tubuh, namun tetap menjaga keseimbangan pH yang netral, sehingga aman dikonsumsi dalam jangka panjang.
pH air memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan kualitas air, baik dari segi kesehatan manusia maupun kelangsungan hidup organisme air. Air dengan pH yang terlalu asam atau basa dapat menyebabkan iritasi pada kulit dan saluran pernapasan, serta dapat memengaruhi fungsi sistem pencernaan. Selain itu, pH yang tidak sesuai juga dapat mengindikasikan adanya kontaminasi dalam air, seperti limbah industri atau bahan kimia berbahaya.
Air dengan pH yang sangat rendah (terlalu asam) dapat menyebabkan korosi pada pipa dan saluran air, sedangkan air dengan pH yang terlalu tinggi (terlalu basa)
6
dapat menyebabkan kerak dan endapan mineral dalam saluran air. Oleh karena itu, penting untuk menjaga pH air dalam rentang yang aman untuk mencegah kerusakan pada infrastruktur serta menghindari gangguan kesehatan. Sebagai contoh, air minum dengan pH 6,8 dan air keran dengan pH 7,2 yang diuji dalam praktikum ini menunjukkan bahwa air-air tersebut berada dalam rentang pH yang masih aman dan nyaman untuk dikonsumsi. Begitu juga dengan air mineral Pristine yang memiliki pH 7,0, yang juga cocok untuk konsumsi sehari-hari. Sementara itu, pH air kolam yang sedikit lebih tinggi (7,6) menunjukkan bahwa air tersebut memang digunakan untuk tujuan yang berbeda, yaitu sebagai tempat untuk berenang dan bukan untuk konsumsi langsung.
Secara keseluruhan, pH air yang diuji dalam praktikum ini berada dalam kisaran yang aman dan ideal untuk kebutuhan manusia. Air dengan pH netral (7,0) atau sedikit asam/basa (6,8–7,6) tidak hanya aman untuk dikonsumsi, tetapi juga dapat mendukung berbagai aktivitas manusia tanpa menimbulkan risiko kesehatan yang signifikan. Pengujian pH air merupakan langkah pertama dalam mengevaluasi kualitas air, dan memastikan bahwa air yang kita konsumsi memenuhi standar keamanan kesehatan.
Uji Total Alkali
Uji alkalinitas air merupakan sebuah prosedur analisis yang bertujuan untuk menentukan kandungan ion penyebab alkalinitas dalam air, seperti ion karbonat bikarbonat (HCO3-), dan hidroksida (OH-). Alkalinitas sendiri merupakan sebuah kapasitas air yang digunakan untuk menetralkan tambahan asam tanpa penurunan nilai pH larutan, serta sebagai penyangga terhadap perubahan keasaman (pH) air.
Pada umumnya, total alkali yang terkandung dalam air berasal dari mineral- mineral yang terlarut, terutama kalsium, magnesium, natrium, dan kalium dalam bentuk karbonat dan bikarbonat. Kehadiran alkali yang tinggi dalam air dapat berpengaruh terhadap pH air dan kemampuan air untuk menetralkan asam, yang sangat penting dalam menjaga kestabilan pH dan kualitas air. Selain itu, kadar alkali yang tinggi juga dapat menyebabkan peningkatan kesadahan air, yang berkaitan langsung dengan kandungan kalsium dan magnesium.
Berdasarkan hasil praktikum, pengujian total alkali pada berbagai sampel air
7
menunjukkan variasi yang cukup signifikan yaitu:
✓ Air Minum (0 mg/L)
Air minum yang diuji tidak mengandung alkali sama sekali, dengan hasil pengujian sebesar 0 mg/L. Hal ini mengindikasikan bahwa air minum tersebut bebas dari senyawa alkali seperti karbonat atau bikarbonat yang dapat mempengaruhi rasa atau kualitasnya. Air minum dengan kandungan alkali yang rendah atau tidak terdeteksi umumnya lebih netral, dengan rasa yang tidak terpengaruh oleh rasa "sabun" atau "pahit" yang mungkin muncul jika kadar alkali terlalu tinggi. Ini adalah hal yang umum pada air minum dalam kemasan atau air yang telah diproses dengan metode tertentu.
✓ Air Keran (0 mg/L)
Sama seperti air minum, air keran juga tidak mengandung alkali dalam jumlah yang signifikan, yaitu 0 mg/L. Hal ini menunjukkan bahwa air keran yang digunakan dalam praktikum ini tidak mengalami pengaruh signifikan dari senyawa alkali. Ini juga sesuai dengan standar kualitas air keran, yang diharapkan bebas dari kandungan alkali yang berlebihan yang dapat menyebabkan rasa tidak sedap atau potensi korosi pada saluran air.
✓ Pristine (0 mg/L)
Air mineral Pristine juga menunjukkan hasil 0 mg/L untuk total alkali. Hal ini menunjukkan bahwa air mineral tersebut tidak mengandung alkali dalam jumlah yang signifikan, yang mungkin menunjukkan bahwa air tersebut memiliki komposisi mineral yang lebih seimbang dan tidak mengandung kadar bikarbonat atau karbonat yang dapat mempengaruhi rasa atau pH. Meskipun demikian, air mineral umumnya mengandung beberapa mineral lain yang memberikan rasa khas pada air, namun tidak selalu terkait dengan kadar alkali.
✓ Air Kolam (8 mg/L)
Hasil uji alkali air kolam menunjukkan hasil yang berbeda dari ketiga jenis air lainnya, dimana air kolam memiliki kandungan alkali yang lebih tinggi, yaitu 8 mg/L. Kadar alkali ini menunjukkan bahwa air kolam memiliki sedikit kemampuan untuk menetralkan asam dan dapat mempengaruhi pH air, menjadikannya sedikit lebih basa. Alkali dalam air kolam bisa berasal dari bahan kimia yang digunakan
8
untuk mengontrol pH, seperti natrium karbonat atau natrium bikarbonat, yang biasa digunakan dalam kolam renang untuk menjaga keseimbangan pH. Kadar alkali yang lebih tinggi pada air kolam ini juga dapat berfungsi untuk mencegah pertumbuhan mikroorganisme dan membantu menjaga kebersihan kolam.
Total alkali dalam air memberikan gambaran mengenai kemampuan air untuk menetralkan asam dan mempengaruhi pH serta kesadahan air. Pada praktikum ini, sebagian besar sampel air, kecuali air kolam, menunjukkan kandungan alkali yang sangat rendah (0 mg/L), yang berarti air tersebut tidak mempengaruhi pH secara signifikan. Air kolam, dengan total alkali 8 mg/L, menunjukkan bahwa air tersebut telah diperlakukan dengan bahan kimia tertentu untuk menjaga keseimbangan pH dan kebersihan kolam. Secara keseluruhan, total alkali merupakan parameter yang penting untuk mempertimbangkan kualitas air dalam konteks pH, kesadahan, rasa, dan pengaruhnya terhadap infrastruktur air.
Uji Nitrit
Nitrit (NO₂⁻) adalah ion organic alami yang merupakan bagian dari siklus nitrogen. Aktifitas mikroba didalam tanah atau air yang menguraikan sampah dengan kandungan nitrogen organik, pertama-tama akan mengubah nitrogen menjadi ammonia kemudian dioksidasikan menjadi nitrit dan nitrat. Oleh karena itu nitrit dapat dengan mudah dioksidasi menjadi nitrat, maka nitrat adalah senyawa yang paling sering ditemukan didalam air dibawah tanah maupun air yang terdapat dipermukaan.
Pencemaran oleh pupuk nitrogen termasuk amonianhidrat seperti sampah organic hewan dan manusia.Senyawa yang mengandung nitrat didalam tanah biasanya larut dan dengan mudah bermigrasi dengan air bawah tanah (Thomson, 2004).
Nitrit dalam air umumnya berasal dari beberapa sumber, seperti pembuangan limbah industri, pertanian (dari pupuk yang mengandung nitrat), atau dekomposisi limbah organik. Nitrit dapat berbahaya bagi kesehatan manusia, terutama dalam konsentrasi tinggi, karena dapat menghambat kemampuan darah untuk mengangkut oksigen ke seluruh tubuh, suatu kondisi yang dikenal dengan blue baby syndrome atau methemoglobinemia. Pada bayi, paparan nitrit dapat menyebabkan gangguan pernapasan yang serius karena darah bayi lebih mudah teroksidasi oleh nitrit dibandingkan orang dewasa.
9
Dalam praktikum ini, pengujian nitrit pada empat sampel air menunjukkan hasil yang konsisten, dengan tidak terdeteksinya kandungan nitrit pada semua sampel air yang diuji, yaitu air minum, air keran, air kolam, dan air mineral Pristine (0 mg/L).
Hasil ini menunjukkan bahwa semua sampel air tersebut bebas dari kontaminasi nitrit, yang mengindikasikan bahwa air-air tersebut tidak terkontaminasi oleh bahan-bahan organik atau limbah yang berpotensi mengandung senyawa nitrit.
Meskipun tidak terdeteksi dalam praktikum ini, pengujian nitrit tetap penting untuk dilakukan, terutama pada sumber air yang berpotensi tercemar limbah atau daerah yang menggunakan pupuk kimia dalam jumlah besar. Kadar nitrit yang tinggi dalam air dapat menjadi indikator masalah lingkungan yang lebih besar dan memerlukan perhatian khusus untuk mencegah dampak kesehatan yang merugikan bagi manusia dan ekosistem.
Kadar Klorin Bebas
Klorin (Cl2) termasuk unsur golongan halogen (Golongan VII), suhu kamar berbentuk gas, oksidator kuat dan mudah bereaksi dengan unsur lain. Pada suhu -340 C, klorin berbentuk cair dan pada suhu -1030 C berbentuk padatan kristal kekuningan dan memiliki bau menyengat. Berikatan dengan senyawa lain membentuk garam natrium klorida (NaCl) dan ion klorida. (WHO,2003). Klorin digunakan sebagai desinfektan, pemutih atau pembersih. (Hasan, 2006). Penggunaan klorida (Cl2) untuk membunuh bakteri dalam air. Klorin sebagai desinfektan selain digunakan sebagai kalsium diklorida Ca (OCl)2 dapat juga ditemui berbentuk sebagai gas (Cl2). Kalsium hipoklorit (kaporit) adalah senyawa kimia bersifat korosif pada kadar tinggi, dan pada kadar rendah biasanya digunakan sebagai penjernih air. (Lestari, dkk., 2008).
Free chlorine merujuk pada klorin yang terdapat dalam air dalam bentuk bebas, yaitu klorin yang belum bereaksi dengan bahan lain seperti senyawa organik atau amonia. Biasanya, free chlorine ditemukan dalam bentuk klor gas (Cl₂), hipoklorit (OCl⁻), atau ion hipoklorus (HOCl), yang memiliki sifat desinfektan yang sangat kuat.
Klorin bebas ini sering digunakan dalam proses pengolahan air untuk membunuh mikroorganisme patogen, seperti bakteri dan virus, yang dapat menyebabkan penyakit.
Free chlorine sangat penting dalam menjaga kualitas air, terutama pada sistem air minum dan kolam renang. Proses klorinasi digunakan untuk memastikan air yang
10
dikonsumsi atau digunakan di kolam renang bebas dari patogen yang bisa membahayakan kesehatan. Namun, kadar free chlorine yang terlalu tinggi juga dapat berisiko bagi kesehatan manusia, karena dapat menyebabkan iritasi pada kulit, mata, dan saluran pernapasan. Oleh karena itu, penting untuk memantau kadar free chlorine dalam air untuk memastikan bahwa konsentrasi tersebut berada dalam batas yang aman.
Dalam praktikum ini, pengujian kandungan free chlorine menunjukkan variasi yang mencolok antara sampel air yang diuji:
✓ Air Minum
Tidak terdeteksi adanya kandungan free chlorine (0 mg/L). Air minum, terutama yang berasal dari sumber yang sudah diproses, biasanya tidak mengandung free chlorine dalam jumlah yang signifikan. Hal ini sesuai dengan standar kualitas air minum yang mengharuskan air bebas dari bahan kimia desinfektan seperti chlorine, untuk mencegah dampak negatif bagi kesehatan manusia.
✓ Air Keran
Sama seperti air minum, air keran juga tidak mengandung free chlorine (0 mg/L).
Meskipun pada beberapa sistem distribusi air keran, chlorine sering ditambahkan untuk desinfeksi, namun kadar chlorine bebas yang terdeteksi di ujung saluran air keran biasanya sangat rendah atau bahkan tidak terdeteksi, karena proses desinfeksi sudah dilakukan sebelumnya dan chlorine telah bereaksi dengan bahan organik atau terdegradasi.
✓ Air Kolam
Kandungan free chlorine yang terdeteksi pada air kolam adalah 3 mg/L. Ini adalah kadar chlorine yang normal untuk menjaga kebersihan kolam renang. Free chlorine di kolam digunakan untuk membunuh bakteri, virus, dan mikroorganisme lainnya yang dapat membahayakan kesehatan pengunjung kolam. Kadar chlorine di kolam biasanya disesuaikan untuk menjaga keseimbangan yang efektif antara pembasmian patogen dan kenyamanan pengguna kolam. Kadar chlorine yang terlalu tinggi dapat menyebabkan iritasi pada kulit dan mata, sedangkan kadar yang terlalu rendah mungkin tidak cukup efektif dalam membunuh mikroorganisme.
11
✓ Pristine
Tidak terdeteksi adanya free chlorine (0 mg/L) pada air mineral ini. Air mineral, terutama yang dalam kemasan, biasanya tidak mengandung chlorine atau bahan kimia desinfektan lainnya, karena air mineral telah diproses dan dimurnikan dengan cara yang berbeda, seperti melalui penyaringan atau pemrosesan ultraviolet (UV), yang tidak melibatkan penggunaan chlorine.
Berdasarkan hasil praktikum, kandungan free chlorine pada sampel air menunjukkan perbedaan yang signifikan. Air kolam memiliki kadar free chlorine yang lebih tinggi (3 mg/L), yang sesuai dengan fungsi desinfeksi kolam renang. Sementara itu, air minum, air keran, dan air mineral Pristine tidak mengandung free chlorine, yang merupakan kondisi yang ideal untuk konsumsi manusia. Free chlorine, meskipun sangat penting dalam memastikan air bebas dari patogen, harus digunakan dengan hati- hati untuk menghindari dampak negatif terhadap kesehatan manusia. Pemantauan kadar chlorine dalam air adalah langkah penting untuk memastikan kualitas air tetap aman dan sehat
Total Klorin
Total chlorine mengacu pada jumlah keseluruhan klorin dalam air, yang mencakup kedua bentuk klorin, yaitu free chlorine (klorin bebas) dan combined chlorine (klorin terikat). Freechlorine adalah bentuk klorin yang belum bereaksi dengan bahan lain dan aktif sebagai disinfektan, sementara combined chlorine adalah klorin yang telah bereaksi dengan bahan organik atau amonia dalam air, membentuk senyawa seperti kloramida atau kloramin yang memiliki kemampuan disinfeksi lebih rendah.
Total chlorine digunakan sebagai parameter untuk mengukur efektivitas desinfeksi dalam sistem pengolahan air, seperti di kolam renang atau air minum. Kadar total chlorine yang ideal menunjukkan bahwa proses desinfeksi berlangsung dengan baik. Namun, kadar total chlorine yang terlalu tinggi, terutama yang disebabkan oleh combined chlorine, dapat menimbulkan masalah, seperti bau tidak sedap dan iritasi pada mata atau kulit.
Pada praktikum ini, hasil pengujian total chlorine pada sampel air menunjukkan perbedaan yang jelas:
12
✓ Air Minum, Air Keran, dan Air Mineral Pristine
Semua sampel ini menunjukkan hasil 0 mg/L untuk total chlorine. Hal ini menunjukkan bahwa air tersebut tidak mengandung total chlorine yang signifikan, sesuai dengan standar air minum yang mengharuskan air bebas dari bahan kimia desinfektan, termasuk chlorine, untuk menghindari efek samping yang merugikan kesehatan manusia.
✓ Air Kolam
Air kolam menunjukkan kandungan total chlorine yang sangat tinggi, yaitu 25 mg/L. Angka ini mencerminkan adanya kandungan combined chlorine yang tinggi, selain free chlorine, yang digunakan untuk menjaga kebersihan kolam dan membunuh mikroorganisme patogen. Meskipun kadar chlorine yang tinggi di kolam sangat penting untuk disinfeksi, harus ada pengawasan untuk mencegah iritasi pada pengunjung kolam.
Total chlorine merupakan indikator penting dalam pengelolaan kualitas air, terutama untuk memastikan bahwa air tetap bebas dari patogen. Kadar total chlorine yang terlalu tinggi dapat menunjukkan bahwa air telah terpapar terlalu banyak bahan kimia desinfektan, yang dapat mengurangi kenyamanan dan menyebabkan masalah kesehatan. Sebaliknya, total chlorine yang rendah mengindikasikan bahwa proses desinfeksi mungkin tidak cukup efektif.
Kesadahan
Kesadahan air merujuk pada kandungan mineral, terutama ion kalsium (Ca²⁺) dan magnesium (Mg²⁺), dalam air. Air yang memiliki kandungan kalsium dan magnesium yang tinggi disebut sebagai air keras (hard water), sementara air yang mengandung sedikit kalsium dan magnesium disebut sebagai air lunak (soft water). Kesadahan air penting karena berhubungan langsung dengan kualitas air dalam berbagai aspek, baik untuk penggunaan domestik, industri, maupun lingkungan.
Secara umum, kesadahan air dapat dibagi menjadi dua jenis:
✓ Kesadahan sementara (karbonat): Disebabkan oleh kalsium dan magnesium dalam bentuk bikarbonat yang dapat terurai menjadi karbonat pada pemanasan.
Kesadahan sementara dapat dihilangkan dengan pemanasan air atau penggunaan bahan kimia tertentu.
13
✓ Kesadahan tetap (non-karbonat): Disebabkan oleh kalsium dan magnesium yang terlarut dalam bentuk sulfat, klorida, atau nitrat. Kesadahan ini tidak dapat dihilangkan dengan pemanasan, sehingga memerlukan pengolahan lebih lanjut untuk mengurangi kandungannya.
Pada praktikum ini, pengujian kesadahan dilakukan untuk mengetahui kadar kalsium dan magnesium dalam berbagai sampel air. Hasilnya menunjukkan perbedaan yang jelas antara sampel air yang diuji:
✓ Air Minum
Kesadahan air minum terdeteksi 0 mg/L. Ini menunjukkan bahwa air minum dalam kemasan atau yang diproses dengan sistem filtrasi biasanya sangat lunak dan bebas dari mineral yang dapat menyebabkan pembentukan kerak atau rasa yang tidak diinginkan. Hal ini sesuai dengan standar air minum yang mengutamakan air yang bebas dari mineral yang dapat mempengaruhi rasa dan kualitas air.
✓ Air Keran
Kesadahan air keran juga terdeteksi 0 mg/L. Air keran di beberapa wilayah memiliki kesadahan yang sangat rendah karena sering kali telah melalui proses pengolahan, termasuk penghilangan mineral-mineral penyebab kesadahan. Beberapa sistem pengolahan air keran bahkan menggunakan teknologi penukar ion untuk mengurangi kesadahan air.
✓ Air Kolam
Kesadahan air kolam terdeteksi 25 mg/L. Ini menunjukkan bahwa air kolam memiliki kesadahan yang lebih tinggi dibandingkan air minum dan air keran. Air kolam seringkali mengandung mineral alami yang larut, terutama jika kolam tersebut menggunakan air tanah atau sumber alami yang tidak melalui proses filtrasi intensif.
Kesadahan yang lebih tinggi pada air kolam tidak berbahaya, namun perlu diperhatikandalam pengelolaan kolam agar tidak terjadi penumpukan mineral yang dapat merusak sistem pipa atau menyebabkan pembentukan kerak.
✓ Pristine
Kesadahan air mineral Pristine terdeteksi 25 mg/L. Air mineral umumnya mengandung mineral alami yang memberikan rasa khas pada air dan juga memberikan manfaat kesehatan. Kesadahan ini tergolong moderat dan biasanya tidak menimbulkan
14
masalah dalam penggunaan sehari-hari, serta dapat bermanfaat bagi tubuh, seperti memberikan kalsium dan magnesium yang diperlukan.
Kesadahan air adalah parameter yang penting untuk menentukan kualitas air, terutama dalam penggunaannya untuk konsumsi, domestik, atau industri. Air dengan kesadahan tinggi dapat menyebabkan pembentukan kerak pada peralatan rumah tangga dan pipa, namun mengandung mineral yang bermanfaat bagi tubuh. Berdasarkan hasil pengujian, air minum dan air keran memiliki kesadahan yang sangat rendah, sementara air kolam dan air mineral Pristine memiliki kesadahan moderat. Pengelolaan kesadahan penting dilakukan untuk memastikan kualitas air tetap optimal untuk berbagai kebutuhan.
Bromin
Bromin adalah satu-satunya unsur nonlogam yang berbentuk cair pada suhu kamar. Cairan bromin berwarna coklat kemerahan dan mudah menguap membentuk uap berwarna merah dengan bau menyengat. Bromin sangat reaktif dan termasuk dalam kelompok halogen. Kelarutannya dalam air cukup tinggi (3,41 g/100 mL pada 20°C), membentuk asam hipobromus (HBrO). Bromin memiliki titik leleh -7,2°C dan titik didih 58,8°C. Densitasnya 3,1 g/cm3 pada 20°C. Bromin lebih kurang reaktif dibandingkan klorin dan fluorin, namun lebih reaktif dari iodin. Senyawa-senyawa bromin memiliki kemiripan dengan halogen lainnya. Bromin dapat ditemukan secara alami dalam air laut dengan konsentrasi sekitar 65 mg/L. Di air tawar, konsentrasinya biasanya lebih rendah. Bromin anorganik dalam air umumnya berada dalam bentuk ion bromida (Br-). Paparan bromin dalam jumlah besar dapat menyebabkan iritasi pada mata, kulit, dan saluran pernapasan. Kontak langsung dengan cairan bromin dapat mengakibatkan luka bakar yang serius. Paparan kronis terhadap senyawa bromin organik dapat mengganggu fungsi sistem saraf dan kelenjar tiroid. Beberapa senyawa bromin organik juga berpotensi karsinogenik (Ratu, 2024).
Bromin digunakan dalam pengolahan air terutama sebagai desinfektan alternatif untuk klorin. Beberapa metode penghilangan bromin dan senyawanya dari air meliputi:
• Pertukaran ion: Resin penukar anion kuat dapat menghilangkan ion bromida dari air
• Adsorpsi: Karbon aktif efektif dalam menyerap senyawa bromin organik.
15
• Oksidasi lanjut: Proses seperti ozonisasi dapat mengoksidasi bromida menjadi bromat yang kemudian dapat dihilangkan.
• Membran filtrasi: Reverse osmosis dan nanofiltrasi dapat menghilangkan sebagian besar senyawa bromin.
• Aerasi: Efektif untuk menghilangkan bromin bebas yang mudah menguap dari air.
• Reduksi kimia: Penambahan natrium tiosulfat atau bahan pereduksi lain dapat mengubah bromin menjadi bromida.
Bromine dalam air bisa berfungsi sebagai disinfektan, tetapi kemampuannya lebih lemah dibandingkan dengan klorin. Dalam banyak kasus, bromine digunakan sebagai pengganti klorin di beberapa kolam renang atau kolam spa, karena bromine lebih stabil dalam kondisi pH yang lebih luas dan tidak menghasilkan bau tajam seperti klorin. Selain itu, bromine memiliki kemampuan yang lebih baik dalam membunuh bakteri dan mikroorganisme patogen dalam air pada suhu yang lebih tinggi, menjadikannya pilihan yang lebih baik untuk kolam air panas atau spa.
Namun, kadar bromine yang tinggi dalam air dapat menyebabkan dampak negatif. Paparan berlebihan terhadap bromine dapat menyebabkan iritasi pada kulit dan mata. Selain itu,senyawa bromine yang terlarut dalam air dapat berpotensi mencemari lingkungan jika tidak dikelola dengan baik.
Dalam praktikum ini, pengujian untuk kandungan bromine pada semua sampel air yang diuji menunjukkan hasil 0 mg/L, yang berarti tidak terdeteksi adanya bromine dalam air minum, air keran, air kolam, maupun air mineral Pristine. Hal ini menunjukkan bahwa air-air tersebut bebas dari kontaminasi bromine yang berlebihan, yang umumnya tidak terdapat dalam air konsumsi umum kecuali di kolam renang atau sistem pengolahan air tertentu yang sengaja menambahkannya.
Pengujian bromine penting untuk memastikan bahwa air bebas dari kontaminasi bahan kimia yang dapat membahayakan kesehatan. Meskipun tidak terdeteksi dalam praktikum ini, di beberapa lokasi atau jenis air, terutama di kolam renang atau spa, kadar bromine bisa sangat tinggi. Oleh karena itu, penting untuk memantau kadar bromine dalam air guna mencegah iritasi atau potensi pencemaran lingkungan.
16 2. UJI AMONIA
Praktikum ini bertujuan untuk menguji kadar amonia (NH₃) dalam berbagai sampel air, yaitu air keran, air kolam, air minum, dan air mineral merk Pristine. Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui apakah air tersebut mengandung amonia, yang bisa menjadi indikator adanya pencemaran atau kontaminasi dari limbah organik, pertanian, atau aktivitas industri.
a. Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan terdiri dari wadah, sampel air: air keran, air kolam, air minum, dan air mineral merk Pristine (masing- masing 5 mL), Reagen 1 untuk deteksi amonia dan Reagen 2 untuk deteksi amonia
b. Metode Praktikum
Metode praktikum dilakukan dengan cara yaitu:
1. Pengambilan Sampel: Ambil 5 mL dari masing-masing sampel air yang akan diuji (air keran, air kolam, air minum, dan air mineral merk Pristine).
2. Penambahan Reagen: Tambahkan 5 tetes Reagen 1 ke dalam setiap tabung reaksi yang berisi sampel air.
3. Setelah itu, tambahkan 5 tetes Reagen 2 ke dalam masing-masing tabung reaksi yang telah diberi Reagen 1.
4. Pengamatan Warna: amati perubahan warna pada setiap tabung reaksi. Warna yang terbentuk menunjukkan konsentrasi amonia dalam air.
c. Hasil Uji Amonia
Tabel 2. Hasil Uji Amonia
Sampel Air Hasil Uji
Air Minum 0 ppm
Air Keran >2 ppm
Air Kolam 0 ppm
Pristine 0 ppm
17
Gambar 2. Hasil Uji Amonia d. Pembahasan
✓ Air Keran
Hasil pengujian menunjukkan kadar amonia di atas 2 ppm pada air keran. Kadar amonia yang lebih tinggi ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor, seperti kontaminasi dari limbah domestik, pertanian, atau pencemaran dari sistem pipa yang membawa air keran.
Peningkatan kadar amonia di air keran dapat menunjukkan adanya pencemaran organik, yang harus diwaspadai karena amonia pada kadar tinggi dapat merusak kualitas air dan berbahaya bagi kesehatan manusia.
✓ Air Kolam, Pristine dan Air Minum
Hasil pengujian menunjukkan bahwa air kolam, air minum, dan air mineral merk Pristine tidak mengandung amonia (0 ppm). Hasil ini menunjukkan bahwa ketiga sampel air ini bebas dari kontaminasi amonia dalam jumlah yang signifikan. Tidak adanya amonia pada air minum dan air mineral menandakan bahwa air tersebut aman dan tidak tercemar oleh limbah organik atau bahan kimia lain yang dapat meningkatkan kadar amonia.
Pada air kolam, meskipun tidak terdeteksi adanya amonia, kualitas air kolam tetap perlu diperhatikan karena amonia bisa terbentuk dalam proses dekomposisi bahan organik dalam kolam. Namun, hasil pengujian yang menunjukkan kadar 0 ppm ini bisa menunjukkan bahwa sistem perawatan kolam sudah efektif dalam mengurangi senyawa amonia.
Hasil ini memberikan informasi yang penting mengenai kualitas air yang diuji dan dapat menjadi dasar untuk pengelolaan kualitas air yang lebih baik, terutama pada air keran yang menunjukkan kadar amonia lebih tinggi .
18 3. UJI BORAKS
Praktikum ini bertujuan untuk mendeteksi kandungan boraks (Na₂B₄O₇·10H₂O) dalam beberapa jenis pangan, yaitu sosis frozen, jajanan pasar, cilok menggunakan metode sederhana dengan bahan kunyit dan cotton bud. Boraks adalah bahan kimia yang sering disalahgunakan dalam industri pangan untuk meningkatkan daya tahan atau tekstur pangan, namun dapat berbahaya bagi kesehatan jika dikonsumsi dalam jumlah yang tinggi.
a. Alat dan Bahan
Alat dan bahan terdiri dari: Cotton bud (kapas), gelas atau wadah kecil, pisau atau alat pemotong untuk mengambil sampel pangan, kunyit (sebagai indikator), sampel pangan berupa tahu, cilok unram, cilok seribuan, cilok bude, kue legit, sosis, sosis bintang, sagu mutiara, kue lapis, cerorot, aram – aram.
b. Metode
1. Ambil sejumlah kecil sampel pangan menggunakan pisau atau alat pemotong bersih.
2. Ambil cotton bud dan celupkan ujungnya ke dalam kunyit yang telah disiapkan.
3. Celupkan cotton bud yang telah dibubuhi kunyit pada permukaan sampel pangan yang akan diuji.
4. Perhatikan adanya perubahan warna pada cotton bud setelah kontak dengan sampel pangan.
5. Jika boraks terkandung dalam sampel pangan, maka kunyit akan bereaksi dan menghasilkan warna merah muda atau jingga pada cotton bud.
6. Jika tidak ada perubahan warna, maka sampel pangan tidak mengandung boraks.
19 c. Hasil Uji Boraks
Tabel 3. Hasil Uji Boraks
Sampel Hasil Uji Boraks Tahu Tidak terdeteksi boraks Cilok unram Tidak terdeteksi boraks Cilok seribuan Tidak terdeteksi boraks Cilok bude Tidak terdeteksi boraks Kue legit Tidak terdeteksi boraks Sosis Tidak terdeteksi boraks Sosis bintang Tidak terdeteksi boraks Sagu mutiara Tidak terdeteksi boraks Kue lapis Tidak terdeteksi boraks Cerorot Tidak terdeteksi boraks Aram – aram Tidak terdeteksi boraks
Gambar 3. Hasil uji boraks pada sampel pangan dan jajanan
20 d. Pembahasan
Ekstrak kunyit dapat digunakan sebagai pendeteksi boraks karena mengandung senyawa kurkumin. Kurkumin dapat mendeteksi adanya kandungan boraks pada makanan karena kurkumin mampu menguraikan ikatan-ikatan boraks menjadi asam borat dan mengikatnya menjadi kompleks warna rosa atau yang biasa disebut dengan senyawa boronsiano kurkumin kompleks. Boraks bersifat basa lemah dengan pH 9,15-9,20. Sedangkan sifat kimia kurkumin berwarna kuning atau kuning jingga pada suasana asam dan berwarna merah pada suasana basa. Bentuk kristal berwarna kuning orange, tidak larut dalam eter dan larut dalam minyak.
Maka, ketika makanan yang mengandung boraks diteteskan pada kertas kunyit, kertas kunyit akan mengalami perubahan warna menjadi merah bata (Aeni, 2017).
Tahu, cilok unram, cilok seribuan, cilok bude, kue legit, sosis, sosis bintang, sagu mutiara, kue lapis, cerorot, aram – aram: Berdasarkan hasil pengujian, tidak ada perubahan warna pada cotton bud yang dioleskan dengan kunyit setelah kontak dengan semua sampel pangan tersebut. Ini menunjukkan bahwa semua sampel pangan yang diuji tidak mengandung boraks, atau kandungan boraksnya sangat rendah hingga tidak terdeteksi oleh metode ini.
Hasil ini dapat mengindikasikan bahwa produsen pangan dari sampel-sampel yang diuji tidak menggunakan boraks sebagai bahan tambahan dalam proses produksi mereka, atau bahwa kandungan boraks dalam produk tersebut berada di bawah ambang batas yang dapat dideteksi dengan metode sederhana ini.
Uji boraks dengan kunyit dan cotton bud merupakan metode yang sederhana dan mudah dilakukan, namun sensitifitasnya terbatas. Metode ini mungkin tidak dapat mendeteksi kadar boraks yang sangat rendah, atau boraks yang telah terurai atau tercampur dengan bahan lain. Untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat, diperlukan uji laboratorium dengan teknik yang lebih canggih, seperti kromatografi atau spektrofotometri.
21
4. UJI HAMBATAN LISTRIK (RESISTENSI)
Praktikum ini bertujuan untuk menguji hambatan listrik (resistensi) pada beberapa jenis bahan biologis, yaitu daging lele tiren, daging sapi, dan daging ayam, menggunakan alat pengukur resistansi, yaitu ohm meter. Uji ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar hambatan yang dimiliki oleh masing-masing jenis bahan terhadap arus listrik, yang dapat memberikan informasi mengenai sifat konduktivitas listrik dari bahan tersebut.
a. Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan terdiri dari meter (pengukur resistansi) dan tempat untuk meletakkan bahan sampel. Untuk Bahan terdiri dari Lele tiren 1, Lele tiren 2, daging sapi dan daging ayam
b. Metode Praktikum
Metode praktikum dilakukan dengan cara yaitu:
1. Persiapan Sampel: Siapkan bahan-bahan yang akan diuji, yaitu lele tiren 1, lele tiren 2, daging sapi, dan daging ayam
2. Sambungkan kedua ujung kabel ohm meter ke dua titik yang berbeda pada sampel bahan yang akan diuji.
3. Pastikan kontak yang baik antara kabel penghubung dan bahan untuk mendapatkan pembacaan yang akurat.
4. Baca hasil pengukuran resistansi yang tertera pada layar ohm meter dan catat nilai resistansi yang terbaca.
c. Hasil Uji Resistensi
Tabel 4. Hasil uji hambatan listrik Sampel Resistansi (Ohm) Lele Tiren 1 1821 Ω Lele Tiren 2 1879 Ω Daging Sapi 1702 Ω ; 1925 Ω
Daging Ayam 1703 Ω
22
Gambar 4. Uji hambatan listrik menggunakan Ohm meter
d. Pembahasan
✓ Lele Tiren
Lele Tiren 1 memiliki resistansi 1821 Ω, dan Lele Tiren 2 memiliki resistansi 1879 Ω. Meskipun kedua sampel berasal dari jenis yang sama, terdapat sedikit perbedaan dalam resistansi antara kedua sampel tersebut. Hal ini bisa disebabkan oleh perbedaan faktor fisik dan kimia dari setiap sampel, seperti kadar air, komposisi jaringan tubuh, dan kepadatan jaringan yang bisa mempengaruhi konduktivitas listrik.
Secara umum, semakin tinggi nilai resistansi, semakin sedikit aliran listrik yang dapat mengalir melalui sampel tersebut. Berdasarkan hasil ini, dapat disimpulkan bahwa kedua sampel lele tiren memiliki hambatan yang cukup tinggi terhadap aliran listrik. Resistansi relatif tinggi menunjukkan bahwa ikan lele ini mungkin sudah mulai tidak segar atau mengalami penurunan kualitas. Semakin tinggi resistansi, semakin sedikit kandungan air dan ion yang mendukung aliran listrik, yang bisa menjadi indikasi bahwa bahan ini tidak seberapa segar.
✓ Daging Sapi
Daging sapi menunjukkan dua hasil yang berbeda, yaitu 1702 Ω dan 1925 Ω.
23
Perbedaan ini mungkin disebabkan oleh ketidakteraturan atau variasi dalam sampel daging sapi, seperti perbedaan tekstur, kadar air, atau komposisi sel yang dapat mempengaruhi resistansi. Pengujian pada beberapa titik berbeda dari sampel daging sapi menunjukkan bahwa bahan biologis seperti daging memiliki variasi resistansi tergantung pada bagian yang diukur atau kondisi fisiknya.
Secara keseluruhan, nilai resistansi daging sapi berada dalam rentang yang relatif rendah jika dibandingkan dengan lele tiren, yang menunjukkan bahwa daging sapi lebih mudah mengalirkan listrik dibandingkan lele tiren. Hal tersebut bisa mengindikasikan bahwa daging sapi ini lebih segar dibandingkan dengan lele tiren, karena resistansi yang lebih rendah menunjukkan adanya kandungan air yang lebih banyak dan ion yang mendukung aliran listrik.
✓ Daging Ayam
Daging ayam memiliki resistansi sebesar 1703 Ω, yang hampir setara dengan nilai resistansi daging sapi yang lebih rendah. Hal ini menunjukkan bahwa daging ayam memiliki konduktivitas listrik yang serupa dengan daging sapi, dengan sedikit perbedaan yang dapat terjadi karena variasi sampel atau pengukuran.
Sebagai bahan biologis, daging ayam memiliki kandungan air yang cukup tinggi, yang memungkinkan aliran listrik terjadi dengan lebih baik, tetapi tetap menunjukkan resistansi yang cukup signifikan. Hal tersebut menunjukkan bahwa daging ayam ini juga relatif lebih segar dibandingkan dengan lele tiren.
24
KESIMPULAN
1. Dari hasil pengujian kualitas air yang dilakukan, semua sampel masih tergolong aman 2. Demikian juga pada hasil uji borak semua sampel pangan tidak terdeteksi mengandung
boraks
3. Secara umum, kandungan air dan ion dalam bahan yang segar lebih tinggi, yang membuat bahan tersebut memiliki resistansi lebih rendah karena ion-ion tersebut memudahkan aliran arus listrik. Sementara itu, bahan yang sudah mulai tidak segar atau menurun kualitasnya biasanya memiliki kandungan air yang lebih rendah, yang meningkatkan resistansi.
25
DAFTAR PUSTAKA
Aeni, N., Karim, A., Dali, S. 2017. Analisis Bahan Pengawet pada Ikan Teri Asin (Stolephorus sp.) dari Pasar Tradisional Kota Makassar. OJP. Hl.10. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Hasanuddin. Makassar.
Anonim. 26 Juli 2024. 5 (Lima) jenis tujuan ph air yang wajib diketahui.
https://news.kalibrasi.com/tujuan-uji-ph/. Diakses 14 Des 2024.
Alaerts, G. and Santika, S. S. 1984. Metoda Penelitian Air. Surabaya: Usaha Nasional.
Hasan (2006). Dampak Penggunaan Klorin. J. Tek. Ling. P3TL-BPPT. 7. (1): 90-96.
Kementerian Kesehatan RI. 2010. Persyaratan Kualitas Air Minum, Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Indonesia. Available at: http://www.depkes.go.id (Accessed: 10 June 2017).
Lestari, Utomo, Sunarko, Virkyanov, (2008). Pengaruh Penambahan Biosida Pengoksidasi Terhadap Kandungan Klorin untuk Pengendalian Pertumbuhan Mikroorganisme pada Air Pendingin Sekunder RSG-GAS. Pusat Reaktor Serba Guna-BATAN. Kawasan Puspitek Serpong. Tangerang. Banten.
Loudya Ratu. 12 Juli 2024. Bromin. https://water.co.id/referensi/bromin. Diakses 14 Desember 2024
Thomson, B. 2004. Nitrates and Nitrites Exposure and Rsk Assesment. Institute of Environmental Science and Research Limited. Christchuch Science Centre. New Zealand.
https://en.wikipedia.org/wiki/Institute_of_Environmental_Science_and_Research.
Diakses 14 Desember 2024
26